Anda di halaman 1dari 15

UNIVERSITAS INDONESIA

KILANG MINYAK DI INDONESIA

Tugas Individu I
Mata Kuliah Pengolahan Minyak Bumi

Bella Novia Berliana


1506673214

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
APRIL 2018
DAFTAR ISI
COVER .................................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 3
1.1 Kilang Minyak .......................................................................................... 3
1.2 Penjelasan Masing-masing Kilang ............................................................ 3
1.2.1 Kilang Minyak Pangkalan Brandan .......................................................... 3
1.2.2 Kilang Minyak Dumai .............................................................................. 4
1.2.3 Kilang Minyak Plaju ................................................................................. 5
1.2.4 Kilang Minyak Cilacap ............................................................................. 6
1.2.5 Kilang Minyak Balikpapan ....................................................................... 8
1.2.6 Kilang Minyak Balongan .......................................................................... 9
1.2.7 Kilang Minyak Sorong ............................................................................ 10
BAB II ISI.............................................................................................................. 11
2.1 Alasan Pemilihan Kilang ........................................................................ 21
2.2 Proses yang Dilakukan ............................................................................ 21
2.3 Produk yang Dihasilkan .......................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 44

2|Page
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Kilang Minyak


Kilang minyak (oil refinery) adalah pabrik/fasilitas industri yang mengolah minyak
mentah menjadi produk petroleum yang bisa langsung digunakan maupun produk-produk lain
yang menjadi bahan baku bagi industri petrokimia. Produk-produk utama yang dihasilkan dari
kilang minyak antara lain: minyak nafta, bensin (gasoline), bahan bakar diesel, minyak tanah
(kerosene), dan elpiji. Kilang minyak merupakan fasilitas industri yang sangat kompleks
dengan berbagai jenis peralatan proses dan fasilitas pendukungnya. Selain itu,
pembangunannya juga membutuhkan biaya yang sangat besar. Kilang minyak merupakan
salah satu bagian downstream paling penting pada industri minyak bumi.
Di Indonesia terdapat sejumlah kilang minyak, antara lain:
 Pertamina Unit Pengolahan I Pangkalan Brandan, Sumatera Utara: Sudah ditutup
sejak awal tahun 2007
 Pertamina Unit Pengolahan II Dumai/Sei Pakning, Riau
 Pertamina Unit Pengolahan III Plaju, Sumatera Selatan
 Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap
 Pertamina Unit Pengolahan V Balikpapan, Kalimantan Timur
 Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan, Jawa Barat
 Pusdiklat Migas Cepu, Jawa Tengah
 Pertamina Unit Pengolahan VII Sorong, Irian Jaya Barat
Semua kilang minyak di atas dioperasikan oleh Pertamina. Menurut data Kementerian ESDM,
kapasitas kilang Indonesia mencapai 1,17 juta barel minyak per hari pada 2015. Kontribusi
terbesar dari kilang Cilacap mencapai 348 ribu barel minyak per hari.
1.2. Penjelasan Masing-masing Kilang
1.2.1. Kilang Minyak Pangkalan Brandan
Kilang minyak ini dimiliki oleh Pertamina dengan nama Pertamina Unit Pengolahan I
Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Unit pengolahan minyak Pangkalan Brandan memiliki
sejarah panjang sebagai pelopor dimulainya eksplorasi minyak di Indonesia. Pangkalan
Brandan sudah ada sejak 1883, ketika konsesi pertama pengusahaan minyak diserahkan Sultan
Langkat kepada Aeilko J. Zijlker untuk daerah Telaga Said dekat Pangkalan Brandan. Pada
tahun 1892, kilang minyak di Pangkalan Brandan yang dibangun Royal Dutch mulai berjalan.

3|Page
Selanjutnya pada 1901, saluran pipa Perlak-Pangkalan Brandan selesai dibangun. Baru
pada 1945, lapangan minyak sekitar Pangkalan Brandan diserahkan pihak Jepang atas nama
sekutu kepada bangsa Indonesia. Sejarah Pangkalan Brandan yang panjang sempat membuat
masyarakat menolak keputusan Pertamina itu.
Kapasitas kilang ini mencapai 5.000 barel per hari. Sayangnya kilang ini sudah ditutup
sejak awal 2007, karena tidak cukupnya pasokan minyak mentah maupun gas. Apalagi kilang
ini sudah sangat tua sekali.

Gambar 1.1. Kilang Minyak Pangkalan Brandan, Sumatera Utara


(Sumber: images.google.com)
1.2.2. Kilang Minyak Dumai
Kilang minyak ini dimiliki oleh Pertamina dengan nama Pertamina Unit Pengolahan II
Dumai. Sejak dioperasikan pada tahun 1971, kilang minyak Dumai dan Sungai Pakning telah
memberikan sumbangan nyata terhadap perkembangan dan kemajuan daerah khususnya kota
Dumai dan sekitarnya dan telah memberikan andil yang besar bagi pemenuhan kebutuhan
bahan bakar nasional. Kapasitas kilang ini mencapai 127.000 barel per hari. Disebut UP karena
merupakan singkatan dari Unit Produksi, sedangkan disebut RU karena singkatan dari Refinery
Unit. Bahan baku atau crude dari kilang ini adalah Sumatera Light Crude (SLC) yang diambil
dari Lirik dan Duri, Riau.
Berbagai produk bahan bakar Minyak (BBM) dan Non Bahan Bakar Minyak (NBBM)
telah dihasilkan dari kilang Dumai – Sei Pakning dan telah didistribusikan ke berbagai pelosok
tanah air dan manca negara. Berikut ini produk-produknya:
BBM:

4|Page
 Aviation Turbine Fuel
 Minyak Bakar
 Minyak Diesel
 Minyak Solar
 Minyak Tanah
Non BBM:
 Solvent
 Green Coke
 Liquid Petroleum Gas (LPG)

Gambar 1.2. Kilang Minyak Dumai, Riau


(Sumber: images.google.com)
1.2.3. Kilang Minyak Plaju
Kilang minyak ini memiliki kapasitas produksi mencapai 133.000 barel per hari. Kilang
ini terintegrasi dengan kilang Petrokimia, dan memproduksi produk-produk Petrokimia yaitu
Purified Terapthalic Acid (PTA) dan Paraxylene. Crude oil pada kilang ini adalah Sumatera
Light Crude (SLC) Ramba, Sumatera Selatan.
Cikal-bakal Unit Pengolahan III (UP III) Plaju-Sungai Gerong diawali pada 1900
dengan dibangunnya kilang minyak oleh Shell di bibir Sungai Musi yang dikenal sebagai
Kilang Plaju dengan kapasitas 110.000 barel/hari. Dua puluh dua tahun kemudian, tepatnya
pada 1926 Stanvac membangun kilang Sungai Gerong dengan kapasitas 70.000 barel/hari.
Pada masa lalu kilang minyak Plaju dan Sungai Gerong ini merupakan penghasil minyak paling
besar diantara seluruh kilang minyak di Indonesia.
Pada tahun 1965 Kilang Plaju diakuisisi oleh Permina. Dan pada 1970 Permina kembali
mengakuisisi Kilang Sungai Gerong. Kedua kilang tersebut - kini diintergrasikan menjadi

5|Page
Kilang Musi - merupakan aset utama Pertamina UP III Plaju. Produk-produk yang dihasilkan
diantaranya:
BBM:
 Avtur
 Premium
 Kerosene
 Pertamax Racing Fuel
 Automotive Diesel Oil (ADO)
 Industrial Diesel Oil (IDO)
Non-BBM:
 Liquid Petroleum Gas
 Musi Cool (Refrigerant)
 Low Sulphur Waxy Residu (LSWR)
 Bijih Plastik Polytham (polyprophylene)

Gambar 1.1. Kilang Minyak Plaju, Sumatera Selatan


(Sumber: images.google.com)
1.2.4. Kilang Minyak Cilacap
UP-IV Cilacap berlokasi di Jawa Tengah bagian selatan merupakan satu dari dua kilang
Pertamina yang berlokasi di pulau Jawa. Kilang ini merupakan unit dengan produksi paling
besar diantara kilang yang lain sekaligus menghasilkan produk turunan dengan jenis terbanyak
dibanding kilang yang lain. Dengan kapasitas produksi mencapai 348.000 BPSD, UP-IV

6|Page
Cilacap sangat bernilai strategis karena memasok 34% kebutuhan bahan bakar nasional atau
60% kebutuhan bahan bakar di pulau Jawa. Kilang ini juga merupakan satu-satunya kilang
yang memproduksi aspal dan base oil untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur
di tanah air.
UP-IV Cilacap memiliki tiga kilang untuk memproduksi masing-masing demand dari
konsumen. Tiga kilang tersebut adalah:
1. Kilang Minyak I
Pembangunan kilang minyak I dimulai pada tahun 1974 dengan kapasitas mula-
mula 100.000 BPSD dan resmi beroperasi pada tanggal 24 Agustus 1976. Merespon
tingginya permintaan konsumen, kilang minyak I meningkatkan produksinya melalui
debottlenecking project pada tahun 1998/1999. Kilang minyak I akhirnya mampu
berproduksi 18% lebih banyak dari kapasitas awalnya. Sebanyak 118.000 BPSD
dihasilkan dari kilang minyak I.
Kilang minyak ini didesain secara khusus untuk memproses bahan baku minyak
mentah dari kawasan Timur Tengah, atau Arabian Light Crude (ALC), ARJUNA, dan
ATTAKA. Mengapa dirancang untuk mengolah crude oil dari Timur Tengah? Karena
selain untuk mendapatkan produk jadi berupa BBM, kilang minyak I diharapkan
mampu menghasilkan bahan dasar minyak pelumas (lube oil base) dan aspal mengingat
karakter minyak mentah dalam negeri tidak cukup ekonomis untuk produksi tersebut.
2. Kilang Minyak II
Pada tahun 1981, kilang minyak II dibangun untuk menjawab meningkatnya
konsumsi bahan bakar dalam negeri. Peresmian kilang minyak II dilaksanakan pada
tanggal 4 Agustus 1983 dengan kapasitas produksi sebesar 200.000 BPSD. Bersamaan
dengan debottlenecking project kilang minyak I, proyek yang sama di tahun yang sama
juga dilakukan untuk kilang minyak II. Peningkatan kapasitas sebesar 15% menjadi
230.000 BPSD berhasil dilakukan pada kilang minyak II. Kilang minyak II mengolah
minyak "cocktail" yaitu campuran minyak mentah dari dalam negeri dan luar negeri.
3. Kilang Paraxylene
Kilang ini dibangun pada tahun 1988 dan resmi beroperasi tanggal 20 Desember
1990. Kilang ini menghasilkan produk NBM dan Petrokimia. Kilang ini dibangun
karena mempertimbangkan hal-hal seperti tersedianya bahan baku yang cukup berupa
Neptha dari kilang minyak II, adanya sarana pendukung berupa dermaga tangki dan
utilitas, serta potensi pasar yang menjanjikan baik dari dalam maupun luar negeri.
Varian produk yang dihasilkan oleh UP-IV Cilacap antara lain:

7|Page
 Aspal
 Heavy Aromate
 Lube Base Oil
 Low Sulphur Waxy Residu
 Minarex
 Paraffinic Oil
 Paraxylene
 Slack Wax
 Toluene

Gambar 1.2. Kilang minyak Cilacap, Jawa Tengah


(Sumber: images.google.com)
1.2.5. Kilang Minyak Balikpapan
Crude oil kilang ini sebagian besar berasal dari Kalimantan Timur. UP-V Balikpapan
didirikan di teluk Balikpapan dengan luas area 2.5 km2 dengan kapasitas produksi mencapai
253.600 BPSD. UP-V memiliki dua kilang, yaitu kilang Balikpapan I dan kilang Balikpapan
II. Kilang Balikpapan I sudah dibangun sejak tahun 1922 oleh British Petroleum
menindaklanjuti temuan sumur minyak di Sanga-sanga tahun 1897. Kilang Balikpapan II mulai
dibangun pada tahun 1981 dan mulai beroperasi tanggal 1 November 1984. Produk yang
dihasilkan adalah LPG, naftha premium, kerosin, avtur, ado, wax, food oil, dan pad.

8|Page
Gambar 1.5. Kilang Minyak Balikpapan, Kalimantan Timur
(Sumber: images.google.com)
1.2.6. Kilang Minyak Balongan
PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan merupakan kilang keenam dari tujuh kilang
Direktorat Pengolahan PT Pertamina (Persero) dengan kegiatan bisnis utamanya adalah
mengolah minyak mentah (Crude Oil) menjadi produk-produk BBM (bahan bakar minyak),
non-BBM, dan petrokimia. RU-VI Balongan dibangun pada tanggal 1 September 1990 yang
awalnya dinamakan proyek EXOR (Export Oriented Refinery), lalu mulai beroperasi sejak
tahun 1994. Kilang ini berlokasi di Indramayu (Jawa Barat) sekitar ±200 km arah timur Jakarta,
dengan wilayah operasi di Balongan, Mundu dan Salam Darma.
Bahan baku yang diolah di Kilang RU-VI Balongan adalah minyak mentah Duri dan
Minas yang berasal dari Propinsi Riau. Kilang UP-VI Balongan mendapat bahan baku minyak
mentah dari Duri, Riau sebesar 60% dan Minas Dumai 40%. Selain itu, kilang UP-VI Balongan
juga menggunakan gas alam (LNG) sebesar 18 MMSCFD untuk proses produksi yang
diperoleh dari Daerah Operasi Hilir (DOH) Jawa bagian Barat lapangan Karangampel,
Indramayu.
Keberadaan RU VI Balongan sangat strategis bagi bisnis Pertamina maupun bagi
kepentingan nasional. Sebagai Kilang yang relatif baru dan telah menerapkan teknologi terkini,
Pertamina RU VI mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Dengan produk-produk unggulan
seperti Premium, Pertamax, Pertamax Plus, Solar, Pertamina DEX, Kerosene (Minyak Tanah),
LPG, dan Propylene, Pertamina RU VI mempunyai kontribusi yang besar dalam menghasilkan
pendapatan baik bagi PT Pertamina maupun bagi negara. Selain itu RU VI Balongan
mempunyai nilai strategis dalam menjaga kestabilan pasokan BBM ke DKI Jakarta, Banten,

9|Page
dan sebagian Jawa Barat. Sejalan dengan tuntutan bisnis ke depan, PT Pertamina Balongan
terus mengembangkan potensi bisnis yang dimiliki melalui penerapan teknologi baru,
pengembangan produk-produk unggulan baru, serta penerapan standar internasional dalam
sistem manajemen mutu dengan tetap berbasis pada komitmen ramah lingkungan.

Gambar 1.3. Kilang minyak Balongan, Jawa Barat


(Sumber: images.google.com)
1.2.7. Kilang Minyak Sorong
Berdasarkan data Pertamina, kilang minyak Sorong dibangun diatas areal seluas kurang
lebih 80 HA. dan terletak di desa Malabam kecamatan Seget kabupaten Sorong Papua
bersebelahan dengan Kasim Marine Terminal (KMT) Petro China, kurang lebih 90 km sebelah
selatan kota Sorong. Kilang tersebut mulai beroperasi sejak Juli 1997 sampai saat ini.
Kilang BBM Kasim mengolah crude lokal produksi daerah kepala burung Papua.
Lokasi Kilang BBM ini dipilih disekitar area PetroChina dengan dasar pertimbangan:
 Menghemat Biaya Transportasi karena dekat dengan Sumber Bahan Baku (Crude) dan
Pasar
 Mengurangi Biaya Investasi dengan memanfaatkan beberapa fasilitas yang tersedia
diarea PetroChina antara lain dermaga, acces road, tangki, dan lain-lain.
 Tersedianya area dengan luas yang cukup untuk pengembangan kilang minyak Sorong
diwaktu yang akan datang.
 Lokasi kilang di tengah hutan (jauh dari pemukiman penduduk).

10 | P a g e
Kilang minyak Sorong mempunyai kapasitas 10.000 barel/hari, dirancang untuk
mengolah Crude (minyak mentah) Walio (60%) dan Salawati (40%). Produk yang dihasilkan
adalah:
 Fuel Gas : 969 barel / Hari
 Premium : 1.987 barel / Hari (unleaded)
 Kerosene : 1.831 barel / Hari
 Ado (Solar) : 2.439 barel / Hari
 Residue : 3.390 barel / Hari
Dari total produksi, BBM RU VII dapat memberi kontribusi sekitar 15 % dari total kebutuhan
MALIRJA (MALUKU & IRIAN JAYA).

Gambar 1.7. Kilang minyak Kasim, Sorong, Papua


(Sumber: images.google.com)

11 | P a g e
BAB II
ISI

2.1. Alasan Pemilihan Kilang


Bisnis pengolahan PERTAMINA memiliki dan mengoperasikan 6 (enam) buah unit kilang
dengan kapasitas total mencapai 1.046,70 ribu barrel. Dari keenam kilang yang ada, dipilihlah
Kilang Minyak PERTAMINA UP VI Balongan sebagai bahasan utama. Alasan utama
pemilihan Kilang Minyak PERTAMINA UP VI Balongan sebagai bahasan utama adalah
karena Kilang Minyak PERTAMINA UP VI Balongan merupakan salah satu kilang yang
memiliki teknologi yang canggih dan terbaru, karena baru saja diperbarui pada tahun 2012.
Selain itu meskipun kapasitasnya tidak terlalu besar, jika dibandingkan dengan kilang lainnya,
produk akhir yang dihasilkannya mayoritas adalah bahan bakar minyak (BBM).
2.2. Proses dan Alat yang Digunakan
2.3.1. Crude Distillation Unit
CDU merupakan primary processing, yang didesain untuk mengolah 125000 BSPD
(Barrel Stream Per Day). CDU memisahkan minyak mentah menjdai beberapa produk melalui
proses pemisahan fisik berdasarkan perbedaan titik didih dengan proses yang dikenal sebagai
distilasi. Produk yang dihasilkan adalah straight run naptha, kerosene, gas oil, dan atmospheric
residue (AR).
2.3.2. Atmospheric Residue Hydrodemetalizzation
ARHDM merupakan secondary processing dan didesain untuk mengolah atmospheric
residue (AR) dari CDU untuk mengurangi senyawa–senyawa yang terkandung di dalamnya
seperti nickel, vanadium, carbon residue, nitrogen compounds, dan sulphur compounds.
ARHDM terdiri dari 2 train reactor dan satu train fractinator yang menghasilkan produk
naptha, kerosene, gas oil, dan treated residue (DMAR).
2.3.3. Hydrotreating Unit
HTU terdiri dari 3 sub unit, yaitu GO-HTU (gas oil hydrotreating unit) untuk
mengurangi kandungan pengotor dari produk solar, Kero-HTU (kerosene hydrotreating unit)
untuk mengurangi kandungan pengotor dari produk kerosene, dan H2 Plant untuk
menghasilkan gas H2 murni (min 99,99% vol) untuk keperluan operasi kilang.
2.3.4. Residue Catalytic Cracking
RCC juga merupakan secondary processing dengan kapasitas 83 BSPD (505,408 T/H)
merupakan salah satu unit RCC yang terbesar di dunia. Unit ini didesain untuk mengolah
treated residue (DMAR) dari ARHDM dan atmospheric residue (AR) dari CDU dengan

12 | P a g e
bantuan katalis. Produk yang dihasilkan dari unit RCC ini merupakan produk dengan nilai
ekonomi yang tinggi, seperti LPG, propylene, polygasoline (mogas dengan RON 98), naptha
(RON 92), light sycle oil (LCO), serta decant oil (DCO).
2.3.5. Naptha Hydrotreater
Unit ini berfungsi untuk menghilangkan pengotor yang terkandung di dalam straight
run naptha sebelum diproses unit Platformer dan Pennex. Produk yang dihasilkan adalah light
naptha dan heavy naptha.
2.3.6. Platformer
Unit ini berfungsi untuk mengkonvensikan heavy naptha melalui proses naptha
reforming menjadi produk platformate yang beroktan 98 serta LPG sebagai produk samping.
2.3.7. Pennex
Unit Pennex ini berfungsi untuk mengkonversikan light naptha melalui proses isomerasi
menjadi produk isomerat yang beroktan 87 serta LPG sebagai produk samping.

Gambar 2.1. Flow Diagram Proses Produksi di PERTAMINA Kilang Minyak UP VI Balongan
(Sumber: Refining Technology Direktorat Pengolahan Pertamina, 2015)
2.3. Produk yang Dihasilkan
Kilang PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan mempunyai kapasitas 125.000
BPSD dengan bahan baku yang terdiri dari minyak mentah Duri 80%, minyak mentah Minas

13 | P a g e
20%, dan gas alam dari Jatibarang sebagai bahan baku H2 Plant sebanyak 18 MMSCFD.
Pengolahan bahan baku tersebut menghasilkan produk sebagai berikut:

Tabel 2.1. Hasil Produk Kilang Pertamina (Persero) RU-VI


No Jenis Produk Kapasitas Satuan
BBM :
Motor Gasoline 58,000 BPSD
Kerosene 11,900 BPSD
Automotive Diesel 27,000 BPSD
A
Oil
Industrial Diesel Oil 16,000 BPSD
Decant Oil & Fuel 9,300 BPSD
Oil
Non-BBM:
LPG 565 Ton
B Propylene 545 Ton
Ref. Fuel Gas 125 Ton
Sulfur 28,500 Ton
(Sumber: Refining Technology Direktorat Pengolahan Pertamina, 2015)

14 | P a g e
Daftar Pustaka

Direktorat Pengolahan Pertamina. (2015). Proses Produksi Bbm Dari Minyak Bumi Dan
Kilang-Kilang Bbm Pertamina. [Online] Available at:
http://www.migasreview.com/upload/d/c%7Bca%7DProsesProduksiBBMDariMinyak
BumiDanKilang-KilangBBM%7Bca%7D2015-02-04%7Bca%7D05-51-
35%7Bca%7D1421138112.pdf. (Accessed 9 April 2018)
Pertamina. (2015). Usaha Hilir. [Online] Available at:
https://www.pertamina.com/id/downstream. (Accessed 9 April 2018)

15 | P a g e