Anda di halaman 1dari 38

SATUAN ACARA PENYULUHAN

BAHAYA HIPERTENSI TERHADAP PEMBULUH DARAH


DI RUANG CAMELIA RSUD DR. SOETOMO SURABAYA
Tanggal 26 Februari – 03 Maret2018

Disusun Oleh:
Kelompok 2

Nama Anggota Kelompok :


1. Yoga Aji Pradana, S.Kep 131723143093
2. Leli Ika Hariyati, S.Kep 131723143008
3. Selvi Ratu Djawa, S.Kep 131723143011
4. Nadhifatul Kamilah, S.Kep 131723143016
5. Friska N.W.H, S.Kep 131723143020
6. Dwi Hartini, S.Kep 131723143027

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
KOTA SURABAYA
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendidikan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) praktik klinik Keperawatan


Medikal Bedah Profesi Pendidikan Ners Angkatan B19 Fakultas Keperawatan
Universitas Airlangga Surabaya di Ruang Camelia Rumah Sakit Umum Dr.
Soetomo Surabaya yang dilaksanakan pada tanggal 26 Februari – 03 Maret 2018
telah dilaksanakan sebagai laporan praktik atas nama:
1. Yoga Aji Pradana, S.Kep 131723143093
2. Leli Ika Hariyati, S.Kep 131723143008
3. Selvi Ratu Djawa, S.Kep 131723143011
4. Nadhifatul Kamilah, S.Kep 131723143016
5. Friska N.W.H, S.Kep 131723143020
6. Dwi Hartini, S.Kep 131723143027

Surabaya, 03 Maret 2018

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Dr. Abu Bakar, M.Kep., Ns, Sp. Kep.MB Binafsih, SST


NIP. 198004272009121002 NIP. 197105091991032003

Mengetahui,
Kepala Ruangan Camelia

Nur Hasanah, SST.


NIP. 196902231994032002
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Bidang Studi : KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


Topik : Pengaruh Hipertensi Terhadap Pembuluh darah.
Sasaran : Pasien dan keluarga pasien di Ruang Kardiologi RSUD Dr.
Sutomo.
Hari/tanggal : 01 Maret 2018
Tempat : Ruang Camelia RSUD Dr.Sutomo Surabaya
Waktu : 10.00-10.55 WIB
Pelaksana : Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga

I. Tujuan Instruksional Umum


Setelah mendapatkan penyuluhan tentang bahaya hipertensi terhadap
pembuluh darah diharapkan peserta penyuluhan mendapatkan pengetahuan
mengenai penyakit retinoblastoma sampai dengan tahap pencegahannya.
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan penjelasan tentang pengaruh hipertensi terhadap
pembuluh darah, peserta penyuluhan diharapkan mampu:
1) Menjelaskan definisi hipertensi
2) Menyebutkan penyebab hipertensi
3) Menyebutkan klasifikasi hipertensi
4) Menyebutkan manifestasi hipertensi
5) Menyebutkan penatalaksanaan dan pencegahan hipertensi
6) Menjelaskan bahaya hipertensi terhadap pembuluh darah
− Ateriosklerosis dan aterosklerosis
a. Menyebutkan tanda dan gejala Ateriosklerosis dan aterosklerosis.
b. Menyebutkan penatalaksanaan Ateriosklerosis dan aterosklerosis
− Anuerisma
a. Menyebutkan tanda dan gejala Ateriosklerosis dan aterosklerosis.
b. Menyebutkan penatalaksanaan Ateriosklerosis dan aterosklerosis
7) Menjelaskan bahaya hipertensi terhadap jantung.
− Penyakit jantung koroner
a. Menyebutkan tanda dan gejala PJK
b. Menyebutkan penatalaksanaan PJK
− Pembesaran jantung kiri
a. Menyebutkan tanda dan gejala kardiomegali
b. Menyebutkan penatalaksanaan kardiomegali
− Gagal jantung
c. Menyebutkan tanda dan gejala gagal jantung
d. Menyebutkan penatalaksanaan gagal jantung

III. Sasaran
Sasaran dari kegiatan penyuluhan ini adalah pasien dan keluarga
pasien di Ruang Camelia RSUD Dr. Sutomo Surabaya.
IV. Materi
Materi yang akan disampaikan dalam penyuluhan kesehatan terdiri
dari beberapa sub pokok, diantaranya:
1. Definisi hipertensi
2. Penyebab hipertensi
3. Klasifikasi hipertensi
4. Manifestasi hipertensi
5. Penatalaksanaan dan pencegahan hipertensi
6. Bahaya hipertensi terhadap pembuluh darah
− Ateriosklerosis dan aterosklerosis
a. Tanda dan gejala Ateriosklerosis dan aterosklerosis.
b. Penatalaksanaan Ateriosklerosis dan aterosklerosis
− Anuerisma
a. Tanda dan gejala Ateriosklerosis dan aterosklerosis.
b. Penatalaksanaan Ateriosklerosis dan aterosklerosis
7. Bahaya hipertensi terhadap jantung.
− Penyakit jantung koroner
a. Tanda dan gejala PJK
b. Penatalaksanaan PJK
− Pembesaran jantung kiri
a. Tanda dan gejala kardiomegali
b. Penatalaksanaan kardiomegali
− Gagal jantung
a. Tanda dan gejala gagal jantung
b. Penatalaksanaan gagal jantung

V. Metode
Metode dalam penyuluhan ini adalah metode ceramah dan diskusi.
Pertama, Metode ceramah akan disampaikan oleh salah satu perwakilan
dari kelompok 2 mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.
Kedua, metode diskusi akan dilakukan setelah penyampaian materi selesai
dengan dipimpin oleh moderator yang berasal dari perwakilan kelompok
2.
VI. Media
Media yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan ini adalah lembar
balik.
VII. Setting Tempat

Keterangan:
: Moderator : Observer
: Penyuluh : Audiens

: Notulen : Fasilitator

VII. Pengorganisasian Kegiatan


Pembg. Akademik : Dr. Abu Bakar, M.Kep.,Ns, Sp. Kep.MB
Pembimbing Klinik : Binafsih, SST.
Moderator : Friska N.W.H.
Penyuluh : Dwi Hartini
Observer : Nadhifatul Kamila
Fasilitator : Leli Ika Hariyati
Selvi Ratu Djawa
Notulen : Yoga Aji

VIII. Job Description


No Pengorganisasian Uraian
1. Moderator a) Membuka acara penyuluhan,
memperkenalkan diri dan tim kepada
peserta.
b) Menyebutkan kontrak waktu penyuluhan.
c) Memotivasi peserta untuk bertanya
d) Memimpin jalannya diskusi dan evaluasi
e) Menutup acara penyuluhan.
2. Penyuluh a) Menjelaskan materi penyuluhan dengan
jelas dan bahasa yang mudah dipahami
oleh peserta
b) Memotivasi peserta untuk tetap aktif dan
memperhatikan proses penyuluhan
c) Menjawab pertanyaan peserta.
3. Fasilitator a) Ikut bergabung dan duduk bersama di
antara peserta
b) Menjawab pertanyaan jika ada peserta yang
bertanya kepadanya.
c) Memotivasi peserta untuk bertanya materi
yang belum jelas
d) Menjelaskan tentang istilah atau hal-hal
yang di rasa kurang jelas bagi peserta
4. Observer a) Mencatat nama, alamat dan jumlah peserta,
serta menempatkan diri sehingga
memungkinkan dapat mengamankan
jalannya proses penyuluhan. Mencatat
pertanyaan yang diajukan peserta
b) Mengamati perilaku verbal dan non verbal
peserta selama proses penyuluhan.
c) Mengevaluasi hasil penyuluhan dengan
rencana penyuluhan
d) Menyampaikan evaluasi langsung kepada
penyuluh yang dirasa tidak sesuai dengan
rencana penyuluhan.

IX. Pelaksanaan
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Respon Peserta Pelaksana
Penyuluhan
1. 5 menit Pembukaan: Moderator
1. Mengucapkan salam 1. Menjawab salam
2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan
3. Kontrak waktu 3. Mendengarkan
dan menyetujui
4. Menjelaskan tujuan 4. Memperhatikan
dari penyuluhan
5. Menyebutkan materi 5. Memperhatikan
penyuluhan yang
akan diberikan.
6. Kuesioner awal 6. Mengisi kuesioner
2. 30 Menit Pelaksanaan 1. Mendengarkan Penyuluh
penyampaian materi 2. Memperhatikan
tentang: penjelasan materi
1. Definisi hipertensi 3. Mencermati
2. Penyebab hipertensi materi
3. Klasifikasi hipertensi
4. Manifestasi
hipertensi
5. Penatalaksanaan dan
pencegahan
hipertensi
6. Bahaya hipertensi
terhadap pembuluh
darah
7. Bahaya hipertensi
terhadap jantung

3. 10 menit Diskusi: 1. Mengajukan Moderator


1. Memberikan pertanyaan dan
kesempatan pada fasilitator
peserta untuk
mengajukan
pertanyaan kemudian
didiskusikan bersama
dan menjawab
pertanyaan.
4. 5 menit Evaluasi: 1. Menjawab Moderator
1. Menanyakan kepada pertanyaan dan dan
peserta penyuluhan menjelaskannya fasilitator
tentang materi yang
diberikan.
2. Kuesioner akhir 2. Mengisi
kuesioner
5. 5 menit Terminasi: 1. Memperhatikan Moderator
1. Menyimpulkan hasil 2. Mendengarkan
penyuluhan 3. Menjawab salam
2. Mengucapkan
terimakasih kepada
peserta
3. Mengakhiri dengan
salam

X. Evaluasi
1. Struktur
a) Kesiapan materi
b) Kesiapan SAP
c) Kesiapan media: leaflet
d) Peserta hadir di tempat penyuluhan minimal 9 orang
e) Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan
2. Proses
 Fase dimulai sesuai waktu yang direncanakan
 Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
 Peserta mengajukan pertanyaan
 Penyuluh, fasilitator dapat menjawab pertanyaan dari peserta
 Suasana penyuluhan tertib dan tenang
 Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
3. Hasil
Peserta dapat:
1. Menjelaskan definisi hipertensi
2. Menyebutkan penyebab hipertensi
3. Menyebutkan klasifikasi hipertensi
4. Menyebutkan manifestasi hipertensi
5. Menyebutkan penatalaksanaan dan pencegahan hipertensi
6. Menjelaskan bahaya hipertensi terhadap pembuluh darah
− Ateriosklerosis dan aterosklerosis
a. Menyebutkan tanda dan gejala Ateriosklerosis dan
aterosklerosis.
b. Menyebutkan penatalaksanaan Ateriosklerosis dan
aterosklerosis
− Anuerisma
a. Menyebutkan tanda dan gejala Ateriosklerosis dan
aterosklerosis.
b. Menyebutkan penatalaksanaan Ateriosklerosis dan
aterosklerosis
7. Menjelaskan bahaya hipertensi terhadap jantung.
− Penyakit jantung koroner
a. Menyebutkan tanda dan gejala PJK
b. Menyebutkan penatalaksanaan PJK
− Pembesaran jantung kiri
a. Menyebutkan tanda dan gejala kardiomegali
b. Menyebutkan penatalaksanaan kardiomegali
− Gagal jantung
a. Menyebutkan tanda dan gejala gagal jantung
b. Menyebutkan penatalaksanaan gagal jantung
MATERI PENYULUHAN KESEHATAN

A. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg secara kronis
(Tanto Chris, 2014). Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah
persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas
90 mmHg (Smeltzer, 2009). Hipertensi adalah tekanan darah meningkat yang
abnormal dan diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda,
tekanan darah normal bervariasi sesuai usia sehingga setiap diagnosis hipertensi
harus spesifik sesuai usia (Corwin, 2009).
B. Etiologi Hipertensi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan
besar yaitu : (Tantochris, 2014)
a. Hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya.
b. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit
lain.Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90% penderita hipertensi,
sedangkan 10% sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun
hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data
penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
terjadinya hipertensi.
Penyebab hipertensi sekunder adalah :
1. Ginjal (Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor).
2. Vaskular (Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli
kolestrol, Vaskulitis).
3. Kelainan endokrin (Diabetik Melitus, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme)
4. Saraf (Stroke, Ensepalitis,SGB).
5. Obat-obatan (kontrasepsi oral, kortikosteroid).

Faktor terjadinya hipertensi yang bias dikendalikan (Sutono, 2008).


a. Gaya hidup modern
− stres berkepanjangan. Kondisi ini memicu berbagai penyakit seperti sakit
kepala, sulit tidur, gastritis, jantung dan hipertensi.
− Berkurangnya aktivitas fisik (olah raga).
− Konsumsi alkohol tinggi
− minum kopi
− merokok.
b. Pola makan tidak sehat
Tubuh membutuhkan natrium untuk menjaga keseimbangan cairan
dan mengatur tekanan darah. Tetapi bila asupannya berlebihan, tekanan darah
akan meningkat akibat adanya retensi cairan dan bertambahnya volume
darah. Kelebihan natrium diakibatkan dari kebiasaan menyantap makanan
instan yang telah menggantikan bahan makanan yang segar. Gaya hidup serba
cepat menuntut segala sesuatunya serba instan, termasuk konsumsi makanan.
Padahal makanan instan cenderung menggunakan zat pengawet seperti
natrium berzoate dan penyedap rasa seperti monosodium glutamate
(MSG). Jenis makanan yang mengandung zat tersebut apabila dikonsumsi
secara terus menerus akan menyebabkan peningkatan tekanan darah karena
adanya natrium yang berlebihan di dalam tubuh. Makanan yang mengandung
natrium seperti mie instan, sarden, kornet, buah kaleng, makanan siap saji,
bakso.
c. Obesitas
Saat asupan natriu berlebih, tubuh sebenarnya dapat membuangnya
melalui air seni. Tetapi proses ini bisa terhambat, karena kurang minum air
putih, berat badan berlebihan, kurang gerak atau ada keturunan hipertensi
maupun diabetes mellitus. Berat badan yang berlebih akan membuat
aktifitas fisik menjadi berkurang. Akibatnya jantung bekerja lebih keras
untuk memompa darah.
Obesitas dapat ditentukan dari hasil indeks massa tubuh (IMT). IMT
merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa
khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.
Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur diatas 18
tahun. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan
olahragawan (Supariasa, 2012).
Cara menghitung IMT dengan rumus :
IMT = Berat badan (kg)
Tinggi Badan²
Tabel Kategori ambang batas IMT untuk Indonesia
kategori IMT
Kekurangan BB tingkat berat < 17,0
Kurus Kekurangan BB tingkat ringan 17,0 – 18,5
Normal 18,5 – 25,0
Gemuk Kelebihan BB tingkat ringan 25,0 – 27,0
Kelebihan BB tingkat berat >27,0

Dampak dari obesitas adalah :


1. Kurang aktivitas
2. Lemak meningkat
3. Kolesterol meningkat

Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi yang tidak
bisa dikendalikan
1. Ras : Suku yang berkulit hitam lebih cenderung terkena hipertensi. Beberapa
penelitian mengatakan bahwa orang kulit hitam cenderung lebih menyimpan
garam. Kondisi ini meningkatkan volume darah yang nantinya akan
mengakibatkan peningkatan tekanan darah.
2. Genetik: hipertensi merupakan penyakit keturunan, apabila salah satu
orang tuanya hipertensi maka keturunannya memiliki resiko 25% terkena
hipertesi, tetapi bila kedua orang tuanya menderita hipertensi maka 60 %
keturunannya menderita hipertensi.
3. Usia : Hipertensi bisa terjadi pada semua usia, tetapi semakin bertambah usia
seseorang maka resiko terkena hipertensi semakin meningkat. Penyebab
hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan –
perubahan pada , elastisitas dinding aorta menurun, katub jantung
menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun
1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa
darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya,
kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, meningkatnya
resistensi pembuluh darah perifer (Smeltzer, 2009).
4. Jenis kelamin : Laki-laki cenderung lebih sering terkena penyakit
hipertensi. Hal ini dikarenakan laki-laki mempunyai kebiasaan hidup yang
buruk, yang mana kebiasaan tersebut terus saja berulang kali dilakukan tanpa
menyadari akan efek yang akan terjadi. Kebiasaan tersebut seperti halnya
merokok, mengkonsumsi alkohol, mengkonsumsi makanan yang tidak sehat,
bekerja berlebihan, kurang istirahat, serta jarang olah raga. Meskipun
demikian perempuan juga harus berhati dan menjauhi penyebab dari hipertensi
Penyebab hipertensi sekunder adalah :
6. Ginjal (Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor).
7. Vaskular (Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Vaskulitis).
8. Kelainan endokrin (Diabetik Melitus, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme)
9. Saraf (Stroke, Ensepalitis,SGB).
10. Obat-obatan (kontrasepsi oral, kortikosteroid).

C. Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi hipertensi menurut The Joint National Committee on the Detection
and Treatment of Hipertension (Ward, 2014).
1. Diastolik
a. < 85 mmHg : Tekanan darah normal
b. 85 – 89 : Tekanan darah normal tinggi
c. 90 -104 : Hipertensi ringan
d. 105 – 114 : Hipertensi sedang
e. >115 : Hipertensi berat
2. Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)
a. < 140 mmHg : Tekanan darah normal
b. 140 – 159 : Hipertensi sistolik perbatasan terisolasi
c. > 160 : Hipertensi sistolik teriisolasi
Menurut World Health Organization (WHO, 2009)
1. Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140
mmHg dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg.
2. Tekanan darah perbatasan (border line) yaitu bila sistolik 141-149 mmHg dan
diastolik 91-94 mmHg.
3. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama
dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.
Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat naiknya
tekanan darah. Dibagi menjadi dua:
1. Hipertensi Emergensi
Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera dengan
obat antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ target akut
atau progresif target akut atau progresif. Kenaikan tekanan darahmendadak
yang disertai kerusakan organ target yang progresif dan diperlukan
tindakan penurunan tekanan darahyang segera dalam kurun waktu
menit/jam.
2. Hipertensi urgensi
Situasi dimana terdapat peningkatan tekanan darah yang bermakna tanpa
adanya gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif bermakna
tanpa adanya gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif dan
tekanan darah perlu diturunkan dalam beberapa jam. Penurunan tekanan
darah harus dilaksanakan dalam kurun waktu 24-48 jam (penurunan
tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat (dalam hitungan jam
sampai hari).
D. Manifestasi klinis Hipertensi
Menurur Nurarif & Kusuma (2013) tanda dan gejala pada hipertensi
dibedakan menjadi:
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah.
2. Gejala yang lazim
Gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan
kelelahan. Dalam kenyataanya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
• Pusing
• Sakit kepala, biasanya terasa berat pada tengkuk
• Sulit Tidur
• Kelelahan
• Sesak nafas
• Mudah marah
• Gangguan penglihatan

E. Penatalaksanaan Hipertensi
1). Diet Hipertensi
a). Definisi Diet Hipertensi
Diet hipertensi adalah salah satu cara mengatasi hipertensi tanpa
efek samping yang serius, karena metode pengendaliannya yang alami.
(Utami,2009). Penatalaksanaan diet hipertensi yaitu untuk menurunkan
tekanan darah, menurunkan berat badan, menurunkan kadar kolesterol dan
asam urat (Soenardi, 2005).
b). Tujuan diet hipertensi (Ramayulis, 2008)
− Mengurangi asupan garam untuk menurunkan tekanan darah, idealnya
dalam sehari menggunakan 5 gram atau 1 sendok the
− Memperbanyak serat, mengkonsumsi lebih banyak sayur dan serat akan
mempermudah buang air besar dan menahan sebagian asupan natrium,
− Menghentikan kebiasaan buruk seperti merokok karena dapat
meningkatkan kerusakan pembuluh darah dengan mengendapkan
kolesterol pada pembuluh darah.
− Minum kopi dapat memacu detak jantung, maupun minum alkohol,
− Memperbanyak asupan kalium untuk membantu mengatasi kelebihan
natrium,
− Memenuhi kebutuhan magnesium karena magnesium itu dapat
menurunkan tekanan darah.
− Manfaat sayuran dan bumbu dapur dapat untuk mengontrol tekanan darah.
Jenis diet Hipertensi
Diet hipertensi untuk menanggulangi atau mempertahankan tekanan
darah (Ramayulis, 2008) yaitu : Diet rendah garam, diet rendah kolesterol,
diet tinggi serat, dan diet rendah kalori, membatasi minum alkohol, berhenti
merokok.
c). Prinsip diet hipertensi (Utami, 2009)
Makanan beranekaragam dan gizi seimbang, jenis dan komposisi
makanan disesuaikan dengan kondisi penderita, jumlah garam dibatasi
dengan keadaan kesehatan penderita dan jenis makanan dalam daftar diet.
Diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) adalah diet
yang mengutamakan beberapa grup makanan, seperti lebih banyak buah,
sayuran, dan makanan yang mengandung biji-bijian, produk susu rendah
lemak, makanan kaya natrium dan kalsium serta rendah natrium (Depkes,
2006). Penelitian National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI)
menunjukkan bahwa DASH dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan
menurunkan kadar lipid dalam darah (lemak dalam aliran darah), yang
mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.
Syarat diet yang dicetuskan oleh NHLBI (2014) dan Beckerman
(2014) juga tidak jauh berbeda dengan Depkes, yaitu: mengutamakan
konsumsi sayuran, buah-buahan, dan produk susu bebas lemak atau yang
rendah lemak, mengutamakan biji-bijian, ikan, unggas, kacangkacangan,
dan minyak sayur, utamakan makanan yang kaya dalam kalium kalsium,
magnesium.
Makanan yang mengandung kalium : kentang, bayam, kol, brokoli,
tomat, wortel, pisang, jeruk, anggur, mangga, melon, stroberi, semangka,
nanas, susu, yogurt. Makanan yang mengandung kalsium: tempe, tahu,
bandeng presto, kacang-kacangan, yogurt, susu rendah lemak. Makanan yang
mengandung magnesium: Beras (terutama beras merah), kentang,
tomat,wortel, sayuran berwarna hijau, jeruk, lemon ikan salmon, dan
daging ayam tanpa kulit. Makanan yang mengandung serat: beras merah,
sayuran, apel, jeruk, belimbing. Makanan yang mengandung protein: tempe,
tahu, kacang-kacangan, ikan, daging ayam tanpa kulit, susu, yogurt dan keju
rendah lemak.
Makanan yang harus dihindari atau dibatasi menurut Kemenkes RI (2013)
Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa,
gajih). Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biskuit,
crakers, keripik dan makanan kering yang asin). Makanan dan minuman
dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng,
soft drink). Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur atau buah, abon,
ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai kacang). Susu full cream,
mentega, margarin, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi
kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).
Bumbu-bumbu seperti kecap, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta
bumbu penyedap rasa lain yang pada umumnya mengandung garam natrium.
Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian dan tape.
2). Berhenti merokok.
Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular,
dan pasien sebaiknya dianjurkan untuk berhenti merokok.
3). Terapi obat
Obat merupakan senyawa yang digunakan untuk mencegah, mengobati,
mendiagnosis penyakit atau gangguan - gangguan tertentu (IONI, 2000).
Tujuan pengobatan hipertensi adalah mengurangi morbiditas dan mortalitas
kardiovaskuler akibat tekanan darah tinggi dengan cara-cara semininmal mungkin
mengganggu kualitas hidup pasien. Hal ini di capai dengan mencapai dan
mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg (IONI, 2000).
Jenis Obat Hipertensi :
a). Diuretik
Diuretik mengobati hipertensi dengan meningkatkan ekskresi natrium
dan air melalui ginjal. Hal ini mengurangi volume dan aliran balik
vena, sehingga mengurangi curah jantung (Casey, 2011). Diuretik
menurunkan tekanan darah dengan mengurangi volume darah dan curah
jantung, tahanan vaskuler perifer mungkin meningkat. Setelah 6-8 minggu
curah jantung kembali ke normal dan vaskuler perifer. Diuretik efektif
menurunkan tekanan darah sebesar 10-15 mmHg pada sebagian besar pasien
dan diuretik sendiri sering memberikan hasil pengobatan yang memadai bagi
hipertensi esensial ringan dan sedang (Katzung, 2011).
b). Angiotensin Converting Enzim (ACE inhibitor)
Pada ACE inhibitor contohnya adalah enapril, captopril, lisinopril dan
obat lain di golongan ini menurunkan pembentukan angiotensin II. Dengan
ekskresi ACE inhibitor akan mengurangi retensi natrium dan air,
mengurangi volume darah, terjadi vasodilatasi terutama di otak, jantung dan
ginjal serta menurunkan TPR (Casey,2012). Antagonis reseptor angiotensin
II, losartan dan candesartan memiliki efek fisiologis mirip dengan ACE
inhibitor, obat ini dibutuhkan karena ACE inhibitor memblokade hormon
angiotensin II yang menyebabkan konstriksi pembuluh darah.
c). Calcium channel bloker
Efek dari kalsium ekstra selular adalah pada kontraksi otot polos jantung
dan pembuluh darah. Obat yang menghalangi masuknya kalsium ke dalam
otot-otot polos akan mengurangi kontraksi dan juga sistem konduksi
jantung. Obat calsium channel bloker adalah paling efektif dalam
mengurangi variabilitas pada tekanan darah . Calcium channel bloker dapat
dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu : bekerja terutama pada
miokardium misalnya verapamil, bekerja pada otot polos pembuluh darah
misalnya nifedipine, felodipine dan amlodipine serta yang bekerja pada
myocardium dan otot polos pembuluh darah misalnya ditializem.
d). Beta bloker
Beta bloker bertindak dengan menghalangi ikatan noradrenalin dengan
reseptor pada sel, miokardium, saluran pernafasan dan pembuluh darah
perifer. Efek pada jantung adalah mengurangi denyut jantung dan
kontraktilitas terutama saat saraf simpatik terstimulasi seperti seperti
pada saat olah raga dan stres. Penurunan curah jantung mengakibatkan
penurunan tekanan darah, selain itu obat ini juga mengurangi efek
noradrenalin, mengurangi pelepasan rennin dari ginjal dan dapat
menyebabkan vasodilatasi dari arteriol yang mengurangi TPR (Casey, 2011).
e). Alpha-I-Adrenegic bloker
Stimulasi dari reseptor Apha I oleh noradrenalin menyebabkan
penyempitan pembuluh darah dan saluran pernafasan, relaksasi pada
saluran gastrointestinal dan kontraksi sfingter kandung kemih. Dalam
sirkulasi, alpha-I reseptor ditemukan terutama di kulit, otot rangka, ginjal
dan saluran pencernaan. Obat obatan seperti prazosin, dan terazosin
doxasoxin digunakan untuk mengobati hipertensi karena mereka
menginduksi vasodilatasi perifer, yang menyebabkan penurunan TPR. Efek
samping dari obat jenis ini dapat menyebabkan hipotensi postural,
impotensi dan inkonentinensia urine meningkat pada wanita (Casey,
2011).
4). Olah raga.
Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30-60 menit/ hari,
minimal 3 hari/ minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah. Pada pasien
yang menderita penyakit jantung bisa melakukan olahraga sesuai kemampuannya.
5). Hindari stress dan kontrol emosi
6). Kontrol tensi

F. Bahaya hipertensi terhadap pembuluh darah


Pembuluh darah Arteri merupakan suatu pembuluh darah kuat, fleksibel dan
bersifat elastis. Arteri berfungsi untuk menyalurkan berbagai nutrisi dan oksigen
ke berbagai organ tubuh. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan peningkatan
tekanan di dalam Arteri yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan pada
pembuluh darah tersebut.
1. Kerusakan dan Penyempitan Pembuluh Darah
Tekanan darah tingi dapat merusak sel penyusun dinding dalam pembuluh
darah yang pada akhirnya dapat menyebabkan dinding pembuluh darah menebal
dan keras (Arteriosclerosis). Kerusakan pada dinding pembuluh darah ini
menyebabkan kolesterol yang berada di dalam pembuluh darah bisa menempel
pada dinding pembuluh darah yang rusak tersebut (Aterosklerosis) dan
menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Sehingga menyebabkan
berkurangnya aliran darah ke berbagai organ penting, seperti otak, ginjal, jantung,
tangan dan kaki.
ARTERIOSCLEROSIS
Arteriosklerosis adalah pengerasan pembuluh darah arteri yang membawa
darah dari jantung untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Kondisi ini tidak normal
karena pembuluh darah yang sehat seharusnya bersifat lentur, fleksibel, dan
elastis. Arteriosklerosis menyebabkan aliran darah yang kaya akan oksigen dan
nutrisi dari jantung menuju berbagai jaringan tubuh menjadi terganggu.
Banyak orang sering keliru saat memaknai arteriosklerosis
dengan aterosklerosis dan arteriolosklerosis. Aterosklerosis dan
arteriolosklerosis merupakan turunan dari arteriosklerosis, sehingga gejala dan
pengobatan ketiganya tidak jauh berbeda. Ketiganya sama-sama terjadi di
pembuluh darah arteri.
Arteriosklerosis tahap awal jarang menimbulkan gejala. Tanda-tanda
kemunculan arteriosklerosis baru terasa saat pembuluh darah arteri semakin
sempit dan aliran darah tersumbat. Kondisi ini bisa memicu terjadinya penyakit
kardiovaskular.
a) Gejala Arteriosklerosis
Berikut ini adalah beberapa tanda kemunculan arteriosklerosis:
1. Mati rasa di tangan atau kaki, sulit berbicara, penglihatan terganggu, dan otot
wajah melemah atau bahkan lumpuh, jika penyumbatan terjadi di arteri yang
menuju ke otak.
2. Muncul rasa nyeri di dada yang disebut angina, jika penyumbatan terjadi di
arteri yang menuju ke jantung.
3. Kaki terasa nyeri ketika berjalan, jika penyumbatan terjadi di arteri yang
menuju ke tungkai dan kaki.
4. Tekanan darah tinggi hingga gagal ginjal, jika penyumbatan terjadi di arteri
yang menuju ke ginjal.
b) Pengobatan Arteriosklerosis
Arteriosklerosis bisa ditangani dengan beberapa cara di bawah ini:
1. Mengubah gaya hidup. Mengonsumsi makanan yang sehat, berolahraga
secara teratur, dan menjauhkan diri dari rokok bisa mengurangi risiko
terjadinya serangan jantung, stroke, dan penyakit yang lebih parah akibat
arteriosklerosis.
2. Mengonsumsi obat-obatan. Pembentukan plak dan pengerasan dinding arteri
bisa dihentikan dengan mengonsumsi obat penurun kolesterol, tekanan darah
tinggi, serta obat-obatan jenis antiplatelet untuk mengurai penggumpalan
darah.
3. Bedah angioplasti. Dalam prosedur yang didahului dengan angiografi ini,
dokter akan membuka pembuluh darah dan memasukkan alat berbentuk balon
atau cincin (stent) guna mengurai penyumbatan di dalamnya. Prosedur ini bisa
mengurangi gejala arteriosklerosis.
4. Operasi bypass jantung. Dokter bedah akan mengambil atau mencangkok
sebagian pembuluh darah yang sehat (biasanya dari tungkai atau dada) dan
memindahkan serta menjahitnya di bagian yang tersumbat.
c) Pencegahan Arteriosklerosis
Arteriosklerosis bisa dicegah dengan cara meminimalisasi faktor-faktor
risiko yang telah disebutkan di atas. Karena itu, tetapkanlah pola hidup sehat,
termasuk di antaranya mengonsumsi makanan-makanan bergizi dan
berolahraga secara rutin.
ATEROSKLEROSIS
Aterosklerosis adalah penyempitan dan penebalan arteri karena
penumpukan plak pada dinding arteri. Penumpukan plak tersebut terjadi saat
lapisan sel padadinding dalam arteri (endothelium) yang bertugas menjaga
kelancaran aliran darah mengalami kerusakan. Plak yang menyebabkan
aterosklerosis terdiri dari kolesterol, zat lemak, kalsium, dan fibrin (zat dalam
darah). Plak dapat terbawa aliran darah hingga menyebabkan penyumbatan, atau
membentuk bekuan darah pada permukaan plak. Hal tersebut menyebabkan
peredaran darah dan oksigen dari arteri ke organ tubuh terhambat. Meski
digolongkan sebagai gangguan jantung, aterosklerosis sebenarnya dapat terjadi
pada arteri di bagian tubuh mana pun, seperti otak, ginjal, atau kaki, serta dapat
memicu masalah kesehatan di bagian-bagian tersebut.
Terjadinya aterosklerosis bisa berawal sejak masa anak-anak dan berkembang
terus secara perlahan. Gejala membahayakan baru muncul ketika usia penderita
mencapai 50 atau 60 tahun. Kendati demikian, penyakit ini dapat dihindari dan
diatasi dengan perubahan gaya hidup,
a) Gejala Aterosklerosis
Gejala aterosklerosis baru akan terasa ketika arteri sudah sangat menyempit
dan menghambat peredaran darah menuju jaringan atau organ tubuh. Gejala yang
muncul tergantung pada lokasi terjadinya ateriosklerosis, di antaranya:
1. Aterosklerosis pada tangan dan kaki; menimbulkan nyeri saat berjalan
(klaudikasio).
2. Aterosklerosis pada ginjal; menyebabkan gagal ginjal dan tekanan darah
tinggi.
3. Aterosklerosis pada jantung; menyebabkan nyeri dada (angina).
4. Aterosklerosis pada otak; mengakibatkan tangan dan kaki lemah atau kaku,
kesulitan bicara, otot wajah melemah, atau kehilangan penglihatan sementara
pada salah satu mata.
b) Penyebab Aterosklerosis
Penyebab pasti aterosklerosis belum diketahui, namun penyakit ini dimulai
saat terjadi kerusakan atau cedera pada lapisan dalam
arteri (endothelium). Kerusakan tersebut dapat disebabkan oleh:
1. Kadar kolesterol, trigliserida, serta tekanan darah yang tinggi.
2. Diabetes atau resisten terhadap insulin.
3. Penyakit yang menyebabkan peradangan, seperti artritis, infeksi, atau lupus.
4. Kebiasaan merokok.
5. Obesitas.
6. Selain penyebab di atas, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan
riwayat aterosklerosis juga diduga berisiko tinggi untuk menderita penyakit
yang sama.
c) Pengobatan Aterosklerosis
Penanganan aterosklerosis dapat dilakukan melalui 3 (tiga) hal, yaitu
perubahan gaya hidup, obat-obatan, serta prosedur operasi.
1. Perubahan gaya hidup sehari-hari. Merupakan hal utama yang perlu
dilakukan. Penderita dianjurkan untuk lebih sering berolahraga guna
meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta mengurangi
konsumsi makanan dengan kadar lemak dan kolesterol yang tinggi.
2. Pemberian obat-obatan. Pemberian obat-obatan juga penting untuk
mencegah Arterosklerosis bertambah buruk. Di antaranya adalah:
a. Obat untuk pencegah pembekuan darah yang menghambat arteri. Obat
yang mungkin diberikan adalah antiplatelet dan antikoagulan, seperti
aspirin.
b. Obat penurun tekanan darah. Obat yang mungkin diberikan adalah
penghambat beta (beta blockers), penghambat kanal
kalsium (calcium channel blockers)dan diuretik guna meningkatkan laju
urin
c. Obat penurun kadar kolesterol jahat (LDL), seperti misalnya statin dan
asam fibrat.
d. Obat penghambat enzim angiostensin (ACE inhibitors). Obat ini dapat
meredakan perkembangan aterosklerosis dengan menurunkan tekanan
darah dan mencegah penyempitan arteri.
e. Obat-obatan lain untuk mengendalikan kondisi medis yang menyebabkan
terjadinya aterosklerosis, misalnya obat diabetes.
3. Pada kasus aterosklerosis parah, prosedur operasi perlu dilaksanakan. Di
antaranya adalah:
a. Operasi bypass, untuk mengatasi penyumbatan atau penyempitan
arteri. Operasi ini dilakukan dengan cara memintas pembuluh darah
yang tersumbat dengan menggunakan pembuluh darah dari bagian
tubuh lain atau selang berbahan sintetis agar darah tetap mengalir.
b. Terapi fibrinolitik untuk mengatasi penyumbatan arteri akibat
pembekuan darah.
c. Pemasangan tabung (stent) dan angioplasty. Tujuan prosedur ini
sama dengan operasi bypass, yaitu untuk mengatasi penyempitan atau
penyumbatan arteri. Dalam prosedur ini, dokter akan memasang dua
buah kateter dan tabung kecil agar arteri tetap terbuka.
d. Endarterektomi untuk membuang simpanan lemak pada dinding
arteri yang menyempit.
e. Arterektomi untuk membuang plak dan arteri.
d) Komplikasi Aterosklerosis
Komplikasi yang dapat terjadi akibat aterosklerosis adalah:
1. Serangan iskemik sesaat (stroke ringan/TIA) dan stroke, ketika aterosklerosis
terjadi pada arteri yang berada di dekat organ otak.
2. Gangrene (jaringan mati), ketika aterosklerosis terjadi pada tangan dan kaki
yang mengakibatkan gangguan sirkulasi darah.
3. Penyakit ginjal kronis, ketika aterosklerosis terjadi pada arteri yang mengarah
pada ginjal.
4. Aneurisma atau pelebaran pembuluh darah pada dinding arteri.
5. Serangan jantung, gagal jantung, serta angina, ketika aterosklerosis terjadi
pada arteri jantung.
Hal ini menyebabkan timbulnya berbagai komplikasi seperti : Nyeri dada
(Angina), serangan jantung, gagal jantung, gagal ginjal, stroke, penyumbatan
pembuluh darah tepi di tangan dan kaki, kerusakan mata dan Aneurisma.

2. Aneusrisma
a) Definisi
Aneurisma adalah penggelembungan di dinding arteri (pembuluh darah yang
membawa darah dari jantung ke bagian tubuh lain). Pelebaran pembuluh darah
dapat mencapai 1,5 kali lipat dari ukuran normal. Aneurisma yang membesar bisa
pecah dan menyebabkan perdarahan, bahkan kematian. Sebagian besar aneurisma
terjadi di aorta, yaitu arteri utama yang jalurnya dari jantung hingga ke dada dan
perut.
b) Klasifikasi anuerisma
Ada dua jenis aneurisma aorta:
1. Aneurisma aorta torakalis: terjadi di bagian aorta yang berada di dada
2. Aneurisma aorta abdominalis: terjadi di bagian aorta yang berada di perut
c) Gejala aneurisma aorta
Aneurisma biasanya tidak menimbulkan gejala yang nyata. Inilah kenapa
kondisi ini sangat fatal karena penderita baru menyadari setelah penggelembungan
di pembuluh darah sudah sangat besar atau telanjur pecah, dan seringnya sudah
terlambat untuk diselamatkan. Biasanya, aneurisma baru ditemukan saat pasien
dengan sengaja menjalankan tes kesehatan atau medical check up.
Namun, saat aneurisma sudah membesar biasanya ada beberapa gejala yang
bisa dirasakan:
1. Nyeri dada
2. Nyeri punggung
3. Perasaan aneh atau tak nyaman di bagian dada atas
4. Denyut yang kuat di area perut
5. Merasa kenyang setelah makan hanya sedikit
6. Mual atau muntah
7. Kepala “keliyengan”
8. Lemas
9. Napas pendek
10. Denyut jantung cepat
11. Mati rasa, kesemutan, atau sensasi dingin pada tangan atau kaki
12. Pingsan
Saat ada penggelembungan pada pembuluh darah, biasanya akan terbentuk
gumpalan darah. Jika gumpalan darah ini terpecah dan mengalir ke bagian tubuh
lain, ia bisa menghalangi aliran darah ke organ penting seperti paru-paru, hati,
ginjal, dan membuatnya berhenti berfungsi.
d) Siapa saja yang berisiko mengalami aneurisma aorta?
Pada sebagian besar kasus, penyebab aneurisma aorta tidak diketahui. Namun,
ada beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami
kondisi ini, yaitu:
1. Berusia 55 tahun atau lebih tua
2. Jenis kelamin pria
3. Mengidap hipertensi alias tekanan darah tinggi
4. Merokok
5. Memiliki penyakit bawaan yang melemahkan pembuluh darah, misalnya
sindrom Marfan
6. Ada riwayat aneurisma aorta di keluarga
7. Mengalami aterosklerosis
Aneurisma aorta abdominalis 5 kali lebih umum terjadi pada pria
dibandingkan wanita. Aneurisma itu sendiri terjadi pada 3-9 pria dari 100, yang
usianya di atas 50 tahun.
e) Bisakah kita mencegah aneurisma aorta?
Tidak ada obat yang bisa mencegah aneurisma aorta. Namun, ada beberapa hal
yang bisa kita lakukan untuk menjaga pembuluh darah tetap sehat dan kuat.
1. Konsumsi makanan rendah lemak dan rendah kolesterol
2. Tingkatkan aktivitas tubuh: olahraga atau bergeraklah untuk meningkatkan
detak jantung Anda, setidaknya 30 menit sehari
3. Jangan merokok
4. Jaga tekanan darah tetap normal.

G. Bahaya Hipertensi Terhadap Jantung


1. Penyakit jantung koroner
a) Pengertian
Penyakit jantung koroner adalah gangguan fungsi jantung akibat otot jantung
kekurangan darah karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner
(pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi ke otot jantung)
b) Tanda dan gejala
Nyeri dada yang khas berupa rasa tertekan/berat di daerah retrosternal
menjalar ke lengan kiri, leher, area interskapuler, bahu, hingga ke rahang dan
telinga kiri, atau epigastrium, berlangsung intermiten atau persisten (> 20 menit),
sering disertai keringat banyak (diaphoresis), mual/muntah, nyeri perut, sesak
nafas dan pingsan. Nyeri dada akan reda setelah menghentikan aktifitas/istirahat
selama beberapa menit

Gambar 1. Nyeri dada tipikal pada PJK


c) Perjalanan penyakit
Penyakit jantung koroner (PJK) terjadi ketika pasokan darah ke otot-otot dan
jaringan jantung tersumbat oleh penumpukan bahan lemak dalam dinding arteri
koroner.

Gambar 2 potongan melintang arteri normal dan abnormal


d) Penatalaksanaan
 Pemberian obat-obatan
 Intervensi koroner perkutan (angioplasty balon). Digunakan untuk melebarkna
pembuluh darah yang menyempit, meningkatkan fungsi jantung dan
mengurangi timbulnya nyeri dada.
 Operasi jantung (operasi bypass). Pembuatan bypass dengan menggunakan
pembuluh darah dari bagian tubuh lain pasien, untuk mengalirkan darah
melewati pembuluh darah yang tersumbat melalui arteri utama ke otot jantung
yang rusak.

2. Pembesaran jantung kiri


a) Pengertian Cardiomegali
Cardiomegali adalah sebuah keadaan anatomis (struktur organ) dimana
besarnya jantung lebih besar dari ukuran jantung normal, yakni lebih besar dari
55% rongga dada. Pada cardiomegali salah satu atau lebih dari 4 ruangan jantung
membesar. Namun umumnya cardiomegali diakibatkan oleh pembesaran bilik
jantung kiri ( ventrikel kardia sinistra).
Pada cardiomegali dapat otot-ototnya yang membesar dan rongganya yang
membesar, manapun itu semua adalah adaptasi jantung untuk menghadapi
perubahan dalam tumtutan kerjanya.
b) Penyebab Cardiomegali
Penyebabnya banyak sekali, hampir semua keadaan yang memaksa jantung
untuk bekerja lebih keras dapat menimbulkan perubahan – perubahan pada otot
jantung sehingga jantung akan membesar karena seringnya mereka melakukan
aktivitas beban tinggi, jantung juga demikian.
Penyakit virus dan serangan jantung sebelumnya dapat menyebabkan jantung
untuk bekerja terlalu keras. Penyalahgunaaan obat , peradangan jantung dan
hipertensi tidak terkontrol adalah masalah yang diketahui yang dapat
menyebabkan cardiomegaly.
Beberapa penyebab umum dari kondisi ini adalah penyakit katup. Gangguan
jantung bawaan.
Untuk penyebab penyakit yang terbanyak adalah sebagai berikut :
a. Penyakit Jantung Hipertensi
Pada keadaan ini terdapat tekanan darah yang tinggi sehingga jantung dipaksa
kerja ekstra keras memompa melawan gradien tekana darah perifer yang
tinggi.
b. Penyakit Jantung Koroner
Pada keadaan ini sebagian pembuluh darah jantung (koroner) yang
memberikan pasokan oksigen dan nutrisi ke jantung terganggu sehingga otot-
otot jantung berusaha bekerja lebih keras dari biasanya menggatikan sebagian
otot jantung yang lemah atau mati karena kekurangan pasokan darah.
c. Kardiomiopati ( bisa karena diabetes )
Yakni penyakit yang mengakibatkan gangguan atau kerusakan langsung pada
otot-otot jantung. Hal ini dapat bersifata bawaan atau karena penyakit
metabolism seperti diabetes. Akibatnya otot jantung harus kerja ekstra untuk
menjaga pasokan darah tetap lancar.
d. Penyakit katup jantung
Di jantung ada 4 katup yang mengatur darah yang keluar masuk jantung.
Apanila salah satu atau lebih dari katup ino mengalami gangguan seperti
misalnya menyempit ( stenosis) atau bocor ( regurgitasi) akan mengakibatkan
gangguan pada curah jantung ( kemampuan jantung untuk memompa jantung
dengan volume tertentu secara teratur). Akibatnya jantung juga perlu kerja
ekstra keras untuk menutupi kebocoran atau kekurangan darah yang
dipompanya.
e. Penyakit Paru Kronis
Karena pada penyakit paru kronis dapat timbul keadaan dimana terjadi
perubahan sedemikian rupa pada struktur jaringan paru sehingga darah
menjadi lebih sulit untuk melewati paru-paru, yang kita kenal dengan nama
“Hipertensi Pulmonal”. Karena itu bilik jantung kanan yang memompa darah
ke paru-paru perlu kerja ekstra keras, sehingga tidak seperti kebanyakan
kardiomegali bukan bilik kiri yang membesar tapi bilik kanan, tapi jika sudah
berat bahkan bilik kiri juga akan ikut membesar.
c) Tanda dan Gejala
a. Tergantung dari derajat keparahannya. Tampak gejala yang berhubungan
dengan kegagalan pompa jantung untuk bekerja dengan baik.
b. Dapat disertai nggliyer,pusing, atau sensasi mau jatuh. Orang awam
menyebutnya “vertigo”. Dalam istilah asingnya disebut “dizziness”
c. Sesak nafas, seperti orang yang terengah-engah
d. Terdapat cairan di rongga perut ( ascites)
e. Kaki ( tungkai , pergelangan kaki) membengkak
d) Terapi dan Pencegahan
Pengobatannya adalah mengobati penyakit dasaranya, tapi jantung yang
membesar tidak serta merta akan mengecil kembali ( seringkali permanen) yang
perlu kita cegah adalah komplikasi yang mungkin timbul dari kardiomegali
tersebut.
Jadi yang diobati bukan kardiomegalinya, tapi penyakit yang
menyebabkannya. Kata mengobati juga tidak tepat karena rata-rata penyebabnya
tidak dapat diobati, kata yang tepat adalah mengontrol keadaan yang
menyebabkannya dengan cara :
a. Diet yang seimbang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan juga
mencegah penyakit jantung. Hal terbaik adalah menghindari makanan
berlemak sama sekali atau menjaga asupan lemak minimal
b. Hindari merokok dan jauhkan diri dari alcohol
c. Latihan regular olahraga ringan secara teratur
Melakukan latihan ringan seperti peregangan untuk waktu yang singkat
setiap hari secara teratur dapat membantu fungsi jantung lebih baik (
meningkatkan asupan oksigen dan meningkatkan fungsi)
d. Menjaga tekanan darah tetap stabil
e. Diet rendah garam
f. Mengurangi/menurunkan berat badan
g. Pembatasan asupan cairan
h. Teratur control ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk melakukan
general check up, minimal sebulan sekali. Jika dinyatakan baik oleh
dokter, perlu cek lagi setiap 2-3 bulan sekali, tergantung waktu dan
kesempatan
e) Komplikasi
Pembesaran Jantung (cardiomegali) dapat menyebabkan komplikasi sebagai
berikut :
a. Memiliki resiko terjadinya stroke yang lebih tinggi jika tidak diobati
b. Memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya bising jantung
c. Memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya gagal jantung
d. Memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya henti jantung
e. Memiliki resiko tinggi untuk terjadinya Infark Miokard.

3. Gagal Jantung
a) Definisi
Gagal jantung adalah sindroma klinik yang ditandai oleh adanya kelainan pada
struktur atau fungsi jantung yang mengakibatkan jantung tidak dapat memompa
darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Gagal jantung ditandai
dengan manifestasi klinik berupa kongesti sirkulasi, sesak, fatigue dan kelemahan.
(Kasper et al., 2004).
b) Tanda dan gejala
Dari patofisiologi di atas dapat disimpulkan bahwa manifestasi klinis dari
gagal jantung tergantung dari etiologinya, tetapi secara umum dapat digambarkan
sebagai berikut :
1. Sesak nafas ( dyspneu)
2. Peningkatan tekanan pengisian bilik kiri menyebabkan transudasi cairan ke
jaringan paru. Penurunan compliance ( regangan ) paru menambah kerja nafas.
Sensasi sesak nafas juga disebabkan penurunan aliran darah ke otot
pernafasan. Awalnya , sesak nafas timbul saat betraktivitas (dyspneu on effort)
dan jika gagal jantung makin berat sesak juga timbul saat beristirahat.
3. Ortopneu ( sesak saat berbaring )
4. Pada saat posisi berbaring, maka terdapat penurunan aliran darah di perifer
dan peningkatan volume darah di sentral ( rongga dada ). Hal ini berakibat
peningkatan tekanan bilik kiri dan udema paru. Kapasitas vital juga menurun
saat posisi berbaring.
5. Paroxysmal Nocturnal Dyspneu ( PND ) yaitu sesak tiba-tiba pada malam
hari disertai batuk- batuk.
6. Takikardi dan berdebar- debar yaitu peningkatan denyut jantung akibat
peningkatan tonus simpatik.
7. Batuk- batuk
8. Terjadi akibat udema pada bronchus dan penekanan bronchus oleh atrium kiri
yang dilatasi.Batuk sering berupa batuk yang basah dan berbusa , kadang
disertai bercak darah.
9. Mudah lelah
10. Terjadi akibat curahjantung yang kurang yang menghambat jaringan dari
sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa katabolisme.
Juga terjadi akibat meningkatnya energi yang digunakan untuk bernafas dan
insomnia yang terjadi akibat distres pernafasan dan batuk.
11. Sianosis (kebiruan).
12. Penurunan tekanan oksigen di jaringan perifer dan peningkatan ekstraksi
oksigen mengakibatkan peningkatan methemoglobin kira-kira 5 g / 100 ml
sehingga timbul sianosis.
13. Adanya suara jantung P2, S3, S4 menunjukkan insufisiensi mitral akibat
dilatasi bilik kiri atau disfungsi otot papilaris.
14. Edema (biasanya pitting edema) yang dimulai pada kaki dan tumit dan
secara bertahap bertambah ke atas disertai penambahan berat badan.
15. Hepatomegali (pembesaran hepar).
16. Terjadi akibat pembesaran vena di hepar. Bila proses ini berkembang maka
tekanan pada pembuluh portal meningkat sehingga cairan terdorong keluar
rongga abdomen yang disebut asites.
17. Anoreksia dan mual akibat pembesaran vena dan stasis vena di dalam rongga
abdomen
18. Nokturia rasa ingin kencing di malam hari).
19. Terjadi karena perfusi ginjal dan curah jantung akan membaik saat istirahat.
LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PENYULUHAN KESEHATAN
BAHAYA HIPERTENSI TERHADAP PEMBULUH DARAH
Di RUANG CAMELIA RSUD Dr. SOETOMO, SURABAYA

No Struktur Penilaian Keterlaksanaan (Sesuai dengan


Hasil yang Ingin Dicapai)
Ya Tidak
Persiapan
1 Kesiapan Materi
2 Kesiapan SAP
3 Kesiapan media: Leaflet
4 Kehadiran peserta penyuluhan (min. 15)
5 Pengorganisasian penyelenggaran
penyuluhan
Proses Acara
1 Membuka acara dengan salam
2 Memperkenalkan diri
3 Kontrak waktu
4 Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
5 Menyebutkan topik bahasan
6 Penyampaian materi dengan baik
7 Terdapat tahapan diskusi
8 Terdapat tahapan evaluasi pemahaman
peserta
9 Moderator penyimpulkan hasil
penyuluhan
10 Ucapan terimakasih kepada peserta
11 Menutup acara dengan salam
DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN KESEHATAN
PENGARUH HIPERTENSI TERHADAP PEMBULUH DARAH
Di RUANG CAMELIA RSUD Dr. SOETOMO, SURABAYA

No Nama Tanda Tangan


DAFTAR PERTANYAAN DAN JAWABAN PENYULUHAN KESEHATAN
PENGARUH HIPERTENSI TERHADAP PEMBULUH DARAH
Di RUANG CAMELIA RSUD Dr. SOETOMO, SURABAYA

No Nama Penanya Pertanyaan Jawaban


DAFTAR PUSTAKA
Kasper DL, Braunwald E, Fauci A, Hauser S Longo D and Jameson JL. 2004.
Harrison's Principles of Kasper DL, Braunwald E, Fauci A, Hauser S
Longo D and Jameson JL. 2004. Harrison's Principles of Internal Medicine 16th
Edition. Publisher:McGraw-Hill Professional, pp. 1367-1377.
Crawford MH. 2002. Current Diagnosis & Treatment in Cardiology 2nd Ed.
Publisher McGraw-Hill/Appleton & Lange, pp. 23-30.
Saunders WB. 2000. Goldman: Cecil Textbook of Medicine, 21st ed. Publisher:
W. B. Company, pp.74-80.
Hunt et all. 2005. Heart Failure in the Adult: A Report of the American College of
Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines
(Writing Committee to Update the 2001 Guidelines for the Evaluation and
American Management of Heart Failure): Developed in Collaboration With
the College of Chest Physicians and the International Society for Heart and
Lung Transplantation: Endorsed by the Heart Rhythm Society. Journal of
The American Heart Association.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, 2015, Pedoman
Tatalaksana Sindrom Koroner Akut, edisi ketiga, Centra Communications