Anda di halaman 1dari 4

Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017

The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

Peran Otopsi Forensik Dalam Penegakkan Hukum


Aryo Valianto1, Noorman Herryadi2

Abstrak PENDAHULUAN
Kematian adalah suatu keadaan yang menyebabkan Awal tahun 2016 lalu telah terjadi
terjadinya gangguan permanen pada sistem susunan
saraf pusat, sistem kardiovaskuler dan sistem suatu kasus yang cukup menyedot perhatian
respirasi, apabila salah satu sistem terganggu, maka
akan mempengaruhi sistem lainnya. Untuk
publik. Tewasnya seorang wanita di sebuah
mengetahui penyebab kematian (cause of death), cafe sesaat setelah ia meminum kopi.
perlu dilakukan pemeriksaan luar dan dalam terhadap
jenazah (otopsi). Otopsi forensik dilakukan apabila ada Dugaan siapa pelaku mengerucut kepada
permintaan dari pihak kepolisian berupa Surat teman korban yang memesankan minuman
Permintaan Visum (SPV) untuk melakukan
pemeriksaan luar dan dalam. Dengan mengkaji dari tersebut, selanjutnya berita tentang dugaan
literatur yang ada tentang pentingnya mengetahui
cause of death (COD) terhadap suatu kasus yang peracunan mulai beredar di media online
diduga ada tindak pidana, diharapkan ilmu kedokteran sebelum pemeriksaan resmi untuk
forensik dan medikolegal memang berperan penting
dalam menegakkan hukum. memastikan penyebab kematian korban
Kata Kunci: Forensik, Cause of death, Surat
dilakukan. Persidangan kasus ini pun
Permintaan Visum, Otopsi, Sianida
disiarkan di televisi secara luas. Masyarakat
Afiliasi Penulis : 1. Dept./SMF Forensik dan Medikolegal Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran – RSUP Dr. Hasan Sadikin menyaksikan perseteruan antara pihak jaksa
Bandung Korespondensi: Aryo Valianto, email:
ryoedogawa@gmail.com yang menuntut dan pengacara yang
membela kliennya. Masing-masing pihak
memanggil saksi-saksi termasuk saksi ahli
untuk dimintakan pendapatnya. Saksi ahli
dalam bidang ilmu kedokteran forensik dan
medikolegal dihadirkan, masing-masing
mengutarakan pendapat berdasarkan
keilmuwannya.
Ilmu Kedokteran Forensik merupakan
salah satu cabang spesialistik dari ilmu
kedokteran yang mempelajari pemanfaatan
ilmu kedokteran untuk kepentingan
penegakan hukum serta keadilan.1 Pada
zaman dulu orang lebih mengenal pelayanan
forensik dengan pelayanan patologi, yaitu
pelayanan forensik untuk korban yang
meninggal. Dalam membantu proses
peradilan guna terangnya suatu perkara
pidana, seorang dokter juga mempunyai
kewajiban yang tidak kalah pentingnya
dengan tugas kemanusiaan. Korban
kejahatan harus memperoleh keadilan yang

36 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aryo Valianto, Peran Otopsi...

memadai, terdakwa perlu diganjar dengan Pada kasus dengan dugaan


memperoleh hukuman yang setimpal (sesuai keracunan, maka sampel yang diperlukan
dengan kejahatan yang terbukti), sedangkan antara lain:7-9
orang yang tidak bersalah harus dilindungi  Darah dari jantung sebanyak 50 ml – 100
dari hukuman yang tidak seharusnya dia ml.
terima.2  Darah dari vena femoralis atau vena
Sumbangan Ilmu Kedokteran subclavia sebanyak 10 ml – 20 ml.
Forensik dalam membantu penyelesaian  Isi lambung sebanyak 50 ml atau
proses penyidikan perkara pidana yang sebanyak yang didapatkan.
menyangkut nyawa manusia, dituangkan  Urine sebanyak 50 ml atau sebanyak yang
dalam bentuk Visum et Repertum.3 Visum et didapatkan.
Repertummenjadi pengganti barang bukti  Organ-organ seperti otak, hati, paru-paru,
dalam pasal 184 Kitab Undang-undang ginjal, otot, jaringan lemak.
Hukum Pidana digolongkan ke dalam bukti  Empedu.
surat.4 Visum et Repertum ini baru bisa  Kulit kepala, rambut, kuku jari tangan dan
dibuat apabila pihak kepolisian (penyidik) kaki.
mengajukan secara langsung Surat  Vitreus humour.
Permintaan Visum et Repertum, seperti yang  Cairan perikardium sebanyak 50 ml at au
telah disebutkan pada pasal 133 KUHAP (1) tsebanyak yang didapatkan.
Dalam hal penyidik untuk kepentingan
 Cairan serebrospinal.
peradilan menangani seorang korban baik
 Kulit dan jaringan di bawah kulit seluas 2
luka, keracunan ataupun mati yang diduga
cm X 2 cm X 1 cm (bila racun diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak
masuk melalui kulit ).
pidana, ia berwenang mengajukan
 Isi usus halus dan usus besar secukup
permintaan keterangan ahli kedokteran
yang diperlukan.
kehakiman atau dokter atau ahli lainnya. (2)
 Cairan di rongga dada (bila sudah ada
Permintaan keterangan ahli sebagaimana
proses pembusukan).
dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
 Tulang dan sum-sum tulang (bila proses
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan
pembusukannya sudah tingkat lanjut).
dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
 Belatung dan serangga lainnya yang
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
ditemukan pada jenazah yang sudah
bedah mayat.5
membusuk.
HASIL DAN PEMBAHASAN Contoh kasus yang akan dibahas
Kematian adalah suatu keadaan yang pada tulisan ini berdasarkan jurnal laporan
menyebabkan terjadinya gangguan kasus kematian yang disebabkan oleh
permanen pada sistem susunan saraf pusat, keracunan sianida. Kasus pertama adalah
sistem kardiovaskuler dan sistem respirasi, kasus keracunan sianida akibat kecelakaan,
apabila salah satu sistem terganggu, maka seorang pria yang memiliki toko perhiasan
akan mempengaruhi sistem lainnya.6 Untuk dan biasa bekerja dengan menggunakan
mengetahui penyebab kematian pada gold plating powder yang mengandung
seseorang, perlu dilakukan pemeriksaan sianida.10 Kasus kedua merupakan penelitian
otopsi. kasus kematian akibat keracunan sianida di

37 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aryo Valianto, Peran Otopsi...

Pusat Nasional Forensik (National Forensic organ dalam seperti jantung dan paru-paru
Service Headquarters) di Seoul, Korea.11 pun dapat berwarna merah terang.10,12
Kasus ke tiga adalah kasus seorang laki-laki Namun, tidak semua kasus memberikan
yang meninggal setelah meminum sebotol gambaran seperti ini. Dari empat jurnal di
bir di sebuah bar.12 Kasus ke empat adalah atas, dua jurnal menyebutkan temuan
penyelidikan terhadap empat kasus tersebut, namun dua jurnal yang lain tidak
13
kematian akibat keracunan sianida. menyebutkan.
Untuk dapat menunjukkan suatu Dari keempat jurnal di atas,
tindak pidana merupakan sebab dari suatu dilakukan pemeriksaan otopsi sesuai dengan
akibat yang terjadi, perlu dipahami bahwa di prosedur standar, disertai dengan
antara keduanya harus terdapat hubungan pengambilan sampel untuk pemeriksaan
sebab akibat. Hubungan kausal tersebut toksikologi. Sampel yang diambil antara lain
diputuskan oleh hakim berdasarkan paru-paru, hati, jantung, otak, darah yang
keyakinannya akan alat-alat bukti yang berasal dari jantung, darah dari vena
ditunjukkan di depan pengadilan. Menurut femoralis, isi lambung, empedu, ginjal, limpa
teori yang sederhana, setiap syarat yang dan mouth swab. Sianida ditemukan pada
berkaitan dengan peristiwa pidana tersebut darah jantung, darah vena femoral, isi
merupakan sebab, dan masing-masingnya lambung, hati, ginjal dan limpa. Kadar
memiliki nilai atau bobot hubungan yang mematikan dari sianida adalah 1-100 mg/L di
sama. Menurut teori yang lebih kompleks dalam darah, 0,1-43 mg/kg di dalam hati dan
hubungan dari masing-masing syarat adalah 2-4000 mg/L di dalam isi lambung.10-13
berbeda-beda. Tiap-tiap teori memandang Kematian akibat keracunan sianida
bobot hubungan dengan melihat kepada jarang ditemukan (karena kasusnya jarang),
pengetahuan umum yang ada dengan sehingga setiap kasus mati mendadak perlu
kemungkinan adanya perubahan kompleks dievaluasi ulang dan dipertimbangkan
keadaan menuju ke arah terjadinya akibat, adanya kemungkinan telah terjadi kasus
dan syarat yang demikian disebut sebagai keracunan.12 Bukti-bukti yang didapat pada
sebab.14 pemeriksaan kedokteran forensik
Melihat contoh sebab akibat merupakan bukti-bukti tidak langsung
dengan kasus keracunan sianida, maka harus (sirkumtansial) yang dihasilkan dari suatu
diketahui reaksi sianida di dalam tubuh dan perbuatan tindakan pidana. Pemeriksaan
bagaimana mekanismenya sampai kedokteran forensik yang sesuai dengan
menyebabkan kematian. Sianida mengikat prosedur yang benar dan akurat, akan
ion besi pada komplek a-a3 sitokrom membantu menegakkan hukum.14
oksidase yang menyebabkan terhambatnya SIMPULAN
metabolisme aerobik, oksigen tidak bisa Visum et Repertum merupakan surat
diikat oleh enzim sitokrom oksidase, oksigen yang berisi laporan hasil pemeriksaan
tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga kedokteran forensik atas barang bukti dalam
ATP tidak dapat dihasilkan. Hal ini rangka penyidikan polisi. Dan sebaiknya,
selanjutnya menyebabkan gangguan yang dokter saat melakukan pemeriksaan
cepat pada fungsi organ-organ vital. Darah mendapatkan informasi tentang keadaan
yang kaya akan oksigen, memberikan warna korban yang diperiksanya, baik melalui
lebam mayat warna merah terang. Organ- heteroanamnesa maupun autoanamnesa.12

38 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Aryo Valianto, Peran Otopsi...

Tanpa otopsi yang sesuai dengan memecahkan kasus tindak pidana sehingga
prosedur yang benar, tidak mungkin dapat terdakwa dapat dihukum (sesuai dengan
ditentukan sebab kematian secara pasti.3 kejahatan yang terbukti dalam mahkamah)
Dengan otopsi yang dilengkapi pemeriksaan dan keadilan dapat ditegakkan.12
penunjang, hasilnya dapat membantu

DAFTAR PUSTAKA

1. Budianto A, dkk, Ilmu Kedokteran Forensik, Edition. New Jersey: Humana Press. 2007. 76-
edisi pertama, cetakan kedua, Jakarta : Bagian 77p.
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia: 1997. 9. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia Nomor 10 tahun 2009 Paragraf 3
2. Rumancay S, Rohmah NI. Ekshumasi Untuk tentang Pemeriksaan Barang Bukti Keracunan,
Membantu Proses Peradilan. Prosiding Konas Pasal 59 ayat 2.
PDFI 2016. Hal 34
10. Pradhan M, Pawar A, Chand S, Behera C, Dikshit
3. Idris AM, Tjiptomartono AL. Penerapan Ilmu PC. Accidental Cyanide Poisoning From
Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Inhalation Of Gold Polishing Chemical:An
Cetakan kedua. Jakarta: Sagung Seto. 2011. Hal Unusual Case Report. J Punjab Acad Forensic
1, 48 Med Toxicol 2012;12(2)

4. Sapardja SE. Peranan Visum et Repertum Bagi 11. Lee KS, Rhee JS, Yum HS. Cyanide Poisoning
Penegakkan Hukum Yang Adil dan Berkepastian Deaths Detected at The National Forensic
Hukum. Prosiding Konas PDFI 2016. Hal 130. Service Headquarters in Seoul of Korea: A Six
Year Survey (2005~2010). Official Journal of
5. Soerodibroto S. KUHP & KUHAP Dilengkapi Korean Society of Toxicology. Vol. 28, No. 3, pp.
Yurisprudensi Mahkamah Agung dan Hoge 195-199 (2012)
Raad, edisi keempat, cetakan ketujuh,
RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2002. 12. Nnoli MA, Legbosi NL, Nwafor PA, Innocent I,
Chukwuonye. Toxicological Investigation of
6. Idries AM, Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Acute Cyanide Poisoning of a 29-year-old Man:
edisi pertama, cetakan pertama, Binarupa A Case Report. Iranian Journal of Toxicology.
Aksara, 1997. Volume 7, No 20, Spring 2013.

7. G, Meyer VL. Recommendation for Sampling 13. Shafi H, Imran M, Usman FH, Ashiq MZ, Sarwar
Postmortem Spesimens for Forensic M, Tahir MA. Toxicological Investigation of
Toxicologycal Analyses and Special Aspects of A Acute Cyanide Poisoning Cases: Report of Four
Postmortem Toxicology Investigations. Cases. Arab Journal of Forensic Sciences and
Guideline for Quality Control in Forensic Forensic Medicine 2015; Volume 1 Issue (2),
Toxicologycal Analyses. June 2004. 230-236.

8. Trestrail HJ. Criminal Poisoning Investigational 14. Sugiharto FA. Praktek Forensik Berbasis Bukti:
Guide for Law Enforcement, Toxicologists, Menghubungkan Bukti Sirkumtansial dengan
Forensic Scientists and Attorneys. Second Pendapat Ahli. Prosiding Konas PDFI 2016. Hal
134.

39 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017