Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gastroenteritis adalah imflamasi pada lapisan membran gastrointestinal
disebabkan oleh berbagai varian entero pathogen yang luas yaitu bacteria, virus
dan parasit. Manifestasi klinis utama yautu diare dan muntah yang menentukan
jenis terapi.
Diare adalah buang air besar (defekasi dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat),kandungan air tinja lebih bnyak dari biasanya
lebih dari 200 gram atau 200ml/24 jam.Definisi lain memakai criteria
frekuensi,yaitu buang air encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar
tersebut dapat/tanpa disretai lender dan darah.(Sudoyo,2007:408)
B. Tujuan
1. Tujuan_umum
Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan Diare Akut
2. Tujuan_khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan:
a. Definisi penyakit Diare Akut
b. Etiologi penyakit Diare Akut
c. Patofisiologi penyakit Diare Akut
d. Manifestasi klinis penyakit Diare Akut
e. Pemeriksaan penunjang penyakit Diare Akut
f. Penatalaksanaan medis penyakit Diare Akut
g. Komplikasi penyakit Diare Akut
h. Konsep Dasar Keperawatan dari Diare Akut

1
C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang sebelumnya, adapun rumusan masalahnya
yaitu:
1. Apakah yang dimaksud dengan Akalasia?
2. Apakah etiologi dari Akalasia?
3. Bagaimana patofisiologi dari Akalasia?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari Akalasia?
5. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari Akalasia?
6. Bagaimana penatalaksanaan dari Akalasia?
7. Apa saja komplikasi dari Akalasia?
8. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan dengan Akalasia?

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Definisi
Gastroenteritis adalah buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja
yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya, untuk neonotus bila
lebih dari 4 kali dan untuk anak lebih dari 3 kali (Hasan R, 1998). Dan terjadi
secara mendadak berlangsung 7 hari dari anak yang sebelumnya sehat
(Mansjoer, 2000).
Diare ialah frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih
dari 3 kali pada anak; konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat
pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja. (Ngastiyah, 2005 : 224)
Diare Akut adalah diare awalnya mendadak dan berlangsung
singkat,dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari.
B. Etiologi
Menurut Ngastiyah (2005) penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa
faktor:
1. Faktor Infeksi
a. Infeksi enterial
Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab diare
pada anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut:
1) Infeksi virus : Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis),
Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain.
2) Infeksi bakteri: vibrio, Ecoli, salmonella, shigella.
3) Infeksi parasit: Cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongyloides),
protozoa (entamoeba hystolytica, giardia lambilia, trichomonas
hominis), jamur (candida albicanas)

3
b. Infeksi pareteral
Infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti: otitis media akut,
tonsilitis/tonsilofaringitis, bronchopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.
Keadaan terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.
2. Faktor Malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat
Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, sukrosa), monosakarida
(intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang
terpenting dan tersering intoleransi laktosa.
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih
besar).
C. Patofisiologi
Menurut Ngastiyah (2005), mekanisme dasar yang menyebabkan diare
adalah sebagai berikut:
1. Gangguan Osmotik
Akibat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat, sehingga terjadi pergeseran
air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi usus yang berlebihan akan
merangsang untuk mengeluarkannya.
2. Gangguan Sekresi
Akibat rangsangan tertentu (toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi air dan elektrolit pada rongga usus dan terjadi diare
karena peningkatan isi usus.

4
3. Gangguan Motilitas
Hiperperistaltik akan menyebabkan kesempatan penyerapan makanan
berkurang sehingga timbul diare, penurunan peristaltik menimbulkan bakteri
tumbuh berlebihan sehingga dapat menimbulkan diare.
D. Manifestasi Klinis Diare
Sebagai manifestasi klinis dari diare (Hassan dan Alatas, 1998) adalah
sebagai berikut:
1. Mula-mula bayi cengeng, rewel, gelisah
2. Suhu tubuh biasanya meningkat
3. Nafsu makan berkurang atau tidak ada.
4. Feses cair biasa disertai lendir atau darah, warna tinja mungkin berubah
hijau karena bercampur dengan empedu.
5. Anus mungkin lecet karena tinja makin asam akibat asam laktat dari laktosa
yang tidak diabsorbsi usus dan sering defikasi.
6. Mumpah disebabkan lambung yang turut meradang atau gangguan
keseimbangan asam basa dan elektrolit.
7. Bila kehilangan banyak cairan muncul dehidrasi (berat badan turun, turgor
kulit kurang, mata dan ubun-ubun besar cekung, selaput lendir bibir dan
mulut kering).

5
Tabel 1.1 Penilaian Derajat Dehidrasi (Mansjoer, 2000).
Penilaian Ringan Sedang Berat
Keadaan umum baik, sadar gelisah, rewel lesu, lunglai atau
tidak sadar
Mata Normal cekung sangat cekung
Air mata ada tidak ada kering
Mulut dan lidah Basah Kering tidak ada, sangat
kering
Rasa haus minum biasa, tidak haus, ingin malas/tidak bisa
haus minum banyak minum
Turgor kulit Kembali kembali lambat kembali sangat
lambat
Hasil tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan, Bila ada satu tanda
pemeriksaan sedang, bila ada ditambah satu atau
tanda ditambah lebih tanda lain.
satu atau lebih
tanda lain.

E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Hassan dan Alatas (1998) pemeriksaan laboratorium pada diare
adalah:
a. Feses
1) Makroskopis dan Mikroskopis
2) pH dan kadar gula pada tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest,
bila diduga terdapat intoleransi gula.
3) Biakan dan uji resisten.

6
2. Pemeriksaan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan pH
dan cadangan alkalin atau dengan analisa gas darah.
3. Ureum kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4. Elektrolit terutama natrium, kalium dan fosfor dalam serium.
5. Pemeriksaan Intubasi deudenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau
parasit.
F. Komplikasi
Menurut Ngastiyah (2005) komplikasi dari daire ada :
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik)
2. Renjatan hipovolemik.
3. Hipokalemia(dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia,
perubahan elektrokardiogram)
4. Hipoglikemia.
5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim
lactase.
6. Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik.
7. Malnutrisi energi protein, (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik).
G. Derajat Dehidrasi
Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi
berdasarkan:
1. Kehilangan berat badan
a. Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2,5%.
b. Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%.
c. Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10%

7
2. Skor Mavrice King
Bagian tubuh Nilai untuk gejala yang ditemukan
Yang diperiksa 0 1 2
Keadaan umum Sehat Gelisah, cengeng Mengigau, koma,
Apatis, ngantuk atau syok
Kekenyalan kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang
Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Ubun-ubun besar Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Mulut Normal Kering Kering & sianosis
Denyut nadi/mata Kuat <120 Sedang (120-140) Lemas >40
Keterangan :
1) Jika mendapat nilai 0-2 dehidrasi ringan
2) Jika mendapat nilai 3-6 dehidrasi sedang
3) Jika mendapat nilai 7-12 dehidrasi berat
3. Gejala klinis
Gejala klinis
Gejala klinis
Ringan Sedang Berat
 Keadaan umum Baik (CM) Gelisah Apatis-koma
Kesadaran
 Rasa haus + ++ +++
 Sirkulasi Nadi N (120) Cepat Cepat sekali

 Respirasi Biasa Agak cepat Kusz maull

Pernapasan
 Kulit Agak cekung Cekung Cekung sekali

 Ubun-ubun Agak cekung Cekung Cekung sekali


Biasa Agak kurang Kurang sekali
Normal Oliguri Anuri
Normal Agak kering Kering/asidosis

8
H. Pentalaksanaan
Penatalaksanaan pada diare menurut Ngastiyah (2005) yaitu:
1. Pemberian cairan pada diare dengan memperhatikan derajad dehidrasinya
dan keadaan umum:
a. Belum ada dehidrasi
1) Oral sebanyak anak mau minum atau 1 gelas setiap diare. b) Pareteral
dibagi rata dalam 24 jam.
b. Dehidrasi ringan
1) 1 jam pertama: 25-50 cc/kg BB/oral atau intragastrik. b) Selanjutnya:
50-50 cc/kg BB/hari.
c. Dehidrasi sedang
1) jam pertama 50-100 ml/kg BB/oral intragastrik b) Selanjutnya 125
ml/kg BB/hari
d. Dehidrasi berat
1) Untuk anak 1 bulan sampai 2 tahun dengan berat badan 3-10 kg.
2) 1 jam pertama: 40 ml/kg BB/jam atau 10 tetes/kg BB/menit (dengan
infus 15 tetes) atau 13 tetes/kg.BB/menit (dengan infus 1ml = 20
tetes).
3) 7 jam kemudian: 12 ml/kg BB/ jam atau 3 tetes/kg BB/menit (dengan
infus 1 ml = 15 tetes)
4) 16 jam berikut: 125 ml/kg BB oralit atau intragastrik, bila anak tidak
mau minum, teruskan intra vena 2 tetes/ kg BB/ menit (1 ml = 15 tetes)
atau 3 tetes/ kg BB/ menit (1ml = 20 tetes).
2. Pengobatan dietetic
a. Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas satu tahun dengan berat
badan kurang dari 7 kg jenis makanan yang diberikan:
1) Susu (ASI atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan
asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, almiron, atau sejenis lainnya).

9
2) Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim) bila
tidak mau minum susu karena di rumah tidak biasa.
3) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan
misalnya: susu yang mengandung laktosa atau asam lemak yang
berantai sedang atau tidak jenuh.
b. Untuk anak di atas 1 tahun dengan berat badan lebih dari 7 kg jenis
makanannya: makanan padat, cair atau susu sesuai dengan kebiasaan di
rumah.
3. Obat-obatan
Prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang melalui tinja
dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan
glukosa karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras, dan sebagainya).
a. Obat anti sekresi
1) Asetosal: dosis 25 ml/ tahun (minimum 30 mg). b) Klorpromazin:
dosis 0,5 – 1 mg/kg BB/ hari
b. Obat anti diare: kaolin, pectin, charcoal, tabonal.
c. Antibiotik

10
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas pasien
Terdiri dari : Nama,Umur, Alamat, Jenis Kelamin, Agama, Status,
Pendidikan Terakhir, Pekerjaan.
2. dentitas Penanggung Jawab
Terdiri dari : Nama, Umur, Alamat, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Hubungan
dengan pasien.
3. Pola Fungsi
a. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
1) Kelelelahan, kelemahan atau malaise umum
2) Insomnia, tidak tidur semalaman karena diare
3) Gelisah dan ansietas
b. Sirkulasi:
Tanda:
1) Takikardia (reapon terhadap dehidrasi, demam, proses inflamasi dan
nyeri)
2) Hipotensi
3) Kulit/membran mukosa : turgor jelek, kering, lidah pecah-pecah
c. Integritas ego:
Gejala:
1) Ansietas, ketakutan,, emosi kesal, perasaan tak berdaya
Tanda:
1) Respon menolak, perhatian menyempit, depresi

11
d. Eliminasi:
Gejala:
1) Tekstur feses cair, berlendir, disertai darah, bau anyir/busuk.
2) Tenesmus, nyeri/kram abdomen
Tanda:
1) Bising usus menurun atau meningkat
2) Oliguria/anuria
e. Makanan dan cairan:
Gejala:
1) Haus
2) Anoreksia
3) Mual/muntah
4) Penurunan berat badan
5) Intoleransi diet/sensitif terhadap buah segar, sayur, produk susu,
makanan berlemak
Tanda:
1) Penurunan lemak sub kutan/massa otot
2) Kelemahan tonus otot, turgor kulit buruk
3) Membran mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut
f. Hygiene:
Tanda:
1) Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri
2) Badan berbau
g. Nyeri dan Kenyamanan:
Gejala:
1) Nyeri/nyeri tekan kuadran kanan bawah, mungkin hilang dengan
defekasi
Tanda:
1) Nyeri tekan abdomen, distensi.

12
h. Keamanan:
Tanda:
1) Peningkatan suhu pada infeksi akut,
2) Penurunan tingkat kesadaran, gelisah
3) Lesi kulit sekitar anus
i. Seksualitas
Gejala:
1) Kemampuan menurun, libido menurun
j. Interaksi sosial
Tanda:
1) Penurunan aktivitas social
2) Penyuluhan/pembelajaran:
Gejala:
1) Riwayat anggota keluarga dengan diare
2) Proses penularan infeksi fekal-oral
3) Personal higyene
4) Rehidrasi
(Doenges dkk. 2000)
B. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan
muntah serta intake terbatas (mual)
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi
nutrien dan peningkatan peristaltik usus
3. Resko gangguan Integritas Kulit perianal berhubungan dengan peningkatan
freuensi BAB (Diare)

13
C. Intervensi Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan
muntah serta intake terbatas (mual)
Tujuan :
a. Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal
b. Mempertahankan volume cairan adekuat
c. Devisit cairan dan elektrolit teratasi
Intervensi :

Mandiri:
a. Observasi tanda-tanda vital

Rasional : Hipotensi, takikardia, demam dapat menunjukkan respons


terhadap dan/atau efek kehilangan cairan

b. Observasi tanda-tanda dehidrasi


Rasional : Populasi feses yang cepat melalui usus mengurangi absorbsi air
volume sirkulasi yangrendah menyebabkan kekeringan membran
mukosa dan rasa haus.

Kolaborasi:

a. Pemeriksaan laboratorium sesuai program; elektrolit, Ht, pH, serum


albumin
Rasioanal : Menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi.
Berikan obat sesuai
b. Pemberian cairan dan elektrolit sesuai protokol (dengan oralit dan cairan
parenteral)
Rasional : Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan
penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan/anemia

14
c. Pemberian obat sesuai indikasi Antidiare Antibiotik
Rasional : Menurunkan kehilangan cairan dari usus.Anti Mimetik, misal:
Trimetobenzamida (tigan), hidoksin (vistar)

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien
dan peningkatan peristaltik usus

Tujuan :

a. Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi


b. Berat badan dalam batas normal
Intervensi :

Mandiri:
a. Kaji pola nutrisi
Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
b. Berikan diet dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : Memenuhi kebutuhan nutrisi

Kolaborasi:

a. Pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi


Rasional : Mengistirahatkan kerja gastrountestinal dan
mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut

b. Berikan obat sesuai indikasi


Rasional : Antikolinergik diberikan 15-30 menit sebelum makan
memberikan penghilangan kram dan diare, menurunkan
motilitas gaster.

3. Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan peningkatan


frekwensi BAB (diare)
Tujuan :

Gangguan integritas kulit teratasi

15
Intervensi :
a. Kaji kerusakan kulit/iritasi setiap buang air besar
Rasional : Mengetahui seberapa jauh kerusakannya

b. Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur


Rasional : Kebersihan lingkungan dan tempat tidur dapat mengurangi
terjadinya iritasi dan infeksi

c. Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila


basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)

Rasional : Suhu yang lembab mempercepat terjadinya iritasi

d. Atur posisi atau duduk dengan selang 2-3 jam


Rasional : Pengaturan posisi dapat membantu meningkatkan rasa nyaman
D. Implementasi Keperawatan

Implementasi disesuaikan dengan intervensi yang sudah dibuat.

E. Eavaluasi
1. Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal,
Mempertahankan volume cairan adekuat, Devisit cairan dan elektrolit
teratasi.
2. Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi, Berat badan dalam batas normal.
3. Gangguan integritas kulit teratasi

16
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Gastroenteritis adalah buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja
yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya, untuk neonotus bila
lebih dari 4 kali dan untuk anak lebih dari Dan terjadi secara mendadak
berlangsung 7 hari dari anak yang sebelumnya sehat
B. Saran
Adapun saran dari penulis yakni, pembaca dapat memahami dan mengerti
tentang asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan eliminasi (Diare) dan
dapat bermanfaaat dan berguna bagi pembaca dan masyarakat umumnya

17
DAFTAR PUSTAKA

Betz Cecily L, Sowden Linda A. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatik,


Jakarta, EGC
Doenges, M. E. , Moore House, M. F. , Geister, A. C. 2000. Rencana Asuhan
Keperawatan Edisi 3. Alih Bahasa I Made Kariasa, S.Kp, Buku Kedokteran.
Jakarta: EGC
Hasan, R. 1997. Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I. Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jilid 2. Jakarta:
Aesculapius.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.

18