Anda di halaman 1dari 9

PANTUN

D
I
S
U
S
U
N

OLEH :

 Adela Natasya
 Agita Br Tarigan
 Alifia Qanitha
 Dimas Triyoga
 Hatta Trinata
 Melly Dwina
 Tri Agung

KELAS : XII IPS 1

SMA SWASTA HARAPAN MANDIRI

TAHUN AJARAN 2017 / 2018


KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan ridho-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini diajukan sebagai salah satu syarat
tugas tentang sastra lama dan pantun.

Penulis menyadari pada saat penulisan makalah ini tidak terlepas dari bimbingan dan
bantuan dari segala pihak. Karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bu
Liza Efianty teman-teman yang telah membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak terdapat
kekurangan dan kesalahan. untuk itu diharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini. Demikian kiranya semoga laporan yang telah dibuat ini
dapat memberikan manfaat bagi pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan.

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................... 1
1.3 Tujuan ........................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pantun ..................................................... 2
2.2 Sejarah Pantun ..................................................... 3
2.3 Ciri - Ciri Pantun ..................................................... 3
2.4 Syarat – Syarat Pantun ..................................................... 4
2.5 Jenis – Jenis Pantun ..................................................... 4
2.6 Contoh Pantun ..................................................... 5
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................... 6
3.2 Saran ..................................................... 6
ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pantun merupakan sastra lisan yang dibukukan pertama kali oleh Haji Ibrahim Datuk
Kaya Muda Riau, seorang sastrawan yang hidup sezaman dengan Raja Ali Haji. Antologi
pantun yang pertama itu berjudul Perhimpunan Pantun-pantun Melayu. Genre pantun
merupakan genre yang paling bertahan lama.
Mengungkapkan perasaan tidak hanya dapat diceritakan dan ditulis dalam bentuk prosa.
Ungkapan perasaan pun dapat dinyatakan dalam bentuk puisi, seperti puisi lama yang
disebut pantun. Selain pantun, masih ada bentuk puisi lama lainnya, seperti pantun
kilat (karmina), talibun, seloka, gurindam, dan syair.
Pantun sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak dahulu. Misalnya, wawangsalan,
paparikan, sisindiran, sesebred dalam masyarakat sunda; pantun ludruk, dan gandrung dalam
masyarakat jawa; serta ende-ende dalam masyarakat Mandailing. Bahkan, di sebagian daerah
Sumatra, masyarakat Minangkabau menggunakan pantun sebagai pembuka acara di
perayaan-perayaan. Selain dibaca, pantun juga kerap dinyanyikan.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apakah pengertian pantun?
b. Bagaimanakah sejarah pantun?
c. Bagaimanakah ciri-ciri pantun?
d. Bagaimanakah syarat-syarat pantun?
e. Apa sajakah jenis-jenis pantun?

1.3 Tujuan
a. Mengetahui pengertian pantun.
b. Mengetahui sejarah pantun.
c. Mengetahui ciri – ciri pantun.
d. Mengetahui syarat – syarat pantun.
e. Mengetahui jenis – jenis pantun.
1

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pantun

Sastra lama merupakan karya sastra yang berbentuk lisan atau ucapan, sering juga disebut
sebagai sastra melayu yang proses terjadinya berasal dari ucapan serta cerita orang orang
zaman dulu. Cerita-cerita tersebut banyak yang mengandung pelajaran serta hikmah yang
dapat diambil oleh orang-orang yang mendengarnya.
Dalam pengertian umum, pantun merupakan salah satu bentuk sastra rakyat yang
menyuarakan nilai-nilai dan kritik budaya masyarakat. Pantun adalah puisi
asli Indonesia (Waluyo,1987:9). Pantun juga terdapat dalam beberapa sastra daerah di
Indonesia seperti “parika” dalam sastra jawa atau “paparikan” dalam sastra sunda. Orang
yang pertama kali membentangkan pikiran dari hal pantun Indonesia ini adalah H.C. Klinkert
dalam tahun 1868. Karangannya bernama “De pantuns of minnenzangen der
Maleier”. Sesudah itu datang Prof. Pijnapple; juga beliau memaparkan pikirannya dari hal ini
dalam tahun 1883. Pantun tepat untuk suasana tertentu, seperti halnya juga karya seni lainnya
hanya tepat untuk suasana tertentu pula.
Menurut Surana (2001:31), pantun ialah bentuk puisi lama yang terdiri atas 4 larik sebait
berima silang (a b a b). Larik I dan II disebut sampiran, yaitu bagian objektif. Biasanya
berupa lukisan alam atau apa saja yang dapat diambil sebagai kiasan. Larik III dan IV
dinamakan isi, bagian subjektif. Sama halnya dengan karmina, setiap larik terdiri atas 4
perkataan. Jumlah suku kata setiap larik antara 8-12.
Sedangkan dalam Kamus Istilah Sastra (2006:173) menjelaskan bahwa:
Pantun adalah Puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasa terdiri atas empat baris yang
bersajak (a-b-a-b) tiap larik biasanya berjumlah empat kata; baris pertama dan baris kedua
biasanya tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi; setiap baris
terdiri dari 8-12 suku kata; merupakan peribahasa sindiran; jawab (pada tuduhan dan
sebagainya).
Menurut penulis, pantun merupakan salah satu jenis puisi lama dalam kesusastraan
Melayu Nusantara yang paling popular. Pada umumnya setiap bait terdiri atas empat baris
(larik), tiap baris terdiri atas 8-12 suku kata, berirama a-b-a-b dengan variasi a-a-a-a. Baris
pertama dan kedua adalah sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi.

2
2.2 Sejarah Pantun
Pada mulanya pantun merupakan senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan (Fang,
1993: 195). Pantun pertama kali muncul dalam Sejarah Melayu dan hikayat-hikayat popular
yang sezaman dan disisipkan dalam syair-syair seperti Syair Ken Tambuhan. Pantun
dianggap sebagai bentuk karma dari kata Jawa Parik yang berarti pari, artinya paribahasa
atau peribahasa dalam bahasa Melayu. Arti ini juga berdekatan dengan umpama atau seloka
yang berasal dari India. Dr. R. Brandstetter mengatakan bahwa kata pantun berasal dari akar
kata tun, yang terdapat dalam berbagai bahasa Nusantara, misalnya dalam bahasa Pampanga,
tuntun yang berarti teratur, dalam bahasa Tagalog ada tonton yang berarti bercakap menurut
aturan tertentu; dalam bahasa Jawa kuno, tuntun yang berarti benang atau atuntun yang
berarti teratur dan matuntun yang berarti memimpin; dalam bahasa Toba pula ada kata pantun
yang berarti kesopanan, kehormatan.
Van Ophuysen dalam Hamidy (1983: 69) menduga pantun itu berasal dari bahasa daun-
daun, setelah dia melihat ende-ende Mandailing dengan mempergunakan daun-daun untuk
menulis surat-menyurat dalam percintaan. Menurut kebiasaan orang Melayu di Sibolga
dijumpainya kebiasaan seorang suami memberikan ikan belanak kepada istrinya, dengan
harapan agar istrinya itu beranak. Sedangkan R. J. Wilkinson dan R. O. Winsted dalam
Hamidy (1983:69) menyatakan keberatan mengenai asal mula pantun seperti dugaan
Ophuysen itu. Dalam bukunya “Malay Literature” pertama terbit tahun 1907, Wilkinson
malah balik bertanya, ‘tidakkah hal itu harus dianggap sebaliknya?’. Jadi bukan pantun yang
berasal dari bahasa daun-daun, tetapi bahasa daun-daunlah yang berasal dari pantun.
2.3 Ciri – Ciri Pantun
Ciri – ciri sastra lama :
a. Tidak memiliki nama pengarang (anonim).
b. Milik masyarakat.
c. Istana sentris.
d. Adat kepercayaan dan mistis.
e. Disebarkan Secara lisan.
Ciri – ciri utama pantun adalah sebagai berikut :
a. Pantun mempunyai bait, setiap bait pantun disusun oleh baris-baris. Satu bait terdiri
dari 4 baris.
b. Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata.
c. Setiap baris terdiri dari 4-6 kata.
d. Setiap bait pantun terdiri dari sampiran dan isi. Baris pertama dan kedua merupakan
sampiran, baris ketiga dan keempat merupakan isi. (Walaupun sampiran tidak
berhubungan langsung dengan isi, namun lebih baik apabila kata-kata pada sampiran
merupakan cermin dari isi yang hendak disampaikan).
e. Pantun bersajak a-b-a-b atau a-a-a-a- (tidak boleh a-a-b-b atau sajak lain).

Menurut Abdul Rani (2006:23) :

a. Terdiri atas empat baris.


b. Tiap baris terdiri atas 9 sampai 10 suku kata.
c. Dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris berikutnya berisi maksud si
pemantun. Bagian ini disebut isi pantun.
3
2.4 Syarat – Syarat Pantun
Menurut Effendy (1983:28) , syarat – syarat dalam pantun adalah :
a. Tiap bait terdiri dari empat baris.
b. Tiap baris terdiri dari empat atau lima kata atau terdiri dari delapan atau sepuluh suku
kata.
c. Sajaknya bersilih dua-dua: a-b-a-b. dapat juga bersajak a-a-a-a.
d. Sajaknya dapat berupa sajak paruh atau sajak penuh
e. Dua baris pertama tanpa isi disebut sampiran, dua baris terakhir merupakan isi dari
pantun itu.

2.5 Jenis – Jenis Pantun


Suroto (1989:44-45) membagi pantun menjadi dua bagian yaitu:
Menurut isinya :
a. Pantun anak-anak, biasanya berisi permainan.
b. Pantun muda mudi, biasanya berisi percintaan.
c. Pantun orang tua, biasanya berisi nasihat atau petuah. Itulah sebabnya, pantun ini
disebut juga pantun nasihat.
d. Pantun jenaka, biasanya berisi sindiran sebagai bahan kelakar.
e. Pantun teka-teki.
Menurut bentuknya atau susunannya :
a. Pantun berkait, yaitu pantun yang selalu berkaitan antara bait satu dengan bait kedua,
bait kedua dengan bait ketiga dan seterusnya. Adapun susunan kaitannya adalah baris
kedua bait pertama menjadi baris pertama pada bait kedua, baris keempat bait pertama
dijadikan baris ketiga pada bait kedua dan seterusnya.
b. Pantun kilat, sering disebut juga karmina, ialah pantun yang terdiri atas dua baris,
baris pertama merupakan sampiran sedang baris kedua merupakan isi. Sebenarnya
asal mula pantun ini juga terdiri atas empat baris, tetapi karena barisnya pendek-
pendek maka seolah-olah kedua baris pertama diucapkan sebagai sebuah kalimat,
demikian pula kedua baris yang terakhir.

Sedangkan Nursisto, dalam bukunya ikhtisar Kesusastraan Indonesia (2000:11-14) pantun


dibagi menjadi:
Berdasarkan isinya :
a. Pantun Bersukacita
b. Pantun Berdukacita
c. Pantun Nasib atau Pantun Dagang
d. Pantun Perhubungan
e. Pantun Jenaka
f. Pantun Teka – Teki
g. Pantun Adat
h. Pantun Agama
i. Pantun Nasihat
Berdasarkan banyaknya baris tiap bait :
a. Pantun dua seuntai atau pantun kilat.
b. Pantun empat seuntai atau pantun empat serangkum.
c. Pantun enam seuntai atau delapan seuntai, atau pantun enam serangkum, delapan
serangkum (talibun).
4
2.6 Contoh Pantun

Contoh Pantun :
a. Pantun Muda Mudi :
Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua
b. Pantun Teka – Teki :
Kalau puan puan perana
Ambil gelas di dalam peti
Kalau puan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki
c. Pantun Jenaka :

Anak rusa di rumpun salak

Patah tanduknya ditimpa genta

Riuh kerbau tergelak-gelak

Melihat beruk berkacamata

d. Pantun Berdukacita :

Ke balai membawa labu

Labu amanat dari situnggal

Orang memakai baju baru

Hamba menjerumat baju bertambal

e. Pantun Perkenalan :
Sekuntum bunga dalam padi
Ambil batang cabut uratnya
Tuan sepantun langit setinggi
Bolehkah berlindung di bawahnya?

5
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pantun adalah Puisi Indonesia, tiap bait (kuplet) biasa terdiri atas empat baris yang
bersajak (a-b-a-b)tiap larik biasanya berjumlah empat kata; baris pertama dan baris kedua
biasanya tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi; setiap baris
terdiri dari 8-12 suku kata; merupakan peribahasa sindiran; jawab (pada tuduhan dan
sebagainya)
Ciri-ciri pantun dapat dinyatakan yaitu pantun tersusun atas empat baris dalam tiap
baitnya.Baris pertama dan baris kedua berupa sampiran.Baris ketiga dan keempat merupakan
isi/ maksud yang hendak disampaikan.Jumlah suku kata dalam tiap baitnya rata-rata berkisar
delapan sampai dua belas.
Jenis pantun dapat dibedakan berdasarkan tingkatan umur pemakainya, berdasarkan
isinya ,dan berdasarkan bentuknya atau susunannya.

3.2 Saran

Saran yang dapat diberikan adalah hendaknya ilmu tentang kesusastraan selalu digali

dan dipelajari serta diterapkan, khususnya tentang pantun oleh para sastrawan, ilmuan, dan

lebih spesifik lagi oleh mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia.