Anda di halaman 1dari 5

Panduan

Obat High Allert

Rumah Sakit TOTO Kabila Tahun 2016


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, wb
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepadaAllah swt atas keberhasilan
penyusunan panduan obat high allert badan Rumah Sakit Umum Daerah Toto Kabila ini. Buku
panduan di terbitkan bulan januari tahun 2016 panduan in berperan dalam meningkatkan
kesadaran (awareness) pimpinan-staf manajemen-karyawan Rumah Sakit menerapkan keamanan
dalam penggunaan obat yang perlu diwaspadai.
PKOD secara tepat dan benar sebagai salah satu dari 6 sasaran keselamatan pasien
bertujuan untuk mengurangi kejadian / kesalahan yang berhubungan dengan salah obat, salah
pemberian dan salah penyimpanan yang jika digunakan secara tidak benar memiliki risiko tinggi
untuk mengakibatkan bahaya yang signifikan pada pasien.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
meluangkan waktu dan fikirannya untuk mendukung dan berperan serta dalam penyusunan buku
panduan obat high alert dari awal sampai terbitnya buku ini.semoga menjadi amal dan kebaikan
bagi kita semua.
Kami mengharapkan dukungan dari berbagai pihak agar buku pedoman ini dapat
dijadikan auan dalam pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.
Wassallamu’Allaikum Wr. Wb

Tilongkabila, Januari 2016


DIREKTUR RSUD TOTO KABILA

dr. Tonie Doda, Sp.OG


Nip. 19710205 200012 1 005
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Keselamatan (safety) telah menjadi issue global dalam pelayanan Rumah Sakit.
Mengingat keselamatan pasien sudah menjadi tuntutan masyarakat maka pelaksanaan program
keselamatan pasien Rumah Sakit menjadi kewajiban Rumah Sakit untuk melaksanakannya,
karena itu diperlukan panduan yang jelas. Pelaksanaan program keselamatan pasien Rumah Sakit
meliputi: 7 standar pelayanan keselamatan pasien Rumah Sakit, 7 langkah menuju keselamatan
pasien Rumah Sakit dan 9 solusi keselamatan pasien Rumah Sakit serta 6 sasaran keselamatan
pasien.
Harus diakui, Rumah Sakit adalah lembaga yng kompleks yang memiliki tugas utama
memberikan pelayanan kesehatan. Rumah Sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan selalu
dituntut untuk berkualitas dan dilakukan oleh staf professional dan dedikatif. DiRumah Sakit
terdapat ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur, banyak alat dengan tehnologinya,
bermacam jenis tenaga profesi dan non profesi yang siap memberikan pelayanan pasien 24 jam
terus menerus. Keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut apabila tidak dikelola dengan
baik dapat terjadi KTD.
Dalam menerapkan program keselamatan pasien dengan 6 sasaran yang mana sasaran
III adalah peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai. RSUD Toto Kabila
mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki / meningkatkan keamanan obat yang perlu
diwaspadai sebagai berikut:
1) Tidak menyimpan larutan elektrolit pekat di ruang perawatan pasien kecuali di R.OK dan
ICU
2) Setiap obat yang tergolong dalam obat high alert diberi label/stiker pada saat diberikan
kepda pasien
3) Pisahkan penyimpanan obat-obatan yang tergolong dalam obat LASA (Look A like
sound A like)
4) Lakukan pengecekan lebih teliti terhadap pemberian obat high alert sebelum diberikan
kepda pasien

Mengingat obat High Allert sangat penting untuk dilaksanakan.seingga diperlukan


panduan yang jelas untuk pelaksanaannya. Panduan obat High Allert berisikan tujuan
pemantauan, prosedur penyimpanan, dan prosedur pelaksanaan keamanan obat High
Allert.
OBAT HIGH ALLERT

1. Definisi
Obat high alert adalah obat-obatan yang memiliki resiko tinggi untuk menyebabkan/
menimbulkan adanya komplikasi/ membahayakan pasien secara signifikan jika terdapat
kesalahan dalam penggunaannya
2. Tujuan
 Mendeskripsikan prosedur untuk memastikan tidak terjadinya kesalahan dalam
pemberian obat selama perawatan di Rumah Sakit.
 Mengurangi kejadian/ kesalahan yang berhubungan dengan salah obat. Kesalahan
ini dapat berupa: salah jenis obat, kesalahan prosedur, kesalahan medikasi
3. Kewajiban dan tanggung jawab
a) Seluruh staf instalasi Farmasi
I. Memahami dan menerapkan prosedur identifikasi obat
II. Memastikan identifikasi pelabelan obat yang tergolong High Allert yang
benar ketika pemberian obat.
III. Melaporkan kejadian salah pemberian obat
IV. Melakukan Double Cek pada saat memberikan obat
b) Perawat yang bertugas (perawat penanggung jawab pasien)
I. Bertanggungjawab memastikan obat yang tergolong dalam obat High Allert
telah tertempel stiker pada saat diberikan kepada pasien.
II. Memastikan bahwa obat yang tergolong dalam larutan elektrolit konsentrat
tidak tersimpan di ruang perawatan.
c) Kepala instalasi / kepala ruang
I. Memastikan seluruh staf di instalasi memahami prosedur obat High Allert dan
menerapkannya.
II. Sosialisasi secara berkesinambungan terhadap pengelolaan obat High Allert
kepada staf Farmasi
III. Training kepada seluruh staf tentang tata cara pelabelan obat High Alert
IV. Investigasi semua insidens salah pemberian obat dan memastikan
terlaksananya suatu tindakan untuk mencegah terulangnya kembali insidens
tersebut.
d) Manajer
I. Memantau dan memastikan panduan pengelolaan obat High Allert dikelola
dengan baik oleh kepala ruangan.
II. Menjaga standarisasi dalam menerapkan panduan
4. Prosedur penanganan obat High Allert
a) Semua obat golongan High Allert harus diidentifikasi dengan benar sebelum
pemberian obat.
b) Pada setiap obat yang tergolong obat High Alert harus diberi stiker
c) Member label pada setiap obay yang tergolong LASA
d) Penyimpanan obat High Allert tidak disimpan berjajar
5. Revisi dan audit
a) Kebijakan ini akan dikaji ulang dalam kurun waktu 2 tahun
b) Rencana audit akan disusun dengan bantuan komite keselamatan pasien Rumah
Sakit (komite KP-RS) dalam waktu 6 bulan setelah implementasi kebijakan.audit ini
meliputi:
I. Jumlah persentase obat yang diberi stiker/label obat High Allert
II. Akurasi dan reliabilitas informasi yang terdapat di gelang pengenal
III. Alasan mengapa obat tidak diberi label/stiker
IV. Efikasi cara identifikasi lainnya
V. Insidens yang terjadi dan berhubungan dengan misidentifikasi
c) Setiap pelaporan insiden yang berhubungan dengan obat High Allert akan dipantau
dan ditindaklanjuti saat dilakukan revisi kebijakan.