Anda di halaman 1dari 25

PROSA

Terdiri dari :

Hikayat Cabe Rawit


Pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung antah berantah, hidulah sepasang suami istri. Mereka
merupakan sebuah keluarga yang sangat miskin. Rumahnya dari pelepah daun rumbia yang didirikan
seperti pagar sangkar puyuh. Atap rumah mereka dari daun rumbia yang dianyam. Tidak ada lantai
semen atau papan di rumah tersebut, kecuali tanah yang diratakan dan dipadatkan. Disana tikar
anyaman daun pandan digelar untuk tempat duduk dan istirahat keluarga tersebut.

Demikianlah miskinnya keluarga itu. Rumah mereka pun jauh dari pasar dan keramaian. Namun
demikian, suami-istri yang usianya sudah setengah abad itu sangat rajin beribadah.

“Istriku,” kata sang suami suatu malam. “Sebenarnya apakah kesalahan kita sehingga sudah di usia
begini tua, kita belum juga dianugerahkan seorang anak pun. Padahal, aku tak pernah menyakiti
orang, tak pernah berbuat jahat kepada orang, tak pernah mencuri walaupun kita kadang tak ada
beras untuk tanak.”

“Entahlah, suamiku. Kau kan tahu, aku juga selalu beribadah dan memohon kepada Tuhan agar nasib
kita ini dapat berubah. Jangankan harta, anak pun kita tak punya. Apa Tuhan terlalu membenci kita
karena kita miskin?” keluh sang istri pula. Matanya bercahaya di bawah sinar lampu panyot tanda
berusaha menahan tangis. Demikianlah miskinnya keluarga itu. Rumah mereka pun jauh dari pasar
dan keramaian. Namun demikian, suami-istri yang usianya sudah setengah abad itu sangat rajin
beribadah.

“Istriku,” kata sang suami suatu malam. “Sebenarnya apakah kesalahan kita sehingga sudah di usia
begini tua, kita belum juga dianugerahkan seorang anak pun. Padahal, aku tak pernah menyakiti
orang, tak pernah berbuat jahat kepada orang, tak pernah mencuri walaupun kita kadang tak ada
beras untuk tanak.”
“Entahlah, suamiku. Kau kan tahu, aku juga selalu beribadah dan memohon kepada Tuhan agar nasib
kita ini dapat berubah. Jangankan harta, anak pun kita tak punya. Apa Tuhan terlalu membenci kita
karena kita miskin?” keluh sang istri pula. Matanya bercahaya di bawah sinar lampu panyot tanda
berusaha menahan tangis.

Malam itu, seusai tahajud, suami-istri tersebut kembali berdoa kepada Tuhan. Keduanya memohon
agar dianugerahkan seorang anak. Tanpa sadar, mulut sang suami mengucapkan sumpah, “Kalau aku
diberi anak, sebesar cabe rawit pun anak itu akan kurawat dengan kasih sayang.” Entah sadar atau
tidak pula, si istri pun mengamini doa suaminya.
Beberapa minggu kemudian, si istri mulai merasakan sakit diperutnya. Keduanya tak pernah curiga
kalau sakit yang dialami si istri adalah sakit orang mengandung. Tak ada ciri-ciri kalau perut istri
sedang mengandung. Si istri hanya merasa sakit dalam perut. Sesekali, ia memang merasakan mual.
Waktu terus berjalan. Bulan berganti bulan, pada suatu subuh yang dingin, si istri merasakan sakit
2
dalam perutnya teramat sangat. Bukan main gelisahnya kedua suami-istri tersebut. Hendak pergi
berobat, tak tahu harus pergi ke mana dan pakai apa. Tak ada sepeserpun uang tersimpan. Namun,
kegelisahan itu tiba-tiba berubah suka tatkala ternyata istrinya melahirkan seorang anak. Senyum
sejenak mengambang di wajah keduanya. Akan tetapi, betapa terkejutnya suami-istri itu, ternyata
tubuh anak yang baru saja lahir sangat kecil, sebesar cabe rawit.

“Sudahlah istriku, betapa pun dan bagaimana pun keadaannya, anak ini adalah anak kita. Ingatkah
kau setahun lalu, saat kita berdoa bersama bahwa kita bersedia merawat anak kita kelak kalau
memang Tuhan berkenan, walaupun sebesar cabe rawit?” hibur sang suami. Keduanya lalu
tersenyum kembali dan menyadari sudah menjadi ibu dan ayah.

Singkat cerita, si anak pun dipelihara hingga besar. Anak itu perempuan. Kendati sudah berumur
remaja, tubuh anak itu tetap kecil, seperti cabe rawit. Demi kehidupan keluarganya, sang ayah
bekerja mengambil upah di pasar. Ia membantu mengangkut dagangan orang untuk mendapatkan
sedikit bekal makanan yang akan mereka nikmati bersama.

Sahdan, suatu ketika si ayah jatuh sakit, tak lama kemudian meninggal dunia. Sedangkan si ibu,
tubuhnya mulai lemas dimakan usia. Bertambahlah duka di keluarga itu sejak kehilangan sang ayah.
Kerja si ibu pun hanya menangis. Tak tahan melihat keadaan orangtuanya, si anak yang diberi nama
cabe rawit karena tubuhnya memang kecil seperti cabe, berkata pada ibunnya, “Ibu aku akan ke
pasar. Aku akan bekerja menggantikan ayah.”

“Jangan anakku, nanti kalau kau terpijak orang, bagaimana? Ibu tak mau terjadi apa-apa pada
dirimu,” sahut ibunya.

“Sudahlah, Ibu, yakinlah aku tak kan apa-apa. Aku pasti bisa. Aku kan sudah besar.”

“Anakku, kau satu-satunya harta yang tersisa di rumah ini. Kau satu-satunya milik ibu sekarang. Ibu
tak mau kehilangan dirimu,” kata ibu lagi.

“Aku akan mencoba dahulu, Bu. Dengan doa ibu, yakinlah kalau aku tidak akan apa-apa. Nanti, kalau
memang aku tidak bisa bekerja, aku akan pulang. Tapi, izinkan aku mencobanya dahulu, Ibu,” bujuk
cabe rawit berusaha meyakinkan ibunya.

Cabai rawit terus mendesak ibunya agar diizinkan bekerja ke pasar. Sahdan, sang ibu pun akhirnya
memberikan izin kepada cabe rawit. Maka pergilah cabe rawit ke pasar tanpa bekal apa pun. Belum
sampai ke pasar, di perempatan jalan, melintaslah seorang pedagang pisang. Raga pisang pedagang
itu nyaris saja menyentuh cabe rawit. “Mugè pisang, mugè pisang, hati-hati, jangan sampai raga
pisangmu menghimpit tubuhku yang kecil ini,” kata cabe rawit.

Spontan pedagang pisang menghentikan langkahnya. Ia melihat ke belakang, lalu ke samping, tapi
tak dilihatnya seorang pun manusia.

“Mugè pisang, mugè pisang, hati-hati, jangan sampai raga pisangmu menghimpit tubuhku yang kecil
3
ini.” Terdengar kembali suara serupa di telinga pedagang pisang. Ia kembali melihat ke belakang dan
ke samping. Tapi, tetap tak ditemukannya sesosok manusia pun. Sampai tiga kali ia mendengar suara
dan kalimat yang sama, mugè pisang merasa ketakutan. Akhirnya, dia berlari meninggalkan pisang
dagangannya. Ia mengira ada makhluk halus. Padahal, si cabe rawit yang sedang bicara. Karena
tubuhnya yang mungil, pedagang pisang itu tidak melihat keberadaan cabe rawit di sana.
Sepeninggalan mugè pisang, pulanglah cabe rawit membawa pisang yang sudah ditinggalkan mugè
itu. Sesampainya di rumah, si ibu heran melihat anaknya membawa pisang. “Darimana kau dapatkan
pisang-pisang ini, Rawit?” tanya si ibu.

Cabe rawit menceritakan kejadian di jalan sebelum ia sempat sampai ke pasar. “Daripada diambil
orang atau dimakan kambing, aku bawa pulang saja pisang-pisang ini, Bu,” katanya.

Keesokan harinya, si cabe rawit kembali minta izin untuk ke pasar. Namun, di tengah jalan, lewatlah
pedagang beras dengan sepedanya. Ketika pedagang beras nyaris mendahului si cabe rawit, ia
mendengar sebuah suara. “Hati-hati sedikit pedagang beras, jangan sampai ban sepedamu
menggilas tubuhku yang kecil ini. Ibuku pasti menangis nanti,” kata sara itu.

Berhentilah pedagang beras tersebut karena terkejut. Ia melihat ke sekeliling, tapi tak didapatinya
seorang manusia pun. Sementara suara itu kembali terdengar. Setelah mendengar suara tersebut
berulang-ulang, akhirnya pedagang beras lari pontang-panting ketakutan. Ia mengira ada makhluk
halus yang sedang mengintainya. Padahal, itu suara cabe rawit yang tidak kelihatan karena tubuhnya
yang teramat mungil.

Sepeninggalan pedagang beras, cabe rawit pulang sambil membawa sedikit beras yang sudah
ditinggalkan oleh pedagang tersebut. Sesampainya di rumah, si ibu kembali bertanya. “Tadi, di jalan
aku bertemu dengan pedagang beras, Bu. Dia tiba-tiba meninggalkan berasnya begitu saja. Daripada
diambil orang lain atau dimakan burung, kuambi sedikit, kubawa pulang untuk kita makan. Bukankah
kita sudah tidak memiliki beras lagi?” jawab cabe rawit.

Keesokan harinya, hal serupa kembali terjadi. Ketika cabe rawit hendak ke pasar, di pertengahan
jalan, ia bertemu dengan pedagang ikan. Pedagang ikan itu juga ketakutan saat mendengar ada
suara yang menyapanya. Ia lari lintang pukang meninggalkan ikan-ikan dagangannya. Maka
pulanglah cabe rawit sembari membawa beberapa ikan semampu ia papah. “Tadi pedagang ikan itu
tiba-tiba lari meninggalkan ikan-ikannya. Kita kan sudah lama tidak makan ikan. Aku bawa pulang
saja ikan-ikan ini sedikit daripada habis dimakan kucing,” kata cabe rawit kepada ibunya saa sang ibu
bertanya darimana ia mendapatkan ikan.

Begitulah hari-hari dilalui cabe rawit. Ia tidak pernah sampai ke pasar. Selalu saja, di perempatan
atau pertengahan jalan, dia berpapasan dengan para pedagang. Hatta, keluarga yang dulunya miskin
dan jarang makan enak itu menjadi hidup berlimpah harta. Pedagang beras akan meninggalkan
berasnya di jalan saat mendengar suara cabe rawit. Pedagang pakaian meninggalkan pakaian
dagangannya, pedagang emas pun pernah melakukan hal itu. Heranlah orang-orang sekampung
melihat si janda miskin menjadi hidup bergelimang harta.

4
Orang-orang kampung pun mulai curiga. Didatangilah rumah janda miskin tersebut. “Bagaimana
mungkin kau tiba-tiba hidup menjadi kaya sedangkan kami semua tahu, kau tidak memiliki siapa-
siapa. Suami pun sudah meniggal,” kata kepala kampung.
Si janda hanya diam. Kepala kampung mengulangi pertanyaanya lagi. Namun, di janda tetap
bungkam. Karena kepala kampung dan orang-orang kampung di rumah itu sudah mulai marah,
terdengarlan suara dari balik pintu. “Tolong jangan ganggu ibuku. Kalau kepala kampung mau
marah, marahilah aku. Kalau kepala kampung mau memukul, pukullah aku,” kata suara tersebut.

Kepala kampung dan orang-orang yang ada di rumah tersebut terkejut mendengar suara itu.
Beberapa kali suara itu terdengar dari arah yang sama, dari belakang pintu. Salah seorang penduduk
melihat ke sebalik pintu. Namun, tak dijumpainya seorang pun di sana. Sedangkan saat itu, suara
yang sama kembali terdengar. “Kalau kalian mau marah, marahilah aku. Kalau kalian mau memukul,
pukullah aku,” kata suara itu yang tak lain dan tak bukan adalah milik cabe rawit.

Singkat cerita, ketahuan juga bahwa suara itu dari seorang manusia yang sangat kecil, sebesar cabe.
Suasana berubah menjadi tegang. Si janda menjelaskan semuanya. Ia menceritakan tentang sumpah
yang pernah ia lafalkan dengan sang suami tentang keinginan punya anak walau sebesar cabe pun.
Mahfumlah kepala kampung dan penduduk di sana. Akhirnya, para penduduk sepakat membangun
sebuah rumah lebih bagus untuk si janda bersama anaknya. Hidup makmurlah keluarga cabe rawit.
Ia tidak lagi harus pergi ke pasar sehingga membuat orang-orang takut. Akan tetapi, setiap
penduduk berkenan memberikan keluarga cabe rawit apa pun setiap hari. Ada yang memberikan
beras, garam, pakaian, dan sebagainya.

5
Dongeng Putri Tidur
Dahulu kala, terdapat sebuah negeri yang dipimpin oleh raja yang sangat adil dan bijaksana.
Rakyatnya makmur dan tercukupi semua kebutuhannya. Tapi ada satu yang masih terasa kurang.
Sang Raja belum dikaruniai keturunan. Setiap hari Raja dan permaisuri selalu berdoa agar dikaruniai
seorang anak. Akhirnya, doa Raja dan permaisuri dikabulkan. Setelah 9 bulan mengandung,
permaisuri melahirkan seorang anak wanita yang cantik. Raja sangat bahagia, ia mengadakan pesta
dan mengundang kerajaan sahabat serta seluruh rakyatnya. Raja juga mengundang 7 penyihir baik
untuk memberikan mantera baiknya.

“Jadilah engkau putri yang baik hati”, kata penyihir pertama. “Jadilah engkau putri yang cantik”, kata
penyihir kedua. “Jadilah engkau putri yang jujur dan anggun”, kata penyihir ketiga. “Jadilah engkau
putri yang pandai berdansa”, kata penyihir keempat. “Jadilah engkau putri yang panda menyanyi,”
kata penyihir keenam. Sebelum penyihir ketujuh memberikan mantranya, tiba-tiba pintu istana
terbuka. Sang penyihir jahat masuk sambil berteriak, “Mengapa aku tidak diundang ke pesta ini?”.
Penyihir terakhir yang belum sempat memberikan mantranya sempat bersembunyi dibalik tirai.
“Karena aku tidak diundang, aku akan mengutuk anakmu. Penyihir tua yang jahat segera mendekati
tempat tidur sang putri sambil berkata,”Sang putri akan mati tertusuk jarum pemintal benang, ha ha
ha ha!..”. Si penyihir jahat segera pergi setelah mengeluarkan kutukannya. Para undangan terkejut
mendengar kutukan sang penyihir jahat itu. Raja dan permaisuri menangis sedih. Pada saat itu,
muncullah penyihir baik yang ketujuh, “Jangan khawatir, aku bisa meringankan kutukan penyihir
jahat. Sang putri tidak akan wafat, ia hanya akan tertidur selama 100 tahun setelah terkena jarum
pemintal benang, dan ia akan terbangun kembali setelah seorang Pangeran datang padanya”, ujar
penyihir ketujuh. Setelah kejadian itu, Raja segera memerintahkan agar semua alat pemintal benang
yang ada di negerinya segera dikumpulkan dan dibakar. Enam belas tahun kemudian, sang putri
telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan baik hati. Tidak berapa lama Raja dan
Permaisuri melakukan perjalanan ke luar negeri. Sang Putri yang cantik tinggal di istana. Ia berjalan-
jalan keluar istana.

Ia masuk ke dalam sebuah puri. Di dalam puri itu, ia melihat sebuah kamar yang belum pernah ia
lihat sebelumnya. Ia membuka pintu kamar tersebut dan ternyata di dalam kamar itu, ia melihat
seorang nenek sedang memintal benang. Setelah berbicara dengan nenek tua, sang Putri duduk di
depan alat pemintal dan mulai memutar alat pemintal itu. Ketika sedang asyik memutar alat pintal,
tibatiba jari sang Putri tertusuk jarum alat pemintal. Ia menjerit kesakitan dan tersungkur di lantati.
“Hi hi hi… tamatlah riwayatmu!”, kata sang nenek yang ternyata adalah si penyihir jahat. Hilangnya
sang Putri dan istana membuat khawatir orang tuanya. Semua orang diperintahkan untuk mencari
sang Putri. Sang putri pun ditemukan. Tetapi ia dalam keadaan tak sadarkan diri. “Anakku ! malang
sekali nasibmu” ratap Raja. Tiba-tiba datanglah penyihir muda yang baik hati. Katanya, “Jangan
khawatir, Tuan Putri hanya akan tertidur selama seratus tahun. Tapi, ia tidak akan sendirian. Aku
akan menidurkan kalian semua,” lanjutnya sambil menebarkan sihirnya ke seisi istana. Kemudian,
penyihir itu menutup istana dengan semak berduri agar tak ada yang bisa masuk ke istana.

Seratus tahun yang panjang pun berlalu. Seorang pangeran dari negeri seberang kebetulan lewat di

6
istana yang tertutup semak berduri itu. Menurut cerita orang desa di sekitar situ, istana itu dihuni
oleh seekor naga yang mengerikan. Tentu saja Pangeran tidak percaya begitu saja pada kabar itu.
“Akan ku hancurkan naga itu,” kata sang Pangeran. Pangeran pun pergi ke istana. Sesampai di
gerbang istana, Pangeran mengeluarkan pedangnya untuk memotong semak belukar yang
menghalangi jalan masuk. Namun, setelah dipotong berkali-kali semak itu kembali seperti semula.

“Semak apa ini ?” kata Pangeran keheranan. Tiba-tiba muncullah seorang penyihir muda yang baik
hati. “Pakailah pedang ini,” katanya sambil memberikan sebuah yang pangkalnya berkilauan. Dengan
pedangnya yang baru, Pangeran berhasil masuk ke istana. “Nah, itu dia menara yang dijaga oleh
naga.” Pangeran segera menaiki menara itu. Penyihir jahat melihat kejadian itu melalui bola
kristalnya. “Akhirnya kau datang, Pangeran. Kau pun akan terkena kutukan sihirku!” Penyihir jahat
itu bergegas naik ke menara. Ia menghadang sang Pangeran. “Hai Pangeran!, jika kau ingin masuk,
kau harus mengalahkan aku terlebih dahulu!” teriak si Penhyihir. Dalam sekejap, ia merubah dirinya
menjadi seekor naga raksasa yang menakutkan. Ia menyemburkan api yang panas. Pangeran
menghindar dari semburan api itu. Ia menangkis sinar yang terpancar dari mulut naga itu dengan
pedangnya. Ketika mengenai pangkal pedang yang berkilau, sinar itu memantul kembali dan
mengenai mata sang naga raksasa. Kemudian, dengan secepat kilat, Pangeran melemparkan
pedangnya ke arah leher sang naga. “Aaaa..!” Naga itu jatuh terkapar di tanah, dan kembali ke
bentuk semula, lalu mati. Begitu tubuh penyihir tua itu lenyap, semak berduri yang selama ini
menutupi istana ikut lenyap.

Di halaman istana, bunga-bunga mulai bermekaran dan burung-burung berkicau riang. Pangeran
terkesima melihat hal itu. Tiba-tiba penyihir muda yang baik hati muncul di hadapan Pangeran.
“Pangeran, engkau telah berhasil menghapus kutukan atas istana ini. Sekarang pergilah ke tempat
sang Putri tidur,” katanya. Pangeran menuju ke sebuah ruangan tempat sang Putri tidur. Ia melihat
seorang Putri yang cantik jelita dengan pipi semerah mawar yang merekah. “Putri, bukalah
matamu,” katanya sambil mengenggam tangan sang Putri. Pangeran mencium pipi sang Putri. Pada
saat itu juga, hilanglah kutukan sang Putri. Setelah tertidur selama seratus tahun, sang Putri
terbangun dengan kebingungan. “Ah! apa yang terjadi? Siapa kamu? Tanyanya. Lalu Pangeran
menceritakan semua kejadian yang telah terjadi pada sang Putri. “Pangeran, kau telah mengalahkan
naga yang menyeramkan. Terima kasih Pangeran,” kata sang Putri. Di aula istana, semua orang
menunggu kedatangan sang Putri. Ketika melihat sang Putri dalam keadaan sehat, Raja dan
Permaisuri sangat bahagia. Mereka sangat berterima kasih pada sang Pangeran yang gagah berani.
Kemudian Pangerang berkata, “Paduka Raja, hamba punya satu permohonan. Hamba ingin menikah
dengan sang Putri.” Raja pun menyetujuinya. Semua orang ikut bahagia mendengar hal itu. Hari
pernikahan sang Putri dan Pangeran pun tiba. Orang berbondong-bondong datang dari seluruh
pelosok negeri untuk mengucapkan selamat. Tujuh penyihir yang baik juga datang dengan
membawa hadiah.

7
Fabel Pengorbanan Seekor Katak
Dahulu kala di negeri Korea hiduplah seorang petani yang miskin. Ia tinggal di sebuah dusun yang
terletak di lereng sebuah gunung yang tinggi. Petani itu mempunyai seorang puteri yang bernama
Bok-Sury. Istrinya telah lama meninggal. Bok-Sury adalah seorang gadis yang rajin dan pemberani. Ia
sangat menyayangi ayahnya.

Suatu hari ketika Bok-Sury memasak di dapur, seekor katak melompat-lompat masuk. Katak itu
duduk dekat kakinya. Tiba-tiba katak itu berkata, “Bok-Sury berikanlah aku nasi sedikit. Perutku lapat
sekali”. Bok-Sury sangat terkejut mendengar katak itu dapat berbicara. Tapi karena ia seorang gadis
yang pemberani, maka diberikannya nasi sedikit pada katak itu. Dengan lahapnya katak itu memakan
nasi pemberiannya. Katak itu kembali berkata, “terima kasih Bok-Sury! Sekarang biarkanlah aku
tinggal di pojok dapurmu. Aku tak mempunyai keluarga, dan lagi pula aku senang tinggal di
dekatmu.”

Bok-Sury tidak mengusir katak itu. Ia pun merasa kesepian, katak itu dapat dijadikan teman
bicaranya. Setiap hari bila Bok-Sury masak, disisakannya sedikit untuk katak itu. Tak seorang pun
tahu tentang si katak. Ayahnya pun tak tahu. Karena tak bergerak-gerak maka tumbuhlah katak itu
menjadi besar sekali. Bila orang melihat akan disangkanya katak itu seekor anjing.

Suatu ketika ayah Bok-Sury jatuh sakit. Badannya semakin kurus, mukanya pucat. Bok-Sury berusaha
keras untuk menyembuhkan ayahnya, tapi ia tak berhasil. Ada seorang tabib yang tinggal jauh sekali
dari dusun mereka. Karena Bok-Sury sangat menyayangi ayahnya, ia pergi juga menjemput tabib itu.
Setelah memeriksanya, tabib itu berkata, “Bok-Sury, ayahmu sakit keras. Aku tak kuasa
menyembuhkannya. Ada sebuah obat yang dapat menyembuhkan yaitu Ginseng. Tapi obat itu
mahal sekali.”

Bok Sury merasa sedih sekali mendengar keterangan tabib. Ia tak punya uang dan tak dapat
meninggalkan ayahnya untuk bekerja.

Sementara itu, di sebuah dusun di lereng gunung yang sama, rakyat sedang gelisah. Di sana terdapat
istana tua yang dihuni oleh mahluk raksasa. Setiap tahun rakyat harus mengorbankan seorang
manusia. Orang yang dijadikan mangsa itu diletakkan di atas sebuah altar di dalam istana.

Bila keesokan harinya rakyat melihat orang itu sudah tidak ada, maka itu tandanya mereka akan
selamat dari amukan mahluk raksasa selama setahun. Sudah banyak yang menjadi korban. Sekarang
rakyat sedang kebingungan. Mereka tidak mempunyai korban buat si mahluk raksasa. Akhirnya
rakyat mengumpulkan uang. Uang yang banyak itu akan diberikan kepada siapa saja yang mau
dijadikan korban.

Bok-Sury mendengar sayembara itu. Segera diputuskannya untuk menjadikan dirinya korban buat si
mahluk raksasa. Ia pergi ke dusun itu dan mendapatkan uang. Dengan uang yang banyak, Bok-Sury
pergi membeli ginseng.

8
Betapa sukacitanya, ia ketika dilihatnya ayah tercinta berangsur-angsur sembuh. Bahkan dalam
waktu beberapa hari saja ayahnya dapat berdiri dan berjalan. Tapi kegembiraan Bok-Sury tak dapat
berlangsung lama. Hari yang ditentukan tiba juga. Bok-Sury masak agak banyak untuk ayahnya.
Kepada ayahnya ia berkata, “Ayah, aku akan bertandang ke rumah teman, mungkin agak lama. Ayah
makanlah dahulu, sudah kusiapkan.”

Ayah Bok-Sury tak menaruh curiga, karena Bok-Sury sering pergi untuk menolong salah satu
tetangganya. Bok-Sury teringat pada kataknya. Ia pergi ke dapur, ternyata sang katak sudah
mengetahui rencana Bok-Sury. Katak itu menangis. Bok-Sury dengan lemah lembut membelai kepala
katak itu sambil berkata, “Wahai sahabatku yang setia. Hari ini adalah hari terakhir kita bercakap-
cakap. Jangan sedih, dan jagalah dirimu baik-baik.”

Bok-Sury sesampainya di dusun tempat mahluk raksasa itu berada, langsung dibawa ke istana tua. Ia
diletakkan di atas altar persembahan. Suasana sunyi untuk beberapa saat. Bok-Sury memperhatikan
keadaan disekelilingnya. Tiba-tiba dilihatnya katak yang dipeliharanya duduk di pojok ruangan. Katak
itu memandangnya dengan bola mata yang bersinar-sinar. Tiba-tiba katak itu membuka mulutnya.
Dari mulutnya keluar segulung asap berwarna kuning. Asap itu naik ke atas. Tiba-tiba dari atap
rumah keluar segulung asap berwarna biru. Asap kuning dari sang katak berusaha menekan asap
biru tadi. Terjadi dorong-mendorong antara kedua asap itu. Tapi lihat.. asap kuning itu akhirnya
berhasil menggulung asap biru itu. Bersamaan dengan itu bumi seakan bergetar.

Keesokan harinya orang-orang mendatangi istana. Mereka mendapatkan Bok-Sury pingsan di dekat
bangkai seekor katak raksasa. Bok-Sury selamat dan dapat kembali ke ayahnya. Ia dianugrahkan
uang dan benda-benda berharga lainnya oleh penduduk dusun yang berhasil dibebaskan dari mahluk
raksasa.

Bok-Sury membawa pulang bangkai raksasa itu. Ia menguburnya dengan khidmat. Bok-Sury hidup
bahagia bersama ayahnya.

9
Sage Calon Arang

Pada suatu masa di Kerajaan Daha yang dipimpin oleh raja Erlangga, hidup seorang janda yang
sangat bengis. Ia bernama Calon Arang. Ia tinggal di desa Girah. Calon Arang adalah seorang
penganut sebuah aliran hitam, yakni kepercayaan sesat yang selalu mengumbar kejahatan memakai
ilmu gaib. Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Manggali. Karena puterinya telah cukup
dewasa dan Calon Arang tidak ingin Ratna Manggali tidak mendapatkan jodoh, maka ia memaksa
beberapa pemuda yang tampan dan kaya untuk menjadi menantunya. Karena sifatnya yang bengis,
Calon Arang tidak disukai oleh penduduk Girah. Tak seorang pemuda pun yang mau memperistri
Ratna Manggali. Hal ini membuat marah Calon Arang. Ia berniat membuat resah warga desa Girah.

“Kerahkan anak buahmu! Cari seorang anak gadis hari ini juga! Sebelum matahari tenggelam anak
gadis itu harus dibawa ke candi Durga!“ perintah Calon Arang kepada Krakah, seorang anak buahnya.
Krakah segera mengerahkan cantrik-cantrik Calon Arang untuk mencari seorang anak gadis. Suatu
perkerjaan yang tidak terlalu sulit bagi para cantrik Calon Arang.

Sebelum matahari terbit, anak gadis yang malang itu sudah berada di Candi Durga. Ia meronta-ronta
ketakutan. “Lepaskan aku! Lepaskan aku!“ teriaknya. Lama kelamaan anak gadis itu pun lelah dan
jatuh pingsan. Ia kemudian di baringkan di altar persembahan. Tepat tengah malam yang gelap
gulita, Calon Arang mengorbankan anak gadis itu untuk dipersembahkan kepada Betari Durga, dewi
angkara murka.

Kutukan Calon Arang menjadi kenyataan. “Banjir! Banjir!“ teriak penduduk Girah yang diterjang
aliran sungai Brantas. Siapapun yang terkena percikan air sungai Brantas pasti akan menderita sakit
dan menemui ajalnya. “He, he... siapa yang berani melawan Calon Arang ? Calon Arang tak
terkalahkan!” demikian Calon Arang menantang dengan sombongnya. Akibat ulah Calon Arang itu,
rakyat semakin menderita. Korban semakin banyak. Pagi sakit, sore meninggal. Tidak ada obat yang
dapat menanggulangi wabah penyakit aneh itu..

“Apa yang menyebabkan rakyatku di desa Girah mengalami wabah dan bencana ?” Tanya Prabu
Erlangga kepada Paman Patih. Setelah mendengar laporan Paman Patih tentang ulah Calon Arang,
Prabu Erlangga marah besar. Genderang perang pun segera ditabuh. Maha Patih kerajaan Daha
segera menghimpun prajurit pilihan. Mereka segera berangkat ke desa Girah untuk menangkap
Calon Arang. Rakyat sangat gembira mendengar bahwa Calon Arang akan ditangkap. Para prajurit
menjadi bangga dan merasa tugas suci itu akan berhasil berkat doa restu seluruh rakyat.

Prajurit kerajaan Daha sampai di desa kediaman Calon Arang. Belum sempat melepaskan lelah dari
perjalanan jauh, para prajurit dikejutkan oleh ledakan-ledakan menggelegas di antara mereka. Tidak
sedikit prajurit Daha yang tiba-tiba menggelepar di tanah, tanpa sebab yang pasti.

Korban dari prajurit Daha terus berjatuhan. Musuh mereka mampu merobohkan lawannya dari jarak
jauh, walaupun tanpa senjata. Kekalahan prajurit Daha membuat para cantrik, murid Calon Arang

10
bertambah ganas. “Serang! Serang terus!” seru para cantrik. Pasukan Daha porak poranda dan lari
pontang-panting menyelamatkan diri. Prabu Erlangga terus mencari cara untuk mengalahkan Calon
Arang. Untuk mengalahkan Calon Arang, kita harus menggunakan kasih saying”, kata Empu Barada
dalam musyawarah kerajaan. “Kekesalan Calon Arang disebabkan belum ada seorang pun yang
bersedia menikahi puteri tunggalnya.“

Empu Barada meminta Empu Bahula agar dapat membantu dengan tulus untuk mengalahkan Calon
Arang. Empu Bahula yang masih lajang diminta bersedia memperistri Ratna Manggali. Dijelaskan,
bahwa dengan memperistri Ratna Manggali, Empu Bahula dapat sekaligus memperdalam dan
menyempurnakan ilmunya.

Akhirnya rombongan Empu Bahula berangkat ke desa Girah untuk meminang Ratna Manggali. “He
he … aku sangat senang mempunyai menantu seorang Empu yang rupawan.” Calon Arang terkekeh
gembira. Maka, diadakanlah pesta pernikahan besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. Pesta
pora yang berlangsung itu sangat menyenangkan hati Calon Arang. Ratna Manggali dan Empu Bahula
juga sangat bahagia. Mereka saling mencintai dan mengasihi. Pesta pernikahan telah berlalu, tetapi
suasana gembira masih meliputi desa Girah. Empu Bahula memanfaatkan saat tersebut untuk
melaksanakan tugasnya.

Di suatu hari, Empu Bahula bertanya kepada istrinya, “Dinda Manggali, apa yang menyebabkan Nyai
Calon Arang begitu sakti?“ Ratna Manggali menjelaskan bahwa kesaktian Nyai Calon Arang terletak
pada Kitab Sihir. Melalui buku itu, ia dapat memanggil Betari Durga. Kitab sihir itu tidak bisa lepas
dari tangan Calon Arang, bahkan saat tidur, Kitab sihir itu digunakan sebagai alas kepalanya.

Empu Bahula segera mengatur siasat untuk mencuri Kitab Sihir. Tepat tengah malam, Empu Bahula
menyelinap memasuki tempat peraduan Calon Arang. Rupanya Calon Arang tidur terlalu lelap,
karena kelelahan setelah selama tujuh hari tujuh malam mengumbar kegembiraannya. Empu Bahul
berhasil mencuri Kitab sihir Calon Arang dan langsung diserahkan ke Empu Baradah. Setelah itu,
Empu Bahula dan istrinya segera mengungsi.

Calon Arang sangat marah ketika mengetahui Kitab sihirnya sudah tidak ada lagi, ia bagaikan seekor
badak yang membabi buta. Sementara itu, Empu Baradah mempelajari Kitab sihir dengan tekun.
Setelah siap, Empu Baradah menantang Calon Arang. Sewaktu menghadapi Empu Baradah, kedua
belah telapak tangan Calon Arang menyemburkan jilatan api, begitu juga kedua matanya. Empu
Baradah menghadapinya dengan tenang. Ia segera membaca sebuah mantera untuk mengembalikan
jilatan dan semburan api ke tubuh Calon Arang. Karena Kitab sihir sudah tidak ada padanya, tubuh
Calon Arang pun hancur menjadi abu dan tertiup kencang menuju ke Laut Selatan. Sejak itu, desa
Girah menjadi aman tenteram seperti sedia kala.

11
Cerita Jenaka Abu Nawas dan Telur unta
Suatu ketika Raja Harun Al Rasyid terkena penyakit aneh. Tubuh Raja Harun Al Rasyid terasa kaku
dan pegal. Suhu badannya panas dan tak kuat untuk melangkah. penyakitnya itu membuat sang raja
tidak mau makan sehingga sakitnya bertambah parah.
Berbagai tabib sudah berdatangan mengobatinya tetepi tetap saja sakit. Obat pun banyak yang ia
minum tapi tetap saja hasilnya.
Namun demikian, raja tidak mau menyerah. Ia ingin sembuh. Maka ia pun memerintahkan
pengawalnya untuk mengumumkan sebuah sayembara. Barang siapa bisa menyembuhkan penyakit
sang Raja, maka akan diberikan hadiah.

berita sayembara itu didengar oleh Abu Nawas. Ia tertarik dengan sayembara ini. maka tidak lama
kemudian, iapun memutar otak sebentar dan pergi ke istana Raja Harun Al Rasyid.
Sang Raja terkejut ketika melihat Abu Nawas datang hendak mengobati dirinya.

” Hei Abu Nawas, setahuku kau bukan tabib, tapi mengapa kau ikut sayembara ini?”. Heran sang
raja.

“He he he.. tuan raja, janganlah Anda melihat penampilanku, begini begini aku bisa mengobati orang
sakit”.

“Benarkah?” kaget sang raja. “Berarti engkau bisa menyembuhkan sakitku juga?”

“Oh tentu Raja,” jawab Abu Nawas, “sebenarnya apa sakit Anda?”
“Aku juga tidak tahu, tapi aku merasa seluruh tubuhku sakit dan badanku panas. Aku tampak lesu
Abu Nawas.”keluh sang raja Harun Al Rasyid.

“ha ha ha ha ha….”Abu Nawas tertawa dengan jenaka.


Hei Abu Nawas, apa yang lucu?

“tidak Tuan, kalau penyakit itu sih gampang sekali menemukan obatnya.”terang Abu Nawas.

Sungguh, kaget sang raja lagi. apa nama obat itu dan dimana saya bisa menemukan obat itu?”

baiklah saya beritahu Anda,


nama obat itu adalah telur unta. Anda bisa mendapatkannya di kota Baghdad ini.”

mendengar informasi itu sang raja merasa bersemangat ingin segera mendapatkan telur unta itu.

” hei Abu Nawas, awas jika kau bohong. Akan ku hukum kau?”
“Carilah dulu telur unta itu, jangan asal hukum saja” sanggah Abu Nawas.

12
Keesokan harinya sang raja berangkat dengan pengawalnya. Ia memakai baju rakyat biasa karena
tidak ingin diketahui bahwa ia seorang raja.

Raja Harun Al Rasyid mengunjungi pasar-pasar yang ada di daerah baghdad tapi tidak ditemukan
telur unta itu.

Raja Harun Al Rasyid tidak mau menyerah ia terus berjalan kerumah-rumah warga tapi tetap saja ia
tidak menemukan telur unta. semangat Raja Harun Al Rasyid ini sungguh kuat sekali, ia tidak peduli
seberapa jauh jarak yang ia tempuh untuk mencari telur unta. Hingga akhirnya ia sampai disebuah
hutan.

raja terus berjalan tanpa menghiraukan pengawalnya yang sudah kelelahan. sambil menggerutu ia
tetap berfikir dimanakah telur unta itu berada.

” Awas kau Abu Nawas, kalau aku tidak menemukan telur itu akan ku hukum kau!” gerutu sang raja.
Pengawal bersiaplah menghukum Abu Nawas besok!”

“siap raja,” kata pengawal yang sudah kelelahan,”tapi lebih baik kita pulang saja sekarang. memang
sepertinya kita tidak menemukan telur itu.”

Raja Harun Al Rasyid pun mempertimbangkan saran pengawalnya, namun beberapa saat kemudian
ia melihat seorang kakek yang sedang membawa ranting.

“Tunggu dulu pengawal, kita coba tanyakan kepada satu orang lagi.”seru raja Harun Al Rasyid.

Sang Raja menghampiri kakek yang membawa ranting itu. melihat kondisinya yang sudah tua ia
amat kasihan, maka iapun menawarkan jasanya untuk membawakan kayu-kayu itu.

setelah sampai dirumahnya, Sang kakek mengucapkan terima kasih kepada Raja Harun Al-Rasyid
yang ia tidak menyangka bahwa ia adalah seorang raja.

” Terima kasih cuk, semoga Allah membalas kebaikan Cucuk?”


“Sama-sama kek,” jawab Raja Harun Al Rasyid.

” oh iya kek, saya mau bertanya, apakah kakek punya telur unta” tanya raja Haru Al Rasyid pada si
kakek.

telur unta? sang kakek kemudian berfikir sejenak.


“Ha Ha Ha Ha Ha…”tawa sang kakek. Raja Harun Al Rasyid pun keheranan dan bertanya kepada sang
kakek.

“apa saya salah tanya kek? tanya Raja harun Al Rasyid keheranan.” bisa Anda jelaskan?’

13
Cuk, di dunia ini mana ada telur unta. setiap hewan yang bertelinga itu melahirkan bukan bertelur.
jadi mana ada telur unta.

mendengar penjelasan dari sang kakek membuat sang raja dan pengawalnya tersentak kaget.

“benar juga mana ada telur unta. unta kan binatang yang melahirkan bukan bertelur.” gumam sang
raja.
“awas kau Abu Nawas!”
—————
Keesokan harinya sang raja dengan perasaan kesal menunggu kedatangan Abu Nawas yang telah
mengerjainya. dia mondar-mandir kesana kemari sambil mulutnya komat-kamit.

” awas kau Abu Nawas! awas kau Abu Nawas!”

Beberapa saat kemudian, Abu Nawas datang. Ia memberi senyum jenaka kepada Raja Harun Al
Rasyid.Raja Harun Al rasyid langsung memarahinya.

“Hai kau Abu Nawas, beraninya mengerjai ku. aku tidak terima ini. sesuai dengan kesepakatan kita
bahwa Aku akan menghukummu karena kau telah membohongiku. mana ada telur unta, unta itu
hewan yang melahirkan bukan bertelur.”

Anda benar Tuan Raja, sahut Abu Nawas membenarkan pernyataan raja Harun Al Rasyid “telur unta
itu sebenarnya tidak ada, unta hewan yang melahirkan bukan bertelur.” Sambung Abu Nawas
dengan Ceritanya.

Lantas, mengapa kau menyuruhku untuk mencari telur itu?”sanggah sang raja” pokokya sekarang
kamu harus dihukum.”
tuggu dulu, tuan raja, sebelum saya dihukum, saya ingin bertanya.
tanya apa?

bagaimana kondisi tubuh tuan raja hari ini?tanya Abu Nawas.


kondisi badanku, sahut raja Harun Al Rasyid, aku merasa tubuhku tidak pegal dan sakit seperti
kemarin-kemarin. suhu badanku pun turun, Sang raja pun terdiam sejenak.

“Abu Nawas, aku sudah sembuh, penyakitku hilang, penyakitku hilang Abu Nawas. “raja amat
gembira mendengar cerita Abu Nawas.

“Aku tahu,” perjalananku yang amat jauh kemarin telah membuat tubuh-tubuhku yang tadinya
jarang bergerak menjadi bergerak dan itu membuat aliran darahku yang semula beku menjadi lancar
kembali. benar Abu Nawas, itu penyebabnya, terima kasih Abu Nawas. sahut raja Harun Al Rasyid.”

“Benar tuan, kata Abu Nawas, tubuh yang tidak dibiasakan bergerak akan membuat darah membeku
dan akhirnya menjadi penyakit. maka dari itu raja, rajinlah bergerak.”
14
“ya, memang akhir-akhir ini aku sering dikamar. jarang bergerak. kemudian aku juga banyak makan.
mungkin ini yang menyebabkan aku sakit. kata sang Raja Harun Al Rasyid.” Abu Nawas maafkan aku
telah memarahimu. Aku tidak akan menghukummu tapi aku akan memberikanmu hadiah karena
telah memberiku sarang yang luar biasa.”

“Terima kasih tuan raja.” Jawab Abu Nawas singkat.

15
PUISI
Terdiri dari :

Syair
Dahulu jiwa tercipta tidak ada yang percaya
Bahwa jiwa akan berbuat aniaya terhadap sesama
Atas kasih sayang jiwa menjadi mulia
Semesta sujud berikan penghormatan

Jiwa turun kedunia karena wanita


Karena wanita jiwa mengerti arti bahagia
Wanita dicipta untuk jiwa agar memahami arti cinta
Dgn cinta jiwa mengerti bahwa jiwa adalah seorang hamba

Cinta bukan memiliki akan tetapi hanya ingin dimiliki


Biarlah cinta yang membawa jiwa kepada pemiliknya
Hanya Tulus dan Ikhlas yang membuat cinta itu bermakna
Karena Cinta telah cukup untuk cinta

Yang Maha Esa Mencipta alam semesta


Yang Maha Esa Mencipta manusia bukan dengan sia-sia
Tetapi hanya ingin menunjukkan apa itu bahagia
Agar manusia mengerti bahwa ia adalah seorang hamba yang memiliki Raja

Manusia turun kebumi untuk diuji


Untuk menjadi manusia sejati
Muliakan hati untuk mendapatkan derajat tertinggi
Menjadi kekasih yang dikasihi dan diberkati

Apakah Dunia tak seindah rupanya


Menipu dan memperdaya selama hidupnya?
Dunia ini telah menenggelamkan manusia, begitu kejamkah dunia ?
Sesungguhnya dunia dicipta untuk melayani dan dilayani, akan tetapi manusia sendiri yang tak tau
diri,Egois bahwa manusia paling sempurna.

Bencana alam terjadi bukan karena usia dunia yang sudah tua
Tetapi manusia yang berbuat semena - mena terhadapnya
hanya ingin dilayani tetapi tidak ingin melayani
bencana tercipta karena manusia lupa hingga Yang Maha Murka

Hanya jiwa yang mengerti jiwanya


Hanya Jiwa yang sadar dapat mengerti jiwanya
16
Bahwa jiwa tidak selamanya didunia
Bahwa usia telah berkurang dalam dunianya

Jiwa tercipta untuk menjadi bahagia dan merdeka


Jiwa merdeka, hanya ikhlas yang ada
Saat Yang Maha berkata Inilah saatnya engkau kembali
Jiwa Pasrah dan rela hanya terucap kata "LAILLAHA ILLAALLAAHU WALAQUWWATA ILLA BILLAH"

Assalamualaikum ucap jiwa dalam hati


Jiwa Panjatkan doa sekedar berharap kepada ilahi
Mengetuk pintu sebagai tamu
Berharap diterima sebagai tamu yang diharapkan.

Oh, Pantaskah aku bertamu dengan ini?


Tanpa busana kebanggaan yang melekat pada diri
Akankah jiwa dihormati dan tidak dipandang setengah hati
Kukatakan padamu bahwa tuanku seorang pemurah hati.

Kemewahan tidak membuat jiwa mulia


Tanpa busana pun manusia bisa menjadi mulia
Bukankah jiwa datang tanpa harta?
Dan tahukah kamu harta apa yang paling mulia?

Sang Maha mewariskan Surga dan neraka


Bagi Hamba Yang bertaqwa dan durhaka
Puja dan Puji Bagi sang Maha
Engkau adalah Keadilan ilahi

Engkau cipta sang kaya dan kaum papa


Agar mereka bisa memberi dan menerima
Perbedaan yang berarti sama
Bahwa mereka sebenarnya tiada memiliki apa-apa

Benakku bertanya? Kenapa jiwa harus tercipta?


Kenapa jiwa tercipta kalau hanya untuk tiada?
Yang Maha berkata tidaklah kucipta semua ini dengan sia-sia, apa maksud ini semua?
Semua jiwa pasti bertanya, siapakah aku yang sebenarnya? Kenapa aku berada, dan kenapa aku
harus tiada?

Tidakkah jiwa berpikir kenapa jiwa datang kedunia?


Pernahkah jiwa mendengar Yang Maha berkata "KUCIPTAKAN JIN DAN MANUSIA HANYA UNTUK
MENYEMBAH KEPADAKU"
Ku katakan kebenaran sejati, Ku katakan tujuan hidup sejati
Bahwa manusia hanya dicipta untuk menyembah kepada Sang Maha
17
Pantun

Dayung perahu tujuh haluan


Membawa rokok bersama rempah
Kalau ilmu tidak diamalkan
Ibarat pokok tidak berbuah

Anak ayam turun sepuluh


Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan

Monyet bergelar si buruk rupa


Suka memanjat pohon jambu
Ayo kawan selagi muda
Kita berlomba mencari ilmu

Oleh-oleh dari Sukabumi


Jangan sekedar sepatu sandal
Boleh kita krisis ekonomi
Asalkan jangan krisis moral

Padi merunduk tanda berisi


Berilmu karena sekolah
Jangan terpaku di depan televisi
Ambil buku dan pelajarilah

Naik sepeda menerjang pagar


Sungguh malu jatuh terjengkang
Zaman sekarang malas belajar
Kelak hidupnya terbelakang

Tumbuh merata pohon tebu


Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding

18
Mantra

1. Mantra untuk mengobati orang dari pengaruh makhluk halus.


Sihir lontar pinang lontar
terletak diujung bumi
Setan buta jembalang buta
aku sapa tidak berbunyi

2. Mantra berburu rusa


Sirih lontar pinang lontar
terletak diujung muara
Hantu buta jembalang buta
aku angkat jembalang rusa

3. Mantra pengobat sakit perut


Gelang-gelang si gali-gali
malukut kepala padi
Air susu keruh asalmu jadi
aku sapa tidak berbunyi

4. Mantra agar anjing tidak menggonggong


Pulanglah engkau ke rimba sekampung
Pulanglah engkau pada rimba yang besar
Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu

5. Mantra orang menyadap nira (bahan untuk gula aren/gula jawa)


Assalamu'alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu

19
Gurindam

Sholat lima waktu tiada lupa


Mati kapanpun siap terasa

Barang siapa tinggalkan sembahyang


Bagai rumah tiada bertiang

Cahari olehmu akan guru


Yang mampu memberi ilmu

Sebelum bekerja pikir dahulu


Agar pekerjaan selamat selalu

Jangan hanya mencari Allah bila ada masalah


Dekatilah Allah di kala senang maupun susah

Takut kepada makhluk kita menjauhinya


Takut kepada Allah kita mendekatiNya

Cahari olehmu akan sahabat


yang dapat dijadikan obat

Cahari olehmu akan kawan


yang berbudi serta setiawan

Cahari olehmu akan abdi


yang terampil serta berbudi

Apabila terpelihara mata,


Sedikit cita-cita

20
Talibun

Di kala katak tersepak pelita


Menarilah kuda di batu akik
Dikejar teledu terkena pahat
Jika hendak anak sempurna
Carilah di guru cerdik
Mengajar ilmu dunia akhirat

Di depan rumah jalan setapak


Melewatinya dengan senang hati
Bunga itu telah tertancap
Hargai pengorbanan ibu bapak
Setetes keringatpun berarti
Seuntai doa pun mudah terucap

Kapal besar dengan jangkar


Sang nahkoda tengah berandai
Dapat berlayar sampai ke bintang
Kalau kamu rajin belajar
Pasti nanti tambah pandai
Lulus dengan nilai gemilang

Pulau Todak lingkup merata


Sandarlah jati beri peniti
Karamkan benua alunan lubuk
Kalau hendak hidup sempurna
Hindarilah diri dari judi
Haramkan semua minuman mabuk

Kalau anak pergi ke pekan


Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu

21
Karmina

Sikap senohong gelama ikan berduri


Biasa berbohong lama-lama mencuri

Pohon jati burung dara


Hati-hati saat bicara

Ada tong rusak besinya


Orang sombong susah hidupnya

Di dunia banyak orangnya


Harta dunia bukan segalanya

Nenek lansia mau kemana


Jadi manusia hendaknya berguna

Siapkanlah bekal menjelang wafat


Dengan sebari ilmu yang bermanfaat

Tanah diukur tanah yang basah


Usaha jujur pasti akan berberkah

Sebab pulut santan binasa.


Sebab mulut badan binasa

22
Seloka

Ambil tambang diikat sebelah


Robek menganga si kain perca
Adakah kumbang bersedia singgah
Taman bunga mekar ceria

Berseluar ketat bajupun ketat


Jarangnya pulak boleh dilihat
Orang yang memakai terus dilaknat
Oleh Allah, Rasul dan Malaikat

Sudah bertemu kasih sayang


Duduk terkurung malam siang
Hingga setapak tiada renggang
Tulang sendi habis berguncang

23
Kata Pengantar
Assalamualaikum wr.wb

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
taufik dan hidayah-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan
penuh kemudahan. Tanpa pertolongan NYA mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikan
dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta yakni Nabi
Muhammad SAW.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas wawasan mengenai “Karya Sastra Melayu
Klasik”. Makalah ini disusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri kami maupun
yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Karya Sastra Melayu Klasik” perlu diketahui. Walaupun makalah ini
mungkin kurang sempurna kami mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada guru bahasa indonesia agar dapat mengerti tentang
karya sastra melayu klasik.

Semoga makalah ini dapat menambah wawasan pembaca. Walaupun makalah ini memiliki
kekurangan. Kami mohon untuk saran dan kritik yang bersifat membangun agar kami dapat
membuat makalah yang jauh lebih baik lagi.

Terima kasih.

Makassar, 29 April 2013

1
KARYA SASTRA MELAYU KLASIK

D
I
S
U
S
U
N

OLEH:

Rosani Chaerunnisa Ikhsan


NurMegaWati
Desi Hardianty
Elvi Ayu Banneliling
Daftar Isi

Kata Pengantar ………………………………………………………………………… 1


Isi …………………………………………………………………………………………… 2
Sastra Melayu Klasik
Prosa
Hikayat ………………………………………………………………………….…….. 2
Dongeng …………………………………………………………………………….… 6
Fabel …………………………………………………………………………………….. 8
Sage ………………………………………………………………………………………. 10
Cerita Jenaka ………………………………………………………………………… 12

Puisi
Syair ……………………………………………………………………………………. 16
Pantun ………………………………………………………………………………. 18
Mantra ………………………………………………………………………………. 19
Gurindam ……………………………………………………………………………. 20
Talibun …………………………………………………………………………........ 21
Karmina ………………………………………………………………………………. 22
Seloka …………………………………………………………………………………. 23