Anda di halaman 1dari 1

BERPARTISIPASI DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH SECARA

KRITIS
Pelaksanaan Otoda telah menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Banyak
kekawatiran yang muncul bahwa Otoda akan memperburuk pelayanan publik, memperluas
praktik Korupsi Kolusi dan Neportisme (KKN), dan menimbulkan raja-raja kecil yang sulit
dikendalikan oleh masyarakat sipil yang di daerah pada umumnya masih sangat lemah. Di lain
pihak, pelaksanaan Otoda juga melahirkan berbagai macam optimisme baru seperti munculnya
pemerintah yang lebih responsif, akuntabel, dan partisipatif. Pendek kata, pelaksanaan Otoda
bisa mempercepat terwujudnya tata pemerintahan (governance) yang lebih baik di daerah.
Setelah lebih dari dua tahun pelaksanaan Otoda mungkin menarik untuk mengkaji secara
kritis pelaksanaan Otoda. Dengan menggunakan cara pandang negatif, otonomi daerah dilihat
secara kritis dan skeptic. Ini dimaksudkan agar kita terdorong untuk lebih kritis dalam
berpartisipasi dengan melihat pelaksanaan otonomi daerah dan menyingkapi pelaksanaan
otonomi daerah tersebut secara lebih hati-hati. Selain itu, pandangan seperti ini akan menggiring
kita untuk selalu meneguhkan kembali makna otonomi sebagaimana diamanatkan Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999.

Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah seberapa jauh pelaksanaan Otoda mampu
memberi harapan akan terwujudnya tata pemerintahan yang lebih baik, legitimasi pemerintah
yang lebih kuat, dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik? Tentu tidak masuk akal
mengharapkan pelaksanaan Otoda sekarang ini telah mampu mewujudkan dampak sebagaimana
yang diharapkan tadi. Untuk itu memerlukan waktu yang cukup panjang untuk melihat dampak
pelaksanaan Otoda terhadap terwujudnya tata pemerintahan yang lebih baik, seperti
berkurangnya praktik KKN, kualitas pelayanan yang lebih baik, proses pengambilan kebijakan
yang partisipatif, dan pemerintahan yang lebih transparan. Namun, setidak-tidaknya dari
pengalaman dua tahun melaksanakan Otoda indikasi bahwa tata pemerintahan yang baik harus
sudah dapat dirasakan. Karenanya, kajian kritis terhadap pelaksanaan Otoda diperlukan.