Anda di halaman 1dari 14

PENGGUNAAN GANJA DALAM ILMU PENGOBATAN

MENURUT UNDANG - UNDANG NOMOR 35 TAHUN


2009 TENTANG NARKOTIKA

DisusunOleh :

NUR MUH SEKARING DIRGANTORO 2013-22-124

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga penulis dapat
menyusun makalah tentang “Hukum Pidana Dalam Tindak Pidana Narkotika (Kasus Pretty
Asmara)”
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan kesadaranbagi
Masyarakat tentang bahaya Menggunakan Narkotika dan hukumannya . Sehingga dapat
mengerti dan Antisipasi bagi seluruh kalangan Masyarakat.

Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu, memfasilitasi,
memberi masukan dan mendukung penulisan makalah ini sehingga selesai tepat pada
waktunya.Semoga dibalas oleh Allah SWT dengan ganjaran yang berlimpah.

Meski penulis telah menyusun makalah ini dengan maksimal, namun tidak menutup
kemungkinan masih banyak kekurangan.Oleh karena itu sangat diharapkan kritik dan saran yang
konstruktif dari pembaca sekalian.

Akhirnya, saya berharap makalah ini dapat menambah khazanah keilmuan masyarakat.

Jakarta, 6 Januari 2018

Nur Muh Sekaring Dirgantoro


PENDAHULUAN

Berdasarkan pembukaan UUD 1945 alinea 4 dijelaskan bahwasannya didirikan negara


indonesia itu bertujuan untuk memajukan kesejahteraan umum. Pengaplikasian dari memajukan
kesejahteraan umum tersebut diantaranya adalah dengan meningkatkan sumberdaya manusia di
indonesia. Kualitas sumber daya manusia di indonesia merupakan suatu modal dalam
memajukan kesejahteraan umum termasuk kualitas kesehatannya. Salah satu upaya dalam
meningkatkan kesehatan adalah meningkatkan pengobatan dan pelayanan dalam bidang
kesehatan seperti halnya menyediakan obat jenis narkotika yang bermanfaat untuk pengobatan.
Dan salah satunya adalah Ganja (Cannabis sativa atauCannabis indica) adalah tumbuhan
budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal sebagai obat psikotropika karena adanya
kandungan zat tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol yang dapat membuat
pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja
biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.

Narkotika di satu sisi memiliki manfaat di bidang pengobatan. Namun, di sisi lain
narkotika tersebut memiliki akibat buruk apabila dalam penggunaannya disalah gunakan atau
tidak ada pengawasan yang ketat, seperti halnya menyebabkan ketergantungan (kecanduan)
terhadap zat narkotika tersebut. Dikatakan ada dampak yang buruk akan narkoba seperti yang
kita tahu sekarang narkoba sudah menjadi musuh bersama yang telah menghancurkan generasi
muda indonesia, dikatakan positif narkoba juga banyak digunakan dalam dunia farmasi dan
kedokteran.

Hukum dibuat untuk mengatur agar kepentingan-kepentingan yang berbeda antara


pribadi, masyarakat, dan negara dapat dijamin dan diwujudkan tanpa merugikan pihak yang lain.
Adalah tugas dari hukum pidana untuk memungkinkan terselenggaranya kehidupan bersama
antar manusia, tatkala persoalannya adalah benturan kepentingan antara pihak yang melanggar
norma dengan kepentingan masyarakat umum. Karena itu, karakter publik dari hukum pidana
justru mengemuka dalam fakta bahwa sifat dapat dipidananya suatu perbuatan tidak akan hilang
dan tetap ada, sekalipun perbuatan tersebut terjadi seizin atau dengan persetujuan orang terhadap
siapa perbuatan tersebut ditujukan, dan juga dalam ketentuan bahwa proses penuntutan berdiri
sendiri, terlepas dari kehendak pihak yang menderita kerugian akibat perbuatan itu. Kendati
demikian, tidak berarti bahwa hukum pidana abai terhadap kepentingan para pihak.
Isu mengenai pemakaian ganja bisa dibilang selalu menarik untuk dibahas. Bahkan ada beberapa
masyarakat yang pernah melakukan upaya untuk melegalisasi ganja di Indonesia. Tapi, berdasarkan
peraturan perundangundangan di Indonesia, ganja masih termasuk sebagai barang yang ilegal.
Konsekuensinya, warga Indonesia yang ketauan menggunakan ganja, bisa dijerat sanksi dan tindakan.
Sanksi dan tindakan ini juga tentunya berlaku bagi semua warga Indonesia, baik yang sudah dewasa,
maupun pelajar.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Narkotika ?


2. Ada berapa jenis narkotika yang diatur dalam Hukum Nasional Indonesia ?
3. Apa yang dimaksud dengan ganja dan Apa sanksi terhadap penggunaaan ganja selain
untuk pengobatan menurut Undang- undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika?
4. Apa Peraturan Penggunaan Ganja Dalam Ilmu Pengobatan Menurut Undang Undang
nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Bagaimana pandangan hukum atas kasus
Fidelis Ari Sudewarto ?

C. Tujuan Penulisan

1. Memberikan pemahaman apa itu narkotika sehingga dalam proses kehidupan


kehidupan tidak ada penyimpangan akan barang-barang tersebut.
2. Mengungkap jenis-jenis narkotika yang diatur dalam UU yang berlaku di negara
indonesia, sehingga pengetahuan akan narkotika akan lebih mendalam dan dapat
mengklasifikasikan narkoba tersebut yang berimbas pada aplikasi kehidupan
masyarakat.
3. Memberikan informasi akan ganja dan jenisnya dan hukum dalam menyalagunakan
ganja.
4. Untuk memberikan pemahaman tentang aturan menggunakan ganja sebagai
pengobatan dan dapat menelaah dalam proses penjatuhan hukuman tentang kasus
Fidelis Ari Sudewarto yang memiliki ganja sebagai pengobatan istrinya, yang mana
akhirnya kita selaku praktisi hukum dapat ikut andil dalam proses tersebut.
PEMBAHASAN

1 .Latar Belakang
1.1 Pengertian Narkotika

Untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pengobatan, narkotika adalah zat yang
sangat dibutuhkan.Untuk itu penggunaannya secara legal dibawah pengawasan dokter dan
apoteker. Di Indonesia sejak adanya Undang-undang Narkotika, penggunaan resmi narkotika
adalah untuk kepentingan pengobatan dan penelitian ilmiah, penggunaan narkotika tersebut di
atas diatur dalam Pasal 4 Undang-undang Narkotika yang bunyinya: “Narkotika hanya dapat
digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan”.
Menurut Ikin A.Ghani “Istilah narkotika berasal dari kata narkon yang berasal dari bahasa
Yunani, yang artinya beku dan kaku. Dalam ilmu kedokteran juga dikenal istilah Narcose atau
Narcicis yang berarti membiuskan”.

Soerdjono Dirjosisworo mengatakan bahwa pengertian narkotika: “Zat yang bisa


menimbulkan pengaruh tertentu bagi yang menggunakannya dengan memasukkan kedalam
tubuh. Pengaruh tersebut bisa berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat dan
halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan.Sifat-sifat tersebut yang diketahui dan ditemukan
dalam dunia medis bertujuan dimanfaatkan bagi pengobatan dan kepentingan manusia di bidang
pembedahan, menghilangkan rasa sakit dan lain-lain.

Menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pasal 1 ayat 1


”Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis
maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan ’’.

1.2. Jenis Narkotika Menurut Hukum Nasional Indonesia

Dalam perkembangan kehidupan yang semakin kompleks hukumpun harus senantiasa


bisa dan berubah untuk bisa mengakomodir dan melindungi hak dan kewajiban setiap
masyarakat. Hal itupun yang melatarbelakangi munculnya Undang-undang tahun No.35 Tahun
2009 tentang narkotika, UU No.35 th 2009 adalah hasil revisi dari UU No.22 Tahun 1997.
Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai jenis dari narkotika dalam hukum nasional
indonesia, terlebih dahulu kita melihat dan menelaah pengertian narkotika yang tertuang dalam
UU No 35 Tahun 2009 tentnag narkotika. Narkotika dalam UU no 35 th 2009 adalah zat atau
obat yang berasaldari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang
dapatmenyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan kedalam
golongan- golongan, hampir sama yang dijelaskan dalam pengertian diatas. Dimana dalam
hukum nasional diatur beberapa hal seperti yang dicantumkan dalam pengertian mengenai
golongan, pemakaian, produksi, peredaran, ekspor, impor, izin, penyalahgunaan, rehabilitasi ,
dll.

Jenis narkoba yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang
Narkotika dibagi kedalam tiga golongan yang terdiri dari beberapa jenis, berikut penjelasannya :

1. Golongan I Hanya digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu


pengetahuan Tidak digunakan dalam terapi Potensi ketergantungan sangat
tinggi Contoh : Heroin (putauw), kokain, ganja, TanamanPapaver
Somniferum, Opium mentah, Opium masak, Tanaman koka, Daunkoka,
Kokain mentah, Kokaina, Tanaman ganja, Tetrahydrocannabinol, Delta 9
tetrahydrocannabinol dll. Itu hanya sebagian besar contoh dan contoh
tersebut yang paling banyak kasusnya. Dalam UU narkotika golongan I
dibagi kedalam 65 jenis.
2. Golongan II, dalam golongan ini narkotika terbagi dalam 86 jenis. Narkoba
golongan ini Untuk pengobatan pilihan terakhir Untuk pengembangan ilmu
pengetahuan Potensi ketergantungan sangat tinggi Contoh : fentanil,
petidin, morfin, sabu, ekstasi.
3. Golongan III Digunakan dalam terapi Potensi ketergantungan ringan
Contoh : kodein, difenoksilat. Dalam golongan ini dibagi kedalam 14 jenis.

Penggolongan narkotika tersebut berbanding lurus dengan penjatuhan hukuman kepada


para pelaku penyalahgunaan narkotika. Dalam UU No 35 Tahun 2009 diatur jenis hukuman
kepada para pelaku tindak pidana yang berbeda tergantung kepada Golongan narkotika yang
sebgaimana telah dicantumkan dalam lampiran UU tersebut.
Ketentuan pidana untuk narkotika golongan I dalam pasal 111 ayat 1 “Setiap orang
yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara,memiliki, menyimpan,
menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalambentuk tanaman, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun danpaling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana
denda paling sedikit Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp8.000.000.000,00 (delapan miliarrupiah). Pasal 112 ayat 1 “Setiap orang yang tanpa hak
atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika
Golongan I bukantanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan
paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp800.000.000,00
(delapanratus juta rupiah) dan paling banyak Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah).

Untuk narkotika golngan II Pasal 117 ayat 1 “ Setiap orang yang tanpa hak atau melawan
hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan NarkotikaGolongan II, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun danpaling lama 10 (sepuluh) tahun dan
pidana denda paling sedikit Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”. Pasal 118 ayat 1 “Setiap orang yang tanpa hak atau
melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan
II, dipidana denganpidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua
belas) tahundan pidana denda paling sedikit Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah)”.

Untuk narkotika golongan III pasal 122 “Setiap orang yang tanpa hak atau
melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan NarkotikaGolongan III,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh)
tahun dan pidana denda paling sedikit Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). Pasal 123 ayat 3 “Setiap orang yang tanpa hak
atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika
Golongan III, dipidana denganpidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10
(sepuluh) tahun danpidana denda paling sedikit Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) dan
palingbanyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”
B. Ganja

Ganja yang dalam bahasa Latin dinamakan cannabis, mempunyai beberapa bentuk daun
seperti tembakau yang berwarna hijau, ada yang berjari lima, tujuh, atau sembilan buah daun
dalam setiap batang daunnya. Ganja memiliki banyak istilah di kalangan para pemakai atau
junkies seperti cimeng, rasta, ulah, gelek, buda stik, pepen, hawai, marijuana, dope, weed, hemp,
hash (hasish), pot, joint, sinsemilla, grass, dan ratusan nama jalanan lain yang tersebar di seluruh
dunia untuk penamaan ganja. Sama seperti istilahnya, ganja juga banyak tersebar di berbagai
belahan negara lain, utamanya di negara – negara yang beriklim tropis dan sub tropis seperti
misalnya di Indonesia, India, Nepal, Thailand, Laos, Kamboja, Kolombia, Jamaika, Rusia bagian
Selatan, Korea, dan Amerika Serikat.

Pada penelitian terakhir tentang ganja, ditemukan ada 3 (tiga) jenis tanaman ganja yaitu :
Cannabis Sativa, Cannabis Indica, dan Cannabis Ruderalis. Ketiga jenis tanaman ganja itu
semuanya memiliki kandungan THC (Tetra Hydro Cannabinol) yang berbeda – beda tingkat
kadarnya untuk setiap jenisnya. Jenis Cannabis Indica mengandung THC paling banyak, disusul
jenis Cannabis Sativa, dan jenis Cannabis Ruderalis mengandung THC paling sedikit. THC
sendiri adalah zat psikoaktif yang berefek halusinasi dan ini terdapat dalam keseluruhan pada
bagian tanaman ganja, baik daunnya, rantingnya, ataupun bijinya. Karena kandungan THC
inilah, maka setiap orang yang menyalahgunakan ganja akan terkena efek psikoaktif yang sangat
membahayakan.

Seiring dengan perkembangannya ganjapun memiliki efek negatif dan positif. Efek
negatif secara umum adalah pengguna akan menjadi malas, otak lamban dalam berfikir, pusing,
depresi, halusinasi, timbulnya rasa kuatir (ansienitas) selama 10 – 30 menit, timbulnya perasaan
tertekan dan takut mati, gelisah, bersikap hiperaktif (aktifitas motorik mengalami peningkatan
secara berlebihan), jantung berdebar (denyut jantung menjadi bertambah cepat 50% dari
sebelumnya), bola mata memerah (disebabkan pelebaran pembuluh darah kapiler pada bola
mata), mulut kering (karena kandungan THC mengganggu sistem syaraf otonom yang
mengendalikan kelenjar air liur). Efek positif ganja diantranya yaitu :

 Mengurangirasa sakit pada penderita kanker.


 Sebagai obat bagi pasien epilepsi.
 Biji ganja mengandung nutrisi yang sangat tinggi.
 Tanaman ganja dapat membuat tanah subur kembali.

Menurut Undang-undang No 35 Tahun 2009, ganja atau cannabis ini dimasukan kedalam
narkotika golongan I, itu artinya ganja adalah jenis narkotika dengan kadar tertinggi dan tingkat
paling bahaya dalam penyalahgunaannya. Karena ganja dimsukan kedalam kategori narkotika
golongan I maka berikut adalah beberapa ketentuan ketentuan pidananya :

Pasal 111

 Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara,
memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam
bentuk tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan
paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp800.000.000,00
(delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar
rupiah).
 Dalam hal perbuatan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau
menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon,
pelaku dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

Pasal 113

 Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor,
mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupi
 Dalam hal perbuatan memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan
Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam bentuk tanaman
beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam
bentuk bukan tanaman beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana
mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun
dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

Pasal 1

 Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual,
membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan
Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana
penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan
pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling
banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah
 Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara
dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1
(satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman
beratnya 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur
hidup, atau pidana penjara paling singkat 6 (enam) tahun dan paling lama 20 (dua
puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditambah 1/3 (sepertiga).

4. Peraturan Penggunaan Ganja Dalam Ilmu Pengobatan Menurut Undang Undang nomor 35 Tahun
2009 Tentang Narkotika dan kasus fideris ari sudewanto.

Kasus Fidelis Ari Sudewarto yang ditangkap karena kepemilikan ganja untuk pengobatan istrinya
mendapat sorotan dari lembaga swadaya masyarakat Lingkar Ganja Nusantara (LGN). Menurut LGN
yang melakukan dokumentasi sejak 2010, ganja berkhasiat dalam pengobatan penyakit mematikan.
Namun, kata LGN, penggunaan ganja dalam medis masih tabu di Indonesia. LGN berharap pemerintah
meninjau ulang kebijakan narkotika. Pada 19 Februari 2017, BNN menangkap Fidelis Ari Sudewarto,
warga Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dia dituduh menanam 39 batang ganja di rumahnya.
Ekstrak ganja itu dia gunakan untuk pengobatan istrinya yang terkena penyakit syringomyelia atau kista
di sumsum tulang belakang setelah perawatan konvensional dan alternative gagal. Karena tindakannya
itu, Fidelis ditahan selama 5 bulan . Ketika suaminya ditahan, Yeni tidak mendapatkan pengobatan
ekstrak ganja sehingga meninggal. Meski menggunakan ganja untuk pengobatan istrinya, Fidelis tidak
ikut menggunakan ganja apalagi menjualnya.

Dalam kasus ini di temukan bukti 39 batang ganja. Walaupun di gunakan untuk pengobatan
istrinya tetapi fideris tidak memiliki izin dan tanpa ada pengawasan dan resep dari dokter. Dalam sidang
perdananya oleh jaksa penuntut umum, Erhan Lidiansyah menjelaskan Fidelis Ari dikenakan tiga pasal
alternatif. Dalam dakwaannya, Fidelis dikenakan tiga pasal yaitu, dakwaan pertama pasal 113 ayat 2,
dakwaan kedua yaitu pasal 111 ayat 2 dan dakwaan alternatif ketiga pasal 116 ayat 1 dengan ancaman 5
tahun hingga 20 tahun penjara. Erhan Lidiansyah mengatakan saat ini pihaknya tetap mengikuti
prosedur hukum. Dakwaan di tetapkan berdasarkan fakta, dimana ganja tersebut digunakan terdakwa
untuk mengobati istrinya, kemudian dari cara dia mengolahnya yang kita katagorikan terdakwa
memproduksi menjadi ekstrak yang sebelumnya dia dapatkan dari membeli kepada orang lain.

Di dalam undang – undang nomer 35 tahun 2009 tentang narkotika di bab IX yang menjelaskan
tentang pengobatan dan rehabilitasi, di bagian satu di jelaskan mengenai pengobatan dan diatur dalam
pasal 53 ayat 1 sampai dengan ayat 3 yang berbunyi sebagai berikut.

(1) Untuk kepentingan pengobatan dan berdasarkan indikasi medis, dokter dapat
memberikan Narkotika Golongan II atau Golongan III dalam jumlah terbatas dan sediaan
tertentu kepada pasien sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat memiliki, menyimpan, dan/atau
membawa Narkotika untuk dirinya sendiri.
(3) Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mempunyai bukti yang sah bahwa
Narkotika yang dimiliki, disimpan, dan/atau dibawa untuk digunakan diperoleh secara
sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

Sidang dipimpin oleh hakim ketua Ahmad Irfir Rochman didampingi dua hakim masing-
masing John Malvino Seda sebagai hakim I dan Maulana Abdillah sebagai hakim II itu, Jaksa
Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa dengan pasal 111 ayat (1) dengan hukuman lima
bulan penjara dan denda Rp 800 juta subsider satu bulan penjara.
Tuntutan atas dakwaan dibacakan oleh Adam Putrayansyah, didampingi Erhan
Lidiansyah, dan Shanty Elda Mayasari. sidang kali ini, terdakwa didampingi Penasehat
Hukumnya, Marcelina Lin dan Theo Kristoporus Kamayo.Kepala Kejaksaan Negeri Sanggau
Danang Suryo Wibowo menyampaikan, tuntutan terhadap terdakwa sudah sesuai dengan
petunjuk Kejaksaan Agung.“Kasus ini menjadi atensi pimpinan kami di Kejaksaan Agung.
Sebagai aparat hukum kami berupaya menyeimbangkan antara penegakan hukum dengan
menampung aspirasi dan nilai-nilai keadilan di masyarakat. Dari tuntutan kami ini masyarakat
bisa menilai bahwa kami juga mencoba untuk mengakomodir nilai-nilai keadilan yang ada di
dalam perkar ini.
Bak pedang bermata dua. Demikianlah jika kita menggunakan ganja sebagai obat medis di
beberapa negara, termasuk Indonesia. Di satu sisi, penggunaan Cannabis sativa untuk pengobatan
beberapa penyakit memang bermanfaat. Namun di sisi lain, legalitas hukum dilanggar dan efek samping
akibat penggunaan ganja medis masih diperdebatkan. Padahal, kebutuhan ganja sebagai salah satu obat
dalam dunia medis sudah ada sejak berabad-abad lalu. Di dalam ganja, para peneliti menemukan
komponen zat aktif yang kemungkinan bisa membantu pengobatan. Komponen itu ialah senyawa kimia
yang disebut cannabinoids. Cannabinoids banyak ditemukan dalam ganja. Dua senyawa aktif
cannabinoids yang sudah diteliti antara lain delta-9- tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD).
Zat-zat tersebut konon bisa membantu menyembuhkan dan mengurangi gejala penyakit tertentu seperti
radang usus (inflammatory bowel disease/IBD), kanker, juga dapat meningkatkan nafsu makan pada
penderita HIV/AIDS, hepatitis C, gangguan stres, pascatrauma, glaukoma, epilepsi, dan beberapa
penyakit lain

Meski penelitian soal manfaat ganja untuk medis terhitung belum begitu banyak, namun pada
beberapa studi kasus kecil, penggunaan ganja pada pasien kanker dikabarkan bisa mengurangi mual dan
pusing usai menjalani kemoterapi.
KESIMPULAN

Narkotika merupakan semua bahan obat yang mempunyai efek kerja yang bersifat membius,
merangsang, ketagihan, dan menimbulkan daya berkhayal yang mempunyai banyak macam dan
jenisnya, sehingga dapat digolongkan menurut kegunaannya. Awalnya bahan obat ini digunakan untuk
bidang kesehatan dalam hal ini sebagai pereda rasa sakit untuk pasien yang akan menjalani operasi
maupun pada proses terapi. Namun, ditangan orang yang tidak tepat bahan obat ini dipergunakan
sebagai obat untuk menenangkan diri dan berhalusinasi yang akan membuat pemakainya merasa tidak
memiliki beban apapun dalam hidup. Cara penggunaannya pun berbeda-beda tergantung jenisnya. Pada
beberapa tahun lalu sempat dihebohkan dengan kasus penggunaan ganja sebagai media pengobatan
oleh seorang suami kepada istri. Proses pengobatan itu berhasil menghilangkan rasa sakit yang diderita
sang istri, namun pengobatan itu tidak didasari dengan resep dan anjuran dari dokter, sehingga sang
suami ditangkap atas dasar kepemilikan ganja dan dikenakan Pasal 111 dan 116 UU nomor 35 tentang
Narkotika atas dasar kepemilikan 39 batang pohon ganja. Akan tetapi pembelaan justru dilakukan oleh
lembaga swadaya masyarakat yaitu Lingkar Ganja Nasional (LGN). Mereka menganggap bahwa apa yang
dilakukan sang suami tidak lah salah, karena melakukan pengobatan kepada istri tanpa niat

Penggunaan ganja dalam ilmu kesehatan merupakan hal yang masih dianggap tabu oleh
sebagian masyarakat di Indonesia. Selama ini ganja memiliki reputasi buruk dalam masalah
kesehatan, karena disalah gunakan oleh pihak –pihak yang tidak bertanggung jawab. Ganja
memberikan rasa kecanduan, rasa cemas, atau kerusakan pada otak yang berkaitan dengan
ingatan. Ganja sendiri diatur dalam Undang Undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
Sanksi-sanksi yang diberikan tidaklah ringan dan tergolong sangat berat karena hukuman
terberatnya ialah hukuman mati bagi para Bandar dan pengedarnya.
SARAN

Bagi para pihak yang dianggap mempunyai kepentingan baik terhadap pengguanan ganja
untuk kesehatan, diharapkan untuk melakukan penelitian lebih terperinci terhadap keuntungan
dan manfaat yang sebenarnya dari ganja dalam bidang kesehatan. Dan juga memberikan
informasi serta pembelajaran kepada masyarakat luas tentang apa itu ganja dan dampak yang
akan ditimbulkan dari pengguanaan ganja yang tidak terkontrol. Bagi masyarakat awam,
sebaiknya jangan sampai mempunyai urusan apapun yang berkaitan dengan ganja walaupun
terdapat unsur dan niat baik kita untuk pemanfaatan ganja, namun pemanfaatan ganja dalam
dunia kesehatan di Indonesia belumlah maksimal dan dianggap melanggar hukum karena tidak
ada aturan yang kuat dalam kegunaan ganja sebagai media untuk kesehatan.

Daftar Pustaka
Drs. C.S.T. Kansil, S.H. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta, Balai
Pustaka. 1989.
R. Soenarto Soerodibroto, S.H. KUHP DAN KUHAP, Jakarta, Rajawali Pers. 1994.
Kepaniteraan dan Sekretaris Jendral Mahkamah Konstitusi RI , Undang-undang dasar
1945. 2013.
Kitab undang-undang hukum pidana. - Undang undang nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika -
http://halosehat.com/farmasi/aditif/ 20-jenis-jenis-narkoba-gambarefek-dampak-dan-pengertiannya (1
March,2015) - https://id.wikipedia.org/wiki/Narko ba - http://www.seputarpendidikan.com/
2017/01/10-pengertian-narkobamenurut-para-ahli.html - http://www.seputarpendidikan.com/
2017/01/10-pengertian-narkobamenurut-para-ahli.html - http://halosehat.com/farmasi/aditif/ 20-jenis-
jenis-narkoba-gambarefek-dampak-dan-pengertiannya - https://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_
kesehatan_masyarakat - https://kumparan.com/nikennurani/mengulas-penggunaanganja-di-dunia-
medis - https://www.merdeka.com/sehat/10 -manfaat-mengejutkan-ganjauntuk-kesehatan.html -
https://www.kaskus.co.id/thread/51 d6aa8f1dd7193411000009/gimanasanksinya-kalau-
mengonsumsiganja-cekidot/