Anda di halaman 1dari 33

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ketahanan pangan adalah pertahanan negara, ketika ketahanan pangan
suatu negara terancam, maka kelangsungan hidup suatu bangsa dipertaruhkan.
Pandangan ini cukup menjelaskan mengapa ketahanan pangan selalu menjadi
perhatian besar di banyak negara di dunia. Dalam berbagai pertemuan tingkat
dunia, masalah ketahanan pangan selalu menjadi agenda utama. Sedikitnya
ada tiga faktor yang menyebabkan ketahanan pangan tidak pernah lepas dari
perhatian pemerintahan di berbagai belahan dunia. Pertama adalah ledakan
penduduk, pangan tak pelak merupakan nafas kehidupan miliaran penduduk
dunia. Kedua, terjadinya perubahan iklim yang berdampak pada penurunan
produktivitas pangan. Ketiga, mulai terbatasnya sumber-sumber pangan.
Ketiga faktor ini berpeluang besar menghadirkan ancaman bagi ketahanan
pangan setiap negara, tidak terkecuali Indonesia. Indonesia kini tercatat
sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak Keempat dunia.
Data Badan Pusat Statistik menyebutkan dalam kurun waktu sepuluh
tahun terakhir rata-rata pertumbuhan penduduk di Indonesia sebesar 1,49
persen per tahun. Angka pertumbuhan tersebut mencerminkan besarnya
tantangan yang harus dihadapi dalam mencapai ketahanan pangan. Oleh sebab
itu pemerintahselalu menempatkan masalah ketahanan pangan sebagai salah
satu prioritas pembangunan nasional yang tertuang dalam setiap tahap
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan di era
pemerintahan Presiden Jokowi sekarang ini pencapaian kedaulatan pangan
menjadi bagian dari agenda ketujuh Nawa Cita untuk Indonesia. Suatu negara
dianggap memiliki ketahanan pangan yang baik jika semua penduduk setiap
saat dapat memiliki akses terhadap bahan pangan dalam jumlah dan mutu
yang sesuai bagi prasyarat kehidupan yang sehat, aktif dan produktif.
Bagi Indonesia, masalah ketahanan pangan sangatlah krusial. Pangan
merupakan basic human need, karena pangan merupakan kebutuhan dasar
bagi setiap manusia yang wajib dipenuhi. Indonesia merupakan negara yang
mempunyai masalah dalam pangan khususnya masalah beras. Sangat tidak

1
mungkin Indonesia mempunyai permasalan pangan, jika dilihat dari luas
wilayah Indonesia yang sangat luas dan Indonesia merupakan negara agraris
yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.
Namun kenyataanya permasalahan tersebut melanda Indonesia.
Stroke adalah penyakit multifaktoral dengan berbagai penyebab disertai
manifestasi mayor, dan penyebab kecacatan dan kematian di negara-negara
berkembang. Berdasarkan data WHO (2010), setiap tahunya terdapat 10 juta
orang di seluruh dunia menderita stroke. Diantaranya ditemukan jumlah
kematian sebanyak 5 juta orang dan 5 juta orang lainnya mengalami kecacatan
yang permanen dan membutuhkan bantuan untuk aktivitas kesehariannya.
Berdasarkan data terbaru dan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 (Riskesdas
2013), stroke merupakan penyebab kematian utama di Indonesia. Prevalensi
stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 7,0 per
mil dan yang berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan atau gejala sebesar 12,1
per mil. Jadi, sebanyak 57,9 persen penyakit stroke telah terdiagnosis oleh
nakes.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Apakah hubungan antara ketahanan pangan dengan
stroke?”
1.3 Tujuan
1. Tujuan umum
Mengetahui hubungan antara ketahanan pangan dengan stroke.

2. Tujuan khusus
a. Memahami definisi ketahanan pangan?
b. Mengetahui sistem dan subsistem ketahanan pangan?
c. Memahami yang dimaksud dengan kerentanan pangan?
d. Memahami yang dimaksud dengan kerawanan pangan?
e. Memahami definisi stroke?
f. Mengetahui faktor risiko yang menyebabkan stroke?
g. Mengetahui klasifikasi stroke?
h. Memahami mekanisme terjadinya stroke?

2
i. Memahami hubungan ketahanan pangan dengan stroke?
j. Memahami strategi ketahanan pangan untuk mencegah stroke?
1.4 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai masalah
ketahanan pangan dan stroke di Indonesia serta hubungannya.

3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ketahanan Pangan
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi agar
manusia dapat bertahan hidup. Permasalahan pangan dari waktu ke waktu
berlangsung dalam tekanan yang terus meningkat. Salah satu penyebab
utamanya adalah pertumbuhan penduduk yang selalu meningkat.
Pertumbuhan penduduk beriringan dengan meningkatnya permintaan akan
pangan sehingga peningkatan produksi pangan harus mampu memenuhi
kebutuhan pangan penduduk.
Indonesia sebagai Negara dengan jumlah penduduk yang besar
menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan
pangan penduduknya. Ketahanan pangan merupakan bagian dari ketahanan
ekonomi nasional yang berdampak besar pada seluruh warga Negara yang
ada didalam Indonesia.
Dalam hal ketahanan pangan, bukan hanya sebagai komoditi yang
memiliki fungsi ekonomi, akan tetapi merupakan komoditi yang memiliki
fungsi sosial dan politik, baik nasional maupun global. Untuk itulah,
ketahanan pangan dapat mempunyai pengaruh yang penting pula agar
ketahanan keamanan dapat diciptakan.
2.1.1 Definisi Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan sebagaimana hasil rumusan International
Congres of Nutrition (ICN) yang diselenggarakan di Roma tahun 1992
mendefinisikan bahwa ketahanan pangan (food security) adalah
kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kecukupan pangan
anggotanya dari waktu ke waktu agar dapat hidup sehat dan mampu
melakukan kegiatan sehari-hari. dalam siding Committee on World
Food security definisi tersebut diperluas dengan menambah
persyaratan “harus diterima budaya setempat”.
Menurut Food Agriculture Organization (FAO) ketahanan pangan
merupakan situasi dimana semua rumah tangga pada setiap saat

4
memiliki akses (baik fisik maupun ekonomi) untuk memperoleh pangan
yang cukup, aman, dan sehat bagi seluruh anggota rumah tangganya.
Dalam UU No. 7/1996 dituliskan bahwa ketahanan pangan adalah
kondisi dimana terjadinya kecukupan penyediaan pangan bagi rumah
tangga yang diukur dari ketercukupan pangan dalam hal jumlah dan
kualitas dan juga adanya jaminan atas keamanan (safety), distribusi
yang merata dan kemampuan membeli.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ketahanan pangan merupakan suatu
keadaan dimana rumah tangga mempunyai kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan pangan dalam segi kuantitas maupun kualitasnya.
2.1.2 Sistem Ketahanan Pangan
Sistem ketahanan pangan terdiri dari tiga sub sistem utama yaitu
sub sistem ketersediaan pangan, sub sistem akses terhadap pangan, dan
sub sistem pemanfaatan (penyerapan), pangan sedangkan status gizi
merupakan outcome dari ketahanan pangan. Jika salah satu dari sub
sistem tersebut tidak terpenuhi maka suatu negara belum dapat
dikatakan mempunyai ketahanan pangan yang baik. Adapun sistem
ketahanan pangan mencakup ketersediaan pangan (food avaibility),
ketersediaan pangan (food acces), penyerapan pangan (food utilitation),
status gizi (nutrion status).
2.1.3 Subsistem Ketahanan Pangan
Subsistem ketahanan pangan terdiri dari tiga bagian utama yakni
meliputi ketersediaan, akses, dan penyerapan pangan. Bagian subsistem
tersebut harus terpenuhi secara menyeluruh, karena jika salah satu
bagian tidak terpenuhi maka Negara tersebut belum memiliki ketahanan
pangan yang baik. Dalam penyediaan pangan di tingkat daerah ataupun
nasional dikatakan cukup, tetapi jika akses untuk menjangkau dan
memperoleh pangan tersebut tidak memadai dan tidak merata maka
ketahanan pangan pada daerah ataupun Negara tersebut dikatakan tidak
baik dan rapuh. Ketahanan pangan mempengaruhi outcome-nya yakni
status gizi individu ataupun masyarkat (Adriani, 2016).

5
Ketersediaan Pangan (Food Anailability)

Acc

(Fo

ses
ess

Ak
Akses Pangan (Food Access)

od

an
ng
Pa
(

)
Stabilitas

Penyerapan Pangan (Food Utilization)

Status Gizi (Nutritional Status)

Sumber: USAID (1999) dan Weingartner (2004), dalam buku pengantar gizi
masarakat (Adriani, 2016).

Adapun penjelasan dari bagan diatas adalah:

a. Subsistem Ketersediaan (Food Availability)


Ketersediaan pangan (Food Availability) adalah tersedianya
pangan yang cukup, aman dan bergizi untuk semua orang pada suatu
Negara. Pangan yang tersedia tidak hanya terfokus pada satu jenis
makanan sata, tetapi makanan yang tersedia cukup dan beraneka ragam.
Pangan yang tersedia dapat berasal dari produksi sendiri, pasokan pangan
dari luar (impor), cadangan pangan, maupun bantuan pangan. Produksi
sendiri untuk memenuhi ketersediaan dipengaruhi oleh luas panen,
produktivitas dan diversifikasi produk, dimana kompenen tersebut juga
dipengaruhi oleh irigasi, teknologi, sarana produksi, iklim, hama
penyakit, bencana dan lain sebagainya. Pangan yang tersedia juga harus
mampu mencukupi jumlah kalori yang dibutuhkan untuk menjalankan
kehidupan sehari-hari yang aktif dan sehat (Adriani, 2016)
b. Subsistem Akses Pangan (Food Access)
Akses pangan (Food Access) adalah kemampuan semua rumah
tangga dan individu dengan sumber daya yang dimiliki dalam
memperoleh pangan yang cukup untuk pemenuhan kebutuhan gizinya.
Akses rumah tangga dan individu dalam memperoleh pangan terdiri dari
(Adriani, 2016):

6
(a) Akses ekonomi
Memperoleh pangan dengan akses ekonomi dipengaruhi oleh
pendapatan, kesempatan kerja, dan harga.
(b) Akses fisik
Akses fisik menyangkut tingkat isolasi daerah, dimana jika daerah
semakin terpencil maka akses terhadap pangan akan semakin sulit
dibandingkan dengan perkotaan. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh
sarana dan prasarana distribusi.
(c) Akses social
Akses social menyangkut preferensi pangan dan pendidikan.
c. Subsistem Penyerapan Pangan (Food Utilization)
Penyerapan Pangan (Food Utilization) adalah pengan yang
dikonsumsi diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sehat,
yang meliputi kebutuhan energy, gizi, air, dan kesehatan lingkungan.
efektifitas dari penyerapan pangan dipengaruhi oleh factor pengetahuan
rumah tangga ataupun individu, sanitasi dan ketersediaan air, fasilitas dan
layanan kesehatan, penyuluhan gizi dan pemeliharaan balita (Adriani,
2016).
d. Stabilitas
Stabilitas adalah dimensi waktu dari ketahanan pangan yang dibagi
dalam kerawanan pangan kronis dan kerawanan pangan sementara.
Kerawanan pangan kronis dapat diartikan sebagai ketidak mampuan
untuk memperoleh kebutuhan pangan setiap saat. Sedangkan, kerawanan
pangan sementara adalah kerawanan pangan yang terjadi dalam waktu
sementara, factor yang mengakibatkan kondisi tersebut meliputi banjir,
bencana alam maupun konflik social (Rustanti, 2015).
e. Status gizi (Nutritional Status)
Status gizi merupakan outcome dari ketahanan pangan yang
menjadi cerminan dari kualitas hidup seseorang. Status gizi secara umum
diukur dengan angka harapan hidup, tingkat gizi balita dan kematian bayi
(Rustanti, 2015).

7
2.1.4 Kerentanan Pangan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rentan memiliki arti
mudah atau peka. kerentanan dapat diartikan sebagai mudahnya terkena
sesuatu. Kerentanan pangan mengacu kepada kerawanan pangan,
dimana suatu kondisi masyarakat yang beresiko rawan pangan menjadi
rawan pangan. Kerentanan pangan akan timbul jika katahanan pangan
tidak adekuat, seperti tidak tersedianya pangan secara cukup, pangan
tidak aman, distribusi pangan tidak merata atau sulitnya mengakses
keterjangkauan pangan.
2.1.5 Kerawanan Pangan
Kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakmampuan individu
atau sekumpulan individu di suatu wilayah untuk memperoleh pangan
yang cukup dan sesuai untuk hidup sehat dan aktif. Kerawanan pangan
juga dapat diartikan sebagai situasi daerah, masyarakat atau rumah
tangga yang tingkat ketersediaan dan keamanan pangannya tidak cukup
memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan
kesehatan sebagian besar masyarakat. Kerawanan pangan dengan
menggunakan pendekatan FIA terbagi menjadi dua klasifikasi yaitu
kerawanan pangan kronis (cronical) dan mendadak/sementara
(transient). Kerawanan pangan kronis adalah kondisi kekurangan
pangan yang terjadi secara terus-menerus, yang disebabkan oleh
keterbatasan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang menyebabkan kemiskinan, sedangkan kerawanan transien
adalah kondisi kerawanan pangan yang bersifat sementara akibat
kejadian yang mendadak seperti bencana alam, kerusuhan, musim yang
menyimpang, konflik sosial dan sebagainya.
Penanganan masalah kerawanan pangan tidak dapat dilepaskan
dari pemangku kepentingan. Dalam pengentasan rawan pangan
diperlukan pendekatan lintas sektoral baik secara horizontal antara
pemerintah dan non-pemerintah maupun secara vertikal yang
mensinergikan kebijakan tingkat nasional hingga daerah. Koordinasi
setiap komponen tersebut memerlukan dukungan baik secara politis

8
maupun finansial. Untuk mencapai kualitas kesehatan masyarakat yang
optimal diperlukan adanya keselarasan antara komitmen
penanggulangan kelaparan dengan perbaikan gizi.
Peta Kerawanan Pangan dapat disusun berdasarkan data yang
diperoleh dari lapangan dengan menggunakan beberapa indikator yang
telah ditetapkan sebelumnya. Indikator tersebut dikelompokkan ke
dalam empat aspek kerawanan pangan yaitu: (i) ketersediaan pangan
(food availability), (ii) akses pangan (food and livelihoods acsess), (iii)
kesehatan dan gizi (health and nutrition), (iv) kerawanan pangan
sementara (transient food insecurity).
Tabel 1.1 Indikator Peta Kerawanan Pangan Indonesia (FIA)

Kategori Indikator Sumber


Ketersediaan Pangan 1. Konsumsi normatif per Badan Ketahanan
kapita terhadap rasio Pangan Provinsi dan
ketersediaan bersih padi + Kab
jagung + ubi kayu + ubi
jalar
Akses Pangan dan Mata 2. Persentase penduduk hidup Data dan
Pencaharian di bawah garis kemiskinan Informasi
3. Persentase desa yang tidak Kemiskinan,
memiliki akses penghubung BPS
yang memadai.
4. Persentase penduduk tanpa
akses listrik PODES, BPS

Data dan
Informasi
Kemiskinan,
BPS
Kesehatan dan Gizi 5. Angkatan harapan hidup Data dan
pada saat lahir. Informasi
Kemiskinan,
BPS
6. Berat badan balita di bawah Data dan
standar. Informasi
Kemiskinan,

9
BPS

7. Perempuan buta huruf Data dan


Informasi
Kemiskinan,
BPS
8. Angka kematian bayi BPS dan UNDP
9. Penduduk tanpa akses ke Data dan
air bersih Informasi
Kemiskinan,
BPS
10. Persentase penduduk yang Data dan
tinggal lebih dari 5 km dari Informasi
puskesmas Kemiskinan,
BPS
Kerawanan Pangan Sementara 11. Persentase daerah Dinas Kehut
(Transien)
berhutan

12. Persentase daerah BKP Provinsi


13. Daerah rawan longsor
Departemen PU
dan banjir

14. Penyimpangan curah


Badan Metereologi dan
hujan Geofisika
Sumber: Badan Ketahanan Pangan, Deptan 2011
2.2 Stroke
2.2.1 Defini Stroke
Definisi stroke menurut WHO adalah suatu gangguan fungsi saraf
akut yang disebabkan oleh karena gangguan peredaran darah otak,
dimana secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat
(dalam beberapa jam) timbul gejala dan tanda yang sesuai dengan
daerah fokal di otak yang terganggu.28 Stroke merupakan masalah
kesehatan mayor di dunia, menjadi penyebab kematian ketiga setelah
penyakit jantung dan kanker, serta menjadi penyebab kecacatan
utama.1-3 Belum ada data pasti stroke di Indonesia, namun riset
kesehatan dasar (Riskesdas) Departemen Kesehatan Indonesia tahun
2007 menunjukkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian utama

10
di rumah-rumah sakit di Indonesia.29 Prevalensi stroke di India
diperkirakan 203 pasien per 100.000 penduduk, sedangkan di China
insidennya 219 per 100.000 penduduk. Kemajuan teknologi kedokteran
berhasil menurunkan angka kematian akibat stroke, namun angka
kecacatan akibat stroke cenderung tetap bahkan meningkat.
Diperkirakan terdapat 2 juta penderita pasca stroke di Amerika dengan
biaya perawatan 65,5 miliar dolar pada tahun 2008.1
Selain itu jug terdapat beberapa pengertian stroke menurut
beberapa ahli yang salah satunya dikemukakan oleh Price dan Bustan.
Menurut Price stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral dan
merupakan satu gangguan neurologik pokal yang dapat timbul sekunder
dari suatu proses patologik pada pembuluh darah serebral misalnya
trombosis, embolus, ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler
dasar, misalnya arterosklerosis arteritis trauma aneurisma dan kelainan
perkembangan. Sedangkan menurut Bustan, stroke adalah suatu
penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan
pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan menimbulkan
gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah otak yang terganggu.
Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius karena
ditandai dengan tingginya morbiditas dan mortalitasnya. Selain itu,
tampak adanya kecenderungan peningkatan insidennya.
2.2.2 Faktor Risiko Stroke
Upaya pencegahan merupakan salah satu cara yang paling efektif
dan efisien untuk mengurangi angka kejadian stroke. Kejadian stroke
dapat ditimbulkan oleh banyak faktor risiko. Upaya pencegahan baru
dapat dilakukan jika kita mengetahui faktor risiko apa saja yang dapat
menyebabkan serangan stroke. Faktor risiko stroke dibedakan menjadi
faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat
dimodifikasi, diantaranya faktor risiko tidak dapat dimodifikasi seperti
usia, jenis kelamin, genetik, serta ras/etnik. Sedangkan untuk faktor
risiko yang dapat dimodifikasi diantaranya adalah hipertensi, diabetes
melitus, penyakit jantung, obesitas, hiperkolesterolemia, merokok, serta

11
konsumsi alkohol berlebihan dan masih banyak lagi faktor risiko
kejadian stroke.
1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi atau tidak dapat diubah
merupakan faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan dan tidak dapat
dilakukan pencegahan. Beberapa faktor risiko yang tidak dapat
dimodifikasi yaitu:
a. Usia
Usia merupakan salah satu faktor risiko stroke karena dengan
pertambahan usia terjadi penurunan fungsi sel, jaringan dan organ
sebagai proses fisiologis penuaan. Dalam kasus stroke penuaan
mengakibatkan penurunan elastisitas pembuluh darah yang
memperbesar kemungkinan terjadinya aterosklerosis sebagai penyebab
stroke. Insiden stroke meningkat dengan usia dan sekitar dua kali lipat
dengan setiap dekade antara usia 45 hingga 85 tahun. Risiko stroke
terbesar terjadi pada kelompok usia 55-64 tahun. Ini jarang terjadi di
bawah usia 40 tahun. Faktor risiko stroke pada usia <40 tahun yang
memaparkan tingginya kejadian stroke pada orang muda dikarenakan
perubahan gaya hidup. Meskipun stroke dapat menyerang segala usia,
diketahui bahwa mereka yang berusia lanjut lebih berisiko terserang
penyakit yang berpotensi mematikan dan menimbulkan kecacatan
menetap
b. Jenis Kelamin
Sebuah penelitian menunjukkan, jenis kelamin sebagai penanda
risiko stroke dan tidak dapat dimodifikasi. Ada sedikit perbedaan dalam
kejadian stroke antara pria dan wanita, stroke lebih sering terjadi pada
pria daripada pada wanita. Laki-laki lebih cenderung berisiko stroke
karena kejadian stroke pada perempuan meningkat pada usia pasca
menopause, karena sebelum menopause perempuan dilindungi oleh
hormon esterogen yang berperan dalam meningkatkan HDL, dimana
HDL berperan penting dalam pencegahan proses aterosklerosis.
c. Riwayat Keluarga Stroke

12
Sebuah studi tentang faktor risiko, riwayat keluarga atau keturunan
merupakan sebagai penanda risiko penyakit stroke. Meskipun faktor ini
tidak dapat dimodifikasi, adanya deteksi stroke melalui riwayat
keluarga membantu mengidentifikasi mereka yang paling berisiko.
Risiko penyakit stroke meningkat pada seseorang dengan riwayat
keluarga stroke. Seseorang dengan riwayat keluarga menderita
hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit kardiovaskuler lainnya akan
lebih berisiko menderita stroke. Hal ini disebabkan penyakit hipertensi ,
DM, dan penyakit kardiovaskuler lainnya merupakan faktor risiko
stroke yang diketahui dapat diturunkan secara genetik dari seseorang
kepada keturunanya. Jadi, peningkatan kejadian stroke pada keluarga
penyandang stroke tersebut adalah akibat diturunkannya faktor risiko
stroke.
d. Ras
Dari studi literatur disebutkan bahwa orang berkulit hitam lebih
berisiko menderita stroke dibanding orang yang berkulit putih. Hispanik
Amerika, Cina, dan Jepang memiliki insiden stroke yang lebih tinggi
dibandingkan orang dengan kulit putih. Di Indonesia sendiri, suku batak
dan Padang lebih rentan terserang stroke dibandingkan dengan suku
Jawa, hal ini disebabkan oleh pola dan jenis makanan yang lebih
banyak mengandung kolesterol.
2. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi
Faktor risiko yang dapat dimodifikasi atau dapat diubah merupakan
faktor risiko dapat dikendalikan dan dapat dilakukan penanganan
sebagai upaya pencegahan stroke. Beberapa faktor yang dapat
dikendalikan agar risiko terkena stroke menurun yaitu:
a. Hipertensi
Menurut Luecknotte dan Meiner, hipertensi merupakan faktor
risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian stroke. Hipertensi
memang merupakan faktor risiko utama dari penyakit stroke karena
dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah, selain itu juga dapat
memicu proses aterosklerosis oleh karena tekanan yang tinggi dapat

13
mendorong LDL untuk lebih mudah masuk ke lapisan intima lumen
pembuluh darah dan menurunkan elastisitas dari pembuluh darah.
Hipertensi juga menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah
karena adanya tekanan darah yang melebihi batas normal dan
pelepasan kolagen, endotel yang terkelupas menyebabkan agregasi
trombosit. Tekanan darah yang dianggap hipertensif adalah lebih
dari 160 mmHg untuk sistolik dan lebih dari 95 mmHg untuk
diastolik. Hal ini terjadi disebabkan oleh rentannya seseorang
mengalami hipertensi, dan sifat penyakit ini yang merupakan “silent
killer” menyebabkan penderita stroke tidak merasakan keluhan
sebelum penyakit ini menjadi semakin memburuk. Selain itu, risiko
semakin meningkat ketika hipertensi dikaitkan dengan faktor risiko
lain.
b. Diabetes melitus
Orang dengan diabetes mellitus memiliki peningkatan
kerentanan terhadap aterosklerosis dan peningkatan prevalensi faktor
risiko aterogenik, terutama hipertensi, obesitas dan lipid darah
abnormal. Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme dari
distribusi gula oleh tubuh. Penderita diabetes tidak dapat
memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, atau tubuh tidak
mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga terjadilah
kelebihan gula di dalam darah. Hal tersebut mengakibatkan tubuh
menyerap lebih banyak garam yang menstimulasi sistem saraf
simpatik. Hal ini mempengaruhi struktur pembuluh darah yang tentu
saja berhubungan dengan tekanan darah. Tekanan darah tinggi yang
berkaitan dengan nephropathy diabetes biasanya ditunjukkan dengan
adanya garam dan penahanan cairan. Banyaknya cairan yang
tertahan di tubuh ini akan menyebabkan peningkatan volume darah
dalam pembuluh darah.
c. Penyakit jantung koroner
Menurut WHO, penyakit jantung merupakan penyebab stroke
yang disebabkan oleh aterosklerosis. Penyakit stroke ditandai dengan

14
adanya perdarahan pada pembuluh darah yang disebabkan oleh
tekanan darah tinggi dan aterosklerosis. Faktor risiko stroke dan PJK
disebabkan oleh faktor risiko yang hampir sama seperti merokok dan
hipertensi. Kelainan jantung lainnya yang dapat mengakibatkan
risiko stroke adalah artimia jantung. Aritmia merupakan kelainan
yang ditandai oleh detak jantung yang tidak teratur. Kelainan
tersebut berpotensi menimbulkan suatu bekuan sel trombosit, yang
dapat bermigrasi dari jantung dan menyumbat arteri di otak,
menimbulkan stroke. Pengobatan yang tepat dapat menekan risiko
terjadinya stroke.
d. Obesitas
Kelebihan berat badan adalah faktor risiko paling penting yang
berkontribusi terhadap beban keseluruhan penyakit di seluruh dunia.
Obesitas merupakan faktor risiko stroke karena jaringan lemak yang
berlebihan di seluruh tubuh dapat menyebabkan kesulitan dalam
aliran darah dan peningkatan risiko penyumbatan, yang keduanya
dapat menyebabkan stroke. Obesitas jelas terkait dengan hipertensi
dan peningkatan berat badan sering dikaitkan dengan peningkatan
keparahan hipertensi. Obesitas tidak secara langsung menyebabkan
stroke karena penderita obesitas biasanya akan terlebih dahulu
mengalami diabetes mellitus dan diikuti dengan munculnya
hipertensi kronis barulah akan menimbulkan stroke, serta
kemungkinan masih ada faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap
stroke.
e. Kadar Kolestrol
Kolesterol dibutuhkan sebagai salah satu sumber energi, untuk
pembentukan dinding-dinding sel dalam tubuh dan sebagai bahan
dasar pembentukan hormon-hormon steroid. Akan tetapi jika
kolesterol dalam tubuh berlebih akan menyebabkan aterosklerosis
yaitu penyempitan atau pengerasan pembuluh darah yang
menyebabkan stroke. Kadar kolesterol juga akan meningkat akibat
pola makan yang salah yaitu mengkonsumsi makanan berlemak yang

15
berlebihan. Makanan yang berlemak-lemak dan manis yang
merupakan kebiasaan tidak sehat dan dapat menyebabkan penigkatan
nilai kolesterol. Mengkonsumsi makanan berlemak dan manis bukan
lah kebiasaan yang salah, namun hal ini akan menjadi buruk bagi
kesehatan jika berlebihan dan tidak diimbangi dengan jenis makanan
lainnya terutama serat dan aktivitas fisik yang cukup dan olah raga.
f. Merokok
Menurut Junaidi risiko stroke meningkat 2-3 kali pada perokok
dan efek rokok bias bertahan 5-10 tahun. Merokok mengandung
berbagai macam bahan kimia dan tembakau, tar, pestisida, bahan
kimia untuk pembakaran, polonium (radio aktif), efek aterogenik,
hematologic dan reologi yang telah dinyatakan sebagai faktorfaktor
potensial penyebab stroke. Hal tersebut disebabkan karena merokok
memicu peningkatan kekentalan darah, pengerasan dinding
pembuluh darah, dan penimbunan plak di dinding pembuluh darah.
g. Konsumsi alkohol berlebihan
Konsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko relatif dari setiap
stroke saat konsumsi alkohol rendah hingga sedang dan peningkatan
risiko untuk paparan yang lebih tinggi. Secara umum, peningkatan
konsumsi alkohol meningkatkan tekanan darah sehingga
memperbesar risiko stroke, baik yang iskemik maupun hemoragik.
2.2.3 Klasifikasi Stroke
Sistem klasifikasi utama stroke dibagi menjadi dua kategori stroke
iskemik dan stroke hemoragik
a. Stroke iskemik
Stroke iskemik merupakan stroke yang terjadi akibat adanya
bekuan atau sumbatan pada pembuluh darah otak yang dapat
disebabkan oleh tumpukan thrombus pada pembuluh darah otak,
sehingga aliran darah ke otak menjadi terhenti. Stroke iskemik
merupakan sebagai kematian jaringan otak karena pasokan darah yang
tidak kuat dan bukan disebabkan oleh pendarahan. Stroke iskemik
biasanya disebabkan oleh tertutupnya pembuluh darah otak akibat

16
adanya penumpukan penimbunan lemak (plak) dalam pembuluh darah
besar (arteri karotis), pembuluh darah sedang (arteri serebri) dan
pembuluh darah kecil. Stroke iskemik secara patologis dibagi menjadi:
1. Transient Ischaemic Attack (TIA): Defisit neurologis membaik dalam
waktu kurang dari 30 menit.
2. Stroke trombolitik : Proses terbentuknya thrombus hingga menjadi
gumpalan
3. Stroke embolik : Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah
4. Hipoperfusion sistemik : Aliran darah ke seluruh bagian tubuh
berkurang karena adanya gangguan denyut jantung.
b. Stroke hemoragik
Stroke hemoragik terjadi karena pecahnya pembuluh darah otak,
sehingga menimbulkan perdarahan di otak dan merusak. Stroke
hemoragik biasanya terjadi akibat kecelakaan yang mengalami benturan
keras di kepala dan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah di otak.
Stroke hemoragik juga bisa terjadi karena tekanan darah yang terlalu
tinggi. Pecahnya pembuluh darah ini menyebabkan darah menggenangi
jaringan otak di sekitar pembuluh darah yang menjadikan suplai darah
terganggu, maka fungsi dari otak juga menurun. Penyebab lain dari
stroke hemoragik yaitu adanya penyumbatan pada dinding pembuluh
darah yang rapuh, mudah menggelembung, dan rawan pecah, yang
umumnya terjadi pada usia lanjut atau karena faktor keturunan.
Stroke hemoragik digolongkan menjadi dua jenis yaitu :
1. Hemoragik intraserebral : Perdarahan yang terjadi di dalam jaringan
otak
2. Hemoragik subaraknoid : Perdarahan yang terjadi pada ruang
subaraknoid atau ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan yang
menutupi otak.
2.2.4 Mekanisme Terjadi Stroke
a. Stroke Iskemik
Iskemik serebri sangat erat hubungannya dengan aterosklerosis
(terbentuknya ateroma) dan arteriolosklerosis. Aterosklerosis dapat

17
menimbulkan oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadinya trombus
dan kemudian dapat terlepas sebagai emboli (Harsono, 2007:87).
Trombus, emboli yang terjadi mengakibatkan terjadinya iskemik,
sel otak kehilangan kemampuan menghasilkan energy terutama adenosine
trifosfat (ATP), pompa Natrium Kalium ATPase gagal sehingga terjadi
depolarisasi (Natrium berada dalamsel dan Kaliumdiluar sel) dan
permukaan sel menjadi lebih negatif, kanal Kalsium terbuka dan influk
Kalsium kedalam sel. keadaan depolarisasi ini merangsang pelepasan
neurotransmiter eksitatorik yaitu glutamat yang juga menyebabkan influk
kalsium kedalam sel, sehingga terjadi peningkatan Kalsium dalam sel.
Glutamat yang dibebaskan akan merangsang aktivitas kimiawi dan 10
listrik di sel otak lain dengan melekatkan ke suatu molekul di neuron lain,
reseptor N-metil D-aspartat (NMDA). Pengikatan reseptor ini memicu
pengaktifan enzim nitrat oksida sintase (NOS ) yang menyebabkan
terbentuknya molekul gas, Nitrat oksida (NO).
Pembentukan NO yang terjadi dengan cepat dan dalam jumlah
besar melemahkan asam deoksiribonukleat (DNA) neuron, dan
mengaktifkan enzim, Poli (adenozin difosfat-[ADP] ribosa) polymerase
(PARP). Enzim ini menyebabkan dan mempercepat eksitotoksitas setelah
iskhemik serebrum sehingga terjadi deplesi energi sel yang hebat dan
kematian sel. Peningkatan Kalsium intra sel mengaktifkan protease (enzim
yang mencerna protein sel), Lipase (enzim yang mencerna membran sel)
dan radikal bebas yang terbentuk akibat jenjang sistemik. Sel-sel otak
mengalami infark,jaringan otak mengalami odema, sehingga perfusi
jaringan cerebral terganggu. Sawar otak mengalami kerusakan akibat
terpajan terhadap zat-zat toksik, kehilangan autoregulasi otak sehingga
Cerebral Blood Flow (CBF) menjadi tidak responsif terhadap perbedaan
tekanan dan kebutuhan metabolik. Kehilangan autoregulasi adalah
penyulit stroke yang berbahaya dan dapat memicu lingkaran setan berupa
peningkatan odema otak dan peningkatan tekanan intrakranial dan
semakin luas kerusakan neuron. Odema otak juga akan menekan struktur-

18
struktur saraf didalam otak sehingga timbul gejala sesuai dengan lokasi
lesi (Price & Wilson, 2006:1116).
Infark otak timbul karena iskemia otak yang lama dan parah
dengan perubahan fungsi dan struktur otak yang ireversibel. Gangguan
aliran darah otak akan timbul perbedaan daerah jaringan otak : a. pada
daerah yang mengalami hipoksia akan timbul edema sel otak dan bila
berlangsung lebih lama, kemungkinan besar akan terjadi infark, b. Daerah
sekitar infark timbul daerah penumbra iskemik dimana sel masih hidup
tetapi tidak berfungsi, c. Daerah diluar penumbra akan timbul edema local
atau daerah hiperemisis berarti sel masih hidup dan berfungsi (Harsono,
2007:86).
b. Stroke Hemoragik
Perdarahan intraserebral biasanya timbul karena pecahnya
mikroaneurisma (Berry aneurysm) akibat hipertensi maligna. Hal ini
paling sering terjadi di daerah subkortikal, serebelum, dan batang otak.
Hipertensi kronik menyebabkan pembuluh arteriola berdiameter 100 – 400
mikrometer mengalami perubahan patologi pada dinding pembuluh darah
tersebut berupa degenerasi lipohialinosis, nekrosis fibrinoid serta
timbulnya aneurisma Charcot Bouchard.
Pada kebanyakan pasien, peningkatan tekanan darah yang tiba-tiba
menyebabkan pecahnya penetrating arteri. Keluarnya darah dari pembuluh
darah kecil membuat efek penekanan pada arteriole dan pembuluh kapiler
yang akhirnya membuat pembuluh ini pecah juga. Hal ini mengakibatkan
volume perdarahan semakin besar (Caplan, 2009).
Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik
akibat menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron di daerah yang
terkena darah dan sekitarnya lebih tertekan lagi. Gejala neurologik timbul
karena ekstravasasi darah ke jaringan otak yang menyebabkan nekrosis
(Caplan, 2009). Perdarahan subaraknoid (PSA) terjadi akibat pembuluh
darah disekitar permukaan otak pecah, sehingga terjadi ekstravasasi darah
ke ruang subaraknoid. Perdarahan subaraknoid umumnya disebabkan oleh

19
rupturnya aneurisma sakular atau perdarahan dari arteriovenous
malformation (AVM) (Caplan, 2009).

20
BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Hubungan Ketahanan Pangan dengan Stroke
3.1.1 Hubungan Ketahanan Pangan dengan Berat Badan Lahir Rendah

Ketahanan Pangan

Ketersediaan pangan Akses pangan Penyerapan Pangan

Rawan Pangan

Asupan zat gizi berkurang

Status Gizi
(BBLR)

a. Ketersediaan Pangan
Fokus ketahanan pangan tidak hanya pada ketersediaan pangan tingkat
wilayah tetapi juga ketersediaan pangan tingkat daerah dan rumah tangga, dan
bahkan bagi individu dalam memenuhi kebutuhan gizinya. Ketahanan pangan
rumah tangga adalah salah satu jenjang yang penting karena meskipun suatu
wilayah terkategori tahan pangan, belum tentu ketahanan pangan menjangkau
hingga level rumah tangga (Ariani dkk., 2007). Ketersediaan pangan
bergantung pada produksi tanaman pangan dimana produksi pangan ini juga
dipengaruhi oleh ketersediaan air suatu tempat dan suatu waktu. Selain itu
juga, ketersediaan pangan dipengaruhi oleh pasokan luar (impor), cadangan
pangan, dan bantuan pangan. Destianto & Pigawati (2014) menggunakan rasio
antara ketersediaan pangan (KP) dan kebutuhan pangan (BP) untuk mengetahui
ketahanan pangannya. Bila KP > BP maka daerah berada pada kondisi surplus
pangan (tahan pangan) dan jika KP < BP maka kondisi defisit pangan (rawan
pangan).

21
Kerentanan pangan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam
memproduksi pangan yang dibutuhkan suatu wilayah. Kerentanan pangan
dipengaruhi oleh gangguan iklim, hama dan penyaki tanaman. Deviasi curah
hujan tinggi yang mengakibatkan banjir berdampak negatif kepada
produktivitas tanaman yang bisa mengurangi kuantitas bahan pangan.
Peningkatan resiko hama tanaman juga berdampak negatif ke petani dan
mengakibatkan rendahnya produksi dan produktifitas tanaman yang pada
akhirnya akan mengganggu mata pencaharian petani secara keseluruhan
b. Akses pangan
Akses pangan dipengaruhi oleh akses ekonomi, fisik dan sosial. Pada
aspek ekonomi, apabila rumah tangga memiliki pendapatan yang sedikit atau
ketersediaan lowongan kerja yang semakin sulit maka akan mempengaruhi
daya beli terhadap pangan sehingga penyerapan pangan terutama pada ibu
hamil akan terganggu. Kemiskinan yang menjadi akar permasalahan dari
ketidakmampuan keluarga untuk menyediakan pangan dalam jumlah, mutu,
dan ragam yang sesuai dengan kebutuhan individu untuk memenuhi asupan
kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral yang bermanfaat
bagi pertumbuhan ibu hamil. Adanya harga pangan yang tinggi juga akan
mengurangi individu dalam mendapatkan pangan tersebut, apabila jumlah
pangan yang dibutuhkan sedikit maka akan mempengaruhi terganggunya
asupan gizi ibu selama kehamilan.
Pada akses fisik yang mengalami kesulitan jarak tempuh dan akses
jalan untuk mengirimkan makanan bisa mempengaruhi keamanan dan
kesegaran pangan apabila tidak tepat waktu dalam pendistribusianya. Hal
tersebut akan mempengaruhi kandungan gizi pangan yang dibutuhkan ibu
hamil sehingga mempengaruhi status gizi. Contohnya distribusi sayur dan buah
lintas provinsi yang terhambat oleh akses fisik menyebabkan keterlambatan
pasokan sehingga sayur dan buah busuk sebelum sampai di tujuan. Sehingga
jika hal tersebut terjadi secara berulang tanpa adanya perbaikan akses maka
besar kemungkinan terjadi krisis pasokan buah dan sayur pada suatu daerah
yang berdampak pada pola konsumsi masyarakatnya.

22
Pada akses sosial lebih cenderung pada pemilihan bahan pangan oleh
ibu hamil. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan dan pantangan terhadap
makanan di lingkungan sosial setempat. Makanan yang dipantang bagi ibu
hamil ada makanan yang tidak baik dimakan oleh ibu hamil. Kenyataan yang
terjadi masih terdapat orang yang melakukan pantangan terhadap beberapa
makanan yang dianggap membahayakan kondisi ibu hamil, seperti keguguran
atau pendarahan. Masih terdapat mitos beberapa makanan yang tidak baik
untuk dikonsumsi oleh ibu hamil maupun ibu pada masa nifas karena alasan
dengan berbagai macam asosiasi. Seperti contohnya konsumsi buah nanas dan
durian dapat menyebabkan keguguran pada ibu hamil.
c. Penyerapan pangan
Pendidikan ibu yang rendah akan mempengaruhi pengetahuan ibu yang
kurang dalam memahami pemilihan pangan yang bermanfaat untuk kehamilan
dan janinnya. Ketidakpahaman ibu terkait jenis makanan yang mengandung
nutrisi baik bagi kandungannya mempengaruhi pola konsumsi ibu hamil. Jenis
makanan seperti ikan, minyak ikan, telur, kacang, dan biji-bijian kaya akan
lemak essensial. Namun, bila asupan lemak berlebihan seperti minyak dan
daging rendah lemak bila dikonsumsi oleh ibu ketika hamil akan dapat
mengganggu pertumbuhan bayi yang akan dilahirkan sehingga bayi yang
dilahirkan memiliki berat badan lahir tidak normal.
Lemak memiliki peranan utama untuk menyediakan energi metabolik,
hasil dari matabolisme lemak dapat berupa asam lemak. Lemak memiliki
peranan yang penting untuk pertumbuhan janin, jika janin memerlukan lemak
maka akan ditransfer melalui plasenta. Ditemukannya bayi dengan
pertumbuhan bayi terhambat dengan berat badan lahir rendah, hal ini
disebabkan karena ketidakseimbangan hormonal atau penyerapan tubuh ibu
yang kurang baik ketika hamil sehingga transfer lemak ke janin tidak sempurna
sehingga kebutuhan bayi akan lemak menjadi kurang dan mengganggu
pertumbuhan janin.
Pola makan ibu dalam menyimpan pangan, mengolah, menyajikan, dan
frekuensi asupan ibu hamil akan mempengaruhi terjadinya BBLR. Pada aspek
kebersihan dan sanitasi air dalam mengolah makanan yang buruk juga akan

23
mempengaruhi kualitas dan kandungan pangan yang dikonsumsi sehingga
kesehatan dan status gizi bisa semakin buruk. Pada aspek fasilitas kesehatan
yang sulit dijangkau oleh ibu hamil akan mempengaruhi kesehatan ibu hamil
yang tidak bisa terpantau dengan periksa kesehatan dan kontrol rutin yang
semestinya dibutuhkan pada masa kehamilan. Pencegahan BBLR pun
diharapkan bisa dicegah sedini mungkin dengan adanya pemeriksaan ke
fasilitas kesehatan. Ketersediaan pangan disuatu daerah haruslah sejalan
dengan akses pangan didaerah tersebut, namun jika hal tersebut tidak sejalan
maka akan berdampak pada penyerapan pangan yang kurang maksimal
sehingga wilayah tersebut masih tergolong dalam wilayah rawan pangan
(Mun’im, 2012).
d. Rawan pangan
Kelompok masyarakat yang rawan (vunerable) terhadap pangan dan
gizi dapat dibedakan sesuai dengan: Lokasi tempat tinggalnya disebut rawan
ekologis, misalnya daerah terpencil; Kedudukan/posisinya di masyarakat,
disebut rawan sosio-ekonomis, misalnya kelompok miskin; Umur dan jenis
kelamin, disebut rawan biologis. Kerawanan pangan dapat berakibat langsung
pada rendahnya status gizi seseorang.. Apabila ibu hamil (rawan biologis)
mengalami kesulitan akses dalam mendapatkan pangan karena tempat
tinggalnya di daerah terpencil (rawan ekologis), dan tidak mampu membeli
pangan karena miskin (rawan sosio-ekonomis) sehingga tidak bisa memenuhi
jumlah kebutuhan zat gizi dan pangan maka akan berdampak bagi status gizi
dirinya dan janinnya
e. BBLR
Jika ketahanan pangan terganggu maka status gizi menjadi buruk dan
menyebabkan turunnya derajat kesehatan sehingga ketahanan pangan sangat
erat kaitannya dengan aspek gizi. Kejadian BBLR salah satunya disebabkan
oleh status gizi rendah pada ibu hamil. BBLR (Berat badan lahir rendah)
didefinisikan oleh organisasi kesehatan dunia World Health Organization
(WHO) yaitu, berat badan saat lahir kurang dari 2500 gram.
Beberapa penyebab terjadinya BBLR diantaranya adalah ibu hamil
mengalami kekurangan energi kronis (KEK), mengalami anemia, kurangnya

24
suplai zat gizi ibu hamil, komplikasi kehamilan, paritas ibu danjarak kelahiran.
Ibu yang mengalami KEK cenderung melahirkan bayi BBLR. Proporsi Wanita
Usia Subur (WUS) dengan Kurang Energi Kronis (KEK), yaitu WUS dengan
lingkar lengan atas kurang (LILA) dari 23,5 cm. Ibu KEK berisiko 2,0087 kali
melahirkan bayi BBLR dibandingkan ibu non KEK. LILA pada ibu
menggambarkan keadaan konsumsi makanan terutama energi dan protein
dalam jangka panjang. Bila asupan makanan ibu kurang maka dapat
berdampak pada janin dalam kandungan sehingga dibutuhkan penanganan
pemenuhan asupan (Saraswati, 2003 dalam Putri H, et al., 2017). Kurang
Energi Kronis (KEK) merupakan salah satu masalah kurang gizi yang sering
terjadi pada wanita hamil, yang disebabkan oleh kekurangan energi dalam
jangka waktu yang cukup lama. Secara spesifik penyebab KEK adalah akibat
dari ketidakseimbangan antara asupan untuk pemenuhan kebutuhan dan
pengeluaran energi ibu hamil harus menambah asupan makan untuk
memenuhi kebutuhan zat gizi. Selain itu, ibu hamil harus menerapkan pola
konsumsi yang baik agar kebutuhan zat gizinya selama kehamilan terpenuhi
dan terhindar dari risiko kekurangan gizi. Untuk menghindari kekurangan gizi
pada ibu hamil dapat meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung
kalori, seperti nasi, kentang, ubi, singkong. Mengonsumsi makanan yang
mengandung protein, seperti telur, ikan, daging, kacang-kacangan, susu.
Mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, seperti sayuran hijau,
protein hewani (daging, susu, telur) dan lengkapi dengan suplemen zat besi
yang sesuai dengan AKG.
BBLR juga dapat dipengaruhi oleh status anemia ibu hamil. Kelompok
ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang berisiko tinggi mengalami
anemia, yang berdampak pada gangguan nutrisi dan oksigenasi utero plasenta.
Hal ini menimbulkan gangguan pertumbuhan hasil konsepsi, terjadi
immaturitas, prematuritas, cacat bawaan, atau janin lahir dengan BBLR.8,9
Prevalensi anemia defisiensi besi masih tergolong tinggi yaitu sekitar 30%
lebih dari populasi manusia di dunia yang terdiri dari anak-anak, wanita
menyusui, wanita usia subur dan wanita hamil. (WHO, 2011). Jenis makanan
seperti kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran merupakan jenis makanan

25
yang banyak mengandung zat besi, vitamin B12 dan Asam Folat yang berguna
dalam pembentukan darah. Apabila produksi pangan ini mengalami
kekurangan dan pola konsumsi ibu hamil rendah dapat menyebabkan anemia
pada ibu hamil. Badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization)
menetapkan bahwa kejadian anemia pada ibu hamil berkisar antara 20%
sampai dengan 89% dengan menetapkan hemoglobin (Hb) 11 gr% sebagai
dasarnya. Di dunia, 34 % ibu hamil dengan anemia di mana 75% berada di
negara berkembang salah satunya Indonesia yang berkisar 63,5% ibu hamil
dengan anemia (Saifudin, 2009). Pada wanita hamil dengan anemia
meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Anemia
dalam kehamilan bisa menyebabkan resiko kematian maternal, angka
prematuritas, Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR), abortus, hambatan
tumbuh kembang janin dan angka kematian prinatal meningkat (Manuaba,
2012).
Ukuran tubuh pada wanita yang pendek sering ditemukan adanya
panggul yang sempit dan keadaan ini dapat menghambat jalannya persalinan
sehingga menyebabkan berat badan bayi yang dilahirkan rendah. Tinggi badan
ibu hamil yang berisiko BBLR adalah kurang dari sama dengan 145 cm
(Trihardiani, 2011 dalam Putri H, et al., 2017). Tinggi badan ibu
mempengaruhi keadaan bayi yang dikandungnya, tinggi badan <145 cm
berisiko besar melahirkan bayi BBLR. Postur tubuh pendek memiliki risiko
melahirkan bayi dengan berat rendah karena postur pendek mencerminkan
kondisi status gizi yang kurang baik di masa lampau (Setianingrum, 2005
dalam Putri H, et al., 2017).
3.1.2 Hubungan Berat Bayi Lahir Rendah dengan Stroke
BBLR berkaitan dengan peningkatan angka prevalensi penyakit
jantung koroner dan kelainan berkaitan stroke, hipertensi dan diabetes
tipe 2, efek ini mungkin merupakan konsekuensi dari programming
janin ketika mengalami stimulus atau cedera dalam periode awal
kehidupan yang kritis dan sensitif memberikan efek yang parmanen
terhadap anatomi, fisiologi, dan metabolisme. Hal ini berkaitan dengan
adaptasi yang timbul ketika pasokan zat gizi maternal ke plasenta tidak

26
berhasil mengimbangi kebutuhan janin. Tingginya angka BBLR bisa
memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Bayi dengan berat badan lahir rendah sering disertai dengan
keadaan yang memudahkan terjadinya aterosklerosis misalnya: terjadi
defek pada enzim delta-6, dan delta-5 desaturase yang menyebabkan
gangguan metabolisme PUFA yang berakibat terjadinya disfungsi
endotel pembuluh darah. Kadar homosistein seringkali meningkat, C-
reactive protein yang tinggi juga akan menyebabkan jejas pada endotel
pembuluh darah yang dapat berlanjut menjadi aterosklerosis. Bayi
dengan berat lahir rendah merupakan faktor risiko penyakit jantung
koroner, karena pada BBLR sering diikuti dengan rendahnya jumlah sel
beta pankreas. Jumlah sel beta pankreas yang rendah dapat
mengakibatkan hiperglikemia, resistensi insulin, maupun gangguan
metabolisme lipid yang lain yang sudah diketahui sebagai faktor risiko
terjadinya penyakit jantung koroner
Berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan manifestasi dari
gangguan nutrisi janin selama dalam kandungan, berhubungan dengan
peningkatan insiden dari faktor risiko penyakit vaskuler seperti
hipertensi, gangguan toleransi glukosa, diabetes, peningkatan kadar
lemak darah, dan distribusi lemak tubuh pada saat dewasa. Observasi
ini dikenal dengan fetal origins of adult disease atau hipotesis Barker,
bahwa banyak penyakit utama pada kehidupan lanjut termasuk PJK,
stroke, dan kematian karena penyakit jantung, diawali dari kegagalan
tumbuh kembang dalam kandungan.
Berat badan lahir rendah juga sering diikuti gangguan struktural
permanen, hormonal, dan atau adaptasi metabolik individu terhadap
hambatan spesifik pada periode kritis tumbuh kembang. Hambatan ini
mungkin memberikan paparan pada gen yang menyebabkan
keterlambatan tumbuh kembang dalam kandungan, sehingga akan
terjadi penyakit kardiovaskuler, maupun diabetes mellitus tipe 2.
Dengan kata lain, BBLR berkaitan dengan peningkatan angka
prevalensi penyakit jantung koroner dan kelainan berkaitan stroke,

27
hipertensi dan diabetes tipe 2, efek ini mungkin merupakan konsekuensi
dari programming janin ketika mengalami stimulus atau cedera dalam
periode awal kehidupan yang kritis dan sensitif memberikan efek yang
parmanen terhadap anatomi, fisiologi, dan metabolisme. Hal ini
berkaitan dengan adaptasi yang timbul ketika pasokan zat gizi maternal
ke plasenta tidak berhasil mengimbangi kebutuhan janin. Tingginya
angka BBLR bisa memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa
depan.
3.2 Strategi Ketahanan Pangan untuk Mencegah Stroke
Pada dasarnya ketahanan pangan merupakan sebuah upaya Pemerintah
untuk dapat menyediakan pangan dan kemampuan masyarakat untuk dapat
mengakses pangan tersebut. Seseorang dikatakan memiliki ketahanan pangan
apabila tidak mengalami kondisi kelaparan. Strategi ketahanan pangan unruk
mencegah pnyakit stroke, antara lain:
1. Kesediaan pangan yang bergizi

Berguna untuk meminimalisir timbulnya faktor risiko suatu penyakit.


Dengan upaya penyediaaan pangan yang bergizi maka dapat menjaga
ketahanan pangan di Indonesia.Maka dari itu pemerintah harus dapat
mengupayakan sediaan pangan dalam jumlah yang aman serta bergizi untuk
semua masyarakat. Sediaan pangan tersebut dapat berasal dari produksi
sendiri, impor, maupun cadangan pangan dan bantuan pangan yang diberikan.
Dengan tersedianya pangan yang cukup serta memiliki gizi yang baik yang
dikonsumsi oleh masyarakat sehingga dapat berdampak baik pada
kehidupannya, yaitu dapat beraktifitas secara aktif dan hidup sehat.

Dengan adanya ketersediaan pangan yang memiliki gizi baik, sehingga


dapat diwujudkan ketahanan pangan yang baik pula. Meskipun ketersediaan
pangan melimpah, namun tidak memenuhi gizi yang ada maka tidak akan
terwujud ketahanan pangan yang maksimal.

2. Mengatasi masalah distribusi pangan

28
Gangguan dalam distribusi pangan disebabkan karena akses untuk
menjangkau wilayah kurang memadai. Seperti sarana jalan maupun jembatan
tidak tersedia, sehingga sulit untuk menjangkau daerah terpencil yang
ketahanan pangannya kurang. Maka dari itu perlu ada pemerataan distribusi.
Agar setidaknya wilayah-wilayah di Indonesia dapat menjangkau pangan
yang bergizi untuk upaya meningkatkan status gizi masyarakat.

3. Mengatur pola konsumsi masyarakat


Diperlukan untuk menurunkan faktor risiko dari penyakit stroke.
Konsumsi buah dan sayur serta makanan yang sehat dan diimbangi dengan
aktifitas fisik yang cukup merupakan upaya preventif dari kejadian penyakit
stroke. Apabila masyarakat tidak dapat menjaga pola konsumsinya, maka gizi
masyarakat dapat terganggu.
Pada dasarnya individu cenderung untuk memenuhi keinginannya bukan
kebutuhannya. Contohnya, seseorang lebih gemar memakan junkfood atau
fastfood yang cenderung kecil nilai gizinya. Hal ini terjadi karena ingin
memenuhi keinginannya saja. Apabila kejadian ini sering dilakukan maka
akan dapat mengakibatkan kejadian obesitas maupun kolesterol dan juga
gangguan kesehatan lainnya. Hal tersebut dapat menyebabkan insiden
penyakit stroke meningkat di masyarakat.

29
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

30
DAFTAR PUSTAKA
Nuryani & Rahmawati, 2017. Kssejadian Berat Badan Lahir Rendah Di Desa
Tenelo Kabupaten Gorontalo Dan Faktor Yang Mempengaruhinya. Gizi
Pangan, Volume 12, Pp. 49-54.

Ni Ketut Sri Armini, (2015) Pengaruh Latihan Rom Aktif Asistif Spring Grip
Terhadap Kekuatan Otot Ekstremitas Atas Pada Pasien Stroke Iskemik.
Diploma thesis, Universitas Udayana.

Vandy Ikra, (2015) Perbandingan Nilai Mean Platelet Volume (Mpv) Pada
Pasien Stroke Non Hemoragik Dan Stroke Hemoragik. Fakultas
Kedokteran, Universitas Lampung

Departemen Kesehatan Republik Indonesi. (2011). Tentang Strategi Nasional


Penerapan Pola Konsumsi Makanan Dan Aktifitaa Fisik Untuk Mencegah
Penyakit Tidak Menular.

Wibowo, J. W., 2011. Berat Badan Lahir Rendah Sebagai Faktor Risiko Penyakit
Jantung Koroner. Juli-Desember, 3(2), Pp. 185-20

Dinata, C. A., Safrita, Y. S., & Sastri, S. (2013). Gambaran Faktor Risiko Dan
Tipe Stroke Pada Pasien Rawat Inap Di Bagian Penyakit Dalam Rsud
Kabupaten Solok Selatan Periode 1 Januari 2010-31 Juni 2012. Jurnal
Kesehatan Andalas, 2(2), 57-61.
Http://Jurnal.Fk.Unand.Ac.Id/Index.Php/Jka/Article/Viewfile/119/114 (
Diakses Pada Tanggal 24 April 2018 )
Sukmawati, L., Jenie, M.N. And Anggraheny, H.D., 2012. Analisis Faktor Risiko
Kejadian Stroke Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi
Semarang. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah, 1(2).
Http://Download.Portalgaruda.Org/Article.Php?Article=261986&Val=509
2&Title=Analisis%20faktor%20risiko%20kejadian%20stroke%20di%20ru
mah%20sakit%20umum%20pusat%20dr.%20kariadi%20semarang (
Diakses Pada Tanggal 24 April 2018 )

31
Manurung, M., Diani, N. And Agianto, A., 2015. Analisis Faktor Risiko Stroke
Pada Pasien Stroke Rawat Inap Di Rsud Banjarbaru. Dunia
Keperawatan, 3(1), Pp.74-85. ( Diakses Pada Tanggal 24 April 2018 )
Cristy, I., 2011. Asosiasi Genotip Apolipoprotein E Dengan Fungsi Kognitif Pada
Pasien Pasca Stroke Iskemik (Doctoral Dissertation, Diponegoro
University). (Diakses Pada Tanggal 24 April 2018 )
Adriani, M. (2016). Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana.

Munim, A. (2012). Analisis Pengaruh Faktor Ketersediaan, Akses, Dan


Penyerapan Pangan Terhadap Ketahanan Pangan Di Kabupaten Surplus
Pangan: Pendekatan Partial Least Square Path Modeling. Jurnal Agro
Ekonomi, 41-58.

Rustanti, N. (2015). Buku Ajar Ekonomi Pangan Dan Gizi. Semarang: Deepublis.

Ariani, M., H.P. Saliem, G.S. Hardono, T.B. Purwantini. 2007. Wilayah Rawan
Pangan dan Gizi Kronis di Papua, Kalimantan Barat, dan Jawa Timur.
Bogor: Departemen Pertanian.
Destianto, R., & Pigawati, B. 2014. Analisis keterkaitan perubahan lahan
pertanian terhadap ketahanan pangan Kabupaten Magelang berbasis model
spatio temporal SIG. Geoplanning , 1 (1), 21–32.
Mun’im, A. 2012. Analisis Pengaruh Faktor Ketersediaan, Akses, Dan
Penyerapan Pangan Terhadap Ketahanan Pangan Di Kabupaten Surplus
Pangan: Pendekatan Partial Least Square Path Modeling. J. Agro Ekon. 30,
41–58
Putri H, C., Fatimah P, S. & Rahfiludin, M., 2017. Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) di
Kabupaten Kudus (Studi Wilayah Kerja Puskesmas Undaan Kecamatan
Undaan Kabupaten Kudus tahn 2015). Jurnal Kesehatan Masyarakat FKM
Undip, V(1), pp. 322-331.
World Health Organization. 2011. Optimal Feeding of Low BirthWeight Infants in
Low and Middle-Income Countries. Geneva, Switzerland: WHO.

32
Manuaba C, A, Manuaba B, G, F, Manuaba I, B, G. (2012). Ilmu Kebidanan ,
Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan.
Jakarta: EGC
Okubo H, Yoshihiro M, Satoshi S, Keiko T, Kentaro. Maternal dietary pattern in
pregnancy and fetal growth in japan: the osaka Maternal and child Health
study. British Journal of Nutrition 2011; 2012(107):1526-33.
Muthayya S. Maternal nutrition & low birth weight - what is really important.
2009:600-8.
Cristy, Indiana. 2011. Analisa Patologis dan Epidemiologi Stroke. Semarang.
Universitas Diponegoro

KA, Rahaviana. 2014. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerawanan Pangan.


Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta

33