Anda di halaman 1dari 43

PENGEMBANGAN MEMBRAN SELULOSA ASETAT DARI

NATA DE COCO BERBENTUK SERAT HOLLOW UNTUK


MENYISIHKAN ZAT WARNA PADA LIMBAH TEKSTIL

TESIS

Karya tulis sebagai salah satu syarat


untuk memperoleh gelar Magister dari
Institut Teknologi Bandung

Oleh:
MUHAMMAD FARIS IHSAN
NIM: 25317033
Program Studi Magister Teknik Lingkungan

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


Februari, 2018
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .................................................................................................. i
DAFTAR TABEL ....................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... iv
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................ 1

1.1 Latar Belakang............................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 2
1.3 Hipotesis ........................................................................................ 3
1.4 Maksud dan Tujuan ....................................................................... 3
1.5 Ruang Lingkup .............................................................................. 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 4

2.1 Industri Tekstil di Jawa Barat ........................................................ 4


2.2 Karakteristik Limbah Tekstil ......................................................... 5
2.3 Reactive Black 5 ............................................................................ 7
2.4 Teknologi Membran ...................................................................... 8

2.4.1 Definisi Membran ................................................................ 8


2.4.2 Proses Membran ................................................................... 9
2.4.3 Klasifikasi Membran .......................................................... 14
2.4.4 Membran Fouling ............................................................... 23

2.5 Advance Oxidation Process (AOP) ............................................. 23


2.6 Zinc Oxide (ZnO) ........................................................................ 24
2.7 Selulosa Asetat ............................................................................ 24
2.7 Karakterisasi Membran................................................................ 26

2.7.1 Fluks dan Rejeksi ............................................................... 26


2.7.2 Scanning Electron Microscope (SEM) .............................. 26
2.7.3 Fourier Transform Infrared (FTIR) .................................... 27

2.8 Kinetika Laju Reaksi ................................................................... 28


2.9 Penelitian Serupa yang telah Dilakukan ...................................... 28

BAB 3 METODOLOGI ............................................................................. 30

i
3.1 Alat-Alat ...................................................................................... 31
3.2 Bahan- Bahan .............................................................................. 31
3.3 Metode Penelitian ........................................................................ 32

3.3.1 Pengeringan Nata de Coco ................................................. 32


3.3.2 Pembuatan Selulosa Asetat Nata de Coco ......................... 32
3.3.3 Karakterisasi Selulosa Asetat Nata de Coco ...................... 32
3.3.4 Pembuatan Serat Hollow .................................................... 33
3.3.5 Karakterisasi Membran SB/ZnO ........................................ 33
3.3.6 Proses Pengolahan Limbah Cair Warna ............................. 34

3.4 Metode Analisis ........................................................................... 34

3.4.1 Scanning Electron Microscope (SEM)............................... 34


3.4.2 Fourier Transform Infrared (FTIR) ................................... 34
3.4.3 Fluks 34
3.4.4 Rejeksi ................................................................................ 35
3.4.5 Pengukuran Zat Warna Reactive Black 5 ........................... 35

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 36

ii
DAFTAR TABEL

BAB II
Tabel II. 1 Kualitas Air pada Industri Tekstil ................................................ 4
Tabel II. 2 Karakteristik limbah cair industri tekstil di Jawa Barat ............... 6
Tabel II. 3 Baku mutu limbah cair tekstil menurut KEP-
51/MENLH/10/1995 ................................................................... 7
Tabel II. 4 Konfigurasi Membran ................................................................ 10
Tabel II. 5 Konfigurasi Membran Hollow Fiber .......................................... 13

iii
DAFTAR GAMBAR

BAB II
Gambar II. 1 Tahapan dalam Industri Tekstil ................................................ 6
Gambar II. 2 Struktur Kimia dari Reactive Black 5 ....................................... 8
Gambar II. 3 Skema perpindahan fasa pada membran .................................. 9
Gambar II. 4 Proses Pemisahan oleh Membran ........................................... 10
Gambar II. 5 Hierarki Pressure Driven pada Membran ............................... 10
Gambar II. 6 Tiga Tipe Fouling pada Membran (a) pore norrowing (b) pore
plugging (c) pembentukan gel/cake .......................................... 23
Gambar II. 7 Rumus Struktur Senyawa Selulosa Asetat.............................. 25
Gambar II. 8 Skema kerja SEM ................................................................... 27
BAB III

Gambar III. 1 Diagram Alir Penelitian ........................................................ 30

iv
BAB 1PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri tekstil adalah salah satu industri dengan konsumsi air terbanyak di
dunia (Friha, dkk, 2015). Volume air yang besar tersebut dihasilkan dari proses
pencucian, pencelupan, pencetakan, pendinginan, dan sebagainya. Penggunaan air
di dalam industri tekstil masih mengambil air yang berasal dari air tanah atau air
sungai. Padahal air tanah jumlahnya sangat terbatas. Menurut Jusuf, 2015 dari total
air di dunia sebanyak 1.385.984.610 km3 hanya 3% yang berupa air tawar, sisanya
adalah air laut. Dan dari 3% tersebut 70%-nya adalah es di Kutub Utara dan Selatan,
selebihnya berupa air tanah sebanyak 29%, air permukaan (sungai dan danau)
sebesar 0,03% , dan air di atmosfer 0,35%. Dari total air yang ada di daratan 20%
nya digunakan untuk industri dan salah satunya industri tekstil.
Air untuk industri tekstil memiliki kualitas yang harus dipenuhi tergantung
dari penggunaan air tersebut. Kualitas air untuk semua proses harus tepat untuk
menghindari masalah pada proses dan kualitas produk akhir (kualitas produk dan
stabilitas). Air dapat digunakan pada dua cara yang berbeda yaitu sebagai media
untuk proses tekstil dimana air kontak langsung dengan bahan dan sebagai media
pemanasan / pendinginan tanpa terjadi kontak langsung. Dengan melihat potensi
limbah tekstil yang besar dan keterbutuhan kualitas air yang intermediate (tidak
membutuhkan kemurnian tinggi) maka limbah dapat digunakan sebagai air daur
ulang. Pengolahan limbah tekstil untuk dijadikan air daur ulang (reuse) yang dapat
digunakan di dalam proses-proses pada industri tekstil akan mengurangi
penggunaan air tanah atau air sungai sehingga keberlangsungan air tanah dan air
sungai dapat terjaga.
Permasalahan utama dari limbah tekstil adalah zat warna, padatan
tersuspensi dan zat organik (Widjajanti, 2011). Selain menurunkan nilai estetika,
beberapa zat warna juga dapat menghasilkan senyawa karsinogenik dan beracun
jika terdegradasi (Shawabkeh RA, et al, 2005). Zat warna juga dapat menghalangi
penetrasi cahaya matahari di perairan dan menyebabkan fotosintesis terhambat
(Gong, R et.al, 2005). Hal ini berpotensi menurunkan kualitas perairan dan
membunuh biota perairan karena kurangnya O2 dan kontaminasi zat beracun.

1
(Widjajanti, 2011). Salah satu zat warna yang digunakan di industri tekstil adalah
Reactive Black 5 yang merupakan senyawa azo dyes.
Alternatif pengolahan zat warna berupa azo dyes dari industri tekstil adalah
dengan fotokatalitik menggunakan ZnO. Untuk meningkatkan efektivitas
fotokatalitik, maka perlu dilakukan modifikasi. Salah satu modifikasinya dapat
berupa komposit, dimana polimer yang digunakan dapat berbentuk biopolimer dan
dengan proses wet spinning. Biopolimer dari selulosa bakterial (SB) atau
bioselulosa dapat dihasilkan dari proses fermentasi air kelapa dengan menggunakan
bakteri Acetobacter xylinum (Yulina dan Gustiani, 2014). Air kelapa di Indonesia
memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan bahan baku membran. Lebih
dari 900 juta liter/tahun air kelapa yang dihasilkan di Indonesia. Komposisi air
kelapa yaitu 91,27% air; 0,1% protein; 0,2% lemak; dan 4% karbohidrat serta 0,5%
abu (Indrarti dan Yudianti, 1994 dalam Gustiani, 2014)
SB dapat dimodifikasi menjadi bentuk serat hollow membran. Meskipun
membran lebih banyak dalam bentuk flat-sheet namun tipe serat hollow memiliki
kelebihan yaitu dalam volume yang sama, luas area serat hollow lebih luas
dibandingkan tipe flat-sheet (Guan, et.al., 2014). Penelitian terdahulu menyebutkan
bahwa serat hollow terbukti dapat mengurangi kandungan COD dan zat warna.
Kemampuan membran serat hollow dapat menurunkan kadar COD hingga 91,5%
dan zat warna hingga 99,3% (Zheng, et. al., 2013). Serat hollow yang terbuat dari
SB dan diimobilisasi dengan ZnO dapat digunakan untuk pengolahan efluen limbah
cair tekstil (Yulina dan Gustiani, 2014).
Pada penelitian ini juga dipelajari kinetika laju penyisihan zat warna Reactive Black
5 dan zat organik oleh membran SB/ZnO. Kinetika membran dianalisis berdasarkan
nilai fluks yang diperoleh. Disamping itu pada penelitian ini dilakukan pula analisis
kinetika laju reaksi fotokatalitik pada membran. Metode yang digunakan adalah
persamaan kinetika reaksi Bohart-Adam (Gustiani, 2014).
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1. Apakah membran serat hollow SB/ZnO dapat digunakan untuk menghasilkan reuse
water di limbah industri tekstil?

2
2. Berapa besar optimasi membran serat hollow SB/ZnO untuk menyisihkan zat warna
Reactive Black 5 dan zat organik pada limbah tekstil?
3. Apakah kinetika yang digunakan dalam menggambarkan mekanisme yang terjadi
pada membran serat hollow SB/ZnO untuk menyisihkan zat warna Reactive Black
5 dan zat organik pada limbah tekstil?
1.3 Hipotesis
Membran serat hollow SB/ZnO dapat menyebabkan degradasi zat warna
Reactive Black 5 dan zat organik pada limbah tekstil.
1.4 Maksud dan Tujuan
Maksud dari penelitian ini adalah memberikan alternatif teknologi dalam
mengolah limbah industri tekstil terutama dalam menyisihkan warna dan zat
organik dengan menggunakan membran serat hollow SB/ZnO. Adapun tujuan dari
penelitian ini adalah:
1. Mengolah efluen IPAL industri tekstil menggunakan membran serat hollow SB/ZnO
untuk dapat digunakan kembali (reuse) sehingga mengurangi dampak ketersediaan
air yang semakin terbatas.
2. Mengetahui kondisi optimum dari membran serat hollow SB/ZnO dalam proses
penyisihan zat warna Reactive Black 5 dan zat organik dari efluen IPAL industri
tekstil.
3. Mengetahui kinetika penyisihan zat warna Reactive Black 5 dan zat organik pada
limbah industri tekstil.

1.5 Ruang Lingkup


Penelitian ini dibatasi dengan ruang lingkup sebagai berikut:
Polimer yang digunakan adalah biopolimer selulosa bakterial dari
fermentasi oleh bakteri Acetobacter xylinum. Biopolimer selulosa bakterial
digunakan sebagai bahan baku pembuatan membran menggunakan wet spinning.
Membran dikarakterisasi melalui beberapa parameter uji, diantaranya yaitu fluks,
rejeksi, Scanning Electron Microscope (SEM), Fourier Transform Infrared (FTIR),
uji antibakteri, dekolorisasi pada limbah warna tekstil.

3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Industri Tekstil di Jawa Barat
Indonesia merupakan salah satu negara dengan industri tekstil yang
besar. Di tahun 2010, industri tekstil mampu mengaryakan hingga lebih kurang
11% dari total angkatan kerja industri, atau 1,34 juta orang di 2.853 perusahaan dan
menyumbang 8,9% dari total ekspor negara. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API)
mengklaim 80% mereka pakaian global diproduksi di dalam negeri
(www.bkpm.go.id). Bandung sebagai salah satu kota besar di Indonesia adalah yang
memiliki potensi 70% kekuatan industri tekstil Indonesia (www.jabarprov.go.id).
Pada tahun 2007, menurut Badan Pusat Statistik angka produksi industry tekstil
lokal sebesar 406.400 ton. Padahal untuk memproduksi satu kilogram tekstil saja
membutuhkan 11 meter kubik. (Akhadi, 2014). Dengan asumsi 70% - nya ada di
kawasan Bandung dan sekitarnya maka dapat diperkirakan banyaknya air tawar
yang dibutuhkan Kota Bandung hanya untuk kegiatan tekstil.
Kebutuhan air di setiap industri berbeda-beda baik secara kualitas maupun
kuantitas. Dalam urusan kualitas air, industri tekstil menempati kebutuhan air
intermediate. Tidak terlalu murni seperti pada industri elektronik namun juga tidak
serendah kualitas air yang dibutuhkan industri tanning. Air untuk industri tekstil
memiliki kualitas yang harus dipenuhi tergantung dari penggunaan air tersebut.
Kualitas air untuk semua proses harus tepat untuk menghindari masalah pada proses
dan kualitas produk akhir (kualitas produk dan stabilitas). Air dapat digunakan pada
dua cara yang berbeda yaitu sebagai media untuk proses tekstil dimana air kontak
langsung dengan bahan dan sebagai media pemanasan / pendinginan tanpa terjadi
kontak langsung. Pengolahan limbah tekstil untuk dijadikan air daur ulang (reuse)
yang dapat digunakan di dalam proses-proses tanpa kontak langsung pada industri
tekstil akan mengurangi penggunaan air tanah atau air sungai sehingga
keberlangsungan air tanah dan air sungai dapat terjaga. Berikut ini adalah kualitas
air yang dibutuhkan di industri tekstil:
Tabel II. 1 Kualitas Air pada Industri Tekstil
Parameter Sizing Scouring,
Suspension Bleach &
Dye
Cu 0.01 -

4
Fe 0.3 0.1
Mn 0.05 0.01
Ca - -
Mg - -
Cl - -
HCO3 - -
NO3 - -
SO4 - -
SiO2 - -
Hardness 25 25
Alkalinity - -
TDS 100 100
TSS 5 5
Color 5 5
pH - -
Carbon - -
Chloroform - -
Extract - -
*satuan menggunakan mg/l kecuali pH dan warna
Sumber: Water Pollution Control Federation, 1989
2.2 Karakteristik Limbah Tekstil
Salah satu proses industri tekstil yang menghasilkan limbah yang cukup
kompleks adalah proses pewarnaan (dyeing). Proses dyeing merupakan proses
pemberian warna secara merata pada kain. Proses pencelupan kain pada dasarnya
meliputi penghilangan kanji (desizing), pelepasan wax (scouring), pengelantangan
(bleaching), mercerizing dan pencelupan (dyeing). Desizing merupakan
penghilangan sisa-sisa bahan seperti pati dan polivinil alkohol. Proses desizing
dapat menggunakan asam atau enzim. Scouring merupakan penghilangan pengotor-
pengotor alami yang terdapat pada kain melalui proses saponifikasi pada pH tinggi.
Sabun atau detergen ditambahkan selama proses scouring untuk mengendapkan
kalsium, magnesium maupun besi yang terdapat pada kain. Bleaching merupakan
penghilangan zat warna alami pada kain yang tidak diinginkan. Mercerising adalah
pengolahan kain menggunakan larutan alkali pekat yang bertujuan meningkatkan
kemampuan serat mengikat zat warna dan penampakan kain yang lembut (Sunarto,
2008). Beberapa tahap di dalam industri tekstil:

5
Gambar II. 1 Tahapan dalam Industri Tekstil
Dalam mengolah limbah hal pertama yang perlu dilakukan adalah
mengidentifikasi karakteristik limbah yang akan diolah. Berikut ini adalah tabel
karakteristik limbah cair industri tekstil di Jawa Barat.
Tabel II. 2 Karakteristik limbah cair industri tekstil di Jawa Barat
Parameter 1 2
BOD (mg/l) 175 93
COD (mg/l) 585 220
TSS (mg/l) 22 16
Fenol Total (mg/l) 0,02 0,14
Krom Total (mg/l) <0,05 <0,03
Minyak dan Lemak (mg/l) 9,4 4,8
pH 10 8,2
Sulfida (mg/l) 0,86 0,24
Ammonia (mg/l) 0,95 22,9
Debit maksimum (m3 per ton tekstil) 300 400
Sumber: (Balai Besar Tekstil, 2014)
Karakteristik pada tabel II.2 tersebut berdasarkan baku mutu limbah cair
tekstil yang tertulis dalam KEP 51-/MENLH/10/1995.

6
Tabel II. 3 Baku mutu limbah cair tekstil menurut KEP-51/MENLH/10/1995

Namun yang menjadi kendala adalah tidak adanya parameter warna di dalam
baku mutu yang ditetapkan. Padahal adanya sisa warna dan zat organik dapat
menurunkan kualitas perairan. Oleh karena itu diperlukan suatu pengolahan
lanjutan yang dapat mendegradasi zat warna dan zat organik sehingga air hasil
olahan dapat digunakan kembali sebagai air bersih yang memenuhi kualitas
beberapa proses di industri tekstil.

2.3 Reactive Black 5


Dalam daftar “color index” golongan zat warna yang tersebsar jumlahnya
adalah zat warna azo, dan dari zat warna yang berkromofor azo ini yang paling
banyak adalah zat warna reaktif yang banyak digunakan dalam proses pencelupan
bahan tekstil, salah satunya adalah Reactive Black 5 atau dikenal pula dengan nama
Remazol Black 5. Reactive Black 5 merupakan zat warna reaktif yang mengandung
gugus kromofor azo yang banyak digunakan sebagai pewarna hitam pada tekstil.
Reactive Black 5 memiliki rumus molekul C26H21N5Na4O19S6 dan berat molekul
991,8 g/mol. Salah satu zat warna yang sering dipakai oleh industri tekstil dan
cukup berbahaya adalah Reactive Black 5

7
Gambar II. 2 Struktur Kimia dari Reactive Black 5
Sumber: Isik, M dan Delia Teresa Sponza, 2004
Zat warna ini banyak digunakan karena sifatnya yang mudah larut dalam
air dan tidak terdegradasi pada kondisi aerob biasa. Sebagian besar zat warna
sengaja dibuat dupaya mempunyai ketahanan terhadap pengaruh lingkungan seperti
efek pH, suhu dan mikroba. Oleh karena itu,limbah dari zat warna remazol sangat
berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih
dahulu.
2.4 Teknologi Membran
Saat ini aplikasi membran telah merambah ke berbagai industri diantaranya
industri logam (pengambilan kembali logam), industri makanan, bioteknologi
(pemisahan, pemurnian, sterilisasi, pengambilan produk samping), serta industri
kulit dan tekstil (pengambilan kembali bahan kimia dan panas). Pada industri pulp
dan kertas, membran berperan dalam pengambilan serat dan bahan kimia dan
sebagai pengganti proses evaporasi. Industri-industri lainnya yang juga telah
menerapkan teknologi membran adalah industri berbasis proses kimia (pemisahan
materi organik, pemisahan gas), industri farmasi dan kesehatan (organ buatan,
control release, fraksionasi darah, sterilisasi, pemurnian air) dan proses penanganan
limbah.
2.4.1 Definisi Membran
Membran merupakan lapisan tipis diantara dua fase yang selektif (semi-permeable) dan
mengkontrol perpindahan komponen pada dua kompartemen yang berdekatan
(Susanto, 2011). Teknologi membran merupakan lapisan penghalang yang selektif

8
yang akan meloloskan suatu senyawa dan menahan senyawa lain pada sebuah cairan
(Tchnobanoglous, 2003).

Gambar II. 3 Skema perpindahan fasa pada membran


Sumber: Mulder, 1996
2.4.2 Proses Membran
Pada umumnya proses membran adalah dilaluinya influen (yang dalam
membran biasa disebut dengan feed water atau feed stream) melalui lapisan
semipermeable yang sangat tipis yang disebut membran. Larutan yang berhasil
melalui membran disebut dengan permeat atau product stream. Dan larutan yang
tertahan atau tidak berhasil melewati membran disebut konsentat atau retentat. Laju
permeat melewati membran dikenal dengan istilah fluks yang diekspresikan dalam
satuan kg/m2.hari. (Tchobanoglous, 2003)

Membran
Feed water(f)
Qf: debit feed water Permeat (p)
Cf: konsentrasi feed Qp: debit permeat
water Cp: konsentrasi permeat
kw
Pf: tekanan feed water kf Pp: tekanan permeat

Container untuk Note:


modul membran kf dan kw adalah koef
transfer untuk air dan
Konsentrat/ Retentat (c) larutan
Qc: debit konsentrat
Cc: konsentrasi konsentrat
Pc: tekanan konsentrat

9
Gambar II. 4 Proses Pemisahan oleh Membran
Sumber: Tchobanoglous, 2003
Proses membran yang biasa digunakan adalah Mikrofiltrasi, Ultrafiltrasi,
Nanofiltrasi, dan Reverse Osmosis.

Gambar II. 5 Hierarki Pressure Driven pada Membran


Sumber: Crittenden, 2012
Proses membran mikrofiltrasi (MF), ultrafiltrasi (UF), reverse osmosis
(RO), dan piezodialisis menggunakan perbedaan tekanan sebagai gaya dorong
(driving force). Proses membran lainnya menggunakan perbedaan konsentrasi
(pemisahan gas, pervaporasi, membran cair, dialisis), perbedaan suhu (membran
distilasi, termo-osmosis), dan perbedaan potensial listrik (elektrodialisis) sebagai
gaya dorongnya. Sebagai salah satu teknik pemisahan, teknologi membran dalam
aplikasinya dapat ditujukan untuk pemekatan, pemurnian, fraksionasi, dan
perantara reaksi (Mulder, 1996). Membran memiliki beberapa konfigurasi yang
akan dijabarkan di Tabel II.4, yaitu sebagai berikut:
Tabel II. 4 Konfigurasi Membran
Konfigurasi Deskripsi
Hollow fiber Membran berbentuk tabung yang berongga dan
filtrasi terjadi karena air melewati dinding berserat.

10
Kepadatan modul packing ( luas permukaan spesifik
) adalah
750-1700 m2 / m3

Tubular Membran terdiri atas struktur monolitik dengan satu


atau lebih saluran yang melalui struktur. Membran
keramik ini biasanya adalah membran tubular.
Membran ini dapat dioperasikan pada kecepatan
cross-flow tinggi, yang sangat ideal untuk
diaplikasikan di partikel yang memiliki konsentrasi
tinggi. Kepadatan modul packing sampai dengan
400-800 m2/m3.
Flat sheet Membran dalam bentuk lembar dan digunakan
sebagai lapisan tunggal atau sebagai tumpukan
lembaran. Biasa digunakan dalam pemisahan di
laboratorium namun tidak biasa digunakan dalam
skala industri. Kepadatan packing tergantung pada
spasi tiap lembaran.
Spiral wound Membran flat sheet ditumpuk dalam laisan dan
dipisahkan oleh permeat dan rententat, kemudian
digulung mengitari pusat tabung sehingga permeat
dapat melewati jalur aliran spiral menuju tabung
pusat. Dalam NF dan RO membran tipe ini biasa
digunakan namun tidak digunakan luas untuk
membran karena akan terjadi clogging oleh
partikulat dan harus dilakukan backwash agar
membran kembali efektif. Kepadatan packing adalah
700-1000 m2/m3
Hollow fine fiber Membran yang berperan berbentuk tabung berongga
dengan diameter luar 0,085 mm (sekitar ketebalan
rambut manusia). Hollow fine hanya digunakan

11
untuk membran RO. Kepadatan packing adalah
5600-7400 m2/m3
Track etched Membran flat-sheet dan berbentuk lembaran padat
dari materi polimer dan terekspos sinar radioaktif.
Bahan tersebut kemudian direndam dalam etching
bath yang melarutkan materi di sepanjang pathways,
ini juga berfungsi untuk melebarkan track untuk pori
pori yang memiliki dimensi silinder dan seragam.
Hasil dari flat sheet membran yang memiliki ukuran
pori yang seragam sangat menguntungkan proses
pemisahan di laboratorium namun membran track-
etched ini tidak digunakan dalam aplikasi skala
industri.
Sumber: Crittenden, 2012
Permeat fluks dan fouling dipengaruhi oleh rezim aliran air umpan dekat
permukaan membran. Dua strategi filtrasi, yaitu filtrasi cross-flow dan filtrasi dead-
flow telah dikembangkan untuk mempengaruhi rezim aliran (Crittenden, 2012).
2.4.2.1 Filtrasi Cross- flow
Dalam filtrasi cross-flow, air umpan dipompa pada tingkat tinggi melalui lumen
serat luar-dalam membran. Kecepatan aliran cross-flow, biasanya 0,5 untuk 1 m / s
(1,6-3,3 ft / s), sejajar dengan permukaan membran dan sekitar empat lipat lebih
besar daripada kecepatan superfisial air menuju permukaan membran. Kecepatan
sejajar dengan permukaan membran menciptakan gaya geser yang mengurangi
perkembangan cake di permukaan (Wiesner dan Chellam, 1992). Hal ini
dikarenakan banyak padatan yang terbawa oleh retentat dan tidak berkumpul di
permukaan membran.
Sistem dapat dioperasikan pada fluks yang lebih tinggi atau dengan interval
yang lebih panjang terhadap proses backwashes. Retentat disirkulasikan kembali ke
air umpan, sehingga filtrasi cross-flow membutuhkan aliran-aliran permeat
resirkulasi besar biasanya kurang dari 25 persen dari aliran umpan. Persyaratan
untuk melakukan resirkulasi adalah kapasitas pengolahan yang cukup besar sekitar
50.000-m3 /hari (13,2-mgd). Plant filtrasi membran harus dapat meresirkulasi

12
200.000 sampai 250.000 m3 /hari (53-66 mgd) untuk mempertahankan kecepatan
cross-flow yang cukup. Retentat dapat dikembalikan langsung ke saluran umpan
untuk membran modul atau ke hulu modul. Dalam kasus lain, kandungan padatan
dari air umpan akan meningkat karena resirkulasi tersebut (Crittenden, 2012).
2.4.2.2 Filtrasi Dead Flow
Filtrasi dead-flow ini beroperasi tanpa komponen cross-flow untuk aliran umpan.
Aliran air umpan masuk dengan cara melintang (tegak lurus) ke permukaan
membran selama filtrasi dead-flow, sehingga semua padatan menumpuk pada
membran selama siklus filtrasi dan dihilangkan selama siklus backwash. Padatan
besar yang terakumulasi selama proses filtrasi dijalankan dapat menghasilkan nilai
fluks rata-rata yang lebih rendah daripada yang dicapai dengan filtrasi cross-flow
(Crittenden, 2012).

Tabel II. 5 Konfigurasi Membran Hollow Fiber

Konfigurasi Keuntungan Kekurangan


-Dapat mengolah air Tidak dapat
lebih banyak dalam dioperasikan dalam
fluks yang sama karena cross-flow
serat di luar permukaan
memiliki luas
permukaan yang lebih
besar
- Kurang sensitif
terhadap keberadaan
padatan di umpan
Lebih murah -Mudah terjadi
dibandingkan inside clogging
out (cross-flow mode) -Air yang diolah lebih
sedikit dengan fluks
yang sama karena luas
permukaannya lebih
kecil

13
-Dapat dioperasikan -harganya lebih mahal
dalam fluks tinggi dan -air yang diolah lebih
kekeruhan umpan yang sedikit karena luas
tinggi karena permukaannya lebih
kecepatan alir cross- kecil.
flow menyapu padatan
sehingga mengurangi
kemungkinan
terjadinya
pembentukan cake di
permukaan
Sumber: (Crittenden, 2012)
2.4.3 Klasifikasi Membran
1. Klasifikasi berdasarkan Mekanisme Pemisahan
Berdasarkan mekanisme pemisahannya, membran dibagi menjadi tiga,
yaitu:
a. Pori membran (sieve effect)
Pemisahan berdasarkan pori membran yang berarti zat yang lolos lebih kecil dari
ukuran pori membran dan zat yang ukurannya lebih besar akan tertahan. Ada tiga
pembagian ukuran pori berdasarkan Tchobanoglous, 2003:
 Macropores adalah yang berukuran lebih besar dari 50 nm
 Mesopores adalah yang berukuran diantara 2 – 50 nm
 Micropores adalah yang lebih kecil dari 2 nm
Contoh membran yang menggunakan mekanisme pori sebagai pemisahan adalah
Membran Microfiltrasi (MF), Membran Ultrafiltrasi (UF), Membran Nanofiltrasi
(NF) dan Membran Dialisis (DIA)
b. Mekanisme difusi larutan
Membran– membran yang tidak berpori melakukan pemisahan dengan cara
berdifusi. Membran tak berpori merupakan media yang sangat padat. Tipe-tipe
membran yang menggunakan mekanisme difusi dalam pemisahan Gas Permeation
(GP), Pervorasi (PV) dan Reverse Osmosis (RO).
c. Perbedaan muatan (ion exchange)

14
Membran ion exchange adalah tipe yang spesifik dari membran tak berpori. Terdiri
dari gel yang berisi muatan positif dan negatif. Membran yang terisi dengan muatan
positif (contoh –NR3+disebut anion sedangkan muatan negatif (contoh –SO2-)
disebut kation.
2. Klarifikasi berdasarkan morfologi
Berdasarkan morfologinya, membran dibagi menjadi membran asimetrik dan
membran komposit. Membran asimetris adalah membran anisotrop yang disiapkan
dari material yang sama. Sedangkan membran komposit adalah membran yang
bagian atasnya dan bawahnya terdiri dari material yang berbeda. Tiap lapisnya
dapat diptimalisasi sendiri-sendiri.
3. Klarifikasi berdasarkan geometri
Membran dapat dibuat dalam dua bentuk geometri: datar dan silinder.
Beberapa ciri dari membran yang berbentuk silinder adalah:
 Membran tubular dengan diameter internal lebih besar dari 3 mm
 Membran hollow fiber dengan diameter lebih kecil dari 3 mm
Hollow fiber adalah membran berbentuk tabung yang paling kecil dengan
ukuran diameter luar 80-500 µm. Biasa digunakan dalam RO, GP, dan
hemodialisis. Dengan diameter yang lebih besar, hollow fiber digunakan untuk UF,
MF, dan biasa disebut membran kapiler.
4. Klasifikasi berdasarkan Chemical Nature
Membran sintetis dapat dibuat dalam bentuk organik (polimer) dan anorganik
(logam, keramik, gelas, dll). Membran organik dapat dibuat dari hampir semua
polimer. Namun jika memperhatikan kebutuhan proses dan lifetime dari membran
itu sendiri maka hanya beberapa yang dapat memenuhi syarat. Salah satu senyawa
organik yang banyak digunakan untuk membuat membran adalah selulosa asetat
dan turunannya. Selain karena selulosa asetat adalah polimer yang hidrofilik,
murah, memiliki tekanan yang rendah untuk proses adsorpsi dan dapat digunakan
bukan hanya di proses pressure-driven tetapi juga untuk hemodialisis.
Selain selulosa asetat, polimer yang sering digunakan berikutnya adalah
poliamida. Poliamida aromatik adalah tipe kedua yang sering digunakan untuk
proses desalinasi setelah selulosa diasetat. Poliamida aromatik banyak disukai
karena permselektivitasnya yang baik dan kestabilan kimia, hidrolitik dan

15
termalnya lebih baik dari selulosa asetat. Namun kelemahannya poliamida memiliki
amina grup (-CO-NH-) yang sensitif terhadap penguraian oleh oksigen dan tidak
dapat menoleransi paparan oleh gas klor.
Membran anorganik pada umumnya dalam hal sifat kimia dan mekaniknya
lebih superior dibandingkan dengan polimer. Namun kelemahannya harganya lebih
mahal dan lebih rapuh inilah yang menyebabkan membran anorganik jarang
digunakan d lapangan. Penggunaannya lebih spesifik untuk industri kimia yang
menggunakan pegolahan limbah cair dengan temperatur dan tekanan yang tinggi,
dapat juga digunakan di farmasi dan industri yang menggunakan sterilisasi panas.
Bahan yang paling sering digunakan dalam membran anorganik adalah keramik.
Contoh keramik adalah oksida, nitrida dari senyawa logam seperti alumunium, seng
dan titanium.
Dalam bab ini akan dibahas dengan lebih spesifik tentang Membran
Mikrofiltasi (MF), Membran Ultrafiltrasi (UF), Membran Nanofiltrasi (NF) dan
Reverse Osmosis (RO).
2.4.3.1 Mikrofiltrasi
Salah satu membran yang biasanya digunakan dalam proses pengolahan air
bersih adalah membranmikrofiltrasi, yang cocok untuk menahan suspensi dan
emulsi, juga untuk memisahkan partikel (bakteri dan ragi). Selain itu, harga
membran mikrofiltrasi lebih murah, juga membutuhkan tekanan operasi yang lebih
kecil, yaitu kurang dari 2 bar, sehingga membutuhkan alat pendukung/utilitas yang
lebih sedikit (Mulder, 1996).
Mikrofiltrasi merupakan pemisahan partikel berukuran mikron atau submikron.
Bentuk lazimnya berupa cartridge yang berfungsi untuk menghilangkan partikel
dari air yang berukuran 0,04 sampai 100 micron, asalkan kandungan padatan
terlarut total dalam air tidak melebihi 100 ppm. Filtrasi cartridge merupakan filtrasi
mutlak, artinya partikel padat akan tertahan. dalam aplikasinya cartridge tersebut
akan diletakkan dalam suatu wadah tertentu (housing), dan dapat dibersihkan jika
padatan yang tertahan sudah terlalu banyak. Bahan yang dapat digunakan untuk
cartridge bermacam-macam, antara lain katun, wool, selulosa, fibre glass,
polipropilen, akrilik, nilon, asbes, ester-ester selulosa dan polimer hidrokarbon
terfluorinasi.

16
2.4.3.2 Ultrafiltrasi
Ultrafiltasi merupakan teknologi pemisahan menggunakan membran untuk
memisahkan berbagai zat terlarut dengan berat molekul tinggi, bermacam koloid,
mikroba sampai padatan tersuspensi dalam suatu larutan. Metode ini menggunakan
membran semi permeable untuk memisahkan makromolekul dari larutannya.
Ukuran dan bentuk molekul merupakan faktor penting dalam proses ultrafiltrasi.
Cara kerja proses ultrafiltrasi mirip dengan proses revesrse-osmosis, yaitu
pemisahan partikel berdasarkan ukurannya dengan menggunakan tekanan pada
membran berpori. Ukuran pori membran ultrafiltrasi lebih besar yaitu berdiameter
sekitar 0.1 sampai 1 µm. Yang membedakan dengan reverse-osmosis adalah jenis
membran dan lebih kecilnya tekanan yang digunakan dalam
pengoperasian. Membran ultrafiltrasi dibuat dengan mencetak polimer selulosa
asetat sebagai lembaran tipis. Fluks maksimum dapat dicapai bila membrannya
anisotropic, dimana terdapat kulit tipis rapat dan pengemban berpori. Membran
selulossa asetat mempunyai sifat pemisahan yang bagus, namun sayangnya dapat
rusak oleh bakteri dan zat kimia serta rentan terhadap pH. Selain selulosa asetat ada
juga membran yang terbuat dari polimer polisulfon, akrilik, polikarbonat, PVC,
poliamidda, poliviniliden fluoride, kopolimer AN-VC, poliasetal, poliakrilat,
kompleks polielektrolit, PVA ikat silang, keramik, aluminium oksida, zirkonium
oksida, dan sebagainya. Kecepatan hasil permeate (permeation flow) berkisar
sekitar 1.0 sampai 10 m3/m2.jam.
Dalam teknologi pemurnian air, membran ultrafiltrasi dengan berat molekul
membran (MWC) 1.000 – 20.000 lazim untuk penghilangan pirogen, sedangkan
membran dengan MWC 80.000 – 100.000 untuk penghilangan koloid. Tekanan
dalam ultrafiltrasi biasanya rendah, sekitar 10-100 psi (70-700 kPa), sehingga
operasinya dapat menggunakan pompa sentrifugal biasa.
Pada saat tertentu proses ultrafiltrasipun akan menunjukan penurunan
kinerja. Hal ini disebabkan adanya kotoran yang menyumbat pori-pori.
Pembersihan membran dilakukan dengan memasukan bahan pembersih yang
terbuat dari larutan caustic soda, sodium hypochlorite,asam belerang atau surface
activator lainnya. Dengan menciptakan aliran yang kuat akan lebih memudahkan
lepasnya kotoran yang menempel pada permukaan dan pori-pori. Atau bisa juga

17
dengan dicelupkan kedalam larutan pembersih dan terakhir disemprot dengan
tekanan cukup tinggi untuk mengusir kotorannya.
Pada saat ini ultrafiltrasi lebih banyak dipakai di berbagai macam bidang
karena mudah digunakan sebagai mikrofiltrasi dan tidak sesensitif reverse-osmosis.
Pemanfaataanya mencakup pengolahan air limbah di industri pulp dan kertas, air
limbah domestik, macam-macam air limbah gedung-gedung, filtrasi MLSS di
aeration tank proses biologi dan diaplikasi lainnya.
Studi kasus pemanfaatan ultrafiltrasi (UF) untuk pengolahan air tambak
yang memungkinkan diproduksinya air berkualitas tinggi (bebas mikroba dan
padatan tersuspensi) dengan keuntungan lain yang tidak kalah penting adalah unit
ultrafiltrasi yang compact, modular, dan sederhana sehingga bersifat transportable
dan mudah dioperasikan. Dengan segala kelebihannya, pemanfaatan teknologi ini
pada akhirnya diharapkan dapat memberikan keuntungan baik dari segi ekonomi,
teknik, maupun lingkungan.
2.4.3.3 Nanofiltrasi
Sebuah membran nanofiltrasi adalah jenis membran berbasis tekanan yang
memiliki kriteria mirip pada membran ultrafiltrasi dan reverse osmosis. Membran
nanofiltrasi memiliki kelebihan seperti memberikan nilai fluks air yang tinggi pada
tekanan operasi yang rendah serta dapat mempertahankan garam dalam jumlah
besar dan bahan organik (pada proses penolakannya. Proses nanofiltrasi memiliki
manfaat kemudahan operasi, keandalan dan konsumsi energi yang relatif rendah
(Ervan and Wenten, 2002).serta penghilangan polutan yang sangat efisien. Hal ini
memberi kemudahan dalam meminimalkan skala pengolahan pada peralatan yang
terdapat dari kedua reverse osmosis dan desalinasi termal proses. Oleh karena itu,
membran nanofiltrasi telah banyak digunakan hampir di seluruh dunia.
Membran nanofiltrasi banyak digunakan di proses desalinasi termal dan
membran air laut. Hal ini telah mengakibatkan pengurangan bahan kimia digunakan
dalam proses awal pengolahannya serta penurunan konsumsi energi dan air. Di
samping itu juga mengurangi biaya produksi serta lebih ramah lingkungan.
Pada sektor pengolahan air, salah satu proses membran yaitu nanofiltrasi
merupakan proses membran yang telah mendapat pengakuan dari EPA
(‘Environmental Protection Agency’) sebagai ‘Best Available (Saxena, S. and

18
Bhardwaj, 2001). Pada tahun 1996, kapasitas seluruh plant NF yang ada di Florida,
Amerika Serikat mencapai 60 juta galon/hari. NF menjadi aplikasi proses membran
terbesar kedua di Amerika Serikat. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa proses
membran merupakan proses yang sangat sesuai untuk diterapkan pada proses
pengolahan air. Pada sektor pengolahan limbah industri, proses membran terbukti
berhasil menghasilkan efluen dengan kualitas di atas standar baku mutu yang
memungkinkan untuk dapat dimanfaatkan kembali sebagai air proses. Kemampuan
membran menghasilkan efluen dengan kualitas yang sangat baik mampu menggeser
anggapan “limbah sebagai cost” menjadi “limbah sebagai profit”.
Proses nanofiltrasi merejeksi kesadahan, menghilangkan bakteri dan virus,
menghilangkan zat warna karena adanya bahan organik tanpa menghasilkan zat
kimia berbahaya seperti hidrokarbon terklorinasi. Nanofiltrasi cocok untuk
pengiolahan air dengan padatan terlarut total yang rendah, dimana bahan
organiknya dilunakkan dan dihilangkan.
Sifat rejeksi nanofiltrasi khas terhadap tipe ion; ion dwivalen lebih cepat
dihilangkan daripada ion ekavalen, sesuai saat membran tersebut diproses,
formulasi bak pembuat, suhu, waktu annealing, dan lain-lain. Formulasi dasarnya
mirip Reverse Osmosis, namun mekanisme operasionalnya mirip ultrafiltrasi. Jadi
nanofiltrasi merupakan gabungan dari metode reverse osmosis dan ultrafiltrasi.
2.4.3.4 Reverse Osmosis
Desalinasi merupakan salah satu cara untuk mengatasi kebutuhan air tawar.
Di dunia, kapasitas desalinasi total pada tahun 1971 adalah 1,5 juta m3/hari dan
pada tahun 1995, kapasitas total ini meningkat hingga 20,3 juta m3/hari dengan
11.000 instalasi yang tersebar di 120 negara di dunia. Sekitar 50% kapasitas ini
berada di Teluk Persia dengan 30%-nya terdapat di Arab Saudi. Plant desalinasi
terbesar terletak di kompleks Al Jubail Phase II yang telah berproduksi sejak tahun
1982 menghasilkan hampir 1 juta m3/hari. Proses membran misalnya RO (reverse
osmosis) dapat digunakan pada proses desalinasi air laut dan air payau untuk
menghasilkan air tawar. Di Amerika Serikat terdapat sekitar 1900 unit desalinasi
dengan kapasitas lebih dari 15% produksi dunia. Sebagian besar produksi dilakukan
dengan menggunakan proses membran Reverse Osmosis khususnya untuk
pengolahan air payau maupun air permukaan (Semiat, 2000).

19
Prinsip kerja proses ini merupakan kebalikan dari proses osmosis biasa.
Pada proses osmosis biasa terjadi perpindahan dengan sendirinya dari cairan yang
murni atau cairan yang encer ke cairan yang pekat melalui membran semi-
permeable. Adanya perpindahan cairan murni atau encer ke cairan yang pekat pada
membran semi-permeable menandakan adanya perbedaan tekanan yang disebut
tekanan osmosis. Fenomena tersebut membuat para ahli berpikir terbalik,
bagaimana caranya agar dapat memisahkan cairan murni dari komponen lainnya
yang membuat cairan tersebut bersifat pekat. Dengan penambahan tekanan pada
larutan yang pekat, ternyata cairan murni dapat melalui membran semi-
permeable yang nerupakan kebalikan dari proses osmosis. Atas dasar tersebut
teknologi ini disebut reverse osmosis (osmosis terbalik).
Kriteria untuk kerja membran bisa dilihat dari derajat impermeabilitas, yaitu
seberapa baik membran menolak aliran dari larutan pekat; dan dari derajat
permeabilitasnya, yaitu berapa mudahnya material murni melalui aliran menembus
membran. Membran selulosa asetat merupakan bahan membran yang baik dari segi
impermeabilitas dan permeabilitasnya. Bahan membran lainnya yaitu etyl-
cellulose, polyvinyl alcohol, methyl polymetharcylate dan sebagainya.
Beberapa sistem reverse-osmosis yang sering digunakan, yaitu:
1. Tubular, dibuat dari keramik, karbon atau beberapa jenis plastik berpori. Bentuk
tubular ini mempunyai diameter bagian dalam (inside diameter) yang bervariasi
antara 1/8” (3,2mm) sampai dengan sekitar 1” (25,4mm).
2. Hollow fiber
3. Spiral wound
4. Plate and frame
Pada proses pemisahan menggunakan RO, membran akan mengalami
perubahan karena memampat dan menyumbat (fouling). Pemampatan atau fluks
merosot itu serupa dengan perayapan plastik/logam ketika terkena beban tegangan
kompresi. Makin besar tekanan dan suhu biasanya membran makin mampat dan
menjadi tidak reversible. Normalnya membran bekerja pada suhu 21-35 derajat
Celcius. Fouling membran dapat diakibatkan oleh zat-zat dalam air baku seperti
kerak, pengendapan koloid, oksida logam, bahan organik dan silika. Oleh sebab
itu cairan yang masuk ke proses reverse-osmosis harus terbebas dari partikel-

20
partikel besar agar tidak merusak membran. Pada prakteknya, cairan sebelum
masuk ke proses reverse-osmosis dilakukan serangkaian pengolahan terlebih
dahulu, biasanya dilakukan pretreatment dengan koagulasi dan flockulasi yang
dilanjutkan dengan adsorbsi karbon aktif dan mikrofiltrasi.
Pada suatu saat membran akan mengalami kotor, akibat dari adanya
material-material yang tidak bisa lewat. Hal ini yang menyebabkan tersumbatnya
membran. Kotoran yang terbentuk gumpalan kotoran, kerak atau hasil proses
hidrolisa. Untuk mengembalikan kekondisi semula dilakukan pembersihan dengan
menggunakan larutan pembersih yang khusus. Bahan ini bisa melarutkan kotoran
tetapi tidak merusak membran yang biasanya terbuat dari enzim. Proses pencucian
dilakukan dengan meresirkulasi larutan pencuci ke membran selama kurang lebih
45 menit.
Keuntungan metode RO berdasarkan kajian ekonomi antara lain:
 Untuk umpan dengan padatan terlarut total di bawah 400 ppm, RO merupakan
perlakuan yang murah.
 Untuk umpan dengan padatan terlarut total di atas 400 ppm, dengan perlakuan awal
penurunan padatan terlarut total sebanyak 10% dari semula, RO lebih
menguntungkan dari proses deionisasi.
 Untuk umpan dengan konsentrasi padatan terlarut total berapapun, disertai dengan
kandungan organik lebih dari 15 g/l, RO sangat baik untuk praperlakuan proses
deionisasi.
 RO sedikit berhubungan dengan bahan kimia sehingga lebih praktis.
Desalinasi merupakan salah satu cara untuk mengatasi kebutuhan air tawar.
Di dunia, kapasitas desalinasi total pada tahun 1971 adalah 1,5 juta m3/hari dan
pada tahun 1995, kapasitas total ini meningkat hingga 20,3 juta m3/hari dengan
11.000 instalasi yang tersebar di 120 negara di dunia. Sekitar 50% kapasitas ini
berada di Teluk Persia dengan 30%-nya terdapat di Arab Saudi. Plant desalinasi
terbesar terletak di kompleks Al Jubail Phase II yang telah berproduksi sejak tahun
1982 menghasilkan hampir 1 juta m3/hari. Proses membran misalnya RO (reverse
osmosis) dapat digunakan pada proses desalinasi air laut dan air payau untuk
menghasilkan air tawar. Di Amerika Serikat terdapat sekitar 1900 unit desalinasi
dengan kapasitas lebih dari 15% produksi dunia. Sebagian besar produksi dilakukan

21
dengan menggunakan proses membran RO khususnya untuk pengolahan air payau
maupun air permukaan (Semiat, 2000).
Saat ini proses RO mulai menggantikan proses distilasi untuk menghasilkan
air tawar misalnya di daerah-daerah gurun. Indonesia sendiri memiliki potensi
untuk menggunakan proses membran sebagai sarana desalinasi, terutama
mengingat banyaknya sumber air tawar yang kini mulai terintrusi air laut sehingga
berubah menjadi air payau misalnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan
Surabaya. Seperti telah disebut sebelumnya, negara-negara lain seperti Arab Saudi
dan Amerika Serikat telah memiliki unit desalinasi air payau berbasis membran.
Beberapa unit desalinasi di Arab Saudi terletak di Buwayb dan Salbukh, sementara
di Amerika, berlokasi di Sanibel Island dan Florida. Unit Buwayb memiliki
kapasitas sebesar 45.000 ton/hari, menggunakan modul spiral wound dengan
tingkat perolehan 89,9% dan konsumsi energi total 3,6 kWh/ton produk. Adapun
Salbukh memiliki kapasitas 38.500 ton/hari, menggunakan modul membran hollow
fiber, dengan tingkat perolehan 88,2 % dan konsumsi energi total 3,12 kWh/ton
produk. Kedua unit di atas dioperasikan dengan tekanan rendah yaitu 27,6 bar
(Rautenbach and Albrecht, 1989). Unit Sanibel Island berkapasitas 13.600 m3/hari
dengan tingkat perolehan 80% dan rejeksi garam sebesar 86,3% (umpan 3.300 ppm
dan produk 450 ppm) (Sourirajan, 1985).Beberapa penelitian telah pula dilakukan
untuk mengkaji penerapan teknologi ini di Indonesia. Pada penelitian tersebut
digunakan air payau dari daerah Mundu dan Bandengan di Cirebon (konsentrasi
umpan berkisar antara 1700 – 1850 ppm) dan dihasilkan permeat dengan
konsentrasi 30 ppm, rejeksi garam 99,2%, fluks permeat 19 LMH pada tekanan
operasi 15 bar (Sulistiyorini dan Rahayu, 1999). Penerapan teknologi ini dalam
skala yang cukup signifikan juga telah dilakukan di sejumlah industri di Indonesia.
Potensi lainnya adalah pengolahan air gambut yang tersebar di Kalimantan Tengah,
Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Kendala utama yang
dihadapi masyarakat di daerah ini adalah ketersediaan air bersih yang layak
dikonsumsi sebagai air minum. Sumber yang paling mungkin hanyalah air hujan
atau dari hulu sungai yang berpuluh-puluh kilometer jaraknya karena itu perlu
diupayakan teknologi yang dapat mengolah air gambut menjadi air bersih, dimana
hal ini dapat diatasi dengan teknologi RO.

22
2.4.4 Membran Fouling
Hampir sama seperti mekanisme filtrasi, pada waktu tertentu membran pun
akan mengalami clogging yang dalam membran disebut fouling. Yaitu peristiwa
tersumbatnya pori-pori membran yang mengurangi efektifitas membran dalam
memisahkan senyawa (Tchobanoglous,2003).

Gambar II. 6 Tiga Tipe Fouling pada Membran (a) pore norrowing (b) pore
plugging (c) pembentukan gel/cake

Fouling dapat disebabkan oleh mineral-mineral yang terpresipitasi. Beberapa


senyawa yang menyebabkan terjadinya fouling adalah garam, silika dan bahan-
bahan organik.
2.5 Advance Oxidation Process (AOP)
Ada berbagai macam senyawa organik yang terdeteksi dalam air limbah
industri dan kota. Beberapa dari senyawa ini (baik bahan kimia organik sintetis dan
zat alami) menimbulkan masalah berat dalam sistem pengolahan biologis karena
sifat mereka yang resisten dan sulit terdegradasi oleh mikroba. Senyawa-senyawa
ini biasanya memberikan efek toksik pada mikroba. Akibatnya, penggunaan
teknologi alternatif untuk mengolah limbah tersebut membutuhkan perhatian yang
besar. Teknologi ini bertujuan untuk mengubah atau memineralisasi molekul
refraktori menjadi senyawa yang lebih biodegradable. Diantaranya adalah Advance
Oxidation Processes (AOPs) yang telah digunakan untuk pengolahan air limbah
yang mengandung senyawa organik yang bandel seperti pestisida, surfaktan, zat
warna, dan farmasi. Selain itu, AOPs telah berhasil digunakan sebagai metode
pretreatment untuk mengurangi konsentrasi senyawa organik beracun yang
menghambat pengolahan air limbah dengan proses biologis (Stasinakis, 2008).

23
Mekanisme utama AOPs adalah menghasilkan radikal bebas yang sangat
reaktif. Radikal hidroksil (HO•) efektif dalam menghancurkan bahan kimia organik
karena mereka elektrofil yang reaktif yang bereaksi dengan cepat dan nonselektif
dengan hampir semua senyawa organik yang kaya elektron. Mereka memiliki
potensi oksidasi 2,33 V dan menunjukkan tingkat yang lebih cepat dari reaksi
oksidasi dibandingkan dengan oksidan konvensional seperti H2O2 atau KMnO4
(Gogate dan Pandit, 2004). Setelah dihasilkan, radikal hidroksil tersebut dapat
menyerang senyawa organik dengan penambahan radikal (Persamaan. 1), hidrogen
abstraksi (Persamaan. 2) dan transfer elektron (Persamaan. 3) (SES, 1994). Dalam
reaksi berikut, R digunakan untuk menggambarkan senyawa organik.
R + HO •→ ROH (1)
R + HO •→ R • +H2 O (2)
Rn + HO • → Rn−1 + OH − (3)
2.6 Zinc Oxide (ZnO)
ZnO memiliki efisiensi Mekanisme dimulai dengan iluminasi cahaya
kemudian terjadi penyerapan foton oleh semikonduktor, dimana jika energi yang
diberikan searah atau lebih besar dari celah energi ZnO maka akan tejadi eksitasi
elektron dari pita valensi menuju pita konduksi yang menghasilkan pasangan
elektron dan hole. Selanjutnya pasangan elektron dan hole mengambil peran dalam
fotokatalitik dimana lubang yang ditinggalkan elektron pada pita valensi akan
beraksi dengan air membentuk OH• dan elektron pada pita konduksi akan bereaksi
dengan O2. Reaksi fotokatalitik ZnO dapat dilihat pada persamaan berikut:
ZnO + hv  ZnO (e cb- + h vB+)
h vb+ + H2O  H+ + OH-
h vb+ + OH-  OH•
e cb- + O2  •O2-
2O2-• + 2H2O  2OH• + 2OH- + O2
2.7 Selulosa Asetat
Selulosa asetat merupakan nama dagang dari selulosa etanoat. Senyawa
yang dibuat dengan mengolah selulosa (serta kapas atau pulp kayu) dengan
campuran anhidrat etanoat, asam etanoat, dan asam sulfat pekat. Selulosa dalam
kapas direaksikan dengan etanoil dan ketika larutannya direaksikan dengan air,
24
selulosa etanoat terbentuk sebagai endapan putih. Selulosa asetat digunakan sebagai
lak, kaca tak hancur, pernis, dan serat (Daintith, 1994).
Selulosa asetat adalah bahan membran klasik yang digunakan oleh pelopor
teknologi membran modern untuk menciptakan membran berkulit. Bahan bakunya
adalah selulosa, yang merupakan polimer dari β-1, unit glukosa 4 linked. Satu
kelompok primer dan dua hidroksil sekunder dan oksigen β-glukosidik oksigen
berada dalam posisi ekuatorial. Selulosa dan turunannya umumnya linear, rodlike,
dan molekul yang agak fleksibel, yang dianggap sebagai karakteristik yang cukup
penting untuk aplikasi RO dan UF. Sumber tradisional utama. selulosa adalah bubur
kayu atau bahan katun, walaupun sudah ada beberapa kepentingan baru dalam
selulosa kristal mikro, yang dimodifikasi secara kimia pulp kayu. Hal ini mungkin
sangat berguna ketika distribusi berat molekul sempit dan sumber yang relatif murni
dari selulosa yang dibutuhkan.
Membran selulosa asetat mempunyai karakteristik hidrofilik yang sangat
mempengaruhi terjadinya fouling, dan mempunyai daya tahan yang baik terhadap
klorin dan larutan solven. Membran selulosa asetat (regenerated) yang dihidrolisa
dari selulosa asetat mempunyai pningkatan yang signifikan terkait dengan daya
tahan terhadap solven dan stabilitas panasnya.
Ada beberapa keuntungan penggunaan selulosa asetat dan turunannya
sebagai bahan membran:
1. Hidrofilik, yang sangat penting dalam meminimalkan fouling membran.
2. Berbagai ukuran pori dapat diproduksi, dari RO ke MF, dengan fluks yang cukup
tinggi, kombinasi ini jarang diduplikasi dengan bahan membran lainnya
3. Membran selulosa asetat lebih mudah untuk diproduksi
4. Biaya rendah (Cheryan, 1998)

Gambar II. 7 Rumus Struktur Senyawa Selulosa Asetat


25
Sumber: Liu, 2010
2.7 Karakterisasi Membran
2.7.1 Fluks dan Rejeksi
Kriteria penting dalam menentukan kinerja membran sebagai alat pemisah adalah
fluks dan rejeksi (Radiman dkk, 2002). Permeabilitas atau fluks yang mengalir
melalui membran didefinisikan dengan jumlah volume permeat yang melewati
membran per satuan luas permukaan per satuan waktu.
J = V/ A. t …………………………………………………………........…….
(2-1)
Dengan:
J = nilai fluks (L.m-2.jam-1)
t = waktu (hari)
V= volume permeat (L)
A= Luas permukaan membran (m2)
Harga fluks menunjukkan kecepatan alir permeat saat melewati membran. Harga
fluks ini sangat tergantung pada jumlah dan ukuran pori-pori membran.
Permselektivitas atau efisiensi pemisahan adalah kemampuan membran untuk
meloloskan spesi tertentu dan menahan spesi yang lain (Mulder, 1996).
Permselektivitas biasanya dinyatakan dengan rejeksi (R) yang menunjukkan harga
fraksi konsentrasi zat terlarut yang tertahan oleh membran.
R= [(Cf – Cp)/Cf] x 100% ………………………………………………….. (2-2)
Dengan:
R = koefisien rejeksi(%)
Cp= konsentrasi zat terlarut dalam permeat
2.7.2 Scanning Electron Microscope (SEM)
Salah satu cara untuk mengetahui morfologi membran adalah dengan uji
SEM. Dengan uji ini dapat diketahui struktur permukaan dan penampang melintang
suatu polimer menggunakan mikroskop elektron. Selain itu, SEM juga dapat
mengetahui distribusi pori, geometri pori, ukuran pori dan porositas pada
permukaan (Mulder, 1996).
Prinsip kerja SEM dimulai dengan berkas elektron primer dengan energi
kinetik 1-25 kV mengenai sampel membran. Setelah mengenai membran elektron

26
tersebut direfleksikan atau dipancarkan. Elektron yang direfleksikan ini disebut
dengan elektron sekunder yang akan muncul dan menentukan image yang teramati
pada layar micrograph pada alat SEM (Mulder, 1996). Skema kerja SEM
ditunjukkan pada Gambar II.8

Gambar II. 8 Skema kerja SEM


Sumber: Mulder, 1996
2.7.3 Fourier Transform Infrared (FTIR)
Analisis FTIR bertujuan mengidentifikasi senyawa organik berdasarkan
pembacaan gugus fungsi yang dimiliki berupa spektrum. Hal ini terjadi karena
senyawa tersebut dapat menyerap radiasi elektromagnetik pada daerah inframerah
dengan panjang gelombang antara 0.78 sampai 1000 nm atau bilangan gelombang
dari 12800 sampai 10 cm-1. (Nur, 1989)
Metode FTIR ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu senyawa
yang belum diketahui, karena spektrum yang dihasilkan spesifik untuk senyawa
tersebut. FTIR merupakan instrumen standar untuk analisis secara kimia. FTIR
dapat memperlihatkan informasi dalam memprediksi dan mengidentifikasi gugus
fungsi yang ada dalam suatu senyawa. FTIR merupakan cara yang paling mudah
dan cepat untuk melihat senyawa-senyawa kimia pada permukaan membran. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan menganalisis spektrum-spektrum yang dhasilkan
dengan puncak-puncak yang dibentuk dari suatu gugus fungsi. (Fengel dan
Wegener, 1989)

27
2.8 Kinetika Laju Reaksi
Model kinetika Bohart-Adam digunakan dengan asumsi bahwa sorpsi yang
terjadi adalah proses yang kontinu dimana kesetimbangan tidak terjadi secara instan
dan laju sorpsi proposional dengan kapasitas sorpsi yang masih tersisa di sorben
(Perry dalam Kiran, 2008). Model kinetika Bohart Adam pertama kali digunakan
pada tahun 1920 dalam menganalisis tingkat adsorpsi klorin oleh arang dan
kapasitas serap sisa arang.
Persamana Bohart Adam digunakan sebagai persamaan model kinetika
membran fotokatalitik, dimana z =L sebagai ketebalan membran yang digunakan.
Dengan asumsi permeat menembus material membran (Gambar II.10), dapat
diperoleh persamaan (II-1) (Xu, dkk., 2013; Butt, 2000 dan Yelmida dkk., 2010):
dC kao C
=− (II-1)
dz v

Dengan menggunakan kondisi batas dimana:


a0
t = 0, maka = 1 → tidak ada zat yang masuk ke dalam membran
am
atau t 0 = C0 → Cz = 0
da0
= −ka0 C (II-2)
dt

Dimana a0 adalah kapasitas serap sisa, dan k adalah konstanta kinetika dari model
Bohart – Adam.
C
Jika Z = 0, maka =1
C0

Dari persamaan II-1 dan II-2 dapat diperoleh dasar model kinetika Bohart-Adam
sebagai berikut:
C z
ln ( C0 − 1) = ln [exp (ka0 v) − 1] − kC0 t (II-3)
t
𝑧
Jika exp 𝑘𝑎0 𝑣 lebih besar dari 1, persamaan II-3 menjadi persamaan II-4
a 1 C
t = C 0v z − kC ln ( C0 − 1) (II-4)
0 0

Persamaan II-4 disederhanakan menjadi persamaan II-5:


C z
ln ( C0 − 1) = 𝑘a0 v − kC0 t (II-5)
t

2.9 Penelitian Serupa yang telah Dilakukan


Nata de coco termasuk salah satu bahan baku yang dapat digunakan untuk
membuat selulosa asetat karena kandungan ligninnya yang sangat kecil sehingga

28
tidak membutuhkan proses penghilangan lignin dalam pembuatan selulosa asetat.
Penelitian Radiman (2014) membuktikan bahwa sintesis selulosa asetat
menggunakan bahan baku nata de coco dapat dilakukan. Selulosa asetat sintesis
yang didapat memiliki kadar asetil 39,6%. Lindu (2010) juga melakukan hal
serupa yaitu sintesis selulosa asetat menggunakan bahan baku nata de coco dan
didapatkan hasil kadar asetil 44,56%.

29
BAB 3 METODOLOGI
Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan dalam skala laboratorium
dengan membuat membran serat hollow dari sintesis selulosa asetat nata de coco
untuk mengolah limbah tekstil Salah satu parameter dalam limbah tekstil yang
diukur adalah zat warna Reactive Black 5. Uraian tahapan penelitian yang akan
dilaksanakan dapat dilihat pada Gambar III.1.

Mulai

Sintesis selulosa asetat dari nata de


coco (karakterisasi dengan kadar
asetil dan FTIR)

Pembuatan membran serat hollow (Karakteristisasi membran


SB/ZnO SEM, FTIR, fluks, rejeksi)

-Percobaan pengolahan limbah buatan serta menentukan


membran nanofiber SB/ZnO yang optimum (pH dan konsentrasi
ZnO yang optimum)
-Evaluasi kinerja membran (fluks, penyisihan warna, kinetika
laju reaksi)

Evaluasi kinerja membran


(fluks, rejeksi, COD, warna,
-Percobaan pengolahan limbah tekstil asli
TDS)
menggunakan membran nanofiber SB/ZnO
yang optimum
Mekanisme degradasi

Penentuan membran dan proses


pengolahan limbah optimal Laju kinetika dekolorisasi

Selesai
Gambar III. 1 Diagram Alir Penelitian

30
Pada Gambar III.1 dijelaskan alur penelitian yang dilakukan. Dimulai dari
sintesis selulosa asetat dari bahan baku nata de coco. Kemudian selulosa asetat yang
dihasilkan diuji dengan pengukuran kadar asetil dan FTIR. Selulosa asetat hasil
sintesis dibandingkan dengan selulosa asetat komersil. Jika hasilnya sudah sama
atau mendekati maka dilakukan tahap berikutnya yaitu pembuatan membran serat
hollow dengan variasi konsentrasi selulosa asetat dan konsentrasi ZnO sebagai zat
aditif nanopartikel. Membran serat hollow yang dihasilkan kemudian diuji
karakteristiknya dengan menggunakan SEM, FTIR, fluks dan rejeksi.
Setelah didapatkan formula larutan dope yang yang optimal untuk membran
maka dilakukan uji coba dengan limbah artifisial yang mengandung zat warna
Reactive Black 5 dengan konsentrasi 10 mg/l, 15 mg/l dan 20 mg/l. Kemudian
dengan melihat penurunan konsnetrasi zat warna maka dapat dicari laju kinetika
penyisihan yang tepat untuk membran.

3.1 Alat-Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi peralatan gelas dan
non gelas. Peralatan non gelas meliputi reaktor, autoclave (Jargens) untuk membuat
media air kelapa steril, neraca analitik type SBA-31 (Denver instrument company
AA-200), hot plate (Heidolph MR 2002), wet spinning untuk membuat membran,
inkubator untuk menyimpan bakteri selaman proses pembuatan nata de coco,
spektrofotometer (Thermo Spectronic 20) untuk mengukur absorbansi warna
larutan, analytical scanning electron microscope (JSM-6510LA) untuk melihat
morfologi membran, lemari pendingin, bunsen, botol semprot, pinset, lampu UV
untuk proses fotokatalitik, pH meter (pHep by HANNA), Spectrum One FT-IR
Spectrometer Merk Perkin Elmer, hot press untuk mengepress nata de coco, stirrer.
3.2 Bahan- Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi zat kimia untuk
pembuatan media steril untuk bakteri Acetobacter xilynum penghasil nata de coco,
Acetobacter xilynum, air kelapa untuk bahan baku membuat membran, pembuatan
membran SB menggunakan wet spinning, limbah artifisial.
Zat kimia yang digunakan, meliputi asam cuka, ammonium sulfat, gula,
NaOH p.a., NaOH teknis, asetat anhidrid p.a., dimethylformamide, zat warna

31
Reactive Black 5, nanopartikel ZnO diperoleh dari Sigma-Aldrich memiliki ukuran
rata-rata partikel 5 nm, alkohol, aquadest.

3.3 Metode Penelitian


Metode penelitian meliputi karakterisasi air limbah industri tekstil dan
karakterisasi membran hollow fiber ZnO serta percobaan pendahuluan untuk
memperoleh pH, jumlah nanopartikel ZnO serta efisiensi penyisihan warna yang
optimum. Membran dibuat dari bahan biopolimer SB. Pembuatan SB dari air
kelapa yang difermentasi menggunakan bakteri Acetobacter xylinum. Pembuatan
hollow fiber ZnO dilakukan dengan menggunakan alat wet spinning.

3.3.1 Pengeringan Nata de Coco


Nata de coco/bioselulosa dalam bentuk gel yang dihasilkan dari proses
fermentasi air kelapa, dicuci dengan air sampai pH netral, kemudian di rendam
dalam larutan NaOH 2% pada suhu 80-90ºC, selanjutnya dicuci kembali sampai
dengan pH netral (Gustiani dkk., 2009). Nata de coco yang dihasilkan, digunakan
untuk bahan baku pembuatan membran.
3.3.2 Pembuatan Selulosa Asetat Nata de Coco
Nata de coco yang telah kering diubah menjadi selulosa asetat melalui
proses asetilasi dan hidrolisis. Proses pembuatan selulosa asetat nata de coco
mencakup tiga tahap penting, yaitu tahap swelling dilakukan selama 1 jam dan 45
menit, tahap asetilasi dilakukan selama 20 jam dan tahap hidrolisis dilakukan
selama 20 jam (Radiman, 2014).
3.3.3 Karakterisasi Selulosa Asetat Nata de Coco
Karakterisasi selulosa asetat dapat dilakukan dengan penentuan kadar asetil
selulosa asetat. Karakterisasi selulosa asetat dilakukan dengan perbandingan
selulosa asetat komersil. Satu gram selulosa asetat nata de coco dikeringkan pada
suhu 105 ᴏC selama 2 jam, kemudian ditambahkan 40 ml etanol dan dipanaskan
selama 30 menit pada suhu 55 ᴏC. Kemudian ditambahkan 40 ml larutan NaOH dan
dipanaskan lebih lanjut selama 15 menit pada suhu yang sama. Campuran
didiamkan selama 3 hari pada suhu kamar dan kelebihan NaOH dititrasi dengan
HCl menggunakan indikator fenolftalein. Campuran didiamkan selama 1 hari untuk

32
dititrasi balik menggunakan NaOH sampai terbentuk warna merah. Blanko
diperlakukan sama dengan contoh selulosa asetat (Radiman, 2014). Kadar asetil
dilakukan dengan menghitung persamaan:
Kadar asetil (%) = [(D-C) Na + (A-B) Nb] x (F/W) ……………………… (3-1)
dengan:
A = volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi contoh
B = volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi blanko
C = volume HCl yang diperlukan untuk titrasi contoh
D = volume HCl yang diperlukan untuk titrasi blanko
Na = Normalitas HCl
Nb = Normalitas NaOH
F = 4,305 untuk kadar asetil dan 6,005 untuk kadar asam asetat
W = berat contoh
3.3.4 Pembuatan Serat Hollow
Selulosa asetat nata de coco yang dihasilkan dilarutkan terlebih dahulu
dengan dimethylformamide, diaduk homogen dengan variasi konsentrasi 28, 32 dan
36% w/v. Setelah larut tiap konsentrasi ditambahkan ZnO 50% w/w dengan variasi
volume penambahan 1 ml, 2 ml dan 3 mL. Setelah larutan larut sempurna dan
homogen, dibuat hollow fiber dengan cara larutan disuntikan dan dilewatkan ke
dalam koagulan selama 24 jam pada alat wet spinning.
3.3.5 Karakterisasi Membran SB/ZnO
Karakteristik dari membran SB/ZnO diantaranya mengamati parameter-
parameter seperti morfologi membran SEM dan FTIR. Evaluasi kinerja membran
SB/ZnO di antaranya mengamati parameter-parameter seperti dekolorisasi
(spektrofotometri), zat organik dan COD. Serat hollow yang dihasilkan
dikarakterisasi dengan dilakukan pengukuran partikel nano dan morfologi serat
menggunakan SEM serta karakterisasi SB menggunakan FTIR. Karakterisasi
kinerja fotokatalitik diperoleh dengan menghitung efisiensi penyisihan warna pada
limbah tekstil di Laboratorium Balai Besar Tekstil (BBT) menggunakan Standard
Methods for Examination Water and Wastewater.

33
3.3.6 Proses Pengolahan Limbah Cair Warna
Metodologi yang digunakan belum pernah digunakan oleh peneliti
sebelumnya, karena hasil dari pengembangan di laboratorium. Percobaan
pengolahan limbah melalui proses fotokatalitik SB/ZnO dilakukan terhadap air
limbah warna tekstil buatan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan zat
warna Reactive Black 5. Konsentrasi zat warna Reactive Black 5 yang digunakan
yaitu 10 mg/l, 15 mg/l, dan 20 mg/l.
3.4 Metode Analisis
3.4.1 Scanning Electron Microscope (SEM)
Penentuan morfologi membran dengan melihat struktur penampang
melintang membran, pori serta diameter serat pada membran dilakukan dengan
menggunakan analytical scanning electron microscope (JSM-6510LA). Pada teknik
SEM, berkas elektron dengan energi kinetik sebesar 1- 25 kV ditembakkan pada
sampel. Pada penelitian ini digunakan pembesaran 5000 x dan 10000x.

3.4.2 Fourier Transform Infrared (FTIR)


Spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared) merupakan spektroskopi
inframerah yang dilengkapi dengan transformasi Fourier untuk deteksi dan analisis
hasil spektrumnya. Inti spektroskopi FTIR adalah interferometer Michelson yaitu
alat untuk menganalisis frekuensi dalam sinyal gabungan. Spektrum inframerah
tersebut dihasilkan dari pentrasmisian cahaya yang melewati sampel, pengukuran
intensitas cahaya dengan detektor dan dibandingkan dengan intensitas tanpa sampel
sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrum inframerah yang diperoleh kemudian
diplot sebagai intensitas fungsi energi, panjang gelombang (mm) atau bilangan
gelombang (cm-1) (Marcott, C., 1986).
3.4.3 Fluks
Kinerja atau efisiensi proses membran ditentukan oleh dua parameter, yaitu
selektivitas dan fluks/laju permeasi (l/m2.jam atau kg/m2.jam atau mol/m2.jam)
atau koefisien permeabilitas (l/m2.jam.bar). Fluks adalah jumlah permeat yang
dihasilkan pada operasi membran per satuan luas permukaan membran dan
persatuan waktu. Fluks dapat dinyatakan sebagai berikut (Mulder, 1996):
J = V/ (A.t) ………………………………………..………………………. (3-2)

34
dimana:
J = fluks volume (l/m².jam)
t = waktu (jam)
A = luas permukaan membran (m²)
V = volume permeat (l)
3.4.4 Rejeksi
Selektivitas suatu membran merupakan ukuran kemampuan suatu membran
menahan atau melewatkan suatu molekul. Selektivitas membran tergantung pada
interaksi antar permukaan dengan molekul, ukuran molekul, dan ukuran pori
membran. Selektivitas umumnya dinyatakan oleh satu dari dua parameter, yaitu
retensi/rejeksi (R) atau faktor pemisahan (α).
Nilai R bervariasi antara 0 – 100%, dimana R 100% artinya terjadi
pemisahan sempurna, dalam hal ini membran semipermeabel ideal sedangkan nilai
R 0% berarti partikel semua lolos dari membran. Suatu fenomena umum yang
sering ditemukan dalam suatu proses pemisahan dengan membran, yaitu apabila
fluks membran besar maka rejeksi akan rendah, demikian pula sebaliknya jika
rejeksi tinggi maka fluks juga akan rendah. Biasanya membran yang baik memiliki
porositas permukaan yang tinggi (fraksi pori/luas permukaan) dan distribusi ukuran
pori yang sesempit mungkin, sehingga perlu dilakukan suatu optimasi terhadap
perlakuan membran untuk mendapatkan fluks dan rejeksi yang tinggi (Mulder,
1996).
3.4.5 Pengukuran Zat Warna Reactive Black 5
Untuk melihat degradasi warna dilakukan pengambilan sampel tiap 15
menit kemudian dianalisa dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang
gelombang maksimal 597 nm (Isik, M dan Delia Teresa Sponza, 2004). Nilai
absorbansi yang diperoleh, diolah dengan menggunakan persamaan dari kurva
kalibrasi zat warna Reactive Black 5.

35
DAFTAR PUSTAKA
Celekli, A., Gizem Ilgun, Huseyin Bozkurt, 2012, Sorption Equilibrium, Kinetic,
Thermodynamic, and Desorption Studies of Reactive Black 5 on Chara contraria,
Chemical Engineering Journal 191 (2012) 228-235.
Crittenden, John. 2005. Water Treatment: Principles and Design Second Edition. John
Wiley & Sons, Inc. New Jersey.
Ervan, Y. and Wenten, I.G., Study on the influence of applied voltage and feed
concentration on the performance of electrodeionization. Songklanakarin J. Sci.
Technol, 2002. 24: p. 955-963.
Friha, Ines, Mohamed Bradai, Daniel Johnson et.al, 2015, Treatment of textile
wastewater by submerged membrane bioreactor: In vitro bioassays for the
assessment of stress response elicited by raw and reclaimed wastewater. Journal of
Environmental Management 160 (2015) 184 – 192.
Gong R, Ding Y, Li M, Yang C, Liu H & Sun Y, 2005, Utilization of Powdered Peanut
Hull as Biosorben for removal of Anionics Dyes From Aqueous Solution, Journal
of dyes Pigment, 64, 187.
Guan, Guoqiang, Xing Yang, Rong Wang et.al., 2014, Evaluation of hollow fiber-based
direct contact and vacuum membrane distillation system using aspen process
simulation. Journal of Membrane Science 464 (2014) 127-139.
Gustiani, Srie, 2014, Pengolahan Efluen IPAL Industri Tekstil Menggunakan Membran
Nanofiber Selulosa Bakterial dengan Nanopartikel Ag dan TiO2, Disertasi Program
Studi Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Gustiani, S. dan Eriningsih, R., 2009, Proses Daur Ulang Limbah Cair Tekstil
Menggunakan Proses Membran Selulosa Bakterial dari Limbnah Tahu, Balai Besar
Tekstil.
Isik, M dan Delia Teresa Sponza, 2004, A Batch Kinetic Study on Decolorization and
Inhibition of Reactive Black 5 and Direct Brown 2 in An Anaerobic Mixed Culture,
Chemosphere 55 (2004) 119-128.
Jusuf, Gunawan. 2015. Blue Gold Emas Biru Sumber Nyawa Kehidupan (Tanggung
Jawab Bersama dalam Mengelola Sumberdaya Air Berkelanjutan). Jakarta: Berita
Nusantara.

36
Kiran, Bala, Anubha Kaushik. Cyanobacterial biosorption of Cr(VI): Application of two
parameter and Bohart-Adams models for batch and column studies. Chemical
Engineering Journal 144 (2008) 391-399.
Marcott, C., 1986, Material Characterization Hand Book vol. 10, Infrared Spektrokopy,
ASM International, Amerika.
Mondal, Mrinmoy, Sirshendu De, 2016, Treatment of textile plant effluent by hollow
fiber nanofiltration membrane and multi-component steady state modeling.
Chemical Engineering Journal 285 (2016) 304-318.
Mulder, M., 1996, Basic Principles of Membrane Technology, Kluwer Academic
Publishers Nederlands.
Ponnusamy, K, S. Kappachery, M.Thekeettle, 2013, Anti-biofouling property of vanillin
on Aeromonas hydrophila initial biofilm on various membrane surface.World J
Microbiol Biotechnol (2013) 29: 1695-1703.
Radiman, Cynthia L, G. Yuliani, 2014, Penggunaan Nata de Coco Sebagai Bahan
Membran Selulosa Asetat, Prosiding Simposium Nasional Polimer V, ISSN 1410-
8720.
Rautenbach, R. and Albrecht, R., Membrane Processes. 1989, Singapore: John Wiley &
Sons.
Saxena, S. and Bhardwaj, V. Tech Trends: Incerasing use of the membrane process.
http://www.nrwa.org/2001/publications/articles/TechTrends2nd.htm.
Semiat, R., Desalination: Present and Future. Water International, 2000. 25(1): p. 54-
65.
Shawabkeh RA, & Tutunji MF, 2003, Experimental Study and Modelling of Basic Dye
Sorption by Diatomceous Clay, Journal of Application Clay Science, 24, 111.
Sulistiyorini, D. and Rahayu, L.I.N., Desalinasi Air Payau Secara Reverse Osmosis
Tekanan Rendah. Laporan Penelitian Tugas Akhir Jurusan Teknik Kimia ITB,
1999.
Tchobanoglous, 2003, Wastewater Engineering Treatment and Reuse: McGraw Hill,
New York.
Widjajanti, Endang, Regina Tutik P, dan M. Pranjoto Utomo, 2011, Pola Adsorpsi Zeolit
Terhadap Pewarna Azo Metil Merah dan Metil Jingga, Prosiding Seminar Nasional

37
Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri
Yogyakarta.
Winston, W.S., Sirkat K.,1992, Membrane Handbook, Chapman & Hall, New York.
Yulina, Rizka, Srie Gustiani, Wulan Septiani, 2014, Pembuatan dan Karakterisasi Serat
Hollow dari Selulosa Bakterial dengan Nanopartikel ZnO untuk Pengolahan Air
Limbah Tekstil, Area Tekstil Vol. 29 No. 1, Juni 2014: 47-54.
Zheng, Yinping, Sanchuan Yu, Shi Shuai, Qing Zhou, et.al., 2013, Color removal and
COD reduction of biologically treated textile effluent through submerged filtration
using hollow fiber nanofiltration membrane. Desalination 314 (2013) 89-95.

38