Anda di halaman 1dari 6

WRAP UP JOURNAL READING

PERBEDAAN MEKANISME RESEPTOR OPIOID MU, DELTA, DAN


KAPPA YANG MENDASARI PENURUNAN SOSIAL DAN PERILAKU
DEPRESI SELAMA PUTUS HEROIN

BLOK EMERGENCY

KELOMPOK A-6

Ketua : Alhumairah Aulia Akis 1102013019


Sekretaris : Argia Anjani 1102013041
Anggota : Dyah Arum Maharani 1102012072
Luvianti 1102013158
Anisa Nurjanah 1102013033
Gamar Fauzie Bajammal 1102013117
Engkay Abu Bakar 1102013097
Intan Marsela 1102013136
Fachryanti Nosar 1102013100

Fakultas Kedokteran
Universitas Yarsi
2016
Pendahuluan

Penyalahgunaan obat adalah kelainan kronik pada otak yang mengakibatkan


konsekuensi pada individu dan lingkungan sosial mereka, sehingga mereka akan
menjadi lebih agresif. Riwayat alamiah pada pennyakit ini memiliki siklus yang
rumit. Penderita akan mengalami tahap dimana ia akan memiliki keinginan yang
tinggi terhadap obat-obatan, dan akan berubah menjadi tahap mencari obat tersebut.
Hal ini mempercepat proses kambuh pada penderita, sedangkan untuk keluar dari
siklus ini diperlukan pemberhentian obat dalam waktu yang lama. Gejala putus obat
pun dapat timbul seiring siklus.

Terdapat faktor eksternal yang berperan dalam menganggu proses pemberhentian


obat, seperti:
 Stress
 Konteks lain yang berhubungan dengan obat-obatan
 Perubahan emosional homeostasis selama perjalanan penyakit  tidak diteliti
secara mendalam

Tercantum di penelitian yang telah ada, dikatakan heroin menembus otak lebih cepat
dibandingkan morfin, dan memiliki target utama di mu opioid receptor (MOR), serta
menyebabkan eiforia dan ketergantungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
morfin. Tercantum pula, pada minggu ketujuh proses putus obat, ditemukan
penurunan kemampuan memori pada tikus yang menjadi sampel penelitian tersebut.
Pada penderita yang putus obat, sering ditemukan gejala seperti cemas, depresi,
suasana hati yang jelek dan anhedonia. Hal ini bisa mengarah pada penyakit klinis
tertentu dan menyebabkan kemampuan sosial yang akan menurun.. Ini menjadi
perhatian lebih untuk diteliti lebih lanjut agar mengetahui bagaimana tatalaksana yang
tepat dan baik.

Alat dan Bahan

1. Mencit jantan dewasa usia 10 minggu (20 – 35gram)


2. Morfin dan Heroin.
Morfin 2x1 dengan dosis meningkat, Heroin 2x1 namun dosis dibagi dua
3. Fluoxetine dosis 10mg/kg
 untuk keadaan darurat jika terjadi penurunan sosial pada heroin, merupakan
5-HT reuptake inhibitor
4. Saline untuk kontrol
5. Uji perilaku
6. Produksi AAV
7. DRN stereotaxy (neutransmitter serotonin)
8. Agonis Stimulated [ 35𝑆]-GTP𝛾S Binding
 untuk ukur MOR yang ikat dengan G protein pada masing-masing tikus
9. Analisa statistik : ANOVA pada terapi heroin, fluoxentine, genotype

Catatan: Statistik signifikan p<0,05

2
Hasil

3
Menurut grafik, didapatkan hasil sosial, depresi, dan defisit memori kerja spasial
berkembang selama 7 minggu putus heroin.
Setelah empat minggu didapatkan:
 Penurunan waktu bersosialisasi
 Peningkatan self-grooming
 Peningkatan durasi immobilisasi
 Penurunan latens
 Tidak ada perubahan dalam kecenderungan memilih sukrosa
 Penurunan Y-maze: memori kerja

Reseptor opioid Delta (DOR) dan Kappa (KOR) keduanya meregulasi perilaku sosial
dan hedonis selama putus heroin. Pada penelitian didapatkan bahwa:
 DOR berpengaruh terhadap hedonis
 KOR berpengaruh terhadap kemampuan sosial dan pertahanan diri

Pada grafik diatas didapatkan fluoxentine dapat mencegah penurunan kemampuan


sosial, tapi tidak dapat mencegah penurunan memori kerja spasial pada putus
heroin. Hal ini dipengaruhi oleh 5-HT kontrol, serotonin yang memberikan efek
tenang. Data ini pun juga ditemukan pada kondisi MOR cKO pada DRN, yang
juga memberikan hasil mampu mencegah penurunan kemampuan sosial, tapi tidak

4
dapat mencegah penurunan memori kerja spasial pada putus heroin. Ini
dikarenakan MOR berperan dalam jalur serotonin.

Diskusi

Studi ini menunjukkan contoh perilaku tikus dengan disfungsi emosional saat
putus heroin, sehingga memberikan hasil bagaimana hubungan adiksi dengan
depresi. Telah dibuktikan bahwa DRN MORs sebagai mediasi perkembangan dari
sosialisasi yang rendah pada hewan setelah empat minggu putus heroin. Terjadi
setelah empat minggu karena heroin menstimulasi MOR yang akan memicu otak
untuk beradaptasi terhadap heroin. Proses tersebuh akan berinkubasi selama
beberapa saat, lalu setelah empat minggu, proses adaptasi akhirnya berkembang
dan sindrom putus obat akan muncul, seperti kemampuan sosialisasi yang rendah.
Disfungsi emosional tersebut merupakan faktor yang mendukung terjadinya
proses kambuh. Putus heroin juga menyebabkan kerusakan memori kerja namun
tidak seperti perubahan emosional, kerusakan memori ini tidak dapat diterapi
dengan fluoxentine atau MOR cKO.

Kesimpulan

Penelitian ini mengungkap bahwa reseptop opioid memiliki peranan penting


dalam sindrom emosional pada putus heroin. Secara keseluruhan menunjukan
tugas masing-masing reseptor opioid dalam mengendalikan fungsi sosial selama
putus heroin dalam waktu yang lama.

DOR  Mengatur hemostasis henonis


KOR  Kontrol perilaku sosial dan pertahanan diri
MOR  Berperan dalam jalur serotonin  produksi 5-HT

5
DAFTAR PUSTAKA

Lutz, Pierre- Eric, et al. 2014. Distinc Mu, Delta, and Kappa Opioid Receptor Mechanisms
Underlie Low Sociability and Depressive-Like Behaviors During Heroin Abtinence.
American College of Neuropsychopharmacology: 2694 – 2705.