Anda di halaman 1dari 16

Kekentalan Zat Cair

Fluida adalah suatu zat yang mempunyai kemampuan berubah secara kontinue apabila mengalami
geseran, atau mempunyai reaksi terhadap tegangan geser sekecil apapun dalam keadaan diam atau
dalam keadaan keseimbangan, fluida tidak mampu menahan gaya geser yang bekerja padanya,dan
oleh sebab itu fluida mudah berubahbentuk tanpa pemisahan massa.

Viskositas atau kekentalan dari suatu cairan adalah salah satu Sifat cairan yang menentukan
besarnya perlawanan terhadap gayageser. Viskositas terjadi terutama karena adanya interaksi
antara molekul-molekul cairan

Semua fluida nyata (gas dan zat cair) memiliki sifat-sifat khusus yang dapat diketahui, antara lain:
rapat massa (density), kekentalan (viscosity), kemampatan(compressibility), tegangan permukaan
(surface tension), dan kapilaritas(capillarity). Beberapa sifat fluida pada kenyataannya merupakan
kombinasi dari sifat-sifat fluida lainnya. Sebagai contoh kekentalan kinematik melibatkan kekentalan
dinamik dan rapat massa. Sejauh yang kita ketahui, fluida adalah gugusan yang tersusun atas
molekulmolekul dengan jarak pisah yang besar untuk gas dan kecil untuk zat cair. Molekul-molekul
itu tidak terikat pada suatu kisi, melainkan saling bergerak bebas terhadap satu sama lain.

Rapat massa adalah ukuran konsentrasi massa zat cair dan dinyatakan
dalam bentuk massa persatuan volume .
Rapat massa air (rair) pada suhu 4 oC dan pada tekanan atmosfer (patm) adalah
1000 kg/m3.
Berat jenis adalah berat benda persatuan volume pada temperatur dan
tekanan tertentu, dan berat suatu benda adalah hasil kali antara rapat massa (r )
dan percepatan gravitasi .
Rapat relatif (s) adalah perbandingan antara rapat massa suatu zat dan rapat
massa air (rair), atau perbandingan antara berat jenis suatu zat dan berat jenis
air .Karena pengaruh temperatur dan tekanan pada rapat massa zat cair sangat kecil,
maka dapat diabaikan sehingga rapat massa zat cair dapat dianggap tetap.

Kekentalan adalah sifat dari zat cair untuk melawan tegangan geser (t) pada
waktu bergerak atau mengalir. Kekentalan disebabkan adanya kohesi antara
partikel zat cair sehingga menyebabkan adanya tegangan geser antara molekulmolekul
yang bergerak. Zat cair ideal tidak memiliki kekentalan. Kekentalan zat
cair dapat dibedakan menjadi dua yaitu kekentalan dinamik (μ) atau kekentalan
absolute dan kekentalan kinematis (n).
Zat cair Newtonian adalah zat cair yang memiliki tegangan geser (t)
sebanding dengan gradien kecepatan normal terhadap arah aliran. Gradien
kecepatan adalah perbandingan antara perubahan kecepatan dan perubahan jarak
tempuh aliran.

Fluida yang riil memiliki gesekan internal yang besarnya tertentu yang disebut dengan viskositas.
Viskositas ada pada zat cair maupun gas dan pada intinya merupakan gaya gesekan antara lapisan-
lapisan yang bersisian pada fluida pada waktu lapisan-lapisan tersebut bergerak satu melewati
lainnya. Dengan adanya viskositas, kecepatan lapisan-lapisan fluida tidak seluruhnya sama. Lapisan
fluida yang terdekat dengan dinding pipa bahkan sama sekali tidak bergerak (v = 0), sedangkan
lapisan fluida pada pusat aliran memiliki kecepatan terbesar. Pada zat cair, viskositas disebabkan
akibat adanya gaya-gaya kohesi antar molekul.
Dalam fluida ternyata gaya yang dibutuhkan (F), sebanding dengan luas fluida yang bersentuhan
dengan setiap lempeng (A), dan dengan laju (v) dan berbanding terbalik dengan jarak antar lempeng
(l). Besar gaya F yang diperlukan untuk menggerakan suatu lapisan fluid dengan kelajuan tetap v
untuk luas penampang keping A adalah

F=ηAv
l

Dengan viskositas didefinisikan sebagai perbandingan regangan geser (F/A) dengan laju perubahan
regangan geser (v/l).

Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa :


Makin besar luas keping (penampang) yang bersentuhan dengan fluida, makin besar gaya F yang
diperlukan sehingga gaya sebanding dengan luas sentuh (F ≈ A). Untuk luas sentuh A tertentu,
kelajuan v lebih besar memerlukan gaya F yang lebih besar, sehingga gaya sebanding dengan
kelajuan (F ≈ v).

Hukum Stokes
Viskositas dalam aliran fluida kental sam saja dengan gesekan pada gerak benda padat. Untuk fluida
ideal, viskositas η = 0 sehingga kita selalu menganggap bahwa benda yang bergerak dalam fluida
ideal tidak mengalami gesekan yang disebabkan fluida. Akan tetapi, bila benda tersebut bergerak
dengan kelajuan tertentu dalam fluida kental, maka benda tersebut akan dihambat geraknya oleh
gaya gesekan fluida benda tersebut. Besar gaya gesekan fluida telah dirumuskan

F=ηAv=Aηv=kηv
ll

Koefisien k tergantung pada bentuk geometris benda. Untuk benda yang bentuk geometrisnya
berupa bola dengan jari-jari (r), maka dari perhitungan laboraturium ditunjukan bahwa
k=6пr
maka
F=6пηrv
Persamaan itulah yang hingga kini dikenal dengan Hukum Stokes.

Dengan menggunakan hukum stokes, maka kecepatan bola pun dapat diketahui melalui persamaan
(rumus) :
v = 2 r2 g (ρ – ρ0)

LABORATORIUM FISIKA

FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PAKUAN

2013

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 TUJUAN PERCOBAAN

Adapun tujuan dari dilaksanakannya praktikum pengukuran dasar pada benda padat ini adalah
sebagai berikut:

1. Menghitung gerak benda dalam fluida

2. Menghitung kekentalan zat cair

I.2 DASAR TEORI

Viskositas merupakan pengukuran dari ketahananfluida yang diubah baik


dengan tekanan maupun tegangan. Pada masalah sehari-hari (dan hanya untuk fluida), viskositas
adalah ketebalan atau pergesekan internal. Oleh karena itu, airyang tipis memiliki viskositas lebih
rendah, sedangkan maduyang tebal memiliki viskositas yang lebih tinggi. Sederhananya, semakin
rendah viskositas suatu fluida, semakin besar juga pergerakan dari fluida tersebut.

Setiap zat cair mempunyai karakteristik yang khas, berbeda satu zat cair dengan zat cair yang lain. Oli
mobil sebagai salah satu contoh zat cair dapat kita lihat lebih kental daripada minyak kelapa. Apa
sebenarnya yang membedakan cairan itu kental atau tidak. Kekentalan atau viskositas dapat
dibayangkan sebagai peristiwa gesekan antara satu bagian dan bagian yang lain dalam fluida. Dalam
fluida yang kental kita perlu gaya untuk menggeser satu bagian fluida terhadap yang lain.

Di dalam aliran kental kita dapat memandang persoalan tersebut seperti tegangan dan regangan
pada benda padat. Kenyataannya setiap fluida baik gas maupun zat cair mempunyai sifat kekentalan
karena partikel di dalamnya saling menumbuk. Bagaimana kita menyatakan sifat kekentalan tersebut
secara kuantitatif atau dengan angka, sebelum membahas hal itu kita perlu mengetahui bagaimana
cara membedakan zat yang kental dan kurang kental dengan cara kuantitatif. Salah satu alat yang
digunakan untuk mengukur kekentalan suatu zat cair adalah viskosimeter.

Apabila zat cair tidak kental maka koefesiennya sama dengan nol sedangkan pada zat cair kental
bagian yang menempel dinding mempunyai kecepatan yang sama dengan dinding. Bagian yang
menempel pada dinding luar dalam keadaan diam dan yang menempel pada dinding dalam akan
bergerak bersama dinding tersebut. Lapisan zat cair antara kedua dinding bergerak dengan
kecepatan yang berubah secara linier sampai V. Aliran ini disebut aliran laminer.
Aliran zat cair akan bersifat laminer apabila zat cairnya kental dan alirannya tidak terlalu cepat. Kita
anggap gambar di atas sebagai aliran sebuah zat cair dalam pipa, sedangkan garis alirannya dianggap
sejajar dengan dinding pipa. Karena adanya kekentalan zat cair yang ada dalam pipa, maka besarnya
kecepatan gerak partikel yang terjadi pada penampang melintang tidak sama besar. Keadaan
tersebut terjadi dikarenakan adanya gesekan antar molekul pada cairan kental tersebut, dan pada
titik pusat pipa kecepatan yang terjadi maksimum.. Khusus untuk benda yang berbentuk ola dan
bergerak dalam fluida yang sifat-sifatnya, gaya gesekan yang dialmi benda dapat dirumuskan sebagai
berikut :

F = -6πὴr.v

Keterangan :

F = gaya gesekan yang bekerja pada bola

ὴ = koefisien kekentalan fluida

V = kecepatan bola relative terhadap fluida

Rumus di atas dikenal sebagai hukum stokes. Tanda minus menunjukkan arah gaya F yang
berlawanan dengan kecepatan (V). pemakaian hukum stokes memerlukan beberapa syarat, yaitu:

1. Ruang tempat fluida tidak terbatas (ukurannya cukup luas dibandingkan dengan ukuran benda)

2. Tidak ada turbulensi didalam fluida

3. Kecepatan V tidak besar, sehingga aliran masih laminar

Jika sebuah bola dengan rapat massa dan dilepaskan dari permukaan zat cair tanpa kecepatan awal,
maka bola tersebut mula-mula akan bergerak di percepat. Dengan bertambahnya kecepatan bola,
maka bertambah besar pula gaya gesekan pada bola tersebut. Pada akhirnya bola bergerak dengan
kecepatan tetap, yaitu setelah terjadi keseimbangan antara gaya berat, gaya apung (Archimides) dan
gayastokes. Pada persamaan ini berlaku persamaan :

V=(

Keterangan :

rapat massa bola

= rapat massa fluida

V = ( dapat di turunkan : T =

Keterangan :

T = waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak d


d = jarak yang ditempuh

Hukum Stokes

Di antara salah satu sifat zat cair adalah kental (viscous) di mana zat cair memiliki koefisien
kekentalan yang berbeda-beda, misalnya kekentalan minyak goreng berbeda dengan kekentalan
olie. Dengan sifat ini zat cair banyak digunakan dalam dunia otomotif yaitu sebagai pelumas mesin.
Telah diketahui bahwa pelumas yang dibutuhkan tiap-tiap tipe mesin membutuhkan kekentalan
yang berbeda-beda. Sehingga sebelum menggunakan pelumas merek tertentu harus diperhatikan
terlebih dahulu koefisien kekentalan pelumas sesuai atau tidak dengan tipe mesin. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui berapa koefisien kekentalan suatu fluida yang diukur dengan
menggunakan regresi linear hukum Stokes. Sehingga data tersebut dapat digunakan sebagai bahan
perbandingan untuk menentukan koefisien kekentalan zat cair yang dibutuhkan oleh tiap- tiap tipe
mesin. Fluida yang digunakan adalah air, minyak goreng dan olie.

Viskositas (kekentalan) berasal dari perkataan Viscous(Soedojo, 1986). Suatu bahan apabila
dipanaskan sebelum menjadi cair terlebih dulu menjadi viscous yaitu menjadi lunak dan dapat
mengalir pelan-pelan. Viskositas dapat dianggap sebagai gerakan di bagian dalam (internal) suatu
fluida (Sears & Zemansky, 1982).

Jika sebuah benda berbentuk bola dijatuhkan ke dalam fluida kental, misalnya kelereng dijatuhkan
ke dalam kolam renang yang airnya cukup dalam, nampak mula-mula kelereng bergerak dipercepat.
Tetapi beberapa saat setelah menempuh jarak cukup jauh, nampak kelereng bergerak dengan
kecepatan konstan (bergerak lurus beraturan). Ini berarti bahwa di samping gaya berat dan gaya
apung zat cair masih ada gaya lain yang bekerja pada kelereng tersebut. Gaya ketiga ini adalah gaya
gesekan yang disebabkan oleh kekentalan fluida.

Pada keadaan ini berlaku persamaan:

Jika saat kecepatan terminal telah tercapai, pada Gambar disamping berlaku prinsip Newton tentang
GLB (gerak lurus beraturan):

FA + FS = W

Jika ρb menyatakan rapat massa bola, ρf menyatakan volume bola, serta g gravitasi bumi, maka
berlaku Persamaan:

W = ρb.Vb.g

V = (ρ – ρo)

Keterangan:

ρ = rapat massa bola

ρo = rapat massa fluida


Gambar Gaya yang Bekerja Pada Saat Bola Dengan Kecepatan Tetap.

BAB II

ALAT DAN BAHAN

2.1 ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN :

1. Tabung berisi zat cair

2. Bola-bola kecil dari zat padat

3. Mikrometer skrup

4. Jangka sorong

5. Mistar

6. Thermometer

7. Sendok saringan untuk mengambil bola-bola dari dasar tabung

8. Dua karet gelang yang melingkar

9. Stopwatch
10. Aerometer

11. Timbangan torsi dengan batu timbang

BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 METODE KERJA

1. Diameter tiap-tiap bola diukur memakai micrometer skrup. Dilakukan beberapa kali
pengukuran untuk tiap bola.

2. Tiap-tiap bola ditimbang dengan neraca torsi.

3. Suhu zat cair sebelum dan sesudah dicatat tiap percobaan.

4. Rapat massa zat cair diukur sebelum dan sesudah tiap percobaan dengan menggunakan
aerometer.

5. Karet gelang ditempatkan sehingga yang satu kira-kira 5 cm di bawah permukaan zat cair dan
yang lain kira-kira 5 cm di atas dasar tabung.

6. Diukur jarak jauh d (jarak kedua karet gelang).

7. Sendok saringan dimasukkan sampai dasar tabung dan ditunggu beberapa saat sampai zat cair
diam.

8. Waktu jatuh T diukur untuk tiap-tiap bola beberapa kali.


9. Letak karet gelang diubah sehingga didapatkan d yang lain.

10. Langkah 6, 7 dan 8 diulangi.

BAB IV

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

4.1 DATA PENGAMATAN

Berdasarkan data percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan tanggal 25 Oktober 2013, maka
dapat dilaporkan hasil sebagai berikut :

Keadaan Ruangan P (cm) Hg T (oC) C (%)

Sebelum Percobaan 75,5 cmHg 24,5 oC 70,5 %

Sesudah Percobaan 75,5 cmHg 25 oC 69 %

BOLA g = 980 cm/s

No Bola Massa (gr) d (cm) r (cm) Vb(cm3) ρ (g/cm3)

1 Kecil 0,2 0,624 0,312 0,125 1,666


a. BOLA KECIL
2 Besar 0,8 1,012 0,506 0,540 1,481

No S (cm) t (s) V (cm/s) η

4,62 2,164 7,672


1 10
4,83 2,070 8,021

2 20 9,87 2,026 8,195


9,48 2,109 7,872

7,94

b. BOLA BESAR

No S (cm) t (s) V (cm/s) Η

1,50 6,666 5,026


1 10
1,40 7,142 4,691

3,08 6,493 5,160


2 20
3,04 6,578 5,093

4,992

4.2 PERHITUNGAN

Volume Bola Massa Jenis Bola

1. Bola kecil 1. Bola kecil

Vb = π ρb =

Vb = (3,14) ( ρb =

Vb = 0,125 cm3 ρb = 1,666 g/cm3

2. Bola Besar 3. Bola Besar

Vb = π ρb =

Vb = (3,14) ( ρb =

Vb = 0,540 cm3 ρb = 1,481 g/cm3

1. Bola Kecil 10 cm 2. Bola besar 10 cm

Kecepatan (v) Kecepatan (v)

V = s/t V = s/t

V1 = = 2,164 cm/s V1 = = 6,666 cm/s


V2 = = 2,070 cm/s V2= = 7,142 cm/s

Koefisien Kekentalan: Koefisien Kekentalan:

· ὴ1 = ὴ1 =

ὴ1 = ὴ1=

ὴ1 = = 7,672 ὴ1 = = 5,026

ὴ2 = ὴ2 =

ὴ2 = ὴ2 =

ὴ2 = = 8,021 ὴ2 = = 4,691

3. Bola Kecil 20 cm 4. Bola besar 20 cm

Kecepatan (v) Kecepatan (v)

V = s/t V = s/t

V1 = = 2,026 cm/s V1 = = 6,493 cm/s

V2 = = 2,109 cm/s V2= = 6,578 cm/s

Koefisien Kekentalan: Koefisien Kekentalan:

ὴ1 = ὴ1 =

ὴ1 = ὴ1=

ὴ1 = = 8,195 ὴ1 = = 5,160

ὴ2 = ὴ2 =

ὴ2 = ὴ2=

ὴ2 = = 7,872 ὴ2 = = 5,093
BAB V

PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini yaitu mengetahui koefisien kekentalan zat cair , serta menghitung gerak
benda dalam fluida dan kekentalan zat cair itu sendiri. Pertama yang harus di lakukan adalah
mengukur massa dan volume pada bola untuk mendapatkan masa jenis bola tersebut. percobaan ini
telah di lakukan dengan bertumpu pada hukum Stokes, dimana aturan hukum stokes telah di
paparkan pada bab dasar teori. Dalam praktikum ini di lakukan pengukuran dan perhitungan secara
langsung dengan 1 kali pengukuran masa, diameter, volume dan masa jenis pada bola dan
percobaan di lakukan sebanyak 2 kali, yaitu pada bola kecil dan bola besar. Dibagi lagi berdasarkan
jarak karet pada tabung reaksi, yaitu 10 cm dan 20 cm. Perbedaan di dapatkan dari hasil koefisien
kekentalan fluida pada ke dua bola tersebut.

Hasil pertama pada bola kecil dengan jarak karet gelang 10 cm yaitu rata-rata koefisien kekentalan
yang di lakukan 2 kali pengujian nya di dapatkan hasil 7,846 dan dengan jarak karet gelang 20 cm
yaitu 8,033. Sedangkan pada bola besar dengan jarak karet gelang 10 cm yaitu rata-rata koefisien
kekentalan yang dilakukan 2 kali pengujiannya didapatkan hasil 4,858 dan dengan jarak karet gelang
20 cm yaitu 5,126 . Dari hasil ini selisih tidak begitu jauh, tetapi jumlah yang lebih dari satu bahkan
mendekati angka 10, menggambarkan bahwa zat cair yang di gunakan terlalu pekat. Sehingga
kecepatan bola pun terlampau lambat. Hal ini dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor pada saat
percobaan berlangsung. Faktor atau penyebab pertama adalah suhu pada saat berlangsung nya
percobaan, karena suhu yang terlalu rendah dapat menyebabkan viskositas meningkat sehingga
gesekan yang terjadi pada bola terhadap viskositas fluida sangat lambat. Kemudian dapat pula di
sebabkan karena kurang cermat dan teliti pada saat pencatatan atau perhitungan waktu dengan
menggunakan stopwatch.

Terakhir, dapat di sebabkan oleh gaya yang bekerja pada bola tersebut , penyebab ini dapat berlaku
hukum newton II, yaitu “Percepatan yang ditimbulkan oleh gaya yang bekerja pada benda
berbanding lurus dengan besar gayanya dan berbanding terbalik dengan masa benda".

Dari penyebab ini dapat di simpulkan, semakin besar gaya yang di berikan pada bola, maka gaya
gesek yang terjadi pada bola terhadap viskositas fluida semakin meningkat, sehingga waktu yang di
perlukan semakin cepat. Tetapi sebalik nya semakin kecil gaya yang di berikan pada bola tersebut,
gaya gesek yang bekerja pada bola terhadap viskositas fluida semakin rendah, sehingga waktu yang
di perlukan terlampau lambat dan hasil koefisien kekentalan zat cair pun tidak mencapai hasil yang
maksimal. Banyak penyebab lain yang dapat mempengaruhi proses percobaan dan terjadi diluar
kendali praktikan, seingga semua tahap-tahap percobaan harus di lakukan dengan tepat, sesuai
aturan dan diperhatikan secara baik dan seksama, agar meminimalisir hasil yang tidak maksimal dan
bahkan kegagalan pada percobaan.
BAB VI

SIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahawa viskositas adalah sebuah ukuran
penolakan sebuah fluida terhadap perubahan bentuk dibawah tekanan shear. Dari percobaan
mengenai viskositas (kekentalan) tersebut juga dianggap suatu gesekan dibagian dalam suatu fluida,
karena adanya viskositas ini maka untuk menggerakan salah satu lapisan fluida diatasnya lapisan lain
haruslah dikerjakan gaya, dan pada saat percobaan dapat terjadi kesalahan baik yang disengaja
ataupun yang tidak disengaja seperti pada penggunaan stopwatch, dan kekentalan suatu
zat dipengaruhi oleh suhu, konsentrasi, tekanan dan berat molekul. Semangkin kental suatu larutan
yang digunakan, maka semakin besar nilai viskositasnya, karena setiap larutan memiliki viskositas
(kekentalan) yang berbeda-beda

LAMPIRAN

1.1 DATA PENGAMATAN

1.2 TUGAS AKHIR

1. Bagaimana memilih letak karet-karet gelang yang melingkari tabung? Apakah akibatnya jika
terlalu dekat dengan permukaan. Apakah akibatnya jika terlalu dengan dasar tabung?

2. Buatlah grafik antara T dengan d (pakai least square)

3. Hitunglah harga berdasarkan grafik untuk tiap-tiap bola

4. Apakah pengaruh suhu terhadap kekentalan zat cair? Terangkan!

Jawab :

1. Memilih letak karet-karet gelang pada tabung engan cara menyesuaikan jarak antara gelang
dengan permukaan sama dengan jarak gelang dengan dasar tabung, jika jarak terlalu dekat dengan
permukaan dan dasar tabung akan menyebabkan waktu yang ditempuh benda semakin lama
daripada jarak yang lebih jauh dari permukaan dan dasar, hal ini juga berdampak pada koefisien
kekentalan za cair yang semakin besar.

2. Grafik antara T dan d


3. Harga berdasarkan grafik

1. Bola Kecil 2. Bola Sedang

Kecepatan (v) Kecepatan (v)

V = s/t V = s/t

V1 = = 2,32 cm/s V1 = =5,46 cm/s

V2 = = 2,43 cm/s V2= = 6,05 cm/s

V3 = = 2,49 cm/s V3 = = 5,76 cm/s

Koefisien Kekentalan: Koef. Kekentalan:

ὴ1 = ὴ1 =

ὴ1 = = 8,965 ὴ1 = = 6,028

ὴ2 = ὴ2 =

ὴ2 = = 8,559 ὴ2 = = 5,440

ὴ3 = ὴ3 =

ὴ3 = = 8,353 ὴ3 = = 5,714
3.Bola Kecil

Kecepatan (v)

V = s/t

V1 = = 8,13 cm/s

V2 = = 7,50 cm/s

V3 = = 7,48 cm/s

Koefisien Kekentalan:

ὴ1 =

ὴ1 = = 5,906

ὴ2 =

ὴ2 = = 6,402

ὴ3 =

ὴ3 = = 6,419

4. Suhu sangat berpengaruh terhadap kekentalan zat cair. Semakin tinngi suhu maka semakin
rendah nilai viskositasnya. Hal ini disebabkan gaya-gaya kohesi pada zat cair bila dipanaskan akan
mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya temperatur pada zat cair yang menyebabkan
berturunnya viskositas dari zat cair tersebut. Oleh karena itu semakin tinggi suhu maka cairan
semakin encer, karena kerapatan komponen penyusun zat cair semakin renggang. Suatu viskositas
akan menjadi lebih tinggi jika suhu mengalami penurunan karena pada saat suhu di naikkan maka
partikel-partikel penyusun zat tersebut bergerak secara acak sehingga kekentalan akan mengalami
penurunan, dan jika suhu mengalami penurunan akan terjadi kenaikan viskositas karena partikel-
partikel penyusun senyawa tersebut tidak mengalami gerakan sehingga gaya gesek yang bekerja
juga semakin besar.

5. karet gelang yang dilingkarkan di dinding tabung harus sejajar tidak boleh bengkok, supaya
pengukuran waktu jatuhnya bola dapat di ukur dengan tepat. Karet gelang jika terlalu dekat
permukaan akibatnya pengukuran tidak akan tepat. Karena sudah diletakkan batas letak karet
gelang tersebut, begitu pula bila karet gelang terlalu dekat dengan dasar tabung.

6.

7. 2.

8.
9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16. 3. bola kecil

NO S (cm) t (s) V( Ƞ

3,62 2,762 0,878


1. 10
3,61 2,770 0,876

5,57 2,693 0,901


2. 15
5,53 2,712 0,894

6,99 2,861 0,848


3. 25
7,43 2,692 0,901

17.

18. Bola sedang

NO s (cm) t (s) V( Ƞ

2,85 3,508 2,932


1. 10
2,83 3,533 2,911

4,28 3,505 2,934


2. 15
4,28 3,505 2,934

5,54 4,512 2,279


3. 25
5,41 4,610 2,231

19.

20. Bola besar


NO s (cm) t (s) V( Ƞ

2,69 3,717 6,909


1. 10
2,66 3,759 6,832

3,92 3,826 6,712


2. 15
3,81 3,937 6,523

5,01 3,992 6,433


3. 25
5,00 4 6,420

21.

22.

23. 4. Viskositas dipengaruhi oleh suhu. Viskositas zat cair cenderung menurun dengan seiring
bertambahnya kenaikan suhu, hal ini disebabkan gaya – gaya kohesi pada zat cair bila dipanaskan
akan mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya suhu pada zat cair yang menyebabkan
turunya viskositas dari zat cair tersebut.

24. Semakin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya mengalir
pada kecepatan tertentu. Bila viskositas gas meningkat dengan naiknya suhu, maka viskositas cairan
justru akan menurun jika suhu dinaikan.

25.