Anda di halaman 1dari 21

Refleksi Kasus September 2017

“MANAJEMEN ANESTESI PADA OPERASI


LABIOPALATOSKISIZ DENGAN INTUBASI
ENDOTRAKEAL”

Disusun Oleh:
Fany Angelina Randan
N 111 17 071

Pembimbing Klinik:
dr. Salsiah Hasan, Sp.An

KEPANITERAAN KLINIK ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Memiliki anak merupakan suatu anugerah yang harus disyukuri dan dijaga
sepenuh hati dan jiwa supaya ia dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal.
Setiap keluaraga pasti mengharapkan anaknya sehat, sempurna baik jasmani maupun
rohani. Adakalanya harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan dimana ada
orangtua yang memiliki anak lahir dalam kondisi cacat bawaan, seperti malformasi
fasial. 1

Malformasi fasial sebagai kondisi cacat bawaan terdiri dari beberapa jenis,
yaitu labioskizis, palatoskizis dan labiopalatoskiziz. Labioskizis adalah adanya celah
pada bibir, sedangkan palatoskizis adalah celah yang terdapat pada palatum.
Labiopalatoskizis adalah kelainan bawaan pada anak dimana terdapat celah pada bibir
dan palatum yang merupakan malformasi fasial yang terjadi dalam perkembangan
embrio. 1

Tingkat kelainan labiopalatoskizis bervariasi, mulai dari yang ringan hingga


berat. Celah yang terjadi disalah satu bibir dan tidak memanjang hingga kehidung
disebut unilateral incomplete, jika celah terdapat pada salah satu bibir dan
memanjang hingga kehidung disebut unilateral complete dan apabila celah terjadi
dikedua sisi bibir dan memanjanng hingga kehidung disebut bilateral complete. 1Berat
badan menjadi salah satu syarat bagi bayi untuk bisa dilakukan koreksi operasi untuk
menutup celah pada bibir dan palatum. Bayi yang akan dioperasi harus memiliki berat
badan minimal 5 kg, kadar Hb 10 g/dl dan leukosit < 10.000 /ul serta umur bayi
sudah mencapai 3 bulan.1

2
Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai
tindakan meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang
mengalami pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien
gawat, terapi inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun.

Secara garis besar anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi umum
dan anestesi regional. Anestesi umum adalah keadaan tidak sadar tanpa nyeri yang
reversible akibat pemberian obat-obatan, serta menghilangkan rasa sakit seluruh
tubuh secara sentral. Perbedaan dengan anestesi regional adalah anestesi pada
sebagian tubuh, keadaan bebas nyeri tanpa kehilangan kesadaran.Anestesi regional
terbagi atas anestesi spinal (anestesi blok subaraknoid), anestesi epidural dan blok
perifer. 2Anestesi spinal dan anestesi epidural telah digunakan secara luas di bidang
ortopedi, obstetri dan ginekologi, operasi anggota tubuh bagian bawah dan operasi
abdomen bagian bawah.2

3
BAB II

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien

Nama : An. T.N.I


Jenis kelamin : Perempuan
Usia : 1 Tahun 11 bulan
Berat Badan : 8,1 kg
Tinggi Badan : 75 cm
Agama : Islam
Pekerjaan :-
Alamat : Jln. Sungai Lariang

B. Anamnesis
Dilakukan anamnesis secara heteroanamnesis (ibu pasien)
 Keluhan Utama
Bibir Sumbing
 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien diantar oleh orangtuanya ke polik Rumah Sakit Umum Daerah Undata
Palu dengan keluhan terdapat celah pada mulut dan langit-langit mulut.
Keluhan pada pasien sudah dialami dari lahir. Namun orangtua pasien
mengaku pasien mengalami kesulitan saat menyusu, tidak nyeri pada celah,
sesak (-), sulit menelan (-), mual dan muntah (-), serta BAK dan BAB
normal. Keluhan yang lain disangkal.
 Riwayat Penyakit Dahulu
o Riwayat alergi (-)
o Riwayat asthma (-)

4
o Riwayat penyakit jantung (-)
o Riwayat hipertensi (-)
o Riwayat operasi sebelumnya (-)
 Past Medical History : Tidak ada riwayat anastesi sebelumnya

C. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Status Gizi : Kurang
 B1- (Breathing) dan Evaluasi Jalan Nafas
 Airway clear, gurgling/snoring/crowing:(-/-/-), rhonki (-), whezzing (-),
nafas spontan, RR 24x/menit.
 Portusi mandibular (-), buka mulut (5 cm), jarak mentohyoid (2 cm),
jarak hyothyoid (2 cm), mallampati (0), gigi palsu (-), kebersihan rongga
mulut baik, leher pendek (-), gerak leher bebas, tenggorokT1-1faring
hiperemis tidak ada, malampathy: kelas I, obesitas (-), massa (-), gigi
geligi lengkap (tidak ada gigi palsu), sulit ventilasi (-).
 Suara pernapasan: Vesikuler(+/+), suara tambahan (-), Riwayat asma (-),
alergi (-), batuk (-), sesak (-), masalah lain pada sistem pernapasan (-).
 Hidung : perdarahan (-), deviasi septum (-), polip (-).
 B2 (Blood)
 Akral hangat, , bunyi jantung SI dan SII murni regular, Nadi 100x/menit,
Masalah pada sistem kardiovaskular (-)
 B3 (Brain)
 Compos mentis, GCS E4V5M6, pupil : isokor Ø 2 mm | 2 mm, refleks
cahaya +|+,sclera ikterus (-), konjungtiva anemis (-), deficit neurologis (-
), masalah pada system neuro/musculoskeletal (-).

5
 B4 (Bladder)
 BAK (+), kuning jernih, BAB biasa. Masalah pada system renal/endokrin
(-).
 B5 (Bowel)
 Abdomen : tampak cembung kesan normal, peristaltik (+), nyeri tekan (-
), Mual (-), muntah (-). Masalah pada sistem hepatogastrointestinal (-)
 B6 (Bone/Body)
 Akral hangat (+), Mobilitas (+), edema (-), sianosis (-), anemis (-), ikterik
(-), CRT <2 detik, skoliosis (-), lordosis (-), hemiparesis (-), distrofi otot
(-), motorik dan sensorik normal.

D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal (10 agustus 2017)
Parameter Hasil Satuan Keterangan
RBC 5,16 106/uL Normal
WBC 10,53 103/uL Normal
PLT 481 103/uL Meningkat
Hb 13,0 g/dL Normal
HCT 34,7 % Normal
BT 3 Menit Normal
CT 7 Menit Normal
LED 10 mm/jam Normal
HBsAg Non Reaktif Normal
GDS 87 mg/dL Normal
Ureum 15,4 U/L Normal
Kreatinin 0,25 U/L Menurun

6
Mallampati : I
PS ASA : II
Diagnosi Pra bedah : Cleft Lip and Palate Bilateral Complex

E. Planning Anestesi
1. Di Ruangan
a. Surat persetujuan operasi (+), surat persetujuan tindakan anestesi (+)
b. Puasa: (+) 5 jam preop
c. IVFD RL 10 tpm selama puasa

2. Di Kamar Operasi
Hal-hal yang perlu dipersiapkan di kamar operasi antara lain adalah:
a. Meja operasi dengan asesoris yang diperlukan
b. Mesin anestesi dengan sistem aliran gasnya
c. Alat-alat resusitasi (STATICS)
d. Obat-obat anestesia yang diperlukan.
e. Obat-obat resusitasi, misalnya; adrenalin, atropine, aminofilin, natrium
bikarbonat dan lain-lainnya.
f. Tiang infus, plaster dan lain-lainnya.
g. Alat pantau tekanan darah, suhu tubuh, dan EKG dipasang.
h. Alat-alat pantau yang lain dipasang sesuai dengan indikasi, misalnya;
“Pulse Oxymeter” dan “Capnograf”.
i. Kartu catatan medic anestesia
j. Selimut penghangat khusus untuk bayi dan orang tua.
Tabel Komponen STATICS

S Scope Stetoscope untuk mendengarkan suara paru dan


jantung.

7
Laringo-Scope: pilih bilah atau daun (blade) yang
sesuai dengan usia pasien. Lampu harus cukup terang.

T Tubes Pipa trakea, pilih sesuai ukuran pasien, pada kasus ini
digunakan laryngeal mask airway ukuran 2 ½

A Airways Pipa mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau


pipa hidung-faring (nasi-tracheal airway). Pipa ini
menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk
mengelakkan sumbatan jalan napas.

T Tapes Plaster untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau


tercabut.

I Introducer Mandarin atau stilet dari kawat dibungkus plastic


(kabel) yang mudah dibengkokkan untuk pemandu
supaya pipa trakea mudah dimasukkan. Pada pasien ini
tidak digunakan introducel atau stilet.

C Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anastesia.

S Suction Penyedot lendir, ludah dan lain-lainnya.

F. Durante Operasi
Laporan Anastesi
 Anestesiologi : dr. Ferry Lumintang Sp.An
 Ahli Bedah : drg. Moh. Gazali Sp.BM
 Jenis operasi : Labioplasty
 Jenis anestesi : Anestesi Umum (General Anastesi)
 Tehnik anestesi : Intubasi ETT
 ETT No. : 4.0

8
 Anastesi dengan : Sevoflurance 2Vol%
 Lama operasi : 09.55 – 11.30 (1 jam 40 menit)
 Lama anestesi : 09.45 – 11.50 (2 jam 0 menit)
 Infus : 1 line di tangan kiri
 Jumlah medikasi :
 Sedacum 2 mg
 Fentanyl 25mcg
 Propofol 40 mg
 Sevoflurance 2Vol%
 Atracurium 5 mg
 Ketorolac 10 mg

Observasi Heart Rate


160
140
120
100
80
Nadi
60
40
20
0
9:40
9:45
9:50
9:55

11:25
10:00
10:05
10:10
10:15
10:20
10:25
10:30
10:35
10:40
10:45
10:50
10:55
11:00
11:05
11:10
11:15
11:20

11:30
11:35
11:40
11:45
11:50
11:55

Keterangan :

Mulai Anastesi Anastesi Selesai

Mulai Operasi Operasi Selesai

Gambar. Diagram Observasi Heart Rate

9
Pemberian Cairan
 Cairan Masuk
- Pre Operatif : 100cc
- Durante Operatif : 500cc
- Total input Cairan : 600cc
 Cairan keluar
- Durante Operasi
 Urin : -
 Perdarahan : 50cc

PERHITUNGAN CAIRAN
a) Estimated Blood Volume (EBV)
BB : 8,1 kg
EBV = 75 cc/kgBB x 8,1 kg = 600cc
Jumlah perdarahan = ±50cc
% Perdarahan = 50cc/ 600cc x 100% = 8,3 % (perdarahan kelas 1)

b) Input yang diperlukan selama operasi


1. Cairan Maintanance (M) = 4 : 2 : 1 cc/jam
= 4cc x 8,1kg = 32 cc/jam
= 32cc x 24jam = 760 cc/24jam
Jadi, cairan maintenance selama 1 jam 40 menit operasi adalah 52 cc
2. Cairan defisit pengganti puasa (P) :
Lama puasa x maintenance = 5 jam x 32cc = 150 ml
Cairan yang masuk saat puasa :
Jumlah cairan (ml) :
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑡𝑒𝑠𝑎𝑛 (𝑡𝑝𝑚)𝑥 𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑝𝑢𝑎𝑠𝑎 (𝑚)
=
20

10
10 𝑥 300
=
20
= 150 ml
Jadi, defisit cairan pengganti puasa selama 5 jam adalah 150 – 150 = 0 cc
3. Stress operasi kecil :
4cc x 8,1 kgBB = 32 cc
4. Cairan defisit :
Darah = 50cc selama 1 jam 40 menit

Total kebutuhan cairan selama 1 jam 40 menit operasi = 52cc + 0 + 32cc = 84


cc

c) Cairan masuk :

Kristaloid : 600 ml
Koloid : -
Whole blood : -
Total cairan masuk : 600 ml

d) Keseimbangan kebutuhan cairan:

Cairan masuk – cairan dibutuhkan = 600 ml – 84 ml = 516 ml

e) Perhitungan cairan pengganti darah :

Transfusi + 3x cairan kristaloid = volume perdarahan

0 + 3x = 50

3x = 50

Untuk mengganti kehilangan darah 50cc diperlukan ± 150 cairan kristaloid.

Total cairan cairan deficit : 516 – 150 = 366 ml

11
SEBELUM OPERASI SESUDAH OPERASI

12
BAB III

PEMBAHASAN

A. Pre Operatif
Berdasarkan anamnesis didapatkan pasien merupakan anak perempuan,
1 tahun 11 bulan, merupakan pasien pediatri yang mengalami bibir sumbing dari
lahir. Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
yang telah dilakukan, diketahui pasien menderita labiopalatoskisis.
Pasien ditetapkan pada klasifikasi PS ASA 2 disebabkan pasien dengan
penyakit sistemik ringan dimana selain adanya labiopalatoskisis.
Pada kasus ini (labioplasti), dilakukan penilaian status dan evaluasi
status generalis dengan pemeriksaan fisik dan penunjang (pemeriksaan
laboratorium) untuk mengoreksi kemungkinan adanya gangguan fungsi organ
yang mengancam serta mempersiapkan darah untuk transfusi untuk
mengantisipasi adanya perdarahan pada pasien. Selain itu, pasien dipuasakan
selama 5 jam sebelum dilakukan operasi.

B. Durante Operatif
Anastesi yang digunakan pada kasus ini adalah dengan general anastesi
dimana lebih menguntungkan pada kasus ini. Sedangkan tekniknya dengan
menggunakan intubasi endotrakeal,Teknik anestesinya semi closed inhalasi
dengan pemasangan endotrakheal tube Ø ukuran 4.0 . Karena dengan teknik ini
saturasi oksigen bisa ditingkatkan, jalan napas terjaga bebas, dan dosis obat
anestesi dapat dikontrol dengan mudah.
Sebelum dilakukan operasi pasien dipuasakan selama 5 jam. Tujuan
puasa untuk mencegah terjadinya aspirasi isi lambung karena regurgitasi atau
muntah pada saat dilakukannya tindakan anestesi akibat efek samping dari obat-
obat anastesi yang diberikan sehingga refleks laring mengalami penurunan selama
anestesia

13
Pada kasus ini dilakukan pemberian premedikasi kurang lebih 5 menit
sebelum dilakukan induksi anestesi dengan tujuan untuk melancarkan induksi,
rumatan dan membangun reaksi anestesi itu sendiri, diantaranya yaitu meredakan
kecemasan dan ketakutan pada pasien yaitu dengan pemberian sedacum. Pada
kasus ini merupakan pasien pediatric yang pada saat memasuki ruang operasi
sudah ketakutan hebat, telah diketahui bahwa tujuan pemberian premedikasi ialah
untuk mengurangi respon terhadap stress hormone endogen, mengurangi obat
induksi maupun rumatan. Penggunaan midazolam untuk premedikasi pada anak-
anak maupun orang usia lanjut memberikan hasil yang baik. Premedikasi
mengurangi stres hormone terutama pada anak-anak. Dosis yang aman untuk
premedikasi iv 0,1-0,2 mg/kgBB. Pada pasien ini, diberi Midazolam dengan
dosis 1 mg untuk efek sedatif. Midazolam merupakan golongan benzodiazepin
merupakan agen obat antiansietas yang bekerja dengan cara berikatan dengan
reseptor di beberapa tempat di sistem saraf pusat termasuk sistem limbik dan
formatio retikularis, menghasilkan efek sedasi yang dimediasi oleh sistem
reseptor GABA, meningkatkan permeabilitas membran neuron yaitu pertukaran
ion Cl- sehingga menghambat efek inhibisi GABA.
Kemudian pasien diberikan Fentanil 25 µg intravena digunakan sebagai
analgesi opioid. Fentanil adalah analgesik narkotik yang poten, bisa digunakan
sebagai tambahan untuk general anastesi yang memiliki kerja cepat dan efek
durasi kerja kurang lebih 30 menit setelah dosis tunggal. Penggunaan premedikasi
pada pasien ini betujuan untuk menimbulkan rasa nyaman pada pasien dengan
pemberian analgesia dan mempermudah induksi dengan menghilangkan rasa
khawatir. Injeksi fentanyl 25 mcg pada awalnya sebagai analgesik. Lamanya efek
depresi nafas fentanil lebih pendek dibanding meperidin. Fentanil merupakan
salah satu preparat golongan analgesik opioid dan termasuk dalam opioid potensi
tinggi dengan dosis 100-150 mcg/kgBB. Opioid dosis tinggi yang deberikan
selama operasi dapat menyebabkan kekakuan dinding dada dan larynx, dengan
demikian dapat mengganggu ventilasi secara akut.

14
Pemilihan anestesi inhalasi (sevofluran + O2) pada kasus ini dikarenakan
penangkapan gas-gas anestesi pada anak-anak lebih cepat dibanding orang
dewasa karena proporsi jaringan pembuluh darahnya lebih banyak dan ekskresi
induksi inhalasi pada anak-anakpun lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Pada
pasien ini juga diberikan induksi inhalasi sevofluran karena memiliki efek
terhadap kardiovaskular cukup stabil. Dan setelah pemberian sevofluran
dihentikan maka cepat dikeluarkan oleh tubuh. Pada kasus ini juga diberikan
medikasi propofol, dimana pemberian propofol ini bertujuan pada tekhnik
anestesi yang dilakukan yaitu teknik anestesi spontan dengan pipa endotrakeal.
Pemberian propofol pada teknik ini diharapkan pasien tertidur dengan reflex bulu
mata hilang hingga mempermudah dilakukan intubasi. Induksi pada pasien ini
dilakukan dengan anastesi intravena yaitu Propofol 40 mg I.V Larutan emulsi
dengan konsentrasi 1%, metabolism sangat cepat terutama karena
biotransformasi, memiliki efek induksi yang cepat, dengan distribusi dan
eliminasi yang cepat. Selain itu juga propofol dapat menghambat transmisi
neuron yang hancur oleh GABA. Obat anestesi ini mempunyai efek kerjanya
yang cepat dan dapat dicapai dalam waktu 30 detik.Onset dan pemulihan cepat
seperti halnya pentothal, tetapi tidak ada hangover dan gangguan psikomotor.
Insidens mual dan muntah yang rendah menyebabkan penderita lebih cepat
imobilisasi.
Pemberian Injeksi atracurium besilate 5 mg (Tramus) sebagai pelemas
otot untuk mempermudah pemasangan Endotracheal Tube. Merupakan obat
pelumpuh otot non depolarisasi yang relatif baru yang mempunyai struktur
benzilisoquinolin. Pada umumnya mulai kerja atracurium pada dosis intubasi
adalah 2-3 menit, sedang lama kerja atracurium dengan dosis relaksasi 15-35
menit.
Setelah pelumpuh otot bekerja barulah dilakukan intubasi dengan
laringoskop blade lengkung yang disesuaikan dengan anatomis leher pasien
dengan metode chin-lift dan jaw-trust yang berfungsi untuk meluruskan jalan

15
nafas antara mulut dengan trakea. Setelah jalan nafas dalam keadaan lurus
barulah dimasukkan pipa endotrakeal. Pada pasien ini digunakan ETT dengan
cuff nomor 4.0. Pemasangan ETT pada pasien ini 1 kali dilakukan.
Setelah pasien di intubasi dengan mengunakan endotrakheal, setelah ETT
terfiksasi dilaksanakan pembedahan yang diikuti dengan rumatan atau yang biasa
dikenal dengan maintenance anestesi menggunakan O2 3 lpm + Sevofluran
2Vol% ditambah dengan pemberian cairan parenteral yakni kristaloid untuk
mensubstitusi cairan, baik darah maupun cairan tubuh lainnya, yang keluar
selama pembedahan.
Pemeliharaan atau maintanance adalah tahapan dimana pembedahan
dapat berlangsung dengan baik (untuk para ahli bedah). Yang digunakan adalah
anestesi inhalasi sebab eksresinya melalui sistem respirasi sehingga dengan
adanya gangguan fungsi ginjal tidak akan merubah obat-obat tersebut, obat-obat
yang bisa dipakai antara lain isoflouran, halotan, desfluran, dan sevofluran. Pada
pasien ini digunakan pemeliharaan dengan Sevofluran. Sevoflurane merupakan
hasil fluorinisasi isopropyl metal eter, neripa cairan jernih, tidak berwarna, berbau
enak dan tidak menimbulkan iritasi jalan nafas jika dipakai dengan konsentrasi
tinggi menggunakan sungkup muka. Tidak mudah terbakar, tidak terpengaruh
cahaya dan proses induksi dan pemulihannya relatif cepat dibandingkan dengan
obat-obat anestesi inhalasi lain.
Ventilasi dilakukan dengan bagging dengan laju napas 20 x/ menit.
Sesaat setelah operasi selesai gas anestesi diturunkan untuk menghilangkan efek
anestesi perlahan-lahan dan untuk membangunkan pasien. Juga diharapkan agar
pasien dapat melakukan nafas spontan menjelang operasi hampir selesai.
Kemudian dilakukan ekstubasi endotracheal secara cepat untuk menghindari
penurunan saturasi lebih lanjut.
Penambahan obat medikasi tambahan adalah Sebagai analgetik
digunakan Ketorolac (berisi 30 mg/ml ketorolac tromethamine) sebanyak 1 ampul
(1 ml) disuntikan iv. Ketorolac merupakan nonsteroid anti inflamasi (AINS) yang

16
bekerja menghambat sintesis prostaglandin sehingga dapat menghilangkan rasa
nyeri/analgetik efek.
Beberapa saat setelah pasien dikeluarkan dari ruang operasi, didapatkan
pada pemeriksaan fisik nadi 100 x/menit, dan laju respirasi 24 x/menit. Pada
pasien ini skor Steward adalah 6. Maka pasien dapat dipindahkan keruangan
perawatan atau bangsal.

1) Airway
Management jalan nafas adalah tindakan yang dilakukan untuk
membebaskan jalan napas dengan tetap memperhatikan kontrol servikal.
Tujuannya adalah membebaskan jalan napas untuk menjamin jalan masuknya
udara ke paru secara normal sehingga menjamin kecukupan oksigenase tubuh.
Untuk mempertahankan oksigenasi selama durasi operasi maka
diperlukan tindakan antara lain pemasangan intibasi endotrakeal. Teknik
pemasangan dengan intubasi endotrakeal juga diharapkan dapat
mempertahankan anestesi selama operasi berlangsung. Pada pasien ini
merupakan anak berusia 1 tahun 11 bulan dalam operasi ini tehnik anastesi
dipilih menggunakan intubasi endotrakeal dengan nomor ETT 4.0.
Endotrakeal tube mengantarakan gas anestesi langsung kedalam
trakea. Endotrakeal tube dikerjakan pada pasien yang memiliki kemungkinan
kontaminasi pada jalan nafas, posisi pembedahan yang sulit, pembedahan
dimulut atau muka atau pembedahan yang lama. Selain itu pemasangan
intubasi juga di indikasikan untuk mencegah aspirasi, mengatasi obstruksi
laring, anestesi umum pada operasi dengan napas terkontrol. Sehingga
intubasi dengan ETT dianggap lebih aman jika dibandingkan jika harus
menggunakan LMA. Indikasi pemasangan LMA ialah sebagai alternative dari
ventilasi face mask atau intubasi ETT. Kontraindikasi pemasangan LMA pada
pasien-pasien dengan resiko aspirasi isi lambung dan pasien-pasien yang
membutuhkan dukungan ventilasi mekanik jangka waktu lama.

17
2) Terapi Cairan
Cairan maintenance selama operasi adalah 32 cc/jam. Sehingga cairan
maintenance selama 1 jam 40 menit operasi adalah 52 cc/jam. Hasil tersebut
didapatkan dengan mengunakan rumus 4.2.1 cc/jam/kgBB.
Sementara itu untuk deficit penganti puasa selama puasa didapatkan
melalui rumus (lama puasa x maintenance). Pasien dipuasakan 5 jam
sebelum operasi berlangsung sehingga didapatkan hasil untuk deficit
pengganti puasanya sebanyak 150cc. sementara cairan yang masuk selama
puasa didapatkan melalui rumus ( tpm x lama puasa(menit) /20) dan
didapatkan hasil 150cc. Yang dimana jumlah tersebut sudah sesuai untuk
menggantikan kehilangan cairan pasien selama puasa.
Selama operasi yang berlangsung 1 jam 40 menit (operasi kecil)
dimana setiap operasi dapat menimbulkan stress metabolik maka diperlukan
penggantian 32cc. Adanya perdarahan sebanyak 50cc. Maka total cairan
yang harus digantikan pada pasien ini selama operasi adalah 32cc + 50cc =
84cc. Sedangkan cairan yang masuk selama operasi berlangsung adalah
600cc. Sehingga masih kelebihan cairan durante operasi sebanyak 516cc.
Perhitungan cairan pengganti darah dapat didapatkan dengan rumus
(Transfusi + 3x kristaloid = Volume perdarahan). Dikarenakan jumlah
kehilangan darah pada pasien (EBV) hanya 8,3%, maka tidak diperlukan
tranfusi darah. Hanya perlu penggantian melalui cairan kristaloid. Total
cairan yang diperlukan untuk menggantikan kehilangan darah 50cc
diperlukan ± 150cc cairan kristaloid.

3) Anestesi
Anestesi pada bayi dan anak berbeda dengan anestesi pada orang
dewasa, karena mereka bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini. Seperti
pada anestesia untuk orang dewasa, anesthesia pada anak dan bayi khususnya

18
harus diketahui betul sebelum melakukan anesthesia karena alasan anesthesia
pediatric seharusnya ditangani oleh dokter spesialis anestesiologi yang sudah
berpegalaman.
Induksi anesthesia pada bayi dan anak sebaiknya ada yang membantu.
Induksi diusahakan agar berjalan mulus dengan trauma yang sekecil mungkin.
Induksi dapat dikerjakan secara inhalasi atau intravena.
Induksi inhalasi yaitu anestesi dengan menggunakan gas atau cairan
anestesiyang mudah menguap (volatile agent) sebagai zat anestetik melalui
udara pernapasan. Zat anestetik yang digunakan berupa campuran gas (dengan
O2) dan kosentrasi zat anestetik tersebut tergantung dari tekanan parsialnya.
Tekanan parsial dalam jaringan otak akan menentukan kekuatan daya
anestesi. Zat anestetik disebut kuat bila dengan tekanan parsial yang rendah
sudah dapat memberi anestesi yang adekuat. Dalam kasus ini awalnya pasien
menguunakan sevoflurance sebagai induksi inhalasi dan dilanjutkan dengan
maintenance anastesinya sevoflurance 2 vol% + O2 3 lpm.
Induksi intravena pada pasien ini diberikan propofol 40mg dimana
pemberian propofol ini bertujuan pada tekhnik anestesi yang dilakukan yaitu
teknik anestesi spontan dengan pipa endotrakeal. Pemberian propofol pada
teknik ini diharapkan pasien tertidur dengan reflex bulu mata hilang hingga
mempermudah dilakukan intubasi.
Setelah pembedahan selesai, obat anestetika dihentikan pemberiannya
Ekstubasi dalam keadaan anesthesia ringan, akan menyebabkan batuk-batuk,
spasme laring atau bronkus. Ekstubasi dalam keadaan anesthesia dalam
digemari karena kurang traumatis. Dikerjakan kalau nafas spontannya
adekuat, keadaan umumnya baik dan diperkirakan tidak akan menimbulkan
kesulitan pasca intubasi.

19
BAB IV

KESIMPULAN

Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada setiap operasi yang
melibatkan anestesi. Pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita mengetahui kondisi
pasien dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul sehingga dapat
mengantisipasinya.
Pada kasus ini dilakukan penatalaksanaan anestesi umum dengan teknik intubasi
endotrakeal dengan ETT Ø ukuran 4.0 pada operasi labiopalatoskisiz pada seorang
anak perempuan, usia 1 tahun 11 bulan , status fisik ASA II. Indikasi dilakukannya
teknik intubasi adalah Untuk patensi jalan napas, menjamin ventilasi, oksigenasi yang
adekuat dan menjamin keutuhan jalan napas.
Untuk mencapai hasil maksimal dari anestesi seharusnya permasalahan yang ada
diantisipasi terlebih dahulu sehingga kemungkinan timbulnya komplikasi anestesi
dapat ditekan seminimal mungkin.
Dalam kasus ini selama operasi berlangsung tidak ada hambatan yang berarti
baik dari segi anestesi maupun dari tindakan operasinya.Selama di ruang pemulihan
juga tidak terjadi hal yang memerlukan penanganan serius.Secara umum pelaksanaan
operasi dan penanganan anestesi berlangsung dengan baik.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Mangku, Gde, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta :
PT Indeks
2. Behrman R.E, Kliegman R.M, Arvin A.M. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak Edisi 15 Vol. 2. Jakarta: EGC
3. Pohan F. 2012. Cleft Lip (Labioschisis). Medan: Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Di akses tanggal 19 Maret 2016.
URL:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31860/4/chapter%252011.pdf
4. Behrman R.E, Kliegman R.M, Arvin A.M. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak Edisi 15 Vol. 1. Jakarta: EGC
5. Muhiman M, Thaib M.R dkk. 2004. Anestesiologi. Jakarta: Bagian
Anestesiologi dan Terapi FKUI
6. Katzung, Bertram G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik (Basic Clinical
Pharmacology). Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta: Salemba Medika

21