Anda di halaman 1dari 21

TUGAS TEORI KEPERAWATAN

MIDDLE RANGE THEORY: POSTPARTUM DEPRESSION


“CHERYL TATANO BECK”

Oleh:

1. Achmad Sya’id (131514153003)


2. Oktaffrastya W. S. (131514153020)
3. Nita Arisanti Y (131514153031)
4. Resti Utami (131514153041)

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ilmiah yang berjudul “MIDDLE
RANGE THEORY “BECK TATANO BECK”POSTPARTUM DEPRESSION
THEORY. Makalah ini disusun sebagai pemenuhan tugas mata Teori Keperawatan.
Makalah ini membahas mengenai bagaimana middle range theory khususnya theory
Cheryl Tatano Beck dalam pelayanan keperawatan.
Masa depan keperawatan adalah praktik keperawatan berdasar teori yang
menerapkan keterampilan berfikir kritis dan teori keperawatan untuk memandu praktik.
Teori keperawatan memberikan pemahaman yang lebih luas tentang situasi klien yang
kompleks dan memandu pengumpulan, organisasi, dan interpretasi data tentang klien.
Teori tersebut memberikan pemikiran logis untuk menjelaskan bagaimana perawat
membantu klien kearah kesehatan yang optimum.
Penyelesaian makalah ilmiah ini tidak lepas dari bantuan dan pengarahan dari
berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Purwaningsih, S.Kp. M.Kes. selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Airlangga
2. Prof. Dr. Suharto, dr. M.Sc. DTM&H., Sp.PD-KTI. selaku Ketua Program Studi
Magister Keperawatan
3. Dr.Joni Haryanto, S.Kp.Ns,M.Si sebagai penanggung jawab mata ajar Teori
Keperawatan.
4. Dr.Ah.Yusuf S.Kp.M.Kes sebagai Dosen Pembimbing pada mata ajar Teori
Keperawatan
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ilmiah
ini. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
segenap pembaca. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan
ilmu pengetahuan khususnya ilmu Teori Keperawatan.
.Surabaya, September 2015
Penulis
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelayanan keperawatan merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan
yang bersifat komprehensif meliputi biopsikososiokultural dan spiritual yang ditujukan
kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, baik dalam keadaan sehat
maupun sakit dengan pendekatan proses keperawatan. Pelayanan keperawatan yang
berkualitas didukung oleh pengembangan teori dan model konseptual keperawatan.
Perlu diyakini bahwa penerapan suatu teori keperawatan dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan akan berdampak pada peningkatan kualitas asuhan keperawatan.
Pelayanan keperawatan sebagai pelayanan profesional akan berkembang bila didukung
oleh teori dan model keperawatan serta pengembangan riset keperawatan dan
diimplementasikan di dalam praktek keperawatan.
Penerapan suatu teori keperawatan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan akan
berdampak pada peningkatan kualitas asuhan keperawatan. Pelayanan keperawatan
sebagai pelayanan profesional akan berkembang bila didukung oleh teori dan model
keperawatan serta pengembangan riset keperawatan dan diimplementasikan didalam
praktek keperawatan.
Profesi keperawatan mengenal empat tingkatan teori, yang terdiri dari meta
theory, grand theory, middle range theory, dan practice theory. Teori-teori tersebut
diklasifikasikan berdasarkan tingkat keabstrakannya, dimulai dari meta theory sebagai
yang paling abstrak, hingga practice theory sebagai yang lebih konkrit. Level ke empat
dari teori tersebut (metatheory) adalah teori dengan level tertinggi dan dijelaskan
dengan prefix “meta”, yang berarti “perubahan pada posisi”, “diluar”, pada level
tertinggi, atau “melebihi” dan merujuk pada body of knowledge atau tentang suatu
bidang pembelajaran seperti metamatematika (Walker, 1995).
Level ke kedua dari teori keperawatan adalah middle range theory yang berfokus
pada suatu dimensi terbatas yaitu pada realitas keperawatan (Smith dan Liehr, 2008).
Model konseptual keperawatan dikembangkan oleh para ahli keperawatan dengan
harapan dapat menjadi kerangka berpikir perawat, sehingga perawat perlu memahami
konsep ini sebagai kerangka konsep dalam memberikan asuhan keperawatan dalam
praktek keperawatan.
Salah satu konsep model keperawatan yang termasuk dalam middle range theory
yang menunjang pengembangan keperawatan baik dalam pengembangan ilmu maupun
dalam praktek adalah model teori keperawatan yang dikembangkan oleh Cheryl Tatano
Beck. Oleh karena itu, penulis akan melakukan analisis konsep teori keperawatan
Cheryl Tatano Beck dalam keperawatan.

1.2 Masalah
Bagaimanakah konsep teory Cheryl Tatano Beck dalam pelayanan keperawatan?

1.3 Tujuan
a. Mengidentifikasi Latar Belakang Teori Cheryl Tatano Beck
b. Mengidentifikasi Sejarah Teori Cheryl Tatano Beck
c. Mengidentifikasi Filosofi Teori Cheryl Tatano Beck
d. Mengidentifikasi Visi dan Misi Teori Cheryl Tatano Beck
e. Mengidentifikasi Nilai Teori Cheryl Tatano Beck
f. Mengidentifikasi Keyakinan Teori Cheryl Tatano Beck
g. Mengidentifikasi Tujuan Teori Cheryl Tatano Beck
h. Mengidentifikasi Konsep Teori Cheryl Tatano Beck
i. Mengidentifikasi Kerangka Teori Cheryl Tatano Beck

1.4 Manfaat
a. Teoritis
Mampu menjelaskan konsep dasar middle range theory khususnya teori Cheryl
Tatano Beck, mengidentifikasi kejadian depresi pada klien postpartum sehingga
perawat bisa membantu klien dalam mengatasi depresi postpartum.
b. Praktis
Menambah wawasan dan pengetahuan dalam mengembangkan kemampuan
berfikir dan menjadi bahan untuk melakukan asuhan keperawatan dengan
masalah depresi postpartum.

1.5 Sistematika
Dalam makalah ini akan dibahas:
a. Latar Belakang Teori Cheryl Tatano Beck
b. Sejarah Teori Cheryl Tatano Beck
c. Filosofi Teori Cheryl Tatano Beck
d. Visi dan Misi Teori Cheryl Tatano Beck
e. Nilai Teori Cheryl Tatano Beck
f. Keyakinan Teori Cheryl Tatano Beck
g. Tujuan Teori Cheryl Tatano Beck
h. Konsep Teori Cheryl Tatano Beck
i. Kerangka Teori Cheryl Tatano Beck

BAB II. TEORI

2.1 Latar Belakang Teori


Menurut beck sekitar 13% sampai dengan 25 % wanita yang melahirkan mengalami
depresi setelah melahirkan. Mengingat tingginya angka wanita yang mengalami depresi
setelah melahirkan sehingga beck tertarik untuk mempelajarinya, walaupun sebenarnya
beck tidak pernah mengalapi depresi setelah melahirkan anak – anaknya. Beck
menggunakan kualitatif dan kuantitatif dalam tulisan – tulisannya karena dia menyadari
bahwa metodology kuantitatif itu tidak cukup untuk merefleksikan perawatan
transpersonal yg ideal sebagaimana dikatakan oleh watson.
Cheryl Tatano Beck adalah seorang profesor di University of Connecticut, School of
Nursing. Gelar Sarjana Science dalam Keperawatan dari Western Connecticut State
University. Cheryl Tatano Beck menerima gelar Master-nya dalam merawat ibu dan
bayi yang baru lahir dari Yale University. Cheryl Tatano Beck memiliki sertifikat
Nursing Maternity dari Yale University. Cheryl Tatano Beck menerima gelar doktor of
Science Keperawatan dari Boston University. Beck adalah anggota dalam American
Academy of Nursing. Cheryl Tatano Beck telah menerima berbagai penghargaan seperti
Keperawatan Timur Research Society, Distinguished Penghargaan Peneliti,
Distinguished Award dari Alumna Yale University dan Perawat Connecticut
'Association Diamond Jubilee Award untuk kontribusinya terhadap penelitian
keperawatan.
Walaupun beck sudah melakukan 7 penelitian mayor mengenai pendidikan dan isu –
isu keperawatan bersama para siswa keperawatan, akan tetapi selama 3 dekade beck
berkonstribusi terhadap perkembangan pengetahuan dalam keperawatan maternitas. Ide
Jean Watson sangat berperan penting dalam penelitian – penelitian beck, yang mana
dikatakan bahwa perawatan itu berpusat pada perawat.
Selama 20 tahun terakhir Beck telah memfokuskan penelitiannya pada upaya
pengembangan program penelitian pada mood postpartum dan gangguan kecemasan.
Beliau telah meneliti secara ekstensif menggunakan metode penelitian kualitatif dan
kuantitatif. Berdasarkan temuan dari beberapa penelitian kualitatifnya, Cheryl Tatano
Beck telah mengembangkan Skala Skrining Depresi Postpartum/Postpartum
Depression Screening Scale (PDSS) yang diterbitkan oleh Western Psychological
Services.
Beliau juga salah seorang penulis produktif yang telah menerbitkan lebih dari 100
artikel jurnal tentang beberapa topik seperti depresi postpartum, trauma lahir, PTSD/
posttraumatic stress disorder karena melahirkan, fenomenologi, grounded theory, meta-
analisis, pengembangan instrumen, meta-sintesis, dan analisis naratif. Saat ini upaya
penelitian Beck difokuskan pada (1) dampak trauma lahir pada menyusui, (2) efek DHA
pada depresi postpartum, dan (3) penilaian psikometri dari Postpartum Depression
Screening Scale melalui administrasi telepon. Beliau telah menjadi anggota Dewan
Pembina Depresi Setelah Pengiriman-Nasional dan Dewan Eksekutif Marce
Internasional Society. Beliau telah ditunjuk untuk Presiden Dewan Pertimbangan
Postpartum Dukungan Internasional.

2.2 Sejarah
Sejarah muncul teori ini berawal dari penelitian Beck pada keadaan ibu postpartum
yang mengalami gangguan mood yang sering diabaikan dalam perawatan kesehatan,
mengabaikan ibu dengan postpartum menderita dalam ketakutan, kebingungan dan
keheningan. Jika hal ini tidak terdiagnosa, dapat mempengaruhi hubungan ibu-bayi dan
menyebabkan masalah emosional jangka panjang bagi anak. Teori ini membedakan
depresi postpartum dari gangguan mood dan kecemasan postpartum lainnya dan aspek-
aspek depresi postpartum: gejala, prevalensi, faktor risiko, intervensi, dan efek pada
hubungan dan perkembangan anak.

Year Focus reasearch Year Focus research


1972 Women’s cognitive and emotional 1999 Maternal depression and child
responses to fetal monitoring behavioral problems
(master’s thesis)
1977 Replication of master thesis 2000 PPDS : development and
psychometric testing
1982 Parturients’ temporal experiences 2001 Comparative analysis between
during labor (doctoral dissertation) PPDS and two other depression
instruments
1985 Mothers’ temporeal experiences in 2001 Item response theory in affective
postpartum period after vaginal and instrument development
cesarean deliveries
1988 Postpartum temporal experiences of 2001 Ensuring content validity
primiparas
1989 Incidence of maternitity blues in 2002 PPD-metasynthesis
primiparas and length of hospital stay
1990 Teetering on the edge: A grounded 2002 Revision of PDPI
theory study of PPD
1992 The lived experience of PPD 2002 Mothering multiples
1994 Nurses’ caring with postpartum 2003 PPD in mothers of babies in the
depressed mothers NICU
1995 Screening methodes for PPD 2003 PPDS – spanish version
1995 PPD and maternal – infant interaction 2004 Birth trauma
1995 Mothes’ with PPD perceptions of 2004 Posttraumatic stress disorder after
nurses’ caring childbirth
1996 Relationship between PPD and infant 2004 Benefits of internet interviews
temperament
1996 Predictors of PPD metaanalysis 2005 DHA in pregnancy
1996 Mothers with PPD and their 2005 Birth trauma and breastfeeding
experiences interacting with children
1996 Concept analysis of panic 2005 Mapping birth trauma narratives
1997 Developing research programs using 2007 PPDS – internet
qualitatve and quantitative
approaches
1998 Effects of PPD on child development 2009 Mothers caring for a child with a
brachial plexus injury
1998 Checklist to identify women at risk of 2012 Subsequent childbirth after previous
PPD birth trauma

2.3 Filosofi Teori


Teori ini mengungkapkan bahwa caring (Teori Jean Watson) sebagai pusat dalam
pelayanan keperawatan. Sehingga Beck, mengaplikasikan teori caring dalam bentuk
membantu klien yang mengalami depresi pada postpartum. Beck menegaskan bahwa
depresi merupakan hasil dari kombinasi stres fisiologis, psikologis, dan lingkungan dan
bahwa gejala bervariasi dan kemungkinan akan muncul beberapa gejala.

2.4 Visi dan Misi Teori


Beck memperkenalkan NURSE program untuk menangani depresi postpartum.
NURSE program ini meliputi 5 aspek perawatan yang diperlukan untuk menyembuhkan
depresi postpartum, yaitu:
1. Nourishment and needs (nutrisi dan kebutuhan lain)
2. Understanding (pemahaman)
3. Rest and relaxation (istirahat dan relaksasi)
4. Spirituality (spiritualitas)
5. Exercise (latihan)
Masing-masing aspek didiskusikan secara terpisah dan dikolaborasikan dengan ibu
yg mengalami depresi postpartum. Wanita dengan depresi postpartum seringkali hanya
bisa berfokus pada satu atau dua aspek dalam satu waktu, namun program ini harus
diselesaikan dalam setiap tahap penyembuhanya.

2.5 Nilai Teori


Hasil dari metasyntesis teori depresi postpartum memberikan implikasi bagi
pelayanan keperawatan dimana konsep kehilangan (Kubler-Ross, 1969) yang
dimunculkan sebagai komponen kunci dari postpartum depresi dapat digunakan perawat
untuk membantu membedakan bentuk kehilangan dari pengalaman wanita dengan
postpartum.

2.6 Keyakinan teori


Beck tidak mengarah kepada caring sebagai teori atau filosofi yang membangun
secara khusus penelitian – penelitiannya. Akan tetapi dia melakukan penelitian yang
membuktikan keyakinannya tentang pentingnya caring/kepedulian dalam perawatan
wanita dengan depresi postpartum. Karena apabila depresi tidak terdiagnosa, dapat
mempengaruhi hubungan ibu-bayi dan menyebabkan masalah emosional jangka
panjang bagi anak

2.7 Tujuan Teori


Tujuan Beck Tatano Beck mengembangkan teori depresi postpartum yaitu:
a. Memahami postpartum sebagai suatu cara yang memberi jalan kepada para
professional untuk mengembangkan strategi pencegahan yang adekuat;
b. Mengembangkan program screening agar bisa memberikan intervensi sedini
mungkin, dan;
c. Mengembangkan strategi treatment yang adekuat untuk mencegah hal – hal yang
berbahaya terhadap para wanita, anak - anak mereka serta keluarga mereka.

2.8 Konsep Teori


Beck Tatano Beck menggunakan ide – ide dari Jean Watson yaitu perawat
sebagai pusat perawatan. Beck juga menggunakan studi phenomenology dalam
penelitiannya terhadap bagaimana wanita mengalami depresi postpartum
( pendekatan Colaizzi’s 1978 ). Selanjutnya Beck menggunakan teori grounded
sebagai pengaruh dari ide – ide teori dan filosofi glasser (1978), Gkasser dan Strauss
(1967), dan Hutchinson (1986). Sumber teori yang tidak seperti biasanya juga
diambil oleh Beck dari Sichel dan Driscoll (1999).

1. Definisi postpartum
Menurut Beck (2002) dalam Records, Rice, Beck (2007), depresi postpartum
adalah episode depresi mayor yang bisa terjadi selama 12 bulan pertama setelah
melahirkan.
2. Faktor penyebab postpartum
Menurut Beck, faktor-faktor yang menyebabkan depresi postpartum ada 13, yaitu
(Varney, et al., 2008) :
a). Depresi prenatal
Depresi prenatal (selama kehamilan) merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya
depresi postpartum yang paling kuat. Depresi prenatal bisa terjadi pada beberapa
atau keseluruhan dari trimester kehamilan (Beck, 2001).
b). Stress merawat anak
Hal-hal yang membuat stres yang berhubungan dengan perawatan anak meliputi
faktor-faktor seperti masalah kesehatan yang dialami bayi, dan kesulitan dalam
perawatan bayi khususnya mengenai masalah makanan dan tidur (Beck, 2001).
c). Stress dalam kehidupan
Stres dalam kehidupan merupakan penunjuk terjadinya stres selama kehamilan dan
setelah kehamilan. Stres yang terjadi dalam hidup seseorang, bisa karena hal yang
positif maupun negatif, dan termasuk juga sebuah pengalaman seperti, perubahan
status perkawinan (contohnya, bercerai, menikah kembali), perubahan pekerjaan,
dan krisis yang terjadi (contohnya, kecelakaan, perampokan, krisis ekonomi, dan
penyakit kronis) (Beck, 2001).

d). Dukungan sosial


Ibu yang baru saja mengalami proses reproduksi sangat membutuhkan dukungan
psikologis dari orang-orang terdekatnya. Kurangnya dukungan dari orang-orang
terdekat dapat menyebabkan penurunan psikologis seperti mudah menangis, merasa
bosan, capek, tidak bergairah, dan merasa gagal yang akan menyebabkan ibu
menjadi depresi (Anonim).
e). Ansietas pranatal
Ansietas pada masa kehamilan bisa terjadi selama beberapa trimester dan kadang
terjadi diseluruh masa kehamilan. Ansietas ini merupakan suatu perasaan ketakutan
pada sesuatu yang akan terjadi mengenai sesuatu yang tidak jelas, ancaman yang
belum jelas (Beck, 2001).
f). Kepuasan perkawinan
Derajat kepuasan dengan sebuah hubungan perkawinan ditandai dengan seberapa
bahagia atau puasnya seorang wanita pada hal-hal tertentu dari perkawinannya,
seperti komunikasi, keterbukaan, kesamaan dalam saling menghargai, saling
membantu, menghargai terhadap suatu keputusan, dan hal-hal yang baik secara
global lainnya (Beck, 2001).
g). Riwayat depresi sebelumnya
Sarafino dalam Ryan (2009), menyatakan bahwa perempuan yang memiliki sejarah
masalah emosional rentan terhadap gejala depresi ini, kepribadian dan variabel
sikap selama masa kehamilan seperti kecemasan, kekerasan dan kontrol eksternal
berhubungan dengan munculnya gejala depresi (Ryan, 2009).
h). Temperamen bayi
Temperamen bayi yang sulit digambarkan sebagai seorang bayi yang lekas marah,
rewel, dan susah dihibur (Beck, 2001). Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Whiffen dan Gotlib (1989) dalam Hagen (1999), yang
menyimpulkan bahwa temperamen sebagai salah satu penyebab terjadinya depresi
postpartum.
i). Maternity blues
Maternity blues adalah sebuah fenomena yang hanya sekilas dari perubahan
suasana hati yang dimulai pada beberapa hari pertama setelah melahirkan dan
paling sedikit 1 sampai 10 hari atau lebih.Keadaan tersebut ditandai dengan
perasaan ingin menangis, cemas, kesulitas konsentrasi, lekas marah, dan suasana
hati yang labil (Beck, 1998a dalam Beck, 2001).

j). Harga diri


Harga diri ditunjukkan kepada perasaan seorang wanita secara umum dalam hal
harga diri dan penerimaan diri sendiri, artinya adalah kepercayaan diri dan
kepuasan terhadap diri sendiri.Rendahnya harga diri menggambarkan negatifnya
evaluasi terhadap diri sendiri dan perasaan terhadap diri seseorang atau kemampuan
seseorang (Beck, 2001).
k). Status sosioekonomi
Segre, Lisa, Losch, O’Hara dalam Wikipedia (2010), mengungkapkan bahwa status
sosial ekonomi berhubungan dengan kejadian depresi postpartum. Semakin rendah
pendapatan keluarga, semakin tinggi pula resiko terjadinya depresi postpartum.
l). Status perkawinan
Status demografi ini berfokus pada kedudukan seorang wanita dalam hal
pernikahan.Tingkatannya adalah tidak menikah, menikah/hidup bersama, bercerai,
janda, berpisah, memiliki pasangan (Beck, 2001).
m). Kehamilan tidak diinginkan atau tidak direncanakan
Kehamilan yang tidak direncanakan, bisa disebabkan oleh perasaan ragu-ragu
terhadap kehamilan yang dialami.Jika kehamilan itu direncanakan, mungkin saja 40
minggu bukanlah waktu yang cukup bagi pasangan untuk menyesuaikan diri
terhadap perawatan bayi yang ada kalanya membutuhkan usaha yang cukup keras
(The American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG), 2009). Seorang
bayi mungkin dilahirkan lebih awal dari perkiraan lahirnya, hal ini juga dapat
menjadi faktor pemicu terjadinya depresi postpartum, karena jika bayi lahir lebih
awal dapat menyebabkan perubahan secara tiba-tiba, baik di lingkungan rumah
maupun perubahan terhadap rutinitas kerja yang tidak diharapkan oleh orang tua
(ACOG, 2009).
3. Pencegahan Depresi Postpartum
Pencegahan terjadinya depresi postpartum dapat dilakukan dengan memberikan
psikoedukasi maupun konseling yang dilakukan oleh perawat maternitas dan profesi
kesehatan lain. Hal ini disebabkan karena bantuan yang diberikan pertama kali adalah
dari tenaga kesehatan. Ibu biasanya gagal keluar dari kondisi yang sulit karena perasaan
yang kurang nyaman, sehingga sangat penting memberikan pelatihan konselor pada
tenaga kesehatan professional agar mampu menolong ibu secara professional. Kegiatan
konseling yang dilakukan dapat meliputi:
a. Konseling perkawinan bagi pasangan yang akan menikah ataupun sudah menikah.
Konseling perkawinan bertujuan untuk membangun dan membina keluarga yang
harmonis. Seorang konselor menjelaskan tentang tujuan perkawinan, mempersiapkan
perkawinan, membina perkawinan, membina hubungan seksual dalam perkawinan,
dan mengasuh serta membimbing anak dalam keluarga. Konselor juga membantu
untuk mengatasi masalah dalam kehidupan keluarga (Nurbaeti, 2002);
b. Konseling antenatal
Tujuan dari menyelenggarakan konseling antenatal bagi ibu hamil dan keluarga
adalah untuk mendapatkan pengetahuan tentang persalinan dan perawatan bayi,
pengetahuan dan perhatian pada aspek emosional serta bagaimana penyelesaian
masalah emosional. Kenyataan menunjukkan bahwa pemberian informasi tentang
depresi postpartum dapat mengurangi kejadian depresi postpartum (Zahra, 2010).
4. Penatalaksanaan Depresi Postpartum
Penatalaksanaan Depression and Bipolar Support Alliance (DBSA) (2010), Jika
mengalami depresi postpartum hal-hal yang dapat dilakukan adalah: 1) bicaralah dengan
ahli kesehatan tentang semua gejala-gejalanya, riwayat kesehatan yang lalu; 2)
bergabunglah dengan sebuah kelompok, dimana bisa berbagi perasaan dan pikiran di
dalamnya; 3) makan secara seimbang dan teratur; 4) lakukan olahraga ringan, seperti
jalan kaki; 5) beri kesempatan kepada keluarga dan teman untuk menolong, seperti
mengerjakan pekerjaan rumah dan mengasuh anak.
2.9 Kerangka Teori
rumah dan mengasuh anak.
2.10 Kerangka Teori
Factor or risk factor for PPD : Konsep Kehilangan:
1. Prenatal depresion
2. Child care stress a. Kehilangan control
3. Life stress b. Kehilangan diri
4. Social support c. Kehilangan
5. Prenata activity
6. Martial satisfaction hubungan
7. History of depression d. Kehilangan suara
8. Infant temperament
CARING 9. Maternity blues
10. Self-esteem
11. Socioeconomi status
Kesenjangan antara harapan dan Membuat keputusan:
12. Marital status realitas pada ibu: a. Menyerah
13. Unplanned or unwanted pregnance a. Harapan yang bertentangan b. Berjuang untuk berjuang hidup
b. Impian yang hancur c. Reintegrasi dan perubahan
Kerangka kerja yang disebut faktor karatif
c. Takut hukuman moral
a. Sistem nilai humanistik dan altruistik
d. Konteks budaya Spiraling downward
b. Kejujuran dan harapan.
c. Sensitifitas pada pribadi seseorang dan orang lain. a. Kecemasan
d. Rasa tolong menolong-Saling percaya, hubungan b. Berpikir diluar kemampuan
antar sesama manusia. c. Berpikir obsesif
e. Mengekspresikan perasaan positif dan negatif. d. Marah
f. Proses pemecahan masalah keperawatan yang e. Gangguan kognitif
kreatif. f. Isolasi dan kesepian
g. Proses belajar mengajar transpersonal. g. Rasa bersalah
h. Lingkungan fisik, social, spiritual dan mental yang h. Resiko mencederai diri
supportif, protektif, dan korektif.
i. Pertolongan dalam memenuhi kebutuhan manusia.
j. Kekuatan spiritual-fenomenologikal-eksistensial
(Watson, 1979/1985).
BAB III. KONTRUKSI KONSEP

3.1 Analisis Konsep

Menghadapi Merasa tidak Berjuang Membangun


suatu berguna untuk kembali control
ancaman (Monoton) bertahan diri
1. Adanya 1.Menghawat 1. Melawan 1. Perubahan
kecemasan irkan suatu kondisi yang yang tidak bisa
yang yang tidak ada diprediksi
menakutkan nyata
2. Berdoa 2. Menganggap
2. Pikiran yang 2.Menarik untuk yang lalu
obsesif Diri ketenangan biarkan berlalu

3. Kehilangan 3.Percobaan 3. Mencari 3. Merasa selalu


konsentrasi melukai diri dukungan berhati – hati
(Enveloping sendiri Depresi
sosial jika munculnya
Fogginess depresi kembali
a. Model kasus : Ny. A dibawa ke IRD RSUD dr soebandi Jember oleh sanak
keluarganya karena percobaan bunuh diri dengan cara memotong urat nadi di
pergelangan tangannya, hal ini dilakukan karena Ny. A merasa sedih yang
psikopatologis akibat kehilangan putranya yang berumur 10 tahun. Anak Ny A
meninggal akibat tenggalam di kolam renang saat Ny A memasak di dapur.
b. Model kasus kontra : Ny B terlihat duduk bersimpuh disamping jenasah anak
satu - satunya yang meninggal saat usia 15 th, Ny B terlihat tegar dan bibirnya
dengan fasih melafalkan ayat – ayat suci al quran dan tak henti – hentikan
mendoakan anaknya sesekali menyalami para tamu yang datang melayat dan
menyampaikan rasa bela sungkawa.

3.2 Sintesis Konsep


Konsep ini dikembangkan berdasarkan berbagai penelitian kualitatif dan kuantitatif.
Beck melakukan temuan dari beberapa penelitian kualitatifnya, Cheryl Tatano Beck
telah mengembangkan Skala Skrining Depresi Postpartum/Postpartum Depression
Screening Scale (PDSS).

3.3 Derivasi Konsep


Konsep ini diderivasi dari ilmu psikiatri
BAB IV. KONTRUKSI STATEMEN

4.1 Analisis Statemen


a. Seleksi statement
a). Teori ini dibangun dari 2 konsep utama yaitu gangguan mood dan kehilangan
control. Kehilangan control yang terdiri dari 4 tahap yaitu :
1 Adanya suatu ancaman;
2 Merasa dirinya tidak berguna
3 Perjuangan untuk bertahan hidup;
4 Tidak mampu mengontrol dirinya kembali;
b). Selain itu terdapat 12 konsep pencetus dan factor resiko, meliputi : depresi
prenatal, stress perawatan bayi, stress hidup, dukungan social, kecemasan
prenatal, kepuasan perkawinan, sejarah depresi, tepramen bayi, harga diri, baby
blues, status social ekonomi, status perkawinan, kehamilan yang tidak
diinginkan.
c). Terdapat juga 6 gejala dari depresi postpartum : gangguan makan dan tidur,
kecemasan dan ketidakamanan, emosi yang labil, kebingungan mental, merasa
harga diri rendah, mudah merasa bersalah bersalah, malu dan memiliki pikiran
untuk bunuh diri.

4.2 Sintesis Statemen


a. Maternity blues mencapai 75 % pada semua wanita dari semua budaya
b. 13 % sampai 25 % depresi post partum rata – rata terjadi pada wanita yang
kurang berada/miskin.
c. 1 sampai 2 orang wanita dari 1000 wanita yang melahirkan mengalami post
partum psychosis.
Dengan demikian angka kejadian post partum depression sangatlah tinggi pada
semua kultur budaya yang menuntut wanita selalu tampil sempurna, pada wanita
dengan ekonomi yang tidak stabil, dan sebab – sebab lain yang di munculkan pada
statement-statement di atas.
4.3 Derivasi Statemen
Sesuai dengan pernyataan Beck bahwa penelitian ini dikembangkan berdasarkan
dari berbagai teori dan berbagai penelitian yang merefleksikan filosofi dan teori yang
mendasari metodology – metodology penting.
BAB V. KONTRUKSI TEORI

5.1 Analisis Teori


a. Kelebihan
1. Teory beck memberikan pemahaman yang holistic terkait postpartum depresi;
2. Teori ini memungkinkan pada pelayanan kesehatan tidak hanya melihat
mengapa postpasrtum itu bisa terjadi tetapi perawat bisa memahami pola pikir
klien dengan depresi postpartum;
3. Teory ini lebih sederhana dan mudah dibaca;
4. Teory ini telah mengeksplorasi tentang kesadaran dan pentingnya penanganan
pada ibu dengan postpartum depresi.
b. Kelemahan :
1. Terbentuknya stigma yang lemah dalam teori ini, karena sedikitnya literature;
2. Penelitian teori ini merupakan penelitian kualitatif sehingga tidak semua
individu berbagi pengalaman yang dialami pada saat mengalami depressi
postpartum.

5.2 Sintesis Teori


Keadaan ibu postpartum yang mengalami dari gangguan mood dan kecemasan
postpartum

5.3 Derivasi Teori


Teori ini mengungkapkan bahwa caring (Teori Jean Watson) sebagai pusat dalam
pelayanan keperawatan. Sehingga Beck, mengaplikasikan teori caring dalam bentuk
membantu klien yang mengalami depresi pada postpartum.
BAB VI. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dibahas pada tinjauan teori, Middle Range teori
adalah suatu pengembangan teori pada tingkat yang lebih kongkret. Midle Range
Theory diorganisasi dalam lingkup terbatas, memiliki sejumlah varibel terbatas, dapat
diuji secara langsung. Teori Middle-Range memiliki hubungan yang lebih kuat dengan
penelitian dan praktik. Salah satu konsep model keperawatan yang termasuk dalam
middle range theory yang menunjang pengembangan keperawatan baik dalam
pengembangan ilmu maupun dalam praktek adalah model teori keperawatan yang
dikembangkan oleh Beck Tatano Beck. Beck Tatano Beck mengaplikasikan teori caring
dalam bentuk membantu klien yang mengalami depresi pada postpartum. Beck
memperkenalkan NURSE program untuk menangani depresi postpartum. NURSE
program ini meliputi 5 aspek perawatan yang diperlukan untuk menyembuhkan depresi
postpartum, yaitu: nourishment and needs (nutrisi dan kebutuhan lain), understanding
(pemahaman), rest and relaxation (istirahat dan relaksasi), spirituality (spiritualitas),
exercise (latihan). Tujuan Beck Tatano Beck mengembangkan teori depresi postpartum
yaitu:
a. memahami postpartum sebagai suatu cara yang memberi jalan kepada para
professional untuk mengembangkan strategi pencegahan yang adekuat;
b. mengembangkan program screening agar bisa memberikan intervensi sedini
mungkin, dan;
c. mengembangkan strategi treatment yang adekuat untuk mencegah hal – hal yang
berbahaya terhadap para wanita, anak - anak mereka serta keluarga mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Beck, C.T. 2001.Predictors Of Postpartum Depression : An Update.Nursing Research

Beck, C.T. 2002. Postpartum depression a meta-syntesis.quality health research

Beck, C.T. 2007. Exemplar:Teetering on the edge: A continually emerging Theory of


postpartum depression in p munhal (Ed). Boston.

Maeve, M.K.2014. Nursing Theory and Their Work, Eigth Edition

Marsh, J.R. 2013. A Middle Range Theory of Postpartum Depression : Analisis And
Application

Walker, L.O.1995. Strategis for Theory Contruction In Nursing. Appleton & Lange:
USA