Anda di halaman 1dari 32

RHINITIS

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 3

1. MERY KRISTIN S.
2. ELEN TRIA NANDA MR
3. FIANI TANTRI S
4. IRA ASTUTI
5. SUCIAWATI
6. SAMSUL
7. GITA GALFARINA
8. MULYANA
9. I NENGAH LUKI

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKes WIDYA NUSANTARA PALU

T.A 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Swt atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas berjudul “RINITIS “ dengan baik dan
tepat pada waktunya. Adapun tujuan penyusunan tugas ini adalah untuk
memenuhi tugas mata kuliah Sistem PERSEPSI SENSORI.
Dengan segala kerendahan hati Penulis selaku penyusun tugas ini
menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis
senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca
demi kesempurnaan tugas yang serupa dimasa yang akan datang.
Demikian, Semoga segala yang tertulis di dalam tugas ini bermanfaat,
selebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Palu, Oktober 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................... i


KATA PENGANTAR ........................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................... 4
B. Tujuan ........................................................................................ 4
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Tinjauan Medis
1. Anatomi hidung..................................................................... 6
2. Fisiologi hidung ................................................................... 9
3. Definisi ................................................................................. 9
4. Etiologi ............................................................................... 10
5. Patofisiologi ....................................................................... 10
6. Pathway .............................................................................. 11
7. Manifestasi klinis ............................................................... 12
8. Klasifikasi .......................................................................... 12
9. Pemeriksaan Penunjang ..................................................... 17
10. Penatalaksanaan ................................................................. 19
11. Komplikasi ......................................................................... 22
B. Tinjauan Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian .......................................................................... 23
2. Diagnosa Keperawatan ....................................................... 25
3. Intervensi ............................................................................ 26
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN ........................................................................ 31
B. SARAN .................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem pernafasan adalah suatu sistem yang vital bagi kehidupan
seluruh manusia, dan sistem ini terdiri dari beberapa organ untuk
menjalankan sebuah sistem tersebut. Tapi bagaimana apabila beberapa
atau salah satu dari organ tersebut mengalami gangguan, tentu saja ini
akan mempengaruhi dari kerja sistem pernafasan. Dan salah satu dari
penyakit yang menyerang salah satu dari organ dari sistem pernafasan
tersebut tersebut adalah rhinitis, yang menyerang pada organ saluran
pernafasan atas yaitu hidung.
Rhinitis berasal dari kata “rhino” yang artinya hidung, dan “itis”
yang artinya peradangan. Jadi rhinitis adalah gangguan peradangan pada
selaput mukosa/lendir hidung. Sebagian besar rhinitis disebabkan oleh
proses alergi, namun rhinitis bisa juga disebabkan karena hipersensitivitas
saraf-saraf di sekitar hidung, misalnya terhadap perubahan cuaca,
perubahan kelembaban udara, dan lain-lain. Rhinitis jenis ini disebut
rhinitis vasomotor. Rhinitis jenis ini tidak mempan diobati dengan obat
anti alergi. (Zullies Ikawati, 2010).
Rhinitis juga dipengaruhi lingkungan dari faktor allergen. Penyakit
ini masih sering disepelekan, untuk itu perlu diberikan beberapa informasi
agar penderita tidak terlalu meremehkan dan dapat mengetahui berbagai
upaya untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Agar mahasiswa mengerti bagaimana asuhan keperawatan pasien
dengan Rhinitis.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui anatomi fisiologi hidung

4
b. Untuk mengetahui definisi dari Rhinitis
c. Untuk mengetahui etiologi Rhinitis
d. Untuk mengetahui manifestasi klinis Rhinitis
e. Untuk mengetahui patofisiologi Rhinitis
f. Untuk mengetahui pathway Rhinitis
g. Untuk mengetahui apa saja pemeriksaan penunjang pada Rhinitis
h. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis dan keperawatan
Rhinitis
i. Untuk mengetahui bagaimana tinjauan asuhan keperawatan
Rhinitis

5
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Aspek Teoritis
1. Anatomi hidung
Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari
nares anterior hingga koana di posterior yang memisahkan rongga
hidung dari nasofaring. Septum nasi membagi tengah bagian hidung
dalam menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Setiap kavum nasi
mempunyai 4 buah dinding yaitu dinding medial, lateral, inferior dan
superior.
Bagian inferior kavum nasi berbatasan dengan kavum oris
dipisahkan oleh palatum durum. Ke arah posterior berhubungan
dengan nasofaring melalui koana. Di sebelah lateral dan depan dibatasi
oleh nasus externus. Di sebelah lateral belakang berbatasan dengan
orbita : sinus maksilaris, sinus etmoidalis, fossa pterygopalatina, fossa
pterigoides.
a. Dasar hidung
Dibentuk oleh prosesus palatina os maksila dan prosesus horizontal
os palatum. Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan
inferior, dan tulang-tulang os nasale, os frontale lamina cribrosa, os
etmoidale, dan corpus os sphenoidale. Dinding medial rongga
hidung adalah septum nasi. Septum nasi terdiri atas kartilago septi
nasi, lamina perpendikularis os etmoidale, dan os vomer.
Sedangkan di daerah apex nasi, septum nasi disempurnakan oleh
kulit, jaringan subkutis, dan kartilago alaris major.
b. Dinding lateral
Dinding lateral dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu di anterior
terdapat prosesus frontalis os maksila, di medial terdapat os
etmoidal, os maksila serta konka, dan di posterior terdapat lamina
perpendikularis os palatum, dan lamina pterigoides medial. Bagian
terpending pada dinding lateral adalah empat buah konka. Konka

6
terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior kemudian
konka yang lebih kecil adalah konka media, konka superior dan
yang paling kecil adalah konka suprema. Konka suprema biasanya
akan mengalami rudimenter. Diantara konka-konka dan dinding
lateral hidung terdapat rongga sempit yang dinamakan dengan
meatus. Terdapat tiga meatus yaitu meatus inferior, media dan
superior :
1) Meatus superior atau fisura etmoid merupakan suatu celah yang
sempit antara septum dan massa lateral os etmoid di atas konka
media. Resesus sfenoetmoidal terletak di posterosuperior konka
superior dan di depan konka os spenoid. Resesus sfenoetmoidal
merupakan tempat bermuaranya sinus sfenoid.
2) Meatus media merupakan salah satu celah yang di dalamnya
terdapat muara sinus maksila, sinus frontal dan bagian anterior
sinus etmoid. Di balik bagian anterior konka media yang
letaknya menggantung, pada dinding lateralnya terdapat celah
berbentuk bulan sabit yang disebut sebagai infundibulum.
Muara atau fisura berbentuk bulan sabit yang menghubungkan
meatus medius dengan infundibulum dinamakan hiatus
semilunaris. Dinding inferior dan medial infundibulum
membentuk tonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal
sebagai prosesus unsinatus. Ostium sinus frontal, antrum
maksila, dan sel-sel etmoid anterior bermuara di infundibulum.
Sinus frontal dan sel-sel etmoid anterior biasanya bermuara di
bagian anterior atas, dan sinus maksila bermuara di posterior
muara sinus frontal.
3) Meatus nasi inferior adalah yang terbesar di antara ketiga
meatus, mempunyai muara duktus nasolakrimalis yang terdapat
kira-kira antara 3 sampai 3,5 cm di belakang batas posterior
nostril

7
c. Septum hidung
Septum membagi kavum nasi menjadi ruang kanan dan kiri.
Bagian posterior dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid,
bagian anterior oleh kartilago septum, premaksila dan kolumela
membranosa. Bagian posterior dan inferior oleh os vomer, krista
maksila, krista palatina dan krista sfenoid.
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-
cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior, dan
a.palatina mayor yang disebut Pleksus Kiesselbach (Little’s area).
Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh
trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis (pendarahan
hidung) terutama pada anak.

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan


berdampingan dengan arteri. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung
bermuara ke vena oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus.
Vena-vena di hidung tidak memiliki katup sehingga merupakan faktor
predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi hingga ke intrakranial.
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris
dari nervus etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari nervus
nasosiliaris, yang berasal dari nervus oftalmikus (N.V1). Rongga hidung
lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila
melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum selain
memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor
atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut
sensoris dari nervus maksila (N.V2), serabut parasimpatis dari nervus
petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari nervus
petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan
sedikit di atas ujung posterior konka media.

8
Nervus olfaktorius turun dari lamina kribrosa dari permukaan
bawah bulbus olfaktorius dan berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada
mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.

2. Fisiologi hidung
Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori
fungsional, maka fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah :
1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning),
penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan
dan mekanisme imunologik lokal ; 2) fungsi penghidu, karena
terdapanya mukosa olfaktorius (penciuman) dan reservoir udara untuk
menampung stimulus penghidu ; 3) fungsi fonetik yang berguna untuk
resonansi suara, membantu proses berbicara dan mencegah hantaran
suara sendiri melalui konduksi tulang ; 4) fungsi statistik dan mekanik
untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan
pelindung panas; 5) refleks nasal.

3. Definisi
Rhinitis adalah istilah medis yang menggambarkan iritasi dan
peradangan daerah internal hidung. Gejala utama rhinitis adalah
rhinore hidung. Ini disebabkan oleh peradangan kronis atau akut
membran mukosa hidung oleh alergi, bakteri, atau iritasi. Peradangan
mengakibatkan penghasilan jumlah lendir yang berlebihan, umumnya
menghasilkan sekret, serta hidung tersumbat dan post-nasal tetes.
(Behrman , 2000).
Rhinitis adalah suatu kondisi peradangan yang terjadi pada rongga
hidung. Rhinitis dibagi lagi menjadi 2 macam yaitu rhinitis alergi dan
rhinitis non alergi.(dr. Lim Seh Guan , 2011).
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas tentang rhinitis, dapat
ditarik kesimpulan bahwa rhinitis adalah suatu penyakit yang terjadi
pada membran mukosa internal hidung, yang disebabkan oleh alergi,

9
bakteri, maupun lingkungan. Dan rhinitis terbagi atas dua macam,
yaitu rhinitis alergi dan rhinitis non alergi.

4. Etiologi
Rhinitis merupakan inflamasi mukosa saluran hidung yang
disebabkan oleh alergi terhadap partikel, seperti: debu, asap,
serbuk/tepung sari yang ada di udara. Masuknya benda asing kedalam
hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan massa, penggunaan
kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi oral, kokain dan
anti hipertensif dapat mengakibatkan rhinitis.

5. Patofisiologi
Virus masuk ke saluran napas karena suhu di bagian saluran napas
lebih sesuai untuk virus bereplikasi. Virus hanya bereplikasi terbatas
submukosa dan epitel dan permukaan. Virus lebih sering menginfeksi
saluran pernapasan atas karena cenderung lebih dingin dari saluran
pernapasan bawah suhu yang lebih dingin ini merupakan tempat yang
cocok untuk virus bereplikasi. Inkubasi paling cepat sekitar 2-4 hari
setelah pajanan. nfeksi virus tersebut menyebabkan pengeluaran
mediator-mediator kimia. Pengeluaran mediator kimia seperti
prostaglandin, leukotrien dan tromboksan A2 menyebabkan
vasodilatasi pembuluh darah lalu akan meningkatkan permeabilitas
pembuluh darah. Peningkatan permeabilitas pembuluh darah
menyebabkan ekstravasasi cairan ke mukosa menyebabkan kongesti di
hidung. Selain itu efek lainnya dapat menyebabkan hipersekresi
kelenjar penghasil mukus di mukosa hidung menyebabkan rhinorea.
Dengan adanya kongesti serta peningkatan sekresi mukus
menyebabkan jalan napas terhambat. Pengeluaran mediator juga dapat
mensensitasi saraf trigeminus yang menimbulkan bersin.

10
6. Pathway

11
7. Manifestasi Klinis
a. Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi
hari (umumnya bersin lebih dari 6 kali).
b. Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang
disebabkan alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi
kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika berkembang
menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus.
c. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan
tenggorok.
d. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.
Gejala klinis yang khas adalah terdapatnya serangan bersin
yang berulang-ulang terutama pada pagi hari, atau bila terdapat
kontak dengan sejumlah debu. Sebenarnya bersin adalah
mekanisme normal dari hidung untuk membersihkan diri dari
benda asing, tetapi jika bersin sudah lebih dari lima kali dalam satu
kali serangan maka dapat diduga ini adalah gejala rhinitis alergi.
Tanda dan gejala rinitis adalah rongesti nasal, nafas nasal
(purulen dengan renitis bakterialis ) gatal pada nasal, dan bersin-
bersin. Sakit kepala dapat saja terjadi, terutama jika terdapat juga
sinusitis. (Smeltzer, Suzanne C. 2002. Hal 548).

8. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya :
a. Rhinitis alergi
Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita
oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. Merupakan
inflamasi mukosa saluran hidung yang disebabkan oleh alergi
terhadap partikel, seperti: debu, asap, serbuk/tepung sari yang ada
di udara. Rhinitis alergi adalah istilah umum yang digunakan untuk
menunjukkan setiap reaksi alergi mukosa hidung, dapat terjadi
bertahun-tahun atau musiman. (Dorland, 2002).

12
Rhinitis alergi dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Rhinitis alergi musiman (hay ever)
Biasanya terjadi pada musim semi. Umumnya disebabkan
kontak dengan allergen dari luar rumah, seperti benang sari dari
tumbuhan yang menggunakan angin untuk penyerbukannya,
debu dan polusi udara atau asap.
Gejala : Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian
belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba maupun
secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti dengan mata
berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa penderita
mengeluh sakit kepala, batuk dan mengi (bengek), menjadi
mudah tersinggung dan deperesi, kehilangan nafsu makan dan
mengalami gangguan tidur. Terjadi peradangan pada kelopak
mata bagian dalam dan pada bagian putih mata (konjungtivitis).
Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah kebiruan,
menyebabkan hidung meler dan hidung tersumbat.
2) Rhinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)
Disebabkan bukan karena musim tertentu (serangan yang
terjadi sepanjang masa (tahunan) diakibatkan karena kontak
dengan allergen yang sering berada di rumah misalnya kutu
debu rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang
menyengat.
Gejala : Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian
belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba maupun
secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti dengan mata
berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa penderita
mengeluh sakit kepala, batuk dan mengi (bengek), menjadi
mudah tersinggung dan deperesi, kehilangan nafsu makan dan
mengalami gangguan tidur. Jarang terjadi konjungtivitis.
Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah kebiruan,
menyebabkan hidung meler dan hidung tersumbat. Hidung

13
tersumbat bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan tuba
eustakiusdi telinga, sehingga terjadi gangguan pendengaran,
terutama pada anak-anak. Bisa timbul komplikasi berupa
sinusitis (infeksi sinus) dan polip hidung.
b. Rhinitis non alergi
Rhinitis non allergi disebabkan oleh : infeksi saluran napas (rhinitis
viral dan rhinitis bakterial), masuknya benda asing kedalam
hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan massa, penggunaan
kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi oral, kokain dan
anti hipertensif.
Gejala :
 Kongesti nasal
 Rabas nasal (purulent dengan rhinitis bakterialis)
 Gatal pada nasal
 Bersin-bersin
 Sakit kepala
c. Rhinitis vasomotor
Rhinitis vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan
mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas
parasimpatis.
Penyebab : Belum diketahui, diduga akibat gangguan
keseimbangan vasomotor.
Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi berbagai hal :
 Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf
simpatis, seperti: ergotamin, klorpromazin, obat antihipertensi,
dan obat vasokontriktor lokal.
 Faktor fisik, seperti iritasi asap rokok, udara dingin,
kelembapan udara yang tinggi, dan bau yang merangsang.
 Faktor endokrin, seperti : kehamilan, pubertas, dan
hipotiroidisme.
 Faktor psikis, seperti : cemas dan tegang

14
Tanda dan gejala : Hidung tersumbat, bergantian kiri dan
kanan, tergantung pada posisi pasien. Terdapat rinorea yang
mukus atau serosa, kadang agak banyak. Jarang disertai bersin,
dan tidak disertai gatal di mata. Gejala memburuk pada pagi
hari waktu bangun tidur karena perubahan suhu yang ekstrim,
udara lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya.
Berdasarkan gejala yang menonjol, dibedakan atas golongan
obstruksi dan rinorea. Pemeriksaan rinoskopi anterior
menunjukkan gambaran klasik berupa edema mukosa hidung,
konka berwarna merah gelap atau merah tua, dapat pula pucat.
Permukaannya dapat licin atau berbenjol. Pada rongga
hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. Namun pada
golgongan rinorea, sekret yang ditemukan biasanya serosa dan
dalam jumlah banyak.
d. Rhinitis medikamentosa
Rhinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung berupa
gangguan respon normal vasomotor sebagai akibat pemakaian
vasokonstriktor topical (obat tetes hidung atau obat semprot
hidung) dalam waktu lama dan berlebihan.
Tanda dan gejala : Penderita mengeluh hidungnya tersumbat terus
menerus dan berair. Pada pemeriksaan konka dengan secret hidung
yang berlebihan. Apabila diuji dengan adrenalin, adema konka
tidak berkurang.
e. Rhinitis atrofi
Rhinitis Atrofi adalah satu penyakit infeksi hidung kronik dengan
tanda adanya atrofi progesif tulang dan mukosa konka.
Penyebab : Belum jelas, beberapa hal yang dianggap sebagai
penyebabnya seperti infeksi oleh kuman spesifik, yaitu spesies
Klebsiella, yang sering Klebsiella ozanae, kemudian stafilokok,
sreptokok, Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe, defisiensi

15
vitamin A, sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit
kolagen. Mungkin berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi.
Tanda dan gejala : Keluhan subyektif yang sering ditemukan pada
pasien biasanya nafas berbau (sementara pasien sendiri menderita
anosmia), ingus kental hijau, krusta hijau, gangguan penciuman,
sakit kepala, dan hidung tersumbat. Pada pemeriksaan THT
ditemukan rongga hidung sangat lapang, konka inferior dan media
hipotrofi atau atrofi secret purulen hijau dan krusta berwarna hijau.

Rhinitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua
tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi
terdiri dari dua fase yaitu :
a. Immediate Phase Allergic Reaction : Berlangsung sejak kontak
dengan allergen hingga 1 jam setelahnya.
b. Late Phase Allergic Reaction : Reaksi yang berlangsung pada
dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah
pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam.

Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :

a. Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara


pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari
bulu binatang serta jamur
b. Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa
makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang
c. Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan,
misalnya penisilin atau sengatan lebah
d. Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan.

16
Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi
menjadi tiga tahap besar :
a. Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi
non spesifik
b. Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang
membangkitkan system humoral, system selular saja atau bisa
membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil
dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih
ada, karena efek dari ketiga mekanisme system tersebut maka
berlanjut ke respon tersier
c. Respon Tersier, reaksi imunologik yang tidak menguntungkan.

Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua :


a. Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan
membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang
disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat
mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali
terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal
musim hujan dan musim semi.
b. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran
mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena
alergi, atau karena rinitis vasomotor.

9. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan kadar IgE pada serum serta hitung jenis oesinofil
pada spesimen sekret hidung.
b. Tes alergi
Tes ini dilakukan untuk menegakkan bukti secara objektif akan
adanya penyakit atopi. Ia juga dapat menentukan agen penyebab
reaksi alergi tersebut, yang akan dapat membantu dalam

17
penanganan secara spesifik. Terdapat dua tipe pemeriksaan yang
sering digunakan bagi menilai secara kausatif maupun kuantitatif
sensitifitas suatu alergen: tes kulit dan esai serumin vitro (in vitro
serum assay).
1) Tes kulit
dapat dilakukan secara epikutan, intradermal atau kombinasi
keduanya.
 Tes cukit kulit merupakan tes kulit secara epikutan yang
paling sering digunakan. Secara umumnya tes ini tergolong
cepat, spesifik, aman dan ekonomis. Dengan adanya sistem
tes multipel yang tersedia, tes ini mudah dilaksanakan dan
prosedurnya selalu tidak pernah berubah. Namun bila hasil
tesini diragukan, selanjutnya dilakukan tes secara
intradermal.
 Tes cukit kulit secara intradermal menggunakan
pengenceran berseri yang kuantitatif 1:5 merupakan tes
pilihan bagi kebanyakan ahli spesialis THT setelah
dilakukan tes cukit kulit secara epikutan. Tipe tes yang
dikenal sebagai intradermal dilutional testing (IDT),
dulunya dikenal sebagai serial end point titration (SET) ini
sangat berguna dalam menentukan tahap sensitifitas
alergen, dan dalam rangka itu, amat bermanfaat dalam
penentuan terapi imunal yang tepat dan aman bagi
penderita rhinitis alergi.
2) Tes in vitro
Tes ini melibatkan IgE serum yang spesifik dengan alergen dan
merupakan teknik yang mudah dikerjakan serta akurat dalam
mendeteksi adanya pengaruh atopi pada pasien dengan rhinitis
alergi. Teknologi in vitro juga sudah sangat dikembangkan
sedemikian rupa sehingga efektifitasnya sudah kurang lebih
sama dengan tes cukit kulit. Tes ini aman, murah dan cukup

18
spesifik sehingga penderita tidak perlu bebas dari pengaruh
antihistamin atau obat-obat lain pada saat pada saat
pemeriksaan dijalankan, yang kalau pada tes cukit kulit, dapat
mengganggu penilaian. Tes ini juga sangat mudah dan cepat
dikerjakan sehingga menjadi pilihan dalam menangani pasien
anak-anak maupun dewasa yang disertai gangguan anxietas.
Walaupun tes in vitro yang pertama yaitu radio allergo sorbent
test (RAST) sudah tidak dikerjakan lagi, terminologi RAST ini
masih digunakan secara umum dalam menjelaskan
pemeriksaan IgE spesifik darah. Saat ini, sudah banyak tipe
esai in vitro yang ditinggalkan, karena peralihan ke tipe baru
yang lebih cepat, dapat diandalkan dan lebih efisien contohnya
Immuno Cap. Dengan tidak menggunakan tes yang dapat
diandalkan, dapat berakibat buruk kepada diagnosis atopi yang
seterusnya membawa kepada penanganan yang tidak adekuat.
Dibawah merupakan bagan pelaksanaan tesin vitro.

10. Penatalaksanaan
a. Primer
1) Tidak merokok dan hindari asap rokok
2) Menghindari debu rumah Menghindari makan makanan yang
mungkin dapat memicu alergi seperti seafood, telur, coklat,
kacang dan susu
3) Rumah harus mempunyai ventilasi yang baik dan cukup sinar
matahari
b. Sekunder
1) Penatalaksanaan medis
Terapi medikamentosa yaitu antihistamin, dekongestan dan
kortikosteroid
a) Antihistamin

19
Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin
oral. Antihistamin oral dibagi menjadi dua yaitu generasi
pertama (nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin
sedatif serta generasi kedua (selektif) dikenal juga sebagai
antihistamin nonsedatif.
Efek sedative antihistamin sangat cocok digunakan untuk
pasien yang mengalami gangguan tidur karena rhinitis
alergi yang dideritanya. Selain itu efek samping yang biasa
ditimbulkan oleh obat golongan antihistamin adalah efek
antikolinergik seperti mulut kering, susah buang air kecil
dan konstipasi. Penggunaan obat ini perlu diperhatikan
untuk pasien yang mengalami kenaikan tekanan
intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular.
Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam
sebelum terpapar allergen. Penggunaan antihistamin harus
selalu diperhatikan terutama mengenai efek sampingnya.
Antihistamin generasi kedua memang memberikan efek
sedative yang sangat kecil namun secara ekonomi lebih
mahal.
b) Dekongestan
Dekongestal topical dan sistemik merupakan
simpatomimetik agen yang beraksi pada reseptor adrenergic
pada mukosa nasal, memproduksi vasokonstriksi. Topikal
dekongestan biasanya digunakan melalui sediaan tetes atau
spray. Penggunaan dekongestan jenis ini hanya sedikit atau
sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik (Dipiro, 2005).
Penggunaan obat ini dalam jangka waktu yang lama dapat
menimbulkan rhinitis medikamentosa (rhinitis karena
penggunaan obat-obatan). Selain itu efek samping yang
dapat ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa

20
terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk itu
penggunaan obat ini memerlukan konseling bagi pasien.
Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan
topical. Namun durasinya biasanya bisa lebih panjang.
Agen yang biasa digunakan adalah pseudoefedrin.
Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf
pusat walaupun digunakan pada dosis terapinya (Dipiro,
2005). Obat ini harus hati-hati digunakan untuk pasien-
pasien tertentu seperti penderita hipertensi. Saat ini telah
ada produk kombinasi antara antihistamin dan dekongestan.
Kombinasi ini rasional karena mekanismenya berbeda.
c) Nasal steroid
Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan
dapat digunakan untuk rhinitis seasonal. Nasal steroid
diketahui memiliki efek samping yang sedikit. Obat yang
biasa digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan
ipatropium bromida.
 Operatif : Konkotomi merupakan tindakan memotong
konka nasi inferior yang mengalami hipertrofi berat.
Lakukan setelah kita gagal mengecilkan konka nasi
inferior menggunakan kauterisasi yang memakai
AgNO3 25% atau triklor asetat.
 Imunoterapi : Jenisnya desensitasi, hiposensitasi &
netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk
blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang
gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan
lain belum memuaskan. Netralisasi tidak membentuk
blocking antibody dan untuk alergi ingestan.

21
2) Penatalaksanaan keperawatan
a) Instruksikan pasien yang allergik untuk menghindari
allergen atau iritan seperti (debu, asap tembakau, asap, bau,
tepung, sprei)
b) Sejukkan membran mukosa dengan menggunakan sprey
nasal salin
c) Melunakkan sekresi yang mengering dan menghiangkan
iritan
d) Ajarkan tekhnik penggunaan obat-obatan spt sprei dan
serosol
e) Anjurkan menghembuskan hidung sebelum pemberian obat
apapun terhadap hidung.
c. Tersier
Pencegahan tersier pada penderita rhinitis yang bertujuan untuk
mengurangi terjadinya komplikasi yang lebih berat dan
memberikan tindakan pemulihan. Pengobatan yang dilakukan
disesuaikan dengan jenis dan beratnya rhinitis dengan tindakan
medikamentosa, imunoterapi dan operatif.

11. Komplikasi
a. Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau menimbulkan
kekambuhan polip hidung.
b. Otitis media. Rinitis alergi dapat menyebabkan otitis media yang
sering residif dan terutama kita temukan pada pasien anak-anak.
c. Sinusitis kronik
d. Otitis media dan sinusitis kronik bukanlah akibat langsung dari
rinitis alergi melainkan adanya sumbatan pada hidung sehingga
menghambat drainase.

22
B. Asuhan Keperawatan Teoritis
1. Pengkajian
a. Anamnesis
1) Umur, rhinitis bisa terjadi pada semua umur mulai dari anak-
anak sampai usia lanjut.
2) Riwayat penggunaan obat-obatan.
3) Riwayat pekerjaan, pada pekerja yg rentan terhadap debu yang
berhubungan dengan polusi udara.
4) Kesehatan masa lalu
a) Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan
hidung atau trauma.
b) Pernah mempunyai riwayat penyakit THT.
5) Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan utama/alasan masuk rumah sakit:
Bersin-bersin, hidung mengeluarkan sekret, hidung tersumbat,
dan hidung gatal.
6) Riwayat kesehatan keluarga
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota dan keluarga yang
lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien
sekarang.
7) Riwayat Psikososial
a) Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih)
b) Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
8) Pola fungsi kesehatan
a) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat
tanpa memperhatikan efek samping
b) Pola nutrisi dan metabolisme
Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi
gangguan pada hidup

23
9) Pola istirahat dan tidur
Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien
sering pilek
10) Pola Persepsi dan konsep diri
Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan
konsep diri menurun
11) Pola sensorik
Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat
pilek terus menerus (baik purulen, serous dan mukopurulen)
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik untuk rhinitis berfokus pada hidung, tetapi
pemeriksaan wajah, mata, telinga, leher, paru-paru, dan kulit juga
penting.
1) Wajah
a) Allergic shiners, yaitu dark circles di sekitar mata dan
berhubungan dengan vasodilatasi atau obstruksi hidung.
b) Nasal crease yaitu lipatan horizontal (horizontal case) yang
melalui setengah bagian bawah hidung akibat kebiasaan
menggosok hidung ke atas dengan tangan.
2) Hidung
Pada pemeriksaan hidung digunakan nasal speculum atau bagi
spesialis dapat digunakan rhinolaringoskopi. Pada rhinoskopi
akan tampak mukosa edema, basah, bewarna pucat, disertai
adanya secret encer yang banyak. Pada rhinitis alergi, mucus
encer dan tipis. Jika kental dan purulen biasanya berhubungan
dengan sinusitis. Namun mukus yang kental, purulen dan
bewarna dapat timbul pada rhinitis alergi. Periksa septum untuk
melihat adanya deviasi atau perforasi septum yang dapat
disebabkan oleh penyakit rhinitis alergi kronis, penyakit
granulomatus. Periksa rongga hidung untuk melihat adanya

24
massa seperti polip dan tumor. Polip berupa massa yang
berwarna abu-abu dan tangkai.
3) Telinga
Dengan otoskop perhatikan adanya retraksi membrane timpani.
Kelainan mobilitas dari membrane timpani dapat dilihat dengan
menggunakan otoskop pneumatic. Kelainan tersebut dapat
terjadi pada rhinitis yang disertai dengan disfungsi tuba
eustachius dan otitis media sekunder.
4) Mata
Pada pemeriksaan mata akan ditemukan injeksi dan
pembengkakan konjungtiva palpebra yang disertai dengan
produksi air mata.
5) Leher
Perhatikan adanya limfadenopatie.
6) Paru-paru
Perhatikan adanya tanda-tanda asma.
7) Kulit
Kemungkinan adanya dermatitis atopi.

2. Diagnosa keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
obstruksi /adanya secret yang mengental
b. Perubahan sensori persepsi penciuman berhubungan dengan
penurunan fungsi penciuman
c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan penyumbatan pada
hidung
d. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
penyakit
e. Ketidakefektifan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan nafsu makan menurun

25
3. Intervensi keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
obstruksi /adanya secret yang mengental
Tujuan : Bersihan jalan nafas kembali efektif
Kriteria Hasil : menujukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan
jalan nafas. Misalnya : mengeluarkan sekret

INTERVENSI RASIONAL
1. Auskultasi bunyi napas. 1. Obstruksi jalan napas dan dapat
Catat adanya bunyi napas, atau tak di manevestasikan
misalnya mengi, krekels, adanya bunyi napas adventisius
ronki
2. Kaji/pantau frekuensi 2. Adanya beberapa derajat dan
pernapasan dapat ditemukan pada
penerimaan atau selama stres
atau adanya infeksi akut.
Penafasan dapat melambat dan
frekunsi ekspirasi memanjaga
inspirasi memendek
3. Kaji pasien untuk posisi 3. Peningian kepala tempat tidur
yang nyaman misalnya mempermudah fungsi pernapasan
peninggian kepala tempat dengan mengunakn grafitasi
tidur, duduk pada
persandaran tempat tidur
4. Pertahankan polusi 4. Pencetus tipe reaksi alergi
lingkungan minimum pernapasan yang dapat mentreger
misalnya debu asap dan episode akut
bulu bantal yang
berhubungan dengan
kondisi individu

26
5. tingkatkan masukan caian 5. Hidrasi membantu menurunkan
3000 /hari sesuai jantung, kekentalan sekret, mempermudah
memberikan air hangat pengeluaran

b. Perubahan sensori persepsi penciuman berhubungan dengan


penurunan fungsi penciuman
Tujuan : mengembalikan fungsi penciuman ke normal
Kriteria hasil : klien akan mendemonstrasikan penurunan gejala
beban sensori berlebih yang ditandai dengan penurunan persepsi
penciuman

INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji perubahan penciuman 1. Untuk mengidentifikasi
yang terjadi perubahan penciuman yang
terjadi
2. Orientasikan terhadap bau- 2. Dengan bau-bauan hidung akan
bauan merasakan rangsangan
3. Kurangi faktor-faktor 3. Dengan bau-bauan hidung akan
penyebab merasakan rangsangan Dengan
bau-bauan hidung akan
merasakan rangsangan

c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan penyumbatan pada


hidung
Tujuan : Perbaikan pola tidur atau istirahat
Kriteria Hasil :
 Klien tampak bisa tidur
 Tidak sering terbangun pada malam hari

27
INTERVENSI RASIONAL
1. Tentukan kebiasan tidur 1. Mengakaji perlunya dan
biasanya dan perubahan mengidentifikasi intervensi yang
yang terjadi tepat
2. Berikan tempat tidur yang 2. Meningakatkkan kenyamanan
nyaman dan beberapa milik tridur serta dukungan
pribadi misalnya bantal, fisiologis/psikologis
guling
3. Buat rutinitas tidur baru 3. Bila rutinitas baru mengandung
yang dimasukkan dalam aspek sebanyak kebiasaan lama,
pola lama dan lingkungan stres dan ansietas yang
baru berhubungan dapat berkurang
4. Tingkatkan regimen 4. Meningkatkan efek relaksasi
kenyamanan waktu tidur
5. Instruksikan tindakan 5. Membantu menginduksi tidur
relaksasi
6. Berikan sedative sesuai 6. Membantu pasien agar mudah
indikasi beristirahat

d. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi


penyakit
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
penegtahuan pasien menjadi adekuat
Kriteria Hasil :
 Mendeskripsikan proses penyakit
 Mendeskripsikan factor penyebab
 Mendeskripsikan factor resiko
 Mendeskripsikan tanda dan gejala
 Mendeskripsikan komplikasi

28
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji tingkat pengetahuan 1. Mengetahui kemampuan kognitif
klien agar dapat memilih intervensi
yang tepat
2. Berikan kesempatan pada 2. Memberikan kesempatan untuk
klien untuk menanyakan menggali keingintahuan klien
hal-hal mengenai mengenai penyakitnya
penyakitnya
3. Informasikan pada klien 3. Membantu agar klien dapat
mengenai penyakit mengerti dan paham dengan
penyakitnya
4. Berikan kesempatan pada 4. Mengevaluasi intervensi yang
klien untuk mengulangi telah dilakukan pada klien
kembali informasi yang
telah disampaikan

e. Ketidakefektifan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan


dengan nafsu makan menurun
Tujuan : nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh
Kriteria hasil :
 Nafsu makan membaik
 Keadaan umum membaik
 Klien tampak mau makan

INTERVENSI RASIONAL
1. Jelaskan tentang manfaat 1. Dengan pemahaman klien akan
makan bila dikaitkan lebih kooperatif mengikuti aturan
dengan kondisi klien saat
ini

29
2. Anjurkan agar klien 2. Untuk menghindari makanan
memakan makanan yang yang justru dapat mengganggu
tersedia di RS proses penyembuhan klien
3. Lakukan dan ajarkan 3. Higiene oral yang baik akan
perawatan mulut sebelum meningkatkan nafsu makan klien
dan sesudah makan serta
sebelum dan sesudah
intervensi/periksaan peroral
4. Tingkakan lingkungan 4. Makan adalah bagian dari
yang menenangkan untuk peristiwa sosial, dan nafsu makan
makan dengan teman jika dapat meningkat dengan
memungkinkan sosialisasi
5. Berikan makanan dalam 5. Makanan hangat dapat
keadaan hangat meningkatkan nafsu makan
6. Berikan makanan selingan 6. Membantu memenuhi kebutuhan
(mis; keju, biskuit, sup, dan meningkatkan pemasukan
buah-buahan) yang tersedia
dalam 24 jam
7. Kolaborasi tentang 7. Meningkatkan pemenuhan sesuai
pemenuhan diet klien dengan kondisi klien

30
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Rhinitis adalah suatu inflamasi (peradangan) pada membran
mukosa di hidung. (Dipiro, 2005).
Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 )
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :
 Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan,
misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta
jamur
 Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan,
misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang
 Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya
penisilin atau sengatan lebah
 Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau
jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan
B. Saran
penyusun sangat membutuhkan saran, demi meningkatkan kwalitas
dan mutu makalah yang kami buat dilain waktu. Sehingga penyusun dapat
memberikan informasi yang lebih berguna untuk penyusun khususnya dan
pembaca umumnya.

31
DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.undip.ac.id/50833/3/Syaffa_Sadida_Zahra_22010112130082_Lap.K
TI_Bab_2.pdf

http://eprints.unsri.ac.id/876/1/Penatalaksanaan_Rhinitis_Alergi_Terkini.pdf

https://www.academia.edu/13520252/ASUHAN_KEPERAWATAN_PADA_RHI
NITIS

https://www.academia.edu/14855919/Rhinitis_Alergika

http://adisuryamandala.blogspot.co.id/2013/10/askep-rhinitis.html

http://diseaseinfonow.blogspot.com/2016/11/patofisiologi-rhinitis.html

https://www.slideshare.net/putuwijayakandhi/rhinitis-alergi

32