Anda di halaman 1dari 21

UJI WADAH GELAS UNTUK INJEKSI

I. TUJUAN
Agar mahasiswa dapat memahami batasan wadah gelas yang digunakan untuk
injeksi dan cara pengujiannya.

II. DASAR TEORI


Injeksi adalah penyemprotan larutan atau suspense ke dalam tubuh unutk
tujuan terapetik atau diagnosis. Keuntungan injeksi sendiri antara lain tidak iritasi
pada lambung, efek cepat tetapi juga memiliki kekurangan yaitu biaya yang lebih
mahal.

Wadah untuk pemakaian injeksi antara lain:


a. Ampul adalah wadah berbentuk silindris terbuat dari gelas yang memiliki ujung
runcing (leher) dan bidang dasar datar ujung runcing (leher) dan bidang dasar
datar. Ukuran nominalnya adalah 1, 2, 5, 10, 20 kadang-kadang 25 atau 30 ml.
Ampul adalah wadah takaran tunggal, oleh karena itu pemakaiannya untuk sekali
injeksi.
b. Botol kecil dan botol ( vial, botol penusuk, botol kapsolut) dapat berupa wadah
takaran ganda. Botol tersebut digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat,
larutan atau suspense dengan volume sebanyak 5 ml, akan tetapi dalam
pemasarannya ukuran lebih besar 5 ml, akan tetapi dalam pemasarannya ukuran
lebih besar tersedia.
(Voight, 1995)

Gelas pada dasarnya bersifat inert secara kimiawi, tidak permeable, kuat, keras,
dan disetujui FDA. Gelas tidak menurun mutu penyimpanan dan dengan system
penutupan yang secukupnya dapat menjadi suatu penghalang yang sangat baik
terhadap hamper setiap unsure, kecuali cahaya. Gelas berwarna dapat melindungi
cahaya jika diperlukan. Kekurangan utama gelas adalah mudah pecah dan berat.
Gelas dalam sediaan farmasi dikategorikan menjasi 4 kategori:
a. Tipe I – Gelas Borosilikat (daya tahan tinggi)
b. Tipe II – Gelas Natrium Karbonat yang Diolah (Treade Soda-lime Glass)
c. Tipe III – Gelas Natrium Karbonat biasa (Soda-lime Glass)
d. Tipe IV – Gelas Na Karbonat untuk penggunaan Umum (Soda – lime
Glass untuk tujuan umum)
(Saifullah, 2009)

Uji wadah gelas untuk injeksi ada tiga yaitu:


a. Pemeriksaan batas kebasaan
b. Pemeriksaan batas arsen
c. Pemeriksaan batas timbal
(Anonim, 1979)

Untuk pengujian gelas, pelepasan alkali dari gelas dapat ditentukan dengan
melalui cara yang berlainan dengan metode yaitu:
a. Metode serbuk gelas (metode lumatan)
Pada metode serbuk, gelas diserbukkan kemmudian disuspensikan
dalam aseton. Setelah ditambahkan air dilakukan pemanasan dalam
autoklaf dan ditetesi larutan indicator merah metal kemudian dititrasi
menggunakan asam hidroklorida (0,01 mol / liter)
b. Uji permukaan
Wadah gelas yang diisikan larutan bebas CO2 dan mengandung
sejumlah HClatau H2SO4 tertentu (0,01 mol/ liter) dan merah metal
sebagai indicator. Setelah disterilkan wadah ditutup, dalam autoclave
tidak boleh menghasilkan perubahan warna.
(Voight, 1995)
Menurut keputusan kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor HK.00.05.4.1745, wadah adalah kemasan yang bersentuhan langsung
dengan isi. Menurut SK Menkes No.193/Kab/B/VII/71 peraturan tentang pembungkus dan
penandaan wadah, wadah adalah salah satu komponen yang penting untuk sediaan farmasi,
karena ketidaksesuaian wadah akan mempengaruhi obat secara keseluruhan termasuk
kestabilan dan efek terapi obat. Menurut USP, wadah adalah alat untuk menampung suatu
obat, atau mungkin dalam hubungan langsung dengan obat tersebut.

Pengemas diartikan sebagai wadah, tutup, dan selubung sebelah luar, artinya keseluruhan
bahan kemas, dengannya obat ditransportasikan dan/atau disimpan. Kemasanadalah
penyatuan dari bahan yang dikemas (bahan yang diisikan) dan pengemas. Bahan kemas yang
kontak langsung dengan bahan yang dikemas, dinyatakan sebagai bahan kemas primer,
sebaliknya pembungkus selanjutnya seperti kotak terlipat, karton dan sebagainya dinamakan
bahan kemas sekunder.

Pembagian wadah untuk injeksi dibagi menjadi dua macam yaitu:

1. Wadah dosis tunggal, adalah suatu wadah yang kedap udara yang mempertahankan jumlah
obat steril yang dimaksudkan untuk pemberian parenteral sebagai dosis tunggal dan yang bila
dibuka tidak dapat ditutup rapat kembali yang dengan jaminan tetap steril. Contoh: ampul.
2. Wadah dosis ganda, adalah wadah kedap udara yang memungkinkan pengambilan isinya
perbagian berturut-turut tanpa terjadi perubahan kekuatan, kaulitas atau kemurnian bagian yang
tertinggal. Contoh: vial atau botol serum
Dalam industri farmasi, kemasan yang terpilih harus cukup melindungi kelengkapan
suatu produk. Karenanya seleksi kemasan dimulai dengan penetuan sifat-sifat fisika dan kimia
dari produk itu, keperluan melindunginya, dan tuntutan pemasarannya. Secara umum, hal-hal
penting yang harus diperhatikan dari wadah adalah:
1. Harus cukup kuat untuk menjaga isi wadah dari kerusakan
2. Bahan yang digunakan untuk membuat wadah tidak bereaksi dengan isi wadah
3. Penutup wadah harus bisa mencegah isi:
 Kehilangan yang tidak diinginkan dari kandungan isi wadah
 Kontaminasi produk oleh kotoran yang masuk seperti mikroorganisme atau uap yang akan
mempengaruhi penampilan dan bau produk.
4. Untuk sediaan jenis tertentu harus dapat melindungi isi wadah dari cahaya
5. Bahan aktif atau komponen obat lainnya tidak boleh diadsorpsi oleh bahan pembuat wadah
dan penutupnya, wadah dan penutup harus mencegah terjadinya difusi melalui dinding wadah
serta wadah tidak boleh melepaskan partikel asing ke dalam isi wadah
6. Menunjukkan penampilan sediaan farmasi yang menarik
Berdasarkan pertimbangan tentang kondisi penutupan dalam Farmakope Indonesia,
penyimpan obat dikelompokkan :

1. Wadah tertutup baik, yaitu wadah yang dapat melindungi isinya dari zat padat dari luar dan
dari hilangnya obat pada kondisi pengangkutan, pengapalan, penyimpanan dan distribusi yang
lazim.
2. Wadah tertutup baik terlindung dari cahaya
3. Wadah tertutup rapat, yaitu wadah yang dapat melindungi isinya dari kontaminasi cairan-
cairan, zat padat atau uap dari luar, dari hilangnya obat tersebut, dan dari pengembangan,
pencairan, atau penguapan pada kondisi pengangkutan, pengapalan, penyimpanan, dan distribusi
yang lazim. Suatu wadah tertutup rapat ditutup kembali sehingga kemampuan yang sama seperti
sebelum dibuka.
4. Wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya
Bahan kemas yang kontak langsung dengan bahan yang dikemas, dinyatakan dengan
bahan kemas primer, sebaliknya pembungkus selanjutnya, seperti kotak terlipat, karton dan
sebagainya dinamakan sebagai bahan kemas sekunder. Untuk menjamin stabilitas produk, harus
ditetapkan syarat yang sangat tegas terhadap bahan kemas primer, yang seringkali menyatu
dengan seluruh bahan yang diisikan baik berupa cairan dan semi padatan. Bahan kemas sekunder
pada umumnya tidak berpengaruh terhadap stabilitas.

Jenis kemasan primer dalam sediaan steril terdapat wadah gelas, wadah plastik, wadah
metal, wadah karet. Kaca merupakan produk leburan senyawa organik yang didinginkan tanpa
terjadinya kristalisasi atau dapat disebut cairan kaku. Kaca digunakan sebagai bahan wadah
pilihan untuk sediaan Parenteral. Terutama terdiri dari silikon dioksida dengan jumlah yang
bervariasi dari oksida yang lain seperti natrium, kalium, maupun kalsium.
Wadah kaca yang baik, dapat digambarkan berikut :

a) Wadah kaca harus mampu menahan tekanan, khususnya selama siklus sterilisasi
dengan autoklaf.

b) Wadah juga harus transparan sehingga mudah untuk melakukan pemeriksaan terhadap
isi wadah.

c) Mempunyai ketahanan kimia terhadap interaksi dengan isi serta tidak mengabsorbsi
atau mengeluarkan bahan organic.

d) Mudah dibersihkan karena mempunyai permukaan yang licin.

I. TIPE-TIPE WADAH KACA

Gelas yang digunakan untuk kemasan dalam mengemas sediaan farmasi digolongkan
menjadi empat kategori tergantung pada bahan kimia dari gelas tersebut dan kemampuannya
untuk mencegah peruraian, yaitu :

a. Tipe I – borosilicate glass (gelas borosilikat dengan daya tahan tinggi)

Pada proses pembuatan sebagian besar alkali dan kation tanah diganti oleh boron dan
atau alumunium serta zink. Mempunyai daya tahan kimiawi yang sangat baik sehingga tidak
mempengaruhi preparat parenteral yang sangat peka, lebih baik daripada gelas natrium karbonat.
Umumnya digunakan untuk sediaan parenteral.

b. Tipe II – treated soda lime glass (gelas soda kapu yang diproses)

Adalah gelas soda kapur silikat yang sudah mengalami pengerjaan permukaan pada
bagian yang berhubungan dengan isinya dan mempengaruhi preparat farmasi yang dikemas.
Umumnya digunakan untuk sediaan parenteral bersifat asam dan netral.
c. Tipe III – regular soda lime glass (gelas soda kapur biasa)

Adalah gelas soda kapur silikat yang mempunyai daya tahan kimiawi yang cukup
sehingga tidak mempengaruhi preparat farmasi yang dikemas. Biasanya tidak digunakan
untuk sediaan parenteral, kecuali jika data uji stabilitas yang sesuai menunjukkan bahwa kaca
Tipe III memenuhi untuk sediaan parenteral yang dikemas di dalamnya.

d. Tipe NP – general purpose soda lime glass (gelas soda kapur untuk penggunaan
umum)

Adalah gelas soda kapur silikat yang digunakan untuk produk non parenteral yang
dimaksud untuk pemakaian penggunaan oral dan topical.

Gelas Komposisi Sifat-sifat Aplikasi

Tipe 1 Borosilikat Resistensi terhadap hidrolisis Sediaan parenteral asidik dan


tinggi,eksporasi termal rendah netral, bisa juga untuk sediaan
alkali yang sama

Tipe II Kaca soda kapur Resistensi hidrolitik relatif Sediaan parenteral asidik dan
(diperlukan tinggi netral, bisa juga untuk sediaan
dealkalisasi) alkalin yang sesuai

Tipe III Kaca soda kapur Sama dengan tipe II, tapi Cairan anhidrat dan produk
(tidak mengalami dengan pelepasan oksida kurang, sediaan parenteral jika
perlakuan sesuai

Tipe NP Kaca soda kapur Resistensi hidrolitik sangat Hanya digunakan untuk sediaaan
(penggunaan umum) rendah non parenteral (oral, topikal, dsb)
Wadah yang biasa menggunakan gelas adalah botol, pot, vial, dan ampuls. Kemasan gelas
dibuat dari tiga tipe gelas, yaitu gelas netral (Tipe I) bersifat kurang alkali dan lebih banyak
aluminium, gelas surface treated/borosilikat (Tipe II) bersifat kurang alkali dan lebih banyak
aluminium, sangat baik dan harganya sangat mahal, dan gelas soda / alkali (Tipe III) digunakan
untuk bahan padat kering dan cairan bukan air.

Untuk sediaan dengan berat di atas 2 g, biasa digunakan pot dari gelas. Gelas melindungi
dengan baik dan cocok dengan banyak produk. Untuk produk yang dipengaruhi oleh cahaya,
seperti salep yang mengandung fenol aktif atau garam merkuri, gelas yang berwarna kuning -
sawo matang (coklat) sering digunakan untuk mencegah perubahan warna dari zat aktif. Tutup
harus dapat mencegah sediaan menjadi kering atau penguapan air dan zat aktif yang mudah
menguap.

Kelebihan menggunakan gelas antara lain, inert, kedap udara, dibuat dari bahan yang
relatif murah, tidak mudah terbakar, bentuknya tetap, mudah diisi, mudah ditutup, dapat dikemas
menggunakan packaging line, mudah disterilisasi, mudah dibersihkan dan dapat digunakan
kembali.

Kekurangan gelas sebagai wadah untuk menyimpan sediaan semisolid dibandingkan


dengan logam dan plastik adalah lebih rapuh (mudah pecah) dan lebih berat untuk pengiriman.
Kemasan untuk konsumen yang terbuat dari gelas bukan merupakan wadah yang paling higienis
karena wadah akan sering dibuka berulang – ulang oleh konsumen, dimana tangannya tidak
selalu bersih.
Oksida yang terkandung dalam formulasi kaca dapat tercuci ke dalam larutan pada kontak
dengan kaca, terutama selama peningkatan reaktivitas sterilisasi termal. Oksida yang terlarut
dapat:

a) menghidrolisis untuk menaikkan pH larutan.

b) mengkatalisis reaksi atau masuk ke dalam reaksi.

c) Selain itu, beberapa senyawa gelas dapat terdesak oleh larutan dan serpihan kaca masuk ke
dalam larutan.

Keterangan : hal tersebut dapat diminimalkan dengan pemilihan komposisi kaca yang tepat.
 contoh wadah kaca

Gambar 1. Wadah Ampul

Gambar 2. Wadah Vial


VALIDASI

Tabel 1. Tipe gelas USP, Batas uji dan petunjuk pemilihan

Batas Uji
H2SO4 0,020 N
Tipe Tipe Uji Ukuran (ml) Pengunaan umum
(ml)

Tipe I Gelas yang 1,0 Untuk larutan air, baik yang


Semua
Gelas borosilikat diserbuk didapar maupun tidak
100 atau
Tipe II kurang dari 0,7 Larutan air yang didapar dengan
Serangan
Gelas soda kapur yang 100 pH dibawah 7
air 0,2
diproses Lebih dari Serbuk kering, larutan minyak
100
Tipe III Gelas yang 8,5
Semua Serbuk kering, larutan minyak
Gelas soda kapur diserbuk
Bukan untuk sedian parenteral,
NP
Gelas yang 15,0 untuk tablet, larutan oral, dan
Gelas soda kapur Semua
diserbuk suspensi oral, salep dan cairan
tujuan umum
untuk obat luar

1. Uji Transmisi cahaya


Alat:

Spektrofotometer dengan kepekaan dan ketelitian yang sesuai untuk pengukuran

jumlah cahaya yang ditransmisi oleh wadah sediaan farmasi yang terbuat dari bahan gelas.

Penyiapan contoh:

Potong wadah kaca dengan gergaji melingkar yang dipasang dengan roda abrasif basah,
seperti suatu roda berlian. Wadah dari kaca tiup dipilih bagian yang mewakili ketebalan rata-rata
dinding dan potong secukupnya hingga dapat sesuai untuk dipasang dalam spektrofotometer.
Wadah gelas tadi dicuci dan dikeringkan dengan hati-hati untuk menghindari adanya goresan
pada permukaan. Gelas contoh kemudian dibersihkan dengan kertas lensa dan dipasang pegangan
contoh dengan bantuan paku lilin.

Prosedur:

Potongan diletakkan dalam spektrofotometer denagn sumbu silindris sejajar terhadap


bidang celah dan lebih kurang di tengah celah. Jika diletakkan dengan benar, sorotan cahaya
normal terhadap permukaan potongan dan kehilangan pantulan cahaya minimum. Ukur
tranmitans potongan dibandingkan dengan udara pada daerah spektrum yang diinginkan terus-
menerus dengan alat perekam atau pada interval lebih kurang 20 nm dengan alat manual pada
daerah panjang gelombang 290 nm—450nm.

Batas:

Transmisi cahaya yang diukur tidak melewati batas yang tertera pada tabel 1, untuk wadah
sediaan parenterral. Transmisi cahaya wadah kaca atau gelas tipe NP untuk sediaan oral atau
topikal tidak lebih dari 10% pada setiap panjang gelombang dalam rentang 290nm—450nm.
Ukuran nominal Presentase maksimum Transmisi Cahaya pada
panjang gelombang antara 290 dan 450 nm
(dalam ml)
Wadah segel-bakar Wadah segel tutup rapat

1 50 25

2 45 20

5 40 15

10 35 13

20 30 12

50 15 10

Catatan setiap wadah dengan ukuran antara seperti yang tertera pada tabel di atas
menunjukkan transmisi tidak lebih dari wadah ukuran lebih besar seperti yang terterapada tabel.
Untuk wadah lebih dari 50 ml, gunakan batas untuk 50 ml.
2. Uji Tahan Bahan Kimia

Prinsip:

Menetapkan daya tahan wadah kaca atau gelas baru (yang belum pernah digunakan)
terhadap air. Tingkat ketahanan ditentukan dari jumlah alkali yang terlepas dari kaca karena
pengaruh media pada kondisi ynag telah ditentukan. Pengujian dilakukan di ruangan yang relatif
bebas dari asap dan debu berlebihan.

Alat Pereaksi

1) 1. Otoklaf dengan suhu yang dipertahankan 121  1) Air kemurnian tinggi dengan
2) 2,0 dan mampu menampung 12 wadah diatas konduktivitas 0,15m
3) permukaan air.
2) 2. Lumpang dan alu yang terbuat dari baja-diperkeras 2) Larutan merah metil

3) 3. Pengayak terbuat dari baja tahan karat ukuran 20,3

cm yaitu nomor 20,40 dan 50

4) 4. Labu erlenmeyer 250ml terbuat dari kaca tahan

lekang

5) 5. Palu 900 g

6) 6. Magnit permanen Tabel 3. Alat dan pereaksi untuk uji bahan kimia

7) 7. Desikator

8) 8. Alat volumetrik secukupnya


Prosedur

Bahan uji ditambahkan 5 tetes indikator dn memerlukan tidak lebih dari 0,020ml natrium
hidroksida 0,020 N LV untuk mengubah warna indikator dan ini terjadi pada pH 5,6.

3. Uji Serbuk Kaca

Penyiapan contoh:

Pilih secara acak 6 atau lebih wadah, bilas dengan air murni, keringkan dengan udar
bersih dan kering. Hancurkan wadah hingga menjadi ukuran lebih kurang 25mm. Lalu pecahan
kaca dtumbuk dengan lumpang dan alu diteruskan dengan pengayakan nomor 20 setelah itu
nomor 40. Ulangi kembali penghancuran dan pengayakan. Kemudian pecahan kaca diayak
dengan ayakan yang menggunakan penggoyang mekanis selama 5 menit. Pindahkan bagian yang
tertinggal pada ayakan nomor 50, yang bobotnya harus lebih dari 10 g ke dalam wadah bertutup
dan simpan dalam desikator hingga saat pengujian

Sebarkan contoh pada sehelai kertas kaca dan lewatkan magnit melalui contoh tersebut
untuk menghilangkan partikel besi yang terikut selama pengahancuran. Masukkan contoh
kedalam labu Erlenmeyer 250 ml terbuat dari kaca tahan bahan kimia dan cuci 6 kali, tiap kali
dengan dengan aseton. Keringkan labu dan isi pada suhu 140 selam 20 menit, pindahkan butiran
ke dalam botol timbang dan dinginkan dalam desikator. Contoh uji digunakan dalam waktu 48
jam setelah pengeringan.

Prosedur :

Timbang contoh uji, masukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml yang diekstraksi dengan
air kemurnian tinggi dalam tangas air pada suhu 90 selama tidak kurang dari 24 jam atau pada
suhu 121 selama 1 jam. Tambahkan 50,0 ml air kemurnian tinggi ke dalam labu dan ke dalam
labu lain untuk blanko. Tutup semua labu dengal gelas piala terbuat dari borosilikat yang
sebelumnya telah diperlakukan seperti ditetapkan denagn ukuran sedemikian hingga dasar gelas
piala menyentuh bagian tepi labu. Letakkan wadah dalam otoklaf dan tutup hati-hati, biarkan
lubang ventilassi terbuka. Panaskan hingga uap keluar dan lanjutkan pemanasan selama 10 menit.
Tutup lubang ventilasi dan atur suhu 121 . Pertahankan suhu pada 121  2 selam 30 menit
dihitung saat suhu tercapai. Kurangi panas hingga otoklaf mendingin dan mencapai tekanan
atmosfer dalam 38 menit hingga 46 menit, jika perlu buka lubang ventilasi untuk mencegah
terjadinya hampa udara. Dinginkan segera labu dalam air mengalir, enaptuangkan air dalam labu
ke dalam bejana sesuai yang bersih dan cuci sisa serbuk kaca 4 kali , tiap kali dengan 15 ml air
kemurnian tinggi.

Tambahkan 5 tetes larutan merah metil dan titrasi segera dengan asam sulfat 0,020 N LV.
Catat volume asam sulfat 0,020 N yang digunakan untuk menetralkan ekstrak dari 10 g contoh
uji, lakukan titrassi blanko. Volume tidak lebih dari yang tertera pada tabel tipe kaca dan tabel uji
untuk tipe gelas yang diuji.

4. Uji Ketahanan terhadap Air pada Suhu 121

Penyiapan contoh:

Pilih secara acak 3 atau lebih wadah bilas 2 kali dengan air kemurnian tinggi.

Prosedur :

Isi setiap wadah dengan air kemurnian tinggi hingga 90% dari kapasitas penuh dan
lakukan prosedur seperti yang tertera pada uji serbuk kaca mulai dengan “Tutup semua labu…..”,
kecuali waktu pemansan dengan otoklaf 60 menit bukan 30 menit dan diakhiri dengan “untuk
mencegah terjadinya hampa udara”. Kosongkan isi dari 1 atau lebih wadah ke dalam gelas ukur
100 ml. Jika wadah lebih kecil, gabungkan isi dari beberapa wadah untuk memperoleh voluyme
100 ml. Masukkan kumpulan contoh dalam labu erlenmeyer 250 ml terbuat dari kaca tahan bahan
kimia, tambahkan 5 tetes larutan metil merah, titrasi dalam keadaan hangat dengan asam sulfat
0,020N LV. Selesaikan titrasi dalam waktu 60 menit setelah otoklaf dibuka. Catat volume asam
sulfat 0,020 N yang digunakan , lakukan titrasi blanko dengan 100 ml air kemurnian tinggi pada
suhu yang sama dan dengan jumlah indikator yang sama. Volume tidak lebih dari yang tertera
pada tabel tipe kaca dan batas uji untuk tipe kaca yang diuji.

5. Uji Arsen

Arsen tidak lebih dari 0,1 bpj;gunakan sebagai larutam uji 35 ml air dari 1 wadah kaca
tipe I, atau jika wadah lebih kecil , 35 ml dari kumpulan isi dari beberapa wadah kaca tipe I, yang
disiapkan sesuai prosedur seperti yang tertera pada ketahanan terhadap Air pada suhu
121.(Departemen Kesehatan RI. Farmakope Indonesia edisi IV. 1995.
III. ALAT DAN BAHAN
1. Alat dan Bahan
 Alat  Bahan
 Autoclave  Air bebas CO2
 Botol infuse kaca  Aquadest
 Alumunium foil  H2SO4 0,01 N
 Erlenmayer  Acetone
 Buret  Indicator metal merah
 Gelas ukur  Asam Klorida
 Pipet tetes  Natrium sulfida
 Tabung reaksi
2. Cara Kerja
a. Batas kebasaan

Dibuat aqua bebas CO2

Disiapkan 3 botol infuse volume 250 ml

Dibilas bagian dalam dengan aquadest dan aqua bebas CO2 secara bergantian hingga
dirasa sempurna

Diisi tiap botol dengan aqua bebas CO2 hingga masing-masing botol terisi 90 %

Ditutup mulut botol dengan alumunium foil yang sudah dibilas dengan acetone

Botol diautoclave pada 115oC selama 20 menit


Dikeluarkan botol, didinginkan, kemudian 100 ml isi botol dituang dalam erlenmeyer
untuk titrasi

Ditambah 5 tetes indikator metal merah, kemudian lakukan titrasi menggunakan


H2SO4 0,01 N

Dilakukan titrasi blanko menggunakan 100 ml aqua bebas CO2


b. Batas Timbal

Dipipet 10 ml air dari wadah yang dikerjakan menurut cara pada batas kebasaan,
ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 1 tetes asam klodrida dan 3 tetes larutan Natrium sulfida P

Dilihat ada tidaknya warna coklat (jika terdapat warna coklat berarti terdapat
timbal)
IV. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, UGM Press, Yogyakarta.
Anief, Moh. 2006. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Anief, Moh. 2007. Farmasetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Voight, Rudolf, 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, UGM Press, Yogyakarta.
Wahyu, Kurniawan Dhadhang dan T.N. Saifullah Sulaiman.2009. Teknologi Sediaan Farmasi
Edisi I. GrahaI lmu.Yogyakarta.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI. Jakarta
Anief, Moh. 2006. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Anief, Moh. 2007. Farmasetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM TEKNOLOGI FARMASI II

“UJI WADAH GELAS UNTUK INJEKSI”

DOSEN PENGAMPU :

METHA ANUNG ANINDHITA.,M.Sc.,APT

DISUSUN OLEH :

NAMA : Nahrul Ikhsan

NPM : 1116004431

KELOMPOK : KELAS SORE

SEMESTER : IV (EMPAT)

PROGRAM STUDY DIPLOMA-III FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS PEKALONGAN

2018

LAMPIRAN

PROSES DAN STERILISASI


Uji wadah untuk injeksi

Proses perendaman aqua


bebas co3

Pengisian aquadest bebas


CO3

Proses titrasi h2so4

Proses batas timbal