Anda di halaman 1dari 11

Efisiensi Peningkatan Daya Saing dari Intelektual Muda MIPA

dengan Program Kreativitas Mahasiswa sebagai Ajang Penyaluran


Kreasi dan Inovasi dalam Berkarya

Pendahuluan

a. Latar Belakang

Kemampuan berpikir dan bertindak kreatif pada hakekatnya dapat

dilakukan setiap manusia apalagi yang menikmati pendidikan tinggi khususnya

intelektual muda MIPA. Kreativitas merupakan penjelmaan integratif dari tiga

faktor utama dalam diri manusia, yaitu: pikiran, perasaan, dan keterampilan.

Dalam faktor pikiran terdapat imajinasi, persepsi dan nalar. Faktor perasaan terdiri

dari emosi, estetika dan harmonisasi. Sedangkan faktor keterampilan mengandung

bakat, dan pengalaman. Dengan demikian, agar intelektual muda MIPA dapat

mencapai level kreatif, ketiga faktor termaksud diupayakan agar optimal dalam

sebuah kegiatan yang diberi nama Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). PKM

merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Ditlitabmas Ditjen Dikti

untuk meningkatkan mutu peserta didik (mahasiswa) di Perguruan Tinggi agar

kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis

dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan

meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta memperkaya

budaya nasional. PKM dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001, yaitu
setelah dilaksanakannya program restrukturisasi di lingkungan Ditjen Dikti.

Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang

selama ini sarat dengan partisipasi aktif mahasiswa, diintegrasikan kedalam

satu wahana,yaitu PKM.

b. Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara pengefisiensian dalam meningkatkan daya saing

intelektual muda MIPA melalui PKM ?

2. Bagaimana program kreativitas mahasiswa dapat dijadikan ajang penyalur

inovasi dan kreasi dalam berkarya ?

c. Tujuan

1. Mengetahui cara pengefisiensian dalam meningkatkan daya saing

intelektual muda MIPA melalui program kreativitas mahasiswa.

2. Mengetahui program kreativitas mahasiswa dapat dijadikan ajang penyalur

inovasi dan kreasi dalam berkarya.


Kerangka Teori

Kerangka teori dalam penelitian ini menjelaskan pengertian PKM

sebagai efisiensi peningkatan daya saing intelektual muda yang diartikan sebagai

Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Dikti guna memberi ruang

untuk para Mahasiswa menunjukkan kreativitas, inovasi dan efisiensi daya saing

intelektual muda. PKM merupakan salah satu bentuk upaya yang dilakukan Direktorat

Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Ditjen Dikti dalam

meningkatkan kualitas peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat

menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan atau profesional

yang dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan,

teknologi dan atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. PKM dikembangkan

untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi

berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi. Dalam

rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan serta

berjiwa mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan

kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, membangun kerjasama tim maupun

mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang

ditekuni.
Pembahasan

a. Cara pengefisiensian dalam meningkatkan daya saing intelektual muda

MIPA melalui PKM

Di tengah krisis multidimensi yang melanda bangsa indonesia, peran

mahasiswa diharapkan dapat memberikan khas yang berbeda. Salah satunya

dengan menulis karya tulis ilmiah. Menurut pemaparan Ronny Rachman

Noor, Ketua Dewan Juri PKM dan Pimnas tahun 2011, selama dua tahun

terakhir, jumlah proposal PKM yang masuk ke DIKTI meningkat pesat hingga

mencapai sekitar 23.000 buah proposal. Namun terbatasnya dana yang

disediakan DIKTI tentunya membuat seleksi yang ketat harus dilakukan,

sehingga, tiap tahunnya hanya ada sekitar 5000 proposal yang dibiayai oleh

DIKTI.

1. Sosialisasi dan Fasilitasi Persiapan PKM

Sosialisasi dan fasilitasi, persiapan ini sangat penting

dilakukan oleh kampus. Di tahap inilah kampus bisa

memaksimalkan upaya agar banyak mahasiswa mengirim

proposal PKM. Dimulai dari sosialisasi yang menyeluruh dari

DIKTI ke seluruh kampus di Indonesia, dilanjutkan dengan

sosialisasi menyeluruh di internal kampus, dari rektorat

memberikan edaran ke dekanat dan tiap jurusan atau prodi, hal ini
bisa dibantu oleh Unit Kegiatan Mahasiswa

yang concern terhadap dunia penelitian seperti halnya LEPPIM

(Lembaga Penelitian dan Pengkajian Intelektual Mahasiswa) yang

rutin membuat spanduk, baligho, selebaran, juga menyebarkan

informasi melalui facebook. Namun, sosialisasi saja tidak cukup

karena itu kampus perlu menyediakan fasilitas untuk

mempersiapkan pembuatan proposal PKM, misalkan mengadakan

pelatihan, workshop atau lokakarya tentang tips-trik sukses PKM

kepada intelektual muda MIPA. Kemudian, perlu ada dorongan

secara top down(rektorat/dekanat) dan bottom

up (mahasiswa/lembaga penalaran mahasiswa) untuk sosialisasi

dan fasilitasi PKM.

Sosialisasi dan fasilitasi ini bisa dikemas dalam sebuah

gerakan untuk menyemangati mahasiswa terutama intelektual

muda MIPA agar berpartisipasi mengirim proposal PKM. Agar

menghasilkan proposal yang berkualitas, fasilitasi tidak cukup

sebatas pelatihan tapi juga perlu pendampingan selama proses

pembuatan proposal. Beberapa kampus sudah ada yang

memasukkan proses ini ke dalam rangkaian penyambutan dan

orientasi mahasiswa baru. Membuat proposal PKM dimasukkan


sebagai tugas kelompok dalam proses orientasi tersebut. Tentunya

dengan didampingi mentor, agar prosesnya terarah.

2. Pendampingan Monitoring dan Evaluasi

Setelah proposal disetujui (lolos seleksi), sama halnya

seperti persiapan, pihak rektorat/dekanat dan mahasiswa perlu

memfasilitasi monitoring dan evaluasi. Menurut Robi Awaluddin,

perlu diadakan karantina khusus bagi mahasiswa yang karyanya

lolos ke Pimnas, agar bisa fokus dan mempersiapkan yang terbaik

untuk hasilnya.

3. Insentif dan Follow Up

Kedua hal ini bisa menjadi faktor yang menarik

mahasiswa untuk berpartisipasi dalam PKM. Insentif, dalam

bentuk yang sederhana bisa berupa dana untuk mengganti biaya

pembuatan proposal. Bahkan bisa jadi bentuknya adalah

tambahan nilai atau kredit tersendiri dalam catatan akademik

mahasiswa. Follow up juga tidak kalah pentingnya, karena akan

menambah semangat mahasiswa bila karyanya dihargai. Selama

ini sudah banyak sekali karya PKM terkumpul, sayangnya banyak

masyarakat tidak mengetahuinya. Karya yang benar-benar

inovatif mungkin bisa mendapat hak paten, tapi belum banyak


yang bisa mencapai hal ini. Cara lainnya adalah menerbitkan

jurnal dari karya-karya pilihan PKM mahasiswa, Selain itu,

program yang telah dilaksanakan dapat diusahakan agar

berkelanjutan. Program kewirausaahaan berbasis teknologi

(technopreneur) atau yang berbasis ide kreatif (kreatifpreneur)

misalnya, dapat diikutsertakan dalam lomba ataupun

komunitas startup (rintisan usaha), yang sekarang

sedang booming di Indonesia dan dunia.

b. Program kreativitas mahasiswa dapat dijadikan ajang penyalur inovasi

dan kreasi dalam berkarya

Universitas berkewajiban mengantarkan mahasiswa menggapai masa

depan dan mengembangkan daya inovatif, responsif, keterampilan, dan daya

saing melalui pelaksanaan Tri Dharma (UU No. 12 Tahun 2012). Dalam rangka

mendorong pola pikir ilmiah, entrepreneur pemuda dan pemberdayaan

masyarakat, DIKTI menyelenggarakan Program Kreativitas Mahasiswa

(PKM). Program ini diharapkan memberikan peluang bagi mahasiswa untuk

meningkatkan academic knowledge, skill of thinking,

management andcommunication skill melalui kegiatan yang kreatif dalam

bidang ilmu yang ditekuni.


PKM dibagi menjadi program penelitian eksakta (PKM-PE), penelitian

sosial-hukum (PKM-PSH), teknologi terapan (PKM-T), pengabdian

masyarakat (PKM-M), kewirausahaan (PKM-K), karsa cipta (PKM-KC),

gagasan tertulis (PKM-GT), serta bidang artikel ilmiah (PKM-AI).

Secara garis besar, ada lima unsur yang harus dipenuhi dalam

penyusunan PKM, yakni: kreatif, inovatif, novelty, up to date, dan aplikatif.

Dari ke lima unsur tersebut intinya adalah pemunculan gagasan atau konsep

baru yang memiliki nilai keaslian serta mudah diterapkan dan bisa

menghasilkan nilai (ekonomis atau sosial) yang signifikan. Biasanya yang

berpeluang tinggi adalah teknologi tepat guna dan solusi praktis terhadap

permasalahan di sekitar. Memang tidak mudah mendapatkan ide-ide sederhana

yang aplikatif seperti ini, kuncinya harus banyak iqra’, membaca, mengamati,

dan merenungkan.

Masih banyak mahasiswa yang kurang faham tentang PKM, esensi dan

strategi pemenangannya. Dalam pemahaman tentang PKM, sosialisasi juga

harusnya dilakukan sejak dini, dimulai dari mahasiswa baru, jika perlu

dimasukkan dalam materi Propti. Hal ini penting guna menjaring mahasiswa

baru yang memang sudah aktif dalam KIR sejak masa SMA. Motivasi dapat

ditingkakan dengan memberikan penyadaran mengenai manfaat PKM bagi

kehidupan pasca kampus atau memberikan stimulus bagi PKM.

Ke depan monitoring ini bisa dilakukan lebih dini dimulai dari tingkat

jurusan dan fakultas yang memiliki wewenang ilmiah dalam memperbaiki dan
menyempurnakan konsep dan hasil PKM, sementara monev tingkat universitas

lebih dititikberatkan pada teknik presentasi dan strategi. Integrasi PKM dengan

kegiatan akademik perlu dilakukan, seperti tugas proposal PKM pada mata

kuliah kewirausahaan dan rancangan percobaan. Bahkan perlu juga dikaji

kemungkinan pengakuan PKM penelitian sebagai skripsi dan PKM pengabdian

sebagai pengganti Praktik Umum (PU) atau Kuliah Kerja Nayata (KKN).

Tentunya akan dapat mereduksi lamanya masa mukim mahasiswa. Terakhir,

kompetisi PKM skala fakultas dan universitas, baik tingkat mahasiswa lama

(mala) atau mahasiswa baru (maba).


Penutup

a. Simpulan

PKM atau Program Kreativitas Mahasiswa merupakan salah satu upaya

yang dilakukan Ditjen Dikti untuk meningkatkan mutu peserta didik

(mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat

yang memiliki kemampuan akademis dan/atau profesional yang dapat

menerapkan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan,

teknologi dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. PKM

dikembangkan untuk meningkatkan Tri Dharma sebagai civitas muda MIPA

dalam berkarya dan mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan

kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta

keimanan yang tinggi. Program kreativitas mahasiswa dapat dijadikan sebagai

ajang penyalur inovasi dan kreasi dalam berkarya karena melalui PKM ini

intelektual muda MIPA dapat berinovasi dalam bidang ilmiah yang berkaitan

dengan bidang yang didalami.

b. Saran

Dalam efisiensi peningkatan daya saing intelektual muda MIPA diharapkan

mampu mengembangkan pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi sehingga

mampu menciptakan civitas – civitas yang memiliki inovasi serta kreatifitas dalam

membangun bangsa yang lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

http://robi53.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2012/02/27/meningkatkan-partisipasi-pkm-

karyaku-solusi-untuk-bangsaku/

http://teknokra.com/ragam/opini/berkarya-melalui-program-kreativitas-mahasiswa-

pkm.html

http://www.atmajaya.ac.id/Web/KontenUnit.aspx?gid=opini-

fitur&ou=hki&cid=opitur-pkpm-membangun-kreativitas-dan-kecerdasan-mahasiswa-

dalam-berorganisasi