Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nama podsolik merah kuning yang menjadi sangat terkenal di
Indonesia diperkenalkan untuk pertama kali dalam pustaka ilmu tanah
Indonesia oleh Dudal dan Soepraptohardjo (1957). Nama ini digunakan
dalam sistem klasifikasi tanah susunan Baldwin dkk., (1938).
Sebelum nama podsolik merah kuning masuk ke Indonesia, tanah ini
termasuk dalam golongan tanah lateritik. Van der Voort (1950) lebih suka
menyebutnya tanah laterik terdegradasi, yang menunjukkan persepsinya
bahwa tanah itu telah mengalami kerusakan berat. Dames (1955) memakai
nama tanah laterik terdegradasi, yang juga mencerminkan suatu pendapat
bahwa tanah tersebut telah mengalami proses pemunduran kesuburan.
Dalam sistem klasifikasi tanah USDA terbaru (1975, 1985) yang
masih terus dikembangkan dengan kerjasama internasional untuk
kesempurnaannya, tanah podsolik merah kuning secara umum masuk dalam
ordo Ultisol. Dikatakan secara umum karena pada dasarnya nama tanah
yang berasal dari sistem klasifikasi yang berbeda tidak mungkin dipadankan
secara langsung dengan lengkap. Hal ini disebabkan karena setiap sistem
klasifikasi menggunakan seperangkat kriteria kelas yang berbeda. Andaipn
kriteria sama akan tetapi hirarki penerapannya berbeda. Hasil pembentukkan
kelas berbeda pula. Dalam sistem FAO/UNESCO tanah yang disebut ultisol
terpilihkan menjadi dua satuan tanah utama, yaitu Acrisol dan Nitosol.
Acrisol ialah kelompok yang lebih buruk, sedang Nitosol ialah yang lebih
baik.
Penggantian nama tanah dan pemakaian nama tanah baru karena
perubahan sistem klasifikasi, bukan sekedar pengubah sebutan menuruti
mode atau selera, atau suatu ulah akademik, melainkan suatu kenyataan
pembaharuan persepsi dan konsepsi tentang tanah. Perbaikan sistem
klasifikasi membawa peningkatan kecermatan, kejelasan, pemberian, dan
keterandalan penjabaran gejala tanah. Pengertian tentang tanah sebagai
faktor dan pemanfaatan lahan menjadi lebih baik dan ekstrapolusi.
Tanah berordo Ultisols kebanyakan memiliki sifat tanah yang
masam, karena material di dalam profil tanah banyak mengandung mineral
kuarsa dan seskuioksida besi (Fe) dan aluminium (Al), sementara mineral-
mineral lainnya amat sedikit. Berdasarkan hal ini ditambah beberapa ciri
lainnya. Mineral-mineral tersebut memiliki kapasitas menahan hara (KTK)
yang rendah, demikian pula potensi kandungan hara rendah.
Pada kondisi demikian, tanaman pada umumnya mengalami
kekurungan unsur hara. Dipihak lain kandungan unsur Al sangat tinggi,
sehingga mengakibatkan terjadinya keracunan bagi tanaman yang tumbuh di
daerah ini. Terkikisnya lapisan tanah atas karena erosi akan menambah
seriusnya masalah keracunan Al, karena lapisan bawah memiliki kandungan
Al lebih tinggi.

1.2 Tujuan
• Untuk mengetahui karakteristik tanah Ultisol.
• Untuk mengetahui penyebaran Ultisol di wilayah Indonesia.
• Untuk mengetahui komposisi mineral tanah Ultisol.
• Untuk mengetahui sifat kimia dari tanah Ultisol.
• Untuk mengetahui cara pengelolaan tanah Ultisol yang baik dan benar.
BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN

Ultisols dapat berkembang dari berbagai bahan induk, dari yang bersifat
masam hingga basa. Namun sebagian besar bahan induk tanah ini adalah batuan
sedimen masam. Di antara grup Ultisol, Hapludults mempunyai sebaran terluas
(tabel 1). Hal ini karena persyaratan klasifikasinya hanya didasarkan pada nilai
kejenuhan basa yaitu < 35% dan adanya horizon argilik, tanpa ada syarat
tambahan lainnya.

Tabel 1. Luas tanah Ultisol pada tingkat grup berdasarkan batuan pembentuk
tanah.

Tanah Ultisol memiliki kemasaman kurang dari 5,5 sesuai dengan sifat
kimia, komponen kimia tanah yang berperan terbesar dalam menentukan sifat dan
ciri tanah umumnya pada kesuburan tanah. Nilai pH yang mendekati minimun
dapat ditemui sampai pada kedalaman beberapa cm dari dari batuan yang utuh
(belum melapuk). Tanah-tanah ini kurang lapuk atau pada daerah-daerah yang
kaya akan basa-basa dari air tanah pH meningkat pada dan di bagian lebih bawah
solum (Hakim,dkk. 1986).
Tanah Ultisol sering diidentikkan dengan tanah yang tidak subur, tetapi
sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian potensial, asalkan
dilakukan pengelolaan yang memperhatikan kendala (constrain) yang ada pada
Ultisol ternyata dapat merupakan lahan potensial apabila iklimnya mendukung.
Tanah Ultisol memiliki tingkat kemasaman sekitar 5,5 (Munir, 1996).
Tanah ini umumnya berkembang dari bahan induk tua. Di Indonesia
banyak ditemukan di daerah dengan bahan induk batuan liat. Tanah ini merupakan
bagian terluas dari lahan kering di Indonesia yang belum dipergunakan untuk
pertanian. Problem tanah ini adalah reaksi masam, kadar Al tinggi sehingga
menjadi racun tanaman dan menyebabkan fiksasi P, unsur hara rendah, diperlukan
tindakan pengapuran dan pemupukan, keadaan tanah yang sangat masam sangat
menyebabkan tanah kehilangan kapasitas tukar kation dan kemampuan
menyimpan hara kation dalam bentuk dapat tukar, karena perkembangan muatan
positif, dan dicirikan dengan warna tanah yang merah-kuning.
(Hardjowigeno,1993).
Senyawa-senyawa Al monomerik dan Al –hidroksi merupakan sumber
utama kemasaman dapat tukar dan kemasaman tertitrasi pada Ultisol. Sumber-
sumber lain adalah kation-kation ampoter dapat tukar atau senyawa-senyawa
hidroksinya, bahan organik dan hidrogen dapat tukar (Lopulisa,2004).
Ultisol dicirikan oleh adanya akumulasi liat pada horizon bawah
permukaan sehingga mengurangi daya resap air dan meningkatkan aliran
permukaan dan erosi tanah. Erosi merupakan salah satu kendala fisik pada tanah
Ultisol dan sangat merugikan karena dapat mengurangi kesuburan tanah. Hal ini
karena kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kandungan
bahan organik pada lapisan atas. Bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi
miskin bahan organik dan hara.
Tanah Ultisol mempunyai tingkat perkembangan yang cukup lanjut,
dicirikan oleh penampang tanah yang dalam, kenaikan fraksi liat seiring dengan
kedalaman tanah, reaksi tanah masam, dan kejenuhan basa rendah. Pada
umumnya tanah ini mempunyai potensi keracunan Al dan miskin kandungan
bahan organik. Tanah ini juga miskin kandungan hara terutama P dan kation-
kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na, dan K, kadar Al tinggi, kapasitas tukar
kation rendah, dan peka terhadap erosi (Sri Adiningsih dan Mulyadi 1993).
Di Indonesia, Ultisol umumnya belum tertangani dengan baik. Dalam
skala besar, tanah ini telah dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit, karet
dan hutan tanaman industri, tetapi pada skala petani kendala ekonomi merupakan
salah satu penyebab tidak terkelolanya tanah ini dengan baik.
Penyebaran Ultisol di Indonesia
Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai
sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan
Indonesia (Subagyo et al. 2004). Sebaran terluas terdapat di Kalimantan
(21.938.000 ha), diikuti di Sumatera (9.469.000 ha), Maluku dan Papua
(8.859.000 ha), Sulawesi (4.303.000 ha), Jawa (1.172.000 ha), dan Nusa Tenggara
(53.000 ha). Tanah ini dapat dijumpai pada berbagai relief, mulai dari datar
hingga bergunung.

Gambar1. Lanscape Ultisol

Ciri morfologi tanah Ultisol


Pada umumnya Ultisol berwarna kuning kecoklatan hingga merah. Pada
klasifikasi lama menurut Soepraptohardjo (1961), Ultisol diklasifikasikan sebagai
Podsolik Merah Kuning (PMK). Warna tanah pada horizon argilik sangat
bervariasi dengan hue dari 10YR hingga 10R, nilai 3−6 dan kroma 4−8 (Subagyo
et al. 1986; Suharta dan Prasetyo 1986; Rachim et al. 1997; Suhardjo dan Prasetyo
1998; Alkusuma 2000; Isa et al. 2004; Prasetyo et al. 2005).
Warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain bahan organik
yang menyebabkan warna gelap atau hitam, kandungan mineral primer fraksi
ringan seperti kuarsa dan plagioklas yang memberikan warna putih keabuan, serta
oksida besi seperti goethit dan hematit yang memberikan warna kecoklatan hingga
merah. Makin coklat warna tanah umumnya makin tinggi kandungan goethit, dan
makin merah warna tanah makin tinggi kandungan hematit (Eswaran dan Sys
1970; Allen dan Hajek 1989; Schwertmann dan Taylor 1989).
Gambar 2. Profil tanah Ultisol

Tekstur tanah Ultisol bervariasi dan dipengaruhi oleh bahan induk


tanahnya. Tanah Ultisol dari granit yang kaya akan mineral kuarsa umumnya
mempunyai tekstur yang kasar seperti liat berpasir (Suharta dan Prasetyo 1986),
sedangkan tanah Ultisol dari batu kapur, batuan andesit, dan tufa cenderung
mempunyai tekstur yang halus seperti liat dan liat halus (Subardja 1986; Subagyo
et al. 1987; Isa et al. 2004; Prasetyo et al. 2005). Ultisol umumnya mempunyai
struktur sedang hingga kuat, dengan bentuk gumpal bersudut (Rachim et al. 1997;
Isa et al. 2004; Prasetyo et al. 2005).
Komposisi mineral pada bahan induk tanah mempengaruhi tekstur Ultisol.
Bahan induk yang didominasi mineral tahan lapuk kuarsa, seperti pada batuan
granit dan batu pasir, cenderung mempunyai tekstur yang kasar. Bahan induk
yang kaya akan mineral mudah lapuk seperti batuan andesit, napal, dan batu kapur
cenderung menghasilkan tanah dengan tekstur yang halus.
Ciri morfologi yang penting pada Ultisol adalah adanya peningkatan fraksi
liat dalam jumlah tertentu pada horizon seperti yang disyaratkan dalam Soil
Taxonomy (Soil Survey Staff 2003). Horizon tanah dengan peningkatan liat
tersebut dikenal sebagai horizon argilik. Horizon tersebut dapat dikenali dari
fraksi liat hasil analisis di laboratorium maupun dari penampang profil tanah.
Horizon argilik umumnya kaya akan Al sehingga peka terhadap perkembangan
akar tanaman, yang menyebabkan akar tanaman tidak dapat menembus horizon
ini dan hanya berkembang di atas horizon argilik (Soekardi et al. 1993).
Sifat kimia tanah Ultisol
Tanah Ultisol umumnya mempunyai nilai kejenuhan basa < 35%, karena
batas ini merupakan salah satu syarat untuk klasifikasi tanah Ultisol menurut Soil
Taxonomy. Beberapa jenis tanah Ultisol mempunyai kapasitas tukar kation < 16
cmol/kg liat, yaitu Ultisol yang mempunyai horizon kandik.
Reaksi tanah Ultisol pada umumnya masam hingga sangat masam (pH
5−3,10), kecuali tanah Ultisol dari batu gamping ang mempunyai reaksi netral
hingga agak masam (pH 6,80−6,50). Kapasitas tukar kation pada tanah Ultisol
dari granit, sedimen, dan tufa tergolong rendah masing-masing berkisar antara
2,90−7,50 cmol/kg, 6,11−13,68 cmol/kg, dan 6,10−6,80 cmol/kg, sedangkan yang
dari bahan volkan andesitik dan batu gamping tergolong tinggi (>17 cmol/kg).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa tanah Ultisol dari bahan volkan,
tufa berkapur, dan batu gamping mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi
(Prasetyo et al. 2000; Prasetyo et al. 2005; Tabel 2).

Sumber : 1) Prasetyo dan Suharta (2000), 2) Prasetyo et al. (2005), 3) Subagyo et


al. (1986), 4) Suharta dan Prasetyo (1986), 5) Subardja (1986).
Tabel 2.Beberapa sifat kimia tanah Ultisol yang terbentuk dari berbagai bahan
induk tanah.
Nilai kejenuhan Al yang tinggi terdapat pada tanah Ultisol dari bahan
sedimen dan granit (> 60%), dan nilai yang rendah pada tanah Ultisol dari bahan
volkan andesitik dan gamping (0%). Ultisol dari bahan tufa mempunyai
kejenuhan Al yang rendah pada lapisan atas (5−8%), tetapi tinggi pada lapisan
bawah (37−78%). Tampaknya kejenuhan Al pada tanah Ultisol berhubungan erat
dengan pH tanah.
Kandungan hara pada tanah Ultisol umumnya rendah karena pencucian
basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena
proses dekomposisi berjalan cepat dan sebagian terbawa erosi. Pada tanah Ultisol
yang mempunyai horizon kandik, kesuburan alaminya hanya bergantung pada
bahan organik di lapisan atas. Dominasi kaolinit pada tanah ini tidak memberi
kontribusi pada kapasitas tukar kation tanah, sehingga kapasitas tukar kation
hanya bergantung pada kandungan bahan organik dan fraksi liat. Oleh karena itu,
peningkatan produktivitas tanah Ultisol dapat dilakukan melalui perbaikan tanah
(ameliorasi), pemupukan, dan pemberian bahan organik.
Peningkatan fraksi liat yang membentuk horizon argilik pada tanah Ultisol
cukup merugikan karena horizon ini akan menghalangi aliran air secara vertikal,
sebaliknya aliran horizontal meningkat sehingga memperbesar daya erosivitas.
Pembentukan horizon argilik merupakan proses alami yang sulit dicegah, namun
erosi yang terjadi dapat dihindari atau dikurangi dampaknya. Masalah Al
umumnya terjadi pada tanah Ultisol dari bahan sedimen. Bahan sedimen
merupakan hasil dari proses pelapukan (weathering) dan pencucian (leaching),
baik pelapukan dari bahan volkan, batuan beku, batuan metamorf maupun
campuran dari berbagai jenis batuan sehingga mineral penyusunnya sangat
bergantung pada asal bahan yang melapuk.
Oleh karena itu, tanah Ultisol dari bahan sedimen sudah mengalami dua
kali pelapukan, yang pertama pada waktu pembentukan batuan sedimen dan yang
kedua pada waktu pembentukan tanah. Dengan demikian ada kemungkinan bahwa
kandungan Al pada batuan sedimen sudah sangat tinggi. Kondisi ini akan berbeda
bila tanah Ultisol terbentuk dari bahan volkan dan batuan beku. Pada tanah
tersebut Al hanya berasal dari pelapukan batuan bahan induknya. Kondisi ini juga
masih dipengaruhi oleh pH. Pada bahan induk yang bersifat basa, pelepasan Al
tidak sebanyak pada batuan masam, karena pH tanah yang tinggi dapat
mengurangi kelarutan hidroksida Al.
Ultisol dari bahan sedimen mempunyai kesuburan alami yang lebih rendah
daripada Ultisol dari bahan volkan atau batu kapur, karena bahan sedimen sudah
merupakan hasil perombakan bahan lain sehingga kandungan unsur haranya pun
rendah. Ultisol dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur yang berkembang
dari batuan sedimen batu pasir dan batu liat mempunyai nilai kapasitas tukar
kation tanah 3−18 cmol (+) /kg, kejenuhan basa 3− 9%, kejenuhan Al 33−95%,
dan pH 3,70−5 (Prasetyo dan Suharta 2000; Yatno et al. 2000; Prasetyo et al.
2001). Sementara itu tanah Ultisol dari bahan volkan mempunyai nilai kapasitas
tukar kation 13,80−25,49 cmol (+) /kg tanah, kejenuhan basa 4−35%, kandungan
Al 0−16%, dan pH tanah 4,60−5,70 (Subagyo et al. 1987; Prasetyo et al. 2005).

Komposisi mineral tanah Ultisol


Susunan mineral primer yang dominan pada Ultisol dengan bahan induk
yang berbeda disajikan pada Tabel 3. Kuarsa yang dominan terdapat pada Ultisol
yang terbentuk dari tufa berkapur dan dari batuan granit (Pedon 3, Typic
Haplohumults dan Pedon 1, Typic Kandiudults). Pada Ultisol yang berkembang
dari batuan tufa masam ( Pedon 2, Typic Paleudults), kuarsa dan opak
mendominasi susunan mineral pasir, sedangkan pada Ultisol dari bahan volkan
intermedier (Pedon 4, Typic Paleudults), opak merupakan mineral yang dominant
pada fraksi pasir. Yatno et al. (2000) menyatakan Ultisol dari batuan liat dan
pasir didominasi oleh mineral kuarsa.
Tabel 3. Komposisi mineral primer yang dominan pada horizon argilik tanah
Ultisol dari beberapa bahan induk.

Kandungan mineral mudah lapuk (weatherable mineral) seperti orthoklas,


biotit, epidot, gelas volkan olivin, sanidin amfibol, augit, dan hiperstin pada tanah
Ultisol umumnya rendah bahkan sering tidak ada (Subardja 1986; Suharta dan
Prasetyo 1986; Prasetyo et al. 1998; Prasetyo et al. 2005). Dengan demikian
Ultisol tergolong tanah yang miskin akan unsur hara.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa bahan induk tanah Ultisol
menentukan komposisi mineralnya. Pada tanah yang berbahan induk batuan
masam, mineral primer didominasi oleh kuarsa, sedangkan pada tanah dari bahan
volkan didominasi oleh opak. Tufa masam merupakan jenis batuan sedimen
masam dari bahan volkan sehingga komposisi mineral primernya didominasi oleh
campuran opak dan kuarsa.
Komposisi mineral liat Ultisol didominasi oleh kaolinit (Suharta dan
Prasetyo 1986; Setyawan 1997; Prasetyo et al. 2001; Alkusuma dan Badayos
2003; Prasetyo et al. 2005). Gambar 3 memperlihatkan komposisi mineral liat dari
Ultisol berbahan induk batuan granit. Pada gambar tersebut kaolinit ditunjukkan
oleh puncak difraksi 7,18A, dan 3,56A. Mineral liat lainnya adalah vermikulit
dengan puncak difraksi 14,2A dan gibsit dengan puncak difraksi 4,83A. Puncak
difraksi 11A pada perlakuan pemanasan K+ hingga 550° C menunjukkan adanya
interlayer hidroksi Al.

Gambar 3.Difaktogram XRD dari Ultisol berbahan induk batuan granit (Suharta
dan Prasetyo 1986).

Ultisol merupakan tanah masam yang telah mengalami pencucian basa-


basa yang intensif dan umumnya dijumpai pada lingkungan dengan drainase baik.
Kondisi tersebut sangat menunjang untuk pembentukan mineral kaolinit. Namun,
dominasi kaolinit tersebut tidak mempunyai kontribusi yang nyata pada sifat
kimia tanah, karena kapasitas tukar kation kaolinit sangat rendah, berkisar
1,20−12,50 cmol/kg liat (Briendly et al. 1986; Prasetyo dan Gilkes 1997). Mineral
liat lainnya yang sering dijumpai adalah haloisit dan gibsit (Subagyo et al. 1986).
Adanya mineral smektit pada tanah Ultisol pernah dilaporkan oleh
Subagyo et al. (1986) pada Ultisol dari batuan gamping di daerah Tuban, Jawa
Timur dan oleh Prasetyo et al. (2000) pada Ultisol dari bahan tufa berkapur di
daerah Pametikarata, Sumba Timur. Smektit merupakan jenis mineral 2:1 yang
kehadirannya dalam tanah akan sangat menentukan sifat fisik dan kimia tanah.
Pembentukan mineral ini memerlukan lingkungan dengan pH netral dan terjadi
akumulasi basa-basa dan silika. Pada kedua jenis tanah Ultisol tersebut, smektit
berasal dari bahan induk tanah (inherited) yang terbentuk melalui proses geologi
(geogenic), bukan melalui proses pembentukan tanah (pedogenic). Smektit pada
Ultisol umumnya sedang dalam proses pelapukan, yang dicirikan oleh tingginya
Al dapat ditukar dan nilai kapasitas tukar kation yang rendah.

Teknologi pengelolaan Ultisol


Ditinjau dari luasnya, tanah Ultisol mempunyai potensi yang tinggi untuk
pengembangan pertanian lahan kering. Namun demikian, pemanfaatan tanah ini
menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan
tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. Beberapa
kendala yang umum pada tanah Ultisol adalah kemasaman tanah tinggi, pH rata-
rata < 4,50, kejenuhan Al tinggi, miskin kandungan hara makro terutama P, K, Ca,
dan Mg, dan kandungan bahan organik rendah. Untuk mengatasi kendala tersebut
dapat diterapkan teknologi pengapuran, pemupukan P dan K, dan pemberian
bahan organik. Penerapan teknologi tersebut dapat meningkatkan hasil tanaman
jagung (Tabel 4).

Tabel 4. Hasil jagung pada tanah Ultisol dengan pemupukan P, pengapuran,


dan pemberian bahan organik.

a. Pengapuran
Untuk mengatasi kendala kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi
dapat dilakukan pengapuran. Reaksi tanah masam dengan kejenuhan Al tinggi
sudah menjadi merek dari tanah ini. Kemasaman tanah berhubungan erat
dengan kejenuhan Al, seperti yang dilaporkan oleh Abruna et al. (1975), %
kejenuhan Al = 516,10−163,97, kemasaman tanah + 12,70 (kemasaman tanah)
2 dengan r = 0,90.
Kandungan Al yang tinggi berasal dari pelapukan mineral mudah
lapuk. Kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi dapat dinetralisir dengan
pengapuran. Pemberian kapur bertujuan untuk meningkatkan pH tanah dari
sangat masam atau masam ke pH agak netral atau netral, serta menurunkan
kadar Al. Untuk menaikkan kadar Ca dan Mg dapat diberikan dolomit,
walaupun pemberian kapur selain meningkatkan pH tanah juga dapat
meningkatkan kadar Ca dan kejenuhan basa.
Terdapat hubungan yang sangat nyata antara takaran kapur dengan Al
dan kejenuhan Al (Sri Adiningsih dan Prihatini 1986). Pengapuran efektif
mereduksi kemasaman (Wade et al. 1986), dan pemberian kapur setara dengan
l x Aldd dapat menurunkan kejenuhan Al dari 87% menjadi < 20% (Sri
Adiningsih dan Prihatini 1986). Pada tanaman kedelai, pemberian kapur
hingga kedalaman 30 cm dapat memberikan hasil tertinggi, tetapi residu kapur
tidak mempengaruhi tinggi tanaman jagung yang ditanam setelah kedelai, dan
hanya berpengaruh pada bobot tongkol basah (Suriadikarta et al. 1987a;
1987b). Pemberian kapur dapat mengatasi masalah kemasaman tanah dan juga
menjamin tanaman dapat bertahan hidup dan berproduksi bila terjadi
kekeringan (Amien et al. 1990). Takaran kapur didasarkan pada Aldd atau
persentase kejenuhan Al, karena setiap jenis tanaman khususnya tanaman
pangan mempunyai toleransi yang berbeda terhadap kejenuhan Al (Tabel 5).
Makin besar persentase kejenuhan Al dalam tanah, makin banyak kapur yang
harus diberikan ke dalam tanah untuk mencapai pH agak netral sampai netral.

Tabel 5.Toleransi beberapa jenis tanaman terhadap kejenuhan aluminium.


Pengapuran tampaknya dapat mengatasi masalah kejenuhan Al dan
kemasaman pada tanah Ultisol. Namun di beberapa daerah seperti di
Kalimantan dan Sumatera, ketersediaan kapur relatif terbatas, dan bila tersedia
harganya belum tentu terjangkau oleh petani. Pengapuran sebaiknya hanya
dilakukan bila pH tanah di bawah 5 karena pada pH di atas 5,50, respons Al
rendah karena sudah mengendap menjadi Al (OH)3.

b. Pemupukan Fosfat dan Kalium


Pemupukan fosfat merupakan salah satu cara mengelola tanah Ultisol,
karena di samping kadar P rendah, juga terdapat unsur-unsur yang dapat
meretensi fosfat yang ditambahkan. Kekurangan P pada tanah Ultisol dapat
disebabkan oleh kandungan P dari bahan induk tanah yang memang sudah
rendah, atau kandungan P sebetulnya tinggi tetapi tidak tersedia untuk
tanaman karena diserap oleh unsur lain seperti Al dan Fe. Ultisol pada
umumnya memberikan respons yang baik terhadap pemupukan fosfat.
Penggunaan pupuk P dari TSP lebih efisien dibanding P alam (Hakim
dan Sediyarsa 1986), namun pengaruh takaran P terhadap hasil tidak nyata.
Pemberian P 200−250 ppm P2O5 pada tanah Ultisol dari Lampung dan Banten
dapat menghasilkan bahan kering 3−4 kali lebih tinggi dari perlakuan tanpa
fosfat (Sediyarsa et al. 1986). Di samping itu pengaruh residu pemupukan P
masih terlihat walaupun hasil tanaman lebih rendah dari pertanaman
sebelumnya (Sugiyono et al. 1986). Respons tanaman jagung terhadap
pemupukan P dan N pada tanah Typic Paleudults sangat tinggi karena status
kesuburan Typic Paleudults sangat rendah. Penelitian lanjutan menunjukkan
bahwa takaran pupuk P dan N untuk pertanaman jagung kedua lebih kecil dari
pertanaman pertama (Soepartini dan Sholeh 1986).
Residu pupuk P pada tanah Ultisol memberikan pengaruh yang nyata
terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai (Suriadikarta dan Widjaja-Adhi
1986), bahkan residu P sebesar 3 x 60 kg P/ha dapat menaikkan ketersediaan P
dalam tanah dari 3,30 menjadi 10,10 ppm P2 O5 . Pupuk K dalam bentuk KCl
diberikan dengan takaran 100−130 kg KCl/ha.
c. Bahan Organik
Tanah Ultisol umumnya peka terhadap erosi serta mempunyai pori
aerasi dan indeks stabilitas rendah sehingga tanah mudah menjadi padat.
Akibatnya pertumbuhan akar tanaman terhambat karena daya tembus akar ke
dalam tanah menjadi berkurang.
Bahan organik selain dapat meningkatkan kesuburan tanah juga
mempunyai peran penting dalam memperbaiki sifat fisik tanah. Bahan organik
dapat meningkatkan agregasi tanah, memperbaiki aerasi dan perkolasi, serta
membuat struktur tanah menjadi lebih remah dan mudah diolah. Bahan
organik tanah melalui fraksi-fraksinya mempunyai pengaruh nyata terhadap
pergerakan dan pencucian hara. Asam fulvat berkorelasi positif dan nyata
dengan kadar dan jumlah ion yang tercuci, sedangkan asam humat berkorelasi
negatif dengan kadar dan jumlah ion yang tercuci (Subowo et al. 1990).
Pengelolaan bahan organik dengan penanaman Mucuna sp. selama 3
bulan dan pengembalian serasah + pupuk kandang 10 t/ha pada guludan dapat
meningkatkan pori tanah, dan pori air tersedia, serta menurunkan kepadatan
tanah (Erfandi et al. 2001). Pada Ultisol dari Sitiung, pemberian bahan organik
berupa kotoran sapi, jerami, dan Flemingia congesta dapat meningkatkan
kandungan bahan organik dan kapasitas tukar kation serta menghalangi
serapan P dan Mg dalam tanah (Nursyamsi et al. 1997). Pengelolaan tanah
dan bahan organik berupa sisa tanaman jagung, F. congesta, dan Mucuna sp.
sebagai mulsa sangat efektif mencegah erosi serta mengurangi konsentrasi
sedimen dan aliran permukaan (Kurnia et al. 2000). Pemberian berbagai jenis
dan takaran pupuk kandang (sapi, ayam, dan kambing) dapat memperbaiki
sifat fisik tanah, yaitu menurunkan bobot isi serta meningkatkan porositas
tanah dan laju permeabilitas (Adimihardja et al. 2000).
Penambahan bahan organik dari pupuk kandang maupun sisa-sisa
tanaman atau hasil penanaman seperti Mucuna sp. dan F. congesta dapat
memperbaiki sifat fisik tanah seperti pori air tersedia, indeks stabilitas agregat,
dan kepadatan tanah. Pemberian bahan organik baik dari sisa-sisa tanaman
maupun yang sengaja ditanam tidak menimbulkan masalah bagi petani, tetapi
pemberian pupuk kandang dengan takaran hingga 10 t/ha akan sangat sulit
diterapkan oleh petani.
Penyediaan bahan organik dapat pula diusahakan melalui pertanaman
lorong (alley cropping). Selain pangkasan tanaman dapat menjadi sumber
bahan organik tanah, cara ini juga dapat mengendalikan erosi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penanaman Flemingia sp. dapat meningkatkan pH tanah
dan kapasitas tukar kation serta menurunkan kejenuhan Al (Hafif et al. 1993;
Irianto et al. 1993; Suhardjo et al. 1997). Penerapan pola tanam tumpang gilir
di produksi dengan pemberian mulsa setiap panen pada tanah Ultisol dapat
menekan erosi pada lereng 15% hingga di bawah nilai erosi yang dapat
diabaikan (Barus et al. 1986). Pada lereng sekitar 4%, penggunaan mulsa
untuk mencegah erosi cukup baik asalkan diikuti pengelolaan tanah yang baik
pula (Suwardjo et al. 1987).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pada umumnya Ultisol mempunyai penampang tanah yang dalam
sehingga merupakan media yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Kecuali
Ultisol yang mempunyai horizon kandik, semua tanah Ultisol mempunyai
kapasitas tukar kation sedang hingga tinggi (> 16 cmol/kg) sehingga sangat
menunjang dalam pemupukan. Penampang tanah yang dalam dengan
kapasitas tukar kation sedang hingga tinggi menjadikan tanah Ultisol dapat
dimanfaatkan untuk berbagai jenis tanaman. Namun demikian, faktor iklim
dan relief perlu diperhatikan.
Kendala pemanfaatan tanah Ultisol untuk pengembangan pertanian
adalah kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi, kandungan hara dan bahan
organik rendah, dan tanah peka terhadap erosi. Berbagai kendala tersebut
dapat diatasi dengan penerapan teknologi seperti pengapuran, pemupukan, dan
pengelolaan bahan organik. Pemanfaatan tanah Ultisol untuk pengembangan
tanaman pangan lebih banyak menghadapi kendala dibandingkan dengan
untuk tanaman perkebunan. Oleh karena itu, tanah ini banyak dimanfaatkan
untuk tanaman perkebunan kelapa sawit, karet, dan hutan tanaman industri,
terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Masalah dalam penerapan hasil-hasil penelitian pengelolaan tanah
Ultisol oleh petani adalah rendahnya pengetahuan dan sumber pembiayaan
mereka, terutama untuk pengadaan pupuk P, kapur, dan pupuk kandang.

3.2 Saran
• Untuk memanfaatkan tanah Ultisol yang memiliki kemasaman tinggi,
kandungan bahan organik yang rendah, dan erodibilitas tinggi maka harus
dilakukan pengelolaan dan konservasi tanah yang baik dan benar.
• Tanah-tanah Ultisol baiknya di tanami oleh tanaman-tanaman perkebunan
seperti kelapa sawit, karet, dan hutan tanaman industri.
DAFTAR PUSTAKA

http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=19:tanah-
merahkuning&catid=45:klasifikasi-tanah&Itemid=151(Diakses pada 20
Februari 2010, jam 11.11 WIB)

http://www.google.co.id/url?
sa=t&source=web&ct=res&cd=2&ved=0CAwQFjAB&url=http%3A%2F
%2Fsoil.faperta.ugm.ac.id%2Ftj
%2F1981%2F1986%2520ULTISOL.pdf&rct=j&q=ultisol&ei=cHN_S7aoHo-
5rAfVqoyyDw&usg=AFQjCNE4cu6dtyL1IAFyQFQEiexyFz458g (Diakses
pada 20 Februari 2010, jam 10.49 WIB)

http://www.google.co.id/url?
sa=t&source=web&ct=res&cd=11&ved=0CCQQFjAK&url=http%3A%2F
%2Fbdpunib.org%2Fjipi%2Fartikeljipi
%2F2001%2F89.PDF&rct=j&q=ultisol&ei=E4h_S7rwK8yfrAfBstHPBw&us
g=AFQjCNFCOGdoB3xfrdhru0qsSzCdsucwOA (Diakses pada 20 Februari
2010, jam 11.17 WIB)

http://wahyuaskari.wordpress.com/literatur/tanah-ultisol/ (Diakses pada 20


Februari 2010, jam 11.20 WIB)