Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH DEMAM THYPIOD

Disusun oleh : KELOMPOK 7

Kelas : S16A

Anggota Kelompok :

1. Rara Suci Rhamadhan (S16050)


2. Rika Nilamsari (S16051)
3. Riska Ayu Pratiwi (S16052)
4. Rizky Zulfiana (S16054)
5. Sari Malak Hanifah (S16055)
6. Satria Bagas Bayu Ramadhan (S16056)
7. Siska Bella Damayanti (S16057)
8. Siti Zumrotun Mufidah (S16058)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA

TAHUN AKADEMIK 2016/2017


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Lingkungan yang bersih adalah lingkungan yanhg sehat. Apabila lingkungan


sehat maka bakteri dan virus akan lebih sedikit berkembang biak disana. Begitupun
dengan bakteri salmonella typhi penyebab demam tifod akan lebih banyak terdapat
pada lingkungan yang kotor dan tingkat perilaku hidup bersih sehat sangat kurang
sehingga kuman tersebut akan banyak terdapat disana. Kurangnya menjaga
kebersihan lingkungan dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku hidup
bersih sehat akan menjadi bumerang bagi masyarakat itu sendiri, khususnya
lingkungan mereka akan lebih rentan terkena penyakit.
Demam tifoid menjadi masalah kesehatan, yang umumnya terjadi di negara yang
sedang berkembang karena akibat kemiskinan, kriminalitas dan kekurangan air bersih
yang dapat diminum. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang
disebabkan oleh Salmonella thypi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara
berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya
berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber
air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri pengolahan makanan yang
masih rendah (Simanjuntak, C.H, 2009).
Suatu penelitian epidemiologi di masyarakat Vietnam khususnya di delta Sungai
Mekong, diperoleh angka insidensi 198 per 100.000 penduduk dan di Delhi India
sebesar 980 per 100.000 penduduk. Pada beberapa dekade terakhir demam tifoid
sudah jarang terjadi di negara-negara industri, namun tetap menjadi masalah
kesehatan yang serius di sebagian wilayah dunia, seperti bekas negara Uni Soviet,
anak benua India, Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Afrika. Menurut WHO,
diperkirakan terjadi 16 juta kasus per tahun dan 600 ribu diantaranya berakhir dengan
kematian. Sekitar 70 % dari seluruh kasus kematian itu menimpa penderita demam
tifoid di Asia.
Berdasarkan laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI, pada tahun 2008,
demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap
di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15%,
urutan pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi
7,52%, urutan ketiga ditempati oleh DBD dengan jumlah kasus 77.539 dengan
proporsi 3,01% (Depkes RI, 2009).
Berdasarkan penelitian Cyrus H. Simanjuntak., di Paseh (Jawa Barat) tahun 2009,
insidens rate demam tifoid pada masyarakat di daerah semi urban adalah 357,6 per
100.000 penduduk per tahun. Insiden demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan
biasanyaterkait dengan sanitasi lingkungan; di daerah Jawa Barat, terdapat 157 kasus
per 100.000 penduduk sedangkan di daerah urban di temukan 760-810 per 100.000
penduduk.
Apabila demam tifoid tersebut tidak dideteksi dan diobati secara cepat dan tepat
dapat menyebabkan komplikasi yang berujuang pada kematian, seperti perdarahan
usus, kebocoran usus, infeksi selaput usus, renjatan bronkopnemonia (peradangan
paru), dan kelainan pada otak. Maka dari itu untuk mencegah terjadinya demam tifoid
dan menurunkan angka kejadian, harus memperhatikan sanitasi lingkungan, pola
makan yanjg sehat dan rajin mencuci tangan terutama sebelum dan setelah makan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari demam tifoid ?
2. Apa etiologi dari demam tifoid ?
3. Apa patofisiologi dari demam tifoid ?
4. Bagaimana gejala dan tanda demam tifoid?
5. Apa manifestasi klinis dari demam tifoid ?
6. Bagaimana penanganan atau pencegahan demam tifoid?
C. Tujuan
1 .Untuk mengetahui definisi dari demam tifoid.
2. Untuk mengetahui etiologi dari demam tifoid.
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari demam tifoid.
4. Untuk mengetahui gejala dan tanda demam tifoid.
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari demam tifoid.
6. Untuk mengetahui cara penanganan atau pencegahan demam tifoid
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Definisi
Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
kuman salmonella Thypi (Arief Maeyer, 1999 ). Tifoid adalah suatu penyakit
pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan
oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara oral
melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M.
1999).
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang
ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang
bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi nodus peyer di distal
ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002).
Tifoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi
Salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang
sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman
salmonella (Smeltzer & Bare, 2002). Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus
halus yang disebabkan oleh kuman Salmonella Thypi (Mansjoer, A, 2009).
Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A, B, C. Sinonim dari
penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis (Sudoyo, A.W., &
B. Setiyohadi, 2006). Tifoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, tifoid
disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus
abdominalis (Seoparman, 2007).
Demam tifoid (tifus abdominalis) atau lebih populer dengan nama
tifus, merupakan penyakit infeksi akut oleh kuman Salmonela typhi yang
menyerang saluran pencernaan. Penyakit demam tifoid ini masih banyak
dijumpai di negara berkembang seperti di beberapa negara Asia Tenggara dan
Afrika, terutama di daerah yang kebersihan dan kesehatan lingkungannya
kurang memadai.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa demam
tifoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh
salmonella type A, B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan
dan minuman yang terkontaminasi.

B. Etiologi Demam Tifoid


Penyebab dari demam thypoid yaitu :
1. 96 % disebabkan oleh Salmonella Typhi, basil gram negative yang bergerak
dengan bulu getar, tidak berspora mempunyai sekuran-kurangnya 3 macam
antigen, yaitu :
a. Antigen O (somatic terdiri dari zat komplek lipolisakarida)
b. Antigen (flagella)
c. Antigen VI dan protein membran hialin
2. Salmonella paratyphi A
3. Salmonella paratyphi B
4. Salmonella paratyphi C
5. Feces dan urin yang terkontaminasi dari penderita typus (Wong ,2003).

Kuman salmonella typosa dapat tumbuh di semua media pH 7,2 dan suhu 370C
dan mati pada suhu 54,40C (Simanjuntak, C. H, 2009). Demam typhoid timbul akibat
dari infeksi oleh bakteri golongan Salmonella yang memasuki tubuh penderita
melalui saluran pencernaan. Sumber utama yang terinfeksi adalah manusia yang
selalu mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit,baik ketika ia sedang sakit
atau sedang dalam masa penyembuhan.Pada masa penyembuhan, penderita pada
masih mengandung Salmonella spp didalam kandung empedu atau didalam ginjal.
Sebanyak 5% penderita demam tifoid kelak akan menjadi karier sementara,sedang 2
% yang lain akan menjadi karier yang menahun.Sebagian besar dari karier tersebut
merupakan karier intestinal (intestinal type) sedang yang lain termasuk urinarytype.
Kekambuhan yang yang ringan pada karier demam tifoid,terutama pada karier
jenisintestinal,sukar diketahui karena gejala dan keluhannya tidak jelas.

C. Patofisiologi
Kuman masuk ke dalam mulut melalui makanan atau minuman yang tercemar
oleh Salmonella (biasanya >10.000 basil kuman). Sebagian kuman dapat
dimusnahkan oleh asam HCL lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus. Jika
respon imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik, maka basil Salmonella
akan menembus sel-sel epitel (sel M) dan selanjutnya menuju lamina propia dan
berkembang biak di jaringan limfoid plak peyeri di ileum distal dan kelejar getah
bening mesenterika. KumanSalmonella typi masuk tubuh manusia melalui mulut
dengan makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnakan oleh asam
lambung. Sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque
peyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertrofi. Di tempat ini komplikasi
perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman Salmonella Typi kemudian
menembus ke lamina propia, masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe
mesenterial, yang juga mengalami hipertrofi. Setelah melewati kelenjar-kelenjar
limfe ini salmonella typi masuk ke aliran darah melalui ductus thoracicus.
Kuman salmonella typi lain mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus.
Salmonella typi bersarang di plaque peyeri, limpa, hati dan bagian-bagian lain
sistem retikuloendotelial. Semula disangka demam dan gejala-gejala toksemia pada
demam tifoid disebabkan oleh endotoksemia. Tapi kemudian berdasarkan penelitian
ekperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama
demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid. Endotoksin salmonella
typiberperan pada patogenesis demam tifoid, karena membantu terjadinya proses
inflamasi lokal pada jaringan tempat salmonella typi berkembang biak. Demam pada
tifoid disebabkan karena salmonella typi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan
penglepasan zat pirogen oleh zat leukosit pada jaringan yang meradang.
Jaringan limfoid plak peyeri dan kelenjar getah bening mesenterika mengalami
hiperplasia. Basil tersebut masuk ke aliran darah (bakterimia) melalui ductus
thoracicus dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotalial tubuh, terutama hati,
sumsum tulang, dan limfa melalui sirkulasi portar dari usus.
Hati membesar (hepatomegali) dengan infiltrasi limfosit, zat plasma, dan sel
mononuclear. Terdapat juga nekrosis fokal dan pembesaran limfa (splenomegali). Di
organ ini, kuman S. Thypi berkembang biak dan masuk sirkulasi darah lagi, sehingga
mengakibatkan bakterimia kedua yang disertai tanda dan gejala infeksi sistemik
(demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vaskuler, dan
gangguan mental koagulasi).
Pendarahan saluran cerna terjadi akibat erosi pembuluh darah di sekitar plak
peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia. Proses patologis ini dapat
berlangsung hinga ke lapisan otot, serosa usus, dan mengakibatkan perforasi usus.
Endotoksin basil menempel di reseptor sel endotel kapiler dan dapat mengakibatkan
komplikasi, seperti gangguan neuropsikiatrik kardiovaskuler, pernapasan, dan
gangguan organ lainnya. Pada minggu pertama timbulnya penyakit, terjadi
jyperplasia (pembesaran sel-sel) plak peyeri. Disusul kemudian, terjadi nekrosis pada
minggu kedua dan ulserasi plak peyeri pada minggu ketiga. Selanjutnya, dalam
minggu ke empat akan terjadi proses penyembuhan ulkus dengan meninggalkan
sikatriks (jaringan parut).
Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60
hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi
penderita tetap dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002).

D. Gejala dan Tanda Demam Tifoid


Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau
minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Kemudian
mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga berkembang
biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba. Gejala klinis demam tifoid
pada anak dapat bervariasi dari yang ringan hingga yang berat. Biasanya gejala pada
orang dewasa akan lebih ringan dibanding pada anak-anak. Kuman yang masuk ke
dalam tubuh anak, tidak segera menimbulkan gejala. Biasanya memerlukan masa
tunas sekitar 7-14 hari. Masa tunas ini lebih cepat bila kuman tersebut masuk melalui
makanan, dibanding melalui minuman.
Gejala klinik demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang
ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan gejala
yang ditimbulkan antara lain :
1. Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun
menjelang malamnya demam tinggi.
2. Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya
anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam
atau pedas.
3. Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di
hatidan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan
lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan,
akhirnya makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi
lewat mulut.
4. Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan
gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam
beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
5. Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas,
pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di
perut.
6. Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman
dengan berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah
seringkali terjadi gangguan kesadaran.

E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis demam tifoid pada anak seringkali tidak khas dan sangat
bervariasi yang sesuai dengan patogenesis demam tifoid. Spektrum klinis demam
tifoid tidak khas dan sangat lebar, dari asimtomatik atau yang ringan berupa panas
disertai diare yang mudah disembuhkan sampai dengan bentuk klinis yang berat baik
berupa gejala sistemik panas tinggi, gejala septik yang lain, ensefalopati atau timbul
komplikasi gastrointestinal berupa perforasi usus atau perdarahan. Hal ini
mempersulit penegakan diagnosis berdasarkan gambaran klinisnya saja.
Demam merupakan keluhan dan gejala klinis terpenting yang timbul pada semua
penderita demam tifoid. Demam dapat muncul secara tiba-tiba, dalam 1-2 hari
menjadi parah dengan gejala yang menyerupai septisemia oleh
karena Streptococcus atauPneumococcus daripada S. typhi. Sifat demam juga muncul
saat sore menjelang malam hari. Menggigil tidak biasa didapatkan pada demam tifoid
tetapi pada penderita yang hidup di daerah endemis malaria, menggigil lebih mungkin
disebabkan oleh malaria.Namun demikian demam tifoid dan malaria dapat timbul
bersamaan pada satu penderita.Sakit kepala hebat yang menyertai demam tinggi dapat
menyerupai gejala meningitis, di sisi lain S. typhi juga dapat menembus sawar darah
otak dan menyebabkan meningitis. Manifestasi gejala mental kadang mendominasi
gambaran klinis, yaitu konfusi, stupor, psikotik atau koma. Nyeri perut kadang tak
dapat dibedakan dengan apendisitis. Pada tahap lanjut dapat muncul gambaran
peritonitis akibat perforasi usus.

Pengamatan selama 6 tahun (1987-1992) di Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK


Unair/RSU Dr.Soetomo Surabaya terhadap 434 anak berumur 1-12 tahun dengan
diagnosis demam tifoid atas dasar ditemukannya S.typhi dalam darah dan 85% telah
mendapatkan terapi antibiotika sebelum masuk rumah sakit serta tanpa
memperhitungkan dimensi waktu sakit penderita, didapatkan keluhan dan gejala
klinis pada penderita sebagai berikut : panas (100%), anoreksia (88%), nyeri perut
(49%), muntah (46%), obstipasi (43%) dan diare (31%). Dari pemeriksaan fisik
didapatkan kesadaran delirium (16%), somnolen (5%) dan sopor (1%) serta lidah
kotor (54%), meteorismus (66%), hepatomegali (67%) dan splenomegali (7%). Hal
ini sesuai dengan penelitian di RS Karantina Jakarta dengan diare (39,47%), sembelit
(15,79%), sakit kepala (76,32%), nyeri perut (60,5%), muntah (26,32%), mual
(42,11%), gangguan kesadaran (34,21%), apatis (31,58%) dan delirium
(2,63%). Sedangkan tanda klinis yang lebih jarang dijumpai adalah disorientasi,
bradikardi relatif, ronki, sangat toksik, kaku kuduk, penurunan pendengaran, stupor
dan kelainan neurologis fokal. Angka kejadian komplikasi adalah kejang (0.3%),
ensefalopati (11%), syok (10%), karditis (0.2%), pneumonia (12%), ileus (3%),
melena (0.7%), ikterus (0.7%).
Berikut gejala Klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
a. Demam
Pada kasus–kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu:
1. Minggu I
Dalam minggu pertama penyakit keluhan gejala serupa dengan
penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu demam, nyeri kepala, pusing,
nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak
enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya
didapatkan suhu badan meningkat.
2. Minggu II
Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas dengan demam,
bradikardia relatif, lidah yang khas (kotor di tengah, tepi dan ujung merah
dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteroismus, gangguan mental
berupa somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang
ditemukan pada orang Indonesia.
3. Minggu III
Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur – angsur turun dan normal
kembali pada akhir minggu ketiga.
b. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas bau tidak sedap, bibir kering dan pecah –
pecah. Lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung ditemukan kemerahan ,
jarang ditemui tremor.Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut
kembung. Hati dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya
didapatkan konstipasi akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi
diare.
c. Gangguan keasadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam
yaitu apatis sampai samnolen. Jarang stupor, koma atau gelisah. Disamping
gejala–gejala yang biasanya ditemukan tersebut, mungkin pula ditemukan
gejala lain. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan bintik – bintik
kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit.Biasanya dtemukan alam
minggu pertama demam kadang – kadang ditemukan bradikardia pada anak
besar dan mungkin pula ditemukan epistaksis.
Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
urin/feses dari penderita tifus akut dan para pembawa kuman/karier. Empat F
(Finger, Files, Fomites dan fluids) dapat menyebarkan kuman ke makanan,
susu, buah dan sayuran yang sering dimakan tanpa dicuci/dimasak sehingga
dapat terjadi penularan penyakit terutama terdapat dinegara-negara yang
sedang berkembang dengan kesulitan pengadaan pembuangan kotoran
(sanitasi) yang andal (Sudoyo, A.W., & B. Setiyohadi. 2006). Masa inkubasi
demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasiantara 3-60 hari)
bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selamamasa inkubasi
penderita tetap dalam keadaan asimtomatis (soegijanto,S, 2002).

F. Pencegahan Demam Tifoid


Pencegahan dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan perjalanan
penyakit, yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang
sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin
yang dibuat dari strain Salmonella typhi yang dilemahkan. Di Indonesia telah
ada 3 jenis vaksin tifoid, kyaitu :
1. Vaksin oral Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang
diminum selang sehari dalam 1 minggu satu jam sebelum makan.
Vaksin ini kontraindiksi pada wanita hamil, ibu menyusui, demam,
sedang mengkonsumsi antibiotik. Lama proteksi 5 tahun.
2. Vaksin parenteral sel utuh : Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin
yakni, K vaccine (Acetone in activated) dan L vaccine (Heat in
activated-Phenol preserved). Dosis untuk dewasa 0,5 ml, anak 6 – 12
tahun 0,25 ml dan anak 1 – 5 tahun 0,1 ml yang diberikan 2 dosis
dengan interval 4 minggu. Efek samping adalah demam, nyeri kepala,
lesu, bengkak dan nyeri pada tempat suntikan. Kontraindikasi
demam,hamil dan riwayat demam pada pemberian pertama.
3. Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin
diberikan secara intramuscular dan booster setiap 3 tahun.
Kontraindikasi pada hipersensitif, hamil, menyusui, sedang demam dan
anak umur 2 tahun.
Indikasi vaksinasi adalah bila hendak mengunjungi daerah endemik, orang
yang terpapar dengan penderita karier tifoid dan petugas
laboratorium/mikrobiologi kesehatan.
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan cara mendiagnosa penyakit
secara dini dan mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat. Untuk
mendiagnosis demam tifoid perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ada 3
metode untuk mendiagnosis penyakit demam tifoid, yaitu :
1. Diagnosis klinik.
2. Diagnosis mikrobiologik/pembiakan kuman.
3. Diagnosis serologik.
Pencegahan sekunder dapat berupa :
1. Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui penigkatan usaha
surveilans demam tifoid.
2. Perawatan umum dan nutrisi yang cukup.
3. Pemberian anti mikroba (antibiotik) Anti mikroba (antibiotik) segera
diberikan bila diagnosa telah dibuat. pada wanita hamil, terutama pada
trimester III karena dapat menyebabkan partus prematur, serta janin mati
dalam kandungan. Oleh karena itu obat yang paling aman diberikan pada
wanita hamil adalah ampisilin atau amoksilin.
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi
keparahan akibat komplikasi. Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit
demam tifoid sebaiknya tetap menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas
tubuh tetap terjaga dan dapat terhindar dari infeksi ulang demam tifoid. Pada
penderita demam tifoid yang carier perlu dilakukan pemerikasaan
laboratorium pasca penyembuhan untuk mengetahui kuman masih ada atau
tidak.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh
salmonella tipe A, B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan
minuman yang terkontaminasi.
2. Demam typhoid timbul akibat dari infeksi oleh bakteri golongan Salmonella
yangmemasuki tubuh penderita melalui saluran pencernaan.
3. Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60
hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi
penderita tetap dalam keadaan asimtomatis.
4. Secara garis besar, gejala Tifoid adalah Demam lebih dari seminggu, Lidah kotor,
Mual Berat sampai muntah, Diare atau Mencret, Lemas, pusing, dan sakit perut,
Pingsan, Tak sadarkan diri.
5. Manifestasi klinis demam tifoid pada anak seringkali tidak khas dan sangat
bervariasi yang sesuai dengan patogenesis demam tifoid.
6. Pencegahan dilakukan secara primer, sekunder dan tersier.

B. Saran
1. Sebaiknya selalu menjaga kebersihan lingkungan, makanan yang dikonsumsi harus
higiene dan perlunya penyuluhan kepada masyarakat tentang demam tifoid.
2. Sebaiknya kita harus membiasakan diri untuk hidup sehat, biasakan untuk
mencuci tangan sebelum makan. Agar kuman salmonella tidak ikut tertelan masuk
ke dalam sistem pencernaan kita bersama makanan yang telah terkontaminasi.
DAFTAR PUSTASKA

Alan R. Tumbelaka. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam Pediatrics
Update. Cetakan pertama. 2003. Jakarta ;Ikatan Dokter Anak Indonesia: 37-46
Carolus, P.K Sint. 1994. Demam Tifoid. Jakarta: Salemba.
http://ejjariza.wordpress.com/2013/02/15/makalah-demam-tipoid/ di akses pada
tanggal 6 Oktober 2013
http://modulkesehatan.blogspot.com/2012/12/makalah-demam-typhoid.html di akses
pada tanggal 6 Oktober 2013
http://nurserifa.blogspot.com/2012/12/makalah-demam-thypoid.html di akses pada
tanggal 6 Oktober 2013
Widodo Darmowandoyo. Demam Tifoid. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak
Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi pertama. 2002. Jakarta ;Bagian Ilmu Kesehatan
Anak FKUI: 367-375