Anda di halaman 1dari 12

RESUM GENETIKA LANJUT

SEBAB-SEBAB MUTASI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Genetika Lanjut Yang Dibimbing Oleh
Prof. Dr. A.D. Corebima, M. Pd.

The Learning University

Oleh:
Mushoffa (1703864553)
Off C

PENDIDIKAN BIOLOGI PROGRAM MAGISTER


PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
APRIL 2018
SEBAB-SEBAB MUTASI

 Pengertian Mutasi
Mutasi adalah perubahan materi genetik yang dapat diwariskan ke keturunannya.
Perubahan tersebut dapat berupa perubahan atau pengurangan unit penyusun, perubahan
susunan, dan lain sebagainya. Mutasi dapat dideteksi (namun juga ada yang tidak dapat
dideteksi) dan dapat terjadi kapapun setiap kali ada kemungkinan untuk terjadi perubahan pada
suatu materi genetik. Selain itu Menurut Ayala dkk (1989), mutasi diartikan sebagai proses yang
dapat menyebabkan suatu perubahan pada suatu gen. Sumber lain meyatakan mutasi sebagai
perubahan materi genetik yang dapat diwariskan dan tiba-tiba (Gardner dkk, 1991).
 Sebab-sebab mutasi
Secara umum penyebab mutasi adalah keadaan atau faktor-faktor lingkungan dan faktor
internal materi genetik. Ada dua jenis mutasi berdasarkan penyebabnya, yaitu mutasi spontan,
adalah perubahan materi genetik tanpa sebab-sebab yang jelas dan mutasi terinduksi, yang terjadi
karena pemaparan makhluk hidup pada penyebab mutasi semacam radiasi pengion, radiasi
ultraviolet, dan berbagai senyawa kimia. Adapun kedua macam mutasi tersebut disebabkan oleh
faktor-faktor, yaitu :
1. Faktor internal merupakan penyebab mutasi spontan.
Faktor internal penyebab mutasi antara lain, kesalahan replikasi akibat tautomerisme,
penggelembungan unting di saat replikasi, perubahan kimia tertentu (misalnya depurinisasi
dan deaminasi) secara spontan, transposisi elemen transposabel, dan efek gen mutator.
a. Kesalahan replikasi akibat tautomerisme
Terjadi akibat perubahan posisi suatu proton yang mengubah suatu sifat kimia molekul.
Dalam hal ini S* dapat membentuk ikatan hidrogen dengan A, demikian pula G* dengan T,
T* dengan G, serta A* dengan S. S*, G*, T*, dan A* adalah tautomer dari S, G, T, dan A.
Efek perikatan ini terjadi karena sewaktu pasangan tidak lazim memisah pada replikasi
berikutnya, masing-masingnya akan berpasangan dengan basa komplementernya sehingga
terjadilah mutasi.
Gambar 1. Contoh tautomer dari basa purin dan pirimidin, (a) ikatan hydrogen antara basa
purin dan pirimidin dengan pasangan tautomer, (b) mekanisme mutasi yang terjadi akibat
perubahan tautomerik pada suatu basa DNA (Snustad, 2012)

Gambar 3. Mutasi yang terjadi akibat tautomerisme


( Snustad, 2012)
b. Penggelembungan unting di saat replikasi
Penggelembungan berlangsung pada unting lama maka akan terjadi delesi pada unting
baru, sebaiknya jika penggelembungan terjadi pada unting baru, maka akan terjadi
adisi pada unting baru tersebut.

Gambar 3. Contoh insersi dan delesi penyebab mutasi


( Pierce, 2002)

c. Perubahan kimia tertentu secara spontan


Contoh dari hal tersebut di atas adalah Pada depurinasi, suatu purin (A dan G) tersingkir
dari DNA karena terputusnya ikatan kimia antara purin dan gula deoksiribose. Pada
deaminasi, suatu gugus amino tersingkir dari basa, contohnya deaminasi itosin dan 5-
metilsitosin.
Gambar 4. (a) Depurinasi (Pierce, 2002) (b) Deaminasi (Snustad, 2012)

d. Transposisi elemen transposable


Terjadi karena insersi ke dalam gen, bukti tentang peran transposisi elemen
transposabel sebagai salah satu sebab terjadinya mutasi pada Drosophilla.

Gambar 5 : Contoh terjadinya Transposisi (Snustad, 2012)

e. Efek gen mutator


Gen mutator adalah gen yang ekspresinya memengaruhi frekuensi mutasi gen-gen
lain. Dua contoh makhluk hidup yang memiliki gen mutator adalah E. coli dan D.
melanogaster. Contohnya gen mutator pada E. coli adalah mut D yang mengubah sub
unit € DNA polymerase III (Watson, dkk; 1987).
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal Penyebab mutasi dibagi menjadi dua, yaitu Faktor eksternal yang
bersifat fisik, yaitu radiasi, suhu, dan perlakuan dengan tekanan hidrostatik dan kimiawi.
 Fisik
a. Radiasi dibedakan menjadi radiasi pengion dan radiasi bukan pengion (Gardner dkk,
1991). Radiasi pengion berenergi tinggi, sedang radiasi bukan pengion berenergi
rendah. Contoh radiasi pengion misalnya radiasi sinar X, proton dan neutron yang
dihasilkan mesin, maupun sinar alfa, beta, dan gamma yang dibebaskan isotop
radioaktif dari elemen seperti 32P, 35S, Cobalt 90 dan sebagainya. Contoh radiasi
bukan pengion misalnya radiasi sinar ultraviolet (UV).

Gambar 5. Terjadinya mutasi akibat radiasi sinar UV


(Clark et al, 2005)

b. Suhu pada beberapa jenis ikan suhu dapat menginduksi terjadinya poliploidi
c. Tekanan Hidristatik tekanan hidrostatik adalah penghambatan polar body karena
rusaknya spindel meiosis.
 Kimiawi
Penyebab mutasi dari faktor kimiawi dibagi menjadi tiga kelompok yaitu analog
basa, agen pengubah basa (base modifying agent), dan agen penyela (intercalating
agent). Contoh analog basa misalnya AZT (azidothymidine) yang berperan sebagai
analog timin. Yang termasuk termasuk kelompok ini adalah agen deaminasi, agen
hidroksilasi, serta agen alkilasi.
Contoh agen pengubah basa adalah asam nitrit (HNO2) menyingkirkan gugus
amino (-NH2) dari basa guanin, sitosin, dan adenin. Sebagai agen hidroksilasi, mutagen
hydroxylamine NH2OH bereaksi khusus dengan sitosin, mengubahnya dengan menambah
gugus hidroksil (OH), sehingga terbentuk hydroxylaminocytosine yang hanya
berpasangan dengan adenine dan sebagai akibatnya terjadi mutasi transisi CG menjadi
TA.
Agen penyela bekerja dengan cara melakukan insersi antara basa-basa berdekatan
dengan pada satu atau kedua unting DNA. Contohnya proflavin, acridine, ethidium
bromide, dioxin, dan ICR-70. Jika agen interkalasi melakukan insersi antara pasangan
basa yang berdekatan pada DNA template (pada saat replikasi), maka suatu basa
tambahan dapat diinsersikan pada unting DNA baru berpasangan dengan agen interkalasi.

Gambar 6. Terjadinya mutasi akibat kimiawi agen penyela


(Clark et al, 2005)

 Biologi
Salah satu contoh penyebab mutasi yang bersifat biologis adalah fag. Efeknya terutama
berkaitan dengan integrasi DNA fag, pemutusan dan delesi DNA inang. Mutagenesis fag
dapat terjadi karena kerusakan DNA akibat pemutusan dan delesi yang mungkin timbul
oleh efek nuklease, atau karena gangguan perbaikan DNA.
 Macam-Macam Mutasi
1. Mutasi Somatik dan Mutasi Germinal
Mutasi somatik adalah yang terjadi pada sel-sel somatik, sedangkan mutasi
germinal adalah yang terjadi pada sel-sel germ (gamet). Akibat mutasi somatik maupun
germinal dapat diwariskan melalui reproduksi aseksual maupun seksual. Akibat mutasi
somatik pada hewan (termasuk manusia) hingga saat ini memang tidak dapat
diwariskan, sedangkan pada tumbuhan (misalnya tumbuhan dikotil), akibat mutasi
somatik dapat diwariskan melalui reproduksi aseksual maupun seksual.
Pada mutasi germinal mengakibatkan mutasi germinal yang dominan dapat segera
terekspresi pada turunan, sebaliknya akibat mutasi germinal yang resesif dapat tidak
segera terekspresi.
2. Mutasi kromosom dan mutasi gen
a. Mutasi gen
Mutasi gen yang terjadi dapat berupa perubahan urutan-urutan DNA termasuk
substitusi pasangan basa serta adisi atau delesi satu atau lebih dari satu pasangan basa.
Dikenal pula macam mutasi gen yang disebut mutasi titik, yaitu mutasi gen yang hanya
menimpa satu pasang nukleotida dalam sesuatu gen. Macam-macam mutasi gen yang
spesifik:
 Mutasi pergantian pasangan basa, dibedakan menjadi transisi dan transversi.
Transisi jika purin diganti dengan purin atau pirimidin diganti dengan pirimidin.
Transversi jika terjadi suatu pergantian basa purin dengan pirimidin. Misalnya
pasangan AT diganti oleh pasangan GS.
 Mutasi Transisi Merupakan salah satu tipe dari mutasi pergantian basa dimana
terjadi pergantian basa purin dengan basa purin lain atau pergantian suatu basa
pirimidin dengan pirimidin lain. Contohnya AT → GS, GS → AT, TA → SG, SG
→ TA.
 Mutasi misens merupakan perubahan suatu kode genetik (umumnya pada posisi 1
dan 2 pada kodon) sehingga menyebabkan asam amino yang terkait pada rantai
polipeptida berubah. Perubahan pada asam amino dapat menghasilkan fenotip
mutan apabila asam amino yang berubah merupakan asam amino esensial bagi
protein tersebut. Jenis mutasi ini dapat disebabkan oleh peristiwa transisi dan
tranversi.
 Mutasi nonsense Merupakan perubahan kodon asam amino tertentu menjadi
kodon stop, yang mengakhiri rantai, mengakibatkan berakhirnya pembentukan
protein sebelum waktunya selama translasi. Hasilnya adalah suatu polipoptida tak
lengkap yang tidak berfungsi Hampir semua mutasi tanpa arti mengarah pada
inaktifnya suatu protein sehingga menghasilkan fenotip mutan. Mutasi ini dapat
terjadi baik oleh tranversi, transisi, delesi, maupun insersi.
 Mutasi netral pergantian suatu pasangan basa karena perubahan kode genetika,
yang menimbulkan perubahan asam amino, tetapi tidak sampai mengakibatkan
perubahan fungsi protein.
 Mutasi diam suatu tipe mutasi netral yang khusus, yaitu terjadi pergantian suatu
pasangan basa pada gen yang menimbulkan perubahan satu kode genetika, tetapi
tidak mengakibatkan perubahan/pergantian asam amino yang dikode. Contohnya
kedua kode genetika AGG dan AGA sama-sama mengkode asam amino arginin.
 Mutasi perubahan merupakan akibat penambahan atau kehilangan satu atau lebih
nukleotida di dalam suatu gen. Hal ini mengakibatkan bergesernya kerangka
pembacaan. Selama berlangsungnya sintesis protein, pembacaan sandi genetis
dimulai dari satu ujung acuan protein yaitu mRNA, dan dibaca sebagai satuan tiga
basa secara berurutan.
b. Mutasi Kromosom
Mutasi kromosom yaitu mutasi yang disebabkan karena perubahan
struktur kromosom atau perubahan jumlah kromosom. perubahan kromosom yang
dapat diamati dikenal sebagai variasi kromosom atau mutasi besar/ gross mutation
atau aberasi. Mutasi kromosom sering terjadi karena kesalahan pada meiosis
maupun pada mitosis.
 Mutasi kromosom akibat perubahan struktur kromosom
Mutasi karena perubahan struktur kromosom atau kerusakan bentuk kromosom
disebut juga dengan istilah aberasi. Perubahan struktur kromosom terjadi karena
delesi, duplikasi, inverse, translokasi dan katenasi.
(a) (b)

(c) (d)

(e)
Gambar 7. Jenis-jenis mutasi kromosom akibat perubahan struktur
(a) Delesi (b) duplikasi (c) inverse (d) trasnlokasi (e) katenasi

 Mutasi kromosom akibat perubahan jumlah kromosom


Mutasi kromosom yang terjadi karena perubahan jumlah kromosom
(ploid) melibatkan kehilangan atau penambahan perangkat kromosom (genom)
disebut euploid, sedang yang hanva terjadi pada salah satu kromosom dari genorn
disebut aneuploid.

 Laju mutasi dan Deteksi mutasi


1. Laju mutasi gen dan frekuensi mutasi adalah dua parameter yang digunakan untuk
mengukur kejadian mutasi. Pada umumnya laju mutasi yang teramati (mutasi
spontan) rendah sekalipun beberapa gen terlihat sering bermutasi. Laju mutasi dan
frekuensi mutasi yang tidak hanya didasarkan pada mutasi yang dampaknya teramati
(terdeteksi), tetapi juga berdasarkan pada mutasi yang dampaknya tidak teramati
(terdeteksi), maupun pada mutasi yang sempat diperbaiki. Mutasi yang dampaknya
teramati (terdeteksi) sebenarnya frekuensinya tidak rendah bahkan mungkin sangat
tinggi. Pengukuran laju mutasi spontan pada bakteri dan fag relative mudah, karena
kelompok-kelompok itu tergantung monoploid, demikian pula karena pengukuran
dan pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan atas sejumlah besar populasi
2. Deteksi mutasi pada bakteri dan jamur monoploid sangat efisien yang didasarkan
pada sistem seleksi yang memisahkan sel mutan dari yang bukan mutan. Selain teknik
Muller’s X chromosome, deteksi mutasi pada Drosophila juga dilakukan dengan
rposedur kromosom X berlekatan atau attached-X procedure. Pada tumbuhan tinggi
deteksi mutasi dilakukan melalui pengamatan visual, analisis komposisi biokimia,
serta melalui kultur jaringan galur-galur sel yang memperlakukan sel-sel tumbuhan
sebagai mikroorganisme. Deteksi mutasi pada manusia dilakukan antara lain melalui
analisis silsilah, dan analisis in vitro seperti analisis aktivitas enzim, migrasi protein
pada medan elektroforetik, serta pengurutan langsung protein maupun DNA. Uji
Ames dapat juga digunakan untuk deteksi mutasi pada manusia.
Daftar Rujukan

Clark. D. 2005. Molecullar Biology. New York . Elsevier Academic Press.

Corebima, A.D. 2000. Genetika Mutasi dan Rekombinasi. Malang : Jurusan Biologi, Universitas
Negeri Malang.

Pierce, B.A. 2002. Genetics A Conceptual Approach. New York. W.H Freeman Company

Snustad, D. Peter., Michael J. Simmons. 2012. Principles of genetics 6th ed. New York: John
Wiley & Sons

Pertanyaan & Jawaban

1) Bagaimana sinar UV dapat menyebabkan mutasi pada sel di permukaan misalnya sel kulit?
Jawab.
Sinar UV membebaskan energinya kepada atom-atom yang dijumpai sehingga atom berada
dalam keadaan tereksitasi. Molekul-molekul yang mengandung atom yang berada dalam
keadaan tereksitasi secara kimiawi lebih reaktif. Reaktivitas yang meningkat mengundang
terjadinya sejumlah reaksi kimia termasuk mutasi.
2) Apa perbedaan antara mutasi misens dengn mutasi diam pada mutasi gen?
Jawab.
Mutasi misens merupakan perubahan suatu kode genetik (umumnya pada posisi 1 dan 2 pada
kodon) sehingga menyebabkan asam amino yang terkait pada rantai polipeptida berubah.
Perubahan pada asam amino dapat menghasilkan fenotip mutan apabila asam amino yang
berubah merupakan asam amino esensial bagi protein tersebut sedangkan mutasi diam adalah
terjadi pergantian suatu pasangan basa pada gen yang menimbulkan perubahan satu kode
genetika, tetapi tidak mengakibatkan perubahan/pergantian asam amino yang dikode.