Anda di halaman 1dari 22

REFRAT

HERNIA INGUINALIS

Penyaji
Dita Meisy Wulandari

Pembimbing
dr. Yanuar Hasyim Sp.B

BAGIAN/DEPARTEMEN BEDAH DAN ONKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. M.YUNUS BENGKULU
2017

1
BAB I
LAPORAN KASUS

I. REKAM MEDIS
A. Anamnesis
Autoanamnesis
1. Identifikasi
Nama : Ny. Y
Med.Rec : 710403
Umur : 32 th
Suku bangsa : Bengkulu
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Desa Muning Agung
MRS : 08 Februari 2016 Pukul 13.40 WIB

2. Riwayat Perkawinan
Kawin 2 kali, yang pertama lamanya 3 tahun dan yang kedua lamanya 2 tahun

3. Riwayat Reproduksi
Menarche : 12 tahun
Siklus haid : 28 hari, teratur
Lama haid : 5 hari
Hari pertama haid terakhir : 05 Mei 2015
Taksiran persalinan : 12 februari 2016

4. Riwayat kehamilan/melahirkan
1. 2008, ♀, aterm, spontan, dibantu dukun, 3200 g, sehat, nifas baik.

2. 2009, ♀, aterm, spontan, dibantu dukun, 3500 g, sehat, nifas baik

3. Kehamilan ini

2
5. Riwayat gizi/sosial ekonomi
Cukup

6. Riwayat penyakit dahulu


Riwayat hipertensi : Tidak ada riwayat penyakit hipertensi
Riwayat asma : Tidak ada riwayat penyakit asma
Riwayat diabetes mellitus : Tidak ada riwayat penyakit diabetes mellitus
Riwayat penyakit jantung : Tidak ada riwayat penyakit jantung
Riwayat Operasi : Tidak ada riwayat operasi

7. Anamnesis Khusus
Keluhan utama : Hamil cukup bulan dengan perdarahan dari kemaluan
Riwayat perjalanan penyakit :
+ 5 jam SMRS, Os mengeluh keluar darah dari kemaluan berwarna merah segar
yang awalnya berupa bercak-bercak, banyaknya + 2x ganti pembalut, nyeri (-).
Riwayat perut mules yang menjalar ke pinggang (+) tetapi masih jarang, riwayat
keluar air-air dari kemaluan, riwayat demam (-), riwayat trauma (-), riwayat diurut-
urut (-), riwayat post koital (-), riwayat minum obat-obatan (-), dan riwayat minum
jamu (-). Os berobat ke RSUD Lebong kemudian dirujuk ke RSUD Curup, namun
dikarenakan dokter SpOGnya tidak ditempat, akhirnya os dirujuk ke RSMY
Bengkulu. Os pernah di USG oleh SpOG, hasilnya bahwa tembuni menutupi jalan
lahir. Os mengaku hamil cukup bulan dan gerakan anak masih dirasakan.

B. Pemeriksaan Fisik
1. Status Present
a. Keadaan umum
Kesadaran : composmentis
Tipe badan : atletikus
Berat badan : 55 kg
Tinggi badan : 158 cm
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit

3
Pernafasan : 21 x/menit
Suhu : 36,5 °C

b. Keadaan khusus
Kepala : Normochepali
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Leher : Tekanan vena jugularis tidak meningkat, massa tidak
ada
Toraks : Jantung: Bunyi jantung I dan II (+) normal, murmur
tidak ada, gallop tidak ada
Paru-paru: Suara napas vesikuler (+) normal, ronkhi
tidak ada, wheezing tidak ada
Puting Susu : Menonjol, bersih, ASI (-)
Abdomen : Massa (-), Nyeri tekan (-), bising usus (+) normal,
bekas luka operasi (-)
Ekstremitas : Edema pretibia (-/-), varises (-)

2. Pemeriksaan obstetri
Pada pemeriksaan obstetri saat masuk rumah sakit tanggal 08 Februari 2016
Pukul 13.40 WIB, didapatkan:
- Pemeriksaan luar :
Tinggi fundus uteri 2 jbpx (36 cm), letak janin memanjang, punggung di
sebelah kiri, bagian terbawah janin adalah kepala, floating, His (-), DJJ
150x/menit, dan TBJ 3565 gram.
- Pemeriksaan dalam : Tidak dilakukan
- Inspekulo : Portio lividae, OUE terbuka, tampak jaringan plasenta di muara
OUE, flour (-), fluxus (+), darah tak aktif, dan E/L/P (-/-/-).

4
C. Pemeriksaan Penunjang
USG: - Tampak JTH preskep
- Biometri janin
BPD : 9,60 cm
HC : 34,59 cm
AC : 34,74 cm
FL : 7,46 cm
- Tampak plasenta di korpus anterior dan meluas menutupi seluruh muara
OUI
- Ketuban cukup
Kesan: Hamil 39 minggu dengan plasenta previa totalis, JTH preskep

Hasil laboratorium tanggal 08 Februari 2016


Darah Rutin
Hemoglobin : 11,1 g/dL (12 – 16 g/dl)
Leukosit : 9.800/mm3 (5000 – 10.000 mm3)
Trombosit : 341.000/mm3 (200.000 – 500.000/mm3)
Hematokrit : 31% (38-44%)

D. Diagnosa kerja
G3P2A0 Hamil 38 Minggu belum inpartu dengan HAP e.c PPT (plasenta previa totalis)
JTH Preskep.

E. Prognosis
Ibu : bonam
Janin : dubia at bonam

F. Terapi
- Tindakan aktif
- Observasi tanda vital ibu, Perdarahan, His, denyut jantung janin
- IVFD RL gtt xx/menit
- Cek Darah rutin, Crossmatch
- Rencana SC Cito dan tubektomi pomeroy

5
H. Laporan Operasi
Pukul 17.00 WIB: Operasi dimulai. Pasien dalam posisi supine dan dalam keadaan spinal
anestesi. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik, lapangan operasi
dipersempit dengan duk steril. Dilakukan insisi pfanensteil 2 jari
diatas simfisis ± 10 cm. Lalu insisi diperdalam secara tajam dan
tumpul sampai menembus peritoneum. Pada eksplorasi didapati
uterus sebesar kehamilan aterm. Pada tindakan ini plica dibuka,
vesica dilindungi dengan hak besar, Diputuskan untuk melakukan
SSTP dengan insisi semilunar ± 5 cm, diperluas secara tumpul ke
lateral. dan bayi dilahirkan dengan cara meluksir kepala.
Pukul 17.15 WIB: Lahir neonatus hidup, ♂, BBL 4000 gram, PB 50 cm, AS: 7/8 FTAGA
Pukul 17.20 WIB: Plasenta lahir lengkap. Luka insisi dijahit secara jelujur feston dengan
PGA 1.0. Pada pasien ini dilakukan juga tindakan tubektomi pomeroy
dan juga dilakukan reperitonealis rongga abdomen yang dicuci
dengan NaCL 0,9 %. Penjahitan peritoneum dilakukan secara jelujur
dengan plain cutgut 2.0, otot dijahit secara jelujur dengan plan catgut
2.0, Fascia dijahit dengan PGA 1.0 secara jelujur feston. Subkutis
dijahit secara jelujur dengan plain catgut 2.0 sedangkan kutis dijahit
secara jelujur dengan catgut 2.0. Tahap akhir luka ditutup dengan
supratul dan hipafix.
Pukul 17.45 WIB: Operasi selesai.

6
I. Follow Up Post Op
09.02.2016 S : Mual (-), Perdarahan (-), Nyeri pada bekas P/ observasi TVI,perdarahan
Pukul 07.00 operasi (+) - IVFD RL gtt xx/menit
WIB O : Status present - Inj. Cefotaxime 2 x 1 gr
KU : Baik - Inj. Asam traneksamat 3x1
Kes : Compos mentis - Inj. Antrain 3x1 amp
TD :110/70 mmHg - Cek Hb post Op
N : 88 x/menit
RR : 22 x/menit
T : 36,4oC
PL: abdomen datar, lemas, dan simetris, FUT
2 jari di bawah pusat, kontraksi baik,
perdarahan aktif (-), lokia rubra (+), luka
operasi tertutup perban

D/P3A0 post SSTP a.i PPT, neonatus hidup,


♂, BBL 4000 gr , PB 50 cm, AS 7/8 FTAGA

10.02.2016 S : tidak ada P/observasi TVI, perdarahan


Pukul 07.00 O : Status present Aff cateter
WIB KU : Baik Aff Infus
Kes : Compos mentis Obat ganti oral
Hb: 10 gr/dl TD :120/80 mmHg Asam mefenamat tab 3x500
N : 85 x/menit mg (p.o)

RR : 20 x/menit Cefadroxil tab 2x500 mg (p.o)

T : 36 ,4 oC Neurodex tab 2 x 1 (PO)

PL: abdomen datar, lemas, dan simetris, FUT Mobilisasi bertahap


2 jari di bawah pusat, perdarahan aktif (-), ASI on demand
lokia rubra (+), luka tertutup verban GV pagi-sore
D/P3A0 post SSTP a.i PPT, neonatus hidup, Keadaan pasien baik dan boleh
♂, BBL 4000 gr , PB 50 cm, AS 7/8 FTAGA pulang

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim
demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri internum.
Plasenta previa adalah suatu kondisi implantasi abnormal dari embrio di segmen
bawah uterus,tempat yang menjadi predisposisi perdarahan uterus yang terus-menerus
karena perkembangan pembuluh darah baru dan karena itu memperburukdaerah
kontraktil uterus1.

B. KLASIFIKASI PLASENTA PREVIA


Klasifikasi plasenta previa dibagi menjadi 4, yaitu2:
1. Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang menutupi seluruh ostium
uteri internum (23-31,3%).
2. Plasenta previa parsialis adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri
internum (20,6-33%).
3. Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium
uteri internum, atau kurang dari 3 cm.
4. Plasenta letak rendah atau lateralis adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen
bawah rahim sedemikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih
kurang 3 cm dari ostium uteri internum (37-54,9%).

Klasifikasi plasenta previa ini didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui
pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu. Karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada
keadaan anatomik melainkan fisiologik, maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu.
Plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta
previa parsialis pada pembukaan 8 cm. Tentu saja observasi seperti ini tidak akan terjadi
dengan penanganan yang baik3.

8
Gambar 1. Letak Plasenta Normal

Gambar 1. Tipe Plasenta Previa1

C. EPIDEMIOLOGI
Plasenta previa lebih banyak pada kehamilan dengan paritas tinggi dan pada usia di
atas 30 tahun. Juga lebih sering pada kehamilan ganda dari pada kehamilan tunggal.
Insiden berkisar 1,7 % sampai dengan 2,9%.
Insidens plasenta previa sekitar 1 dari 500 kelahiran hidup dan yang terjadi pada
trimester II (16-20 minggu) sekitar 5%. Sekitar 90% kejadian plasenta previa ini
ditindaklanjuti dengan terminasi per abdominam4.

9
D. ETIOLOGI
Penyebab pasti plasenta previa masih belum bisa dipastikan. Salah satu penyebab
adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai, sebagai akibat dari proses radang atau
atrofi. Paritas tinggi, usia lanjut, cacat rahim misalnya bekas bedah sesar, kuretase,
miomektomi, dan sebagainya berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di
endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor risiko bagi terjadinya
palsenta previa. Pada perempuan perokok dijumpai insiden plsenta previa lebih tinggi 2
kali lipat,diduga hipoksemia akibat CO hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta
menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi. Plasenta yang terlalu besar seperti pada
kehamilan ganda dan eritroblastosis fetalis bisa menyebabkan pertumbuhan plasenta
melebar ke segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri
internum2,3.
Faktor risiko terjadinya plasenta previa adalah : Usia ibu, Jumlah kehamilan,
merokok,kehamilan kembar, riwayat operasi sebelumnya pada uterus termasuk operasi
caesar, atau riwayat plasenta previa sebelumnya1.

E. PATOFISIOLOGI
Implantasi plasenta di segmen bawah rahim dapat disebabkan oleh5 :
1. Endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi
2. Endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta untuk mampu
memberikan nutrisi janin.
3. Vili korealis pada korion leave yang persisten.
Dengan melekatnya dan bertumbuhnya plasenta, plasenta yang telah berkembang
bias menutupi ostium uteri. Hal ini diduga terjadi karena vaskularisasi desidua yang
jelek, inflamasi, atau perubahan atrofik di bagian fundus uteri.
Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya trimester ketiga dan mungkin juga lebih
awal, oleh karena telah mulai terbentuknya segmen bawah rahim, tapak plasenta akan
mengalami pelepasan. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim,
maka plasenta yang berimplantasi disana akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada
desidua sebagai tapak plasenta. Demikian pula waktu serviks mendatar (effacement) dan
membuka (dilatation) ada bagian tapak plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi itu
akan terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus
dari plasenta. Oleh karena fenomena pembentukan segmen bawah rahim itu perdarahan
pada plasenta previa betapapun pasti akan terjadi (unavoidable bleeding). Oleh karena
10
pembentukan segmen bawah rahim itu akan berlangsung progresif dan bertahap, maka
laserasi baru akan mengulang kejadian perdarahan. Perdarahan pertama sudah bisa
terjadi pada kehamilan dibawah 30 minggu, tetapi lebih separuh kejadiannya pada umur
kehamilan 34 minggu ke atas.Karena perdarahan terletak dekat dengan orifisium uteri
internum, maka perdarahan lebih mudah mengalir ke luar rahim dan tidak membentuk
hematom retroplasenta yang mampu merusak jaringan lebih luas dan melepaskan
troboplastin ke dalam sirkulasi maternal.Dengan demikian sangat jarang tejadi
koagulopati pada plasenta previa5,6.

F. GEJALA KLINIS
Gambaran klinik plasenta previa adalah sebagai berikut3 :
1. Perdarahan pervaginam
Darah berwarna merah terang pada umur kehamilan trimester kedua atau awal
trimester ketiga merupakan tanda utama plasenta previa. Perdarahan pertama
biasanya tidak banyak sehingga tidak akan berakibat fatal, tetapi perdarahan
berikutnya hampir selalu lebih banyak dari perdarahan sebelumnya.
2. Tanpa alasan dan tanpa nyeri
Kejadian yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan tanpa nyeri yang
biasanya baru terlihat setelah kehamilan mendekati akhir trimester kedua atau
sesudahnya.
3. Pada ibu, tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang, perdarahan yang
sedikit demi sedikit atau dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat, dapat
menimbulkan anemia sampai syok. Perdarahan awalnya tidak banyak, akan tetapi
perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Dengan
bertambahnya usia kehamilan, segmen bawah uterus akan lebih melebar lagi dan
serviks mulai membuka. Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus,
pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh
plasenta yang melekat disitu tanpa terlepasnya sebagian dinding plasenta dari dinding
uterus. Pada saat itulah mulai terjadi perdarahan dan darahnya berwarna merah segar.
4. Pada janin, turunnya bagian terbawah janin ke dalam Pintu Atas panggul (PAP) akan
terhalang, tidak jarang terjadi kelainan letak janin dalam rahim, dan dapat
menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim.

11
G. DIAGNOSIS3
1) Anamnesis
Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri,
tanpa penyebab, terutama pada multigravida.
2) Pemeriksaan luar
Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Apabila presentasi
kepala, biasanya kepala masih terapung di atas pintu atas panggul atau mengolak ke
samping dan sulit didorong ke dalam pintu atas panggul. Tidak jarang tedapat
kelainan letak janin seperti letak lintang atau letak sungsang.
3) Pemeriksaan inspekulo
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium
uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina, seperti erosio porsionis uteri,
karsinoma poliposis servisis uteri, varises vulva, dan trauma. Apabila perdarahan
berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurigai.
4) Penentuan plasenta secara tidak langsung
Ultrasonografi
Adanya plasenta previa dapat dideteksi melalui USG selama kunjungan Ante Natal
Care atau setelah tejadinya perdarahan pervaginam.Untuk saat ini USG
transabdominal akan memberi kepastian diagnosis dengan ketepatan tinggi sampai 96-
98%, sedangkan transperineal sonografi dilaporkan 90% positive predictive value
dalam mendeteksi ostium uteri intranum dan segmen bawah rahim.
Diagnosisutama menggunakan USG, dimana memungkinkan diagnosis dini dan
pemantauan hubunganantara plasenta, segmen bawah rahim, pembukaan dari saluran
leher rahim (OUI) selama kehamilan. USG Transvaginal, didasarkan pada
penggunaan probe USGke dalam vagina yang mendekati leher rahim memilikibukti
sangat berguna, hal ini merupakan prosedur yang aman,akuratdan biaya yang
rendah.USG transvaginal (jika tersedia)lebih disukai untuk sonografi transabdominal
pada diagnosisdari plasenta previa.
5) Penentuan plasenta secara langsung
Untuk menegakkan diagnosis yang tepat tentang adanya dan jenis plasenta previa
ialah secara langsung meraba plasenta melalui kanalis servikalis. Namun sangat
berbahaya karena bisa menimbulkan perdarahan banyak. Pemeriksaannya harus
dilakukan di meja operasi sebagai berikut:

12
Perabaan fornises: pemeriksaan ini hanya bermakna jika janin dalam presentasi
kepala. Sambil mendorong sedikit kepala janin ke arah PAP perlahan seluruh fornises
teraba oleh jari. Perabaannya terasa lunak apabila antara jari dan kepala janin terdapat
plasenta; dan akan teraba padat (keras) apabila antara jari dan kepala janin tidak
terdapat plasenta. Pemeriksaan ini harus selalu mendahului pemeriksaan melalui
kanalis servikalis, untuk mendapat kesan pertama ada tidaknya plasenta previa.
Pemeriksaan melalui kanalis servikalis: apabila kanalis servikalis telah terbuka
perlahan-lahan jari telunjuk dimasukkan ke dalam kanalis servikalis dengan tujuan
kalau-kalau meraba kotiledon plasenta. Apabila kotiledon plasenta teraba segera jari
telunjuk dikeluarkan dari kanalis servikalis. Jangan berusaha menyelusuri pinggir
plasenta karena mungkin plasenta akan terlepas dari insersionya yang dapat
menimbulkan perdarahan banyak.

H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan tergantung dari jumlah perdarahan uterus abnormal, apakah janin
sudah viabel atau belum untuk hidup diluar uterus, besarnya plasenta yang menutupi
serviks, posisi janin di dalam rahim, dan paritas2,5,6.
Pada kehamilan awal, transfusi dapat diberikan untuk menggantikan kehilangan
darah ibu. Obat-obatan dapat diberikan untuk mencegah persalinan yang pre term, dan
memperpanjang masa kehamilan sampai mencapai 36 minggu.Tindakan operatif (seksio
sesarea) merupakan penatalaksanaan pada kasus plasenta previa ini karena dapat
mengurangi risiko kematian ibu dan bayi2,5,6.
Berdasarkan usia kehamilan, ada dua tindakan yang dilakukan yaitu2,3:
1. Tindakan Ekspektatif
Tujuan ekspektatif adalahsupaya janin tidak lahir prematur dan upaya diagnosis
dilakukan secara non invasif.
Syarat terapi ekspektatif :
- Usia kehamilan < 37 minggu
- Perdarahan tidak aktif
- Belum ada tanda inpartu
- Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin> 8 gr/dl)
- Janin masih hidup

13
Tindakan yang dilakukan yaitu:
a. Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis
b. Pemeriksaan USG untuk menentukan implantasi plasenta, usia kehamilan, profil
biofisik, letak dan presentasi janin.
c. Amniosintesis, dilakukan test kocok (bubble test) untuk uji maturitas paru.
d. Pada usia kehamilan < 32 minggu, maka dapat diberikan dexamethasone
/bethamethasone
e. Spasmolitik. Tokolitik (bila ada kontraksi: MgSO44 gr IV dosis awal dilanjutkan
4 gr setiap 6 jam, nifedipine 3x20 mg/hari, bethametason 24 mg IV dosis tunggal
untuk pematangan paru janin)
f. Perbaiki anemia dengan pemberian Sulfas ferosus atau Ferous fumarat per oral 60
mg selama 1 bulan.
g. Pastikan tersedianya sarana untuk melakukan transfusi.
h. Jika perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama,
pasien dapat dirawat jalan (kecuali rumah pasien di luar kota atau diperlukan
waktu > 2 jam untuk mencapai rumah sakit) dengan pesan segera kembali ke
rumah sakit jika terjadi perdarahan.
i. Jika perdarahan berulang, pertimbangkan manfaat dan risiko ibu dan janin untuk
mendapatkan penanganan lebih lanjut dibandingkan dengan terminasi kehamilan.

2. Tindakan Aktif
Tujuannya adalah untuk segera melahirkan anak. Rencanakan terminasi
kehamilan dengan syarat:
- Usia kehamilan ≥ 37 minggu atau TBJ > 2500 gram
- Terdapat tanda-tanda inpartu
- Janin mati atau menderita anomali atau keadaan yang mengurangi
kelangsungan hidupnya (misalnya anensefali)
- Pada perdarahan aktif dan banyak, keadaan umum jelek, syok. Segera
dilakukan terapi aktif tanpa memandang maturitas janin.
Jika terdapat plasenta letak rendah dan perdarahan yang terjadi sangat sedikit,
persalinan per vaginam masih mungkin dilaksanakan. Jika tidak, tindakan melahirkan
dengan seksio sesarea.

14
Pemilihan cara persalinan
Pada umumnya memilih cara persalinan tergantung dari derajat plasenta previa,
paritas, dan banyaknya perdarahan. Persalinan per vaginam dapat dilakukan pada
multigravida dengan plasenta letak rendah, plasenta previa marginalis, atau plasenta
previa parsialis pada pembukaan lebih dari 5 cm yang dapat ditanggulangi dengan
pemecahan selaput ketuban.
Terdapat 2 pilihan cara persalinan, yaitu2,3:
1. Persalinan pervaginam
Persalinan pervaginam bertujuan agar bagian terbawah janin menekan
plasenta dan bagian plasenta yang berdarah selama persalinan berlangsung,
sehingga perdarahan berhenti.
Persalinan pervaginam dapat dilakukan dengan cara, yaitu :
a. Amniotomi (pemecahan selaput ketuban)
Pemecahan selaput ketuban adalah cara yang terpilih untuk melancarkan
persalinan pervaginam, karena bagian terbawah janin akan menekan plasenta
yang berdarah, persalinan berlangsung lebih cepat, dan bagian plasenta yang
berdarah dapat bebas mengikuti cincin gerakan dan regangan segmen bawah
rahim.
b. Pemasangan cunam Willet dan tindakan versi Braxton Hicks
Apabila pemecahan selaput ketuban tidak berhasil menghentikan perdarahan
maka terdapat 2 cara lainnya yang lebih keras menekan plasenta dan mungkin
pula lebih cepat menyelesaikan persalinan yaitu pemasangan cunam Willet
dan tindakan versi Braxton Hicks dengan pemberat untuk menghentikan
perdarahan (kompresi atau tamponade bokong dan kepala janin terhadap
plasenta) hanya dilakukan pada keadaan darurat sebagai pertolongan pertama
untuk mengatasi perdarahan banyak atau apabila seksio sesarea tidak mungkin
dilakukan.
2. Persalinan dengan seksio sesarea
Persalinan dengan seksio sesaria bertujuan untuk secepatnya mengangkat sumber
perdarahan dengan demikian memberikan kesempatan kepada uterus untuk
berkontraksi menghentikan perdarahannya dan untuk menghindari perlukaan
serviks dan segmen-segmen uterus apabila dilakukan persalinan pervaginam.
Indikasi seksio sesarea yaitu2,5:

15
a. Semua plasenta previa sentralis, janin hidup atau meninggal
b. Semua plasenta previa lateralis posterior, karena perdarahan yang sulit
dikontrol dengan cara-cara yang ada.
c. Semua plasenta previa dengan perdarahan yang banyak dan tidak berhenti
dengan tindakan-tindakan yang ada.
d. Plasenta previa dengan panggul sempit, letak lintang.
Jika persalinan dengan seksio sesarea dan terjadi perdarahan dari tempat placenta:
- Jahit tempat perdarahan
- Pasang infus oksitosin 10 IU dalam 500 ml cairan intravena (NaCl atau RL)
dengan kecepatan 60 tetes per menit
Jika perdarahan terjadi pasca persalinan, segera lakukan penanganan yang sesuai
(ligasi arteri atau histerektomi).

I. KOMPLIKASI3
1. Anemia
Oleh karena pembentukan segmen bawah rahim terjadi secara ritmik, maka
pelepasan plasenta dari tempat melekatnya diuterus dapat berulang dan semakin
banyak, dan perdarahan itu tidak dapat dicegah sehingga penderita menjadi anemia
bahkan syok.
2. Plasenta inkreta atau perkreta
Oleh karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan sifat
segmen ini yang tipis, mudahlah jaringan trofoblas dengan kemampuan invasinya
menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium dan menjadi sebab
dari kejadian plasenta inkreta dan bahkan plasenta perkreta.
3. Kelahiran prematur dan gawat janin
Oleh karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam
kehamilan belum aterm.Pada kehamilan <37 minggu dapat dilakukan pemberian
kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru janin sebagai upaya antisipasi.
4. Komplikasi lain dari plasenta previa yang dilaporkan dalam kepustakaan selain masa
perawatan yang lebih lama, adalah beresiko tinggi untuk solusio plasenta (RR 13,8),
seksio sesaria (RR 3,9), kelainan letak janin (RR 2,8), perdarahan pasca persalinan
(RR 1,7), kematian maternal akibat perdarahan (50%), dan disseminated intravascular
coagulation (DIC) 15,9%.

16
J. PROGNOSIS
Dahulu penanganan relatif bersifat konservatif, maka mortalitas dan morbiditas ibu dan
bayi tinggi, mortalitas ibu mencapai 8-10% dan mortalitas janin 50-80%. Sekarang
penanganan relatif bersifat operatif dini, maka angka kematian dan kesakitan ibu dan
janin jauh menurun. Dengan penanggulangan yang baik seharusnya kematian ibu karena
plasenta previa rendah sekali atau tidak ada sama sekali1.

BAB III
PEMBAHASAN

17
Pada pasien ini umur 32 tahun dengan diagnosis G3P2A0 Hamil 39 Minggu belum
inpartu dengan HAP e.c PPT (plasenta previa totalis) JTH Preskep. Plasenta previa totalis
merupakan kelainan plasenta yang letaknya abnormal, yaitu letaknya di segmen bawah rahim
(SBR) yang menutupi sebagian atau seluruh bagian orifisium uteri internum (OUI). Jadi
diagnosis plasenta previa totalis ini dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang yang sudah dilakukan.

1. Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien mengeluh perdarahan pervaginam yang tidak
disertai nyeri perut dengan usia kehamilan cukup bulan, perdarahan berwarna merah
segar. Banyaknya perdarahan ±2x ganti celana dalam. Pasien memiliki tiga anak yang
merupakan multiparitas. Perdarahan umumnya dapat terjadi ante partum maupun post
partum yang dapat terjadi baik saat kehamilan, persalinan, maupun nifas. Pada pasien ini
perdarahan yang terjadi, yaitu perdarahan antepartum (hemoragic antepartum “HAP”)
yaitu perdarahan sebelum kelahiran. Perdarahan antepartum sendiri dapat disebabkan oleh
beberapa kelainan plasenta, yaitu plasenta previa, solutio plasenta, ruptur sinus
marginalis, dan vasa previa. Berdasarkan keluhan yang dialami pasien pada kasus ini,
pasien mengalami perdarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa karena
darah yang keluar dari kemuluan berupa darah segar yang awalnya berupa bercak-bercak
merah dan tidak disertai nyeri perut. Selain itu kecurigaan ini juga diperkuat oleh
beberapa faktor-faktor, diantranya multiparitas/multigravida, usia kehamilan cukup bulan
(aterm) berdasarkan HPHT, dan umur yg tua >35 thn.
2. Pada pemeriksaan fisik dalam hal ini pemeriksaan luar didapatkan Tinggi fundus uteri 3
jbpx (36 cm), letak janin memanjang, punggung di sebelah kiri, bagian terbawah janin
adalah kepala dengan penurunan ϴ 5/5, His (-), DJJ 150x/menit, dan TBJ 3565 gram
(>2500 g). Pada pemeriksaan dalam berupa inspekulo yang bertujuan untuk mengetahui
apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan
vagina. Hasil pemeriksaan didapatkan bahwa perdarahan berasal dari ostium uteri
eksternum, ostium uteri eksternum terbuka ± 2 cm, oleh karena itu kelainan plasenta
previa harus dicurigai. Pada pemeriksaan VT untuk pasien ini tidak dilakukan karena
dapat menyebabkan perdarahan hebat, timbulnya infeksi, dan timbulnya HIS sehingga
keadaan ini memicu terjadinya partus pematurus. HIS dalam hal ini Braxton
Hicks/kontraksi palsu yang terjadi pada kehamilan aterm (sesuai dengan pasien) dapat
memicu terlepasnya pinggir plasenta menuju segmen bawah rahim (SBR). Kondisi inilah

18
yang perlu dihindari pada pasien ini. Jadi dapat dikatakan bahwa hasil pemeriksaan ini
sesuai dengan kriteria terjadinya plasenta previa yang menyebabkan perdarahan
antepartum.
3. Pemeriksaan penunjang, yaitu pemeriksaan USG yang bertujuan untuk mengetahui letak
plasenta dan tipe dari plasenta itu sendiri. Pada pemeriksaan ini didapatkan gambaran
yaitu tampak plasenta berimplantasi di korpus anterior dan meluas menutupi seluruh
muara OUI, dari gambaran USG tersebut diketahui plasenta previa pada kehamilan pasien
tersebut terklasifikasi didalam plasenta previa totalis. Jadi pada pasien ini kecurigaan
plasenta previa totalis menjadi lebih jelas dan dapat ditegakkan dari pemeriksaan USG
dan diperkuat dengan usia kehamilan pasien yang aterm, yaitu 39 minggu karena
fisiologisnya plasenta berada disekitar OUI, jika pada usia kehamilan > 34 minggu
plasenta masih berada disekitar OUI maka jelas pasien ini mengalami plasenta previa
totalis. Ketahulah plasenta previa terdiri dari 4 golongan plasenta previa totalis (diagnosis
pasien ini), plasenta previa parsialis, plasenta previa marginalis, dan plasenta previa letak
rendah.

Ada dua tindakan yang dilakukan pada kasus HAP e.c plasenta previa totalis ini, yaitu
tindakan konservatif (persalinan pervaginam) dan tindakan aktif (seksio sesaria). Pada pasien
kasus ini, penanganan yang dilakukan adalah tindakan aktif dengan merencanakan terminasi
kehamilan segera (SC) karena kondisi yang dialami pasien sesuai dengan syarat dari tindakan
aktif, diantaranya yaitu tanda-tanda inpartu dan usia kehamilan yang sudah memasuki aterm
dengan TBJ > 2500 gram. Dengan keadaan pasien ini, maka kondisi janin harus segera
diselamatkan dan juga mempertimbangkan keselamatan untuk mencegah perdarahan yang
lebih lanjut.
Pilihan persalinan ini dengan cara seksio sesarea (SC) bertujuan untuk secepatnya
mengangkat sumber perdarahan dengan demikian memberikan kesempatan kepada uterus
untuk berkontraksi menghentikan perdarahannya dan untuk menghindari perlukaan serviks
dan segmen-segmen uterus apabila dilakukan persalinan pervaginam. Pasien ini diberikan
terapi antibiotik profilaksis sebelum dilakukan tindakan operasi. Pada pemeriksaan
laboratorium nilai hemoglobin pasien masih dalam batas normal namun sebelumnya tetap
dilakukan persiapan tranfusi darah (cross match) untuk mengatasi banyaknya perdarahan
yang terjadi selama dilakukan terminasi perabdominam yang menyebabkan banyak
kehilangan darah (anemia).

19
Setelah tindakan seksio sesarea (SC) fokus penanganan yaitu pada kesembuhan pasien
dengan menyingkirkan komplikasinya. Pencegahan infeksi setelah tindakan ini, yaitu
diberikan antibiotik spektrum luas dan juga diberikan analgesik untuk mengatasi nyerinya.
Selain itu pada pasien ini harus diperhatikan juga asupan nutrisinya untuk berupa kebutuhan
protein, suplementasi vitamin serta mineral.

20
BAB IV
KESIMPULAN

Pasien pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami perdarahan
antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa, ini ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik obstetri (pemeriksaan dalam dan luar), serta pemeriksaan penunjang. Pada
dasarnya plasenta previa terdiri dari plasenta previa totalis, plasenta previa parsialis, plasenta
previa marginalis, dan plasenta letak rendah. Tipe plasenta previa pada pasien ini dapat
ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan USG. Pada
pasien ini sudah dilakukan pemeriksaan USG, didapatkan bahwa plasenta letaknya abnormal
di segmen bawah rahim (SBR) yang meluas menutupi orifisium uteri internum (OUI).
Kondisi ini membuktikan bahwa perdarahan pada pasien ini disebabkan oleh plasenta previa
totalis. Diagnosis ini juga sangat diperkuat dengan usia kehamilan pasien yang aterm. Pasien
juga merupakan multigravida/multiparitas serta TBJ adalah 3565 g (berat bayi besar).
Berdasarkan kondisi tersebut persalinan yang dipilih untuk pasien adalah seksio sesaria
(terminasi perabdomainal) bertujuan mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut baik itu
dengan menghindari terjadinya robekan (laserasi) pada serviks uteri, maupun dengan
mepercepat timbulnya perdarahan.
Penatalaksanaan tergantung dari jumlah perdarahan uterus abnormal, apakah janin
sudah viabel atau belum untuk hidup diluar uterus, besarnya plasenta yang menutupi serviks,
posisi janin di dalam rahim, dan paritas. Tindakan rencana ekspektatif bertujuan agar janin
tidak lahir prematur dan upaya diagnosis dilakukan secara non invasif. Namun jika
didapatkan telah terjadi perdarahan yang banyak, perlu segera dilakukan tindakan aktif
(terminasi perabdominam) bila keadaan janin sudah viable.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo Sarwono.2006. Ilmu Kebidanan. Edisi 4 Cetakan ketiga. Jakarta : PT Bina

Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

2. Mirzanie H dan Kurniawati D. 2010. Obynacea (Obstetri dan Ginekologi). Yogyakarta :

Tosca Enterprise

3. Cunningham F. Gary, Norman F. Gant, Kenneth J. Leveno, dkk (2005). Obstetri williams.

Edisi 21. Volume 1. Jakarta: EGC

4. Wiknjosastro Hanifah, Saifuddin Bari Abdul, dan Rachimhadhi Trijatmo. 1997. Ilmu

Kebidanan,edisi ke 3 cetakan keempat : Yayasan Bina Pustaka Sarwono.

5. Zarbo G. et al. 2013. A case report of asymptomatic placenta previa: diagnosis and

management. Clinical Medicine Research 2013; 2(1) : 1-5 January 10. Diunduh maret

2014 http://article.sciencepublishinggroup.com/pdf/10.11648.j.cmr.20130201.11.pdf

6. Oppenheimer L. et al. 2007. Diagnosis and Management of Placenta Previa. Sogc

Clinical Practice Guideline No. 189, March 2007. Diunduh dari http://sogc.org/wp-

content/uploads/2013/01/189E-CPG-March2007.pdf

7. Manuaba I.B. Gede (2007). Pengantar kuliah Obstetri. Jakarta: EGC

22