Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS INSTRUMENTAL

“KROMATOGRAFI GAS (GC)”

Disusun oleh :
Ramadhani Farras D.R (1731410143)
Siti Lailatul Khoiriyah (1731410008)
Vira Megantari (1731410039)
Shabilal Rosyad (1731410001)
Yuni Wulandari (1731410049)
Zumrotul Fahmia (1731410030)

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS INSTRUMENTAL

A. JUDUL PRAKTIKUM
Kromatografi Gas (GC)
B. TUJUAN PRAKTIKUM
Dapat memisahkan methanol, etanol, dan butanol dalam cuplikan (sampel)
dengan menggunakan kromatografi gas dengan detector FID
C. DASAR TEORI
Gas Chromatography (GC) adalah alat yang digunakan untuk
pemisahan suatu zat atau senyawa yang umumnya bersifat volatil.
Senyawa volatil merupakan senyawa yang mudah menguap pada suhu
kamar. Sampel yang dapat digunakan dalam GC ini ada dua wujud yaitu
cair dan gas. Prinsip kerja dari Gas Chromatography yaitu sampel yang
diinjeksikan ke dalam aliran fase gerak, kemudian akan dibawa oleh fase
gerak yang berupa gas inert ke dalam kolom untuk dilakukan pemisahan
komponen sampel berdasarkan kemampuannya interaksi diantara fase
gerak dan fase diam. Pemisahan tercapai dengan partisi sampel antara fase
gas bergerak dan fase diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak
mudah menguap) yang terikat pada zat dan penunjangnya (Khopkar 2007).
Fase Diam dan Fase Gerak pada Kromatografi Gas
a. Fase Diam
Pemilihan fasa diam juga harus disesuaikan dengan sampel yang akan
dipisahkan. Untuk sampel yang bersifat polar sebaiknya digunakan fasa
diam yang polar. Begitupun untuk sampel yang nonpolar, digunakan fasa
diam yang nonpolar agar pemisahan dapat berlangsung lebih sempurna.
Fase diam pada Kromatografi Gas biasanya berupa cairan yang disaputkan
pada bahan penyangga padat yang lembab, bukan senyawa padat yang
berfungsi sebagai permukaan yang menyerap (kromatografi gas-padat).
Sistem gas-padat telah dipakai secara luas dalam pemurnian gas dan
penghilangan asap, tetapi kurang kegunaannya dalam kromatografi.
Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah fase diam
yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir segala macam
campuran.
b. Fase Gerak
Disebut juga sebagai gas pembawa. Fungsi utamanya adalah untuk
membawa uap analit melalui system kromatografi tanpa berinteraksi
dengan komponenkomponen sampel. Adapun syarat-syarat fase gerak
pada kromatografi gas yaitu sebagai berikut :
- Tidak reaktif
- Murni (agar tidak mempengaruhi detector)
- Dapat disimpan dalam tangki tekanan tinggi.
- Biasanya mengandung gas helium, nitrogen, hydrogen, atau
campuran argon dan metana
Komponen-komponen Penyusun Kromatografi Gas
a. Gas Pembawa
Gas pembawa harus bersifat inert, artinya gas ini tidak bereaksi dengan
cuplikan ataupun fasa diamnya. Gas ini disimpan dalam gas bertekanan
tinggi sehingga gas ini akan mengalir cepat dengan sendirinya. Karena
aliran gas yang cepat inilah maka pemisahan dengan kromatografi gas
berlangsung hanya dalam beberapa menit saja. Gas pembawa yang
biasa digunakan adalah gas nitrogen.
b. Injektor
Injektor berada dalam oven yang temperaturnya dapat dikontrol. Suhu
injektor biasanya 15-200oC di atas titik didih cuplikan. Lubang injeksi
didesain untuk memasukkan sampel secara cepat dan efisien. Desain
yang populer terdiri atas saluran gelas yang kecil atau tabung logam
yang dilengkapi dengan septum karet pada satu ujung untuk
mengakomodasi injeksi dengan semprit (syringe). Karena helium (gas
pembawa) mengalir melalui tabung, sejumlah volume cairan yang
diinjeksikan (biasanya antara 0,1-3,0 μL) akan segera diuapkan untuk
selanjutnya di bawa menuju kolom. Berbagai macam ukuran semprit
saat ini tersedia di pasaran sehingga injeksi dapat berlangsung secara
mudah dan akurat. Septum karet, setelah dilakukan pemasukan sampel
secara berulang, dapat diganti dengan mudah.
c. Kolom
Kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahan karena di
dalamnya terdapat fase diam. Oleh karena itu, kolom merupakan
komponen sentral pada GC. Ada 3 jenis kolom pada GC yaitu kolom
kemas (packing column) dan kolom kapiler (capillary column); dan
kolom preparative (preparative column).
d. Termostat (oven)
Termostat (oven) adalah tempat penyimpanan kolom. Suhu kolom
harus dikontrol.
e. Detektor
Detektor adalah komponen yang ditempatkan pada ujung kolom GC
yang menganalisis aliran gas yang keluar dan memberikan data kepada
perekam data yang menyajikan hasil kromatogram secara grafik.
f. Rekorder
Rekorder berfungsi sebagai pencetak hasil percobaan pada lembaran
kertas berupa kumpulan puncak yang disebut kromatogram.

D. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
 1 set peralatan GC
 Alat injeksi
2. Bahan
 Sampel C8
 Sampel C10
 Sampel C12
 Sampel C14
 Sampel campuran antara C8, C10, C12, dan C14

E. SKEMA KERJA

Menghidupkan GC
( Menekan tombol on/ off )

Menekan tombol det A


“off”

Mengatur gas pembawa dengan


kecepatan 30 ml/menit
Menekan inj A
Menekan det A temp temp “150
Mengatur suhu injector dan
“150 “ kemudian ”kemudian
suhu detector FID
“enter” “ enter “

Pengaturan gas pembakar


udara tekan dan hidrogen

Pengecekan nyala

Tunggu sampai
Tekan oven temp “ 150 Pengaturan suhu oven warna lampu
“ kemudian “enter” hijau ( ready )

Pengaturan PC
Menyuntikkan
sampel pada alat,
bersamaan tekan Penyuntikkan sampel
“ start run” di PC

Grafik akan muncul di PC dan tunggu


hingga 15 menit

Ulangi langkah diatas dengan oven


temp “ 175,220,dan 225”
F. DATA PENGAMATAN

Sampel dengan suhu 175oC

G. PEMBAHASAN
RAMADHANI FARRAS D.R

Pada praktikum kali ini kami membahas tentang kromatografi gas. Pada
praktikum ini terdapat 4 larutan yaitu C8, C10, C12, C14 dan 1 sampel yang berisi
campuran keempat larutan tersebut. Sebelum menginjeksikan sampel, kami
mengatur temperatur oven pada suhu 150oC, 175oC, 200oC, 225oC untuk satu
sampel yang berisi campuran keempat laturan tersebut.

Pada grafik pertama yaitu pada sampel dengan temperatur 150oC dapat
dilihat bahwa terdapat 4 peak, dimana peak tersebut menunjukkan masing-masing
larutan. Peak nomor 1, 2, 3, dan 4 didapatkan waktu retensi secara berurutan
masing masing 2 menit 35 detik, 3 menit 5 detik, 4 menit 98 detik, dan 9 menit 98
detik.

Pada grafik yang ke 2 pada sampel dengan temperatur 175oC dapat dilihat
bahwa terdapat 4 peak, dimana peak tersebut menunjukkan masing masing
larutan. Peak nomor 1, 2, 3, dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan
masing masing 2 menit 13 detik, 2 menit 48 detik, 3 menit 35 detik, dan 5 menit
36 detik.

Grafik yang ketiga pada sampel dengan temperatur 200 oC dapat dilihat
bahwa terdapat 4 peak, dimana peak tersebut menunjukkan masing masing
larutan. Peak nomor 1,2,3, dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan
masing masing 1 menit 76 detik, 2 menit 25 detik, 2 menit 66 detik, dan 3 menit
58 detik.

Grafik nomor 4 pada sampel dengan temperatur 225 oC dapat dilihat


bahwa terdapat 4 peak, dimana peak tersebut menunjukkan masing masing
larutan. Peak nomor 1,2,3, dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan
masing masing 55 detik, 2 menit 08 detik, 2 menit 31 detik, dan 2 menit 76 detik.

Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi temperatur oven maka waktu


retensi akan semakin cepat. Hal ini sesuai dengan teori yang ada yaitu setiap
senyawa memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk senyawa tertentu, waktu
retensinya sangat bervariasi dan bergantung pada :

1. Titik didih senyawa


Senyawa yang mendidih pada temperatur yang lebih tinggi daripada
temperatur kolom, akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk
berkondensasi sebagai cairan pada awal kolom. Dengan demikian, titik
didih yang tinggi akan memiliki waktu retensi yang lama.
2. Kelarutan dalam fase cair
Senyawa yang lebih mudah larut dalam fase cair, akan mempunyai waktu
lebih singkat untuk dibawa oleh gas pembawa. Kelarutan yang tinggi
dalam fase cair berarti memiiki waktu retensi yang lama.
3. Temperatur kolom
Temperatur tinggi menyebakan pergerakan molekul-molekul dalam fase
gas, baik karena molekul-molekul lebih mudah menguap, atau karena
energi atraksi yang tinggi cairan dan oleh karena itu tidak lama
tertambatkan. Temperatur kolom yang tinggi mempersingkat waktu retensi
untuk segala sesuatunya di dalam kolom. (Sastrohamidjojo,1985)

Pada temperatur oven 150oC jarak antara peak 1 dengan peak lainnya
sudah tepat. Pada temperatur oven 175oC jarak antara peak 1 dengan yang lainnya
dekat. Kemudian pada temperatur oven 200oC jarak antara peak 1 dengan peak 2
sangat dekat sehingga temperatur tersebut tidak tepat digunakan untuk keempat
larutan. Kemudian yang terakhir pada temperatur 225oC jarak antara peak 1
dengan peak 2 sangatlah dekat sehingga menumpuk dan peak 1 tidak mencapai
base line maka temperatur tersebut tidak cocok digunakan untuk keempat larutan.
Berdasarkan pengujian suhu sampel didapatkan bahwa suhu 150oC adalah suhu
yang tepat untuk keempat larutan.

Kemudian kami menginjeksikan satu jenis larutan diantara keempat


larutan yang ada, kami menggunakan larutan C8. karena larutan C8 masuk dalam
rentang waktu suhu yang sudah kami pilih dan suhu tersebut yang paling baik
diantara keempat suhu yang kami coba. Suhu yang paling tepat adalah suhu
150oC, pada grafik yang menggunakan suhu150oC dan larutan C8 didapatkan satu
buah peak dengan waktu retensi 2 menit 4 detik.

SITI LAILATUL KHOIRIYAH


Pada praktikum kali ini kami membahas tentang kromatografi gas. Pada
praktikum ini terdapat 4 jenis larutan yaitu C8,C10,C12,C14 dan 1 sampel yang
berisi campuran keempat jenis larutan tersebut. Sebelum menginjeksikan sampel,
kami mengatur temperatur oven pada suhu 150oC, 175oC, 200oC, 225oC. Tujuan
dari pengaturan temperatur oven ini untuk mengetahui temperatur yang tepat dan
sesuai dari keempat jenis larutan tersebut.

Pada grafik 1 yaitu pada sampel dengan temperatur 150oC dapat dilihat
bahwa terdapat 4 peak, dimana peak tersebut menunjukkan jenis masing masing
larutan. Peak nomor 1, 2, 3, dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan
yaitu pada peak 1 menunjukkan waktu retensi 2 menit 35 detik, pada peak 2
menunjukkan waktu retensi 3 menit 5 detik, pada peak 3 menunjukkan waktu
retensi 4 menit 98 detik, dan pada peak 4 menunjukkan waktu retensi 9 menit 98
detik. Grafik nomor 2 pada sampel dengan temperatur 175oC dapat dilihat bahwa
terdapat 4 peak, dimana peak tersebut menunjukkan jenis masing masing larutan.
Peak nomor 1,2,3, dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan yaitu pada
peak 1 menunjukkan waktu retensi 2 menit 13 detik, pada peak 2 menunjukkan
waktu retensi 2 menit 48 detik, pada peak 3 menunjukkan waktu retensi 3 menit
35 detik, dan pada peak 4 menunjukkan waktu retensi 5 menit 36 detik. Grafik
nomor 3 pada sampel dengan temperatur 200 oC dapat dilihat bahwa terdapat 4
peak, dimana peak tersebut menunjukkan jenis masing masing larutan. Peak
nomor 1,2,3, dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan yaitu pada peak 1
menunjukkan waktu retensi 1 menit 76 detik, pada peak 2 menunjukkan waktu
retensi 2 menit 25 detik, pada peak 3 menunjukkan waktu retensi 2 menit 66 detik,
dan pada peak 4 menunjukkan waktu retensi 3 menit 58 detik. Grafik nomor 4
pada sampel dengan temperatur 225 oC dapat dilihat bahwa terdapat 4 peak,
dimana peak tersebut menunjukkan jenis masing masing larutan. Peak nomor
1,2,3, dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan yaitu pada peak 1
menunjukkan waktu retensi 55 detik, pada peak 2 menunjukkan waktu retensi 2
menit 08 detik, pada peak 3 menunjukkan waktu retensi 2 menit 31 detik, dan
pada peak 4 menunjukkan waktu retensi 2 menit 76 detik.
Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi temperatur oven maka waktu
retensi akan semakin cepat. Hal ini sudah sesuai dengan teori yaitu setiap senyawa
memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk senyawa tertentu, waktu retensinya
sangat bervariasi dan bergantung pada :

1. Titik didih senyawa


Senyawa yang mendidih pada temperatur yang lebih tinggi daripada
temperatur kolom, akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk
berkondensasi sebagai cairan pada awal kolom. Dengan demikian, titik
didih yang tinggi akan memiliki waktu retensi yang lama.
2. Kelarutan dalam fase cair
Senyawa yang lebih mudah larut dalam fase cair, akan mempunyai waktu
lebih singkat untuk dibawa oleh gas pembawa.. Kelarutan yang tinggi
dalam fase cair berarti memiiki waktu retensi yang lama.
3. Temperatur kolom
Temperatur tinggi menyebakan pergerakan molekul-molekul dalam fase
gas, baik karena molekul-molekul lebih mudah menguap, atau karena
energi atraksi yang tinggi cairan dan oleh karena itu tidak lama
tertambatkan. Temperatur kolom yang tinggi mempersingkat waktu
retensi untuk segala sesuatunya di dalam kolom. (Sastrohamidjojo,1985)

Pada temperatur oven 150oC jarak antara peak 1 dengan peak lainnya
sudah tepat karena setiap peak memiliki waktu retensi sendiri-sendiri. Pada
temperatur oven 175oC jarak antara peak 1 dengan yang lainnya dekat. Kemudian
pada temperatur oven 200oC jarak antara peak 1 dengan peak 2 sangat dekat
sehingga temperatur tersebut tidak tepat digunakan untuk keempat larutan.
Kemudian yang terakhir pada temperatur 225oC jarak antara peak 1 dengan peak 2
sangatlah dekat bahkan peak tersebut menumpuk dan peak 1 tidak mencapai base
line maka temperatur tersebut tidak cocok digunakan untuk keempat larutan.
Berdasarkan pengujian suhu sampel didapatkan bahwa suhu 150oC adalah suhu
yang tepat untuk keempat larutan.

Kemudian kami menginjeksikan satu jenis larutan diantara keempat


larutan yang ada dan diharapkan hanya terdapat satu jenis peak, kami
menggunakan larutan C8 karena larutan C8 masuk dalam rentang waktu suhu
yang sudah kami pilih dan suhu tersebut yang paling baik diantara keempat suhu
yang kami ujikan. Suhu yang paling tepat adalah pada suhu 150 oC, pada grafik
yang menggunakan suhu 150oC dan larutan C8 didapatkan satu buah peak dengan
waktu retensi 2 menit 4 detik. Hal ini sudah sesuai dengan harapan yaitu terdapat
satu buah peak saja dalam satu suhu tersebut.

VIRA MEGANTARI

Pada percobaan GC ini, sampel campuran digunakan untuk mengetahui


berapa suhu yang tepat untuk pengamatan. Yaitu dengan cara menghidupkan GC,
setelah itu meng-off kan detector A dan B, lalu mengatur pembawa gas dengan
kecepatan 30 ml/min, kemudian mengatur suhu injector dan suhu detector FID,
setelah itu mengatur gas pembakar udara tekan dan hydrogen, lalu pengecekan
nyala, mengatur PC, dan menyuntikkan sampel kedalam injector port, suhu
terprogram, terakhir adalah mengakhiri proses GC. Menurut data yang kami
peroleh, suhu 150oC merupkan suhu yang ideal untuk pengamatan, dan didapat
hasil sebagai berikut : peak pertama dengan waktu retensi 2.350 min dan 2.54%
area, peak kedua 3.050 min dan 17.56% area, peak ketiga 4.983 min dan 42.70%
area, dan peak keempat 9.983 min dan 36.68% area

Selanjutnya, kami melakukan analisa kuantitatif terhadap salah satu dari


keempat senyawa pada suhu 1500C. Kelompok kami memilih larutan C8 untuk
dijadikan standar. Dari percobaan ini seharusnya pada kromatogram hanya
terdapat satu peak. Akan tetapi kromatogram hasil percobaan kami menunjukkan
lima peak. Dimana waktu retensi untuk peak pertama yaitu 2.338 min dan 37.31%
area, peak kedua 2.407 min dan 62.49% area, peak ketiga 4.704 min dan 0.03%
area, peak keempat 9.559 min dan 0.1% area, dan peak kelima memiliki waktu
retensi 9.883 min dan 0.07% area. Hal ini berarti terdapat lima komponen yang
terdeteksi. Kesalahan dapat terjadi karena sampel pada percobaan sebelumnya
masih tersisa di dalam kolom sehingga mempengaruhi hasil pemisahan. Dengan
membandingkan hasil analisa kualitatif dan kuantitatif , terdapat kesamaan waktu
retensi yaitu pada menit ke 2.34 dan 2.35. Dapat disimpulkan bahwa waktu retensi
tersebut merupakan waktu retensi dari C8. Dari percobaan ini, dapat diketahui
bahwa sampel C8 memiliki titik didih paling rendah diantara keempat sampel
lainnya. Karena pada kromatogram, komponen yang pertama muncul adalah zat
yang paling volatile (mudah menguap).

SHABILAL ROSYAD

Pada percobaan kali ini akan dilakukan pemisahan komponen larutan.


pada percobaan pertama yang di praktikan adalah menggunakan sampel 1 dimana
sampel tersebut ada empat macam larutan. Untuk sampel pertama ini
menggunakan suhu 150oC . Pada gambar tersebut dapat dilihat ada kromatogram
sederhana yang memiliki 4 puncak. Dan untuk keempat puncak tersebut cukup
baik karena terpisah-pisah sehingga dapat dibaca.

Untuk percobaan kedua menggunakan sampel 2 dimana sampel tersebut


ada empat macam larutan juga. Untuk sampel kedua ini menggunakan suhu
175oC. Pada gambar tersebut dapat dilihat sebuah kromatogram sederhana yang
memiliki 4 puncak. Untuk semua pucak tersebut termasuk cukup baik karena
pucak nya terpisah tidak gabung menjadi satu.

Untuk percobaan ketiga menggunakan sampel 3 dimana sampel tersebut


ada empat macam larutan juga. Usampel kedua ini menggunakan suhu 200oC.
Pada gambar tersebut dapat dilihat sebuah kromatogram sederhana yang memiliki
4 puncak. Untuk semua puncak kali ini termasuk kurang baik karena ada puncak
yang bergabung dengan puncak lainya.

Untuk percobaan keempat menggunakan sampel 4 dimana sampel


tersebut ada empat macam larutan juga, untuk sampel kedua ini menggunakan
suhu 225oC . Pada gambar tersebut dapat dilihat sebuah kromatogramm sederhana
yang memiliki 4 puncak. Untuk semua pucak tersebut termasuk kurang baik
karena jarak antar puncak terlalu dekat. Dari hasil percobaan ini diperoleh suhu
150 C yang digunakan sebagai dasar analisa kuantitatif.

Untuk percobaan terakhir ini , menggukan sampel asli tanpa ada campuran
yaitu sampel C8 pada suhu 150 C dimana pada suhu itu bisa mendekteksi semua
larutan itu dengan baik. Selain berdasarkan analisis dari luas area puncak, hasil
analisis juga didasarkan pada interaksi antara komponen yang ada dalam larutan
standar dengan fasa gerak dan fasa diam. Interaksi komponen-komponen tersebut
antara lain dipengaruhi oleh perbedaan kepolaran, berat molekul dan titik didih.
Untuk C8 sendiri memiliki titik didih yang paling rendah dibandingkan tiga
sampel yang lain sehingga C8 lebih dulu berubah menjadi gas lalu terbawa oleh
gas pembawa dan keluar kolom terlebih dahulu. Jadi kemungkinan untuk setiap
puncak yang keluar terlebih dahulu atau puncak nomor 1 adalah C8. Hal ini
dikarenakan komponen dengan titik didih paling rendah akan terlebih dahulu
menguap seiring dengan pertambahan suhu kolom.

YUNI WULANDARI

Pada praktikum kali ini kami membahas tentang kromatografi gas. Pada
praktikum ini terdapat 4 larutan yaitu C8,C10,C12,C14 dan 1 sampel yang berisi
campuran keempat larutan tersebut. Sebelum menginjeksikan sampel, kami
mengatur temperatur oven pada suhu 150oC, 175oC, 200oC, 225oC. Tujuan dari
pengaturan temperatur oven ini untuk mengetahui temperatur yang tepat dari
keempat larutan.

Pada grafik 1 yaitu pada sampel dengan temperatur 150oC dapat dilihat
bahwa terdapat 4 peak, dimana peak tersebut menunjukkan masing masing
larutan. Peak nomor 1,2,3,dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan
masing masing 2 menit 46 detik, 3 menit 21 detik, 5 menit 26 detik, dan 10 menit
46 detik. Grafik nomor 2 pada sampel dengan temperatur 175oC dapat dilihat
bahwa terdapat 4 peak, dimana peak tersebut menunjukkan masing masing
larutan. Peak nomor 1,2,3, dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan
masing masing 2 menit 29 detik, 2 menit 67 detik, 3 menit 58 detik, dan 5 menit
70 detik. Grafik nomor 3 pada sampel dengan temperatur 200 oC dapat dilihat
bahwa terdapat 4 peak, dimana peak tersebut menunjukkan masing masing
larutan. Peak nomor 1,2,3, dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan
masing masing 2 menit 15 detik, 2 menit 36 detik, 2 menit 80 detik, dan 3 menit
73 detik. Grafik nomor 4 pada sampel dengan temperatur 225 oC dapat dilihat
bahwa terdapat 4 peak, dimana peak tersebut menunjukkan masing masing
larutan. Peak nomor 1,2,3, dan 4 menunjukkan waktu retensi secara berurutan
masing masing 2 menit 5 detik, 2 menit 18 detik, 2 menit 43 detik, dan 2 menit 91
detik.

Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi temperatur oven maka waktu


retensi akan semakin cepat. Hal ini sudah sesuai dengan teori yaitu setiap senyawa
memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk senyawa tertentu, waktu retensinya
sangat bervariasi dan bergantung pada :

1. Titik didih senyawa


Senyawa yang mendidih pada temperatur yang lebih tinggi daripada
temperatur kolom, akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk
berkondensasi sebagai cairan pada awal kolom. Dengan demikian, titik
didih yang tinggi akan memiliki waktu retensi yang lama.
2. Kelarutan dalam fase cair
Senyawa yang lebih mudah larut dalam fase cair, akan mempunyai
waktu lebih singkat untuk dibawa oleh gas pembawa.. Kelarutan yang
tinggi dalam fase cair berarti memiiki waktu retensi yang lama.
3. Temperatur kolom
Temperatur tinggi menyebakan pergerakan molekul-molekul dalam
fase gas, baik karena molekul-molekul lebih mudah menguap, atau
karena energi atraksi yang tinggi cairan dan oleh karena itu tidak lama
tertambatkan. Temperatur kolom yang tinggi mempersingkat waktu
retensi untuk segala sesuatunya di dalam kolom.
(Sastrohamidjojo,1985)
Pada temperatur oven 150oC jarak antara peak 1 dengan peak lainnya
sudah tepat. Pada temperatur oven 175oC jarak antara peak 1 dengan yang lainnya
dekat. Kemudian pada temperatur oven 200oC jarak antara peak 1 dengan peak 2
sangat dekat sehingga temperatur tersebut tidak tepat digunakan untuk keempat
larutan. Kemudian yang terakhir pada temperatur 225oC jarak antara peak 1
dengan peak 2 sangatlah dekat sehingga menumpuk dan peak 1 tidak mencapai
base line maka temperatur tersebut tidak cocok digunakan untuk keempat larutan.
Berdasarkan pengujian suhu sampel didapatkan bahwa suhu 150oC adalah suhu
yang tepat untuk keempat larutan.
Kemudian kami menginjeksikan masing masing larutan pada temperatur
oven 150oC. Pada grafik 5 yaitu C8, didapatkan satu buah peak dengan waktu
retensi 2 menit 39 detik. Hal ini berarti pada grafik 1 peak nomor 1 dengan waktu
retensi 2 menit 46 detik adalah larutan C8. Selanjutnya grafik 6 yaitu C10,
didapatkan satu buah peak dengan waktu retensi 3 menit 33 detik. Hal ini berarti
pada grafik 1 peak nomor 2 dengan waktu retensi 3 menit 21 detik adalah larutan
C10. Setelah itu grafik 7yaitu C12, didapatkan satu buah peak dengan waktu
retensi 5 menit 58 detik. Hal ini berarti pada grafik 1 peak nomor 3dengan waktu
retensi 5 menit 26 detik adalah larutan C12. Selanjutnya yang terakhir grafik 8
yaitu C14, didapatkan satu buah peak dengan waktu retensi 10 menit 70 detik. Hal
ini berarti pada grafik 1peak nomor 4 dengan waktu retensi 10 menit 46 detik
adalah larutan C14.

ZUMROTUL FAHMIA

Dalam kromatografi gas, fase geraknya adalah gas dan zat terlarutnya yang
terpisah sebagai uap. Pada praktikum ini dilakukan pemisahan dari suatu sampel
yang merupakan campuran dari 4 larutan yaitu C8 C10 C12 dan C14 Dari sampel
tersebut dilakukan pemisahan saat temperaturnya 150°C, 175°C, 200°C dan
225°C. Digunakan temperatur yang tinggi agar cairan yang diinjeksikan berubah
menjadi uap.Gas pembawa yang digunakan adalah nitrogen. Gas pembawa
mengalir dengan cepat, oleh karena itu proses pemisahan hanya membutuhkan
waktu beberapa menit saja. Ini merupakan keuntungan pemisahan dengan
menggunakan GC.
Semakin polar suatu komponen maka komponen tersebut akan keluar terlebih
dahulu pada percobaan ini..Grafik pada suhu 150ºC zat-zat organik sudah
memisah secara sempurna, zat organik yang keluar atau terdeteksi pertama kali
adalah C8 dengan waktu retensi 2,35 menit dengan luas area sebesar 2,54%. Zat
kedua yang mucul adalah C10 dengan waktu retensi 3,05 menit dan luas area
17,56%. Zat ke-3 yang mucul adalah C12 , dengan waktu retensi 4,98 menit dan
luas area 42,70%. Zat yang terakhir muncul adalah C14 , dengan waktu retensi
9,98 menit dan luas area 64,9 %. Rata- rata selisih waktu retensi sebesar 5,09
menit
Grafik zat organik pada suhu 175ºC grafik kandungan zat organik di dalam
sampel sudah terlihat mulai memisah tetapi pemisahannya belum cukup
sempurna, zat organik yang keluar atau terdeteksi pertama kali adalah C8 dengan
waktu retensi 2,13 menit dengan luas area sebesar 6,41%. Zat kedua yang mucul
adalah C10 dengan waktu retensi 2,37 menit dan luas area 1,13 %. Zat ke-3 yang
mucul adalah C12 , dengan waktu retensi 3,35 menit dan luas area 37,44 %. Zat
yang terakhir muncul adalah C14 , dengan waktu retensi 5,36 menit dan luas area
30,5 %. Rata- rata selisih waktu retensi sebesar 4 menit
Grafik zat organik pada suhu 200ºC masih terlihat sulit memisah karena pada
suhu tinggi zat yang terkandung dalam sampel akan semakin cepat untuk keluar
dan memiliki energi kinetik yang lebih besar, zat organik yang keluar atau
terdeteksi pertama kali adalah C8 dengan waktu retensi 1,767 menit dengan luas
area sebesar 5,33%. Zat kedua yang mucul adalah C10 dengan waktu retensi 2,25
menit dan luas area 15,57 %. Zat ke-3 yang mucul adalah C12 , dengan waktu
retensi 2,683 menit dan luas area 39,74 %. Zat yang terakhir muncul adalah C14 ,
dengan waktu retensi 3,58 menit dan luas area 31,13 %. Rata- rata selisih waktu
retensi sebesar 2,57menit
Grafik kandungan zat organik pada suhu 225ºC sudah memisah namun
jaraknya atau waktu retesinnya kecil, zat organik yang keluar atau terdeteksi
pertama kali adalah C8 dengan waktu retensi 1,968 menit dengan luas area
sebesar 1,25%. Zat kedua yang mucul adalah C10 dengan waktu retensi 2,083
menit dan luas area 15,07 %. Zat ke-3 yang mucul adalah C12 , dengan waktu
retensi 2,317 menit dan luas area 40,17 %. Zat yang terakhir muncul adalah C14 ,
dengan waktu retensi 2,767 menit dan luas area 34,19 %. Rata- rata selisih waktu
retensi sebesar 2,283 menit
Jika dibandingkan dari data yang ada terlihat bahwa dengan termperate 150ºC
memiliki waktu retensi yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan
temperatur yang lain, dimana dapat disimpulkan bahwa pada temperatur ini
merupakan suhu optimum yang digunakan untuk memisahkan zat-zat organik
yang terkandung dalam pemisahan karbon dengan nomor atom yang berbeda
karena pada suhu ini energi kinetik yang dimiliki oleh masing-masing zat organik
cenderung menurun dibandingkan dengan pada suhu 225℃ sehingga zat-zat
tersebut cenderung lebih lama untuk keluar dengan memperhatikan urutan
kepolaran dari masing-masing zat tersebut.
Pada temperatur 225℃ ini waktu retensi yang dimiliki oleh masing-masing
zat organik masih memiliki selisih yang sangat kecil hal ini diakibatkan oleh
tingginya suhu sehingga energi kinetik yang dimiliki oleh masing-masing zat
tersebut tinggi sehingga zat-zat tersebut cenderung keluar dari kolom lebih cepat.
Kami juga melakukan percobaan untuk menganalisis grafik C8, dengan
tujuan membuktikan apakah asumsi untuk tiap peak benar ataukah salah. Kami
membandingkan hasil grafik tiap zat organk tersebut dengan grafik sampel dengan
suhu 150ºC, mencirikannya dengan waktu yang butuhkan zat tersebut untuk
penguap. Hasil yang kami dapatkan dengan menginjeksikan zat organik C8 murni
kedalam Kromatografi Gas terlihat C8 membutuhkan waktu 2,338dan luas area
37,31%

H. KESIMPULAN
1. Kromatografi gas (KG) merupakan jenis kromatografi yang umum
digunakan dalam analisis kimia untuk pemisahan dan analisis senyawa
yang dapat menguap tanpa mengalami dekomposisi.
2. Pada hasil pengamatan menggunakan suhu oven 150°C dapat diketahui
bahwa C8 muncul terlebih dahulu karena titik didihnya yang rendah
sehingga lebih mudah menguap diikuti oleh C10, C12 , dan titik didih
tertinggi yaitu C14.

I. DAFTAR PUSTAKA
Adnan, Mochamad.1997. Teknik kromatografi Gas. Yogyakarta : Andi
offset

Gritter. 1991. Pengantar Kromatografi.Bandung : Penerbit ITB

Khopkar, S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press

Mulja, Dr.H. 1995. Analisis instrumental. Surabaya : Airlangga university


Press