Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

KETERAMPILAN KIMIA

PEMBUATAN LILIN AROMATERAPI

DISUSUN OLEH :

1. Fajri Nur Maghfirah (16312241011)


2. Aini Putri Ratnasari (16312241012)
3. Vina Jazaul Khusna (16312241013)
4. Widya Santi Ratna Dewi (16312241015)
5. Nurul Kamalia Habibah (16312241017)

KELOMPOK :3

KELAS : PENDIDIKAN IPA 3A

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2017
A. JUDUL PERCOBAAN
Pembuatan Lilin Aromaterapi

B. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mengetahui cara membuat lilin aromaterapi
2. Mengetahui fungsi masing-masing bahan dalam proses pembuatan lilin
aromaterapi

C. LATAR BELAKANG
Lilin adalah sumber penerangan yang terdiri dari sumbu yang diselimuti oleh
bahan bakar padat. Sebelum abad ke-19, bahan bakar yang digunakan biasanya adalah
lemak sapi (yang mengandung asam stearat). Sekarang yang digunakan adalah parafin.
Pada zaman sekarang ini, lilin jarang sekali digunakan untuk penerangan. Hal
ini dikarenakan telah menggunakan penerangan listrik, sehingga penggunaan lilin
sebagai penerang tidak efektif kembali. Sekarang ini, lilin lebih banyak digunakan
unuk kepentingan lainnya, seperti dalam upacara agama, perayaan ulang tahun,
pewangi ruangan dan lain sebagainya.
Lilin aromatherapy bisa dijadikan penghias sekaligus sebagai pewangi
ruangan. Lilin ini dapat memberikan ambiance dan atmosfer yang cukup berbeda jika
diaplikasikan ke dalam ruangan. Lilin aromatherapy memiliki beragam aroma, seperti
buah-buahan, bunga-bungaan, ataupun rempah-rempah.
Lilin ini dapat dibuat sendiri dengan mudah. Kita dapat memvariasikannya
dengan bentuk, warna dan aroma yang kita inginkan. Pada praktikum ketrampilan
kimia kali ini kita akan membuat lilin aromatherapy sederhana dengan bahan-bahan
dan alat yang mudah didapat dan ekonomis, serta dapat memberikan hasil lilin yang
dapat menyala dan memberikan efek ketenangan terhadap lingkungan.

D. DASAR TEORI
Sejak 1500 tahun yang lalu, sebelum gas dan listrik menjadi sumberdaya yang
umun digunakan, lilinlah yang menjadi sumber penerangan utama. Sampai saat ini
lilin tetap menjadi pilihan dan memberikan nuansa baru sebagai alternatif dekorasi
ruangan yang akan menciptakan suasana yang berbeda tergantung bentuk, letak, warna
dan aksesoris lilin yang dipakai (Murhananto,1999).
Sebelum tahun 1854, lilin terbuat dari bahan baku lemak hewan, malam
tawon, dan terkadang diberi campuran asam stearin. Lilin dari lemak hewan
menimbulkan asap hitam dan bau tidak sedap, sedangkan lilin dari malam tawon
harganya mahal dan sulit didapatkan. Barulah pada abad ke-20, ditemukan bahan baku
lilin yang lebih murah, mudah didapat, waktu bakar lebih lama dan lebih mudah
diolah, yaitu stearin ( Saraswati, 1985).
Parafin adalah bahan baku lilin yang biasa digunakan, parafin adalah nama
umum untuk hidrokarbon alkana dengan formula CnH2n+2. Lilin parafin merujuk pada
benda padat dengan n=20. (Murhananto,1999)
Lilin adalah sumber penerangan yang terdiri dari sumbu yang diselimuti oleh
bahan bakar padat. Sebelum abad ke-19, bahan bakar yang digunakan biasanya adalah
lemak sapi (yang banyak mengandung asam stearat). Dalam kimia, parafin adalah
nama umum untuk hidrokarbon alkana dengan formula CnH2n+2. (Saraswati, 1985)
Molekul parafin paling simpel adalah metana, CH4, sebuah gas dalam
temperatur ruangan. Anggota sejenis ini yang lebih berat, seperti oktan C8H18, muncul
sebagai cairan pada temperatur ruangan. Bentuk padat parafin, disebut lilin parafin,
berasal dari molekul terberat mulai C20H42 hingga C40H82. Lilin parafin pertama
ditemukan oleh Carl Reichenbach tahun 1830. (Ketaren, 1986)

Parafin, atau hidrokarbon parafin, juga merupakan nama teknis untuk sebuah
alkana pada umumnya, tetapi dalam beberapa hal kata ini merujuk pada satu linear,
atau alkana normal - di mana bercabang, atau isoalkana juga disebut isoparafin.
Berbeda dari bahan bakar yang dikenal di Britania dan Afrika Selatan sebagai minyak
parafin atau hanya parafin, yang disebut sebagai kerosin di sebagian besar AS,
Australia dan Selandia Baru. (Ketaren, 1986)

Namanya berasal dari kata Latin parum (= jarang) + affinis dengan arti
seluruhnya "sedikit affinitas", atau "sedikit reaktivitas". Ini diakibatkan oleh alkana
yang non kutub dan sedikit gugus fungsional-nya, sangat tidak reaktif.(Britania, 1991)

Lilin aromatherapy adalah salah satu adalah salah satu bentuk diservikasi dari
produk lilin, yaitu aplikasi lain dari cara inhalasi atau penghirupan aromatherapy.
Aroma yang muncul saat lilin dibakar akan memberikan rasa tenang, rileks, dan
nyaman. (Primadiati, 2002)

Pembuatan lilin aromatherapy membutuhkan sterin, paraffin, dan minyak


atsiri. Stearin terdapat dalam lemak nabati atau hewani. Stearin juga dapat dibuat
dengan cara mereaksikan asam stearate dengan gliserol pada kondisi tertentu. Stearin
memiliki slip melting point pada kisaran 46o-56oC. Stearin merupakan gliserida yang
mempunyai titik cair tinggi karena mengandung asam palmitat dan asam stearate
dalam jumlah yang tinggi. Kandungan ini menyebabkan stearin berada pada kondisi
pasta padat pada suhu kamar. (Saraswati, 1985)

Paraffin merupakan suatu hidrokarbon yang bentuknya dapat berupa gas tidak
berwarna, cairan putih, atau bentuk padat dengan titik cair rendah. Umumnya paraffin
terkandung dalam minyak bumi yang struktur molekulnya terdiri dari normal paraffin
yaitu normal oktadekana, normal heksaoktana, iso-parafin, sedikit sikloparafin dari
senyawa aromatic. Paraffin terdiri dari tiga jenis, yaitu; soft paraffin wax (30o-42oC),
medium paraffin wax (44o-46oC), dan hard paraffin wax (50o-65oC) (Saraswati, 1985).

Pada pembuatan lilin, stearin perlu dipanaskan. Tujuan dilakukannya


pemanasan pada stearin adalah untuk mencairkan stearin yang semula berwujud padat
pada titik lelehnya yaitu sekitar 69,60C. fungsi dari stearin adalah untuk memberi
bentuk pada lilin yang dibuat, karena stearin akan menjadi padat setelah mendingin.
Sebelum stearin memadat, terlebih dahulu ditambah paraffin dan pewarna. Fungsi
paraffin sebagai bahan bakar untuk lilin agar dapat terbakar. Selain itu tujuan
pencampuran antara paraffin dan stearin adalah agar parfin yang dimasukkan dapat
keras karena sifat dasar dari paraffin adalah cenderung lembek dan lentur di bawah
titik leburnya, maka digabungkan dengan stearin. Bersama stearin paraffin akan
menjadi lilin batangan. (Primadiati, 2002)

Asam stearate (Stearic Acid) adalah asam lemak jenuh yang memiliki berbagai
kegunaan seperti sebagai komposisi tambahan dalam makanan, kosmetik, dan produk
industri. Asam stearate diekstrak dari berbagai jenis lemak hewani, lemak nabati, dan
beberapa jenis minyak lainnya. Senyawa ini juga banyak digunakan untuk mengubah
konsistensi atau suhu leleh suatu produk sebagai pelumas, atau untuk mencegah
oksidasi. ( Sumardjo,2006)

Salah satu penggunaan paling popular asam stearate adalah dalam produksi
lilin. Asam ini digunakan untuk mengeraskan dan memperkuat lilin. Asam stearate
juga memiliki pengaruh pada titik leleh lilin sehingga meningkatkan daya tahan atau
konsistensi nyala lilin. Kegunaan lain dari asam stearate adalah mencegah oksidasi.
Senyawa ini biasanya digunakan untuk melapisi serbuk logam seperti besi dan
aluminium yang digunakan dalam kembang api, sehingga memungkinkannya
disimpan dalam waktu lama. (Sumardjo,2006)

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu lemak tropis penghasil sejenis
minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam. Dalam perdagangan internasional
minyak nilam dikenal sebagai minyak patchouli, dari bahasa Tamil Patchai (hijau)
dan ellai (daun), karena minyaknya disuling dari daun. Aroma minyak nilam dikenal
berat dan kuat dan telah berabad-abad digunakan sebagai wangi-wangian dan bahan
dupa atau setanggi pada tradisi timur. (Kardinan, 2013: 12)

Minyak nilam tergolong dalam minyak atsiri dengan komponen utamanya


adalah patchoulol. Daun dan bunga nilam mengandung minyak ini, tetapi orang
biasanya mendapatkan minyak nilam dari penyulingan uap terhadap daun keringnya.
Minyak nilam yang baik pada umumnya memiliki kadar PA diatas 30%, berwarna
kuning jernih, dan memiliki wangi yang khas dan sulit dihilangkan. (Kardinan, 2013:
13)

Minyak nilam memiliki aroma yang kuat, minyak ini banyak digunakan dalam
industry parfum. Sepertiga dari produk parfum dunia memakai minyak ini. Minyak ini
juga digunakan sebagai pewangi kertas tisu, campuran detergen pencuci pakaian, dan
pewangi ruangan. Fungsi yang lebih tradisional adalah sebagai bahan utama setanggi
dan pengusir serangga perusak pakaian. (Kardinan, 2013:15)

E. METODELOGI PERCOBAAN
a. Hari/tanggal : Senin, 6 November 2017
Waktu : 7.30-9.10 WIB
Tempat : Laboratorium PPG, FMIPA, UNY

b. Alat dan Bahan


1. Alat :
a) Beaker glass 50 ml
b) Erlenmeyer
c) Batang pengaduk
d) Sumbu lilin
e) Lidi
f) Penjepit
g) Thermometer
h) Cetakan lilin
i) Kaki tiga
j) Bunsen
k) Pembakar spiritus
l) Kompor listrik
m) Penangas air

2. Bahan
a) Parafin 50 gram
b) Asam stearat 5 gram
c) Pewarna minyak/krayon
d) Minyak nilam 2 ml
e) Aromaterapi oil 4 ml

c. Prosedur Kerja
Memanaskan parafin dalam penangas air hingga meleleh

Memanaskan asam stearat pada tempat lain hingga meleleh

Mencampurkan pewarna secukupnya ke dalam lelehan stearat, dan


mengaduk hingga homogen

Memasukkan asam stearat ke dalam gelas beaker yang berisi parafin, dan
mengaduk hingga homogen

Menambahkan minyak nilam dan minyak aromaterapi pada suhu 40°C, dan
mengaduk hingga homogen

Meletakkan sumbu ditengah dan menuangkan pada gelas/ cetakan

Menunggu selama 24 jam sampai lilin memadat

F. DATA HASIL PENGAMATAN


1. Organoleptik
a. Warna : Kuning, hijau
b.Tekstur : Keras
c. Perabaan : Halus, kesat

2. Rendemen berat sabun


Massa sebelum = 61 gram
Massa sesudah = 9, 3 gram
Rendemen lilin = 15,3 %

3. Hasil
Praktikan telah membuat lilin berwarna kuning dan kuning lapis hijau, namun
ketika dinyalakan tidak beratahan dengan lama

G. ANALISIS DATA

Berat bahan baku 61 gram


Berat total dari kedua 9, 3 gram
lilin yang diperoleh

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎 𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ


Rendemen = x 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
9,3
= x 100%
61

= 15,3 %

H. PEMBAHASAN
Percobaan yang berjudul “Pembuatan Lilin Aromaterapi” ini dilaksanakan
pada hari Senin tanggal 6 November 2017. Percobaan tersebut bertujuan untuk
mengetahui cara membuat lilin aromaterapi dan mengetahui fungsi masing-masing
bahan dalam proses pembuatan lilin aromaterapi.
Sebelum memulai percobaan, praktikan perlu untuk mempersiapkan alat dan
bahan. Alat-alat yang digunakan antara lain beaker glass 50 ml, Erlenmeyer, batang
pengaduk, sumbu lilin, lidi, penjepit, thermometer, cetakan lilin, kaki tiga, bunsen,
pembakar spiritus, kompor listrik serta penangas air. Sementara itu, bahan yang
diperlukan yaitu paraffin 50 gram, asam stearat 5 gram, pewarna minyak/krayon,
minyak nilam 2 ml dan aromaterapi oil 4 ml.

Adapun kegunaan dari masing-masing bahan tersebut antara lain; yang


pertama yaitu paraffin digunakan sebagai bahan bakar untuk lilin agar mudah terbakar,
lalu asam stearat, penambahan asam stearat berfungsi untuk memberi bentuk pada
lilin, karena asam stearat akan memadat setelah dingin, asam stearat juga memiliki
pengaruh pada titik leleh lilin sehingga meningkatkan daya tahan dan konsistensi
nyala lilin, yang ketiga pewarna minyak/ krayon yang berfungsi untuk memberikan
warna pada lilin yang dihasilkan, selanjutnya yaitu minyak nilam yang berfungsi
sebagai zat pewangi, dan juga dapat menghambat kecepatan penguapan zat pewangi
pada lilin, dan yang terakhir yaitu minyak arpmaterapi/ aromatherapy oil yang
berfungsi untuk memberikan aroma/wangi-wangian pada lilin aromatherapy.

Setelah alat dan bahan telah siap, selanjutnya praktikan dapat melakukan
percobaan. Mula–mula praktikan memanaskan parafin dalam penangas air hingga
meleleh. Kemudian memanaskan asam stearat pada tempat lain hingga meleleh.
Tujuan dilakukannya pemanasan pada asam stearat adalah untuk mencairkan asam
stearat yang semula berwujud padat pada titik lelehnya yaitu sekitar 69,6 0C . Langkah
selanjutnya yaitu mencampurkan pewarna secukupnya ke dalam lelehan stearat, dan
mengaduk hingga homogen. Lalu memasukkan asam stearat ke dalam gelas beaker
yang berisi parafin, dan mengaduk hingga homogen.

Menurut Vickers et al (1999), pencampuran antara paraffin dan stearin


bertujuan agar paraffin yang dimasukkan dapat keras karena sifat dasar dari paraffin
ialah cenderung lembek dan lentur pada temperatur dibawah titik leburnya, maka
digabungkan dengan stearin.

Selanjutnya praktikan menambahkan minyak nilam dan minyak aromaterapi


pada suhu 40°C, dan mengaduk hingga homogen. Pada praktikum ini, lilin
aromaterapi yang dibuat ditambahkan dengan minyak nilam sebagai fiksatif dan juga
ditambah minyak aromaterapi. Minyak nilam merupakan zat fiksatif yang mampu
mengikat aroma sehingga dapat bertahan lebih lama. Minyak nilam disini akan
mengikat aroma dari minyak aromaterapi yang dicampurkan sehingga walaupun lilin
lama diletakkan dalam ruang terbuka, aroma minyak aromaterapi tidak cepat hilang.

Setelah mencampurkan minyak nilam dan minyak aromaterapi, selanjutnya


praktikan meletakkan sumbu ditengah dengan cara menggantungkan sumbu lilin pada
lidi yang diletakkan di atas cetakan lilin. Kemudian praktikan menuangkan cairan lilin
pada gelas/cetakan. Langkah yang terakhir yaitu menunggu selama 24 jam hingga lilin
memadat.

Hasil yang praktikan peroleh kemudian diuji nyala, seperti yang ditunjukkan
pada gambar di bawah ini :
Gambar 1 : Lilin aromaterapi warna kuning

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Gambar 2 : Lilin aromaterapi warna kuning lapis hijau

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Berdasarkan uji nyala yang telah praktikan lakukan, dapat praktikan ketahui
bahwa kedua lilin dapat menyala akan tetapi api yang dihasilkan cepat mati karena
tenggelam.

Menurut literature Guenther (1995), daya bakar dipengaruhi oleh komposisi


bahan yang digunakan pada pembuatan lilin tersebut. Lilin yang memiliki daya bakar
terlama cenderung memiliki kandungan stearin yang banyak karena stearin dapat
menyebabkan daya tahan lilin lebih lama dan tidak cepat meleleh serta kadar parafin
yang tidak sedikit sedangkan lilin akan cepat terbakar apabila daya lelehnya tinggi
karena stearin dan parafin yang sedikit sehingga lilin tidak dapat bertahan lama.

Hasil data pengujian pada praktikum menunjukkan ketidaksesuaian dengan


literatur yang ada dikarenakan lilin yang dihasilkan lunak dan sumbunya terlalu
pendek. Solusi yang dapat praktikan lakukan yaitu sumbu lilin sebaiknya diganti
dengan sumbu yang lebih besar dan stearin atau asam stearatnya ditambah.

I. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan, praktikan dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Cara membuat lilin aromaterapi yaitu :
a. Memanaskan parafin dalam penangas air hingga meleleh
b.Memanaskan asam stearat pada tempat lain hingga meleleh
c. Mencampurkan pewarna secukupnya ke dalam lelehan stearat, dan mengaduk
hingga homogeny
d.Memasukkan asam stearat ke dalam gelas beaker yang berisi parafin, dan
mengaduk hingga homogeny
e. Menambahkan minyak nilam dan minyak aromaterapi pada suhu 40°C, dan
mengaduk hingga homogeny
f. Meletakkan sumbu ditengah dan menuangkan pada gelas/ cetakan
g.Menunggu selama 24 jam sampai lilin memadat
2. Fungsi masing-masing bahan dalam proses pembuatan lilin aromaterapi yaitu :
a. Parafin
Sebagai bahan bakar pembuatan lilin
b.Asam stearat
Untuk mengeraskan, memperkuat lilin, meningkatkan daya tahan atau konsistensi
nyala lilin dan mencegah oksidasi.
c. Pewarna minyak/krayon
Untuk memberi warna pada lilin
d.Minyak nilam
Sebagai zat pewangi, dan juga dapat menghambat kecepatan penguapan zat
pewangi.
e. Aromaterapi
Untuk memberi aroma/bau pada lilin saat dibakar

J. JAWABAN PERTANYAAN
1. Apa fungsi penambahan masing-masing bahan?
Jawab :
 Parafin merupakan bahan utama pembuat lilin aromatherapy. Paraffin
sebagai bahan bakar untuk lilin agar mudah terbakar.
 Asam stearate ditambahkan berfungsi untuk memberi bentuk pada lilin,
karena asam stearat akan memadat setelah dingin. Tujuan pencampuran
paraffin dengan asam stearate adalah agar paraffin yang dimasukkan dapat
keras karena sifat dasar dari paraffin adalah cenderung lembek dan lentur
pada temperature di bawah titik leburnya. Bersama asam stearate paraffin
akan menjadi lilin batangan. Asam stearate juga memiliki pengaruh pada
titik leleh lilin sehingga meningkatkan daya tahan dan konsistensi nyala
lilin.
 Pewarna minyak/ krayon ditambahkan berfungsi untuk memberikan warna
pada lilin yang dihasilkan.
 Minyak nilam ditambahkan berfungsi untuk zat pewangi, dan juga dapat
menghambat kecepatan penguapan zat pewangi.
 Aromatherapy ditambhkan berfungsi untuk memberikan aroma/ wangi-
wangian pada lilin aromatherapy.
2. Mengapa dalam melelehkan parafin harus menggunakan panci khusus (atau dalam
percobaan menggunakan penangas air)?
Jawab :
Karena paraffin akan meleleh pada suhu 50oC sampai 60oC. Penggunaan penangas
air atau panci khusus bertujuan agar suhu yang digunakan untuk melelehkan lilin
tidak terlalu tinggi. Sebab lilin akan meleleh pada suhu kisaran 50oC. jika suhu
terlalu tinggi maka akan menyebabkan cairn wax menguap dan bercampur dengan
oksigen di udara.
3. Mengapa pewarna yang digunakan adalah pewarna minyak? Bisakah
menggunakan pewarna yang larut dalam air? Jelaskan!
Jawab :
Pewarna yang digunakan adalah pewarna yang berbahan dasar minyak, karena
sesuai dengan karakter lilin, sehingga dapat bercampur secara homogen. Tidak
bisa menggunakan pewarna yang larut dalam air, karena pewarna tersebut tidak
larut dalam lilin atau minyak. Sehingga hanya akan menggumpal dibagian bawah
dan tidak dapat tercampur secara homogen dengan lilin.
4. Parafin adalah hidrokarbon, apakah efeknya jika hidrokarbon dibakar? Apakah
produk hasil pembakaran hidrokarbon terlihat ketika lilin dipanaskan? Jelaskan!
Jawab :
Pembakaran hidrokarbon ada 2 yaitu pembakaran sempurna dan tidak sempurna.
Pembakaran sempurna menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan air,
sedangkan pembakaran tidak sempurna menghasikan padatan karbon, gas CO, gas
CO2, dan air
Pada proses pembakaran lilin, terjadi pembakaran sempurna sehingga dihasilkan
gas CO2 dan H2O. hasil pembakaran ini tidak terlihat kerena berupa gas.

K. DAFTAR PUSTAKA
Britania. 1991. Parrafin Bahan Pembuat Lilin (terjemahan). Jakarta : Erlangga

Guenther, E. 1955.The essential oil. Volume 5. Robert F.K rieger Publishing Co.

Inc.Huntington New York.

Kardinan, Agus. 2013. Mengenal Lebih Dekat Nilam Tanaman Beraroma Wangi

untuk Parfum dan Kosmetika.Bogor : Agromedia Pustaka.

Ketaren S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak Lemak dan Pangan. Jakarta : UI Press.

Murhananto, Ria Aryasatyani. 1999. Membuat dan Mendekorasi Lilin. Jakarta : Puspa
Swara.

Primadiati, Rahmi. 2002. Aromatherapi : Perawatan Alami untuk Sehat dan Cantik

Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Saraswati. 1985. Berkreasi dengan Lilin. Jakarta : Bhratara Karya Aksara.

Sumardjo, Damin. 2006. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa.


Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta : Penebit Buku
Kedokteran EGC.

Vickers, A dan Zollman. 1999. Pijat Therapies. BMJ. 319 (7219) :1254-1257.
L. LAMPIRAN

Gambar.1. Meletakkan sumbu ditengah cetakan Gambar.2. Memotong sumbu

Sumber. Dokumen Pribadi Sumber. Dokumen Pribadi

Gambar.3. Memanaskan campuran Gambar.4. Mencampur larutan ketika dipanaskan

Sumber. Dokumen Pribadi Sumber. Dokumen Pribadi

Gambar.5. Menambahkan minyak nilam Gambar.6. Mencampur larutan ketika dipanaskan

Sumber. Dokumen Pribadi Sumber. Dokumen Pribadi


Gambar.7. Memotong sumbu Gambar.8. Menyalakan lilin

Sumber. Dokumen Pribadi Sumber. Dokumen Pribadi

Gambar.9. Lilin menyala Gambar.10. Lilin hanya menyala sebentar

Sumber. Dokumen Pribadi Sumber. Dokumen Pribadi


Gambar.11. Lilin mati Gambar.12. Memotong sumbu

Sumber. Dokumen Pribadi Sumber. Dokumen Pribadi

Gambar.13.Menyalakan lilin Gambar.14. Lilin menyala

Sumber. Dokumen Pribadi Sumber. Dokumen Pribadi


Gambar.15.Lilin menyala sebentar Gambar.16. Lilin mati

Sumber. Dokumen Pribadi Sumber. Dokumen Pribadi

Anda mungkin juga menyukai