Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN EKOLOGI

LAJU PERTUMBUHAN POPULASI Sitophilus oryzae PADA


MEDIA Phaseolus radiatus

Kelompok 6:

1. Febriyanto 4401415021
2. Nandita Pangestika 4401415040
3. Aulia Febriasari 4401415100

Dosen pengampu:

1. Prof. Dr. Sri Ngabekti, M.S.


2. Drs. F. Putut Martin Herry Bodijantoro, M.Si.

JURUSAN BIOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
LAJU PERTUMBUHAN POPULASI Sitophilus oryzae PADA MEDIA Phaseolus radiatus

I. TUJUAN
Mengetahui laju pertumbuhan populasi kumbang beras (Sitophilus oryzae) pada media
kacang hijau.

II. LANDASAN TEORI


Populasi adalah sekelompok individu sejenis yang terdapat di suatu daerah tertentu.
Populasi dapat didefinisikan pada berbagai skalaruang. Bahkan seluruh individu sejenis dapat di
pandang sebagai sebuah populasi. Beberapa populasi lokal atau deme yang dihubungkan oleh
individu-individu yang menyebar disebut metapopulasi. Populasi sementara yang terdiri atas
tahap tertentu dari daur hidup suatu organisme membentuk hemipopulasi. Beberapa karakteristik
populasi diantaranya adalah kehidupan, ukuran, dispersi, rasio kelamin, struktur atau komposisi
umur, dan dinamika (Campbell, 2010).
Menurut Sugiyono (2001), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda
alam yang lain. populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari,
tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek atau subjek itu.
Pengetahuan tentang populasi sebagai bagian dari penetahuan ekologi telah berkembang
menjadi semakin luas.Dinamika populasi tampaknya telah berkembang menjadi pengetahuan
yang dapat berdiri sendiri.Dalam perkembangannya pengetahuan itu banyak mengembangkan
kaidah-kaidah matematika terutama dalam pembahasan kepadatan dan pertumbuhan populasi.
Pengembangan kaidah-kaidah matematika itu sangat berguna untuk menentukan dan
memprediksikan pertumbuhan populasi organisme di masa yang akan datang. Penggunaan
kaidah matematika itu tidak hanya memperhatikan pertumbuhan populasi dari satu sisi yaitu
jenis organisme yang di pelajari, tetapi juga memperhatikan adanya pengaruh dari faktor-faktor
lingkungan, baik biotik maupun abiotik.Pengetahuan tentang dinamika populasi menyadarkan
orang untuk mengendalikan populasi dari pertumbuhan meledak ataupun punah(Yasin, 2009).
Penambahan terhadap populasi dapat disebabkan oleh karena masuknya individu lain
yang berasal dari daerah lain (migrasi) dan karena adanya kelahiran kelahiran (natalis).
Pengurangan terhadap suatu populasi dapat disebabkan karena kematian (mortalitas) atau karena
keluarnya individu dari populasi tersebut. Dinamika populasi berada pada wilayah kajian antara
biologi populasi dan matematika populasi. Biologi populasi lebih banyak membutuhkan dasar
keilmuan biologi dan sedikit atau kurang memanfaatkan matematika. Sedangkan matematika
populasi lebih banyak atau dominan dalam matematika dan sedikit memanfaatkan biologi
Setiap individu adalah bagian atau anggota dari suatu populasi, suatu spesies. Sehingga,
individu tersebut harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya kemudian mengatasi
setiap perubahan dan tuntutan yang ada dalam lingkungan jenis dan populasi. Oleh karena itu,
perlu dilakukan praktikum dinamika populasi dengan menghitung kurva lulus hidup kumbang
beras. Supaya diketahui tingkat natalis dan mortalitas dari individu-individu pada setiap kondisi
yang berbeda. (Yasin, 2009)
Pada suatu tempat populasi suatu hewan mempengaruhi populasi hewan lain. Populasi
jenis hewan akan mempengaruhi populasi hewan yang hidup pada habitat hewan lainnya yang
mendiami tempat yang sama. Saling pengaruhnya juga terlihat pada persainagn akan kebutuhan-
kebutuhan dalam mempertahankan hidup dan jenis. Kesatuan seluruh populasi di suatu tempat
tertentu membentuk komunitas.Dalam biologi, populasi adalah sekumpulan individu dengan ciri-
ciri yang sama (spesies) yang hidup menempati ruang yang sama pada waktu tertentu. Anggota-
anggota populasi secara alamiah saling berinteraksi satu sama lain dan bereproduksi di antara
sesamanya. Konsep populasi banyak dipakai dalam ekologidan genetika. Ekologiwan
memandang populasi sebagai unsur dari sistem yang lebih luas (Yasin, 2009).
Populasi juga mempunyai sejarah hidup dalam arti mereka tumbuh, mendadakan
pembedaan dan memelihara diri seperti yang di lakukan organisme.Di samping itu populasi juga
mempunyai organisasi dan struktur yang dapat dilukiskan.Tetapi ada kalanya dalam praktek
sehari-hari, pengertian populasi itu dinyatakan dalam pengertian heterospesies dan polispesies
(Susanto, 2000).
Kepadatan populasi suatu spesies disuatu tempat tidak pernah tetap, selalu ada yang
datang (lahir dan imigrasi), dan pergi (mati dan emigrasi). Kelahiran menyebabkan bertambahna
anggota populasi, sedangkan kematian menyebabkan berkurangnya anggota populasi. Kelahiran
ditentukan oleh kapasitas organisme secara genetik untuk menghasilkan keturunan, yang terkait
dengan fekundits dan fertilitas.Faktor lain yang menentukan adalah lingkungan biotis (parasit
dan predator) dan ketersediaan bahan makanan serta tempat berlindung dan kemampuan
bertemunya jantan dan betina (Suin, 2003).
Dinamika poulasi dapat juga disebabkan imigrasi dan emigrasi. Hal ini khususnya untuk
organisme yang dapat bergerak, misalnya hewan dan manusia hewan dan manusia. Imigrasi
adalah perpindahan satu atau lebih organisme kedaerah lain atau peristiwa yang didatanginya.
Imigrasi ini akan meningkatkan populasi (Waluya, 2011).
Mortalitas menunjukkan kematian individu dalam populasi. Mortalitas dibedakan dalam
dua jenis yaitu mortalitas ekologik yang merupakan mortalitas yang direalisasikan, artinya
matinya sebuah individu dibawah kondisi lingkungan tertentu.Mortalitas minimum(teoritis),
yakni matinya individu dalam kondisi lingkungan yang ideal, optimum dan mati semata- mata
karena usia tua (Zulkifli,1996).
Emigrasi, imigrasi dan migrasi merupakan istilah bersangkut paut dengan
perpindahan. Emigrasi merupakan perpindahan keluar dari area suatu populasi. Imigrasi
merupakan perpindahan masuk ke dalam suatu area populasi dan mengakibatkan meningkatkan
kerapatan. Serta Migrasi menyangkut perpindahan (gerakan) periodik berangkat dan kembali
dari populasi(Susanto, 2000).
Suatu populasi akan mengalami pertumbuhan, apabila laju kelahiran di dalam populasi
itu lebih besar dar laju kematian, dengan mengasumsikan bahwa laju emigrasi. Dikenal dua
macam bentuk pertumbuhan populasi, yakni bentuk pertumbuhan eksponensial (dengan bentuk
kurva J) dan bentuk pertumbuhan sigmoid (dengan bentuk kurva S). Pertumbuhan dapat
digambarkan menjadi dua bagian yakni pertumbuhan eksponensial dan pertumbuhan sigmoid.
Pertumbuhan populasi bentuk eksponensial ini terjadi bilamana populasi ada dalam sesuatu
lingkungan ideal baik, yaitu ketersediaan makanan, ruang dan kondisi lingkungan lainnya tidak
beroperasi membatasi, tanpa da persaingan dan lain sebagainya.Pada pertumbuhan populasi yang
demikian kelimpahan bertambah dengan cepat secara eksponensial dan kemudian berhenti
mendadak saat berbagai faktor pembatas mulai berlaku mendadak (Zulkifli, 1996).
Adapun faktor pembatas yang mempengaruhi populasi merupakan faktor pembatas
kehidupan organisme didalam ekosistemnya. Hal ini juga berhubungan dengan batas kondisi
kehidupan organisme, baik batas terendah maupun batas tertinggi yang disebut batas toleransi.
Setiap organisme akan hidup dalam rentang batas toleransi minimal dan maksimal terhadap
faktor-faktor lingkungan yang akan membatasi atau menghentikan petumbuhannya (Suin, 2003).
Pola penyebaran suatu jenis di alam dapat dibagi atas tiga macam, terdapatnya
jenis hewan atau tumbuhan tersebar secara random atau acak, teratur dan berkelompok. Di alam
sebaran secara acak tak lazim ditemukan, hal ini terjadi karena faktor lingkungan yang sangat
seragam atau pada tempat dengan banyak faktor yang bekerja bersama-sama atas populasi itu.
Pola penyebaran yang teratur terjadi jika ada persaingan yang hebat terajadi antar individu (Suin,
2003).

III. ALAT DAN BAHAN


1. Botol
2. Kain kassa
3. Karet gelang
4. Label
5. Kutu beras (Sitophilus oryza) 24 ekor (perbandingan jantan:betina = 1:3)
6. Kacang hijau (Phaseolus radiatus) 41,55 gram

IV. CARA KERJA


1. Sebanyak 41,55 gram kacang hijau dimasukkan kedalam botol yang telah diberi
label.
2. Kemudian dimasukkan kedalam botol sebanyak 24 ekor kumbang Sitophilus oryzae¸
dengan perbandingan 3:1antara betina dan jantan.
3. Ditutup mulut botol dengan beberapa lapis kain kasa dan di ikat dengan karet gelang
dan disimpan di dalam ruangan.
4. Kemudian diamati perubahan populasi yang terjadi selang waktu satu minggu selama
2 bulan, lalu dicatat jumlah individu yang hidup dan mati.
V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Hidup
Minggi ke- Mati
Jantan Betina
0 6 18 -
1 1 4 19
2 1 3 1
3 1 3 0
4 1 2 1
5 1 2 0
6 0 2 1
7 0 0 2

Laju Populasi
30

25

20

15
Laju Populasi Kutu Beras pada
Media Kacang Hijau
10

0
Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu
1 2 3 4 5 6 7

Kurva (1) laju populasi Sitophilus oryzae pada media Phaseolus radiatus.

Pertumbuhan populasi kutu beras pada Phaseolus radiatus megalami penurunan atau
kematian yang cukup cepat, karena hanya dapat bertahan selama 6 minngu saja. populasi yang
hidup pada awalnya yang berjumlah 24 ekor kutu beras dan pada minggu ketujuh sudah tidak
ada lagi populasi kutu beras yang bertahan hidup, hal ini dapat dilihat pada kurva (1) di atas.

Biji kacang hijau memiliki lapisan luar yang keras sehingga sulit digigit oleh tipe mulut
dari Sitophillus oryzae. Menurut Siregar (2014), tipe mulut dari Sitophillus sp., pada bagian
pronotumnya terdapat enam pasang gerigi yang menyerupai gigi gergaji. Bentuk kepala
menyerupai segitiga.

Gambar (1) morfologi Sitophillus oryzae dari tepi.

Gambar (2) morfologi Sitophillus oryzae dari atas.


Kumbang beras yang biasanya hidup didalam beras, ketika diberi ekosistem yang berbeda
maka akan menunjukan reaksi yang berbeda pula. Ada yang meningkat dan adapula yang
menurun, ini tergantung pada jenis makanan yang diberikan. Menurut Odum (1971) populasi
akan memperlihatkan suatu peningkatan atau penyusutan secara terus menerus, kecuali jika
lingkungannya berubah dengan sangat cepat atau terjadi perubahan populasi secara drastis. Pada
umumnya populasi akan menunjukkan perubahan yang stabil, apabila lingkungan yang
mendukung untuk kehidupan organisme.

Preferensi sejenis serangga terhadap jenis makanan dipengaruhi oleh stimuli zat kimia
chemotropisme yang terutama menentukan bau dan rasa, mutu gizi dan adaptasi struktur.
Tersedianya makanan yang cukup maksudnya adalah yang cocok bagi kehidupan serangga, bila
makanan tidak cocok bagi hama dengan sendirinya populasi hama tidak akan dapat berkembang
sebagaimana biasanya. Ketidak cocokan makanan dapat timbul karena kurangnya kandungan
unsur yang diperlukan, rendahnya kadar air dalam kandungan makanan, permukaan material
yang keras dan bentuk materialnya. Syarat agar makanan dapat memberikan pengaruh yang baik
adalah tersedianya makanan dalam jumlah yang cukup dan cocok untuk pertumbuhan serangga
(Kartasapoetra, 1991).
Berkembangnya serangga hama gudang berhubungan dengan kadar amilosa, bentuk
beras, kekerasan dan kandungan nutrisi beras. Menurut Damardjati dan Siwi (1982) kadar
amilosa yang tinggi akan menurunkan daya cerna pati oleh α-amilase yang terdapat dalam air
liur serangga. Dengan menurunnya daya cerna pati maka, kandungan gula perduksi yang
dihasilkan melalui pemecahan pati oleh α-amilase dan β-amilase menjadi rendah. Berdasarkan
hal ini, maka gula yang dikonversi oleh serangga untuk menjadi energi menjadi rendah, maka
perkembangan serangga menjadi lambat dan populasi serangga menjadi rendah.

Makanan yang cukup sangat diperlukan pada tingkat hidup yang aktif, terutama sejak
penetasan telur berlanjut pada stadium larva dan kadang-kadang pada tingkat setelah menjadi
imago. Kumbang bubuk beras menyukai biji yang kasar dan tidak dapat berkembang biak
pada bahan makanan yang berbentuk tepung. Kumbang ini tidak akan meletakkan telur pada
material yang halus karena imago tidak dapat merayap dan akan mati di tempat tersebut
(Kartasapoetra, 1991).

Dalam satu hari seekor kutu beras betina dapat bertelur sampai 25 butir, tetapi rata-rata
tiap hari sebanyak 4 butir. Banyak telur yang diletakkan tiap ekor betina maksimum 575 butir
(Rukmana & Saputra, 1995). Larva dapat mengkonsumsi 25% berat bagian dalam bijian. Stadia
larva 3-4 minggu (Marbun & Yuswani, 1991).

Siklus hidup kutu beras selama 30-45 hari pada kondisi optimum yaitu pada suhu 29ºC,
kadar air biji 14% dan pada kelembapan 70%. Imago dapat hidup cukup lama tanpa makan
sekitar 36 hari, dengan makanan umurnya mencapai 3-5 bulan bahkan 1 tahun (Sitepu dkk,
2004).
Gambar (3) siklus hidup Sitophylus sp.

Dengan demikian, kelahiran mempengaruhi pertambahan jumlah individu dalam


populasi. Sedangkan kamatian mengurangi junlah individu dalam populasinya.Selain itu,menurut
Siregar (2014), faktor yang menentukan tinggi rendahnya populasi suatu organisme terdiri dari
faktor internal, eksternal, dan makanan. Faktor internal serangga meliputi siklus hidup, sex ratio,
dan keperidian. Siklus hidup yaitu lamanya waktu perkembangan serangga mulai telur hingga
serangga tersebut meletakkan telur untuk pertama kali. Semakin pendek siklus hidup maka
perkembangan populasi serangga akan semakin cepat. Sex ratio adalah perbandingan serangga
jantan dan betina yang mana semakin banyak betina yang dihasilkan akan semakin cepat
populasi serangga tersebut berkembang. Faktor ekstemal terdiri dari lingkungan abiotik dan
biotik. Lingkungan abiotik meliputi curah hujan, suhu/temperatur, kelembaban, dan lain-lain
yang akan membatasi atau mendorong populasi serangga untuk berkembang. Curah hujan yang
tinggi dapat rnempengaruhi perkembangan populasi serangga secara langsung yaitu dengan
pengaruh fisiknya akibat turunnya hujan terutama untuk serangga-serangga berukuran kecil dan
mempengaruhi secara tidak langsung yaitu dengan mernbuat kondisi yang baik bagi
perkernbangan penyakit yang dapat menjadikan serangga sakit hingga mengalarni kematian.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kompetisi yang terjadi pada suatu
spesies yang berada pada suatu habitat yang sama. Kompetisi itu dapat berupa kompetisi
makanan, ruang gerak, dan sebagainya. Dalam mengetahui suatu kepadatan populasi suatu jenis
organisme di habitatnya maka dilakukan penghitungan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
menghitung semua jumlah organisme pada habitatnya masing-masing dan angka yang diperoleh
merupakan angka yang absolute untuk menyatakannya sebagai kepadatan absolute ( Suin, 2003).

Menurut Suyono dan Sukarno (1985), kuantitas dan kualitas makanan juga berpengaruh
terhadap natalitas kumbang beras (Sitophilus oryzae). Supaya makanan dapat memberi pengaruh
yang baik, maka ketersediaan makanan juga dalam jumlah yang cukup dan kandungan
nutrisiyang sesuai dengan yang dibutuhkan. Keadaan biji seperti bentuk biji, kekerasan kulit,
warna dan adanya kandungan zat kimia tertentu berpengaruh pula pada preferensi serangga.
Selain itu Yasin (2009) juga mengatakan bahwa kualitas makanan suatu bahan mempunyai arti
yang sangat dalam kaitannya dengan percepatan perkembangbiakan serangga .

VI. KESIMPULAN

Laju pertumbuhan populasi Sitophylus oryzaae pada media Phaseolus radiatus


mengalami mortalitas yang sangat signifikan. Faktor utama yang mempengaruhi laju
pertumbuhan populasi Sitophylus oryzaae pada media Phaseolus radiatus adalah faktor sumber
nutrisi dan keadaan media (biji) seperti bentuk biji, kekerasan kulit, warna dan adanya
kandungan zat kimia tertentu yang berpengaruh pada preferensi Sitophylus oryzaae. Faktor lain
yang mempengaruhi aju pertumbuhan populasi adalah siklus hidup, sex ratio, keperidian, kondisi
lingkungan eksternal seperti suhu, kelembaban, intensitas cahaya, tekanan udara, sirkulasi.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil A. 2010.Biologi. Edisi Kedelapan. Jilid 3. Jakarta.: Erlangga.

Imms, A.D., 1976. General Textbook of Entomology. London.: Methuen And Co LTD.

Kaligis, J.R.E. 2007. Pendidikan Lingkungan Hidup. Jakarta : Universitas Terbuka

Kalshoven, 1981. Providing Agricultural Services in Rice Farming Areas. Malaysian and
Surinam Experiences. Malaysia.: Agricultural University.

Kertasapoetra. 1991. Hama Hasil Tanaman Dalam Gudang. Jakarta: PT Rinka Cipta.
Marbun C U & Yuswani P. 1991. Ketahanan Beberapa Jenis Beras Simpan Terhadap Hama
Bubuk Beras Sitophylus oryzae (Coleoptera, Curculionidae) di Gudang. Medan.
Fakultas Pertanian USU.

Michael,P. 2000. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta.: UI
Press.

Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. Phildelphia.: Saunder Com.

Respositori USU, 2014. Pengendalian hamaSitophilus oryzae. Medan: USU Press.

Siregar, Sarah Mioliana. 2014. Teknologi Produksi Benih“Hama Gudang”. Malang: Universitas
Brawijaya.

Sitepu S F, Zulnayati & Yuswani P. 2004. Patologi Benih Dan Hama Pasca. Panen. Medan:
Fakultas Pertanian USU.

Siwi B H & Damardjati D S. 1986. Pengembangan dan Kebijaksanaan Produksi Beras


Nasional. Makalah Disampaikkan Pada Konsultasi Teknik Pengembangan Industri
Pengolahan Beras Non Nasi. Jakarta.

Suin, N. M. 2003. Ekologi Populasi. Padang : Andalas University Press.

Suin, N. M. 2004. Metoda Ekologi. Padang : Andalas University Press.

Susanto, Pudyo. 2000. Ekologi Hewan. Jakarta :Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Suyono dan Sukarno, 1985. Preferensi Kumbang C. Analis F. Pada Beberapa Jenis Kacang-
Kacangan. Bogor: Balai Penelitian Tanaman Pangan.

Yasin M. 2009. Kemampuan Akses Makan Serangga Hama Kumbang Bubuk dan Faktor
Fisikokimia Yang Mempengaruhinya. Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009. Balai
Penelitian Tanaman Serealia. ISBN :978-979-8940-27-9.

Zulkifli, Hilda. 1996. Biologi Lingkungan. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi