Anda di halaman 1dari 12

KONSEP DASAR TEORI

1. Definisi

AIDS berasal dari kata acquired yang artinya didapat atau bukan penyakit keturunan, immune berarti
sistem kekebalan tubuh, deficiency atau kekurangan dan syndrome yang berarti kumpulan gejala-gejala
penyakit. Jadi, dari kata-kata tersebut dapat diartikan bahwa AIDS adalah kumpulan gejala penyakit
akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebutHuman Immunodeficiency
Virus (HIV). (Dinah Gould, 2003)

Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh Toxoplasma
gondii. Toxsoplasma adalah parasit protozoa dengan sifat alami dengan perjalanannya dapat akut atau
menahun, juga dapat menimbulkan gejala simtomatik maupun asimtomatik. (Dinah Gould, 2003)

Toxoplasmosis merupakan infeksi serius pada orang dengan gangguan kekebalan terutama pengidap
virus HIV, terjadi reaktivasi infeksi laten yang menimbulkan toksoplasmosis diseminata atau ensefalitis.
(Dinah Gould, 2003)

Ensefalitis toksoplasma merupakan penyebab tersering lesi otak fokal infeksi oportunistik yang paling
banyak terjadi pada pasien AIDS. Ensefalitis toksoplasma muncul pada kurang lebih 10% pasien AIDS
yang tidak diobati. Hal ini disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii yang dibawa oleh kucing, burung
dan hewan lain yang dapat ditemukan pada tanah yang tercemar oleh tinja kucing dan kadang pada
daging mentah atau kurang matang. (Dinah Gould, 2003)

2. Etiologi

Ensefalitis toksoplasma disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang dibawa oleh kucing, burung
dan hewan lain yang dapat ditemukan pada tanah yang tercemar oleh tinja kucing dan kadang pada
daging mentah atau kurang matang. Begitu parasit masuk ke dalam sistem kekebalan, parasit tersebut
menetap di sana, sistem kekebalan pada orang yang sehat dapat melawan parasit tersebut hingga
tuntas, dan dapat mencegah terjadinya suatu penyakit. Namun, pada orang pasien HIV/AIDS mengalami
penurunan kekebalan tubuh sehingga tidak mampu melawan parasit tersebut. Sehingga pasien mudah
terinfeksi oleh parasit tersebut. (Richard, 1997)

Transmisi pada manusia terutama terjadi bila memakan daging babi atau domba yang mentah dan
mengandung oocyst (bentuk infektif dariToxoplasma gondii). Bisa juga dari sayur yang terkontaminasi
atau kontak langsung dengan feses kucing. Selain itu dapat terjadi transmisi lewat transplasental,
transfusi darah, dan transplantasi organ. Infeksi akut pada individu yang immunokompeten biasanya
asimptomatik. Pada manusia dengan imunitas tubuh yang rendah dapat terjadi reaktivasi dari infeksi
laten. Yang akan mengakibatkan timbulnya infeksi opportunistik dengan predileksi di otak.

3. Daur Hidup Toxoplasma gondii


Toxoplasma gondii hidup dalam 3 bentuk yaitu thachyzoite, tissue cyst(yang mengandung bradyzoites)
dan oocyst (yang mengandung sporozoites). Bentuk akhir dari parasit diproduksi selama siklus seksual
pada usus halus dari kucing. Kucing merupakan pejamu definitif dari Toxoplasma gondii. Siklus hidup
aseksual terjadi pada pejamu perantara (termasuk manusia) Dimulai dengan tertelannya tissue
cyst atau oocyst diikuti oleh terinfeksinya sel epitel usus halus oleh bradyzoites atau sporozoites secara
berturut-turut. Setelah bertransformasi menjadi tachyzoite, organisme ini menyebar ke seluruh tubuh
lewat peredaran darah atau limfatik. (Indan Entjang, 2003)

Parasit ini berubah bentuk menjadi tissue cysts begitu mencapai jaringan perifer. Bentuk ini dapat
bertahan sepanjang hidup pejamu, dan berpredileksi untuk menetap pada otak, myocardium, paru, otot
skeletal dan retina. (Richard, 1997)

Tissue cyst ada dalam daging, tapi dapat dirusak dengan pemanasan sampai 67oC, didinginkan sampai -
20oC atau oleh iradiasi gamma. Siklus seksual entero-epithelial dengan bentuk oocyst hidup pada kucing
yang akan menjadi infeksius setelah tertelan daging yang mengandung tissue cyst.
Ekskresi oocysts berakhir selama 7-20 hari dan jarang berulang. Oocystmenjadi infeksius setelah
diekskresikan dan terjadi sporulasi (pembentukan spora). Lamanya proses ini tergantung dari kondisi
lingkungan, tapi biasanya 2-3 hari setelah diekskresi. Oocysts menjadi infeksius di lingkungan selama
lebih dari 1 tahun. (Indan Entjang, 2003)

Transmisi pada manusia terutama terjadi bila makan daging babi atau domba yang mentah yang
mengandung oocyst. Bisa juga dari sayur yang terkontaminasi atau kontak langsung dengan feces
kucing. Selain itu dapat terjadi transmisi lewat transplasental,transfusi darah, dan transplantasi organ.
Infeksi akut pada individu yang imunokompeten biasanya asimptomatik. Pada manusia dengan imunitas
tubuh yang rendah dapat terjadi reaktivasi dari infeksi laten. yang akan mengakibatkan timbulnya infeksi
oportunistik dengan predileksi di otak. Tissue cyst menjadi ruptur dan melepaskan invasive tropozoit
(tachyzoite). Tachyzoite ini akan menghancurkan sel dan menyebabkan focus nekrosis. (Indan Entjang,
2003)

Pada pasien yang terinfeksi HIV, jumlah CD4 limfosit T dapat menjadi prediktor kemungkinanan adanya
infeksi oportunistik. Pada pasien dengan CD4 < 200 sel/mL kemungkinan untuk terjadi infeksi
oportunistik sangat tinggi. Oportunistik infeksi yangmungkin terjadi pada penderita dengan CD4 < 200
sel/mL adalah pneumocystis carinii, CD4 < 100 sel/mL adalah toxoplasma gondii , dan CD4 < 50
adalah M. Avium Complex, sehingga diindikasikan untuk pemberian profilaksis primer. M.
tuberculosisdan candida species dapat menyebabkan infeksi oportunistik pada CD4 > 200 sel/mL. (Dinah
Gould, 2003)

4. Patofisiologi

a. Patofisiologi HIV/AIDS

HIV secara signifikan berdampak pada kapasitas fungsional dan kualitas kekebalan tubuh. HIV
mempunyai target sel utama yaitu sel limfosit T4, yang mempunyai reseptor CD4. Beberapa sel lain yang
juga mempunyai reseptor CD4 adalah sel monosit, sel makrofag, sel folikular dendritik, sel retina, sel
leher rahim, dan sel langerhans. Infeksi limfosit CD4 oleh HIV dimediasi oleh perlekatan virus
kepermukaan sel reseptor CD4, yang menyebabkan kematian sel dengan meningkatkan tingkat
apoptosis pada sel yang terinfeksi. Selain menyerang sistem kekebalan tubuh, infeksi HIV juga
berdampak pada sistem saraf dan dapat mengakibatkan kelainan pada saraf.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) masuk ke dalam tubuh seseorang dalam keadaan bebas atau
berada di dalam sel limfosit. Virus ini memasuki tubuh dan terutama menginfeksi sel yang mempunyai
molekul CD4. Sel-sel CD4-positif (CD4+) mencakup monosit, makrofag dan limfosit T4 helper. Saat virus
memasuki tubuh, benda asing ini segera dikenal oleh sel T helper (T4), tetapi begitu sel T helper
menempel pada benda asing tersebut, reseptor sel T helper tidak berdaya; bahkan HIV bisa pindah dari
sel induk ke dalam sel T helper tersebut.

Jadi, sebelum sel T helper dapat mengenal benda asing HIV, ia lebih dahulu sudah dilumpuhkan. HIV
kemudian mengubah fungsi reseptor di permukaan sel T helper sehingga reseptor ini dapat menempel
dan melebur ke sembarang sel lainnya sekaligus memindahkan HIV. Sesudah terikat dengan membran
sel T4 helper, HIV akan menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper.

Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse transcriptase, HIV akan melakukan
pemrograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA
(DNA utas-ganda). DNA ini akan disatukan ke dalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan
kemudian terjadi infeksi yang permanen.

Fungsi T helper dalam mekanisme pertahanan tubuh sudah dilumpuhkan, genom dari HIV dan proviral
DNA kemudian dibentuk dan diintegrasikan pada DNA sel T helper sehingga menumpang ikut
berkembang biak sesuai dengan perkembangan biakan sel T helper. Sampai suatu saat ada mekanisme
pencetus (mungkin karena infeksi virus lain) maka HIV akan aktif membentuk RNA, ke luar dari T helper
dan menyerang sel lainnya untuk menimbulkan penyakit AIDS. Karena sel T helper sudah lumpuh maka
tidak ada mekanisme pembentukan sel T killer, sel B dan sel fagosit lainnya. Kelumpuhan mekanisme
kekebalan inilah yang disebut AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) atau sindroma kegagalan
kekebalan. (Sylvia A Price, 1995)

b. Patofisiologi Toxoplasmosis sebagai komplikasi HIV/AIDS

Infeksi oportunistik dapat terjadi akibat penurunan kekebalan tubuh pada penderita HIV/AIDS. Infeksi
tersebut dapat menyerang sistem saraf yang membahayakan fungsi dan kesehatan sel saraf.

Setelah infeksi oral, bentuk tachyzoite atau invasif parasit dariToxoplasma gonii menyebar ke seluruh
tubuh. Takizoit menginfeksi setiap sel berinti, di mana mereka berkembang biak dan menyebabkan
kerusakan. Permulaan diperantarai sel kekebalan terhadap T gondiidisertai dengan transformasi parasit
ke dalam jaringan kista yang menyebabkan infeksi kronis seumur hidup.

Mekanisme bagaimana HIV menginduksi infeksi oportunistik seperti toxoplasmosis sangat kompleks. Ini
meliputi deplesi dari sel T CD4, kegagalan produksi IL-2, IL-12, dan IFN-gamma, kegagalan aktivitas
Limfosit T sitokin. Sel-sel dari pasien yang terinfeksi HIVmenunjukkan penurunan produksi IL-12 dan IFN-
gamma secara in vitro dan penurunan ekspresi dari CD 154 sebagai respon terhadapToxoplasma gondii.
Hal ini memainkan peranan yang penting dari perkembangan toxoplasmosis dihubungkan dengan infeksi
HIV.
Ensefalitis toksoplasma biasanya terjadi pada penderita yang terinfeksi virus HIV dengan CD4 T sel
<100/mL. Ensefalitis toxoplasma ditandai dengan onset yang subakut. Manifestasi klinis yangtimbul
dapat berupa defisit neurologis fokal (69%), nyeri kepala (55%), bingung atau kacau(52%), dan kejang
(29%). Pada suatu studi didapatkan adanya tanda ensefalitis global dengan perubahan status mental
pada 75% kasus, adanya defisit neurologis pada 70% kasus, nyeri kepala pada 50 % kasus, demam pada
45 % kasus dan kejang pada 30 % kasus.

Defisit neurologis yang biasanya terjadi adalah kelemahan motorik dan gangguan bicara. Bisa juga
terdapat abnormalitas saraf otak, gangguan penglihatan, gangguan sensorik, disfungsi serebelum,
meningismus, movement disorders dan menifestasi neuropsikiatri.

Pada pasien yang terinfeksi HIV, jumlah CD4 limfosit T dapat menjadi prediktor untuk validasi ke
mungkinanan adanya infeksi oportunistik. Pada pasien dengan CD4< 200sel/mL kemungkinan untuk
terjadi infeksi oportunistik sangat tinggi. (Sylvia A Price, 1995)

5. Manifestasi Klinis

Gejala termasuk ensefalitis, demam, sakit kepala berat yang tidak respon terhadap pengobatan, lemah
pada satu sisi tubuh, kejang, kelesuan, kebingungan yang meningkat, masalah penglihatan, pusing,
masalah berbicara dan berjalan, muntah dan perubahan kepribadian. Tidak semua pasien menunjukkan
tanda infeksi.

Nyeri kepala dan rasa bingung dapat menunjukkan adanya perkembangan ensefalitis fokal dan
terbentuknya abses sebagai akibat dari terjadinya infeksi toksoplasma. Keadaan ini hampir selalu
merupakan suatu kekambuhan akibat hilangnya kekebalan pada penderita-penderita yang semasa
mudanya telah berhubungan dengan parasit ini. Gejala-gejala fokalnya cepat sekali berkembang
dan penderita mungkin akan mengalami kejang dan penurunan kesadaran. (Richard, 1997)

6. Pemeriksaan Penunjang (Brunner, 2002)

a. Pemeriksaan Serologi

Didapatkan seropositif dari anti-Toxoplasma gondii IgG dan IgM. Deteksi juga dapat dilakukan
dengan indirect fluorescent antibody(IFA), aglutinasi, atau enzyme linked immunosorbent assay (ELISA).
Titer IgG mencapai puncak dalam 1-2 bulan setelah terinfeksi kemudian bertahan seumur hidup.

b. Pemeriksaan cairan serebrospinal

Menunjukkan adanya pleositosis ringan dari mononuklear predominan dan elevasi protein.

c. Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR)

Digunakan untuk mendeteksi DNA Toxoplasmosis gondii. Polymerase Chain Reaction (PCR)
untuk Toxoplasmosis gondii dapat juga positif pada cairan bronkoalveolar dan cairan vitreus atau aquos
humor dari penderita toksoplasmosis yang terinfeksi HIV. Adanya PCR yang positif pada jaringan otak
tidak berarti terdapat infeksi aktif karenatissue cyst dapat bertahan lama berada di otak setelah infeksi
akut.
d. CT scan

Menunjukkan fokal edema dengan bercak-bercak hiperdens multiple dan biasanya ditemukan lesi
berbentuk cincin atau penyengatan homogen dan disertai edema vasogenik pada jaringan sekitarnya.
Ensefalitis toksoplasma jarang muncul dengan lesi tunggal atau tanpa lesi.

e. Biopsi otak

Untuk diagnosis pasti ditegakkan melalui biopsi otak

7. Penatalaksanaan (Richard, 1997)

a. Toksoplasmosis otak diobati dengan kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin. Kedua obat ini dapat
melalui sawar-darah otak.

b. Toxoplasma gondii, membutuhkan vitamin B untuk hidup. Pirimetamin menghambat pemerolehan


vitamin B oleh tokso. Toxoplasma gondii. Sulfadiazin menghambat penggunaannya.

c. Kombinasi pirimetamin 50-100mg perhari yang dikombinasikan dengan sulfadiazin1-2 g tiap 6 jam.

d. Pasien yang alergi terhadap sulfa dapat diberikan kombinasi pirimetamin 50-100 mg perhari
dengan clindamicin 450-600 mg tiap 6 jam.

e. Pemberian asam folinic 5-10 mg perhari untuk mencegah depresi sumsum tulang.

f. Pasien alergi terhadap sulfa dan clindamicin, dapat diganti dengan Azitromycin 1200mg/hr, atau
claritromicin 1 gram tiap 12 jam, atau atovaquone 750 mg tiap 6 jam. Terapi ini diberikan selam 4-6
minggu atau 3 minggu setelah perbaikan gejala klinis.

g. Terapi anti retro viral (ARV) diindikasikan pada penderita yang terinfeksi HIVdengan CD4 kurang
dari 200 sel/mL, dengan gejala (AIDS) atau limfosit totalkurang dari 1200. Pada pasien ini, CD4 42,
sehingga diberikan ARV.

2. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan antibodi spesifik toksoplasma, yaitu IgG, IgM dan
IgG affinity.

· IgM adalah antibodi yang pertama kali meningkat di darah bila terjadi infeksi toksoplasma.

· IgG adalah antibodi yang muncul setelah IgM dan biasanya akan menetap seumur hidup pada
orang yang terinfeksi atau pernah terinfeksi.

· IgG affinity adalah kekuatan ikatan antara antibodi IgG dengan organisme penyebab
infeksi. Manfaat IgG affinityyang dilakukan pada wanita yang hamil atau akan hamil karena pada
keadaan IgG dan IgM positif diperlukan pemeriksaan IgG affinity untuk memperkirakan kapan infeksi
terjadi, apakah sebelum atau pada saat hamil. Infeksi yang terjadi sebelum kehamilan tidak perlu
dirisaukan, hanya infeksi primer yang terjadi pada saat ibu hamil yang berbahaya, khususnya pada
trimester I.

· Bila IgG (-) dan IgM (+). Kasus ini jarang terjadi, kemungkinan merupakan awal infeksi. Harus
diperiksa kembali 3 minggu kemudian dilihat apakah IgG berubah jadi (+). Bila tidak berubah, maka IgM
tidak spesifik, yang bersangkutan tidak terinfeksi toksoplasma.

· Bila IgG (-) dan IgM (-). Belum pernah terinfeksi dan beresiko untuk terinfeksi. Bila sedang hamil,
perlu dipantau setiap 3 bulan pada sisa kehamilan (dokter mengetahui kondisi dan kebutuhan
pemeriksaan anda). Lakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi infeksi.

· Bila IgG (+) dan IgM (+). Kemungkinan mengalami infeksi primer baru atau mungkin juga infeksi
lampau tapi IgM nya masih terdeteksi. Oleh sebab itu perlu dilakukan tes IgGaffinity langsung pada
serum yang sama untuk memperkirakan kapan infeksinya terjadi, apakah sebelum atau sesudah hamil.

· Bila IgG (+) dan IgM (-). Pernah terinfeksi sebelumnya. Bila pemeriksaan dilakukan pada awal
kehamilan, berarti infeksinya terjadi sudah lama (sebelum hamil) dan sekarang telah memiliki
kekebalan, untuk selanjutnya tidak perlu diperiksa lagi.

b. Infeksi HIV diperkuat oleh tes serologi positif:

· Tes ELISA (Enzim linked immunosorbent assay)

· Western blot dianggap tes yang lebih spesifik untuk infeksi HIV, dilakukan sama pada spesimen
darah jika tes ELISA positif (2kali)

3. Diagnosa Keperawatan dan Rencana Keperawatan

a. Resiko tinggi terhadap infeksi

Berhubungan dengan faktor : penurunan respon imun, kerusakan kulit

Batasan karakteristik : western blot positif, terlihat gejala-gejala ARC atau AIDS, ada riwayat dirawat
untuk pengobatan infeksi, pernah menerima obat-obat untuk pengobatan infeksi HIV

Hasil pasien (kolaboratif) : mendemostrasikan resolusi pada infeksi saat ini (sekarang)

Kriteria evaluasi : temperatur dan SDP kembali ke batas normal, keringat malam berkurang, tidak ada
batuk, meningkatnya masukan makanan, tercapai penyembuhan luka atau lesi pada waktunya

Intervensi Rasional

1. Pantau: Data objektif adalah perlu


untuk mengevaluasi
· Hasil JDL dan CD4
keefektifan terapi
· Temperatur setiap 4 jam

· Status umum (apendiks F) setiap delapan jam


2. Kolaborasi pemberian antibiotik dan evaluasi Antibiotik yang spesifik
keefektifannya.. jamin pemasukan cairan paling untuk kuman patogen
sedikit 2-3 liter sehari diperlukan untuk menangani
terjadinya suatu infeksi.
Cairan membantu distribusi
obat di seluruh tubuh.

3. Ikuti prinsip-prinsip kewaspadaan umum Untuk menurunkan resiko


terhadap darah dan cairan tubuh. Ginakan infeksi nosokomial dan untuk
pencegahan dasar yang sesuai untuk mencegah mencegah pasien dari infeksi
kontaminasi terhadap kulit dan mukosa membran, baru
bila kontak dengan darah atau cairan tubuh:

· Pakai sarung tangan bila akan kontak dengan


cairan atau darah

· Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak


dengan pasien, termasuk sebelum dan sesudah
memakai sarung tangan

· Pasang label katagori spesifik isolasi pada


pintu kamar pasien. Jika ada TB paru, pakai masker
dan nasehatkan semua anggota keluarga pasien
untuk skrining TB, jelaskan bahwa TB menular.

Masker tidak diperlukan untuk PCP sebab


kemungkinan infeksi disebabkan oleh jamur yang
ada pada tubuhnya sendiri.

· Pakai skort dan kacamata untuk


menghindarkan bila ada percikan cairan tubuh
yang mungkin terjadi.

· Hindarkan penggunaan jarum yang telah


dipakai. Tempatkan semua benda tajam ke dalam
kontainer pembuangan

· Bersihkan tumpahan darah dengan 1:10


cairan pemutih (natrium hipoklorida)

· Tidak dianjurkan untuk sembarang orang


memberikan perawatan pada pasien yang
mempunyai luka atau lesi bereksudat dan
dermatitis yang luas sampai luka atau lesi sembuh.

4. Pelihara kenyamanan suhu kamar. Jaga Keringat malam mungkin


kebersihan dan keringnya kulit sumbernya tidak nyaman,
terutama bila tidur dengan
pakaian basah dan dingin
karena keringat

b. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan

Berhubungan dengan faktor: tidak adekuatnya pemasukan nutrisi sebgai faktor sekunder AIDS pada
sistem gastrointestinal, nyeri lesi di mulut

Batasan karakteristik: manifestasi AIDS sindrom, kehilangan berat badan lebih dari 10%nyang
disebabkan mual, muntal, lemah dan letih yang berlebihan, diare kronis, albumin serum dibawah
normal, keseimbangan nitrogen negatif, terdapat kesulitan mengunyah dan menelan, terdapat plak-plak
putih di mulut

Hasil pasien (kolaboratif): mendemonstrasikan status nutrisi yang adekuat

Kriteria evaluasi: tidak ada penurunan berat badan yang lebih lanjut, hasil labolatorium keseimbangan
nitrogen positif dan albumin serum sampai ke batas normal, lemah dan letih berkurang, secara verbal
dinyatakan sehat

Intervensi Rasional

1. Pantau: Untuk mengenal indikasi-


indikasi kemajuan atau
· Berat badan setiap hari
penyimpangan dari hasil yang
· Masukan dan keluaran setiap 8 jam diharapkan

· Albumin serum dan BUN

· Pesentase makanan yang dimakan setiap


makan

2. Jika cairan diare berlebihan: Diare sering disebabkan oleh


protozoa (Cryptospiridium)
· Pertahankan puasa dan pengobata,
yang menyerang lapisan
terutama infus NPT
epitel, menyebabkan
· Berikan obat-obat anti diare dan evaluasi meningkatnya produksi gas
keefektifannya dan banyak cairan masuk ke
dalam usus. Pasien bisa
Berangsur-angsur mulai lagi pemberian makan kehilangan cairan 10 liter
per oral bila diare terkontro. Anjurkan untuk perhari karena diare.
menggunakan bebas laktose, rendah lemak, Berhentinya defekasi hanya
tinggi serat, ini akan menurunkan volume diare. karena pengobatan yang
Konsul ke dokter jika diare tetap berlangsung efektif.
atau tambah memburuk
3. Rujuk ke ahli gizi untuk membantu memilih Ahli gizi adalah spesialis nutrisi
dan merencanakan makanan untuk kebutuhan yang dapat membantu pasien
nutrisi dalam merencanakan menu
dan kebutuhan nutisi untuk
kondisi sekarang

c. Resiko tinggi terhadap koping tidak efektif

Berhubungan dengan faktor: nyata dan sekunder merasa kehilangan karena AIDS

batasan karakteristik: adanya laporan kesulitan koping karena kondisinya dan terhadap reaksi orang
lain; memperlihatkan depresi atau rendah diri; ada laporan pasien menghindar dari keluarga, teman-
teman, pekerja, menyatakan merasa kehilangan kemandirian dan identitas sosial dan menyatakan takut
akan mati.

Hasil pasien (kolaboratif): memperlihatkan koping yang efektif

Kriteria evaluasi: menyatakn rencana-rencana untuk mendapatkan kelompok pendukung komunitas


AIDS, menyatakan mengerti cara-cara perawatan sendiri untuk memelihara kesehatan, melaporkan
kepuasasn tentang rencana perawatan di rumah.

Intervensi Rasional

1. Berikan hubungan yang mendukung: Sikap, pikiran dan perasaan


pemberi perawatan
· Menemani pasien
mempengaruhi kualitas
· Kesadaran diri tentang sikap, pikiran, hubungan perawat dan pasien
perasaan dan minat

· Bantu pasien untuk mengklarifikasi pikiran-


pikiran, perasaan dan minat

· Dengan jujur dan proyeksi tanpa sikap


menilai

2. Rujuk pasien dan keluarga ke grub AIDS Kelompok pendukung adalah


masyarakat lokal yang dapat mendukung kelompok yang kuatuntuk
pasien dan keluarga

d. Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah

Berhubungan dengan faktor: kurang pengetahuan tentang kondisi serta langkah-langkah untuk
mengontrol penyebaran infeksi, kurangnya biaya, tidak ada pendukung yang cukup untuk memberikan
bantuan yang dibutuhkan.
Batasan karakteristik: menyatakan kurang mengerti tentang keadaan dan langkah-langkah untuk
mengontrol infeksi di rumah, dilaporkan butuh bantuan untuk beberapa aspek aktivitas sehari-hari tapi
kurang cukup bantuan di rumah, menyatakan membutuhkan bantuan keuangan.

Hasil pasien (kolaboratif): mendemonstrasikan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan perawatan


lanjutan.

Kriteria evaluasi: menyatakan kepuasan dengan rencana keperawatan di rumah, mengenal sumber-
sumber yang ada di masyarakat yang dapat memberikan bantuan perawatan di rumah, menyatakan
rencana-rencana untuk jaminan bantuan keuangan dengan perawatan medis yang dibutuhkan.

Intervensi Rasional

1. Evaluasi pasien dan keluarganya tentang Meningkatkan pengertian


pengertian mengenai definisi HIV/AIDS, pasien dan keluarga tentang
prognosa, cara-cara penularan HIV, cara kondisi dan peranan mereka
mencegah penularan HIV, cara pencegahan dalam mengontrol
penyebaran HIV, pentingnya memberitahukan penyebaran infeksi. Sebab
semua kontak seksual sebelumnya. Perbaiki pandangan masyarakat yang
kesalahan persepsi. Pelihara rahasia pasien buruk tentang infeksi HIV dan
tentang diagnosa HIV/AIDS AIDS, pasien dengan percaya
diri penting untuk membuat
dan mempertahankan
hubungan saling percaya
perawat-pasien.

2. Evaluasi kesadaran sumber-sumber di Pelayanan sosial atau


masyarakat. Rujuk ke pelayanan sosial atau perencana pasien pulang
bagian yang merencanakan pasien pulang untuk adalah orang yang ahli dalam
sumber-sumber di masyarakat terfokus merawat mengatur perawatan lanjutan
individu HIV/AIDS dan untuk menolong untuk pasien pulang dan
kebutuhan keuangan untuk pengobatan jika menggunakan kemampuan
keuangannya susah. sumber-sumber di masyarakat
untuk mengenali kebutuhan-
kebutuhan

3. Tinjau ulang cara-cara mengontrol infeksi di HIV adalah virus yang


rumah: disebarkan melalui darah. Saat
ini tidak ada pengobatan
· Gunakan kondom dari lateks yang
untuk HIV/AIDS, seseorang
mengandung spermisida pada waktu
yang terkena infeksi harus
berhubungan seks.
mampu untuk mengontrol
· Hindari pemakaian alat-alat perawatan diri penyebaran virus.
yang mungkin dapat menularkan melalui darah,
seperti sikat gigi, alat-alat pencukur.
· Cuci alat-alat makan dengan sabun air
panas. Tidak perlu memisahkan alat makan atau
sprei kecuali bila terkena oleh darah segar.
Tambahkan pemutih bila alat-alatnya terkena
darah atau cairan tubuh.

· Anjurkan ibu-ibu untuk membatasi


kelahiran. Jelaskan bahwa HIV bisa menular ke
janin yang belum dilahirkan

4. Ajarkan kegiatan-kegiatan untuk Seseorang harus mendapatkan


meningkatkan kesehatan: peran yang aktif dalam
mengelola penyakit mereka
· Makan makanan sehat seimbang.
Mengandung bnyak protein, kaya gizi untuk
fungsi imun

· Berikan imunisasi langsung untuk


mencegah infeksi:

o Tetanus booster setiap 10 tahun

o Periksa kadar hepatitis B. Jelaskan tentang


vaksin hepatitis B (Recombivax HB, Heptavax-B,
Engerix-B) diperlukan jika belum ada antibodi.
Beri tahu pasien tentang vaksin Hepatitis B
diberikan dalam 3 kali injeksi

· Anjurkan ibu-ibu untuk memeriksakan pelvis


dan pap smear setiap 6 bulan. Jelaskan bahwa
infeksi pada vagina sering terjadi dan diperlukan
pengobatan yang intensif pada wanita dengan
HIV/AIDS

Kurangi sumber stres, tidur cukup, latihan


teratur, berhenti merokok, berhenti minum
alkohol dan gunakan obat golongan ke4 jika ini
merupakan kebiasaan.

Hindari tempat yang rama, keadaan yag dapat


membuat kongestif pada bulan-bulan musim
dingin ketika insiden influensa dan pilek
meningkat
DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Entjang, dr. Indan. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi. Bandung: Citra Aditya Bakti

Gould, Dinah dan Christian Brooker. 2003. Mikrobiologi Terapan untuk Perawat. Jakarta: EGC

Muma, D Richard. 1997. HIV Manual untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC

Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4.
Jakarta : EGC

Sjamsuhidajat. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

http://id.scribd.com/doc/laporan-pendahuluan-hiv-aids-toxoplasma. diakses tanggal 29 Agustus 2015