Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Hari/tanggal : Senin 20 November 2017

Pokok Bahasan : Peran serta keluarga pada klien dengan harga diri rendah

Pukul : 10.00-10.30 WIB

Sasaran : Klien dan Keluarga klien ruang 23 empati RSSA

Alokasi Waktu : 30 menit

Tempat : Ruang 23 Empati RSSA Malang

A. Latar Belakang

Kesehatan Jiwa adalah suatu kondisi sehat, emosional, psikologis, dan

sosiologis yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan

koping yang efektif, konsep diri yang positif dan kestabilan emosional. Kesehatan

jiwa memiliki banyak komponen dan di pengaruhi oleh berbagai faktor (Johnson,

1997).

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang

diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan

dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998).

Harga diri adalah pandangan keseluruhan dari individu tenang dirinya

sendiri. Penghargaan diri juga kadang dinamakan martabat diri atau gambaran

diri. Misalnya, anak dengan penghargaan diri yang tinggi mungkin tidak hanya

memandang dirinya sebagai seseorang, tetapi juga sebagai seseorang yang baik.
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan rendah

diri berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan

diri.Harga diri merupakan evaluasi diri negatif yang berkepanjangan/perasaan

tentang diri atau kemampuan diri (Herdman,2012).

Harga diri rendah berkepanjangan termasuk kondisi tidak sehat mental karena

dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan lain, terutama kesehatan jiwa.

Dampak yang dapat ditimbulkan oleh pasien yang mengalami harga diri

rendah adalah kehilangan kontrol dirinya. Pasien akan mengalami panik dan

perilakunya. Pada situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri (suicide), membunuh

orang lain (homicide),bahkan merusak lingkungan Untuk memperkecil dampak yang

ditimbulkan harga diri rendah, dibutuhkan penanganan yang tepat.

Keluarga sebagai orang terdekat dengan klien merupakan sistem

pendukung utama dalam memberikan pelayanan langsung pada saat klien berada

dirumah. Oleh karena itu,keluarga memiliki peran penting didalam upaya merawat

anggota keluarga dengan harga diri rendah. Melihat fenomena diatas, maka keluarga

perlu mempunyai pemahaman mengenai cara perawatan anggota keluarga yang

mengalami gangguan jiwakhususnya harga diri rendah ini. Salah satu upaya yang

dilakukan adalah perawat dapat melaksanakan penyuluhan guna memberikan

pendidikan kesehatan kepada keluarga.

Oleh karena itu dalam praktek Keperawatan Jiwa D3 Keperawatan UMM,

kami akan melakukan penyuluhan mengenai peran keluarga dalam merawat anggota

keluarga dengan harga diri rendah.


B. Tujuan
Umum: Pada akhir proses penyuluhan, peserta penyuluhan dapat mengetahui

tentang peran serta keluarga pada klien dengan harga diri rendah.

Tujuan Khusus

Setelah diberikan penyuluhan diharapkan klien dan keluarga klien ruang 23

empati RSSA Malang dapat :

1. Menjelaskan tentang pengertian harga diri rendah.

2. Menjelaskan tentang tanda dan gejala harga diri rendah.

3. Menjelaskan tentang penyebab harga diri rendah.

4. Menjelaskan tentang cara meningkatkan harga diri.

5. Menjelaskan tentang peran keluarga dalam meningkatkan harga diri.

C. Materi
Terlampir

D. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi / tanya jawab
E. Media
1. Leaflet
2. Laptop
3. Power point
4. LCD
F. Jadwal Pelaksanaan
KEGIATAN KEGIATAN
NO TAHAP WAKTU
PENYULUHAN PESERTA
1 Pembukaan 5 menit  Mengucapkan salam  Menjawab salam
 Memperkenalkan dan mendengarkan
diri
 Menjelaskan tujuan
dari penyuluhan
 Melakukan kontrak
waktu
 Menyebutkan materi
penyuluhan yang
akan diberikan
2 Pelaksanaan 15 menit  Menjelaskan  Mendengarkan
tentang dan
pengertianharga diri memperhatikan
rendah.  Bertanya tentang
 Menjelaskan materi yang
tentang tanda dan kurang jelas
gejala harga diri
rendah.
 Menjelaskan
tentang penyebab
harga diri rendah.
 Menjelaskan
tentang cara
meningkatkan harga
diri.
 Menjelaskan
tentang peran
keluarga dalam
meningkatkan harga
diri.
3 Evaluasi 5 menit  Menanyakan pada  Menjawab dan
keluarga pasien menjelaskan
tentang materi yang pertanyaan
diberikan dan
reinforcement
kepada keluarga
pasien bila dapat
menjawab dan
menjelaskan
kembali pertanyaan /
materi.
4 Penutup 5 menit  Mengucapkan  Menjawab salam
terima kasih
 Mengucapkan salam

G. Pengorganisasian

Penyaji : Raga Suryansyah


Tugas : Memberi penyuluhan tentang harga diri rendah
Fasilitator : 1. Nadia Kusuma
2. Akhmad Rofiq
Tugas : Memfasilitasi keluarga klien di saat melakukan pendidikan kesehatan
harga diri rendah

Moderator : Nadia Kusuma


Tugas : Memandu jalannya penyuluhan
Observer : Akhmad Rofiq
Tugas : Mengobservasi jalannya pendidikan kesehatan tentang harga diri rendah
H. SETTING TEMPAT

Keterangan:

: Leader
: Co leader
V
: Observer

: Fasilitator
: Klien

I. Evaluasi

1. Evaluasi Struktur

a. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang 23 Empati RSSA

Malang.

b. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya.

2. Evaluasi Proses

a. Keluarga dank lien memperhatikan terhadap materi penyuluhan.

b. Keluarga dan klien bertanya tentang materi penyuluhan.

c. Keluarga dan klien mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan

secara benar.

3. Evaluasi Hasil

Diharapkan 80% Peserta mampu :

a. Menyebutkan pengertian HDR dengan bahasanya sendiri dengan benar.


b. Menyebutkan bagaimana proses terjadinya HDR dengan bahasanya

sendiri dengan benar.

c. Menyebutkan tanda dan gejala HDR dengan bahasanya sendiri dengan

benar.

d. Menjelaskan cara merawat anggota keluarga HDR dengan bahasanya

sendiri dengan benar.

G. Penutup

1. Kesimpulan

Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan

rendah diri berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan

kemampuan diri. Harga diri berkepanjangan termasuk kondisi tidak sehat

mental karena dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan lain, terutama

kesehatan jiwa.

2. Saran

Diharapkan setelah melakukan penyulahan keluarga mampu membina

pasien harga diri rendah


LEMBAR PERSETUJUAN

Di setujui

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

( ) ( )
Materi Penyuluhan

Harga Diri Randah


A. Pengertian HDR

Harga diri rendah adalah perasaan tidah berharga, tidak berarti, dan rendah diri

berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan

diri.Harga diri kronik merupakan evaluasi diri negatif yang berkepanjanga/perasaan

tentang diri atau kemampuan diri (Keliat, 2005)

Harga diri rendah muncul akibat dari penilaian internal individu maupun

penilaian eksternal yang negatif. Penilaian internal adalah penilaian yang berasal dari

diri individu itu sendiri, sedangkan penilaian eksternal merupakan penilaian dari luar

dir individu (misal: lingkungan) yang mempengaruhi penilaian individu tersebut.

B. Penyebab HDR

Harga diri dan konsep diri tidak bisa dipisahkan dari memandang diri sendiri.

Harga diri merupakan penilaian seseorang terhadap diri sendiri, baik bersidat positif

maupun negatif. Sementara konsep diri merupakan penilaian yang berasal dari dalam

diri sendiri.Seseorang yang memilki harga diri rendah maka akan membatasi

pergaulannya, kurang percaya diri, kurang aktif, dan tidak bisa bertanggung jawab

terhadap dirinya sendiri.

Faktor yang menyebabkan seseorang mengalami harga diri rendah, yakni:

a. Pola Asuh Keluarga

Pola asuh yang diterapkan di keluarga sangat berpengaruh terhadap

bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Pola asuh yang permisif

cenderung kurang terkontrol sehingga seseorang menjadi tidak bisa membedakan


mana yang baik dan mana yang tidak bisa diterima masyarakat. Sebaliknya, pola

asuh otoriter kadang menyebabkan masalah maladaptif dalam menilai diri.

b. Tekanan/Trauma

Banyak faktor yang bisa menyebabkan timbulnya trauma, misalnya

kekerasan fisik, seksual, dan peristiwa lain yang bisa mengancam seseorang

hingga tidak bisa lepas dari bayang-bayang kejadian yang tidak menyenangkan

tersebut.

c. Keadaan Fisik

Harga diri seseorang juga dipengaruhi oleh kondisi fisik. Kondisi fisik

yang mempunyai kekurangan atau cacat akan membuat seseorang merasa minder.

Akibatnya mereka cenderung menarik diri untuk menyembunyikan

kekurangannya.

d. Ketidakberfungsian Secara Sosial

Ketidakberfungsian secara sosial disini adalah tidak mampunya seorang

individu menempatkan dirinya dalam fungsi sosial. Misalnya seorang kepala

rumah tangga yang menganggur, akan merasa rendah diri dalam kehidupan

sosialnya.

C. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala HDR dapat di lihat dari ungkapan pasien yang menunjukan

penilaian negatif tentang dirinya dan di dukung dengan data hasil wawancara dan

observasi.

1. Data subjektif

Pasien mengungkapan tentang :


a. Hal negatif diri sendiri atau orang lain

b. Perasaan tidak mampu

c. Pandangan hidup yang pesimis

d. Penolakan terhadap kemampuan diri

2. Data objektif

a. Penurunan produktifitas

b. Tidak berani menatap lawan bicara

c. Libik banyak menundukkan kepala saat berinteraksi

d. Bicara lambat dengan nada suara lemah

D. Akibat Lanjut HDR

Klien yang mengalami harga diri rendah bisa mengakibatkan gangguan

interaksi sosial: menarik diri, memicu munculnya perilaku kekerasan yang berisiko

mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Isolasi social merupakan keadaan dimana

individu dan kelompok mengalami kebutuhan meningkat keterlibatan dengan orang

lain tetapi tidak mampu untuk melakukan kontak.

E. Cara Merawat Keluarga Dengan HDR

Tindakan keluarga dengan pasein saat melakukan pelayanan di rumah,

perawat menemui keluarga (pelaku rawat) terlebih dahulu sebelum menemui pasien.

Bersama keluarga perawat mengidentifikasi masalah yang di alami pasien dan

keluarga. Tindakan keperawatan untuk pasien dan keluarga dilakukan pada setiap

pertemuan, minimal 4x pertemuan dan dilanjutkan hingga pasien mampu mengatasi

harga diri rendah dan keluarga mampu merawat harga diri rendah.
1. Meningkatkan harga diri klien

 Menjalin Hubungan saling percaya

 Memberi kegiatan ssesuai kemampuan klien

 Meningkatkan kontrak dengan orang lain

2. Menggali kekuatan klien

 Dorong mengungkapkan pikiran dan perasaannya

 Bantu melihat kebolehan dan kemampuan klien

 Bantu mengenal harapan.

3. Mengevaluasi diri

 Membantu klien mengungkapkan upaya yang biasa digunakan dalam

menghadapi masalah baik yang positif maupun yang agresif

4. Menetapkan tujuan yang nyata

 Membantu klien mengungkapkan beberapa rencana menyelesaikan masalah

 Membantu memilih cara yang sesuai untuk klien

5. Mengambil keputusan

 Membantu klien untuk mengubah perilaku negatif dan mempertahankan

perilaku positif

6. Sikap keluarga: empati, mengontrol klien, memberi pujian pada klien.


DAFTAR PUSTAKA

Keliat budi, ana. 2005. Peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa.
EGC.

Modul keperawatan jiwa