Anda di halaman 1dari 2

Tanda – tanda keracunan digitalis

 Keracunan biasanya terjadi karena :

o Pemberian dosis beban yang terlalu cepat


o Akumulasi akibat dosis penunjang yang terlalu besar
o Adanya predisposisi untuk keracunan

 Sebab intoksikasi paling sering : pemberian besama diuretic yang menyebabkan deplesi
kalium.

1. Efek toksik terhadap jantung


Gejala umum intoksikasi digitalis tampak pada saluran cerna dan susunan saraf pusat,
tetapi gejala yang paling berbahaya adalah gangguan irama denyut dan konduksi jantung
(perlambatan dari blok AV total). Dalam kadar yang sangat tinggi obat dapat mengganggu
konduksi di atrium yang pada gambaran EKG tampak sebagai perpanjangan gelombang P.
Diagnosis aritmia karena digitalis ditentukan berdasarkan respons yang terlihat setelah obat
dihentikan. Digitalis dapat menyebabkan sinus bradikardia dan dapat menimbulkan blockade
SA total, terutama pada penderita dengan penyakit pada sinus SA.
Keracunan dapat pula bermanifestasi dalam bentuk gangguan ritme atrium, termasuk
depolarisasi premature, takikardia supraventrikel paroksismal dan nonparoksismal. Aritmia
ini sangat mungkin disebabkan oleh depolarisasi ikutan atau rangsang reentry akibat depresi
konduksi nodus AV dan nodus SA, mungkin pula karena peningkatan automatisasi oleh
digitalis. Belum ada cara pemeriksaan yang dapat membedakan berbagai mekanisme aritmia
ini.
Efek digitalis pada taut AV (AV junction) penting untuk efek terapi dan efek
toksiknya. Keracunan ditandai oleh adanya blockade AV berat dan munculnya ritme taut AV
yang dipercepat (accelerated AV junctional rhythm). Kelainan yang khas dapat berupa denyut
lepas (escape beat) atau berupa takikardia taut AV nonparoksismal. Jenis aritmia ini hampir
selalu karena digitalis, tetapi sesekali dapat disebabkan oleh infark miokard inferior atau
miokarditis akut.
Gangguan irama ventrikel yang paling sering menyertai keracunan digitalis adalah
depolarisasi premature yang muncul sebagai pulsus bigeminus atau trigeminus tetapi aritmia
ini tidak spesifik untuk digitalis. Keracunan digitalis dapat pula menimbulkan takikardia
ventrikel atau fibrilasi ventrikel. Takikardia ventrikel mungkin berasal dari automatisitas
serabut purkinje yang meningkat.

2. Efek samping lain


 Gejala saluran cerna
Anoreksia, mual, muntah merupakan gejala keracunan digitalis paling dini, dan
hilang dalam beberapa hari bila pemberian obat dihentikan. Mual dan muntah terutama
berdasarkan atas efek langsung digitalis pada pusat muntah dibatang otak, selain itu juga
akibat efek iritasi langsung terhadap saluran cerna yaitu oleh pulvus folia digitalis. Gejala
anoreksia seringkali tidak terdeteksi pada pasien lanjut usia dan depresi.

 Gejala neurologic
Sakit kepala, letih, lesu, dan pusing adalah gejala umum yang dapat dijumpai
pada awal keracunan digitalis, kelemahan otot, mudah letih merupakan gejala yang
menonjol. Neuralgia, biasanya mengenai ⅓ bagian bawah muka sehingga menyerupai
neuralgia trigemini, dapat merupakan gejala paling awal, paling berat, dan bahkan dapat
merupakan satu-satunya gejala intoksikasi digitalis. Ekstremitas dan punggung dapat pula
terkena, sesekali dapat terjadi kejang. Gejala mental dapat berupa disorientasi, pikiran
kacau, afasia, bahkan delirium atau halusinasi. Efek neuropsikiatri terutama cenderung
timbul pada penderita usia lanjut yang disertai penyakit aterosklerotik walaupun peran
digitalis disini tidak jelas.

 Penglihatan
Penglihatan sering kabur. Sering terlihat tepi yang berwarna putih sekitar
bayangan objek yang gelap dan objek seperti berembun. Penglihatan warna dapat
terganggu (chromatopsia) terutama terhadap warna kuning dan hijau. Penderita dengan
intoksikasi digitalis sering mengeluh segalanya tampak kuning. Ambliopia, diplopia dan
skotoma selintas dapat pula timbul. Pernah pula dilaporkan bahwa digitalis dapat
menimbulkan neuritis retrobulber dan kerusakan saraf penglihatan.