Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauh mana hal yang
telah dipelajari dapat membantunya dalam perkembangan kemandiriannya dan
menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya serta pada tuntunan
masyarakat. Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang didapat di sekolah
dan diluar sekolah ia memiliki sejumlah pengetahuan, kecakapan, minat-
minat, dan sikap-sikap. Dengan pengalaman itu, ia secara berkesinambungan
akan dibentuk menjadi seseorang pribadi seperti apa yang ia miliki sekarang
dan menjadi pribadi yang akan datang.
Seorang peserta didik harus tertanam sikap kemandirian guna menjadi
insan yang berguna bagi masyarakat dengan kemampuan sendiri. Masalah
kemandirian menuntut suatu kesiapan individu, baik kesiapan fisik, mental,
maupun emosional untuk mengatur, mengurus dan melakukan aktivitas atas
tanggung jawabnya sendiri tanpa banyak menggantungkan pada orang lain.
Sedangkan pada penyesuaian diri, seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan
telah mampu menyesuaiakan diri atau tidak mampu menyesuaiakan diri. Maka
kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-
faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian
yang baik atau yang salah. Sebab, penyesuaian diri adalah suatu proses.
Jadi antara perkembangan kemandirian dan penyesuaian diri sangat erat
hubungannya, dimana perkembangan kemandirian akan mempengaruhi
penyesuaian diri terhadap lingkungannya, dan begitu sebaliknya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana potensi wilayah pesisir di Provinsi Kalimantan Utara?
2. Bagaimana kearifan lokal di wilayah Kalimantan Utara?
3. Bagaimana contoh pengembangan media pembelajaran di wilayah pesisir?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui potensi wilayah pesisir di Provinsi Kalimantan Utara.

1
2. Mengetahui kearifan lokal di wilayah Kalimantan Utara
3. Mengetahui dan memehami contoh pengembangan media pembelajaran di
wilayah pesisir.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Potensi Wilayah Pesisir di Provinsi Kalimantan Utara


Wilayah Provinsi Kalimantan Utara yang sangat luas menyebabkan
semua karakteristik wilayah terdapat di daerah ini, mulai kawasan perbatasan
Kalimantan Utara pedalaman, terpencil, pegunungan, pesisir, dan kepulauan.
Wilayah Kalimantan Utara yang memiliki pantai sepanjang 1.185 KM
mempunyai kawasan pesisir yang sangat luas, merupakan kota yang terletak di
pesisir pantai Kalimantan Utara. (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara,
2016 BAB II).
Wilayah pesisir secara ekologis merupakan daerah pertemuan antara
ekosistem darat dan laut. Bagi orang-orang pesisir, laut adalah lahan kehidupan. Dia
telah membesarkan berbagai jenis ikan, kerang. Rahimnya menyimpan sejuta
kekayaan (Yohanes. 2016: 9). Wilayah pesisir dideIinisikan sebagai daerah pertemuan
antara darat dan laut, ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan baik
kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang
surut, angin laut, dan perembesan air asin, sedangkan ke arah laut wilayah pesisir
mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi
di darat, seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh
kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Dalam UU
No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Wilayah, pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang
dipengaruhi oleh perubahan di darat dan di laut. Sedangkan, deifinisi perairan pesisir
adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh
perubahan di darat dan di laut. Perairan pesisir adalah laut yang berbatasan dengan
daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai,
perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan
dangkal, rawa payau, dan laguna. (Bidayani, 2014: 1-2).
Sehingga, wilayah pesisir dapat diartikan sebagai kawasan yang berbatasan
antara darat dan laut yang memiliki ekosistem di dalamnya.
Sepanjang garis pantai ini terdapat wilayah pesisir yang relatif sempit, tetapi
memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat banyak seperti ekosistem mangrove,

3
terumbu karang, dan padang lamun yang sangat luas dan beragam. Selain itu pula
terdapat berbagai kekayaan pesisir lainnya seperti pasir, kerang, jenis-jenis ikan
pelagis, ikan dumersal, kepiting, udang, teripang, air laut, kerikil, kelapa, dan
ketapang.
Dalam UU RI No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil disebutkan bahwa potensi di kawasan pesisir sangatlah besar, baik potensi
sumberdaya alam maupun potensi buatan. Potensi sumberdaya kawasan pesisir
menurut UU ini yaitu sumberdaya hayati (ikan, terumbu karang, padang lamun,
mangrove, dan biota laut lain), sumberdaya nonhayati (pasir, air laut, mineral dasar
laut), sumberdaya buatan (infrastruktur laut yang terkait dengan kelautan dan
perikanan, dan jasa-jasa lingkungan berupa keindahan alam, permukaan dasar laut
tempat instalasi bawah air yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi
gelombang laut yang terdapat di wilayah pesisir)………………

Berikut ini beberapa contoh potensi wilayah pesisir di wilayah Kalimantan Utara:
1.1.1 Hutan Mangrove
Hutan mangrove merupakan salah satu eksositem pesisir utaama di
daerah tropis dan sub tropis yang sangat sensitive dan rentan terhadap
perubahan lingkungan tumbuh. Hutan mangrove bisa dimanfaatkan untuk
sumber abhan makanan, kayu bakar, kayu bangunan dan produk lainnya. Hutan
mangrove berkaitan erat dengan ekosistem lainnya dan mempunyai fungsi
sebagai pelengkap sedimen, penyaring alairan permukaan, pelindung pantai
dari pukulan ombak, habitat untuk berbagagi organisme dan tempat
berkembang biaknya organisme air. (Bappeda, 2008: X-4). Hutan mangrove
terdapat di sejumlah kota/kabupaten di Kalimantan Utara, seperti di Kota
Tarakan, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung.
1.1.2 Terumbu Karang
Terumbu karang adalah struktur ekosistem di bawah laut yang dibangun
dari kalsium karbonat (CaCO3). Terumbu karang mempunyai fungsi ekologis
sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat
pemijahan, tempat bermain dan asuhan berbagai biota, terumbu karang juga
menghasilkan berbagai produk yang mempunyai nilai ekonomi penting seperti
berbagai jenis hasil perikanan, batu karang untuk konstruksi. Terumbu karang
diabngun oleh hewan karang (Tjandra dkk, 2011: 2).

1.1.3 Rumput Laut


Rumput laut adalah sejenis ganggang atau alga yang yang berukuran
besar dan memiliki berbagai macam bentuk yang warna yang beraneka ragam.

4
Rumput laut tumbuh di perairan yang memiliki subtract jkeras dan kokoh yang
berfungsi sebagi temapt melekat (Puspitaningasih, 2012: 38).
……………………

1.1.4 Padang Lamun


Padang lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup di dalam air
laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan
tunas. Tumbuhan tersebut terdapat diperairan dekat pantai yang dangkal, baik di
daerah tropis maupun di daerah temperatur. Padang lamun dapat berbentuk
tumbuhan tunggal yang utmbuh membentuk padang lebat (Puspitaningasih,
2012: 32).

1.1.5 Kerang
Kerang merupakan hewan bertubuh lunak (moluska). Pengertian kerang
bersifat umum dan tidak memiliki arti secara biologi namun penggunaannya luas
dan dipakai dalam kegiatan ekonomi. Dalam pengertian paling luas, kerang
berarti semua moluska dengan sepasang cangkang. Dalam pengertian paling
sempit, yang dimaksud sebagai sebagai kerang adalah kerang darah, sejenis
kerang budidaya yang umum dijumpai di wilayah Indo-Pasifik dan banyak dijual
di warung atau rumah makan yang menjual hasil laut. Kerang banyak
dibudidayakan karena memilliki nilai ekonomi yang baik. Kita sering melihat
cangkang kerang di laut. Cangkang ini berasal dari kerang dan siput laut yang
telah mati. Kemudian terbawa arus sampai ke tepi pantai (Tjandra, 2011:22).

2.2 Kearifan Lokal di Wilayah Kalimantan Utara


Dalam pengertian kebahasaan, kearifan lokal berarti kearifan setempat
(local wisdom) yang dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan lokal yang
bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai yang tertanam dan diikuti oleh
warga masyarakatnya. Dalam konsep antropologi, kearifan lokal dikenal pula
sebagai pengetahuan setempat (indigenous or local knowledge), atau
kecerdasan setempat (local genius), yang menjadi dasar identitas kebudayaan
(cultural identity). Kearifan lokal merupakan perwujudan dari daya tahan dan
daya tumbuh yang dimanifestasikan melalui pandangan hidup, pengetahuan,
dan pelbagai strategi kehidupan yang berupa aktivitas yang dilakukan oleh
masyarakat lokal untuk menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan
kebutuhan hidupnya, sekaligus memelihara kebudayaannya (Nasruddin, dkk. 2011).

5
Contoh kearifan local di wialyah Kalimantan Utara:
1. UPACARA ADAT IRAW TENGKAYU

UPACARA adat Iraw Tengkayu mempakan upacara ritual penyerahan sesaji


ke laut sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil yang didapat dari laut,
karena masyarakat pada umumnya hidup sebagai nelayan. Upacara adat ini sering
dikonotasikan sebagai pesta laut. Upacara adat ini disebutjugapakan, yang berarti
menghaturkan sesaji berupa makanan dan lainlain.
Acara inti pada upacara adat Iraw Tengkayu adalah penurunan Padaw Tuju
Dulung. Padaw Tuju Dulung adalah sebuah perahu dengan bentuk yang khas.
Bagian atasnya merupakan tempat untuk sesaji yang dihaturkan. Bentuk haluan
perahu bercabang tiga. Haluan bagian tengah bersusun tiga, haluan kanan dan kiri
masing-masing bersusun dua, sehingga jika dijumlahkan, terdapat tujuh haluan
yang menunjukkan jumlah hari dalam seminggu di mana kehidupan manusia
berlangsung dari hari ke hari dan seterusnya.
Warna perahu tcrdiri aims kuning, hijau, dun merah. Halunn perahu teratas
(di tengah) dan perlengkapan lainnya di atas perahu berwaarna kuning. Wama
kuning menurut tradisi budaya Suku Tiduug adalah perlambang suatu kehormatan
atau suatu yang ditinggikan dan dimuliakan. Kemudian di atas perahu terdapat
lima buah tiang yang melambangkan shalat lima waktu yang merupukan tiang
agama Islam
Guna tiang-tiang tersebut adalah tempat mengikat atap dari kain berwarna
kuning yang disebut Pari-Pari. Pada tiang knnan dopan terpasang kain kuning ke
haluan kmnm. demikian pula pada tiang kiri dcpun tcrpusang kain kuning
memanjang turun kc haluan kiri.
Di atas Padaw Tuju Dulung dibuut bentuk seperti rumah dengan atap
bersusun tigu yang disebut meligay, yang pada keemput dindingnya masing-
masing terdapat satu pintu. Di dalum meligay tersebutlah diletakkau sesaji berupa
makanan. Makanan yang dijadikun sosaji antara lain nasi ketan bersantzm empat
warna (kuning, merah, putih, hitam), ayam panggang. telur ayam, pisang hijau
satu sisir (berjumluh gnnjil). dan lain-lain.

6
2. TARI-TARIAN
a. Tari Jepen/Japen/Zapin/Jepin
Jepen merupakan seni tari rakyat yang bemafaskan Islam. Penari tarian
ini adalah muda-mudi yang menggerakkan kedua anggota badan dengan
gerakan saling-silang dan gerakannya lebih banyak menggunakan kaki. Jepen
berasal dari Timur Tengah (Arab) yang dibawa oleh para penyebar Agama
Islam sehingga lagu-lagu pengiring dan syair-syairnya lebih bernuansa islami.
Penari Jepen pria bercelana panjang, berbaju teluk belanga (lengan
panjang), dan bersarung. Sedangkan penari wanitanya bersarung dan
berkebaya dengan model/ciri khas daerah masing-masing. Alat pengiringnya
berupa gambus, ketipung, biola, dan syair pantun.
Tarian Jepen ini dipopulerkan pada 1960 di Desa Tanjung Redeb Ilir,
Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau. Penciptanya seorang tokoh
masyarakat dan ditarikan secara bersama-sama antara 10 hingga 15 orang
dengan berpakaian seragam menyala. Biasanya tarian ini di tampilkan dalam
rangka mema peringati hari-hari besar.

b. Tari Embaul
Tari Embaul dipopulerkan pada 1950 di Desa Sembakung, Kecamatan
Sembakung, Kabupaten Bulungan. Pencipta tarian ini adalah seorang tokoh
masyarakat dari Suku Tidung. Tari Embaul ditarikan secara berpasangan,
sebanyak 3 pasangan dengan berpakaian seragam yang dibedakan antara pria
dan wanita. Dalam menarikan tari embaul biasanya diiringi dengan Iagu
syair/pantun.

c. Tari Jingga-jingga
Tari Jingga-jingga dipopulerkan pada 1950 di Desa Sesayap, Kecamatan
Sesayap, Kabupaten Bulungan. Pencipta tarian ini adalah seorang tokoh
masyarakat Suku Tidung. Tari Jinggajingga ditarikan oleh 7 orang putri
dengan berpakaian warna kuning dengan gerak tangan yang lemah gemulai
dengan diiringi lagu-lagu syair yang isinya merayu seorang pria.

d. Tari Dendang Taka


Tari Dendeng Taka dipopulerkan pada 1950 di Desa Nunukan,
Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan. Tarian ini diciptakan oleh seorang
tokoh masyarakat Suku Tidung. Tarian ini ditarikan oleh gadis-gadjs yang

7
berjumlah 6 hingga 12 orang dengan berpakajan seragam kuning dengan gerak
tari secara lemah gemulai.

Tradisi Acara Pernikahan


TRADISI yang berlaku dalam pelaksanaan pernikahan adalah bedulug (antar
jujuran), tukar pupur, mengarak pengantin, bebantang (bersanding), naik
pelaminan, menjiu (mandimandi), dan besembalei (silaturahim).

Tradisi dalam Acara Selamatan


YANG MERUPAKAN acara selamatan di Suku Tidung adalah berua (tahlilan),
haul, naik ayun, betimbang untuk bayi yang lahir pada bulan Safar, acara tolak
bala, membaca kitab berjanji, selamatan khitanan, betamet (khataman).

3. Permainan
Di Tarakan terdapat ragam permainan, di antaranya adalah asin naga, gasing, kaki
tunjang, marak (layang-layang), dan lugu (logo). Berikut adalah penjelasan dari
tiga permainan.
a. Asin Naga
Asin Naga adalah permainan yang dilakukan secara berkelompok, setiap
kelompok terdiri atas 3 sampai 6 orang. Apabila dilakukan oleh 3 orang,
dibuatlah 3 kotak di atas tanah. Setiap kotak diberi batas dengan sebuah garis.
Kelompok yang kalah berjaga-jaga di setiap garis, sementara lawannya
berusaha masuk ke setiap kotak hingga sampai pada kotak (penjaga terakhir)
untuk selanjutnya kembali lagi keluar kotak di garis panama. Apabila
kelompok yang mcndapatkan giliran bermain salah seorang anggotanya
tertangkap oleh lawannya yang berjnga, kclompok tersebut dinyatakan kalah.
Kelompnk yang kalah kembali berjaga-jaga menggantikan kclompok yang
menang.

b. Gasing
Gasing adalah sebuah alat yang digunakan dalam pcrmainan yang biasanya
dimainkan oleh anak laki-laki berusia 7-15 tahun. Ia berbentuk lancet
menyerupai kerucut. Gasing yang baik terbuat dari kayu Ulin atau kayu
Benggeris. Pemain mengikat (menggulung) tali di pentil gasing dan
memutarnya ke permukaan tanah. Pemain yang berhasil memutar gasing
paling lama dinyatakan sebagai pemenangnya. Sementara pemain yang kalah
memutar gasingnya untuk dihantam oleh gasing pemenang. Apabila gasing

8
yang dihantam oleh gasing pemenang dapat berputar lebih lama, maka ia akan
menjadi pemenang baru.

c. Belugu
Permainan anak laki-laki ini menggunakan alat yang terdiri atas beberapa buah
tempurung yang dibentuk menyerupai segi tiga. Pada bagian bawah lancip dan
membesar di bagian atasnya. Tingginya sekitar 10 cm dan lebar 6-8 cm. Dapat
dimainkan oleh beberapa orang secara ber~ gantian. Setiap pemain membawa
3 sampai 4 buah belugu yang ditancapkan di tanah. Antara belugu satu dan
belugu lainnya berjarak 2 sampai 3 meter. Pemain yang menang menggunakan
sebuah kayu kecil untuk mendorong belugunya ke arah belugu lawan yang
tertancap.

4. Lagu Daerah
BANYAK terdapat lagu daerah yang pada umumnya menggunakan bahasa
Tidung. Di antaranya adalah:
a. Jamila, ciptaan H. Ismail &Amir Ahim;
b. SuaraSiam,ciptaanTahirIlyas;
c. Pamusian, ciptaan Abdul Latief;
d. YakiBentawol, ciptaan Abdul Latief;
e. Pantun PR1, ciptaan Tahir Ilyas;
f. BerlayarKunun, ciptaan Abdul Latief;
g. Dindang Tidung, ciptaan Tahir Ilyas;
h. Jauh Malam, ciptaan Abdul Latief;
i. Saidah Semandak Pagun, ciptaan Allen; dan
j. Bebalon, ciptaan Datu N oerbeck.

5. Seni Bela iri Kuntau


KUNTAU merupakan seni silat mempertahankan diri yang diwarisi turun
temurun sejak zaman penjajahan Belanda. Seni bela diri yang bernafaskan Islam
dan bernuansa Melayu ini secara prinsip lebih mementingkan pertahanandiri.

2.3 Contoh Pengembangan Media Pembelajaran ………

2.4 Pentingnya Kemandirian Bagi Peserta Didik

9
Pentingnya kemandirian bagi peserta didik, dapat dilihat dari situasi
kompleksitas kehidupan dewasa ini, yang secara langsung atau tidak langsung
memengaruhi kehidupan peserta didik. Pengaruh kompleksitas kehidupan
terhadap peserta didik terlihat dari berbagai fenomena yang sangat
membutuhkan perhatian dunia pendidikan, seperti perkelahian antarpelajar,
penyalahgunaan obat dan alkohol, perilaku agresif, dan berbagai perilaku
menyimpang yang sudah mengarahkan pada tindak kriminal. Dalam konteks
proses belajar, terlihat adanya fenomena peserta didik yang kurang mandiri
dalam belajar yang dapat menimbulkan gangguan mental setelah memasuki
pendidikan lanjutan, kebiasa belajar yang kurang baik (seperti tidak betah
belajar lama atau belajar hanya menjelang ujian, membolos, menyontek, dan
mencari bocoran soal-soal ujian).
Fenomena-fenomena di atas, menuntut dunia pendidikan untuk
mengembangkan kemandirian peserta didik. Sunaryo Kartadinata (1988)
menyebutkan beberapa gejala yang berhubungan dengan permasalahan
kemandirian yang perlu mendapat perhatian dunia pendidikan, yaitu :
1. Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar dan bukan karena niat sendiri
yang ikhlas. Perilaku seperti ini akan mengarah pada perilaku ormalistik,
ritualistik dan tidak konsisten, yang pada gilirannya akan menghambat
pembentukan etos kerja dan etos kehidupan yang mapan sebagai salah satu
ciri dari kualitas sumber daya dan kemandirian manusia
2. Sikap tidak peduli lingkungan hidup. Manusia mandiri bukanlah manusia
yang lepas dari lingkungannya, melainkan manusia yang bertransenden
terhadap lingkungannya. Ketidakpedulian terhadap lingkungan hidup
merupakan gejala perilaku impulsif, yang menunjukkan bahwa
kemandirian masyarakat masih rendah.
3. Sikap hidup konformistis tanpa pemahaman dan konformistik dengan
mengorbankan prinsip. Mitos bahwa segala sesuatunya bisa diatur yang
berkembang dalam masyarakat menunjukkan adanya ketidakujuran dalam
berpikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

Gejala-gejala tersebut merupakan bagian kendala utama dalam


mempersiapkan individu-individu yang mengarungi kehidupan masa

10
mendatang yang semakin kompleks dan penuh tantangan. Oleh sebab itu,
perkembangan kemandirian peserta didik menuju ke arah kesempumaan
menjadi sangat penting untuk dilakukan secara serius, sistematis dan
terprogram (Desmita, 2012).
Didalam suatu proses pembelajaran peserta didik selalu diarahkan agar
menjadi peserta didik yang mandiri. untuk menjadi mandiri peserta didik
harus belajar secara individu, dengan kemandirian yang dimiliki akan
menjadikan peserta didik sadar akan kebutuhan belajar yang harus
dilakukannya tanpa ada dorongan dari orang lain. Kemandirian tumbuh dan
berkembang berdasarkan dua faktor, yaitu: Disiplin, adanya aturan bertindak
secara otoritas dan komitmen terhadap kelompok. Sedangkan anak yang
mempunyai kemandirian belajar mempunyai ciri-ciri: Dapat menemukan
identitas dirinya, mempunyai inisiatif dalam setiap langkah yang diambilnya,
mempunyai pertimbangan dalam setiap tindakan-tindakan yang dilakukannya,
dan bertanggung jawab dalam setiap tindakannya, serta dapat mencukupi
kebutuhan-kebutuhanya.
Kemandirian itu berkembang melalui proses keragaman manusia dalam
kesamaan dan kebersamaan, bukan dalam kevakuman. Keadaan kemandirian
akan muncul jika peserta pendidik mau belajar, dan sebaliknya kemandirian
tidak akan muncul jika peserta didik tidak mau belajar (Chebretrina, 2013).

2.5 Perkembangan Kemandirian Peserta Didik dan lmplikasinya Bagi


Pendidikan
Kemandirian adalah kecakapan yang berkembangan sepanjang rentang
kehidupan individu, yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman
dan pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan di sekolah perlu melakukan
upaya-upaya pengembangan kemandirian peserta didik, diantaranya (Desmita,
2012):
1. Mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis, yang
memungkinkan anak merasa dihargai.
2. Mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan
dan dalam berbagai kegiatan sekolah.

11
3. Memberi kebebasan kepada anak untuk mengekplorasi lingkungan,
mendorong rasa ingin tahu mereka
4. Penerimaan positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan Lebih tidak
membeda-bedakan anak yang satu dengan yang lain
5. Menjalin hubungan yang harmonis dan akrab dengan anak.

2.6 Pengertian Penyesuaian Diri


Studi sistematik mengenai penyesuaian diri atau adaptasi pertama
kalinya dimulai oleh Charles Darwin dalam bidang biologi. Charles Darwin
mengembangkan konsep mengembangkan konsep perjuangan adaptasi
makhluk hidup di alam semestas ini yang kemudian dikenal dengan Teori
Evolusi (The survival of the fittest, by means of the natural selection).
Selanjutnya, teori tersebut dikembangkan dalam bidang-bidang yang lain.
Contohnya dalam bidang sosial (Prawira, 2016).
Para pakar biologi memakai istilah adaptasi untuk menjelaskan
penyesuaian-penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan lingkungan fisik,
seperti tuntutan iklim, keadaan geografis, fauna dan floranya, keadaan cuaca
dan angin dan sebagainya. Sedangkan para psikolog, memakai istilah
adjustment untuk penyesuiaian bagi berbagai macam kondisi sosial atau
hubungan-hubungan innter-personal dalam masyarakat.
Manusia, selain mangalami adaptasi fisik, juga mengalami penyesuaian-
penyesuaian sosial. Misalnya penyesuaian diri terhadap keinginan-keinginan
atau aturan-aturan yang diberlakukan dalam keluarga, penyesuaian diri
terhadap rasa lapar, haus, nafsu-nafsu, dan lain-lain. Jika manusia tidak dapat
memenuhi tuntutan-tuntutan atau menyesuaikan diri dengan hal-hal yang
dicontohkan tersebut, dirinya akan merasa tidak enak atau tidak nyaman.
Penyesuaian diri dapat diinterpretasikan dari dua titik pandang. Pertama,
penyesuaian sebagai suatu hasil dengan menekankan pada kualitas atau
efesiensi dalam penyesuaian. Kedua penyesuaian sebagai suatu proses, yaitu
menekankan pada proses atau terjadinya penyesuaian individu-individu paada
lingkungan dalam dan lingkungan luarnya.
Proses pemenuhan kebutuhan pada hakikatnya merupakan proses
penyesuaian diri. Dalam hal ini Mustafa Fahmi menulis: “Pengertian luas
tentang proses penyesuaian terbentuk sesuai dengan hubungan individu

12
dengan lingkungan sosialnya, yang dituntut dari individu tidak hanya
mengubah kelakuannya dalam menghadapi dirinya dari dalam dan keadaan di
luar, dalam lingkungan di mana dia hidup, akan tetapi juga dituntut untuk
menyesuaikan diri dengan adanya orang lain dan macam-macam kegiatan
mereka. Jika mereka ingin penyesuaian, maka hal itu menuntut adanya
penyesuaian antara keinginan masing-masingnya dengan suasana lingkungan
sosial tempat mereka bekerja” (Desmita, 2012).
Sifat dinamik dari perilaku individu memungkinkannya mampu
memperoleh penyesuaian diri yang baik. Penyesuaian diri itu sendiri bersifat
dinamik dan bukan statik.
Menurut Hollander (dalam Desmita, 2012), sifat dinamis (dymamism) ini
menjadi kualitas esensial dari penyesuaian diri. Lebih jauh Hollander menulis:
bahwa kualitas penyesuaian yang penting adalah dinamisme atau potensi
untuk berubah. Penyesuaian teriadi kapan saja individu menghadapi kondisi
kondisi lingkungan baru yang membutuhkan suatu respons. Penyesuaian juga
tampil dalam bentuk menyesuaikan kebutuhan psikologis seseorang dengan
norma-norma budaya. Bahkan kebutuhan dasar secara fisiologis, seperti rasa
lapar, dipenuhi menurut cara-cara yang ditentukan secara yang sosial. Apa kita
makan, dan bagaimana kita makan merupakan ilustrasi tindakan yang
dipelajari dari dari suatu pola kebudayaan suatu masyarakat.
Menurut Derlega & Janda (dalam Desmita, 2012), menyebut
penyesuaian sebagai berikut: adjustment is a lifelong process, and people
must continue to meet and deal with the stresses and challenges of life in
order to achieve a healthy personality. Penyesuaian mencakup belajar untuk
menghadapi keadaan baru melalui perubahan dalam tindakan atau sikap.
Sepanjang hidupnya individu akan mengadakan perubahan perilaku, karena
memang dia dihadapkan pada kenyataan dirinya maupun lingkungannya yang
terus berubah.
Sedangkan menurut Schneiders (dalam Desmita, 2012), juga menyebut
penyesuaian diri (adjustmen) sebagai: “A process involving both mental and
behavioral responsses, by wich an individual strives to cope successfully with
inner needs tensions frustration and conflicts, and to effect a degree of
harmony between these inner demands and those imposed on him by the
objective world in which he lives”.

13
Mehami dan mengkritisi uraian-uraian yang telah diberikan tersebut, kita
dapat mendefinisikan atau menjabarkan pengertian penyesuaian diri sebagai
suatu hasil individu atau kelompok manusia menghadapi situasi-situasi baru
dalam lingkungan hidupnya sehingga perilakunya dapat diterima dalam hidup
bersama dengan masyarakat sekitarnya. Penyesuaian diri tersebut dapat lancar
atau terhambat tergantung pada individu yang bersangkutan dan faktor-faktor
yang memengaruhi. Apabila proses penyesuaian diri berjalan dengan lancar,
individu tidak mengalami hambatan, kalaupun ada hambatan dapat diatasi
dengan baik. Sebaliknya apabila hambatan yang tidak dapat diatasi, hal itu
dapat menimbulkan frustasi atau penyesuaian diri yang buruk. Penyesuaian
diri yang buruk selalu akan mengakibatkan timbulnya berbagai masalah dalam
kehidupan.
Jadi singkatnya, penyesuaian diri pada prinsipnya adalah suatu proses
yang mencakup respons mental dan tingkah laku, dengan mana individu
berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya,
konflik dan frustrasi yang tuntutan sehingga terwujud tingkat keselarasan atau
harmoni antara dari dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan
di mana ia tinggal.

2.7 Asumsi-Asumsi Penyesuaian Diri


Setiap individu memberikan reaksi yang berbeda dalam menghadapi
situasi tertentu sesuai dengan proses pendekatan yang digunakannya.
Seseorang mungkin dapat bereaksi tanpa adanya beban tetapi orang lain
mungkin menganggapnya sebagai situasi yang membebani atau
mengancamnya. Adanya perbedaan tersebut berkaitan erat dengan bagaimana
seseorang mempersepsi, menilai dan mengevaluasi situasi yang dihadapinya.
Persepsi, penilaian dan evaluasi terhadap realitas inilah yang disebut sebagai
realitas individu.
Dalam mempersepsikan suatu situasi, individu akan membuat sejumlah
asumsi tentang dirinya, tentang dunia diluar dirinya dan tentang relasi dirinya
dengan dunia diluar dirinya melalui self system yang dimilikinya. Self system
ini diperoleh dari proses belajar sepanjang rentang hidupnya.

14
Menurut Voleman (dalam Desmita, 2012), berfungsinya self system pada
seseorang melibatkan asumsi asumsi yang dibuat sendiri oleh individu yang
bersangkutan. Asumsi- asumsi tersebut meliputi:
1. Reality assumption, yaitu pandangan individu mengenai dirinya sendiri,
apa yang dipikirkannya, siapa dirinya dan apa sebenarnya sifat-sifat dari
lingkungannya.
2. Possibility assumption, yaitu pandangan individu mengenai hal-hal yang
mungkin tentang perubahan-perubahan, tentang pengembangan din dan
hubungannya dengan lingkungan sosialnya.
3. Value assumption, yaitu pandangan individu tentang baik dan buruk, salah
dan benar, tentang yang diakui dan yang tidak diakui.
Asumsi asumsi inilah yang akhirnya membentuk frame of reference yang
merupakan suatu pandangan yang menetap pada diri individu dalam
hubunganya dengan lingkungan, serta merupakan hal penting untuk
mengarahkan tingkah laku individu tersebut. Beberapa hal frame of reference
yang dimiliki individu merupakan dasar untuk mengevaluasi pengalaman-
pengalaman baru untuk coping dengan dunianya. Oleh sebab itu, konsekuensi
logis dari frame of reference ini adalah individu cenderung mempertahankan
asumsi-asumsi yang sudah dimilikinya dan menolak informasi baru yang
berlainan.
Perbedaan individu ini menyebakan konsep penyesuaian diri menjadi
relatif sifatnya, sehingga tidak dapat dibuat suatu pilihan cara-cara dalam
menghadapi stres tertentu secara pasti.
Menurut Schneider penyesuaian diri itu dikatakan relatif karena (dalam
Desmita, 2012) :
1. Penyesuaian diri dirumuskan dan dievaluasi dalam pengertian kemauan
seseorang untuk mengubah atau untuk mengatasi tuntutan yang
mengganggunya. Kemampuan ini berubah-ubah sesuai dengan nilai-nilai
kepribadian dan tahap perkembangannya.
2. Kualitas dari penyesuaian diri berubah-ubah terhadap beberapa hal yang
berhubungan dengan masyarakat dan kebudayaan
3. Adanya variasi tertentu pada individu.
Meskipun terdapat perbedaan pola reaksi penyesuaian diri individu
namun tidak dapat diabaikan adanya kenyataan bahwa penyesuaian diri itu
sendiri bisa baik dan bisa tidak baik. Dalam beberapa hal reaksi penyesuaian

15
ini dapat dipandang efisien, bermanfaat atau memuaskan, yang tidak terlepas
dari situasi lingkungan yang dihadapinya. Artinya, individu dapat
menyelaraskan tuntutan dalam dirinya dengan tuntutan lingkungannya dengan
cara-cara yang dapat diterima lingkungannya. Penyesuaian seperti ini dapat
dikatakan sebagai penyesuaian diri yang baik (good adjustment). Sebaliknya,
jika reaksi-reaksinya tidak efiesien, tidak memuaskan, maka dikatakan sebagai
penyesuaian diri yang kurang baik (bad adjustment). Menurut Schneider
(1964), individu yang well adjusted adalah mereka yang dengan
terbatasannya, kemampuan yang dimilikinya dengan dengan corak
kepribadiannya, telah belajar untuk bereaksi terhadap dirinya sendinya dan
lingkunganya dengan cara yang dewasa, bermanfaat, efisien, dan memuaskan.

2.8 Penempatan Penyesuaian Diri


1. Penyesuaian Diri sebagai Suatu Hasil
Penyesuaian diri sebagia suatu hasil adalah mengkaji sejauh mana
individu-individu atau seorang dapat melaksanakan tugas-tugasnya dalam
lingkungan yang berbeda-beda. Secara umum dikatakan bahwa dalam
berbagai macam organisasi-organisasi atau aktivitas dibutuhkan orang
yang memiliki penyesuaian dirinya baik.
Apabila penyesuaian diri dipandang sebagai suatu hasil, terdapat
kriteria-kriteria tertentu bagi penyesuaian diri yang berkualitas. Kriteria-
kriteria penyesuaian diri yang berkualitas (Prawira, 2016) adalah
mempunyai kesehatan fisik yang baik, konfortobilitas psikologis (rasa
nyaman) terpenuhi, mampu bekerja denga efisien, dan mempunyai
aksepsibilitas sosial yang baik. Uraian penjelasan masing masing kriteria
tersebut adalah sebagai berikut.
1. Kesehatan fisik yang baik, hal ini menjadi tolak ukur bagi individu
untuk mampu mengadakan penyesuaian diri yang baik. Sebenarnuya
orang yang sehat fisiknya alias bebas dari segala macam penyakit
relatif lebih mudah untuk mengadakan penyesuaina diri dengan
lingkungan dibandingkan dengan individu yang mengalami cacat
tubuh atau menderita penyakit.
2. Konfortabilitas psikologis, hal ini merupakan kenyaman yang
dirasakan dalam individu yang bersangakutan. Salah satu hal yang

16
mata penting dalam kenyataan-kenyataaan penyesuaiann diri berkaitan
dengan kejiwaan adalah tidak dirasakan adanya penyakit-penyakit
kejiwaan. Apabila individu mengalami gangguan psikis individu yang
bersangkuta harus melakukan konsultasi kepada psiokolog atau
psikiater.
3. Efesiensi kerja, individu dapat berkeja penuhh pada tugasnya masing-
masing. Individu selaku pimpinan meraka semua dapat menyesuaikan
diri denga baik dalam lingkungan sosialnya.
4. Akseptasbilitas sosial, maskudnya individu-individu yang mengadakan
penyesuaian diri secara baik jika mereka dapat diterima oleh
masyarakat sosial secara luas. Mereka mempunyai hubungan-
hubungan dengann orang lain dengan lancar tanpa adanya hambatan.
Orang-orang dapat mematuhi semua norma sosial dan mengikuti nilai-
nilai yang hidup dimasyarakat. Tidak ada konflik-konflik sosial
maupun batin pada mereka.
2. Penyesuaian Diri sebagai Suatu Proses
Apabila penyesuain diri dipandang sebagai suatu proses maka
melibatkan manusia sepanjang hidupnya. Mulai sejak bayi, masa sekolah
hingga dewasa bahkan menginjak lanjut usia manusia tidak berhenti untuk
mengadakan penyesuaian diri.
Pada masa bayi dan kanak-kanak, proses penyesuaian diri tergantung
kepada orang lain, terutama orang tuanya. Baik atau buruknya proses
penyesuaian diri pada mereka sangar ditentukan oleh proses penyesuaian
diri yang baik dan tepat. Pemenuhan kebutuhan bayi dan anak mutlak
tergantung pada orang lain. Tetapi, secara gradul kebutuhan mereka itu
sesuai dengan umur mereka. Proses penyesuaian mereka hampir
seluruhnya tergantung pada lingkungan sekitar tempat mereka tinggal.
Menurut para ahli psikologi, perkembangan anak pada dasarnya bertumpu
pada tingkatan instingtif. Sedangkan proses penyesuaian diri ditentukan
dengan berbagai faktor, terutama kebutuhan internal dan tuntutan luar dari
anak.
Proses penyesuaian diri pada anak dari segi berbeda telah diteliti
oleh Jean Piaget (Prawira, 2016). Dalam penelitiannya, Piaget memakai
istilah akomodasi dan asimilasi untuk menampilkan penyesuaian diri dari

17
individu yang diteliti. Kedua istilah tersebut diterangkan oleh Piaget secara
jelas. Menurut Piaget, apabila sesorang telah melaksanakan nilai-nilainya
dan standar perilaku tanpa suatu perubahan orang tersebut dikatakan telah
malakukan proses asimilasi. Sedangkan orang yang mengambil standarnya
dari konteks sosial dan mengubah keyakinannya sesuai dengan perrubahan
nilai dalam masyarakat disebut dengan istilah akomodasi.
Menurut ahli psikologi untuk mencari cara penyesuaian diri pada
individu agar lebih efektif tidak semudah membalik telapak tangan.
Artinya maslah tersebut memang menjadi masalah yang sukar untuk
dijawab. Hal itu disebabkan oleh proses penyesuaian diri memerlukan
kepurtusan nilai relatif, sesuai dengan kemampuan individu dan budaya
masyarakat yang dihadapi.
3. Penyesuaian diri yang sehat
Mengacu pada beberapa konsep tentang sehatnya kepribadian
individu yang diajukan oleh beberapa ahli, seperti kepribadian normal oleh
Cole, kepribadian produktif oleh Fromm dan Gilmore, dan psiko-higiene
oleh Sikun Pribadi, maka secara garis besarnya penyesuaian diri yang
sehat dapat dilihat dari empat aspek kepribadian (Desmita, 2012), yaitu:
1. Kematangan emosional mencakup aspek-aspek:
a. Kematangan suasana kehidupan emosional.
b. Kematangan suasana kehidupan kebersamaan dengan orang lain.
c. Kemampuan untuk santai, gembira dan menyatakan kejengkelan.
d. Sikap dan perasaan terhadap kemampuan dan kenyataan diri
sendiri.
2. Kemampuan intelektual mencakup aspek-aspek:
a. Kemampuan mencapai wawasan diri sendiri.
b. Kemampuan memahami orang lain dan keragamannya.
c. Kemampuan mengambil keputusan.
d. Keterbukaan dalam mengenal lingkungan.
3. Kematangan sosial mencakup aspek-aspek:
a. Keterlibatan dalam partisipasi sosial.
b. Kesediaan kerja sama
c. Kemampuan kepemimpinan
d. Sikap toleransi
e. Keakraban dalam pergaulan.
4. Tanggung jawab mencakup aspek-aspek:
a. Sikap produktif dalam mengembangkan diri.
b. Melakukan perencanaan dan melaksanakannya secara fleksibel.
c. Sikap altruisme, empati, bersahabat dalam hubungan inter
personal.

18
d. Kesadaran akan etika dan hidup jujur.
e. Melihat perilaku dari segi konsekuensi atas dasar sistem nilai.
f. Kemampuan bertindak independen.
4. Penyesuaian Diri yang Buruk
Tidak semua individu dapat melakukan penyesuaian diri dengan
baik. Sebagian individu justru lebih mudah melakukan penyesuaian diri
yang buruk. Penyesuaian diri yang buruk dapat diklasifikasikan menajdi
tiga yaitu (Prawira, 2016):
1. Simpton jasmaniah, contohnya individu berbicara gagap, menggaruk
kepala, memeperlihatkan raut muka kejutan, menggerak-gerakan kaki,
suka berlaku ribut, muntah, sendawa dan lain-lain.
2. Penyimpangan tingkah laku pada individu contohnya individu bersikap
agresif, suka bohong, bersifat kleptokimia, hiperaktif, hipoaktif,
negatisme, dan mempunyai kelainan seksual.
3. Simpton emosional, contohnya individu selalu merasa gelisah, cemaas,
takut, pemalu, inferioritas, superioritas, frustasi, cemberut, benci,
lemah tidak bersemangat, sifat pemarah, konflik batin, dan sebagainya.

Penyesuaian diri yang buruk yang terjadi pada anak sekolah tidak
dapat dideteksi oleh guru dalam keseharian. Dibutuhkan keahlian khusu
untuk itu, sementara ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
mengatasi ini yaitu melalui observasi dan interview kepada murid ketika di
sekolah dan melakukan pengetesan psikologi pada pserta didik di sekolah.
Penyebab terjadinya penyesuaian diri yang buruk memiliki banyak
penyebab yang kompleks. Banyak faktor baik dari dalam diri individu
ataupun dari luar individu. Faktor-faktor yang kurang menguntungkan atau
negatif yang kemudia saling berinteraksi menjadi faktor pengjambat
penyesuaian individu.
Penyebab terjadinya penyesuaian diri yang buruk tersebut antara lain
(Prawira, 2016):
a) Kelainan cacat atau defeksi jasmani individu. Misalnya buta, tuli, bisa,
postur tubuh buruk dapat menimbulka banyak sikap dari orang lain
seperti mudah menghina, kurang perhatian, atau pun memberi
perhatian berlebih. Itu semua dapat menimbulakan penyesuaian diri
yamng buruk terhadap individu yang bersangkutan.

19
b) Keluarga yang rusak atau broken home juga dapat menyebabkan
penyesuaian diri yang buruk bagi individu. Misalnya orangtua cerai,
keluarga terpisah, orangtua banyak cekcok di rumah, pnya orang tua
tiri dan lain lain. Hal semacam itulah yang dapat meneybabkan frustasi
dan membuat penyesuaian diri menjadi buruk.
c) Mobilitas orang tua akan mempengaruhi anak-anak dalam melakukan
penyesuaian dirinya. Misalnya orangtua yang pindah kerjamaka
anggota keluarganya harus pandai menyesuaikan diri ditempat baru.
Biasanya anak menjadi karoban terutama pada prestasi belajar mereka.
Anak adopsi juga sering terjadi penyesuaian diri yang buruk pada
mereka ketika harus tahu bahwa ia bukan lah anak kandung dari
orangtuanya.
5. Penyesuaian Diri yang Buruk di Lingkungan Sekolah atau Kampus
Ahli pskologi mengemukakan kondisi sekolah atau kampus yang
tidak kondusif sehingga siswa atau mahasiswa mengadakan penyesuaian
diri yang buruk di antaranya yang dapat dikemukakan adalah iklim
sekolah atau kampus belum sosiabel. Iklim sekolah atau kampus dapat
menjadi penyebab terjadinya penyesuaian diri yang buruk bagi peserta
didiknya. Kenyataannya tidak semua sekolah atau kampus mampu
menciptakan kondisi yang sosiabel. Masih banyak ssekolah, kampus yang
belum menjamin peserta didik atau mahasiswa dapat berinteraksi dengan
baik. Selain itu terbentuknya kelompok-kelompok yang eksklusif dalam
kelas atau sekolah akan memperburuk suasana, jika demikian penyesuaian
diri yang buruk akan berpeluang besar terjadi (Prawira, 2016).
Kondisi seperti itu dapat terjadi karena adanya banyak faktor, lebih
parah lagi jika terjadi perkelahian di sekolah. Kejadian-kejadian
tersebutlah yang menjadi pertanda belum terjadi oeneysuaian diri yang
baik, dengan kata lain belum tercipta iklim yang baik dalam sekolah
tersebut. Masalah yang terjadi tersebut dapat diatasi dengan pelaksanaan
bimmbingan dan penyuluhan atau berbagai macam cara yang dapat
ditempuh untuk menciptakan iklim yang baik di sekolah.
Timbulnya penyimpangan perilaku peserta didik mahasiswa yang
tidak segera diatasi dapat disebabkan oleh guru,dosen, atau pegawai
sekolah yang kurang mengetahui kesehatan mental. Selain pengetahuan

20
mereka juga membutuhkan pelatuhan-pelatihan yang berhubungan dengan
hal tersebut (Prawira, 2016). Permasalahan penyesuaian diri yang buruk di
lingkungan sekolah tidak sesederhana yang dipikirkan apalagi jika jumlah
pseserta didik yang ada mencapai angka ribuan. Sehingga diperlukan kerja
keras untuk mengatasi hal tersebut.
Terjadinya ketimpangan-ketimpangan di sekolah juga dapat menjadi
penyebab terjadinya penyesuaian diri yang buruk di sekolah. Ketimpangan
tersebut adalah misalnya kurikulum yang tidak sempurna, fasilitas yang
tidak menunjang (Prawira, 2016). Kurikulum yang tidak sempurna
misalnya materi yang tidak menbantu untuk perkembangan kepribadian.
Fasilitas yang keberadaaanya dituntut diperlukan agar mencapai tempat
yang kondusif.

2.9 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri


Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri dari dilihat dari
konsep psikogenik dan sosiopsikogenik. Psikogenik memandang bahwa
penyesuaian diri dipengaruhi oleh riwayat kehidupan sosial individu, terutama
pengalaman khusus yang membentuk perkembangan psikologis. Pengalaman
khusus ini lebih banyak berkaitan dengan latar belakang kehidupan keluarga,
terutama menyangkut aspek-aspek (Desmita, 2012):
1. Hubungan orangtua anak, yang merujuk pada iklim hubungan sosial dalam
keluarga, apakah hubungan tersebut bersifat demokratis atau otoriter yang
mencakup:
a. Penerimaan penolakan orangtua terhadap anak.
b. Perlindungan dan kebebasan yang diberikan kepada anak.
c. Sikap dominatif-integratif (permisif atau sharing)
d. Pengembangan sikap mandiri-ketergantungan.
2. Iklim intelektual keluarga, yang merujuk pada sejauh mana iklim keluarga
memberikan kemudahan bagi perkembangan intelektual anak,
pengembangan berpikir logis atau irasional, yang mencakup:
a. Kesempatan untuk berdialog logis, tukar pendapat dan gagasan.
b. Kegemaran membaca dan minat kultural.
c. Pengembangan kemampuan memecahkan masalah.
d. Pengembangan hobi.
e. Perhatian orangtua terhadap kegiatan belajar anak.
3. Iklim emosional keluarga, yang merujuk pada sejauhmana stabilitas
hubungan dan komunikasi di dalam keluarga terjadi, yang mencakup
a. Intensitas kehadiran orangtua dalam keluarga.

21
b. Hubungan persaudaraan dalam keluarga.
c. Kehangatan hubungan ayah ibu.

Sementara itu dilihat dari konsep sosiopsikogenik, penyesuaian diri


dipengaruhi oleh faktor iklim lembaga sosial di mana individu terlibat di
dalamnya. Bagi peserta didik, faktor yang dominan memengaruhi penyesuaian
dirinya adalah sekolah, yang mencakup (Desmita, 2012):
1. Hubungan guru-siswa, yang menujuk pada iklim hubungan sosial dalam
sekolah, apakah hubungan tersebut bersifat demo atau otoriter, yang
mencakup:
a. Penerimaan penolakan guru terhadap siswa.
b. Sikap dominatif (otoriter, kaku, banyak tuntutan) atau integratif
(permisif, sharing, menghargai dan mengenal perbedaan individu).
c. Hubungan yang bebas ketegangan atau penuh ketegangan.
2. Iklim intelektual sekolah yang merujuk pada sejauh mana perlakuan guru
terhadap siswa dalam memberikan kemudahan bagi perkembangan
intelektual siswa sehingga tumbuh perasaan kompeten, yang mencakup:
a. Perhatian terhadap perbedaan individual siswa.
b. Intensitas tugas-tugas belajar.
c. Kecenderungan untuk mandiri atau berkonformitas pada siswa.
d. Sistem penilaian.
e. Kegiatan ekstrakurikuler
f. Pengembangan inisiatif siswa.

22
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kemandirian adalah perkembangan suatu individu menuju kebebasan
memilih dan menentukan sendiri sebagai usaha untuk menjadi individualitas
yang berdiri sendiri. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
kemandirian pada remaja, yaitu usia, jenis kelamin, konsep diri, pendidikan,
keluarga, dan interaksi sosial.
Sebagai suatu dimensi psikologis yang kompleks, kemandirian dalam
perkembangan memiliki tingkatan - tingkatan. Perkembangan kemandirian
seseorang berlangsung secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan
kemandirian tersebut. Pentingnya kemandirian bagi peserta didik, dapat dilihat
dari situasi kompleksitas kehidupan dewasa ini, yang secara langsung atau
tidak langsung memengaruhi kehidupan peserta didik.
Penyesuaian diri pada prinsipnya adalah suatu proses yang mencakup
respons mental dan tingkah laku, dengan mana individu berusaha untuk dapat
berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, konflik dan frustrasi
yang tuntutan sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara dari
dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan di mana ia tinggal.
Penyesuaian diri sebagia suatu hasil adalah mengkaji sejauh mana
individu-individu atau seorang dapat melaksanakan tugas-tugasnya dalam
lingkungan yang berbeda-beda.Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian
diri dari dilihat dari konsep psikogenik dan sosiopsikogenik.

3.2 Saran
Diharapkan guru dapat menanamkan sikap mandiri pada siswa dan dapat
membantu siswa untuk melakukan penyesuaian diri sesuai dengan
lingkungannya.

23
DAFTAR PUSTAKA

Chebretrina. 2013. “Pentingnya Kemandirian Belajar Bagi Peserta Didik”.


[Online].Tersedia:
(https://www.google.co.id/amp/s/chebretrina.wordpress.com/2013/01/19/p
entingnya-kemandirian-belajar-bagi-peserta-didik/amp/). Yang direkam
pada 19 Januari 2013 (diakses pada 2 Desember 2013).

Dara. 2016. “Bentuk-Bentuk Kemandirian”. [Online] Tersedia:


(http://daracempakadwipuspa.blogspot.co.id/2016/12/bentuk-bentuk-
kemandirian.html?m=1). Yang direkam pada 19 Desember 2016 (diakses
pada 2 Desember 2017).

Desmita. 2012. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya.

Erwitha. 2016. “Makalah kemandirian”. [Online]. Tersedia:


(http://erwitha.blogspot.co.id/2016/04/makalah-kemandirian.html?m=1).
Yang direkam pada 8 April 2016 (diakses pada 2 Desember 2017).

Sidjabat. 2012. Membesarkan Anak Dengan Kreatif. Yogyakarta: ANDI.

Prawira, Purwa Atmaja. 2016. Psikologi Pendidikan dalam Prespektif Baru.


Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

24