Anda di halaman 1dari 21

Topik: Hernia Inguinalis Lateral (HIL) Dextra Ireponible

Tanggal (kasus): 26 Desember 2017 Presenter: dr. Hardianti Rizqi Mutiara


Tangal presentasi: 3 Januari 2018 Pendamping: dr. Ratmawati
Tempat presentasi: RSUD Majenang
Obyektif presentasi:
□ Keilmuan  □ Keterampilan □ Penyegaran □ Tinjauan pustaka
□ Diagnostik  □ Manajemen □ Masalah □ Istimewa
□ Neonatus □ Bayi □ Anak □ Remaja □ Dewasa  □ Lansia □ Bumil
□ Deskripsi:
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien Tn.R umur 55 tahun, mengeluhkan benjolan di lipat paha kanan sejak 12 jam
sebelum masuk rumah sakit. Penderita mengeluh benjolan pada kantong pelir kanan tidak dapat
masuk kembali walaupun sudah dibantu dengan tangan..
Benjolan tidak nyeri, tidak panas, dan tidak merah. Tidak ada mual, muntah, kembung,
dan demam. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Benjolan muncul awalnya sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, mula-mula sebesar biji
kelereng, lalu membesar sebesar telur ayam, dan hilang timbul. Benjolan menghilang saat tiduran
atau istirahat dan keluar jika beraktivitas, mengejan, batuk, mengangkat benda berat atau
berjalan. Benjolan tidak nyeri, tidak panas, dan tidak merah. Tidak ada mual, muntah, kembung,
dan demam. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
□ Tujuan:
 Mengetahui penegakkan diagnosis dan penatalaksanaan hernia
Bahan bahasan: □ Tinjauan pustaka  □ Riset □ Kasus  □ Audit
Cara □ Diskusi □ Presentasi dan diskusi  □ E-mail □ Pos
membahas:

Data pasien: Nama: Tn. R


Nama klinik: IGD RSUD Majenang
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Hernia Inguinalis Lateral (HIL) Dextra Ireponible
2. Gambaran Klinis:
Pasien Tn.R umur 55 tahun, mengeluhkan benjolan di lipat paha kanan sejak 12 jam
sebelum masuk rumah sakit. Penderita mengeluh benjolan pada kantong pelir kanan tidak dapat
masuk kembali walaupun sudah dibantu dengan tangan..
Benjolan tidak nyeri, tidak panas, dan tidak merah. Tidak ada mual, muntah, kembung,
dan demam. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Benjolan muncul awalnya sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, mula-mula sebesar
biji kelereng, lalu membesar sebesar telur ayam, dan hilang timbul. Benjolan menghilang saat
tiduran atau istirahat dan keluar jika beraktivitas, mengejan, batuk, mengangkat benda berat
atau berjalan. Benjolan tidak nyeri, tidak panas, dan tidak merah. Tidak ada mual, muntah,
kembung, dan demam. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
3. Riwayat kesehatan/Penyakit:
 Riwayat Hipertensi : Disangkal
 Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal
 Riwayat DM : Disangkal
 Riwayat Asma : Disangkal
 Riwayat Alergi Obat/makanan : Disangkal
 Riwayat batuk-batuk lama : Disangkal
 Riwayat sulit BAB/BAK : Disangkal
 Riwayat operasi sebelumnya : Disangkal
 Riwayat sering mengangkat benda berat sejak usia muda
4. Riwayat keluarga:
 Riwayat Hipertensi : Disangkal
 Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal
 Riwayat DM : Disangkal
 Riwayat Asma : Disangkal
 Riwayat Alergi Obat/makanan : Disangkal
 Riwayat Penyakit yang Sama : Disangkal
5. Riwayat Pekerjaan:
Pasien merupakan seorang petani
6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik:
Pasien tinggal dengan istri dan anaknya
7. Lain-lain: (-)
Daftar Pustaka:
1. Sjamsuhidajat, Wim de jong. 2005. Hernia Inguinalis. Buku ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta. Hal
528-29.
2. Swartz MH. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Alih Bahasa : Lukmanto P, Maulany R.F., Tambajong
J. Jakarta : EGC. 1995. pp: 276-8
3. Townsend, Courtney M. 2004. Hernias. Sabisto Textbook of Surgery. 17th Edition. Philadelphia
Elsevier Saunders. pp: 1199-1217
4. Norton, Jeffrey A. 2001. And Abdominal Wall Defect Hernias. Surgery Basic Science and
Clinical Evidence New York. Springer. pp: 787-803
5. A. Mansjoer, Suprohaita, W.K. Wardhani, W. Setiowulan. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi III, Jilid II. Penerbit Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. 2000. Hal 313-317
Hasil pembelajaran:
1. Definisi Hernia Inguinalis Lateral (HIL) Dextra Ireponible
2. Penatalaksanaan Hernia Inguinalis Lateral (HIL) Dextra Ireponible

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif:
Pasien Tn.R umur 55 tahun, mengeluhkan benjolan di lipat paha kanan sejak 12 jam
sebelum masuk rumah sakit. Penderita mengeluh benjolan pada kantong pelir kanan tidak dapat
masuk kembali walaupun sudah dibantu dengan tangan..
Benjolan tidak nyeri, tidak panas, dan tidak merah. Tidak ada mual, muntah, kembung,
dan demam. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Benjolan muncul awalnya sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, mula-mula sebesar
biji kelereng, lalu membesar sebesar telur ayam, dan hilang timbul. Benjolan menghilang saat
tiduran atau istirahat dan keluar jika beraktivitas, mengejan, batuk, mengangkat benda berat
atau berjalan. Benjolan tidak nyeri, tidak panas, dan tidak merah. Tidak ada mual, muntah,
kembung, dan demam. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
2. Objektif:
a. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Compos Mentis, tampak sakit sedang
Vital Sign:
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit, isi dan tegangan cukup, reguler
Suhu : 36,5 °C
Pernapasan : 20 x/menit, reguler
Status Generalis
Kepala : Mesochepal, venektasi temporal (-)
Mata : Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), injeksi konjunctiva (-/-), RCL
(+/+), RCTL (+/+), diameter pupil 3mm/3mm, visus baik.
Hidung : NCH (-/-), sekret (-/-), deformitas (-)
Mulut : sianosis (-), gigi berlubang (+), karies gigi (-), lidah kotor (-), papil lidah
atrofi (-), tonsil T1-T1, hiperemis (-), kripte melebar (-), dinding faring
posterior : hiperemis (-), jaringan granulasi (-)
Leher : simetris, JVP 5 + 2 cmH2O
KGB : Tidak teraba
Tiroid : Tidak terdapat pembesaran.
Thorax :
Cor
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V 1 jari medial linea midclavicularis sinistra
Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : S1-S2 intensitas normal, regular, bising jantung (-)
Pulmo
Inspeksi : Simetris, pengembangan dada ka = ki, ketinggalan gerak (-)
Palpasi : Fremitus taktil kanan=kiri
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
Abdomen

Inspeksi : Dinding perut // dinding dada, gambaran gerak usus (-)


Auskultasi : Bising usus (+) meningkat, metallic sound (-)
Perkusi : Timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-)
Palpasi : Dinding abdomen supel, nyeri tekan (-), defans
muscular (-), hepar dan lien tidak teraba

Genitalia Eksterna : Laki-laki, tampak benjolan dari lipat paha kanan, berbentuk lonjong,
ukuran + 4 x 4 cm, warna sama dengan sekitar, nyeri tekan (-)
Ekstremitas : Oedem Akral dingin
- - - -
CRT < 2 detik

- - - -
Status lokalis
Regio inguinalis dextra:
Inspeksi : Terlihat benjolan berbentuk lonjong dari regio ingunalis dextra, warna kulit seperti
kulit sekitar,
Palpasi : Ukuran 4x4 cm perabaan suhu seperti kulit sekitar, tidak ada nyeri tekan,
konsistensi kenyal, batas tegas, imobile
Auskultasi: Bising usus (+)
Rectal Toucher :
Tonus sfingter ani cukup, mukosa licin, ampula recti colaps (-), nodul (-), massa (-), nyeri
tekan (-).
Prostat: permukaan rata, lateral kanan dan kiri simetris 2 cm, sulkus medianus cekung, polus
anterior teraba, nyeri tekan (-), nodul (-)
Sarung tangan: feses (-), lendir (-), darah (-)
b. Pemeriksaan Penunjang
HEMATOLOGI RUTIN HASIL SATUAN RUJUKAN
Hb 13,5 g/dl 12,0-18,0
HCT 32,7  35-47
AL 8500 103/l 4,5-10,5
AT 208.000 103/l 150-450
AE 4,84 106/l 4,5-6,5
GDS 112 mg/dL <200

3. Assessment (penalaran klinis):


Dari data anamnesis didapatkan keterangan mengenai seorang pasien laki-laki, usia 55
tahun yang mngeluhkan benjolan di lipat paha kanan sejak 12 jam SMRS, menghilang pada saat
tiduran atau istirahat dan akan keluar pada saat beraktivitas, mengejan, batuk, mengangkat
benda atau berjalan. Benjolan tidak nyeri, tidak panas, tidak merah. + 1 bulan SMRS penderita
merasakan benjolan timbul membesar, namun masih bisa masuk dan tidak nyeri.
Keluhan utama yang dialami pasien adalah benjolan pada lipat paha kanan yang
mengarah pada hernia. Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui
defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (fascia dan muskuloaponeurotik)
yang menberi jalan keluar pada alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut. Pada
hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-
aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong dan isi hernia. Semua hernia
terjadi melalui celah lemah atau kelemahan yang potensial pada dinding abdomen yang
dicetuskan oleh peningkatan tekanan intraabdomen yang berulang atau berkelanjutan.
Untuk menegakkan suatu diagnosis diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang cermat dan teliti.
a. Anamnesis
Gejala dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia
reponibel, keluhan satu- satunya adalah adanya benjolan di lipat paha yang muncul pada
waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengejan, dan menghilang setelah berbaring. Setelah
beberapa tahun, sejumlah hernia turun ke dalam scrotum sehingga scrotum membesar.
Omentum yang terperangkap di dalam kantong hernia dapat menyebabkan nyeri abdomen
yang kronis. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan didaerah
epigastrium atau para umbilikal berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium
sewaktu satu segmen usus halus masuk kedalam kantong hernia.
Keadaan umum pasien biasanya baik. Bila benjolan tidak nampak, pasien dapat
disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri. Bila ada hernia maka akan
tampak benjolan. Bila memang sudah tampak benjolan, harus diperiksa apakah benjolan
dapat dimasukkan kembali. Pasien diminta berbaring, bernapas dengan mulut untuk
mengurangi tekanan intra abdominal, lalu scrotum diangkat perlahan.
Hernia diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria:
1) Hernia secara umum
a) Hernia interna adalah tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui suatu lubang dalam
rongga perut seperti foramen Winslow, resesus retrosaekalis atau defek dapatan pada
mesentrium umpamanya setelah anastomosis usus. Hernia yang terjadi di dalam
tubuh pasien sehingga tidak dapat dilihat dengan mata. Contohnya hernia
diafragmatika, hernia obturatoria dan hernia winslowi.
b) Hernia eksterna yakni hernia yang menonjol keluar melalui dinding perut, pinggang
atau peritoneum. Hernia ini dapat dilihat oleh mata disebabkan benjolan hernia
menonjol keluar secara lengkap. Misalnya hernia inguinalis, hernia femoralis, hernia
epigastrium, hernia umbilikus dan hernia lumbalis.
2) Hernia berdasarkan terjadinya
a) Hernia bawaan atau kongenital yakni didapat sejak lahir atau sudah ada semenjak
pertama kali lahir.
b) Hernia dapatan atau akuisita yang merupakan bukan bawaan sejak lahir, tetapi hernia
yang didapat setelah tumbuh dan berkembang setelah lahir.
3) Hernia menurut sifatnya
a) Hernia reponibel
Bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengejan dan masuk
lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri.
b) Hernia irreponibel
Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi tidak
dapat dimasukkan lagi. Pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus. Isi
hernia yang tersering adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia dan
isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih sering
menyebabkan irreponible dibandingkan usus halus. Kadang juga disebabkan oleh
perlekatan isi kantong di perineum kantong hernia yang disebut hernia akreta. Tidak
ada keluhan rasa nyeri atau tanda sumbatan akibat perlekatan.
c) Hernia incarserata
Bila isi hernia semakin banyak yang masuk akan terjepit oleh cincin hernia sehingga isi
kantong hernia terperangkap dan tidak dapat kembali ke rongga perut disertai
akibatnya yang berupa gangguan pasase. Secara klinis, hernia incarserata merupakan
hernia irreponible dengan gangguan pasase. Pada keadaan ini akan timbul gejala ileus
antara lain perut kembung, muntah dan obstipasi.
d) Hernia strangulata
Hernia ini terjadi gangguan vaskularisasi, sebenarnya gangguan vaskularisasi sudah
mulai terjadi saat jepitan dimulai dengan berbagai tingkat gangguan mulai dari
bendungan sampai nekrosis. Disebut hernia ritcher bila strangulasi hanya menjepit
sebagian dinding usus. Pada keadaan ini nyeri timbul lebih hebat dan kontinyu, daerah
benjolan menjadi warna merah dan pasien menjadi gelisah.
4) Hernia Berdasarkan Arah Herniasi
a) Hernia Eksterna

Gambar 1. Beberapa Contoh Hernia Eksterna


Penonjolannya dapat dilihat dari luar :
 Hernia Inguinalis Medialis dan Lateralis
Hernia yang paling sering terjadi (sekitar 75% dari hernia abdominalis)
adalah hernia inguinalis. Hernia inguinalis dibagi menjadi: hernia inguinalis
indirek (lateralis), di mana isi hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis melalui
locus minoris resistence (annulus inguinalis internus); dan hernia inguinalis
direk (medialis), di mana isi hernia masuk melalui titik yang lemah pada
dinding belakang kanalis inguinalis. Hernia inguinalis lebih banyak terjadi pada
pria daripada wanita, sementara hernia femoralis lebih sering terjadi pada
wanita.
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena
sebab yang didapat. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah prosesus
vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan
kelemahan otot dinding perut karena usia. Tekanan intra abdomen yang
meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi dan
asites sering disertai hernia inguinalis.
Hernia juga mudah terjadi pada individu yang kelebihan berat badan,
sering mengangkat benda berat, atau mengedan. Jika kantong hernia inguinalis
lateralis mencapai scrotum maka disebut hernia skrotalis. Hernia ini harus
dibedakan dari hidrokel atau elefantiasis skrotum. Testis yang teraba dapat
dipakai sebagai pegangan untuk membedakannya.

Gambar 2. Hernia Inguinalis


 Hernia Femoralis
Merupakan tonjolan di lipat paha yang muncul terutama pada waktu melakukan
kegiatan yang menaikkan tekanan intra abdomen seperti mengangkat barang
atau ketika batuk. Hernia femoralis adalah hernia yang berjalan melalui canalis
femoralis yang berada di bawah ligamentum inguinale. Pintu masuknya adalah
annulus femoralis dan keluar melalui fossa ovalis di lipatan paha. Batas – batas
annulus femoralis antara lain ligamentum inguinale (tempat vena saphena
magna bermuara di dalam vena femoralis) di anterior, medial ligamentum
lacunare gimbernati, posterior ramus superior ossis pubic dan m. pecnitus
beserta fascia, lateral m.illiopsoas dan v.femoralis beserta fascia locus minoris
resistantnya fascia transversa yang menutupi annulus femoralis yang disebut
septum cloquetti serta - caudodorsal oleh pinggir os. pubic dari ligamen
iliopectineale (ligamentum couper)
 Hernia Umbilicus
Merupakan penonjolan yang mengandung isi rongga perut yang masuk melalui
cincin umbilikus akibat peninggian tekanan intraabdomen. Hernia umbilikalis
merupakan hernia kongenital pada umbilikus yang hanya tertutup peritoneum
dan kulit
 Hernia Epigastrica
Hernia ini juga disebut hernia linea alba di mana hernia keluar melalui defek di
linea alba antara umbilikus dan processus xiphoideus. Penderita sering
mengeluh kurang enak pada perut dan mual, mirip keluhan kelainan kandung
empedu, tukak peptik atau hernia hiatus esophagus.
 Hernia Lumbalis
Di daerah lumbal antara iga XII dan crista illiaca, ada dua buah trigonum yaitu
trigonum costolumbalis superior (Grijnfelt) berbentuk segitiga terbalik dan
trigonum costolumbalis inferior atau trigonum illiolumbalis (petit) yang
berbentuk segitiga. Pada pemeriksaan fisik tampak dan teraba benjolan di
pinggang tepi bawah tulang rusuk XII (Grijnfelt) atau di tepi cranial dipanggul
dorsal.
 Hernia Obturatoria
Hernia melalui foramen obturatoria. Hernia ini berlangsung 4 tahap. Tahap
pertama mula – mula tonjolan lemak retroperitoneal masuk kedalam canalis
obturatoria. Tahap kedua disusul oleh tonjolan peritoneum parietal. Tahap
ketiga, kantong hernianya mungkin diisi oleh lekuk usus. Dan tahap keempat
mengalami incarserata parsial, sering secara Ritcher atau total.
 Hernia Semilunaris
 Hernia Perinealis
Merupakan tonjolan hernia pada peritoneum melalui defek dasar panggul yang
dapat secara primer pada perempuan multipara atau sekunder setelah operasi
melalui perineum seperti prostatektomi atau reseksi rectum secara
abdominoperienal.
 Hernia Ischiadica

b) Hernia Interna
Bila isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya cavum thorax, cavum abdomen:
 Hernia Epiploici Winslowi : Herniasi viscera abdomen melalui foramen
omentale
 Hernia Bursa Omentalis
 Hernia Mesenterica
 Hernia Retroperitonealis
 Hernia Diafragmatica

Gambaran klinis hernia


Jenis Reponible Nyeri Obstruksi Tampak sakit Toksik
Reponible + - - - -
Irreponible - - - - -
Incarserata - + + + -
Strangulata - ++ + ++ ++
b. Pemeriksaan fisik
Tanda klinis pada pemeriksaan fisik hernia tergantung dari isi hernia, apakah masih
dapat hilang timbul atau tidak. Pasien harus dievaluasi dalam keadaan berdiri dan berbaring
serta saat batuk atau mengedan untuk melihat benjolan yang dikeluhkan.
Pada inspeksi saat pasien mengedan, dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul
sebagai penonjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah.
Terlihat benjolan memanjang yang mengikuti arah dan struktur dari kanalis inguinalis. Hal
yang perlu dievaluasi adalah ukuran hernia, apakah hernia terjadi di kedua sisi atau satu sisi
saja. Benjolan yang terlihat sampai skrotum yang merupakan tonjolan lanjutan dari hernia
inguinalis lateralis juga dikenal sebagai hernia scrotalis seperti yang dialami oleh pasien pada
kasus ini.
Pada palpasi, di titik tengah antara SIAS dan tuberculum pubicum ditekan lalu pasien
disuruh mengejan. Jika terjadi penonjolan disebelah medial berarti hernia inguinalis medialis.
Titik yang terletak di sebelah lateral tuberculum pubicum ditekan lalu pasien disuruh
mengejan jika terlihat benjolan di lateral berarti hernia inguinalis lateralis. Kantong hernia
yang kosong kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis
kantong yang memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini disebut tanda
sarung tangan sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Kalau kantong hernia berisi
organ, tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus, omentum (seperti karet), atau
ovarium. Pada perkusi akan terdengar pekak. Pada auskultasi hiperperistaltik, biasanya pada
hernia yang mengalami obstruksi usus (hernia inkarserata).
Terdapat tiga teknik pemeriksaan sederhana yaitu finger test, thumb test dan
ziemann’s test. Dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak (finger test), dapat dicoba
mendorong isi hernia dengan menekan kulit skrotum melalui anulus eksternus sehingga
dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. Apabila hernia dapat
direposisi, pada waktu jari masih berada dalam anulus eksternus, pasien diminta mengedan
untuk meningkatkan tekanan intraabdominal. Kalau ujung jari menyentuh hernia, artinya
hernia tersebut berada di dalam kanalis inguinalis berarti benjolan itu adalah hernia
inguinalis lateralis. Apabila sisi jari yang menyentuh hernia berarti hernia tersebut berada
diluar kanalis kemungkinan hernia tersebut adalah hernia inguinalis medialis.
Gambar 3. Finger Test

Pemeriksaan lainnya adalah palpasi kedua ibu jari (thumbs test). Pasien diminta
berdiri kemudian pemeriksa meletakkan kedua ibu jari pada annulus internus untuk
memberikan tekanan sehingga anulus internus tertutup. Kemudian minta pasien mengedan,
apabila muncul benjolan berarti defek tidak terjadi di anulus internus jadi kemungkinan
benjolan itu berupa hernia inguinalis medialis. Bila tidak keluar benjolan berarti hernia
inguinalis lateralis.

Gambar 4. Thumb Test

Selain itu dapat dilakukan three finger test (Ziemann’s test) dengan cara meletakkan
tiga jari yaitu jari kedua ketiga dan keempat masing-masing di annulus internus, trigonum
Hesselbach dan canalis femoralis, kemudian minta pasien mengedan. Apabila benjolan terasa
pada jari 2 maka benjolan itu adalah HIL, di jari 3 HIM dan di jari 4 adalah hernia femoralis.
Gambar 5. Ziemann Test

Pemeriksaan colok dubur dapat dilakukan apabila kita curiga ada penyakit lain yang
dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraabdominal dan memicu terjadinya hernia yang
berulang. Misalnya hiperplasia prostat atau adanya massa yang menyebabkan konstipasi.
Tanda-tanda vital: temperatur meningkat, pernapasan meningkat, nadi meningkat dan
tekanan darah meningkat.
Jika ditemukan adanya massa skrotum, dapat lakukan transluminasi. Di dalam suatu
ruang yang gelap, sumber cahaya diletakkan pada sisi pembesaran skrotum. Struktur
vaskuler, tumor, darah, hernia dan testis normal tidak dapat ditembus sinar. Transmisi cahaya
sebagai bayangan merah menunjukkan rongga yang mengandung cairan serosa, seperti
hidrokel atau spermatokel.

Diagnosis Umur Lazim Eritema


(Tahun) Transiluminasi Skrotum Nyeri
Epididimitis Semua umur Tidak Ya Berat
Torsio testis < 35 Tidak Ya Berat
Tumor testis < 35 Tidak Tidak Minimal
Hidrokel Semua umur Ya Tidak Tidak ada
Spermatokel Semua umur Ya Tidak Tidak ada
Hernia Semua umur Tidak Tidak Tidak ada sampai
sedang*
Varikokel > 15 Tidak Tidak Tidak ada
Pemeriksaan Penunjang
Hasil laboratorium menunjukkan leukosit > 10.000-18.000/mm3 dengan shift to the
left yang menandakan strangulasi dan serum elektrolit meningkat. Tes urinalisis untuk
menyingkirkan adanya masalah dari traktus genitourinarius yang menyebabkan nyeri lipat
paha.Foto rontgen abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus atau obstruksi
usus.

PENATALAKSANAAN
a. Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
Prinsip umum pengobatan adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan:
- Memuasakan pasien
- Dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal
- Pengganti cairan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena
- Pemberian antibiotik yang sesuai
b. Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang
rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi
hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.
- Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong
dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong
hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
- Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya
dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal
berbagai metode hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan
jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan
pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus abdominis yang
dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut
metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis,
m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. Bila
defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis
seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien pada kasus di atas mengalami
hernia inguinalis lateral (HIL) ireponible karena mengeluh + 12 jam sebelum masuk rumah
sakit benjolan pada kantong pelir kanan kembali menonjol saat sedang beraktivitas dan tidak
dapat hilang pada saat tiduran. Penderita tidak mengeluh nyeri pada benjolan, mual dan muntah.
Faktor resiko hernia yang dimiliki pasien adalah riwayat sering mengangkat barang berat,
terkait dengan pekerjaannya sebagai petani. Mengangkat beban berat, batuk dan mengedan
merupakan contoh kegiatan yang meningkatkan tekanan intraabdominal. Bila terjadi
peningkatan tekanan abdominal, isi peritoneum akan terdorong atau terdesak keluar kebagian
terlemah dari dinding peritoneum dalam hal ini adalah kanalis inguinalis. Etiologi pada kasus
ini diduga karena berkurangnya kekuatan otot dinding perut karena usia penderita yang sudah
mencapai 55 tahun. Kemungkinan kelemahan otot dinding perut biasanya merupakan penyebab
kendurnya annulus internus.

4. Plan:
Pengobatan: pengobatan bertujuan untuk:
- Mengatasi nyeri perut
- Memuasakan pasien
- Dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal
- Pemberian antibiotik yang sesuai
Terapi dan planning :
IpDx : S: -
O : darah rutin, urin rutin, GDS, EKG, Foto thorax
IpRx : - Posisi Tredelenburg
- O2 3 lpm
- Infus RL 20 tpm
- Pasang NGT
- Pasang kateter
- Inj. Ceftriaxon 1 gram
- Inj. Omeprazol 40 mg
- Inj. Ketorolac 30 mg
- Puasa
- Pro Herniorapi
IpMx : Keadaan umum, tanda vital, balance cairan
IpEx :
- Menjelaskan kepada penderita dan keluarga tentang penyakit yang diderita oleh
penderita yaitu Hernia yang merupakan penonjolan sebagian isi rongga perut seperti
usus melalui lubang di daerah lipat paha sehingga terjepit pada lubang tersebut. Usus
yang masuk ke dalam kantung buah pelir semakin lama akan terjepit sehingga
mengganggu pencernaan.
- Menjelaskan kepada penderita dan keluarga penderita tentang pemeriksaan yang akan
dilakukan.
- Menjelaskan kepada penderita dan keluarga penderita bahwa akan dilakukan operasi
yaitu dengan mengembalikan isi perut (usus) ke dalam rongga perut jika usus masih
hidup, tetapi jika sudah mati akan dipotong dan bagian yang hidup akan disambung,
setelah itu menutup lubang tempat keluarnya isi perut tersebut, serta risiko operasi
yang mungkin terjadi seperti perdarahan dan infeksi.
- Menjelaskan kepada penderita agar menghindari kegiatan mengangkat beban berat.
- Menyarankan pasien untuk makan-makanan berserat agar buang air besar lancar.
- Pasien dan keluarga dijelaskan tentang penanganan yang telah dilakukan. Selain itu
pasien dan keluarga perlu diajarkan perawatan luka post operatif yang harus dilakukan
di rumah serta dijelaskan kapan waktu untuk kontrol kembali ke RS.
Laporan Operasi
Nama/Macam operasi : Herniorapi + Mesh
Laporan operasi :
1. Pasien tidur terlentang dalam spinal anesthesi
2. Aseptik dan antiseptik lapangan operasi persempit dengan doek steril
3. Lakukan insisi sejajar ligamentum inguinal icm
4. Perdalam insisi sampai subkutis, aponeurosis, m.obliqus abdominus externus dibuka dengan
scapel sampai ditemukan funiculus spermaticus
5. Buka m.cremaster dan fascia spermatica interna sampai ditemukan kantung hernia kanan
berisi 1 loop yang masih intak.
6. Pisahkan kantung proksimal dan distal hernia, serta masukan kembali isi dr hernia
7. Punctum proksimal dijahit denganpropylene 3.0
8. Lakukan pemasangan mesh, jahit tepi mesh dengan punctum, lig inguinal dan cinjoint tendon
9. Tutup lapis demi lapis
10. Jahit kulit dengan propylene 3-0 secara subkutikuler
Operasi selesai

Majenang, 3 Januari 2018

DOKTER INTERNSHIP DOKTER PENDAMPING

dr. Hardianti Rizqi Mutiara dr.Ratmawati


Lampiran

Follow up

Tanggal Keadaan Klinis Planning

28 Desember 2017 S: R/
mual muntah (-), nyeri daerah - infus Futrolit 20 tpm
operasi (+), flatus (-) - inj. Ceftriakson 2x1 gr
KU : komposmentis - inj. Ketorolac 3x30 mg
TV : TD : 120/80 mmHg - inj. Ranitidin 3x1 amp
N : 80 x/menit - Mobilisasi bertahap
RR : 16 x/menit - Diet cair-lunak
t : 36,5°C
O:
Mata : konjungtiva palpebra
anemis (-/-), mata cekung (-/-)
Abdomen : Datar, BU (+)
normal, timpani, supel
Status Lokalis R. Inguinal
Dextra:
tampak luka jahitan regio
inguinal dextra tertutup kasa,
kasa rembes (-), darah (-),
oedema (-), nyeri tekan (+), suhu
kulit sekitar luka = sekitar,
drainage minimal

A: Post hernioraphy + mesh H+1


a/i Hernia Inguinalis Lateral
(HIL) Dextra Ireponible
Tanggal Keadaan Klinis Planning

29 Desember 2017 S: R/
mual muntah (-), nyeri daerah - Claneksi 3x500mg
operasi (+), flatus (+) - Asammefenamat
KU : komposmentis 3x500mg
TV : TD : 120/80 mmHg - Ranitidine 2x150mg
N : 80 x/menit - Mobilisasi bertahap
RR : 16 x/menit - Diet cair-lunak
t : 36,5°C - BLPL
O:
Mata : konjungtiva palpebra
anemis (-/-), mata cekung (-/-)
Abdomen : Datar, BU (+)
normal, timpani, supel
Status Lokalis R. Inguinal
Dextra:
tampak luka jahitan regio
inguinal dextra tertutup kasa,
kasa rembes (-), darah (-),
oedema (-), nyeri tekan (+), suhu
kulit sekitar luka = sekitar,
drainage minimal

A: Post hernioraphy + mesh H+2


a/i Hernia Inguinalis Lateral
(HIL) Dextra Ireponible
LAPORAN KEGIATAN
LAPORAN PORTOFOLIO
HERNIA INGUINALIS LATERAL (HIL) DEXTRA IREPONIBLE

Pendamping:
dr. Ratmawati

Disusun oleh:
dr. Hardianti Rizqi Mutiara

RSUD MAJENANG
KABUPATEN CILACAP
2017-2018