Anda di halaman 1dari 25

DOSEN : ERLANI SKM.,M.

Kes

MATA KULIAH : STTUP

“LAPORAN INSPEKSI SANITASI MASJID”

Oleh:

KELOMPOK VII

FATMAWATI RAHIM PO.71.4.221.15.1.056

ARINI ANGGRIANI PO.71.4.221.15.1.049

MUH. ZULHAM BURHANUDDIN PO.71.4.221.15.1.060

RUSNI PO.71.4.221.15.1.078

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

PRODI D.IV

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa karena atas
anugrah-NYA kami dapat menyelesaikan laporan ini dengan judul
“LAPORAN INSPEKSI SANITASI MASJID”dengan tepat waktu dan penuh
rasa tanggung jawab, mengingat ini merupakan salah satu kriteria penilaian
Dosen terhadap Mahasiswa khususnya dalam mata pelajaran STTU.

Adapun dalam penulisan laporan ini kami dihadapkan dengan berbagai


kesulitan dan hambatan-hambatan, namun semua itu dapat teratasi berkat adanya
bantuan dari berbagai pihak, baik bantuan moral, maupun materiil.

Oleh karena itu, ijinkan kani menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak yang telah membantu, akhirnya kami menyadari
bahwa “tiada gading yang tak retak” begitu pula kami selaku insan manusia biasa
yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Olehnya saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan laporan ini sangat diharapkan.

Makassar, 6 Juli 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

Sampul

Lembar pengesahan……………………..……………………………...……..i

Kata pengantar .................................................................................................ii

Daftar isi ...........................................................................................................ii

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang……………………………………………………………2

B. Tujuan…………………………………………………………………….2
C. Rumusan Masalah………………………………………………………...3

BAB II. PEMBAHASAN

A. Sanitasi Tempat-Tempat Umum………………………………………….4

B. Sanitasi Tempat Ibadah (Masjid)…………………………………………6

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil…………………………………………………………………...…14

B. Pembahasan…………………………………………………………....…15

BAB III . PENUTUP

A. Kesimpulan………………………………………………………...…….18

B. Saran……………………………………………………………………..18

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Definisi sanitasi menurut WHO adalah usaha pencegahan/

pengendalian semua faktor lingkungan fisik yang dapat memberikan

pengaruh terhadap manusia terutama yang sifatnya merugikan/ berbahaya

terhadap perkembangan fisik , kesehatan dan kelangsungan hidup

manusia.

Definisi Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah suatu tempat

dimana umum (semua orang) dapat masuk ke tempat tersebut untuk

berkumpul mengadakan kegiatan baik secara insidentil maupun terus

menerus, (Suparlan 1977).

Tempat-tempat ibadah merupakan salah satu sarana tempat-tempat

umum yang dipergunakan untuk berkumpulnya masyarakat guna

melaksanakan kegiatan ibadah. Masalah kesehatan lingkungannya

merupakan suatu masalah yang perlu di perhatikan dan ditingkatkan.

Dalam hal ini pengelola/pengurus tempat-tempat ibadah tersebut perlu dan

sangat perlu untuk diberikan pengetahuan tentang kesehatan lingkungan

yang berhubungan dengan tempat-tempat umum (tempat ibadah) guna

mendukung upaya peningkatan kesehatan lingkungan melalui upaya

sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan tempat umum, termasuk

pengendalian pencemaran lingkungan.

1
Masjid adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum,

pada waktu – waktu tertentu berkumpul untuk melakukan ibadah

keagamaan Islam. Masjid-masjid besar di Indonesia pada umumnya

dibangun dengan konsep masjid berkubah berbentuk setengah bola atau

dome. Semestinya, pada saat merancang masjid, desain akustik tidak boleh

dikesampingkan karena berpengaruh terhadap kualitas bunyi yang diterima

pendengar diakibatkan dari suara dengung di dalam ruang masjid.

Kegiatan yang sering dilakukan di dalam masjid adalah kegiatan yang

menimbulkan kejelasan penyampaian suara, seperti sholat berjamaah dan

ceramah agama.

Dasar pelaksanaan Penyehatan Lingkungan Masjid adalah Kep.

Menkes 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana

dan Bangunan Umum.

Jadi sanitasi tempat-tempat umum adalah suatu usaha untuk

mengawasi dan mencegah kerugian akibat dari tempat-tempat umum

terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya atau menularnya suatu

penyakit.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar lebih memahami tentang sanitasi tempat-tempat umum seperti
sanitasi di Masjid Raya Makassar ini serta mengetahui dampak
terhadap kesehatan masyarakat apabila sanitasinya tidak baik.
2. Tujuan Khusus
b. Mengetahui sanitasi lokasi dan bangunan Masjid Raya Makassar
c. Menjelaskan sanitasi konstruksi dari Masjid Raya Makassar

2
d. Menjelaskan sanitasi dari bagian luar dan dalam Masjid Raya
Makassar
e. Menjelaskan hasil inspeksi Masjid Raya Makassar

C. Rumusan Masalah
a. Bagaimana lokasi dan bangunan Masjid Raya Makassar?
b. Bagaimana kontruksi Masjid Raya Makassar ?
c. Bagaimanakah sanitasi dari bagian dalam dan luar Masjid Raya
Makassar?
d. Bagaimana hasil pengamatan dari Masjid Raya Makassar ?

3
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Sanitasi Tempat-Tempat Umum

Definisi sanitasi menurut WHO adalah usaha pencegahan/

pengendalian semua faktor lingkungan fisik yang dapat memberikan

pengaruh terhadap manusia terutama yang sifatnya merugikan/ berbahaya

terhadap perkembangan fisik , kesehatan dan kelangsungan hidup

manusia.

Definisi Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah suatu tempat

dimana umum (semua orang) dapat masuk ke tempat tersebut untuk

berkumpul mengadakan kegiatan baik secara insidentil maupun terus

menerus, (Suparlan 1977).

Suatu tempat dikatakan tempat umum bila memenuhi kriteria :

1. Diperuntukkan masyarakat umum.

2. Mempunyai bangunan tetap/ permanen.

3. Tempat tersebut ada aktivitas pengelola,pengunjung/ pengusaha.

4. Pada tempat tersebut tersedia fasilitas :

a. Fasilitas kerja pengelola.

b. b.Fasilitas sanitasi, seperti penyediaan air bersih, bak sampah, WC/

Urinoir, kamar mandi

Jadi sanitasi tempat-tempat umum adalah suatu usaha untuk

mengawasi dan mencegah kerugian akibat dari tempat-tempat umum

4
terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya atau menularnya suatu

penyakit. Untuk mencegah akibat yang timbul dari tempat-tempat umum.

Usaha-usaha yang dilakukan dalam sanitasi tempat-tempat umum

dapat berupa :

1. Pengawasan dan pemeriksaan terhadap factor lingkungan dan factor

manusia yang melakukan kegiatan pada tempat-tempat umum.

2. Penyuluhan terhadap masyarakat terutama yang menyangkut

pengertian dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya-bahaya yang

timbul dari tempat-tempat umum.

Peran sanitasi tempat-tempat umum dalam kesehatan masyarakat adalah

usaha untuk menjamin :

1. Kondisi fisik lingkungan TTU yang memenuhi syarat :

a. Kualitas kesehatan.

b. Kualitas sanitasi.

2. Psikologis bagi masyarakat :

a. Rasa keamanan (security) : bangunan yang kuat dan kokoh

sehingga tidak menimbulkan rasa takut bagi pengunjung.

b. Kenyamanan (confortmity) : misalnya kesejukkan.

c. Ketenangan (safety) : tidak adanya gangguan kebisingan,

keramaian kendaraan.

5
B. Sanitasi Tempat Ibadah (Masjid)

Tempat-tempat ibadah merupakan salah satu sarana tempat-tempat

umum yang dipergunakan untuk berkumpulnya masyarakat guna

melaksanakan kegiatan ibadah. Masalah kesehatan lingkungannya

merupakan suatu masalah yang perlu di perhatikan dan ditingkatkan.

Dalam hal ini pengelola/pengurus tempat-tempat ibadah tersebut perlu dan

sangat perlu untuk diberikan pengetahuan tentang kesehatan lingkungan

yang berhubungan dengan tempat-tempat umum (tempat ibadah) guna

mendukung upaya peningkatan kesehatan lingkungan melalui upaya

sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan tempat umum, termasuk

pengendalian pencemaran lingkungan. Dengan peran serta dari pengurus

tempat-tempat ibadah diharapkan :

1. Berubahnya atau terkendalinya atau hilangnya semua unsur fisik dan

lingkungan yang terdapat dilingkungan tempat ibadah yang dapat

memberi pengaruh jelek terhadap kesehata.

2. Meningkatnya mutu kesehatan lingkungan tempat-tempat ibadah.

3. Terwujudnya kesadaran dan keikutsertaan masyarakat dan sektor lain

dalam pelestarian dan peningkatan penyehatan lingkungan tempat-

tempat ibadah.

4. Terlaksananya pendidikan kesehatan tentang peningkatan kesehatan

lingkungan .

6
5. Terlaksananya pengawasan secara teratur pada sanitasi tempat-tempat

ibadah.

a. Pengertian Masjid.

Masjid adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum, pada

waktu – waktu tertentu berkumpul untuk melakukan ibadah keagamaan

Islam. Dasar pelaksanaan Penyehatan Lingkungan Masjid adalah Kep.

Menkes 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana

dan Bangunan Umum.

b. Kategori masjid

Berdasarkan Intruksi Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat

Islam Dan Urusan Haji Departemen Agama Nomor : 06 tahun 1991,

tanggal 19 februari 1991, dan Surat Edaran Ketua Badan Kesejahteraan

Masjid (BKM) Pusat, nomor : K.019/BKMP/IV/1991 tentang tingkatan-

tingkatan masjid adalah sebagai berikut :

1) Masjid pada tingkat Pusat disebut Masjid Nasional

2) Masjid pada tingkat Propinsi disebut Masjid Raya

3) Masjid pada tingkat Kabupaten/Kotamadya disebut Masjid Agung

4) Masjid pada tingkat Kecamatan disebut Masjid Besar

5) Masjid pada tingkat Desa/Kelurahan disebut Masjid Jami’

6) Masjid pada tingkat RK/RW disebut Masjid Kampung

7) Masjid pada tingkat RT disebut Masjid Tetangga

c. Persyaratan Kesehatan Tempat Ibadah (Mesjid/Mushola)


1) Letak / Lokasi

7
a) Sesuai dengan rencana tata kota
b) Tidak berada pada arah angin dari sumber pencemaran

(debu,asap,bau dan cemaran lainya).

c) Tidak berada pada jarak < 100 meter dari sumber pencemaran

debu, asap, bau & cemaran lainnya

2) Bangunan

C. Kuat, kokoh dan permanen

D. Rapat serangga dan tikus

3) Lantai

Kuat, tidak terbuat dari tanah, bersih, rapat air, tidak licin dan mudah

dibersihkan.

4) Dinding

Dinding bersih, berwarna terang, kedap air dan mudah dibersihkan.

5) Atap

Menutup bangunan,kuat, bersih, cukup landai dan tidak bocor

6) Penerangan/Pencahayaan

Pencahayaan terang, tersebar merata dan tidak menyilau (min 10 fc).

7) Ventilasi

Minimal 10% dari luas bangunan, sejuk dan nyaman (tidak pengap dan

tidak panas).

8) Pintu

Rapat serangga dan tikus, menutup dengan baik dan membuka ke arah

luar. Terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibersihkan.

8
9) Langit – langit

- Tinggi minimal 2,4 m dari lantai

- Kuat, tdk terdapat lubang-lubang

- Berwarna terang dan mudah dibersihkan

10) Pagar

Kuat, aman dan dapat mencegah binatang pengganggu masuk

11) Halaman

Bersih, tidak berdebu dan becek, tidak terdapat genangan air, terdapat

tempat sampah yang cukup. Dan terdapat tempat parkir yang cukup.

12) Jaringan instalasi

- Aman (bebas cross conection)

- Terlindung

13) Saluran air limbah

- Tertutup

- Mengalir dengan lancer

d. Fasilitas Sanitasi

1). Air Bersih

- Jumlah mencukupi / selalu tersedia setiap saat

- Tidak berbau, tidak berasa & tidak berwarna

- Angka kuman tidak melebihi NAB

- Kadar bahan kimia tidak melebihi NAB

2). Pembuangan Air Kotor

- Terdapat penampungan air limbah yang rapat serangga

9
- Air limbah mengalir dengan lancar

- Saluran kedap air

- Saluran tertutup

3). Toilet/ WC

- Bersih

- Letaknya tidak berhubungan langsung dengan bangunan utama

- Tersedia air yang cukup

- Tersedia sabun dan alat pengering

- Toilet pria dan wanita terpisah

- Jumlahnya mencukupi untuk pengunjung terbanyak

- Saluran pembuangan air limbah dilengkapi dengan penahan bau

(water seal)

- Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar

4). Peturasan

- Bersih

- Dilengkapi dengan kran pembersih

- Jumlahnya mencukupi

5). Tempat Sampah

- Tempat sampah kuat, kedap air, tahan karat, dan dilengkapi dengan

penutup

- Jumlah tempat sampah mencukupi

- Sampah diangkut setiap 24 jam ke TPA

- Kapasitas tempat sampah terangkat oleh 1 orang

10
6). Tempat Wudhu

- Bersih

- Terpisah dari toilet, peturasan, dan ruang mesjid

- Air wudhu keluar melalui kran – kran khusus dan jumlahnya

mencukupi

- Kolam air wudhu tertutup (rapat serangga)

- Tidak terdapat jentik nyamuk pada kolam air wudhu

- Limbah air wudhu mengalir lancar

- Tempat wudhu pria dan wanita sebaiknya terpisah

7). Tempat Sembahyang

- Bersih, tidak berbau yang tidak enak

- Bebas kutu busuk dan serangga lainnya

- Sepanjang bagian depan tiap sap dipasang kain putih yang bersih

dengan lebar 30 cm sebagai tempat sujud

8). Tempat sandal dan sepatu

- Tersedia tempat sandal dan sepatu yang khusus

- Bersih dan kuat

11
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum

Profil Masjid Raya Makassar

Alamat : Jl. Masjid Raya


Luas Tanah : 13.912 m2
Luas Bangunan : 10.500 m2
Tahun Berdiri : 1948
Daya Tampung Jamaah : 60.000
Fasilitas : Parkir, Taman, Tempat Penitipan
Sepatu/Sandal, Ruang Belajar
(TPA/Madrasah), Toko, Aula Serba
Guna, Koperasi, Perpustakaan, Kantor
Sekretariat, Sound System dan
Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset,
Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu,
Sarana Ibadah
Kegiatan : Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh
dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan
pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat
Kegiatan Belajar Masyarakat),
Menyelenggarakan kegiatan sosial
ekonomi (koperasi masjid),
Menyelenggarakan Pengajian Rutin,
Menyelenggarakan Dakwah
Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan
Kegiatan Hari Besar Islam,
Menyelenggarakan Sholat Jumat,
Menyelenggarakan Ibadah Sholat
Fardhu

Berada tepat di perempatan Jalan Masjid Raya, Jalan Baraya, Jalan Andalas,
dan Jalan Bontoala, Masjid Raya Makassar merupakan masjid terbesar kedua
di Kota Makassar setelah Al Markaz Al Islami. Masjid ini memiliki daya
tampung sekira 60 ribu jamaah yang terdiri dari 10 ribu jamaah dalam
bangunan utama dan 50 ribu jamaah di halaman masjid. Masjid yang dibangun

12
pada tahun 1948 dan selesai 1949 ini dirancang oleh arsitek Muhammad
Soebardjo setelah memenangkan sayembara. Saat itu panitia pembangunan
diprakarsai KH Ahmad Bone, seorang ulama asal Kabupaten Bone tahun 1947
dengan menunjuk KH Muchtar Lutfi sebagai ketua panitia pembangunan
masjid.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Rakyatku.com, dana awal yang


digunakan untuk pembangunan masjid sebesar Rp60 ribu dan pada saat
peresmian 1949, tercatat Masjid Raya Makassar menhabiskan biaya Rp1,2
juta. Masjid berlantai dua ini menggunakan 80 persen bahan baku lokal,
dilengkapi dua menara setinggi 66,66 meter dan fasilitas lainnya berupa kantor
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan dan sebuah perpustakaan,
serta pada lantai dasar terdapat aneka ragam barang dagangan yang dijajakan
oleh pedang setempat.

Masjid yang dibangun di atas lahan lapangan sepakbola Exelsior Makassar


seluas 13.912 meter persegi ini juga memiliki lahan parkir yang luas diantara
pepohonan rimbun di halaman masjid.Kehadiran Masjid Raya Makassar
dianggap sebagai bagian dari sejarah karena pernah dikunjung oleh dua
Presiden Indonesia, tahun 1957 oleh Soekarno dan Soeharto pada tahun 1967.
Kedua presiden ini melaksanakan salat Jumat di masjid tersebut. Renovasi
Masjid Raya Makassar pertama kali dilakukan pada 1978 oleh Gubernur
Ahmad Lamo. Namun karena atap mengalami bocor-bocor parah, di tahun
2007 dilakukan renovasi kembali dengan struktur dan arsitektur mengikuti
bentuk Masjid Cordoba, Spanyol.

Setelah renovasi besar-besaran, Masjid Raya Makassar diresmikan pemakaian


oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Muhammad Jusuf Kalla selaku
penyumbang dana terbesar untuk renovasi masjid. Salah satu hal terunik yang
dapat dijumpai di masjid ini adalah Alquran raksasa berukuran 1x1,5 meter
persegi seberat 584 kilogram. Ditulis dengan tinta yang terbuat dari campuran
tinta bak China dan cairan teh kental, Alquran ini ditulis selama 12 bulan atau
satu tahun. Ditulis oleh KH Ahmad Faqih Muntaha pada tahun 1994.

B. Hasil

13
Penilaian Pemeriksaan Kesehatan Lingkungan(Inspeksi Sanitasi) Masjid

 Laik sehat Masjid Raya Makassar.

Laik sehat = Jumlah skor sebenarnya × 100 %

Jumlah skor standar

Laik sehat = 1050× 100 % × 100 %

140

= 750 %

Variabel I. Persyaratan kesehatan Lingkungan dan Bangunan

A. Umum = 80× 100 % × 100 %

80

= 100 %

B. Bagian Dalam = 510× 100 % × 100 %

520

= 98 %

Variable II. Fasilitas Sanitasi

A. Fasilitas Sanitasi = 5 10× 100 % × 100 %

520

= 100 %

Berarti Masjid laik sehat, dikatakan laik sehat jika Masjid memperoleh nilai
sekurang-kurangnya 70 % dengan catatan skore minimal untuk masing-
masing variable upaya untuk variable I= 70% dan variable II= 75 %.

C. Pembahasan

14
Dari hasil pratikum lapangan yang kami lakukan pada Masjid Raya Makassar
di Jl. Masjid Raya dapat dikatagorikan BAIK dengan hasil 17.300.
Dikatakan baik karena setiap variabel pada form penilaian sudah mencapai
nilai yang sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan diantaranya :
1. Lokasi dan Bangunan
a. Lokasi
Lokasi tidak terletak didaerah banjir dan sesuai dengan rencana tata kota
serta memiliki surat ijin bangunan, tetapi masjid ini berada pada jarak <
100 m dari sumber pencemar dan terletak pada tepi jalan raya sehingga
masjid ini berpotensi terkena debu, asap, bau dan memiliki kebisingan
yang tinggi dari kendaraan beroda.
b. Halamann
Pada halaman masjid ini bersih, tidak terdapat sampah berserakan dan
tidak ditemukan genangan air. Dan banyaknya pohon dan tumbuhan di
sekitar masjid. Sehingga dapat menjadi penghalang masuknya debu ke
dalam masjid, di karenakan letak masjid di jalan raya. Serta system
drainasenya yang bagus.

2. Bangunan Dalam
a. Lantai
Lantai pada masjid ini bersih, kedap air, tidak licin dan mudah
dibersihkan. Terbuat dari keramik / porslen.
b. Dinding
Dinding pada masjid ini bersih dan kedap air, dan tidak di temukan
dinding yang rusak.
c. Atap
Kuat, tidak bocor, menutup bangunan dan tidak menjadi berkembang
biak serangga dan tikus. Dan tidak memungkinkan terjadinya genangan
air. Serta warna dinding pada Masjid terang.

d. Langit-langit

15
Pada langit-langit masjid ini tingginya melebihi 2,5 m dari lantai, tidak
terdapat lubang-lubang dan bewarna putih dan hijau, warna hijau terang
sedangkan warna putihnya agak buram sehingga kurang segar
kelihatannya.
e. Pagar
Di dalam masjid terdapat pagar terbuat dari besi dan kayu yang di rawat
dengan baik serta kuat dan kokoh.
f. Pencahayaan
pencahayaan pada masjid ini terang karena di dalam masjid terdapat
banyak lampu serta jendela yang begitu besar sehingga cahaya masuk
kedalam masjid.
g. Ventilasi
ventilasi pada masjid ini melebihi dari 10% luas bangunan, berfungsi
dengan baik, sejuk dan nyaman. Serta di dalam masjid terdapat banyak
kipas angin di pasang di dinding masjid.
h. Alas Sholat (tikar, karpet, sejadah dll)
Tempat sholat pada masjid ini bersih dan tidak kotor dan bebas kutu
busuk atau serangga lainnya. Peralatan disekitar tempat ibadah bersih.
Serta alat sholat di bersihkan periodic karena saat melakukan
pengamatan kami mencium alat sholat dan baunya wangi.

3. Fasilitas Sanitasi
a. Air Bersih
Pada air yang ada dimasjid ini jumlah mencukupi/tersedia selalu setiap
saat di lihat dari segi fisik air, air tidak berbau, tidak berasa dan tidak
berwarna. Air wudhu keluar dari kran khusus dan jumlahnya mencukupi
dan terdapat kolam air wudhu yang tertutup rapat serangga dan tidak
terdapat jentik nyamuk.
b. Pembuangan Air Limbah

16
Pada pembuangan limbah wudhu dimasjid ini menngalir dengan lancar
teapi tidak bersambung dengan saluran pembuangan air kotor umum
yang kedap air, namun air limbah ini langsung mengalir ke parit.
c. Tempat sampah
Pada tempat sampah masjid ini kedap air, mempunyai tutup, dan terbuat
dari fiber bewarna hijau. Tempat sampah pada masjid di sediakan di
setiap wilayah, baik di halaman masjid, depan masjid, toilet, luar toilet,
di sediakan tempat sampah. Sehingga dapat dikatakan cukup karena
pengunjung masjid atau jam’ah nya ramai pada saat hari-hari besar
agama Islam. Tempat sampah ini pun terangkat setiap harinya dibuang ke
TPS.
d. Jamban dan urinoir
Toilet pada masjid ini bersih, letaknya tidak berhubungan langsung
dengan bangunan utama, lantai kedapp air miring kea rah saluran
pembuangan serta tidak berbau dan anatara toilet pria dan wanita
terpisah dan jumlahnya mencukupi yaitu untuk pengunjung yang
banyak. Setiap harinya jamban dan urinoir di bersihkan oleh petugas
kebersihan Masjid. Karena Masjid Raya memiliki petugas kebersihan
dan mempunyai tugas masing-masing membersihkan masjid.

17
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Lokasi dan bangunan Masjid Raya Makassar ini sesuai dengan


persyaratan Kep.Menkes288/Menkes /SK/III/2003 Tentang
Penyehatan Lingkungan Masjid tetapi ada satu variabel yang tidak
memenuhi syarat yaitu berada pada jarak <100 meter dari sumber
pencemar karena masjid ini berada pada tepi jalan raya.
2. Konstruksi pada Masjid Raya Makassar ini kuat dan aman dalam
keadaan baik sesuai dengan persyaratan Kep.Menkes288/Menkes
/SK/III/2003 Tentang Penyehatan Lingkungan Masjid
3. Sanitasi bagian dalam dari masjid ini yang tidak memenuhi
persyaratan hanya pada variabel langit-langit karena , warna langit-
langit Masjid hijau dan putih, warna hijau terang sedangkan warna
putih agak buram sehingga kurang segar kelihatannya.
4. Hasil pengamatan dari masjid ini yaitu memperoleh hasil yang dapat
dikategorikan BAIK dengan nilai laik sehat 750 %

B. Saran

Pada kesemapatan kali ini kami ingin menyampaikan saran bagi pihak
pihak yang terkait dengan kegiatan maupun pemeliharaan masjid,
Sebaiknya pada langit-langit masjid warnanya di bikin terang lagi agar
yang kelihatannya bagus, dan menarik. Karena dari hasil pengamatan
warna langit-langit yang hijau dan putih, warna hijaunya terang sedangkan
warna putih agak buram sehingga kurang segar kelihatannya.

18
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. http://dwiafriapratama.blogspot.com/2012/01/pemeriksaan-

inspeksi-sanitasi-tempat.html

Anonim. 2011.http://ardhikesehatanlingkungan.blogspot.com/2011/12/sanitasi-

tempat-ibadah.html

Anonim. 2015.http://adikurniawan17.blogspot.co.id/2015/12/laporan-masjid-

darul-falah.html

Kemenag.http://simas.kemenag.go.id/index.php/profil/masjid/51/

Masjid Net. 2009. https://masjidnet.wordpress.com/2009/07/13/masjid-raya-

makassar/

19