Anda di halaman 1dari 17

TUGAS : SISTEM SENSORI RESPIRASI

DOSEN : CICI YUSNAYANTI, S.Kep, Ns, M.Kes

ASUHAN KEPERAWATAN SINUSITIS

OLEH :

KELAS : J4

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKES MANDALA WALUYA (MW)

TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. Karena atas berkat dan rahmat Nya
juga kami dapat menyusun makalah asuhan keperawatan “SINUSITIS”.
Dengan selesainya makalah ini kami ucapkan terima kasih dan semoga Allah SWT
memberi balasan yang lebih baik kepada mereka yang telah membantu kami dalam penyusunan
makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Hal ini disebabkan
keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki, maka dari itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk perbaikan dimasa yang akan
datang.
Akhir kata semoga makalah ini mempunyai manfaat bagi kita semua terutama bagi kami
yang masih menuntut ilmu.

Kendari, 02 April 2018

Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sinusitis merupakan penyakit yang sangat lazim diderita di seluruh dunia, hampir
menimpa kebanyakan penduduk Asia. Penderita sinusitis bisa dilihat dari ibu jari bagian
atas yang kempot. Sinusitis dapat menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif terhadap
beberapa bahan, termasuk perubahan cuaca (sejuk), pencemaran alam sekitar, dan jangkitan
bakteri. Gejala yang mungkin terjadi pada sinusitis adalah bersin-bersin terutama di waktu
pagi, rambut rontok, mata sering gatal, kaki pegal-pegal, cepat lelah dan asma. Jika kondisi
ini berkepanjangan akan meimbulkan masalah keputihan bagi perempuan, atau ambeien
(gangguan prostat) bagi laki-laki.
Menurut Lucas seperti yang di kutip Moh. Zaman, etiologi sinusitis sangat
kompleks, hanya 25% disebabkan oleh infeksi, sisanya yang 75% disebabkan oleh alergi
dan ketidakseimbangan pada sistim saraf otonom yang menimbulkan perubahan-perubahan
pada mukosa sinus. Suwasono dalam penelitiannya pada 44 penderita sinusitis maksila
kronis mendapatkan 8 di antaranya (18,18%) memberikan tes kulit positif dan kadar IgE
total yang meninggi. Terbanyak pada kelompok umur 21-30 tahun dengan frekuensi antara
laki-laki dan perempuan seimbang. Hasil positif pada tes kulit yang terbanyak adalah debu
rumah (87,75%), tungau (62,50%) dan serpihan kulit manusia (50%).
Sebagian besar kasus sinusitis kronis terjadi pada pasien dengan sinusitis akut yang
tidak respon atau tidak mendapat terapi. Peran bakteri sebagai dalang patogenesis sinusitis
kronis saat ini sebenarnya masih dipertanyakan. Sebaiknya tidak menyepelekan pilek yang
terus menerus karena bisa jadi pilek yang tak kunjung sembuh itu bukan sekadar flu biasa.
Oleh karena faktor alergi merupakan salah satu penyebab timbulnya sinusitis, salah
satu cara untuk mengujinya adalah dengan tes kulit epidermal berupa tes kulit cukit (Prick
test, tes tusuk) di mana tes ini cepat, simpel, tidak menyakitkan, relatif aman dan jarang
menimbulkan reaksi anafilaktik. Uji cukit (tes kulit tusuk) merupakan pemeriksaan yang
paling peka untuk reaksi-reaksi yang diperantarai oleh IgE dan dengan pemeriksaan ini
alergen penyebab dapat ditentukan.

B. TUJUAN
1. Dapat memahami definisi sinusitis.
2. Dapat mengetahui manifestasi klinis dari sinusitis.
3. Dapat mengetahui etiologi dari sinusitis.
4. Dapat memahami patofisiologi dari sinusitis.
5. Dapat memahami pemeriksaan diagnostic yang perlu dilakukan pada penderita
sinusitis.
6. Dapat mengetahui penatalaksanaan dari sinusitis.
7. Dapat mengetahui komplikasi dari sinusitis.
8. Dapat memahami woc (web of caution) dari sinusitis.
9. Dapat memberikan asuhan keperawatan yang sesuai pada penderita sinusitis.

C. MANFAAT
a. Bagi Profesi

Sebagai bahan masukan bagi tenaga perawat yang bertugas melaksanakan pelayanan

Asuhan Keperawatan khususnya Pada pasien dengan diagnosa Sinusitis

b. Bagi Penulis

Memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama

pendidikan & Menambah wawasan dan keterampilan dalam penerapan proses Asuhan

Keperawatan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFENISI SINUSITIS
Sinusitis adalah suatu keradangan yang terjadi pada sinus. Sinus sendiri adalah
rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. Fungsi dari
rongga sinus adalah untuk menjaga kelembapan hidung & menjaga pertukaran udara di
daerah hidung.
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya
disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyebab utamanya
adalah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat
diikuti oleh infeksi bakter.
Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis, yaitu
o Sinus Frontal, terletak di atas mata dibagian tengah dari masing-masing alis
o Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat disamping hidung
o Sinus Ethmoid, terletak diantara mata, tepat di belakang tulang hidung
o Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid & dibelakang mata
Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus yang
disebut dengan cilia. Fungsi dari cilia ini adalah untuk mendorong lendir yang di produksi
didalam sinus menuju ke saluran pernafasan. Gerakan cilia mendorong lendir ini berguna
untuk membersihkan saluran nafas dari kotoran ataupun organisme yang mungkin ada.
Ketika lapisan rongga sinus ini membengkak maka cairan lendir yang ada tidak dapat
bergerak keluar & terperangkap di dalam rongga sinus. Jadi sinusitis terjadi karena
peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang menyebabkan lendir terperangkap di rongga
sinus & menjadi tempat tumbuhnya bakteri.
Sinusitis paling sering mngenai sinus maksila (Antrum Highmore), karena
merupakan sinus paranasal yang terbesar, letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga
aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia, dasar sinus
maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat
menyebabkan sinusitis maksila, ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar
hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat.

B. ETIOLOGI
Pada Sinusitis Akut, yaitu:
1. Infeksi virus Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran
pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus).
2. Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal
tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat
akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya
akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus
akut.
3. Infeksi jamur
Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem
kekebalan, contohnya jamur Aspergillus
4. Peradangan menahun pada saluran hidung
Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.
5. Septum nasi yang bengkok
6. Tonsilitis yg kronik
Pada Sinusitis Kronik, yaitu:
o Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
o Alergi
o Karies dentis ( gigi geraham atas )
o Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa.
o Benda asing di hidung dan sinus paranasal
o Tumor di hidung dan sinus paranasal.

C. PATOFISIOLOGI
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya
klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam KOM. Mukus juga mengandung
substansi antimicrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh
terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan
Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema,
mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan
ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negative di dalam ronga sinus yang
menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini biasa dianggap sebagai
rinosinusitis non-bacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan.
Bila kondisi ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus merupakan media
baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Secret menjadi purulen. Keadaan ini disebut
sebagai rinosinusitis akut bacterial dan memerlukan terapi antibiotic.
Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada factor predisposisi), inflamasi
berlanjut, terjadi hipoksia dan bacteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak
dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa
menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan
ini mungkin diperlukan tindakan operasi.
Klasifikasi dan mikrobiologi: Consensus international tahun 1995 membagi
rinosinusitis hanya akut dengan batas sampai 8 minggu dan kronik jika lebih dari 8 minggu.
Consensus tahun 2004 membagi menjadi akut dengan batas sampai 4 minggu,
subakut antara 4 minggu sampai 3 bulan dan kronik jika lebih dari 3 bulan.
Sinusitis kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjutan dari
sinusitis akut yang tidak terobati secara adekuat. Pada sinusitis kronik adanya factor
predisposisi harus dicari dan di obati secara tuntas.
Menurut berbagai penelitian, bacteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut
adalah streptococcus pneumonia (30-50%). Hemopylus influenzae (20-40%) dan moraxella
catarrhalis (4%). Pada anak, M.Catarrhalis lebih banyak di temukan (20%).
Pada sinusitis kronik, factor predisposisi lebih berperan, tetapi umumnya bakteri
yang ada lebih condong ka rarah bakteri negative gram dan anaerob.

D. KLASIFIKASI SINUSITIS
Sinusitis sendiri dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu
1. Sinusitis akut : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 3
minggu. Macam-macam sinusitis akut : sinusitis maksila akut, sinusitis
emtmoidal akut, sinus frontal akut, dan sinus sphenoid akut.
2. Sinusitis kronis : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 3-8
minggu tetapi dapat juga berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

E. MANIFESTASI KLINIK
1. Sinusitis maksila akut
Gejala : Demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat, nyeri pada pipi
terutama sore hari, ingus mengalir ke nasofaring, kental kadang-kadang berbau dan
bercampur darah.
2. Sinusitis etmoid akut
Gejala : ingus kental di hidung dan nasafaring, nyeri di antara dua mata, dan pusing.
3. Sinusitis frontal akut
Gejala : demam,sakit kepala yang hebat pada siang hari,tetapi berkurang setelah sore
hari, ingus kental dan penciuman berkurang.
4. Sinsitis sphenoid akut
Gejala : nyeri di bola mata, sakit kepala, ingus di nasofaring
5. Sinusitis Kronis
Gejala : pilek yang sering kambuh, ingus kental dan kadang-kadang berbau,selalu
terdapat ingus di tenggorok, terdapat gejala di organ lain misalnya rematik, nefritis,
bronchitis, bronkiektasis, batuk kering, dan sering demam.
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Rinoskopi anterior
Tampak mukosa konka hiperemis, kavum nasi sempit, dan edema.Pada sinusitis
maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di
meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah
tampak keluar dari meatus superior.
2. Rinoskopi posterior : Tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).
3. Dentogen : Caries gigi (PM1,PM2,M1)
4. Transiluminasi (diaphanoscopia)
Sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan transiluminasi bermakna
bila salah satu sisi sinus yang sakit, sehingga tampak lebih suram dibanding sisi yang
normal.
5. X Foto sinus paranasalis:
Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah Posisi Water’s, Posteroanterior dan Lateral.
Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid
level) pada sinus yang sakit.
Posisi Water’s adalah untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak di bawah
antrum maksila, yakni dengan cara menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa
sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Posisi ini terutama untuk melihat adanya
kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid. Posisi Posteroanterior untuk menilai
sinus frontal dan Posisi Lateral untuk menilai sinus frontal, sphenoid dan etmoid
6. Pemeriksaan CT –Scan
Pemeriksaan CT-Scan merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber
masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan tampak :
penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak homogen pada
satu atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-
kasus kronik).Hal-hal yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan CT-Scan :
a. Kista retensi yang luas, bentuknya konveks (bundar), licin, homogen, pada
pemeriksaan CT-Scan tidak mengalami ehans. Kadang sukar membedakannya
dengan polip yang terinfeksi, bila kista ini makin lama makin besar dapat
menyebabkan gambaran air-fluid level.
b. Polip yang mengisi ruang sinus
c. Polip antrokoanal
d. Massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus
e. Mukokel, penekanan, atrofi dan erosi tulang yang berangsur-angsur oleh massa
jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan sebagai
perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran perifer.
7. Pemeriksaan di setiap sinus
c. Sinusitis maksila akut
Pemeriksaan rongga hidung akan tampak ingus kental yang kadang-kadang dapat
terlihat berasal dari meatus medius mukosa hidung. Mukosa hidung tampak
membengkak (edema) dan merah (hiperemis). Pada pemeriksaan tenggorok,
terdapat ingus kental di nasofaring.
Pada pemeriksaan di kamar gelap, dengan memasukkan lampu kedalam mulut dan
ditekankan ke langit-langit, akan tampak pada sinus maksila yang normal gambar
bulan sabit di bawah mata. Pada kelainan sinus maksila gambar bulan sabit itu
kurang terang atau tidak tampak. Untuk diagnosis diperlukan foto rontgen. Akan
terlihat perselubungan di sinus maksila, dapat sebelah (unilateral), dapat juga
kedua belah (bilateral ).
d. Sinusitis etmoid akut
Pemeriksaan rongga hidung, terdapat ingus kental, mukosa hidung edema dan
hiperemis. Foto roentgen, akan terdapat perselubungan di sinus etmoid.
e. Sinusitis frontal akut
Pemeriksaan rongga hidung, ingus di meatus medius. Pada pemeriksaan di kamar
gelap, dengan meletakkan lampu di sudut mata bagian dalam, akan tampak bentuk
sinus frontal di dahi yang terang pada orang normal, dan kurang terang atau gelap
pada sinusitis akut atau kronis. Pemeriksaan radiologik, tampak pada foto roentgen
daerah sinus frontal berselubung.
f. Sinusitis sfenoid akut
Pemeriksaan rongga hidung, tampak ingus atau krusta serta foto rontgen.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan naso-
endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah
adanya pus di meatus medius (pada sinusistis maksila dan etmoid anterior dan frontal) atau
di meatus superior (pada sinusitis etmoid posterior dan sphenoid).
Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada
pembengkakan dan kemerahan di daerah kantus medius.
Pemerikasaan pembantu yang penting adalh foto polos atau CT scan. Foto polos
posisi Waters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar
seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, batas udara, cairan
(air fluid level) atau penebalan mukosa.
CT scan sinus merupakan golg standard diagnosis sinusitis karena mampu manila
anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secacra keseluruhan dan
perluasannya. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis
sinusistis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra-operasi sebagai panduan
operator saat melakukan operasi sinus.
Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan ini sudah jarang digunakan karena sangat terbatas kegunaannya.
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil secret
dari meatus medius/superior, untuk mendapat antibiotic yang tepat guna. Lebih baik lagi
bila diambil secret yang keluar dari pungsi sinus maksila.
Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila
melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang
sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.

H. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Medis
a. Drainage
1) Dengan pemberian obat, yaitu
Dekongestan local : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak).
Dekongestan oral sedo efedrin 3 X 60 mg.
2) Surgikal dengan irigasi sinus maksilaris.
b. Pemberian antibiotik dalam 5-7 hari (untuk Sinusitis akut) yaitu :
1) Ampisilin 4 X 500 mg
2) Amoksilin 3 x 500 mg
3) Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet
4) Diksisiklin 100 mg/hari.
5) Pemberian obat simtomatik
Contohnya parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.
4. Untuk Sinusitis kromis bisa dengan
1). Cabut geraham atas bila penyebab dentogen
2). Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20)
3). Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi).
2. Sinusitis akut
Tujuan pengobatan sinusitis akut adalah untuk mengontrol infeksi, memulihkan kondisi
mukosa nasal, dan menghilangkan nyeri. Antibiotik pilihan untuk kondisi ini adalah
amoksisilin dan ampisilin. Alternatif bagi pasien yang alergi terhadap penisilin adalah
trimetoprim/sulfametoksazol (kekuatan ganda) (Bactrim DS, Spetra DS). Dekongestan
oral atau topikal dapat saja diberikan. Kabut dihangatkan atau diirigasi salin juga dapat
efektif untuk membuka sumbatan saluran, sehingga memungkinkan drainase rabas
purulen. Dekongestan oral yang umum adalah Drixoral dan Dimetapp. Dekongestan
topikal yang umum diberikan adalah Afrin dan Otrivin. Dekongestan topikal harus
diberikan dengan posisi kepala pasien ke belakang untuk meningkatkan drainase
maksimal. Jika pasien terus menunjukkan gejala setelah 7-10 hari, maka sinus perlu
diirigasi.
3. Sinusitis kronis
Penatalaksanaan medis sinusitis kronik sama seperti penatalaksanaan sinusitis akut.
Pembedahan diindikasikan pada sinusitis kronis untuk memperbaiki deformitas
struktural yang menyumbat ostia (ostium) sinus. Pembedahan dapat mencakup eksisi
atau kauterisasi polip, perbaikan penyimpangan septum, dan menginsisi serta
mendrainase sinus.
Sebagian pasien dengan sinusitis kronis parah mendapat kesembuhan dengan cara
pindah ke daerah dengan iklim yang kering.

I. KOMPLIKASI
1. Kelainan pada Orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang
tersering. Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut, namun
sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan
infeksi isi orbita juga.
Pada komplikasi ini terdapat lima tahapan :
a) Peradangan atau reaksi edema yang ringan.
Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini
terutama ditemukan pada anak, karena lamina papirasea yang memisahkan orbita
dan sinus ethmoidalis sering kali merekah pada kelompok umur ini.
b) Selulitis orbita
Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun pus
belum terbentuk.
c) Abses subperiosteal
Pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita menyebabkan proptosis
dan kemosis.
d) Abses orbita
Pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Tahap ini
disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih serius.
Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan kemosis konjungtiva
merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang makin bertamba.
e) Thrombosis sinus kavemosus
Akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena kedalam sinus kavernosus,
kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik.

2. Kelainan intracranial
a) Meningitis akut
Salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut, infeksi dari
sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus
yang berdekatan, seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau melalui lamina
kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis.
b) Abses dura
Kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium, sering kali mengikuti
sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat, sehingga pasien hanya mengeluh nyeri
kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intra
kranial.
c) Abses subdural
Kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau permukaan otak. Gejala yang
timbul sama dengan abses dura.
d) Abses otak
Setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka dapat terjadi
perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak.
3. Osteitis dan Osteomylitis.
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis
adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala
sistemik berupa malaise, demam dan menggigil.
4. Mukokel
Suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus, kista ini paling
sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut sebagai kista retensi mukus
dan biasanya tidak berbahaya.
Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar dan
melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat bermanifestasi
sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata
ke lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan
gangguan penglihatan dengan menekan saraf didekatnya.
5. Pyokokel.
Mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel meskipun lebih
akut dan lebih berat.
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
a. Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan.
b. Riwayat Penyakit sekarang :
Gejala : Riwayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya, riwayat
pembedahan hidung atau trauma dan penggunaan obat tetes atau semprot hidung : jenis,
jumlah, frekwensinya , lamanya.
Sekret hidung : warna, jumlah, konsistensi secret, epistaksis, ada tidaknya krusta/nyeri
hidung.
Riwayat Sinusitis : nyeri kepala, lokasi dan beratnya, hubungan sinusitis dengan
musim/ cuaca dan gangguan umum lainnya : kelemahan.
Tanda : Demam, drainage, purulen, polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral
pada hidung dan sinus yang mengalami radang sampai Pucat, odema keluar dari hidng
atau mukosa sinus, kemerahan dan odema membran mukosa.
Pemeriksaan penunjung : kultur organisme hidung dan tenggorokan, pemeriksaan
rongent sinus.
c. Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, malaise, dan nyeri
tenggorokan.
d. Riwayat penyakit dahulu :Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung
atau trauma, Pernah mempunyai riwayat penyakit THT, Pernah menderita sakit gigi
geraham.
e. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga klien yang
mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.
f. Riwayat Psikososial : Intrapersonal yaitu perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih),
interpersonal : hubungan klien dengan orang lain sangat baik.
g. Pola fungsi kesehatan
a) Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat : Untuk mengurangi flu biasanya klien
menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping.
b) Pola nutrisi dan metabolisme : biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi
gangguan pada hidung.
c) Pola istirahat dan tidur : selama di rumah sakit klien merasa tidak dapat istirahat
karena klien sering pilek.
d) Pola Persepsi dan konsep diri : klien sering pilek terus menerus dan berbau
menyebabkan konsepdiri menurun.
e) Pola sensorik : daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek
terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).
h. Pemeriksaan fisik
a) Status kesehatan umum : keadaan umum , tanda-tanda vital, kesadaran.
b) Pemeriksaan fisik data fokus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinoskopi (mukosa
merah dan bengkak).

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa yang timbul adalah :
a) Ketidakefektifan Bersihan Jalan nafas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas
b) Nyeri akut berhubungan dengan Agen Cidera
c) Hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi, pemajanan kuman

C. INTERVENSI
No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas NOC NIC
berhubungan dengan obtruksi jalan nafas.  Respiratory Status : ventilation Airway suction
Batasan Karateristik :  Respiratory Status : Airway  Pastikan kebutuhan oral
 Tidak ada batuk patency  Auskultasi suara nafas sebelum dan
 Suara nafas tambahan Kriteria Hasil : sesudah suctioning
 Mendemostrasikan batuk efektif  Informasikan kepada klien dan
 Perubahan frekuensi nafas
dan suara nafas yang bersih, tidak
 Perubahan irama nafas keluarga tentang suctioning
ada sianosis dan dyspneu  Minta klien nafas dalam sebelum
 Sianosis  Menunjukan jalan nafas yang paten
 Kesulitan berbicara atau mengeluarkan  Mampu mendefinisikan dan
suctioning di berikan
suara  Berikan O2 dengan menggunakan
mencegah faktor yang dapat
 Penurunan bunyi nafas menghabat jalan nafas.
nasal untuk menfasilitas suksion
 Dipsneu  Gunakan alat yang steril setiap
 Sputum dalam jumlah yang berlebihan melakukan tindakan
 Batuk yang tidak efektif Airway Management
Faktor Yang Berhubungan  Posisikan pasien untuk
 Lingkungan memaksimalkan ventilasi
 Obtruksi Jalan Nafas  Indentifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas buatan
 Fisiologis
 Pasang mayo bila perlu
 Auskultasi suara nafas
 Berikan brokordilator bila perlu
 Monitor respirasi status O2
2. Nyeri akut berhubungan dengan Agen Cidera NOC NIC
Batasan Karateristik  Pain Level Pain Management
 Perubahan frekuensi pernafasan  Pain Control  Lakukan pengkajian nyeri secara
 Laporan isarat  Comforl Level komperhensif termasd lokasi,
 Diaforesis Kriteria Hasil karateristik, durasi frekuensi, kualitas
 Mengekspresikan perilaku  Mampu mengontrol nyeri dan faktor presipitasi
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang  Observasi reaksi nonverban dan
 Melaporkan nyeri secara verbal
dengan menggunakan manajemen ketidaknyamanan
Faktor yang Berhubungan :
nyeri  Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Agen cidera
 Mampu mngenali nyeri  Pilih dan lakukan penaganan nyeri
 Mengatakan rasah nyaman setelah
 Ajarkan tentang teknik
nyeri berkurang
nonfarmakologi
 Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
 Kolaborasi dengan dokter bila ada
keluhan dan tidakan nyeri tidak
berhasil
Analgesik Administration
- Tentukan lokasi, karateristik,
kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat.
- Cek intruksi dokter tentang jenis
obat, dosesi dan frekuensi.
- Cek riwayat alergi
- Tentukan pilihan analgesik yg sesui
kondisi klien
- Berikan analgesik tepat waktu
- Evaluasi efektivasi analgesik
3. Hipertermia berhubungan dengan proses Noc NIC
inflamasi, pemajanan kuman Termoregulation Fever treatmen
Batasan Karateristik Kriteria hasil : - Monitor suhu sesering mungkin
 Konvulasi  Suhu tubuh dalam rentang normal - Monitor warna dan suhu kulit
 Kulit Kemerahan  Nadi dan RR dalam rentan normal - Monitor TD, Nadi dan RR
 Peningatan suhu tubuh diatas kisaran  Tidak ada perubahan warna kulit - Monitor WBC, hb, dan Hct
normal dan tidak ada pusing - Berikan anti piretik
 Kulit terasa hangat - Berikan pengobatan untk mgatasi
Faktor – Faktor yang Berhubungan penyebab demam
 Penyakit Temperatur Regulation
 Peningkatan laju metabolisme - Monitor suhu tiap 2 jam
- Monitor TD, Nadi dan RR
 Medikasi
- Monitor warna dan suhu kulit
 Trauma
- monitor tanda-tanda hipertermia dan
 Aktivitas berlebihan
hiportermia
- berikan antipiretik jika perlu
Vital Sign Monitoring
- Monitor TD, Nadi dan RR dan suhu
- Catat adanya fultasi tekanan dara
- Monitor adanya cushing triad
- Identivikasi penyebab dari perubahan
vital sign
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Sinusitis merupakan penyakit inflamasi mukosa sinus paranasal yang sering
ditemukan dalam praktik dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab
gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai
dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan
dan kiri. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Infeksi virus ini,
dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan
merokok. Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.
Dalam Consensus International tahun 1995 membagi sinusitis hanya akut dengan batas
sampai 8 minggu yang kebanyakan disebabkan oleh streptococcus pneumonia (30-50%)
dan kronik yang lebih disebabkan oleh bakteri gram negative dan anaerob jika lebih dari 8
minggu.

B. SARAN
Banyak komplikasi yang terjadi pada penderita sinusitis, yakni menyebabkan
komplikasi ke orbita dan intracranial, juga dapat menyebabkan peningkatan serangan asma
yang sulit diobati. Namun komplikasi ini dapat menurun dengan pemberian antibiotic dan
dekongestan sejak dini (awal terjangkitnya sinusitis) untuk mempercepat penyembuhan,
mencegah komplikasi, dan perubahan menjadi kronik.
DATAR PUSTAKA

Nurarif & Kusuma. Asuhan Keperawatan Praktis Berdasakan Penerapan Diagnosa Nanda, NIC,
NOC, Dalam Berbagai Kasus, Edisi Revisi Jilii 1 dan 2. Penerbit Mediaction
Jogja. Jogjakarta 2016
http://kasagan.blogspot.co.id/2014/05/askep-sinusitis.html
http://sittimonalisa.blogspot.co.id/2013/11/askep-sinusitis.html
http://dikyjuniartoakperpembina.blogspot.co.id/2014/12/askep-sinusitis.html