Anda di halaman 1dari 5

 Tindakan Afirmatif Sebagai Kompensasi

Keadilan kompensatif mengimplementasikan bahwa seseorang wajib


memberikan kompensasi terhadap orang yang dirugikan secara sengaja.
Selanjutnya, program tindakan afirmatif diinterpretasikan sebagai salah satu bentuk
ganti rugi yang diberikan kaum pria kulit putih kepada perempuan dan kaum
minoritas karena telah merugikan mereka di masa lalu.
Kelemahan argumen yang mendukung tindakan afirmatif yang didasarkan
pada prinsip kompensasi adalah prinsip ini mensyaratkan hanya dari individu yang
sengaja merugikan orang lain, dan hanya memberikan kompensasi kepada individu
yang dirugikan.
 Tindakan Afirmatif Sebagai Instrumen untuk Mencapai Tujuan Sosial
Hambatan utama yang dihadapi oleh pembenaran utilitarian atas program
afirmatif, pertama berkaitan dengan persoalan apakah biaya sosial dari program
tindakan afirmatif lebih besar dari keuntungan yang diperoleh. Kedua,
mempertanyakan asumsi bahwa ras merupakan indikator kebutuhan yang tepat.
Tujuan-tujuan tindakan afirmatif, adalah sebagai berikut:
a) Salah satu tujuan pogram tindakan afirmatif adalah mendistribusikan
keuntungan dan beban masyarakat yang konsisten dengan prinsip keadilan
distributif, dan mampu menghapuskan dominasi ras atau jenis kelamin
tertentu atas kelompok pekerjaan yang penting.
b) untuk menetralkan bias (baik yang disadari ataupun tidak) untuk menjamin
hak yang sama untuk memperoleh kesempatan bagi kaum perempuan dan
minoritas.
c) Menetralkan kelemahan kompetitif yang saat ini diteliti yang saat ini
dimiliki oleh kaum perempuan dan minoritas saat mereka bersaing dengan
pria kulit putih, agar mereka memperoleh posisi awal yang sama untuk
bersaing dengan pria kulit putih.
Tujuan dasarnya adalah terciptanya masyarakat yang lebih adil. Kesempatan
yang dimiliki seseorang tidak dibatasi oleh ras atau jenis kelaminnya. Tujuan ini
secara moral sah sejauh usaha untuk memperoleh kesempatan yang sama secara
moral juga masih dianggap sah. Cara dimana program tindakan afirmatif berusaha
mencapai tujuan masyarakat yang adil adalah dengan memberikan preferensi pada
kaum perempuan dan minoritas yang berkualifikasi, dibandingkan pria kulit putih
yang berkualifikasi, dalam upaya merekrut dan memberikan kenaikan pangkat serta
membentuk program-program pelatihan bagi para perempuan dan minoritas agar
mereka lebih berkualifikasi untuk melaksanakan pekerjaan tertentu. Namun,
perlakuan preferensial tersebut secara moral dianggap tidak sah. Terdapat tiga
alasan yang diajukan untuk menunjukkan bahwa cara ini tidak sah yaitu :
1) Sering dikatakan bahwa program tindakan afirmatif merupakan
“diskriminasi terhadap pria kulit putih”.
2) Kadang dikatakan bahwa perlakuan preferensial melanggar prinsip keadilan
karena menggunakan karakteristik yang tidak relevan untuk membuat
keputusan kepegawaian.
3) Sejumlah kritikus menyatakan bahwa program tindakan afirmatif
sesungguhnya malah merugikan kaum perempuan dan minoritas karena
program itu mengimplementasikan bahwa mereka sangat lebih rendah
dibandingkan pria kulit putih sehingga perlu bantuan khusus agar
bisabersaing.
Namun, dibalik kritik terhadap program tindakan afirmatif juga terdapat
tanggapan yang mendukung program tindakan afirmatif:
1) Meskipun banyak anggota kelompok minoritas yang mengakui bahwa
tindakan afirmatif melibatkan biaya-biaya tertentu, namun mereka juga
yakin bahwa keuntungannya lebih besar dari biayanya.
2) Program tindakan afirmatif tidak didasarkan pada asumsi inferioritas kaum
perempuan atau minoritas
3) Sebagian besar kaum minoritas merasa jauh lebih direndahkan oleh rasisme,
baik yang terbuka ataupun terselubung.
4) Preferensi yang menjadikan anggota kelompok merasa rendah merupakan
kesan yang sama sekali keliru.

Penerapan Tindakan Afirmatif dan Penanganan Keberagaman


Kriteria lain selain ras dan jenis kelamin yang perlu dipertimbangkan saat
mengambil keputusan dalam program tindakan afirmatif. Pertama, jika hanya
kriteria ras dan jenis kelamin yang digunakan akan mengarah pada perekrutan
pegawai yang tidak berkualifikasi dan mungkin menurunkan produktivitas. Kedua,
banyak pekerjaan yang memiliki pengaruh penting pada kehidupan orang lain. Jika
suatu pekerjaan memiliki pengaruh penting, katakanlah pada jiwa orang lain,
kriteria selain ras dan jenis kelamin harus diutamakan dan lebih dipertimbangkan
dibandingkan tindakan afirmatif. Ketiga, para penentang menyatakan bahwa
program tindakan afirmatif, jika dilanjutkan, akan membuat sebuah negara menjadi
negara yang lebih diskriminatif. Jadi, program-program ini harus dihentikan secepat
mungkin setelah apa yang di ingin diperbaiki telah berhasil diperbaiki.
Pedoman berikut ini di usulkan sebagai salah satu cara untuk memasukkan
berbagai pertimbangan ke dalam program tindakan afirmatif ketika kaum minoritas
kurang terwakili dalam suatu perusahaan:
1. Kelompok minoritas dan bukan minoritas wajib direkrut atau
dipromosikan hanya jika mereka telah mencapai tingkat kompetensi
minimum atau mampu mencapai tingkat tersebut dalam jangka waktu
yang telah ditetapkan.
2. Jika kualifikasi calon dari kelompok minoritas hanya sedikit lebih
rendah (atau sama atau lebih tinggi) dibandingkan yang bukan dari
kelompok minoritas, maka calon tersebut harus lebih diutamakan.
3. Jika calon dari kelompok minoritas dan bukan minoritas sama-sama
berkualifikasi atas suatu pekerjaan, namun calon dari kelompok bukan
minoritas jauh lebih berkualifikasi, maka:
a. Jika pelaksanaan pekerjaan tersebut berpengaruh langsung pada
kehidupan atau keselamatan orang lain (misalnya profesi dokter bedah
atau pilot) atau jika pelaksanaan pekerjaan tersebut memiliki pengaruh
penting pada efisiensi seluruh perusahaan (misalnya jabatan sebagai
kepala pengawas keuangan), maka calon dari kelompok bukan
minoritas yang jauh lebih baik berkualifikasi harus lebuh diutamakan;
namun
b. Jika pekerjaan tersebut (seperti halnya sebagian besar pekerjaan
“umum” dalam perusahaan) tidak berkaitan langsung dengan aspek
keselamatan dan tidak memiliki pengaruh penting pada efisiensi
perusahaan, maka calon dari kelompok minoritas harus lebih
diutamakan.
4. Preferensi juga harus diberikan pada calon dari kelompok minoritas
hanya jika jumlah pegawai minoritas dalam berbagai tingkat jabatan
dalam perusahaan tidak proporsional dengan ketersediaan dalam
populasi.
Kontroversi sehubungan dengan kelayakan moral program tindakan afirmatif
belum berakhir. Tidak berarti program seperti itu tidak melanggar semua prinsip
moral. Jika argumen itu benar, program tindakan afirmatif setidaknya konsisten
dengan prinsip moral.

Gaji yang Sebanding untuk Pekerjaan yang Sebanding


Program nilai sebanding diawali dengan memperkirakan nilai setiap
pekerjaan terhadap suatu organisasi (dalam kaitannya dengan persyaratan keahlian,
tugas, tanggung jawab dan karakteristik lain yang menurut perusahaan layak
memperoleh kompensasi) dan memastikan bahwa pekerjaan dengan nilai yang
sebanding gajinya juga sebanding, tidak peduli apakah pasar tenaga kerja eksternal
memberi gaji yang sama atau berbeda untuk pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Program nilai sebanding menilai setiap pekerjaan menurut tingkat kesulitan,
persyaratan keahlian, pengalaman, akuntabilitas risiko, persyaratan pengetahuan,
tanggung jawab, kondisi kerja, dan semua faktor lain dianggap layak mendapatkan
kompensasi. Selanjutnya pekerjaa-pekerjaan tersebut dianggap layak diberi
gajiyang sama jika nilainya sama, dan gaji yang lebih tinggi (atau lebih rendah) jika
nilainya juga lebih tinggi (atau lebih rendah). Pertimbangan-pertimbangan pasar
kerja digunakan untuk menentukan gaji sesungguhnya yang akan dibayarkan untuk
pekerjaan dengan nilai tertentu. Namun jika nilainya sama, maka gaji yang
diberikan juga harus sama.
Argumen dasar yang mendukung program sebanding di dasarkan pada prinsip
keadilan: keadilan mewajibkan yang sebanding haruslah diperlakukan secara
sebanding. Para pendukun program ini menyatakan bahwa sekarang pekerjaan-
pekerjaan yang dijalankan oleh kaum perempuan oleh pasar kerja dibayar lebih
rendah dibandingkan pekerjaan kaum pria meskipun kedua pekerjaan tersebut
memiliki tanggung jawab dan persyaratan keahlian yang sebanding.
Argumen yang menentang program nilai sebanding menyatakan bahwa tidak
ada cara yang “objektif” untuk mengevaluasi apakah suatu pekerjaan “sebanding”
dengan pekerjaan lain selain menggunakan penilaian pasar kerja yang dalam hal ini
merupakan gabungan dari ratusan evaluasi dari pembeli dan penjual. Lebih jauh
lagi, menurut mereka jika pasar kerja membayar orang-orang dengan gaji rendah,
ini karena jumlah persediaan tenaga kerja yang menginginkan pekerjaan tersebut
lebih besar dari permintaan. Terakhir, para penentang program ini mengatakan
“Pekerjaan pria” yang gajinya lebih besar juga terbuka bagi kaum perempuan. Jika
perempuan memilih pekerjaan dengan gaji rendah dan bukannya gaji tinggi, ini
karena mereka memperoleh utilitas (keuntungan) dari pekerjaan bergaji rendah
yang tidak bias mereka peroleh dari pekerjaan bergaji tinggi.
Para pendukung program nilai seimbang menjawab kritik tersebut dengan
mengatakan bahwa pasar kerja tidak “objektif”. Menurutnya, pekerjaan perempuan
digaji lebih kecil karena pasar kerja yang ada saat ini diskriminatif, mereka
memberikan gaji kecil pada pekerjaan-pekerjaan “perempuan” hanya karena
pekerjaan tersebut ditangani oleh pegawai perempuan.