Anda di halaman 1dari 4

RESUME 2

Judul resume : Prinsip Pendidikan kesejagatan UNESCO Dalam Aplikasinya Di


Indonesia

Keperluan resume:Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Pengembangan Desain


Pembelajaran Biologi pada pokok atau sub pokok pembahasan mengenai
Model-model Pengembangan Desain

Nama penulis resume: Granitha Chandika Komsi / Offering C -170341864554


Tempat dan waktu penulisan resume: Malang, 06 Februari 2018

A. Pilar-Pilar Pendidikan Rekomendasi UNESCO


Dalam Delors (1996), pilar-pilar pendidikan menurut United Nations Educational,
Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sebagai berikut:
a. Learning to know
Secara harfiah atau terminologis makna dari learning to know adalah belajar untuk
mengetahui. Pada dasarnya kegiatan belajar apapun maksud tujuannya adalah
mengetahui bahan-bahan yang dipelajari agar seseorang mempunyai banyak informasi
yang kelak berguna.
b. Learning to do
Learning to do (belajar bertindak/berbuat/berkarya) erat hubungannya dengan belajar
mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Adapun maksud UNESCO dari
learning to do adalah bagaimana pendidikan mengajarkan perserta didik untuk
mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya dan mengarahkan pada kemampuan
profesional terhadap dunia pekerjaan di masa depannya.
c. Learning to be
Learning to be (belajar menjadi diri sendiri) diartikan sebagai proses pemahaman
terhadap kebutuhan dan jati diri. Pendidikan melalui proses pembelajaran juga harus
mengarahkan peserta didik pada penemuan jati dirinya yang utuh, sehingga mempunyai
pijakan kuat dalam bertindak dan tidak mudah terbawa arus, yang pada akhirnya
menjadi manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan
seimbang baik intelektual, emosi, sosial, fisik, moral maupun religiusitas.
d. Learning to live together
Learning to live together (belajar hidup bersama) merupakan pilar terakhir yang
mempunyai arti belajar untuk hidup bersama, bermasyarakat dan bersosial. Bahwa
kenyataan kehidupan di dunia ini adalah pluralisme, majemuk dan beraneka ragam baik
ras, agama, etnik dan sekte sehingga tidak mungkin mengajarkan anak untuk hidup sendiri
atau untuk diri sendiri karena bagaimanapun juga seseorang butuh orang lain, sehingga
jenis belajar ini adalah mengajarkan untuk dapat bersosial dan bermanfaat di
lingkungannya.
Dalam laporannya, UNESCO mengungkapkan bahwa jenis belajar ini merupakan
salah satu persoalan yang besar dalam pendidikan dewasa ini, karena atmosfer
persaingan, perselisihan atau pertengakaran begitu kental sehingga sering terjadi chaos
hanya karena masalah-masalah sepele yang pada akhirnya manusia lebih memilih
egonya sendiri dari pada kepentingan hidup bersama.
B. Perkembangan Kurikulum di Indonesia
Sehubungan dengan itu sejak awal tahun 2001 telah ada upaya perubahan dari kurikulum
1994 (Suplemen 1999) menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Perubahan tersebut
didasarkan pada analisis tentang permasalahan model dan pelaksanaan kurikulum 1994 serta
berdasarkan tuntutan, tantangan dan kebutuhan baru yang berkaitan dengan reformasi, otonomi
daerah, desentralisasi pendidikan dan amanat pendidikan bagi semua (education for all) dari
UNESCO (Hamida, 2008).
Kurikulum baru tersebut, yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi, yang telah
dikembangkan dan sekarang tengah diimplementasikan pada dasarnya memiliki karakteristik
yaitu; berbasis kompetensi dasar bukan materi pelajaran, bertumpu pada pembentukan
kemampuan yang dibutuhkan siswa bukan penerusan materi pelajaran, berpusat pada
pembelajar, berpendekatan terpadu, bersifat diversifikatif, pluralistis, dan multikultural,
bermuatan empat pilar pendidikan kesejagatan, dan berwawasan serta bermuatan manajemen
berbasis sekolah (Hamida, 2008).
Kemudian diterapkannya Kurikulum 2013 (Kutilas) di seluruh jenjang pendidikan, mulai
SD, SMP, SMA/SMK atau yang sederajat. Dalam Kutilas, salah yang menjadi ruhnya adalah
pembelajaran dengan menggunakan pendidikan saintifik, yang kemudian dikenal dengan 5 M
(mengamati, menanya, mencoba, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan) (Permendikbud,
2013)
C. Penjaminan mutu pendidikan di Indonesia
Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional telah ditetapkan visi, misi dan
strategi pembangunan pendidikan nasional. Visi pendidikan tersebut adalah terwujudnya
sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan
semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga
mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Terkait dengan visi
tersebut telah ditetapkan serangkaian prinsip untuk dijadikan landasan dalam pelaksanaan
reformasi pendidikan.
Salah satu prinsip tersebut adalah bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai proses
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, di mana
dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu
membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Implikasi
dari prinsip ini adalah pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma
pengajaran ke paradigma pembelajaran.
Menurut permendikbud (2013), tujuan standar mutu pendidikan ditetapkan adalah untuk
menjamin mutu proses transpormasi, mutu instrumental dan mutu kelulusan, yang meliputi :
(1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan
tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar
pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.
Menurut Muhardi (2012), implementasi pilar-pilar pendidikan hasil rekomendasi
UNESCO, maka pendidikan di Indonesia perlu peningkatan dan pengembangan mutu, sebagai
berikut :
a. Learning to know
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas
pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan membuat
perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kemampuan belajar bagi siswanya, dan
memperbaiki kualitas mengajarnya. Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam
pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar-mengajar, maupun
sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar-mengajar. Guru bisa dikatakan
unggul dan profesional bila mampu mengembangkan kompetensi individunya dan tidak
banyak bergantung pada orang lain.Konsep learning to know ini menyiratkan makna bahwa
pendidik harus mampu berperan sebagai berikut, sumber belajar, fasilitator, pengelola
demonstrator, pembimbing, mediator, evaluator
b. Learning to do
Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar hendaknya memfasilitasi siswanya untuk
mengaktualisasikan ketrampilan yang dimiliki, serta bakat dan minatnya agar “Learning to do”
dapat terealisasi. Secara umum, bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang
untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Sedangkan minat adalah
kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
Meskipun bakat dan minat anak dipengaruhi faktor keturunan namun tumbuh dan
berkembangnya bakat dan minat juga bergantung pada lingkungan . Lingkungan disini dibagi
menjadi dua yaitu:
1) Lingkungan sosial
Yang termasuk dalam lingkungan social siswa adalah masyarakat dan tetangga juga
teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa tersebut. Lingkungan social yang
lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orangtua dan keluarga siswa itu sendiri.
2) Lingkungan nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya,
rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, dan keadaan cuaca. Faktor-
faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.
c. Learning to be
Konsep learning to be perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk melatih siswa agar
memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kepercayaan merupakan modal utama bagi siswa untuk
hidup dalam masyarakat. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari
proses menjadi diri sendiri (learning to be) (Atika dalam Muhardi, 2012). Menjadi diri sendiri
diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku
sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang
berhasil, sesungguhnya merupakan proses pencapain aktualisasi diri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pendidikan menurut Djamal dalam Muhardi
(2012) yaitu, Motivasi, Sikap, Minat, Kebiasaan belajar, Konsep diri
d. Learning to live together
Penerapan pembelajaran social models mengkombinasi antara belajar (learning) dan
masyarakat (society). Kedudukannya ke arah pengajaran dengan prilaku yang kooperatif
(cooperative behavior) menstimulasi tidak hanya secara sosial tapi juga intelektual, dan
karenanya tugas interaksi social dapat di desain untuk meningkatkan studi akademik.
Sesuai dengan penekanan dan titik beratnya aplikasi model ini adalah untuk
mengembangkan kecakapan individu pelajar dalam berhubungan dengan orang lain atau
masyarakat. Individu siswa dalam hal ini dihadapkan oleh guru dalam situasi yang demokratis
didorong untuk berperilaku produktif dalam bermasyarakat. Salah satu model yang
mengutamakan interaksi antara siswa dalam situasi demokratis adalah model mengajar role
playing (Muhardi, 2012).