Anda di halaman 1dari 3

Dampak Green economy di Indonesia

Green economy menjadi salah satu hal yang sangat baik sekali terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia, dari teknologi ramah lingkungan hingga membuat produk baru yang bisa
di daur ulang. Hal ini akan berjalan maksimal jika pemerintah benar – benar berusaha menjaga
kestabilan masyarakat dalam berupaya mengelola green economy. Tidak hanya di sektor
ekonomi saja namun dampaknya juga bisa berpengaruh terhadap lingkungan yang nyaman.
Berupaya menjadikan kembali Indonesia yang sejahtera dari krisis ekonomi sehingga konsep
green economy melengkapi konsep pembangunan berkelanjutan dengan memenuhi kebutuhan
sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan.
Selain memberikan teknologi dan produk ramah lingkungan green ekonomy bisa
menyelamatkan Indonesia dari krisis global. Manfaat ini tidak hanya di rasakan oleh sebagian
orang saja namun bagi seluruh kalangan dari kalangan bawah menengah hingga kalangan atas.
Penciptaan green economy memang suatu hal yang sulit di lakukan jika dalam pelaksanaannya
tidak di lakukan secara kolektif karena di dalam green economy tidak hanya mencakup
sebagaian individu namun negara juga menjadi salah satu komponen yang akan merasakan
dampak dari green economy tersebut. Pemahaman ini perlu di tanamkan di masyarakt agar
masyarakat menyadari betapa pentingnya green economy di Indonesia.
Adapun manfaat lainnya dari green economy yakni sebagai peminimalisir polusi UAT
yang belakangan ini semakin merusak lingkungan biotik dan abiotik.Tidak hanya itu tahap
pencegahan polusi ini melalui green economy bisa memberikan dampak positif yang sangat
signifikan, karena selama ini polusi mengancam kehidupan makhluk hidup yang ada di bumi
sehingga lapisan ozon pun kian semakin menipis. Demi mencegah terjadinya pemanasan global
yang berdampak negatif terhadap manusia maupun mahkluk hidup lainnya green ekonomi ini
mampu meminimalisir polusi UAT.
Dalam laporan Green and Decent Job dari International Trade Union Confederation
(ITUC), Indonesia menempati urutan ketiga negara paling potensial menciptakan lapangan
kerja di bidang ekonomi hijau, setelah Amerika Serikat dan Brazil. Dari laporan tersebut, jika
Indonesia melakukan investasi 2 persen dari pendapatan negara untuk ekonomi hijau, maka
dalam lima tahun ke depan, Indonesia bisa menciptakan 4,4-6,3 juta lapangan kerja baru.
Adapun pekerjaan yang dikategorikan sebagai green jobs meliputi antara lain: pengolahan
limbah, daur ulang sampah, pertanian organik, pembuatan panel surya, dan berbagai pekerjaan
lain yang berorientasi terhadap lingkungan.
Kegiatan yang dilaksanakan ke arah ekonomi hijau sebenarnya tersirat di dalam rencana
pembangunan. Undang-undang No 17/2007 terkait rencana pembangunan nasional yang
menyatakan bahwa pembangunan nasional memiliki 4 tujuan di mana membuat Indoensia hijau
dan lestari termasuk di dalam salah satu tujuannya14. Tujuan tersebut dinyatakan dalam 3
bidang yaitu, adaptasi perubahan iklim dalam pertanian untuk menjamin ketahanan pangan,
pengembangan energi alternatif, dan pengelolaan kebencanaan.
Terobosan yang lain dalam perundang-undangan yang telah menciptakan lingkungan
baik ke arah ekonomi hijau adalah UU No 32/2009 mengenai Perlindungan Lingkungan dan
Pengelolaan yang sangat kuat mendorong “Indonesia Hijau” melalui berbagai arah dan
mekanisme serta penggunaan instrumen perekonomian untuk mencapai pengelolaan
lingkungan yang aman tanpa mengorbankan pertumbuhan perekonomian.
Salah satu kegiatan yang paling komprehensif terkait dengan green economy/ekonomi
hijau adalah pengurangan perubahan iklim. Setelah janji Presiden untuk mengurangi emisi
hingga 26%-41% (terkait BAU) pada tahun 2020, Indonesia dianggap sebagai negara
berkembang yang paling maju dalam hal komitmen untuk pengurangan perubahan iklim.
Selama 2 tahun terakhir, Pemerintah Indonesia, dalam waktu yang sangat singkat telah
memperlihatkan komitmen yang serius dan beberapa langkah konkrit.
Untuk mencapai target pengurangan emisi sebesar 26% (menggunakan sumber daya
domestic) pada tahun 2020, rencana kerja yang diajukan oleh Indonesia adalah
mempercayakan pada sektor kehutanan (LULUCF). Sektor ini akan memberikan kontribusi
hampir sebesar 90% dari target pengurangan emisi. Sebagian besar akan berasal dari
pengelolaan lahan peat land (41%), pengelolaan hutan berkelanjutan (34%), pencegahan
penggudulan hutan (18%), dan penanaman hutan (8%). Dalam usaha ini terdapat optimisme
karena banyak pihak memperkirakan biaya pengurangan emisi dari LULUCF relatif murah.
Mengenai 26% komitmen, setelah mengumumkan komitmen secara sukarela yaitu
mengurangi emisi dunia sebesar 26%-41%, Indonesia telah membuat kemajuan dalam
merencanakan kegiatan yeng detil dalam perilaku yang relative komprehensif. Beberapa
tindakan nyata telah berlangsung seperti misalnya moratorium mengenai konsesi hutan setelah
ditandatanganinya kerjasama Norwegia dan Indonesia.
Sumber:
Pasaribu, Rowland. 2012. Bahan Ajar Perekonomian Hijau Indonesia. Fakultas Ekonomi,
Universitas Gunadarma, Kenari.
Lppm UGM Pentingnya Green Economy di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi Global diakses dari
http://lppm.ugm.ac.id 15 April 2018