Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Sebelum lebih jauh kita membahas tentang permintaan tenaga kerja, kita ingat
terlebih dahulu tentang fungsi produksi. Fungsi produksi dapat menggambarkan
kombinasi input, dan menggambarkan tehnologi yang dipakai perusahaan untuk
memproduksi barang dan jasa. Untuk penyederhanaan analisa, kita membuat asumsi
bahwa dalam memproduksi barang dan jasa, perusahaan memakai dua macam faktor
produksi yaitu jumlah jam kerja yang dicurahkan oleh tenaga kerja (E) dan capital
(K). sehingga fungsi produksi tersebut dapat ditulis sebagai : Q = f ( E,K )
Dimana Q adalah output. Permintaan perusahaan terhadap input merupakan
permintaan turunan (derived demand), artinya permintaan perusaahaan terhadap
tenaga kerja dan capital ditentukan oleh permintaan konsumen terhadap produk
perusahaan. Jika permintaan terhadap output perusahaan besar, maka kemungkinan
permintaan terhadap tenaga kerja dan modal juga besar. Hal itu karena pengusaha
berproduksi karena ingin memenuhi permintaan konsumen.
Tujuan utama perusahaan pada umumnya adalah memaksimalkan laba. Laba
didapatkan dari selisih pendapatan dikurangi dengan biaya. Biaya yang dikeluaran
oleh perusahaan meliputi biaya modal dan biaya tenaga kerja. Dalam kaitannya
dengan penggunaan tenaga kerja, perusahaan akan melakukan pilihan mengenai
pemakaian jumlah tenaga kerja. Perusahaan akan berupaya menggunakan jumlah
tenaga kerja yang optimal. Dalam kaitannya dengan konsep permintaan, permintaan
tenaga kerja diartikan sebagai jumlah tenaga kerja yang diminta parusahaan pada
berbagai macam alternative harga tenaga kerja atau berbagai tingkat upah.
Masalah tenaga kerja adalah masalah yang sangat kompleks dan besar.
Kompleks karena masalahnya mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh banyak
faktor yang saling berinteraksi dengan pola yang tidak selalu mudah dipahami. Besar
karena menyangkut jutaan jiwa. Untuk menggambarkan masalah tenaga kerja dimasa
yang akan datang tidaklah gampang karena disamping mendasar kan pada angka
tenaga kerja di masa lampau, harus juga diketahui prospek produksi di masa
mendatang. Kondisi kerja yang baik, kualitas output yang tinggi, upah yang layak
serta kualitas sumber daya manusia adalah persoalan yang selalu muncul dalam
pembahasan tentang tenaga kerja disamping masalah hubungan industrial antara
pekerja dengan dunia usaha.

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 1


B. Rumusan Masalah
1. Masalah apa yang terjadi pada permintaan tenaga kerja?
2. Apa tujuan dari teori permintaan tenaga kerja?
3. Bagaimana manfaat dari tenaga kerja?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui masalah apa yang terjadi pada permintaan tenaga kerja
2. Untuk mengetahui apa tujuan dari teori permintaan tenaga kerja
3. Untuk mengetahui bagaimana manfaat dari tenaga kerja

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP PERMINTAAN
Permintaan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga kerja yang
dibutuhkan oleh perusahaan atau instansi tertentu. Biasanya permintaan akan tenaga
kerja ini dipengaruhi oleh perubahan tingkat upah dan perubahan faktor-faktor lain
yang mempengaruhi permintaan hasil produksi (Arfida BR, 2003).

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 2


Permintaan tenaga kerja merupakan sebuah daftar berbagai alternatif kombinasi
tenaga kerja dengan input lainnya yang tersedia yang berhubungan dengan tingkat
upah.
Permintaaan tenaga kerja berarti hubungan antara tingkat upah dan jumlah
tenaga kerja yang dikehendaki oleh pengusaha untuk dipekerjakan. Hal ini berbeda
dengan permintaan konsumen terhadap barang dan jasa, orang membeli barang dan
jasa karena barang itu memberikan nikmat (Utility) kepada si pembeli sementara
pengusaha mempekerjakan seseorang untuk membantu memproduksikan barang dan
jasa untuk dijual kepada konsumen. Oleh karena itu kenaikan permintaan pengusaha
terhadap tenaga kerja tergantung dari kenaikan permintaan konsumen akan barang
yang di produksiny. Permintaan tenaga kerja seperti itu di sebut Derived Demand
(Payaman Simanjuntak, 2001).
Permintaan terhadap tenaga kerja merupakan permintaan turunan (Derived
demand) artinya jika permintaan terhadap suatu barang meningkat maka pengusaha
akan menambah tenaga kerja untuk produksinya. Tenaga kerja yang diminta karena
adanya perubahan ekonomi sehingga permintaan pun terus berubah. Pemakaian
tenaga kerja juga tergantung pada perusahaan atau industri yang yang bersangkutan,
jika perusahaan cenderung padat karya maka pemakaian atau penggunaan tenaga
kerja meningkat namun jika perusahaan cenderung padat modal penggunaan tenaga
kerja relatif kecil karena adanya pemakaian mesin sebagai salah satu faktor produksi.
Biasanya perusahaan atau industri yang menghendaki keuntungan yang maksimal
maka dapat memilih jumlah terbaik untuk tenaga kerja akan memunculkan
kesempatan kerja yang tinggi dan ini berarti tidak akan lagi terjadi penduduk yang
tidak bekerja. Kesempatan kerja merupakan kesempatan untuk memperoleh hak yang
adil dalam pembangunan. Salah satu tolak ukur berhasilnya pembangunan suatu
negara adalah kesempatan kerja yang dapat diciptakan oleh adanya pembangunan
ekonomi (Sagir, 1995:23).
Kesempatan kerja meliputi lapangan pekerjaan yang sudah ditempati dan
belum ditempati. Dari lapangan pekerjaan yang lowong tersebut timbul permintaan
kerja yang datang . Adanya permintaan kerja tersebut mempunyai arti bahwa adanya
kesempatan kerja bagi pengangguran. Besarnya lapangan kerja yang belum di tempati
atau permintaan tenaga kerja secara riil dibutuhkan oleh perusahaan pada banyak
faktor, diantaranya yang paling penting adalah prospek usaha atau pertumbuhan

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 3


output dari perusahaan yang meminta tenaga kerja, banyaknya tenaga kerja yang
harus dibayar dan harga dari faktor produksi lainnya (Tambunan, 1996:64).
Permintaan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga kerja yang
dibutuhkan perusahaan atau instansi tertentu. Biasanya permintaan akan tenaga kerja
ini dipengaruhi oleh perubahan tingkat upah dan faktor-faktor lain yang
mempengaruhi permintaan hasil (Soni Sumarsono, 2003). Permintaan tenaga kerja
dipengaruhi oleh beberapa perubahan yaitu:
a. Perubahan Tingkat Upah
Perubahan tingkat upah akan mempengaruhi tinggi rendahnya biaya produksi
perusahaan. Apabila digunakan asumsi tingkat upah naik maka akan terjadi hal-
hal sebagai berikut: Naiknya tingkat upah akan menaikkan biaya produksi
perusahaan selanjutnya akan meningkatkan pula harga per unit produksi. Biasanya
para konsumen akan memberikan respon yang cepat apabila terjadi kenaikan
harga barang, yaitu mengurangi monsumsi atau bahkan tidak membeli sama
sekali. Akibatnya banyak hasil produksi yang tidak terjualdan terpaksa produsen
mengurangi jumlah produksinya. Turunnya target produksi mengakibatkan
berkurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan. Penurunan jumlah tenaga kerja yang
dibutuhkan karena pengaruh turunnya skala produksi disebut dengan efek skala
produksi atau scale effect.
Pengusaha lebih suka menggunakan teknologi padat modal untuk proses
produksinya dan menggantikan tenaga kerja dengan barang-barang modal seperti
mesin dan lain-lain. Kondisi seperti ini terjadi apabila upah naik dengan asumsi
harga barang-barang modal lainnya tetap. Penurunan jumlah tenaga kerja yang
dibutuhkan karena adanya penggantian atau penambahan penggunaan mesin-
mesin disebut efek substitusi tenaga kerja. Baik efek skala produksi maupun efek
substitusi akan menghasilkan suatu bentuk kurva permintaan tenaga kerja yang
mempunyai slope negatif .
b. Perubahan Permintan Hasil Akhir Produksi Oleh Konsumen
Apabila permintaan akan hasil produksi peruahaan meningkat, perusahaan
cenderung untuk menambah kapasitas produksinya untuk maksud tersebut
perusahaan akan menambah penggunaan tenaga kerjanya.
c. Harga Barang Modal Turun
Apabila harga barang modal turun maka biaya produksi turun dan tentunya
mengakibatkan harga jual barang per unit ikut turun. Pada keadaan ini perusahaan
Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 4
akan cenderung meningkatkan produksinya karena permintaan hasil produksi
bertambah besar, akibatnya permintaan tenaga kerja meningkat pula.
Menurut Payaman Simanjuntak (1985) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Permintaan Tenaga Kerja ada dua faktor yaitu:
1. Faktor Eksternal
Faktor eksternal tersebut antara lain:
a. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
b. Tingkat Inflasi
c. Pengangguran
d. Tingkat Bunga.
2. Faktor Internal
Sedangkan faktor internal antara lain:
a. Tingkat Upah
b. Produktifitas Tenaga Kerja
c. Modal Serta Pengeluaran Tenaga Kerja Non Upah

B. PERMINTAAN TENAGA KERJA


Permintaan dalam konteks ekonomi didefinisikan sebagai jumlah maksimum
suatu barang atau jasa yang dikehendaki seorang pembeli untuk dibelinya pada setiap
kemungkinan harga dalam jangka waktu tertentu (Sudarsono, 1990). Dalam
hubungannya dengan tenaga kerja, permintaan tenaga kerja adalah hubungan antara
tingkat upah dan jumlah pekerja yang dikehendaki oleh pengusaha untuk
dipekerjakan. Sehingga permintaan tenaga kerja dapat didefinisikan sebagai jumlah
tenaga kerja yang diperkerjakan seorang pengusaha pada setiap kemungkinan tingkat
upah dalam jangka waktu tertentu.
Miller & Meiners (1993), berpendapat bahwa permintaan tenaga kerja
dipengaruhi oleh nilai marjinal produk (Value of Marginal Product, VMP). Nilai
marjinal produk (VMP) merupakan perkalian antara Produk Fisik Marginal
(Marginal Physical Product, MPP) dengan harga produk yang bersangkutan. Produk
Fisik Marginal (Marginal Physical Product, MPP) adalah kenaikan total produk fisik
yang bersumber dari penambahan satu unit input variabel (tenaga kerja). Dengan
mengasumsikan bahwa perusahaan beroperasi pada pasar kompetitif sempurna maka
besarnya VMP yang merupakan perkalian antara MPP x P akan sama dengan harga
input produk yang bersangkutan yaitu PN.

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 5


Besarnya VMP = P didapatkan dari pernyataan bahwa kombinasi input
optimal atau biaya minimal dalam proses produksi akan terjadi bila kurva isoquan
menjadi tangens terhadap isocost. Bila sudut garis isocost sama dengan w/r.
sedangkan besarnya sudut disetiap titik pada isoquant sama dengan MPP I /MPPK,
maka kombinasi input yang optimal adalah : w/r = MPPL/MPPK atau MPPK/r =
MPPi7w. Dimana r adalah tingkat bunga implisit yang bersumber dari modal
sedangkan w adalah tingkat upah per unit. Apabila persamaan diatas diperl uas
secara umum maka akan menjadi : MPPx/Px = MPPY/P Y
Dalam kalimat lain, minimisasi biaya input atau maksimalisasi output atas
penggunaan input mensyaratkan penggunaan kombinasi yang sedemikian rupa
sehingga MPP untuk setiap input dengan harganya sama besar untuk setiap input.
Dengan demikian kenaikan satu unit input, misalnya x, akan memperbanyak biaya
produksi sebanyak Px, sekaligus akan memperbesar valume produk sebanyak MPPx
itu berarti rasio Px/MPPx merupakan tingkat perubahan total biaya perusahaan untuk
setiap perubahan output fisiknya yang secara definitif berarti sama dengan biaya
marginalnya {Marginal Cost, MC). Dari sini maka persamaan diatas juga bisa
dirubah menjadi : MPPx/Px = MPPY/P Y = MFP N/P N = 1/MC Jurnal Ekonomi &
Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, April 2007.
Dengan mengasumsikan bahwa perusahaan beroperasi pada pasar kompetitif
sempurna maka persamaan diatas bisa dirubah menjadi :
MPPx/Px = MPPY /P Y = MPPN/PN = 1/MC- 1/MR= 1/P
Dari persamaan diatas kita bisa mengetahui bahwa : MPPx/Px = 1/MR = 1/P,
sehingga MPPx x P = Px untuk semua input. Ini berarti kurva VMP untuk tenaga kerja
merupakan kurva permintaan tenaga kerja jangka pendek dari perusahaan yang
bersangkutan yang beroperasi dalam pasar persaingan sempurna {dengan Catalan
kuantitas semua input lainnya konstan). Bagi setiap perusahaan yang beroperasi
dalam pasar kompetisi sempurna itu, harga outputnya senantiasa konstan terlepas dari
berapa kuantitas output yang dijualnya. Harga input disini juga kita asumsikan
konstan. Dengan demikian kuantitas tenaga kerja yang memaksimalkan laba
perusahaan terletak pada titik perpotongan antara garis upah (Tingkat upah yang
berlaku untuk pekerja terampil yang dibutuhkan perusahaan) dan kurva VMP
perusahaan. lni diperlihatkan oleh gambar 1.

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 6


Upah, VMPL

W0

0 L0

Kuantitas Tenaga Kerja Yang dibutuhkan


Gambar 1.
Kuantitas Tenaga Kerja Yang Memaksimumkan Laba
Jika tingkat upah per unit pekerja yang kualitasnya konstan adalah wo maka
kuantitas pekerja yang optimal adalah Lo. Garis horizont al yang bertolak dari Wo
merupakan kurva penawaran tenaga kerja untuk setiap perusahaan yang beroperasi
dalam pasar tenaga kerja yang kompetitif sempurna. Perusahaan akan menggunakan
tenaga kerja tambahan jika MPPi lebih besar Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja
serta Upah : Teori serta Beberapa Potretnya di Indonesia, Maimun Sholeh dari biaya
tenaga kerja tambahan. Biaya tenaga kerja tambahan ditentukan oleh upah riil yang
dihitung sebagai (upah nominal/tingkat harga), upah riil ini mengukur jumlah output
riil yang harus dibayar perusahaan untuk setiap pekerjanya, karena dengan mengupah
satu pekerja lagi menghasilkan kenaikan output untuk MPPL dan biaya pada
perusahaan, Untuk upah riil perusahaan akan mengupah tenaga kerja tambahan
selama MPPL melebihi upah riil. Dengan mengasumsikan bahwa tenaga kerja dapat
ditambah dan faktor produksi lain tetap, maka perbandingan alat-alat produksi untuk
setiap pekerja menjadi lebih kecil dan tambahan hasil marginal menjadi lebih kecil
pula, atau dengan semakin banyak tenaga kerja digunakan semakin turun MPPi, nya
karena nilai MPPi. mengikuti hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang. Bila
harga atau tingkat upah tenaga ke rja naik, kuantitas tenaga kerja yang diminta akan
menurun, ini diperlihatkan oleh kenaikan arus upah yang berpotongan dengan kurva
VMP dalam kuantitas tenaga kerja yang lebih sedikit. Dengan berkurangnya pekerja,
produk fisik ma rginal dari input modal, atau MPPR, akan menurun karena kini setiap
unit modal digarap oleh lebih sedikit pekerja. Jika sebuah mesin dioperasikan oleh

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 7


satu orang, produk fisik marginal mesin itu akan menurun dibandingkan saat
sebelumnya ketika mesin itu diuais oleh beberapa orang. Karena kini hanya ada satu
pekerja, mereka tidak bisa bergantian menjalankan mesin, sehingga hasilnya lebih
sedikit. Dalam kalimat lain, modal bersifat komplementer terhadap tenaga kerja, atau
ada komplementaritas (complementary) diantara keduanya.

Upah,
VMPL

W1

B A
W2

VMP1
VMP2

Kuantitas L per unit periode


Gambar 2
Kurva Permintaan tenaga Kerja Dengan Dua Input Variabel
Kita mulai dari tingkat upah W2. Pada tingkat upah sebesar W2 penyerapan
Jurnal Ekonomi & Pendidikan , Volume 4 Nomor 1, April 2007 tenaga kerja oleh
perusahaan yang optimal adalah L3. Lalu upah naik menjadi W1, tingkat penyerapan
tenaga yang optimal pun merambat ke L2 dimana Garis upah yang horizontal yang
baru berpotongan dengan kurva VMPi. karena adanya komplementaritas input-input
maka kenaikkan upah mengakibatkan produk fisik marginal modal menurun dan
bergeser ke kiri menjadi VMPi. perpotongan baru dari garis upah horizontal (kurva
penawaran tenaga kerja) adalah titik C, tingkat penyerapan tenaga kerja yang optimal
akan turun ke L. jika titik A dan C dihubungkan akan diperoleh kurva permintaan
tenaga kerja dL- dL Dengan demikian, dengan jumlah tenaga kerja yang
dipergunakan, produk fisik marjinal modal akan menurun. Setiap unit modal kini
membuahkan lebih sedikit hasil sehingga tidak dapat menyerap banyak unit tenaga

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 8


kerja. MPP R akan menurun seiring dengan menurunnya tenaga kerja yang diserap.
Perusahaan akan merekrut setiap unit input sampai suatu titik dimana nilai produk
marginalnya sama dengan harganya.

C. PERMINTAAN TENAGA KERJA JANGKA PENDEK


Yang dimaksud dengan jangka pendek adalah adalah jangka waktu dimana
minimal satu input dalam produksi tidak dapat diubah. Berkaitan dengan model di
atas, kita membuat asumsi bahwa :
1. Modal tidak dapat diubah atau tetap sedang tenaga kerjanya
dapat diubah.
2. Perusahaan menjual outputnya dalam pasar persaingan
sempurna, ia membeli inputnya juga dalam pasar persaingan sempurna.
Isokuan Curve
Berkaitan dengan penggunaan tenaga kerja dan modal dalam proses produksi,
kita mengenal kurva isokuan seperti gambar 2.1. Kurva tersebut menggambarkan
berbagai kombinasi faktor produksi yaitu tenaga kerja dan modal yang dapat
digunakan untuk menghasilkan jumlah output yang sama. Dalam isokuan
digambarkan bahwa tenaga kerja dan modal merupakan substitusi satu dengan yang
lain, namun substitusi diantara keduanya bukanlah substitusi sempurna. Hal itu
tercermin dari kurva isokuan yang cembung terhadap origin.

Gambar 2.1.
Isokuan Dalam Produksi Mentega

Modal

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 9


3
1 10 19
1 2 Tenaga kerja

Dalam gambar 2.1 tersebut diperlihatkan bahwa perusahaan dapat


meningkatkan outputnya dengan cara menambah modalnya, menambah tenaga
kerjanya atau menambah kedua faktor produksi tersebut. Namun karena dalam
jangka pendek asumsi kita jumlah modalnya tetap maka untuk menambah outputnya
yang dapat dilakukan adalah dengan menambah tenaga kerjanya. Bila perusahaan
memiliki tiga unit modal maka untuk menambah output, perusahaan menambah
pemakaian tenaga kerja dari satu tenaga kerja untuk menghasilkan 10 unit output ke
dua tenaga kerja untuk menghasilkan 19 output. Tambahan output yang dilakukan
dengan cara menambah satu unit tenaga kerja disebut sebagai marginal physical
product of labor.

Tabel 2.1.
Hubungan Antara Input, Tenaga Kerj dan Produk Tenaga Kerja
Keseluruhan, Marjinal dan Rata-rata
Jumlah Produk Produk Fisik Produk Fisik
Tenaga Kerja Keseluruhan Marjinal Rata-Rata
( TP) (MPP) (APP)
1 10 10 10
2 19 9 9.5
3 27 8 9
4 34 7 8.5
5 40 6 8
6 45 5 7.5
7 49 5 7
8 52 3 6.5
9 54 2 6
10 55 1 5.5
11 55 0 5
12 54 -1 4.5
Gambar 2.2. menggambarkan hubungan antara marginal physical product of labor dan
average physical product (rata-rata produksi per tenaga kerja)

Gambar 2.2.

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 10


Average Physical Product dan Marginal Physical Product

MPP,
APP
10

APP

MPP

Input tenaga kerja 11

Marginal physical product yang semakin menurun menggambarkan adanya


diminishing return dalam setiap proses produksi dalam jangka pendek. Implikasi
dari keadaan tersebut adalah bahwa setelah menggunakan sejumlah tenaga kerja,
perusahaan akan bersedia untuk menggunakan input tenaga kerja tambahan hanya jika
upah yang akan diberikan kepada tenaga kerja tambahan tersebut lebih rendah dari
tenaga kerja sebelumnya ; hal ini karena setelah sejumlah tenaga kerja digunakan,
setiap unit tambahan tenaga kerja akan menghasilkan lebih sedikit output tambahan.
Akibatnya, kurva permintaan jangka pendek terhadap tenaga kerja akan selalu
menunjukkan kemiringan yang negative seperti gambar 2.3
Gambar 2.3
Kurva Permintaan Tenaga Kerja

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 11


VMPP

Rp 400

VMPP=P x MPP =D

S=MFC

Rp 80

9 11
Input tenaga kerja

Skedul VMPP ( value marginal phisical product) merupakan permintaan


perusahaan terhadap tenaga kerja. Ia merupakan kurva permintaan perusahaan karena
ia menentukan harga maksimum yang akan dibayarkan oleh perusahaan bagi berbagai
jumlah tenaga kerja. Setiap perusahaan yang akan memaksimalkan keuntungan tidak
mau dengan sengaja membayar setiap input lebih daripada input yang ditambahkan
pada penerimaan perusahaan secara keseluruhan. Adapun keuntungan maksimum
dicapai perusahaan jika :
MPPL x P = W
Dimana :
MPPL = Marginal Physical Product Of Labor
VMPP = Value Marginal Physical Product
P = Harga Per Unit Produk
W = Upah
Pada gambar 2.3 garis horizontal adalah kurva penawaran tenaga kerja (kurva
penawaran tenaga kerja yang bersifat elastis sempurna) Keadaan tersebut
menunjukkan bahwa perusahaan berada pada pasar tenaga kerja yang bersifat
persaingan sempurna. Kondisi ini memungkinkan perusahaan untuk dapat
menggunakan tenaga kerja dalam jumlah yang dia inginkan pada tingkat upah yang
berlaku yakni Rp 80. Jumlah tenaga kerja yang dipilih adalah sebanyak 9 orang yaitu
suatu jumlah yang menjadikan VMPP sama dengan MFC (marginal factor cost).
Apabila perusahaan menyewa 8 hari kerja maka ia akan memperoleh penghasilan

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 12


yang lebih sedikit daripada kemungkinan keuntungan maksimum karena suatu
tambahan hari kerja bagi tenaga kerja akan menghasilkan penerimaan yang melebihi
Rp 80 biaya per hari. Apabila perusahaan menyewa 10 hari kerja maka ia akan
menderita kerugian (tidak menghasilkan kemungkinan keuntungan maksimum)
karena semua hari kerja yang lebih dari 9 hari akan menyebakan biaya sewa menjadi
lebih besar dari penerimaan yang mereka hasilkan bagi perusahaan.

D. PERMINTAAN TENAGA KERJA JANGKA PANJANG


Jangka panjang adalah suatu periode dimana perusahaan dapat melakukan
penyesuaian/perubahan terhadap input-inputnya. Baik itu input modal maupun tenaga
kerjanya.
Gambar 2.5
Penyesuaian Terhadap Upah

Unit
modal VMPP1.

K2

K1 19

VMPP1= D1

N2 N1 Unit tenaga kerja

Gambar 2.5. di atas memperlihatkan jika terjadi peningkaan upah dari w 1 ke w2


maka perusahaan akan mengurangi pemakaian tenaga kerja dari N 1 ke N2 dan
meningkatkan pemakaian modal dari K1 ke K2

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 13


Dalam jangka panjang reaksi yang berbeda yang dilakukan perusahaan terhadap
perubahan tingkat upah dipengaruhi oleh pengetahuan perusahaan terhadap
penggunaan input yang lebih murah. Dalam gambar 2.6. terlihat kurva permintaan
tenaga kerja dalam jangka pendek digambarkan oleh kurva VMPP1. Dalam gambar
tersebut diasumsikan mula-mula perusahaan berada dalam keseimbangan jangka
pendek dengan tingkat upah yang berlaku w1 dan tingkat penggunaan tenaga kerja
yang sesuai sebanyak N1. asumsi kedua perusahaan tersebut juga berada dalam
keseimbangan jangka panjang yang menghasilkan output dengan kombinasi tenaga
kerja dan modal yang paling rendah biayanya. Jika pada suatu saat tingkat upah
meningkat menjadi w2 maka dalam jangka pendek perusahaan akan mengalami
peningkatan biaya tenaga kerja yang kemudian memaksa perusahaan untuk
mengurangi penggunaan tenaga kerja dari N1 ke N2 sepanjang kurva VMPP nya.
Dalam jangka panjang perusahaan akan melakukan penyesuaian dengan
menggantikan pemakaian tenaga kerja dengan modal sehingga dalam jangka panjang
jumlah tenaga kerja yang digunakan hanya sebanyak N*.

Gambar 2.6.
Penggunaan Tenaga Kerja Jangka Pendek dan Jangka Panjang

W
(upah)

W2

w1 D Jangka panjang =VMPP2

D Jangka pendek =
VMPP1

N* N2 N1 N ( unit tenaga kerja)

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 14


Ada dua hal yang perlu diperhatikan dari gambar di atas. Pertama, dalam
jangka panjang perusahaan lebih fleksibel sehingga permintaan tenaga kerja yang
dilakukan perusahaan dalam jangka panjang lebih responsive terhadap perubahan
tingkat upah (perubahan permintaan tenaga kerjanya lebih besar dibanding dengan
jangka pendek) hal itu ditunjukkan oleh kurva permintaan jangka panjang yang lebih
datar dibanding dengan jangka pendek.
Kedua, suatu perusahaan yang berada pada keseimbangan jangka panjang harus juga
berada pada keseimbangan jangka pendek.

E. PERGESERAN PERMINTAAN TENAGA KERJA


Setelah memahami bagaimana kurva permintaan tenaga kerja jangka pendek
dan jangka panjang, pada bagian ini akan dipelajari kemungkinan terjadinya
perubahan terhadap permintaan tenaga kerja. Perubahan permintaan tenaga kerja
dapat digambarkan oleh pergeseran kurva tenaga kerja. Pertambahan permintaan
tenaga kerja akan menggeser kurva permintaan tenaga kerja ke kanan sedang
pengurangan permintaan tenaga kerja akan menggeser kurva permintaan tenaga kerja
ke kiri. Perrtambahan permintaan tenaga kerja yang berakibat pada pergeseran kurva
permintaan tenaga kerja dapat disebabkan oleh berbagai hal yaitu :
Pertumbuhan ekonomi yang berarti peningkatan terhadap pendapatan
nasional akan berdampak pada peningkatan permintaan agregat. Peningkatan
permintaan tersebut akan menyebabkan peningkatan permintaan perusahaan terhadap
tenaga kerja yang digambarkan oleh pergeseran kurva permintaan tenaga kerja ke
kanan.
Peningkatan produktifitas, peningkatan produktifitas dapat mempengaruhi
kesempatan kerja yaitu dengan adanya peningkatan produktifitas maka untuk
menghasilkan jumlah output yang sama ,jumlah tenaga kerja yang diperlukan lebih
sedikit, hal itu menyebabkan berkurangnya permintaan terhadap tenaga kerja.
Peningkatan produktifitas juga berarti penurunan biaya produksi per unit barang.
Penurunan biaya produksi per unit barang akan menurunkan harga per unit barang.
Jika harga barang turun maka permintaan terhadap barang naik yang akan mendorong
pengusaha untuk menambah permintaan tenaga kerja.
Peningkatan produktifitas pekerja dapat pula meningkatkan upah pekerja.
Peningkatan upah tersebut berarti peningkatan daya beli yang akan mendorong
peningkatan pengeluaran konsumsi mereka. Selanjutnya peningkatan konsumsi
Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 15
tersebut akan mendorong perusahaan untuk berproduksi lebih banyak dengan
mempekerjakan tenaga kerja lebih banyak pula.
Perubahan cara berproduksi, adanya metode produksi yang lebih modern
yang lebih banyak menggunakan mesin akan berdampak pada peningkatan
permintaan tenaga kerja yang menguasai teknologi dan menurunkan permintaan
tenaga kerja yang berketrampilan rendah.

F. PERMINTAAN TENAGA KERJA SEBAGAI FAKTOR PRODUKSI


Faktor-faktor produksi adalah input-input yang digunakan untuk memproduksi
berbagai barang dan jasa. Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang paling
penting. Permintaan terhadap suatu faktor produksi adalah permintaan turunan
(derived demand), Artinya permintaan dari suatu perusahaan terhadap suatu faktor
produksi diderivasikan atau diturunkan dari keputusannya untuk memasok suatu
produk ke pasar lain. Dalam memutuskan berapa banyak pekerja yang perlu direkrut,
perusahaan harus mengetahui bagaimana jumlah pekerja mempengaruhi output yang
mereka produksi. Fungsi produksi menjelaskan hubungan Jumlah Tenaga Kerja antara
kuantitas input yang digunakan dalam produksi dan kuantitas output dari produksi
tersebut. Secara umum fungsi produksi dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rumus : Q = f (K, L, R, T)
Keterangan:
Q = Output (Poduksi) R = Resource (Bahan Baku)
K = Kapital (Modal) T = Teknologi
L = Labour (Tenaga Kerja)

Persamaan tersebut merupakan persamaan matematis yang berarti bahwa


tingkat produksi suatu barang tergantung kepada jumla modal, tenaga kerja dan bahan
baku yang digunakan. Jumlah produksi yang berbeda akan memerlukan jumlah
faktor-faktor produksi yang berbeda pula, namun untuk tingkat produksi tertentu
dapat digunakan gabungan atau kombinasi dari faktor-faktor produksi yang berbeda.

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 16


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masalah tenaga kerja adalah masalah yang sangat kompleks dan besar,
Kondisi kerja yang baik, kualitas output yang tinggi, upah yang layak serta kualitas
sumber daya manusia adalah persoalan yang selalu muncul dalam pembahasan
tentang tenaga kerja di samping masalah hubungan industrial antara pekerja dengan
dunia usaha. Dapat dikatakan ketenagakerjaan di Indonesia hingga kini masih mengha
dapi beberapa ketidakseimbangan baik struktural ataupun sektoral. maka salah satu
sasaran yang perlu diusahakan adalah meningkatkan daya guna tenaga kerja.
Permintaan Tenaga kerja yang dipengaruhi oleh nilai marjinal produk (Value
of Marginal Product, VMP), Penawaran Tenaga Kerja yang dipengaruhi oleh jam
kerja yang luang dari tenaga kerja individu serta upah, secara teoretis harus
diperhatikan agar kebijakan-kebijakan yang dilakukan mendekati tujuan yang
diinginkan dimana tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan dan
jumlah komposisi tenaga kerja tersebut akan terus mengalami perubahan seiring
dengan berlangsungnya proses demografis. Teori permintaan tenaga kerja ini
mendefinisikan sebagai jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan seorang pengusaha
pada setiap kemungkinan tingkat upah dalam jangka waktu tertentu.

B. Saran
Dengan adanya materi ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan para
calon pendidik tentang peran dan pendapat yang ada didalam teori permintaan tenaga
kerja ini dan bagi bapak dosen diharapkan memberikan kritikan tentang materi
makalah ini sehingga para pembacanya dapat mengubah materi yang belum di bahas.

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 17


DAFTAR PUSTAKA

Bellante, Don and Jackson, mark. 1990. Ekonomi Ketenagakerjaan, LPFE UI, Jakarta
Brown, Charles; Curtis Gilray and Andrew Kohen. (1982). The effecs ofminimum wage on
employment and unemployment, Journal of Economics Literature, VoLXX, Juni 1982.
http://Massofa.wordpress.com/2008/03/03/analisis pasar tenaga kerja di tingkat regional dan
model ekonomi.
http://organisasi.org/macam_dan_jenis_pasar_dalam_ekonomi_indonesia_pasar_barang_pasa
r_jasa_tenaga_serta_pasar_uang_modal_ilmu_ekonomi_pasar.

Teori Permintaan Tenaga Kerja Page 18