Anda di halaman 1dari 18

PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN

SEDIAAN OBAT ORAL

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Farmakokinetika dapat didefinisikan sebagai perubahan


jumlah obat didalam tubuh terhadap waktu dan konsentrasi, yang
meliputi proses ADME (absorbsi, distribusi, metaabolisme, dan
ekskresi). Farmakokinetika khususnya mempelajari perubahan-
perubahan konsentrasi obat dan metabolitnya didalam darah dan
jaringan sebagai fungsi dari waktu.
Dalam pemberian obat, salah satu rute yang paling sering
digunakan yaitu rute pemberian secara . Pemberian rute obat
umumnya pemberian melalui atau mulut. Pemberian obat melalui
rute merupakan rute yang paling kompleks dan lama hingga
sampai pada organ target dibandingkan dengan rute parenteral.
Obat pertama-tama harus di absorbsi terlebih dahulu didalam
saluran pencernaan lalu kemudian mengalami metabolisme lintas
pertama di hepar yang dapat mengurangi efek obat.
Jika dibandingkan dengan obat yang diberikan secara
parenteral, pemberian obat secara lebih mudah karena tidak
memerlukan alat untuk membantu pemberian, lebih ekonomis
dengan alasan seperti diatas dan juga tidak memerlukan kesterilan
yang tinggi seperti pada sediaan-sedian untuk pemberian oral.
Karena akan melewati sistem pencernaan dimana cairan lambung
dapat membunuh sisa-sisa mikroorganisme.
Walaupun memiliki banyak keuntungan, pemberian obat juga
memiliki kerugian. Seperti obat yang dikonsumsi akan melewati
proses metabolisme pertama di hati sehingga akan mempengaruhi
efektivitas obat juga absorbsi obat didalam tubuh hanya 80%,
jumlah ini juga pasti mempengaruhi efek terapi yang diberikan.
B. Maksud Percobaan

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

Adapun maksud dari praktikum ini yaitu, untuk mengetahui dan


menghitung obat klonidin secara oral dengan menggunakan hewan
coba tikus (Rattus norvegicus).
C. Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu untuk memahami dan


menentukan parameter-parameter farmakokinetik dalam pemberian
obat klonidin secara dengan menggunakan hewan coba tikus (Rattus
norvegicus) meliputi keliminasi, t1/2, ka, tmax, vd, cpmax dan AUC.

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

1. Pengertian Farmakokinetik

Farmakokinetik dapat didefinisikan sebagai setiap proses


yang dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu resorpsi, transport
biotransformasi (metabolism), distribusi dan ekskresi. Dalam arti
sempit farmakokinetik khususnya mempelajari perubahan-
perubahan konsentrasi dari obat dan metabolitnya di dalam darah
dan jaringan sebagai fungsi dari waktu (Tjay, 2007).
Penerapan statistik merupakan suatu bagian integral dari
studi farmakokinetika. Metode statistika digunakan untuk
mengestimasi parameter farmakokinetika dan akhirnya
menginterpretasi data untuk maksud perancangan dan prediksi
aturan dosis optimal untuk pasien individual atau kelompok pasien.
Metode statistik diterapkan pada model farmakokinetika untuk
menentukan kesalahan data dan penyimpangan model structural.
Farmakokinetika klasik adalah suatu studi model teoritis yang
memfokuskan pada pengembangan dan parameterisasi model
(Shargel, 2012).
Studi farmakokinetika mencakup baik pendekatan
eksperimental dan teoritis. Aspek eskperimental farmakokinetik
meliputi pengembangan tehnik sampling biologis, metode analitik
untuk pengukuran obat dan metabolit, dan prosedur yang
memfasilitasi pengumpulan dan manipulasi data. Aspek teoritis
farmakokinetika meliputi pengembangan model farmakokinetika
yang memprediksi disposisi obat setelah pemakaian (Shargel,
2012).

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

Farmakokinetika meneliti perjalanan obat, mulai dari saat


pemberiannya, bagaimana absorbsi dari usus, transport dalam
darah, dan distribusinya ke tempat kerjanya dan jaringan lain.
Begitu pula, bagaimana perombakannya (biotranformasi) dan
akhirnya ekskresinya oleh ginjal. Singkatnya farmakokinetika
mempelajari segala sesuatu tindakan yang dilakukan tubuh
terhadap obat (Tan. H.T, 2002).
2. Proses Obat Dalam Tubuh

Interaksi dalam proses farmakokinetik, yaitu absorpsi,

distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME) dapat meningkatkan

ataupun menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat secara

farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat

diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainnya meskipun

masih dalam satu kelas terapi, disebabkan karena adanya

perbedaan sifat fisikokimia, yang menghasilkan sifat farmakokinetik

yang berbeda (Gitawati, 2008).

Interaksi dalam proses farmakokinetik, yaitu absorpsi,

distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME) dapat meningkatkan

ataupun menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat secara

farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat

diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainnya meskipun

masih dalam satu kelas terapi, disebabkan karena adanya

perbedaan sifat fisikokimia, yang menghasilkan sifat farmakokinetik

yang berbeda. Mekanisme interaksi yang melibatkan absorpsi

gastrointestinal dapat terjadi melalui beberapa cara: (1) secara

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

langsung, sebelum absorpsi; (2) terjadi perubahan pH cairan

gastrointestinal; (3) penghambatan transport aktif gastrointestinal;

(4) adanya perubahan flora usus dan (5) efek makanan (Gitawati,

2008).

Interaksi yang terjadi pada proses distribusi. Mekanisme

interaksi yang melibatkan proses distribusi terjadi karena

pergeseran ikatan protein plasma. Interaksi obat yang melibatkan

proses distribusi akan bermakna klinik jika: (1) obat indeks memiliki

ikatan protein sebesar > 85%, volume distribusi (Vd) obat < 0,15

I/kg dan memiliki batas keamanan sempit; (2) obat presipitan

berikatan dengan albumin pada tempat ikatan (binding site) yang

sama dengan obat indeks, serta kadarnya cukup tinggi untuk

menempati dan menjenuhkan binding sitenya (Gitawati, 2008).

Interaksi yang terjadi pada proses metabolisme obat.

Mekanisme interaksi dapat berupa (1) penghambatan (inhibisi)

metabolisme, (2) induksi metabolisme, dan (3) perubahan aliran

darah hepatik. Interaksi yang terjadi pada proses ekskresi obat.

Mekanisme interaksi obat dapat terjadi pada proses ekskresi

melalui empedu dan pada sirkulasi enterohepatik, sekresi tubuli

ginjal, dan karena terjadinya perubahan pH urin. Gangguan dalam

ekskresi melalui empedu terjadi akibat kompetisi antara obat dan

metabolit obat untuk sistem transport yang sama (Gitawati, 2008).

3. Pengertian

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

Rute adalah rute yang paling mudah dan paling umum

digunakan. Obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Rute ini lebih

dipilih karena tidak menimbulkan nyeri. Obat yang diberikan melalui

kulit dan membran mukosa pada prinsipnya menimbulkan efek

lokal (Hermalinda, 2015).

Pemberian obat per merupakan cara yang paling banyak

dipakai karena ini merupakan cara yang paling mudah, murah,

aman dan nyaman bagi pasien . berbagai bentuk obat dapat

diberikan secara baik dalam bentuk tablet, sirup, kapsul atau

puyer. Untuk membantu absorbs, maka pemberian obat per dapat

disertai dengan pemberian setengah gelas air atau cairan yang lain

(Priharjo, 1995).

Absorpsi obat sistemik dari saluran cerna atau dari berbagai

site ekstravaskuler lain bergantung pada (1) sifat fisika kimia obat,

(2) bentuk sediaan yang digunakan, (3) anatomi dan fisiologi dari

site absorpsi. Untuk pendosisan , faktor-faktor seperti luas area

saluran cerna, laju pengosongan lambung, motilitas saluran cerna,

dan aliran darah ke site absorpsi semuanya mempengaruhi laju

dan absorpsi obat (Shargel, 2012).

Bentuk sediaan harus dirancang untuk memperhitungkan

rentang pH yang ekstrem, ada atau tidaknya makanan, degradasi

enzim, perbedaan permeabilitas obat dalam daerah yang berbeda

dalam usus dan motilitas saluran cerna (Shargel, 2012).

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

Obat yang cukup larut lemak untuk dapat diabsorpsi secara ,

dengan cepat terdistribusi ke seluruh kompartemen cairan tubuh.

Banyak obat berikatan lemah dengan albumin plasma, dan

terbentuklah keseimbangan antara obat terikat dan obat bebas

dalam plasma, obat yang terikat pada protein plasma hanya

terdapat pada sistem vaskular dan tidak dapat menimbulkan aksi

farmakologis (Michael, 2006).

4. Parameter dan Rumus IV

Adapun parameter farmakokinetik yang digunakan untuk


mengetahui bioavabilitas suatu obat adalah (Gunawan, 2005) :
1. Daerah dibawah lurva (Area Under Curva) adalah integritasi batas
obat di dalam darah dari waktu t = o hingga t, dimana besar AUC
berbanding lurus dengan jumlah total obat yang diabsorbsi. AUC
merupakan salah satu parameter untuk menentukan bioavabilitas.
Cara yang paling sederhana untuk menghitung AUC adalah dengan
metode trapezoid.
2. Volume distribusi adalah suatu parameter farmakokinetik yang
menggambarkan luas dan intensitas distribusi obat dalam tubuh.
Volume distribusi bukan merupakan vilume yang sesungguhnya dari
ruang yang ditempati obat dalam tubuh, tetapi hanya volume tubuh.
Besarnya volume distribusi dapat digunakan sebagai gambaran,
tingkat distribusi obat dalam darah.
3. Konsentrasi Tinggi Puncak (Cpmax) adalah konsentrasi dari obat
maksimum yang diamati dalam plasma darah dan serum pemberian
dosis obat. Jumlah obat biasanya dinyatakan dalam batasan
konsentrasinya sehubungan dengan volume spesifik dari darah,
serum dan plasma.

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

4. Waktu Puncak (tmax) adalah waktu yang dibutuhkan unsur untuk


mencapai level obat maksimum dalam darah (tmax). serta parameter
ini menunjukan laju absorsi obat dari formulasi. Laju absorbsi obat,
menentukan waktu diperlukan untuk dicapai konsentrasi efektif
minimum dan dengan demikian untuk awal dari efek farmakologis
yang dikendaki.
5. Waktu paruh obat (t½) adalah gambaran waktu yang dibutuhkan
untuk suatu level aktivitas obat dan menjadi separuh dari leval asli
atau level yang dikendaki
6. Tetapan absorbsi (Ka) adalah parameter yang mengambarkan laju
absorbsi suatu obat, dimana agar suatu obat diabsorbsi mula-mula
obat harus larut dalam cairan pada tempat absorsinya
7. Tetapan eliminasi adalah parameter yang gambarkan laju eliminasi
suatu obat tubuh. Dengan ekskresinya obat dan metabolit obat,
aktivitas dan keberadaan obat dalam tubuh dapat dikatakan berakhir.

Parameter Orde 0 Orde 1

Konstanta
k=-b k = -b (2,3)
eliminasi

1 0,5 × 𝑎 1 0,693
Waktu paruh 𝑡2 = 𝑡2 =
𝑘 𝑘

Konstanta absorbsi ka = - b ka = -b (2,3)

𝑘𝑎/𝑘 2,3 log 𝑘𝑎/𝑘


tmax
(𝑘𝑎 − 𝑘) (𝑘𝑎 − 𝑘)

[𝑎𝑛𝑡𝑖𝑙𝑜𝑔 𝐴. 𝑒 −𝑘.𝑡𝑚𝑎𝑥 ] -
Cpmax [𝐴. 𝑒 −𝑘.𝑡𝑚𝑎𝑥 ]-[𝐵. 𝑒 −𝑘𝑎.𝑡𝑚𝑎𝑥 ]
[𝑎𝑛𝑡𝑖𝑙𝑜𝑔 𝐵. 𝑒 −𝑘𝑎.𝑡𝑚𝑎𝑥 ]

𝐹 𝑥 𝐷𝑜 𝑥 𝑘𝑎 𝐹 𝑥 𝐷𝑜 𝑥 𝑘𝑎
Volume distribusi 𝑉𝑑 = 𝑉𝑑 =
𝑎 𝑥 (𝑘𝑎 − 𝑘) 𝑎𝑛𝑡𝑖𝑙𝑜𝑔 𝑎 (𝑘𝑎 − 𝑘)

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

𝑡 𝑡𝑛 +𝑡𝑛−1
1) [AUC]t 𝑛 = (tn - tn-1 )
n-1 2
t~ 𝐶𝑝𝑛
2) [AUC]tn = k
AUC
t~ F x Do
3) [AUC]t0 = Vd X k
t~
[AUC]t
n
4) % AUC Ekstrapolasi = x 100 %
∑AUC

B. Uraian Bahan dan Obat

1. Uraian Obat

a. Klonidin
Nama : Klonidin
Indikasi :
Kontraindikasi :
Dosis :

Farmakodinamik :
Farmakokinetik :
Interaksi obat :
Efek samping :

2. Uraian Bahan
EDTA ( Dirjen POM, 1979)
Nama lain : Dinatrium etilendiaminatetrasetat dihidrat
RM / BM : C10H14N2Na2O8.2H2O / 372,24
Pemerian : Serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa
agak asam.
Kelarutan : Larut dalam 11 bagian air, sukar larut
dalam etanol (95%) P , praktis tidak larut
dalam kloroform P dan dalam eter.
Kegunaan : Sebagai antikoagulan

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

C. Uraian Hewan Coba

1. Klasifikasi
Klasifikasi tikus (Ningsih, 2011)
Kingdom : Animalia
Phylum : Cordata
Sub Phylum : Vertebrata
Class : Mamalia
Ordo : Rodentia
Family : Muridae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus norvegicus
2. Karakteristik
Karakteristik (Ningsih, 2011)
Berat badan dewasa - jantan : 100-300 gram
Berat badan dewasa - betina : 100-200 gram
Luas permukaan tubuh : 50 g : 130 cm2
Temperatur tubuh : 38,0-38,6o C
Mulai dikawinkan : pada waktu estrus
Jumlah anak per kelahiran : rata 4-10
Jumlah pernafasan : 35-56/menit
Volume darah : 54-70 mg/kg
Tekanan darah : 90-130 sistol, 60-90 diastol

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

BAB III

METODE KERJA

A. Alat yang digunakan

Adapun alat-alat yang digunakan pada penetapan parameter


farmakokinetik dengan pemberian secara ialah gunting, kanula,
sentrifuge, spektrofotometri, spoit 5 mL, spoit 1 mL dan tabung
effendorf.
B. Bahan yang digunakan

Adapun bahan-bahan yang digunakan pada penetapan


parameter penetapan farmakokinetik dengan pemberian secara ialah
alkohol, aqua pro injection, betadine, handscoon, kapas, obat epinefrin
dan tissu gulung.
C. Cara kerja

1. Penyiapan hewan coba

Disiapkan tikus Rattus novergicus. Kemudian dipuasakan


selama 8 jam.
2. Pembuatan obat

1. Disiapkan alat dan bahan


2. Ditimbang klonidin
3. Dilakukan pengenceran hingga
4. Dilarutkan dalam labu erlenmayer.
3. Perlakuan hewan coba

Diambil tikus yang telah dipuasakan, kemudian diberikan obat


klonidin secara . Digunting ekornya dan diambil darahnya dalam
tabung effendorf. Pengambilan dilakukan pada menit ke-10, 20, 30,
40 dan 50. Kemudian disentrifuge dan diambil serumnya. Diukur
absorbansinya.

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil praktikum

Tabel 1. Kurva Baku


𝝁𝒈 𝝁𝒈
t (menit) Cp (𝒎𝑳) Log Cp (𝒎𝑳)

1 22,5 1,352

2 33,6 1,526

3 39,55 1,597

4 39,6 1,597

5 39,6 1,597

6 27,4 1,437

7 25,2 1,401

8 20,7 1,315

9 18,2 1,260

10 14,6 1,164

11 14,0 1,146

12 13,4 1,127

13 11,2 1,049

14 9,28 0,967

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

B. Pembahasan

Ilmu farmakokinetika penting dipelajari karena dapat

digunakan untuk penaksiran kecepatan absorpsi, metabolisme,

ekskresi obat ke dalam urin, penaksiran ketersediaan hayati

formula obat yaitu kecepatan dan jumlah obat yang masuk dalam

sirkulasi sistematik serta mengoptimaslisasi dosis obat.

Farmakokinetika khususnya mempelajari perubahan-perubahan

konsentrasi obat dan metabolitnya didalam darah dan jaringan

sebagai fungs dari waktu dengan menggunakan paramter-

parameter tertentu.

Cara pemberian obat yang populer digunakan adalah

pemberian secara . Nilai-nilai farmakokinetik dari pemberian

tersebut dapat diketahui dengan menghitung parameter-

parameternya untuk dapat mengetahui ketersediaan hayati obat

tersebut didalam tubuh, sehingga dapat menafsirkan proses ADME

yang akan terjadi pada obat dalam tubuh dan dosis tepat yang

diberikan. Parameter-parameter tersebut adalah kecepatan

eliminasi, kecepatan absorbsi, t ½ , volume distribusi, tmax, Cpmasx,

nilai AUC dan % Ekstrapolasinya.

Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu untuk memahami dan

menentukan parameter-parameter yang mencakup dalam

pemberian obat klonidin secara oral.

Dimana dalam prosedur pengerjaannya, tikus putih yang


digunakan dalam percobaan harus dtimbang terlebih dahulu dan

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

sudah dipuasakan selama 6-8 jam yang bertujuan agar data yang
diperoleh nanti adalah data yang akurat. Kemudian tikus di berikan
secara aquadest sebanyak 5 mL lalu dibiarkan sesaat, tujuan
pemberian aquadest untuk memperbanyak darah tikus tersebut. Tikus
kemudian dikan klonidin dengan menggunakan kanula berdasarkan Vp
yang telah diketahui kemudian dibiarkan sesaat lagi sebelum
dimasukkan kedalam restainer. Setelah tikus dimasukkan dalam
restainer, ujung ekor tikus dibersihkan dengan alkohol kemudian
digunting sedikit untuk mengambil darahnya. Darah tikus kemudian
ditampung dalam tabung effendor yang telah disediakan sampai batas
tertentu. Pengambilan darah tikus dilakukan beberapa kali dengan
interval waktu 10’, 20’, 30, dan 40’ dan 50’. Darah yang telah diperoleh
dari tiap interval waktu tersebut kemudian di sentrifuge. Serum darah
yang telah terpisah kemudian diambil dan dihitung absorbansinya.
Pemilihan serum tentu saja karena pada serum mengandung
banyak protein termaksud cairan elektrolit, antibody, antigen, hormone,
dan semua substansi. Sedangkan pada plasma terdapat fibrinogen
yang dapat memberikan pengaruh terhadap hasil pengukuran
absorban karena mengandung zat-zat sisa.
Berdasarkan data absorbansinya diperoleh dari parameter
farmakokinetiknya dan diketahui obat klonidin yang diberikan mengikuti
orde

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

BAB V

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Dari percobaan yang telah di lakukan dapat disimpulkan bahwa


parameter farmakokinetik dari tikus (Rattus norvegicus) yang diberikan
obat klonidin secara oral mengikuti orde.
B. Saran

Sebaiknya restainer diperbanyak sehingga dapat membuat proses


praktikum lebih sesuai prosedur.

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2018. “Penuntun Praktikum Farmakokinetik”. Universitas Muslim


Indonesia : Makassar.
Almasdy, D., Darwin, D., Kurniasih, N., & Handayani, V. 2013. Pola
penggunaan isdn pada penderita angina pektoris di suatu rumah
sakit pemerintah kota padang. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi.
Harvey, Richard A. & Pamela C. Champe. (2013). Farmakologi ulasan
bergambar. Jakarta : EGC.
Gitawati, R. 2008. Interaksi obat dan beberapa implikasinya. Media
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 18.
Gunawan,G,S., 2005, Farmakologi Dan Terapi, 5nd, Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Katzung, B.G., 2013, Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 12, Penerbit
Salemba Medika, Jakarta.
Michael., J., Neal. 2006. At a Glance Farmakologi Medis Edisi ke Lima.
Penerbit Erlangga PT Gelora Aksara Pratama. Jakarta.
Muttaqin,A,, 2008, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Persarafan, Penerbit Salemba Medika, Jakarta,
Indonesia
Ningsih, Rahmawati., 2011, “Metode farmakologi”, Universitas Muslim
Indonesia : Makassar.
Shargel, L. 2012. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan. Airlangga
University Press, Surabaya.
Tan H. T., dan Kirana R., 2002, Obat-obat Penting, Khasiat, Penggunaan
dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi 5, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta. 296-297.

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

LAMPIRAN

Skema Kerja

Disiapkan hewan coba (tikus)

Diinjeksi obat klonidin secara oral dengan menggunakan kanula

Diambil darahnya dan disimpan dalam tabung effendorf

Dilakukan pengambilan darah pada menit ke 10’,20’,30’,40’, dan 50’

Disentrifug darah yang telah diambil

Dihitung absorbansinya pada spektrofotometer

Dicatat datanya dan dihitung parameter farmakokinetiknya

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041
PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIK PEMBERIAN
SEDIAAN OBAT ORAL

NURHIDAYA RAUDHATUL JANNAH N


15020150041