Anda di halaman 1dari 17

MUHAMMAD ARMAN BIN ADLY

1 PROAKTIF
CIKGU NITA
PENDIDIKAN SIVIK KEWARGANAAN
CERITA- CERITA RAKYAT
ASAL USUL “IKAN PATIN”

Dahulu kala di tanah Melayu hiduplah seorang nelayan


bernama Awang Gading. Ia tinggal seorang diri di dekat
sungai. Sehari- hari ia menangkap ikan di sungai dan
mencari kayu di hutan.
Pada suatu hari Awang Gading menemukan seorang bayi
mungil di tepi sungai. Ia terpesona melihat bayi yang
lucu itu. Ia memutuskan untuk membawanya pulang dan
membesarkannya.
Malam harinya Awang Gading membawa bayi itu kepada
tetua desa. Tetua desa mengamati sang bayi dan
tersenyum.
“Kau beruntung, Gading,” katanya. “Anak ini adalah
keturunan penguasa sungai dan kau dipercaya untuk
merawatnya.”
Awang Gading sangat bahagia mendengarnya.
Bertambah mantap hatinya untuk membesarkan bayi
itu. Diberinya nama Dayang Kumulah. Awang Gading
makin rajin bekerja. Ia bertekad memberikan yang
terbaik kepada Dayang Kumulah.

Dayang Kumulah , sesuai harapan ayah angkatnya


tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas. Ia juga
santun dan halus budi pekertinya. Ia juga rajin
membantu ayahnya yang sudah tua. Hanya sayangnya
gadis cantik itu tidak pernah sekali pun tertawa.Pada
suatu hari seorang pemuda bernama Awangku Usep
melihat Dayang Kumulah dan ingin meminangnya. Ia
lalu meminta ijin kepada Awang Gading untuk
menikahinya. “Nak, “ kata Awang Gading. “Aku sangat
menyayangi anakku, “Bila Dayang Kumulah menikah
denganmu, ialah yang akan menjalani hidup
bersamamu. Maka sebaiknya kau bertanyalah
kepadanya.”Awangku Usep meminta kesediaan Dayang
Kumulah menjadi isterinya. Dayang Kumulah semula
menolak.“Kanda Usep,” katanya. “Kita berasal dari alam
yang berbeda. Aku berasal dari sungai. Aku tak ingin kau
menyesal suatu hari nanti.”Namun alasan itu ridak
menyurutkan niat Awangku Usep menikahi Dayang
Kumulah. Akhirnya gadis itu setuju dengan satu syarat,
Awangku Usep tidak boleh menyuruhnya tertawa.
Walaupun terdengar aneh Usep menyanggupinya tanpa
bertanya lagi.
Mereka pun menikah. Sayang sekali, tak lama kemudian
Awang Gading meninggal. Dayang Kumulah sangat
sedih. Namun ia segera terhibur dengan kelahiran
anaknya. Satu per satu mereka dikaruniai anak-anak
hingga lima orang.
Dayang Kumulah dan Awangku Usep sangat berbahagia
bersama anak-anak mereka. Namun Usep masih
merasakan ada sesuatu yang kurang karena tidak pernah
melihat istrinya yang cantik itu tertawa . Ia selalu
berusaha agar istrinya tertawa. Ia melucu, bercanda
bersama anak-anaknya. Semua tertawa geli, kecuali
Dayang Kumulah.
Pada suatu hari seperti biasa ia sengaja memancing tawa
keluarganya. Anak-anaknya menimpali dengan ucapan
yang membuat mereka sakit perut karena tertawa.
Dayang Kumulah mendengarkan namun tetap diam saja.
Akhirnya Usep tak sabar lagi.“Bu, “ kata Usep kepada
isterinya. “Coba lihat, si bungsu lucu sekali. Kenapa kau
tidak tertawa?”Dayang Kumulah hanya tersenyum sambil
menggeleng-geleng. Awangku Usep dan anak-anak
mereka terus mendesak Dayang tertawa. Akhirnya
Dayang Kumulah menyerah. Ia tertawa.
Namun, apa yang terjadi? Ketika Dayang Kumulah
tertawa, dari mulutnya tampak insang ikan. Dayang
langsung lari ke arah sungai. Suami dan anak-anak
mereka mengikuti. Alangkah terkejut dan menyesalnya
mereka melihat tubuh Dayang berubah majadi ikan yang
indah. Tubuhnya tak bersisik dan wajahnya seperti
manusia.

Ikan itu kemudian disebut ikan patin. Sejak saat itu


sebagian besar masyarakat Melayu tidak makan daging
ikan patin.
CERITA RAKYAT ASAL USUL “BURUNG CEDERAWASIH”

Pada zaman dahulu didaerah pegunungan Bumberi,


Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat tinggallah
seorang perempuan tua dengan anjing perempuan
kesayangannya. Setiap hari perempuan tua tersebut
mencari makan bersama anjingnya kehutan. Pada suatu
hari mereka berjalan amat jauh memasuki hutan untuk
mencari makanan. Karena hutan disekitar tempat tinggal
mereka sudah tidak ada makanan yang bisa mereka
bawa pulang. Setelah perjalanan yang jauh mereka
akhirnya tiba disuatu tempat yang banyak ditumbuhi
oleh pohon merah yang sedang berbuah lebat (sejenis
pohon pandan khas daerah papua). Tanpa berlama -
lama perempuan tua itu pun memetik buah merah yang
sudah matang dan diberikannya kepada sang anjing yang
sudah terlihat sangat lapar. Maklum saja, mereka sudah
berjalan jauh dari rumah untuk mencari makanan. Si
anjing pun melahap buah tersebut untuk mengisi
perutnya yang kosong.
Sungguh tak disangka, beberapa saat setelah memakan
buah merah tersebut si anjing terlihat gelisah, dia
bergerak, berlarian kesana kemari. Sang Perempuan tua
terdiam dan bingung melihat apa yang anjingnya
lakukan. Ketika disadari ternya perut si anjing kian
membesar, dan seperti ada yang bergerak - gerak dari
dalam perut si anjing. Tak lama kemudian si anjing pun
melahirkan seekor anak anjing yang mungil dan lucu.
Melihat kejadian tersebut sang nenek juga bermaksud
untuk memakan buah merah tersebut dan mendapatkan
keturunan.
Sungguh ajaib buah merah ini, apakah buah ini bisa
memberikanku keturunan seperti yang dialami si anjing?"
pikir sang perempuan tua itu.
Sang Perempuan tua kemudian memetik beberapa buah
merah lalu memakannya. Berharap kejadian yang sama
akan terjadi juga dengannya. Beberapa buah merah telah
sang Peremuan tua makan, tiba-tiba kejadian yang sama
terjadi juga terhadapnya. Perutnya kian lama kian
membesar dan seperti ada yang bergerak - gerak
didalamnya.

"Ohh,,,betapa beruntungnya aku, sebentar lagi aku akan


menjadi seorang ibu. Aku harus segera pulang kerumah"
ujar sang perempuan tua.

Tepat sesuai dengan dugaan sang perempuan tua,


sesampainya dirumah perutnya yang sedari perjalanan
tadi semakin membesar dan membesar kini terasa mulai
mulas. Beberapa saat kemudian sang perempuan tua
melahirkan seorang bayi laki - laki yang lucu.

"Oooee...ooee". Tangis sang bayi meraung -raung. Bayi


laki - laki tersebut diberi nama Kweiya.
Sepuluh tahun kemudian, Kweiya telah tumbuh menjadi
pemuda yang gagah. Dia sangat rajin membantu ibunya
untuk membuka hutan kemudian dijadikan ladang sayur-
mayur. Hal ini dia lakukan agar sang ibu tidak lagi
berkeliling kedalam hutan untuk mencari makanan.
Kweiya hanya bisa menebang satu pohon saja setiap
harinya, karena dia hanya menggunakan kapak yang
terbuat dari batu. Sedangkan ibunya yang sudah tua
hanya bisa membantunya dengan membakar daun -
daun dari pohon yang ditebang. Daun - daun yang
dibakar setiap harinya menimbulkan asap tebal yang
membumbung tinggi ke atas. Tidak disangka asap tebal
tersebut membuat seorang pria tua yang sedang mengail
disungai penasaran.

"Darimana asal asap tebal itu? Siapakah gerangan yang


membakar hutan?" gumam pria tua tersebut.

Dengan penasaran dan berbagai macam yang dia


pikirkan, pria tua itu memberanikan diri memasuki hutan
untuk mencari dari mana asap itu keluar. Setelah
menempuh perjalanan yang melelahkan, sampailah pria
tua itu pada sumber dimana asap itu keluar. Terlihat
seorang pemuda tampan yang tengah menebang pohon
besar dibawah terik matahari. Pria tua berjalan
menghampiri pemuda yang tak menyadari
kedatangannya tersebut.
"Weing weinggiha pohi (selamat pagi) anak muda", sapa
pria tua tersebut. "Siapa kamu dan mengapa kamu
menebang hutan disini?" tanya pria tua tersebut.

Sontak pemuda itu terkejut. Kemudian dia menyadari


bahwa ada seorang Pria tua yang datang menghapirinya.

"Nama saya Kweiya, Saya sedang membantu ibu saya


untuk membuatkannya kebun sayur", jawab Kweiya.

Melihat Kweiya yang menebang pohon menggunakan


kapak batu, si pria tua memberikan kapak besinya untuk
digunakan menebang pohon.
"Agar lebih cepat menebang pohon, ambilah kapak besi
ini", kata pria tua itu.
"Terima kasih pak", jawab Kweiya.

Dalam waktu singkat Kweinya telah merobohkan


beberapa pohon besar. Kemudian dia bergegas pulang
kerumah, sesampainya dirumah Kweinya menceritakan
hasil pekerjaannya kepada ibunya. ibunya sangat
terheran.

"Alat apa yang kau gunakan nak, sehingga kamu bisa


dengan cepat menebang pohon -pohon itu?", tanya ibu
Kweiya.

Kweiya terdiam sejenak.


"Aku tidak tahu juga ibu, nampaknya tanganku terasa
sangat ringan ketika memegang kapak. Sehingga aku bisa
menebang pohon dengan cepat", jawab Kweiya yang tak
ingin ibunya tahu tentang kapak besi yang diberikan pria
tua tersebut.
Mendengar jawaban dari Kweiya, sang ibu pun percaya
mengenai hal tersebut. Sementara itu Kweiya meminta
ibunya untuk memasak makanan yang banyak besok.
Rupanya Kweiya mempunyai ide untuk mengajak pria tua
yang baik tersebut pulang kerumah untuk makan
bersama dan mengenalkannya kepada ibunya.
"Bu, besok Kweiya minta ibu memasak makanan yang
banyak ya?", pinta Kweiya.
"Iya nak", jawab sang ibu.

Keesokan harinya seperti yang diminta anaknya, sang ibu


memasak makanan yang banyak dirumah. Ketika
perjalanan pulang kerumah, Kweiya membungkus sang
pria tua dengan pohon tebu beserta daunnya, Kweiya
ingin memberikan kejutan kepada ibunya. Bungkusan
tebu tersebut lantas Kweiya letakkan didepan pintu
rumah. Kweiya kemudian masuk kedalam rumah.
Kemudian dia meminta ibunya untuk mengambilkan tebu
didepan rumah karena dia sangat haus.
"Ibu..aku sangat haus sekali, tolong ambilkan tebu
didepan pintu itu", ujar Kweiya.
Ibu Kweiya menuruti permintaan sang anak, berjalanlah
ia mengambil tebu didepan pintu. Betapa terkejutnya
sang ibu melihat ada seorang pria tua diantara batang
tebu tersebut. Seketika itu juga sang ibu berlari
ketakutan masuk kedalam rumah.

"Siapakah pria tua itu, nak?. Kenapa dia berada didalam


bungkusan tebu?", tanya ibu Kweiya.
"Maafkan aku, bu", ucap Kweiya. "Aku tak bermaksud
menakuti ibu, pria tua inilah yang menolongku
menebang pohon dihutan. Aku mohon ibu mau
menerimanya sebagai teman hidup", lanjut Kweiya
sambil tersenyum.
Sang ibu terdiam, kemudian beliau mengangguk tanda
bahwa dia menerima permintaan anaknya. Sejak saat
itulah pria tua itu tinggal bersama mereka.

Beberapa tahun kemudian, sang ibu melahirkan dua anak


laki - laki dan seorang anak perempuan. Kweiya selalu
menganggap mereka seperti adik kandung sendiri,
Namun tidak dengan kedua saudara laki-laki Kweiya,
mereka sangat iri kepada Kweiya karena ibunya selalu
memberikan perhatian lebih kepadanya.

Pada suatu hari ketika kedua orang tua mereka sedang


berkebun, kedua saudara laki-laki Kweiya memukuli
Kweiya hingga luka - luka. Kweiya tak ingin membalas
dendam dengan kedua saudaranya tersebut, meskipun
Kweiya sangat kesal. Untuk menghilangkan rasa kesalnya
Kweiya menyendiri di slah satu sudut pondok untuk
memintal benang dari kulit binatang. Benang tersebut
nantinya akan Kweiya buat menjadi sayap.

Selepas pulang dari kebun, sang ibu tidak melihat Kweiya


ada dirumah. Dengan rasa cemas sang ibu pun bertanya
kepada kedua anaknya yang lain.
"Dimanakah saudara kalian Kweiya, anak-anakku?",
tanya ibunya.
"Tidak tahu, ibu", jawab mereka berdua serentak.
Keduanya ternyata takut menceritakan perkelahian
antara mereka dengan Kweiya yang membuat Kweiya
pergi dari rumah. Namun adik bungsu mereka yang
melihat kejadian tersebut menceritakan perkelahian
antara mereka berdua dengan Kweiya kepada kepada
sang ibu. Betapa sedih dan kecewanya sang ibu
mendengar cerita tersebut. Sang ibu pun berteriak
memanggil Kweiya untuk pulang kerumah. Bukan suara
Kweiya yang menjawab panggilan sang ibu, melainkan
suara burung yang menyahut.

"Ek..ek..ek..ek..", suara si burung.


Ternyata suara tersebut berasal dari gesekan benang
yang Kweiya jahitkan pada ketiak tangannya. Kemudian
selanjutnya Kweiya melompat keatas bubungan rumah
dan melompat ke dahan pohon besar. Rupanya Kweiya
sudah menjelma menjadi seekor burung nan elok dengan
bulu - bulu yang indah menghiasi tubuhnya. Melihat
anaknya sudah menjadi seekor burung sang ibu
menangis tersedu - sedu. Sambil menangis sang ibu
bertanya kepada Kweiya.
"Duhai anakku, apakah engkau tidak menyisakkan sehelai
benangpun untuk ibumu?", tanya sang ibu kepada
Kweiya.
"Benang untuk ibu aku simpan di payung tikar", jawab
Kweiya.
Sang ibu berlari meuju payung tikar dan mencari benang
yang disimpan oleh anaknya. Benang tersebut berada
disisipan payung tikar, dan kemudian sang ibu mulai
menjahitkan benang tersebut keketiak tangannya. Sang
ibu yang menjelma menjadi burung kemudian menyusul
anaknya ke dahan pohon besar.
"Wong...wong..wong.! Ko..ko..kok..!Wong..wik!, kedua
burung itu saling bersiul bersahutan.

Kedua adiknya yang menyaksikan hal tersebut pasrah


ditinggalkan ibu dan kakaknya. Mereka berdua berlari
masuk kedalam rumah bertengkar dan saling
menyalahkan. Mereka berdua saling adu lempar abu
tungku, seketika itu juga wajah dan tubuh mereka
berubah menjadi merah, hitam dan abu-abu. Mereka
berdua berlari menuju hutan menyusul kakak dan
ibunya.
Sejak saat itulah burung cenderawasih yang muncul di
Kabupaten Fakfak memiliki warna yang berbeda antara
burung jantan dan betina. Burung Jantan cenderung
memiliki bulu yang lebih panjang. Dan didalam
kekeayaan alam hutan rimba kabupaten Fakfak terdapat
berbagai jenis burung yang kalah menarik dibandingkan
dengan burung cenderawasih.

Tunggu Cerita Rakyat Indonesia dari berbagai daerah seri


selanjutnya ya. Semoga tulisan ini bermanfaat.