Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tokoh yang pertama kali memperkenalkan pengertian paradigma adalah
TomasKhun, 1970 (dalam tulisannya The Structure of Scientific Revolution) ia
mendefinisikanparadigma adalah suatu cara pandang, asumsi mengenai realitas, nilai-
nilai, metode-metode, prinsip dasar, suatu model atau pola yang sudah diterima atau
cara memecahkan sesuatu masalah, yang dianut oleh suatu masyarakat ilmiah pada
suatu masa tertentu.
Paradigma tersebut memiliki aturan tersendiri dan semua fakta-fakta dalam
pemerintahan tergambarkan dengan jelas melalui sistem penyelenggaraannya. Saat
paradigma menjelaskan semua fenomena yang diamatinya serta memecahkan semua
masalah yang dikehendaki semua orang, paradigma itu jadi dominan. Apabila
fenomena baru mulai menghambat jalannya paradigma lama maka paradigma
memudar sejalan dengan keraguan yang datang. Apabila hal tersebut terus menerus
terjadi/ tidak bisa menerima paradigma akibat fenomena baru maka paradigma itu
akan terpuruk kekrisis penerimaan ataupun kepercayaan.
Suatu paradigma baru dalam pemerintahan diperkenalkan oleh David Osborne
dan Ted Gaebler Tahun 1992 melalui Reinventing Government, karya tersebut
dituangkan menjadi tulisan yang masuk kategori national best seller dan disarankan
oleh Bill Clinton (Presiden USA): ”Should be read by every elected official in
America. This book gives us the blueprint.” Karya ini muncul usai perang dingin
yang ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin pada saat memasuki dekade 1990-
an. Saat itulah menjadi pertanda runtuhnya paradigma lama tentang pemerintahan.
Pada tahun 1997 dioperasionalkanlah paradigma baru oleh Osborne & Plastrik
dalam bukunya “Banishing Bureaucracy” (Memangkas Birokrasi). Paradigma ini
diinspirasi oleh Presiden Ronald Reagen yang melihat “government is not the
solution to our problems. Government is the problem” .
Konsep Reinventing disini mengharuskan pemerintahan siap menghadapi
tantangan-tantangan, reinverting memperbaiki keefektifan pemerintah saat ini dalam
hal administrasi dan juga dapat membangun organisasi-organisasi yang mampu
memperbaiki keefektifannya di masa depan pada waktu lingkungan organisasi
mengalami perubahan.
Topik pembahasan utama dari tulisan ini adalah pemikiran tentang
Mewirausahakan Birokrasi, dengan menjawab berbagai pertanyaan seputar
bagaimana prinsip-prinsip dan semangat wirausaha dituangkan ke dalam sektor
pelayanan publik Di Indonesia. Dalam makalah ini akan dipaparkan apa yang
dimaksud dengan ReinventingGovernment.
B. Rumusan Masalah
Perumusan Masalah Berdasarkan uraian yang sudah dikemukakan dalam latar
belakang, maka di ajukan pokok permasalahan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan reinventing government yang
merupakan paradigma baru/New Public Management?
2. Bagaimana konsep, prinsip dan permasalahan yang terjadi pada reinverting
goverment (mewirausahakan birokrasi)?
3. Dampak reventing government (miwarausahakan birokrasi) di Indonesia
C. Tujuan Penulisan
Makalah ini ditulis bertujuan untuk:
1. Mengetahui dan memahami bagaimana konsep dari reinverting goverment
dalam pergeseran paradigma yang terjadi.
D. Manfaat Penulisan makalah
1. Sebagai penulis kami mengharapkan para pembaca dapat memahami isi dalam
makalah ini
BAB II
Pembahasan
Perkembangan sistem pemerintahan Indonesia dari periode ke priode
memiliki permasalahannya sendiri, di mana masing-masing permasalahan selalu jatuh
pada Perilaku Birokrasi yang cenderung tidak efisien. Berbagai pemikiran muncul
guna menemukan paradigma baru yang cocok bagi sistem pemerintahan, dari yang
bersifat tradisisonal menuju pada kondisi yang lebih modern dan lebih baik sesuai
dengan tuntutan perkembangan zaman. Diawalai dari Old Public Management, yang
kemudian bergeser menjadi New Public Management dengan Konsep Kewirausahaan
(mewirausahakan birokrasi). Salah satu pemikiran terpopuler pada era 80-an hingga
awal 90-an adalah konsep Reinventing Government dari Osborn dan
Gaebler. Kata Reinventing Government(pemerintahaan wirausaha) berasal dari kata
wirausaha dan pemerintah. Wirausaha disini diartika memindahkan berbagai sumber
ekonomi dari suatu wilayah yang produktivitasnya rendah ke wilayah dengan
produktivitas lebih tinggi dan hasilnya lebih besar (J.B Say 1800).
Reinventing Government adalah transformasi atau perubahan sistem dan
organisasi pemerintah secara fundamental guna menciptakan peningkatan dramatis
dalam efektifitas, efesiensi, dan kemampuan mereka untuk melakukan inovasi
ataupun perubahan (David Osborne dan Peter Plastrik 1997). Transformasi atau
penggantian sistem yang birokratis menjadi sistem yang bersifat wirausaha hal ini
dicapai dengan mengubah tujuan, sistem insentif, pertanggungjawaban, struktur
kekuasaan dan budaya sistem dan organisasi pemerintahan. Pembaharuan disini
bermakna pemerintah harus siap untuk menghadapi tantangan-tantangan dalam hal
pelayanan terhadap masyarakat yang berhak menerima layanan, menciptakan
organisasi-organisasi yang mampu memperbaiki efektifitas dan efisiensi pada saat
sekarang dan di masa yang akan datang.
Sepuluh prinsip reinverting goverment dibawah ini jika disatukan penerapannya
bisa menimbulkan efek baik dalam penyelenggaraan layanan kesehatan, pendidikan,
maupun penanganan kriminalitas. Paradigma reinverting goverment ini menekankan
bahwa pemerintah saat sekarang ini haruslah bersifat:
a) Catalytic goverment, berfokus pada pengarahan. Fungsi utama pemerintah
adalah mengarahkan dan bukan mendayung/menanggung beban
melainkan sebagai mediator dan pemberi arah, oleh karena itu setiap komponen
pemerintah mesti memiliki knowledge-based yang handal. Oleh karena itu, peran
pemerintah bergeser ke arah hakekat pengertiannya semula yaitu sebagai
pengarah bukan penderma seperti konsep kerajaan dengan ratu adil yang kerap
kali dijadikan muatan retorika politik. Metode-metode yang digunakan antara lain
: privatisasi, kontrak, voucher, insentif pajak, lisensi, konsesi, kerjasama
operasional, dan sebagainya.
b) Community-owned goverment. Pada paradigma ini menjelaskan bahwa
pemerintah adalah milik masyarakat dan masyarakat merasa memiliki
pemerintahnya. Maksudnya pemerintah mampu memberdayakan masyarakatnya
melalui pemberian layanan yang menjadi tugas utamanya.
c) Competitive goverment, pemerintah yang kompetitif. Mengarahkan setiapunit
pemerintahan agar berdaya-saing dalam menjalankan layanan usaha berdasarkan
kinerja dan harga.
d) Mission-driven goverment, pemerintah digerakkan oleh Misi.
Pemerintahseharusnya memiliki komitmen tunggal dalam mengutamakan missi
utamanya, dan bukan kepada apapun atau siapapun. Pemerintah yang reinvented
dengan semua aparaturnya harus memiliki komitmen yang kuat untuk
menjalankanproses upaya mewujudkan keberdayaan masyarakatnya.
e) Result-oriented government. Dalam hal ini Pemerintah yang berorientasi kepada
hasil ialah yang mampu menyediakan dana untuk mencapai hasil yang di
inginkan dan bukan mendanai apa yang menjadi bahan atau masukannya.
f) Customer-driven goverment, pemerintah berorientasi pada pelanggan. Artinya
pemerintah (penyedia jasa) itu ada karena dibutuhkan oleh masyarakat yang
merupakan pelanggannya. Memenuhi kebutuhan pelanggan merupakan kewajiban
dan disini pemerintah bukan ssebagai birokrasi yang ingin dilayani (not the
bureaucracy). Pemerintah yang reinvented adalah yang bekerja dengan motivasi
keinginan atau semangat memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakatnya, bukan
untuk dilayani oleh masyarakatnya.
g) Enterprising government, pemerintah wirausaha. Artinya pengembangan
semangat berwirausaha atau menyajikan layanan umum yang prima agar
terbentuk umpan-balik yang sama-sama menguntungkan dalam
menyelenggarakan pemerintahan negara, dengan cara mengukur kemampuan
berdasarkan perolehan dan bukan kemampuan belanja tanpa menghiraukan apa
dan berapa perolehannya (menghasilkan ketimbang membelanjakan).
h) Anticipatory government, pemerintah antisipatif. Sifat antisipatif terbentuk karena
kemampuan melihat ke depan yang dimiliki oleh setiap aparat pemerintah yang
berkaitan erat dengan keahlian merencanakan.
i) Decentralized government, pemerintah desentralisasi. Pada masa era ekonomi
global efisinsi dan produktivitas peningkatkan kinerja. Sentralisasi sangat tidak
efisien, boros dan kontra-produktif karena urusan yangs semakin kompleks hanya
akan membuat hubungan Pusat dan daerahnya menjadi panjang berjenjang.
Sebaliknya, desentralisasi dapat mendorong berkembangnya partisipasi dan
terbentuknya kerja-tim.
j) Market-oriented government, pemerintah berorientasi pada mekanisme
pasar. Setiap produk kerja dari pemerintahan baik barang, jasa, maupun informasi
mesti berorientasi pada pasar. Artinya, dasar kebijakan pemerintah untuk
melakukan sesuatu mesti diorientasikan kepada apa yang diminta oleh masyarakat
terbuka. Dimana proses transaksi terjadi karena ada interaksi yang merdeka
diantara anggotanya.
Dari kesepuluh prinsip diatas Prinsip birokrasi yang ditawarkannya kedalam
sistem pemerintahan yang di adopsi di dalam negara Indonesia yaitu: Pemerintahan
Kompetitifdan Pemerintah Berorentasi Pelanggan. Dalam proses penerapan
reinventing government di Indonesia, syarat yang harus diperhatikan adalah sebagai
berikut :
a) Persiapan penyiapan sumberdaya aparatur birokrasi pemerintah yang mampu dan
siap untuk mendukung operasional prinsip-prinsip reinverting tersebut.
b) Diadakan penyesuaian prosedur kerja yang berorientasi pada efektivitas kerja dan
efesiensi.
c) Dilaksanakan Penyempurnaan peraturan-peraturan yang lebih akomodatif
terhadap perubahan.
Hal tersebut dapat menjadi solusi terhadap pemenuhan prinsip-
prinsip reinventing government. Dalam hal kekhawatiran
pelaksanaan reinventing maka diperlukan proses dan cara yang berbeda untuk
birokrasi pemerintahan di Indonesia, yaitu dengan menggabungkan praktek
manajemen public dengan manajemen privat secara bersinergi dalam membentuk
tatanan birokrasi yang dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Menurut Sunarno tahun 2008 proses penataan kelembagaan pemerintah
melalui reinventing goverment adalah sebagai berikut:
1. Reorientasi. Artinya reinverting mendefenisikan visi, misi, peran, strategi,
implementasi, dan evaluasi kelembagaan pemerintah.
2. Restrukturisasi. Yaitu menata ulang kelembagaan pemerintah melalui reinverting
goverment dengan membangun organisasi sesuai kebutuhan dan tuntutan publik.
3. Aliansi. Mensinergikan atau menyesuaikan seluruh pemegang peran yaitu
pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam tim yang solid agar tercapai
tujuan bersama yang diinginkan.
Proses penataan kelembagaan pemerintah diatas tidaklah bisa berjalan
dengan mulus,terdapat tantangan-tantangan yang timbul dari prinsip-prinsip yang
teratur rapi dalam reinverting goverment. Reinventing menjadikan pemerintah siap
menghadapi tantangan-tantangan yang mungkin tidak dapat diantisipasi. Dengan
demikian konsep ini muncul dari kritik terhadap kinerja pemerintahan selama ini
yang cenderung kaku, tidak fleksibel, kurang adaptif terhadap perkembangan yang
terjadi dan perubahan yang akan terjadi di masa depan. Tantangan yang timbul dari
prinsip reinventing antara lain:
1) Bagaimana mengimplementasikan atau menerapkan konsep-konsep
reinverting (prinsip-prinsip) tersebut tanpa menimbulkan friksi yang justru
akan menghambat efisiensi dan efektivitas birokrasi didalam menjalankan
pemerintahan. Sebab dalam penyelenggaraannya prinsip reinventing
government sesungguhnya baru mengena pada dimensi normatif, tetapi belum
teruji secara empiris.
2) Bagaimana menemukan strategi praktis untuk menggunakan prinsip
reinventing government ke dalam sistem dan mekanisme pemerintah, baik
pusat maupun daerah.
Dalam pelaksanaannya banyak yang menduga bahwa hal ini merupakan
tindakan yang sangat berisiko bila dijalankan pada sistem pemerintahan. Akan tetapi
menurut Peter Drucker: inovasi dan seorang inovator mencapai kesuksesan bukan
karena memandang adanya risiko dari tindakannya, tetapi kemampuan untuk melihat
peluang dari risiko yang akan dihadapi serta memanfaatkannya menjadi sebuah jalan
sukses.
Pada mulanya, gerakan reinventing government berasal dari beban
pembiayaan birokrasi yang besar dengan kinerja aparatur birokrasi pemerintahan
yang rendah sehingga publik atau masyarakat sebagai pembayar pajak mendesak
pemerintah untuk mengefisiensikan anggarannya dan meningkatkan kinerjanya dan
memperbaiki kinerja pemerintahannya. Pengoperasian fungsi pelayanan publik yang
tidak dapat diefisiensikan lagi dan telah membebani keuangan Negara diminta untuk
dikerjakan oleh sektor non-pemerintah. Dengan demikian, maka akan terjadi proses
pereduksian peran dan fungsi pemerintah yang semula memonopoli semua bidang
pelayanan publik, kini menjadi berbagi dengan pihak swasta, yang semula merupakan
“big government” ingin dijadikan “small government” yang efektif,
efisien, responsive, dan accountable terhadap kepentingan publik.
Pada dasarnya gagasan Reinventing Government merupakan gagasan tentang
penataan ulang pemerintahan terhadap birokrasi. Gagasan ini terbilang revolusioner
bagi mereka yang melihat pemerintahan sebagai sesuatu yang mapan, tidak berubah.
Reinventing Government bukan bertujuan untuk menghilangkan peran
pemerintah dalam masyarakat tetapi menjadikan peran tersebut seperti peran swasta.
Dengan kata lainReinventing Government bukan indentik dengan penyelenggara
swasta, tetapi sebagai penyedia layanan jasa bagi masyarakat.
Prinsip-prinsip dari reinventing government diatas dijadikan sebagai dasar
analisa untuk melihat pelaksanaan reinventing government di Indonesia.
Penerapan reinventing government untuk konteks Indonesia dapat dilihat melalui
kelima prinsip utama tersebut yakni:
a) Steering. Pemerintah ialah aktor tunggal dan utama untuk memenuhi seluruh
kebutuhan masyarakat dalam kehidupan bernegara dan masyarakat akan semakin
tergantung kepada pemerintahnya.
b) Empowering. Pada sistem ini rakyat hanyalah sebagai objek tanpa mempunyai
akses untuk ikut berpartisipasi dalam pemerintahan. Rakyat tidak dapat
memberikan saran-saran, pendapat maupun kritikan/koreksi terhadap kinerja
pemerintah sehingga pemerintah bekerja tanpa terkontrol oleh masyarakatnya.
c) Meeting the Needs of the Costumer, not the Bureaucracy. Dalam prinsip
reinventing government ini pemerintah harus memenuhi
kebutuhan consumer (masyarakat) bukan kebutuhan birokrasinya.
d) Earning. Sifat pemerintahan yang selama ini ada adalah selalu berusaha untuk
menghabiskan dana yang ada, tanpa perlu memikirkan bagaimana mendapatkan
dana tersebut. Hal di atas akan dapat dilaksanakan di Indonesia, jika masing-
masing pemerintah daerah sudah mampu membiayai pemerintahannya sendiri
tanpa adanya kekurangan dana disetiap daerahnya.
e) Prevention. Pemerintah selama ini cenderung untuk menyelesaikan suatu
masalah setelah masalah tersebut timbul atau menjadi masalah besar. Setelah
suatu masalah menjadi masalah besar, maka pemerintah akan mengalami
kesulitan besar untuk mengatasinya, baik dari segi kerumitan maupun
pembiayaan.
Menjalankan dan mengelola sektor pemerintahan tidak jauh berbeda dengan
mengelola suatu organisasi perusahaan. Jika yang menjadi tujuan dari sektor swasta
adalah kelangsungan hidup perusahaan dan kemampuan berlaba yang lestari, yang
menjadi tujuan sektor publik ialah cara dan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan
dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintahannya. Kesejahteraan itu tercapai
apabila pelaksanaan program pembangunan berdampak positif bagi masyarakatnya.
Adaupun Dampak new public menagament di Indonesia
Beberapa pihak berpendapat bahwa New Public Management (NPM) tidak
tepat diterapkan untuk negara-negara yang sedang berkembang, karena di dalam
implementasinya mereka mengalami kesulitan, akibat adanya kecenderungan
birokrasi yang masih sangat sulit untuk dihilangkan
Pengadopsian model New Public Management (NPM) yang dilakukan oleh
negara berkembang ini apakah memang benar-benar akan menjadikan lebih baik
ataukah hanya sekadar perubahan yang terjadi di luarnya saja. Kita perlu menilik
sejauh mana efektifitas penerapan New Public Management (NPM) di negara- negara
berkembang pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya.
Menurut Mahmudi, 2003, Terdapat beberapa masalah dalam menerapkan
konsep New Public Management pada negara berkembang.
Pertama, New Public Management berdasarkan pada penerapan
prinsip/mekanisme pasar atas suatu kebijakan sektor publik dan manejemen. Hal ini
juga terkait dengan pengurangan peran pemerintah yang dapat digantikan dengan
pengembangan pasar, yaitu dari pendekatan pemerintah sentris (state centered) yang
kemudian menjadi pasar sentris (market centered approach). Dalam hal ini, negara-
negara berkembang mempunyai pengalaman yang sedikit dalam bidang ekonomi
pasar. Pasar di negara berkembang pada umumnya relatif tidak kuat dan tidak efektif.
Perekonomian pasar di negara berkembang biasanya lebih banyak didominasi oleh
asing atau perusahaan asing, bukan pengusaha pribumi atau pengusaha lokal. Di
samping itu, pasar yang ada di negara berkembang tidak efektif karena tidak adanya
kepastian hukum yang kuat. Sebagai contohnya, masalah tentang kepatuhan terhadap
kontrak kerja sama (contract right) sering menjadi masalah.
Kedua, terdapat permasalahan dalam privatisasi perusahaan-perusahaan di
sektor publik. Privatisasi di negara berkembang bukan merupakan tugas yang dapat
dilakukan dengan mudah. Hal ini dikarenakan pasar di negara berkembang belum
kuat, maka privatisasipun pada akhirnya akan berarti kepemilikan asing atau
sekelompok etnis tertentu saja, yang hal ini sudah tentu dapat membahayakan,
misalnya menciptakan suatu keretakan sosial.
Ketiga, Perubahan dari mekanisme birokrasi ke mekanisme pasar jika tidak
dilakukan secara hati-hati bisa menciptakan suatu wabah korupsi. Hal ini juga
berkaitan dengan permasalahan budaya korupsi yang kebanyakan dialami negara-
negara berkembang. Adanya pergeseran dari budaya birokrasi yang bersifat
paternalistik menjadi budaya pasar yang penuh dengan persaingan membutuhkan
upaya yang kuat untuk dapat mengurangi kekuasaan birokrasi.
Keempat, adanya permasalahan untuk berpindah menuju pada model
pengontrakan dalam pemberian pelayanan publik apabila aturan hukum dan
penegakannya tidak kuat. Dalam hal ini, model pengontrakan akan berjalan baik jika
outcomenya mudah untuk ditentukan. Apabila tujuan suatu organisasi tidak jelas, atau
terjadi wabah korupsi yang sudah membudaya maka penggunaan model-model
kontrak yang kurang berhasil. Terdapat suatu permasalahan politisasi yang lebih
besar di negara berkembang dibandingkan di negara maju, termasuk dalam hal ini
tentang politisasi penyediaan pelayanan publik, serta pemberian kontrak kepada
kroni-kroninya.
Kelima, kesulitan penerapan New Public Management (NPM) di negara
berkembang juga terkait dengan adanya permasalahan kelembagaan, lemahnya dalam
penegakan hukum, permodalan, dan kapabilitas akan sumber daya manusia. Selain
itu, negara berkembang akan terus berusaha melakukan reformasi yang tidak terkait
atau bahkan berlawanan dengan agenda New Public Management (NPM). Paket
dalam agenda New Public Management (NPM) tidak dilaksanakan sepenuhnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mewirausahakan birokrasi dalam sistem pemerintahan adalah suatu cara bagi
pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan jasa bagi masyarakat yang
dipimpinnya, disini masyarakat sebagai konsumen yang hanya memiliki hak atas
pelayanan dari pemerintahannya. Mewirausahakan birokrasi atau yang dikenal
dengan reinverting goverment muncul akibat adanya kritik terhadap pemerintahan
yang sebelumnya berjalan kaku, tidak fleksibel dan kebutuhan akan dana dalam
penyelenggaraan negara kurang bahkan sisitem pemerintahan sebelum masuk era
reformasi birokrasi sistem pemerintahan dianggap tidak efektif dan efisien.
Untuk menjawab kelemahan itu muncullah konsep paradigma atau pemikiran
baru dalam birokrasi pemerintahan yaitu menjadikan pemerintah yang memiliki sifat
memberi pelayanan jasa yang optimal kepada masyarakatnya dan meningkatkan
pendapatan anggara melalui cara wirausaha atau memonopoli layanan usaha baik
dengan pihak masyarakat maupun swasta. Reinverting goverment atau yang dikenal
pada masa paradigma yang diadopsi dari paradigma New Publik Manajemen (NPM).
B. Saran
Dalam penyelenggaraan reinverting goverment terdapat banyak kendala,
tantangan dan halangan untuk mencapai pelayanan publik yang prima melalui proses
mewirausahakan pemerintah, namun reinverting goverment akan dapat berjalan baik
apabila dilakukan penataan kelembagaan pemerintahannya yaitu dengan Reorientasi,
restrukturisasi, dan aliansi. Dengan berpedoman kepada ketiga proses tersebut maka
konsep dan prinsip-prinsip dari paradigma baru yaitu reinverting goverment akan
tercapai dengan baik dan optimal dalam penyelenggaraan pemerintahannya terutama
di negara berkembang seperti di indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Http://hardiyansyah-ahmad.blogspot.com/2009/01/pelaksanaan-prinsip prinsip-
good.html. Jumat, 14 November 2014, pukul 15.00 WIB.
2. Http://berpikirbeda.wordpress.com/2012/05/08/konsep-dasar-reinventing
government/. Jumat, 14 November 2014, pukul 15.05 WIB.
3. Http://ceritahesti.blogspot.com/2013/10/paradigma-reinventing-government.html.
Sabtu, 15 November 2014, pukul 19.00 WIB.
4. Http://dezman-armando.blogspot.com/2011/05/bedah-buku-reinventing-
government.html. Sabtu, 15 November 2014, pukul 20.00 WIB.
5. Http://irend.wordpress.com/2008/10/07/sinergitas-good-governance-demokrasi-dan-
reinventing-government-dalam-menyejahterakan-masyarakat/. Minggu, 16 November
2014, pukul 14.00WIB.
6. Tulisan Endang Wirjatmi “Reinventing
Government”. Http://adieth12.blogspot.com/2011/11/10-prinsip-dalam-reinventing-
government.html. Minggu, 16 November 2014, pukul 20.00 WIB.