Anda di halaman 1dari 11

Penentuan Lokasi Pabrik (Site Selection)

Secara geografis, penentuan lokasi pabrik sangat menentukan kemajuan


serta kelangsungan dari suatu industri kini dan pada masa yang akan datang
karena berpengaruh terhadap faktor produksi dan distribusi dari pabrik yang
didirikan. Pemilihan lokasi pabrik harus tepat berdasarkan perhitungan biaya
produksi dan distribusi yang minimal serta pertimbangan sosiologi dan budaya
masyarakat di sekitar lokasi pabrik (Timmerhause, 2004).
Dalam studi penentuan lokasi pabrik dikenal tiga orientasi pendirian pabrik,
yaitu (raw material oriented, technology and human resources oriented, dan
market oriented). Studi kelayakan pendirian pabrik PET ini yang rencananya akan
berada di Indonesia karena tujuan dalam melakukan tugas akhir ini adalah
bagaimana untuk membuka peluang kelayakan industri dalam meningkatkan
lapangan pekerjaan dan ketahanan industri nasional dengan berdasarkan hasil
analisis ekonomi, sosial, hukum, teknik dan lingkungan. Selain itu, harga lahan di
Indonesia yang lebih murah dibandingkan negara-negara lain (contoh di Semarang
hanya Rp. 300.100,00/m2) dan tenaga kerja negara indonesia yang termasuk
dalam negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia (BPS, 2011).
Hal menjadi alasan mengapa kami memilih lokasi di Indonesia tepatnya pulau
Jawa mengingat fasilitas pendukung (support facility) yang lebih banyak untuk
mendukung operasional pabrik dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia.
Orientasi pabrik yang diprarancangkan disini didasarkan pada analisis berdasarkan
8 kategori pokok. Kategori pokok tersebut adalah berupa ketersediaan bahan baku
(raw material oriented); ketersediaan air; bahan bakar atau power source industri
serta utilitas lainya; sumber daya manusia (men power); infrastruktur; bahan
buangan dan gangguan lingkungan; pemasaran (market oriented); kondisi
geografis, iklim dan bencana; sertakondisi ekonomi, sosial dan hukum.
Di Pulau Jawa, dipilih 4 lokasi yang kami anggap sesuai, yaitu:
1. Kota Cilegon di Provinsi Banten,
2. Kota Semarang di Propinsi jawa Tengah,
3. Kota Cilacap di Provinsi Jawa Tengah, dan
4. Karawang di Provinsi Jawa Barat.
Untuk memilih yang terbaik di antara pilihan-pilihan di atas, dan sebelum
melakukan detil bahasan kriteria-kriteria dalam kategori pokok penentuan lokasi pabrik
PET kami memakai sub-kategori dengan pendekatan indikator umum yang sesuai dengan
standar penetapan lokasi pabrik. Sub-kategori tersebut akan kami estimasi dan
kuantifikasi dalam 4 skala angka (0-3) dengan kategori :

Tabel Kriteria Penilaian Kesesuaian Penentuan Kelayakan Lokasi Pabrik PET


Skala Penilaian Singkatan
3 Sangat Sesuai SS
2 Sesuai S
1 Kurang Sesuai KS
0 Tidak Sesuai TS

Sub-kategori tersebut dijabarkan dengan indikator penilaian sebagai berikut:


1. Raw material oriented
Kesesuaian dengan orientasi dengan indikator kedekatan dengan sumber
bahan baku dan ada tidaknya pelabuhan untuk impor bahan baku.
2. Ketersediaan fasilitas pendukung
Indikatornya adalah ada atau tidaknya fasilitas juga jauh-dekatnya lokasi
pabrik dengan fasilitas yaitu: Jalur kereta api, Truk dan angkutan barang,
Kapal pengangkut.
3. Ketersediaan sumber utilitas dan power
Indikatornya adalah ada atau tidaknya fasilitas juga jauh dekatnya lokasi
pabrik dengan sumber utilitas yaitu: Listrik, Sumber air dan Energi fosil
(minyak dan batu bara).
4. Faktor Sosial
Hal-hal yang terdapat dalam faktor sosial meliputi :
a. Tenaga Kerja. Indikatornya adalah banyak atau sedikitnya tenaga kerja
yang tersedia dalam wilayah tempat pabrik diprarancangkan.
b. Upah Minimum. Indikatornya adalah tinggi rendahnya tingkat upah.
Disini, upah terendah adalah yang terbaik.
5. Faktor Geografis
Hal-hal yang terdapat dalam faktor geografis meliputi :

a. Curah hujan. Indikatornya adalah tinggi rendahnya curah hujan untuk


keperluan air proses.
b. Bencana. Indikatornya adalah sering tidaknya bencana terjadi di suatu
wilayah. Jika sering, tidak direkomendasikan untuk berdiri disana.
c. Harga Lahan. Indikatornya adalah tinggi rendahnya harga lahan di suatu
wilayah. Ingin dicari lahan dengan harga terendah.

Kriteria di atas mengindikasikan ada atau tidaknya, layak atau tidaknya,


sedikit atau banyaknya hal-hal yang penting sebagai kelayakan tempat tersebut
untuk dijadikan lokasi pabrik. Setelah mencari data terkait dengan tempat-tempat
yang dijadikan lokasi pendirian pabrik, untuk kriteria-kriteria di atas, dapat dibuat
sebuah tabel penilaian untuk merekomendasikan tempat terbaik prarancangan
pabrik sebagai berikut:
Tabel Estimasi Awal Penilaian Lokasi Pabrik Berdasarkan Sub-Kategori

Penilaian
No. Parameter
Cilegon Semarang Cilacap Karawang
1. Raw Material Oriented 3 2 1 3
2. Sarana Transportasi
a. Jalur kereta api 3 3 3 2
b. Truk dan angkutan 3
3 3 3
barang
c. Kapal Pengangkutan 3 3 3 3
3. Sumber Utilitas dan Power
a. Listrik 3 2 1 3
b. Sumber air 3 3 3 3
c. Bahan bakar fosil 2 2 3 2
4. Faktor Sosial
Tenaga Kerja 3 2 2 2
Upah Minimum 1 2 2 1
5. Faktor Geografis
a. Curah hujan 2 2 2 2
b. Bencana 2 1 2 2
c. Harga Lahan 1 2 2 2
Total 29 27 27 28

Dari keempat pilihan diatas, dipilih Cilegon sebagai tempat yang paling
sesuai untuk dijadikan lokasi pendirian pabrik. Adapun uraian yang mendukung
Cilegon sebagai tempat pendirian pabrik adalah sebagai berikut:
1. Ketersediaan Bahan Baku (Raw Material Oriented)
Pemilihan lokasi pabrik Polietilene Terephtalate ini dipilih berdasarkan raw
material oriented. Yang menjadi pertimbangan adalah raw material yang
dibutuhkan berjumlah besar, karena pertimbangan biaya bahan baku yang lebih
mahal jika diimpor dari luar. Asam Terephtalate dapat diperoleh dari PT.
Pertamina Tanjung Gerem, Banten. Etilen Glikol sendiri dapat diimpor melalui
Pelabuhan Merak, Banten atau dibuat sendiri dengan mendatangkan bahan baku
pembuat Etilen Glikol, yaitu Etilen dari PT. Chandra Asri Petrochemical, Cilegon.
Kedekatan pabrik ini dengan bahan baku akan memudahkan kinerja pabrik
sehingga proses produksi dapat berjalan dengan baik. Oleh karena pasaran yang
dituju adalah pasar internasional, dan melihat kedekatan pabrik dengan bahan
baku, hal ini menjadikan pabrik ini sebagai raw material oriented.
2. Ketersediaan Air, Bahan Bakar atau Power Source Industri
Dalam penentuan lokasi pabrik, dibutuhkan data yang lengkap mengenai
sumber– sumber ketersediaan utilitas contohnya air untuk keperluan industri
seperti air pembersih, air proses, air pendingin, dan seterusnya. Begitu juga
dengan sumber pasokan listrik dan bahan bakar agar mampu membangkitkan
mesin – mesin industri sehingga memperlancar kinerja pabrik.
a. Air (air proses, air umpan boiler, air pendingin, air buangan, air
pembersih)
Kota Cilegon adalah daerah yang bersifat dataran rendah dengan
tanahnya bersifat organik. Pada waktu tertentu saat air laut pasang
bersamaan dengan curah hujan yang tinggi, menyebabkan genangan air pada
wilayah tertentu yang tersimpan dalam bentuk genangan air pada titik-titik
tertentu atau mengalir ke sungai.
Wilayah Cilegon yang terletak di tepi pantai dan adanya pengaruh air
laut pasang, tanah di Cilegon menjadi payau dan asin. Kebutuhan air bersih
sebagian besar masyarakat Cilegon tergantung pada air hujan dan air tawar
yang diambil di hulu sungai serta air bawah tanah atau air artesis.
Pabrik ini memasok kebutuhan air proses dari air laut (Sea Water
System), genangan dan air sungai, terutama dipasok dari sungai. Kebutuhan
demin water dapat diperoleh dengan treatment sendiri melalui instalasi water
treatment yang akan dibangun di pabrik.
b. Bahan Bakar dan Power
Bahan bakar berupa gas dan minyak untuk pembangkit mesin industri
dapat dipasok dari beberapa perusahaan minyak, terutama PT. Pertamina
RU III Palembang dan PT. Pertamina RU IV Cilacap.
c. Sumber Daya Manusia (Men Power)
Menurut data Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah angkatan kerja
untuk usia produktif 15-49 tahun di kota Cilegon pada Agustus 2010
sejumlah 287.396 orang dengan tingkat pertimbuhan per tahun sebesar 8 –
20%. Sehingga dapat diperkirakan pada tahun 2012 dan 2013 jumlah
angkatan kerja mencapai lebih dari 300.000 jiwa. Tidak semua angkatan
kerja ini dapat terserap, oleh karena tingkat pendidikannya yang tidak begitu
tinggi (sebagian besar berada pada tingkat pendidikan SLTA). (BPS, 2011)
Sedangkan ketentuan mengenai jumlah upah minimum provinsi di
provinsi Banten pada tahun 2010 sebesar Rp 1.174.000,00, tahun 2011
sebesar Rp 1.224.000,00, tahun 2012 sebesar Rp 1.340.000,00. Kenaikan per
tahun sebesar 9%. Diperkirakan pada tahun 2013 besaran UMP di provinsi
Banten yaitu Rp 1.460.600,00 dan pada tahun 2014 besarannya naik menjadi
Rp 1.592.000,00 dengan asumsi prosentase kenaikan upah tidak berubah.
3. Infrastruktur
a. Sarana Transportasi
Setelah bahan baku diproses menjadi produk jadi, langkah selanjutnya
adalah mendistribusikannya menuju daerah – daerah target pemasaran.
Sarana transportasi yang memadai akan mempermudah pendistribusian dan
dapat mengurangi biaya transport yang mahal.
Dua poin sebelumnya mengindikasikan lokasi pendirian akan
dilakukan di Cilegon, Provinsi Banten yaitu tempat dimana kawasan
industri Cilegon berada, sehingga untuk pembahasan berikutnya akan
spesifik pada seluruh potensi di kota tersebut.
1. Jalur kereta api
Jalur kereta api tersedia untuk mengangkut bahan baku dari luar menuju
dekat lokasi pabrik. Jalur ini juga terhubung dengan daerah-daerah
pemasaran yang akan dituju.
2. Truk dan angkutan barang
Sarana transportasi melalui darat utamanya dengan truk tersedia di kota
Cilegon. Jaringan jalan di Kota Cilegon dapat dibagi atas jaringan jalan
regional dan jalan lokal (kota). Jaringan jalan regional ke arah timur
menghubungkan Cilegon dengan ibukota provinsi Banten yakni Kota
Serang yang jaraknya ±30 km dengan konstruksi jalan aspal. Jika ke arah
timur lebih jauh lagi akan menuju kota Jakarta yang merupakan ibukota
negara yang jaraknya ± 90 km dengan konstruksi jalan aspal.
3. Kapal Pengangkut
Kota Cilegon memiliki beberapa pelabuhan, terutama pelabuhan Merak
di ujung Barat Kota Cilegon, dan pelabuhan lain khusus yang tersebar
dan berbatasan dengan selat Sunda di arah utara dan selatan Kota Cilegon
(BPS, 2011).
Seluruh pelabuhan ini dapat dikunjungi kapal dari seluruh penjuru dunia,
karena kota letak kota Cilegon yang strategis, berada di jalur
perdagangan internasional, sehingga pasokan bahan baku Butanol dan
HCl serta bahan baku lain yang harus diimpor dapat terpenuhi dengan
adanya pelabuhan – pelabuhan ini.
b. Listrik
Kebutuhan utilitas seperti steam dan listrik dapat dipenuhi dari PT. PLN
Suralaya, satu – satunya perusahaan penyedia listrik yang supply produksinya
diperuntukkan ke perusahaan di lingkungan Cilegon Industrial Estate.
4. Bahan Buangan dan Gangguan Lingkungan
Bahan buangan atau limbah dari suatu pabrik harus diolah sebelum dibuang
ke perairan atau atmosfer, karena limbah tersebut mengandung berbagai macam
senyawa kimia maupun organik yang dapat membahayakan alam sekitar maupun
manusia itu sendiri dalam jumlah tertentu. Sumber-sumber limbah pabrik
polietilene terephtalate berupa:
Limbah padat dari sisa katalis tidak dilakukan pengolahan sendiri yang nantinya
akan dikirimkan kepada produsen Antimon trioksida untuk diregenerasi (biaya
proses produksi lebih optimal).

1. Limbah proses akibat zat-zat yang terbuang, bocor atau tumpah.


2. Limbah cair hasil pencucian peralatan pabrik yang diperkirakan mengandung
kerak dari korosi alat dan kotoran-kotoran lain yang melekat pada peralatan.
3. Limbah laboratorium yang mengandung bahan-bahan kimia yang digunakan
untuk menganalisa mutu bahan baku yang dipergunakan, katalis, mutu
produk yang dihasilkan, serta yang dipergunakan untuk penelitian dan
pengembangan proses.
4. Limbah domestik yang mengandung bahan organik sisa pencernaan yang
berasal dari aktifitas kepegawaian yaitu limbah kamar mandi, toilet, kertas,
alat-alat kantor lain, serta bahan buangan dapur atau kantin atau bekal
makan pegawai.
5. Kondisi Geografis, Iklim dan Bencana
Luas wilayah kota Cilegon adalah sekitar 17550 ha. Batas geografis kota
Cilegon adalah sebagai berikut:
U (Utara) : Selat Sunda
T (Timur) : Kabupaten Serang
S (Selatan) : Kabupaten Serang
B (Barat) : Selat Sunda
Kota Cilegon merupakan kota dataran rendah dengan iklim tropika basah,
yaitu wilayah tropis beriklim panas tapi memiliki curah hujan cukup tinggi, 2000
– 3000 mm/tahun yang terjadi antara Oktober – April (BPS, 2011).

Provinsi Banten didominasi oleh batuan cadas yang memiliki struktur keras,
namun subur. Formasi batuan endapan utama terdiri dari batuan sisa humus dan
batuan pasir, yang dicampur dengan lempung, namun pulau Jawa masuk dalam
zona batas lempang Eurasia dengan lempeng Australia sehingga potensial untuk
terjadi gempa, tetapi letaknya yang jauh di ujung timur laut Pulau Jawa
menyebabkan daerah di sekitar lokasi pabrik jarang terjadi bencana.
Peta Kota Cilgon dapat dijelaskan melalui gambar 3:

Gambar Peta Lokasi Kota Cilegon, Banten, Indonesia


Sumber: Google Maps, 2013
Dari potensi yang telah dijabarkan, menunjukkan bahwa kota Cilegon telah
memenuhi sebagian besar poin kriteria yang dibutuhkan sebagai lokasi pendirian
pabrik ini. Faktor perizinan pendirian usaha dalam usaha industri utamanya
pendirian pabrik kimia di kota Cilegon juga cukup mudah dan kondusif.
Dikarenakan lingkungan industri yang sudah established sedari lama dan
pendirian pabrik baru yang terintegrasi dengan pabrik lama tentu akan
mempermudah proses integrasi antar pabrik serta mampu menambah pendapatan
daerah Cilegon (www.banten.prov.go.id).
6. Kondisi Ekonomi, Sosial dan Hukum
Kondisi ekonomi dalam pendirian pabrik ini berupa komponen biaya
ekonomi pembelian lahan pabrik dan pembangunan gedung, kemungkinan
perluasan atau ekspansi, fasilitas finansial serta pajak. Harga tanah dan gedung
yang murah merupakan daya tarik sendiri, akan tetapi hal ini tergantung dari
kondisi ekonomi setempat dan perlu dikaitkan dengan rencana jangka panjang
dengan kemungkinan perluasan atau ekspansi. Untuk lokasi Cilegon, lahan yang
tersedia untuk lokasi pabrik masih cukup luas dengan harga yang relatif
terjangkau serta ekspansi pabrik dimungkinkan karena tanah sekitar memang
dikhususkan untuk daerah pembangunan industri. Perkembangan perusahaan
dibantu oleh fasilitas finansial dengan adanya pasar modal, bursa, sumber- sumber
modal, bank, koperasi simpan pinjam dan lembaga keuangan lainya. Fasilitas
tersebut dapat membantu memberikan kemudahan bagi suksesnya usaha
pengembangan pabrik.
Sikap masyarakat diperkirakan akan mendukung pendirian pabrik
poliethilene terephtalate ini karena akan menjamin tersedianya lapangan kerja
bagi mereka. Selain itu pendirian pabrik ini diperkirakan tidak akan mengganggu
keselamatan dan keamanan masyarakat disekitarya.
Kondisi hukum berkaitan dengan kebijakan industri nasional, dimana
pemerintah Indonesia sedang mendorong perkembangan industri strategis
nasional dan menurut Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinator
Perniagaan dan Kewirausahaan Edy Putera Irawady termasuk memberikan
insentif kepada industri PET (www.kemenperin.go.id)
Saat ini telah tersusun 35 Roadmap Pengembangan Klaster Industri
Prioritas, yakni:
1. Industri Agro, terdiri atas: (1) Industri pengolahan kelapa sawit; (2) Industri
karet dan barang karet; (3) Industri kakao; (4) Industri pengolahan kelapa;
(5) Industri pengolahan kopi; (6) Industri gula; (7) Industri hasil Tembakau;
(8) Industri pengolahan buah; (9) Industri furniture; (10) Industri
pengolahan ikan; (11) Industri kertas; (12) Industri pengolahan susu.
2. Industri Alat Angkut, meliputi: (13) Industri kendaraan bermotor; (14)
Industri perkapalan; (15) Industri kedirgantaraan; (16) Industri
perkeretaapian.
Industri Elektronika dan Telematika: (17) Industri elektronika; (18) industri
telekomunikasi; (19) Industri komputer dan peralatannya

3. Basis Industri Manufaktur, mencakup:


o Industri Material Dasar: (20) Industri besi dan baja; (21) Industri
Semen; (22) Industri petrokimia; (23) Industri Keramik
o Industri Permesinan: (24) Industri peralatan listrik dan mesin listrik; (25)
Industri mesin dan peralatan umum.
o Industri Manufaktur Padat Tenaga Kerja: (26) Industri tekstil dan
produk tekstil; (27) Industri alas kaki;
4. Industri Penunjang Industri Kreatif dan Kreatif Tertentu: (28) Industri
perangkat lunak dan konten multimedia; (29) Industri fashion; (30) Industri
kerajinan dan barang seni.
5. Industri Kecil dan Menengah Tertentu: (31) Industri batu mulia dan
perhiasan; (32) Industri garam rakyat; (33) Industri gerabah dan keramik hias;
(34) Industri minyak atsiri; (35) Industri makanan ringan.
(www.kemenperin.go.id)