Anda di halaman 1dari 18

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Definisi
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium
tuberculosis yang bersifat sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ
tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi
primer.1

Tuberkulosis sistem skeletal merupakan suatu bentuk penyakit TB


ekstrapulmonal yang mengenai tulang dan/atau sendi. Insidens TB sendi berkisar
1-7% dari seluruh TB, yang mana TB sendi tulang belakang meruapakan kejadian
tertinggi, diikuti dengan TB sendi panggul dan sendi lutut. Umumnya TB sistem
skeletal menganai satu tulang atau sendi. Tuberkulosis pada tulang belakang
dikenal sebagai spondilitis TB.2

Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan sponditis


tuberkulosa merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronik destruktif
oleh mikobakterium tuberkulosa. Tuberculosis tulang belakang selalu merupakan
infeksi sekunder dari fokus dari tempat lain dalam tubuh. Pervical Pott (1793)
yang pertama kali menulis tentang penyakit dan menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara penyakit ini dengan deformitas tulang belakang yang terjadi,
sehingga penyakit ini disebut juga sebagai penyakit Pott.3,7

3.2. Epidemiologi
Spondilitis TB merupakan penyakit TB tulang yang paling sering terjadi.
Spondilitis tuberkulosis merupakan 50% dari seluruh tuberkulosis tulang dan
sendi. Terjadi pada semua umur, tetapi terutama pada anak-anak muda sekitar
umur 4 tahun dan dewasa antara 15 – 30 tahun. Pada negara yang sedang
berkembang, sekitar 60% kasus terjadi pada usia dibawah usia 20 tahun
sedangkan pada negara maju, lebih sering mengenai pada usia yang lebih tua.

13
Meskipun perbandingan antara pria dan wanita hampir sama, namun biasanya pria
lebih sering terkena dibanding wanita yaitu 1,5 : 2,1. Di Ujung Pandang
spondilitis tuberkulosis ditemukan sebanyak 70% dari seluruh tuberkulosis tulang
dan sendi. Umumnya penyakit ini menyerang orang-orang yang berada dalam
keadaan sosial ekonomi rendah.
Lokalisasi dapat dimana-mana di tulang belakang dan dapat multipel.
Paling sering di daerah torakal dan disini lebih cepat menimbulkan komplikasi
meduller, mungkin karena pleura mediastinalis merupakan pertahanan dan seolah-
olah mendorong infeksinya ke jurusan kanalis vertebralis. Pada umumnya
frekuensi gangguan medulla ± 5 – 8%.

3.3. Etiologi
Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari
tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 90 – 95% disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis tipik (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5 – 10% oleh
Mycobacterium tuberculosis atipik. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat
khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula
sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari
langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan
lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dorman, tertidur lama selama
beberapa tahun.

3.4. Patofisiologi
Basil TB masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui traktus
respiratorius. Pada saat terjadi infeksi primer, karena keadaan umum yang buruk
maka dapat terjadi basilemia. Penyebaran terjadi secara hematogen. Basil TB
dapat tersangkut di paru, hati limpa, ginjal dan tulang. 6 – 8 minggu kemudian,
respons imunologik timbul dan fokus tadi dapat mengalami reaksi selular yang
kemudian menjadi tidak aktif atau mungkin sembuh sempurna. Vertebra
merupakan tempat yang sering terjangkit tuberkulosis tulang. Penyakit ini paling

14
sering menyerang korpus vertebra. Penyakit ini pada umumnya mengenai lebih
dari satu vertebra. Infeksi berawal dari bagian sentral, bagian depan, atau daerah
epifisial korpus vertebra. Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang
menyebabkan osteoporosis dan perlunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan
pada korteks epifise, discus intervertebralis dan vertebra sekitarnya. Kerusakan
pada bagian depan korpus ini akan menyebabkan terjadinya kifosis yang dikenal
sebagai gibbus. Berbeda dengan infeksi lain yang cenderung menetap pada
vertebra yang bersangkutan, tuberkulosis akan terus menghancurkan vertebra di
dekatnya.
Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum, leukosit, kaseosa, tulang yang
fibrosis serta basil tuberkulosis) menyebar ke depan, di bawah ligamentum
longitudinal anterior dan mendesak aliran darah vertebra di dekatnya. Eksudat ini
dapat menembus ligamentum dan berekspansi ke berbagai arah di sepanjang garis
ligamentum yang lemah. Pada daerah servikal, eksudat terkumpul di belakang
fasia paravertebralis dan menyebar ke lateral di belakang musculus
sternokleidomastoideus. Eksudat dapat mengalami protrusi ke depan dan
menonjol ke dalam faring yang dikenal sebagai abses faringeal. Abses dapat
berjalan ke mediastinum mengisi tempat trakea, esophagus, atau kavum pleura.
Abses pada vertebra torakalis biasanya tetap tinggal pada daerah toraks setempat
menempati daerah paravertebral, berbentuk massa yang menonjol dan fusiform.
Abses pada daerah ini dapat menekan medulla spinalis sehingga timbul
paraplegia. Abses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk mengikuti musculus
psoas dan muncul di bawah ligamentum inguinal pada bagian medial paha.
Eksudat juga dapat menyebar ke daerah crista iliaka dan mungkin dapat mengikuti
pembuluh darah femoralis pada trigonum scarpei atau regio glutea.
Menurut Gilroy dan Meyer (1979), abses tuberkulosis biasanya terdapat
pada daerah vertebra torakalis atas dan tengah, tetapi menurut Bedbrook (1981)
paling sering pada vertebra torakalis 12 dan bila dipisahkan antara yang menderita
paraplegia dan nonparaplegia maka paraplegia biasanya pada vertebra torakalis 10
sedangkan yang non-paraplegia pada vertebra lumbalis. Penjelasan mengenai hal
ini sebagai berikut : arteri induk yang mempengaruhi medulla spinalis segmen

15
torakal paling sering terdapat pada vertebra torakal 8 – lumbal 1 sisi kiri.
Trombosis arteri yang vital ini akan menyebabkan paraplegia. Faktor lain yang
perlu diperhitungkan adalah diameter relatif antara medulla spinalis dengan
kanalis vertebralisnya. Intumesensia lumbalis mulai melebar kira-kira setinggi
vertebra torakalis 10, sedang kanalis vertebralis di daerah tersebut relatif kecil.
Pada vertebra lumbalis 1, kanalis vertebralisnya jelas lebih besar oleh karena itu
lebih memberikan ruang gerak bila ada kompresi dari bagian anterior. Hal ini
mungkin dapat menjelaskan mengapa paraplegia lebih sering terjadi pada lesi
setinggi vertebra torakal 10.
Kerusakan medulla spinalis akibat penyakit Pott terjadi melalui kombinasi 4
faktor yaitu :
1. Penekanan oleh abses dingin
2. Iskemia akibat penekanan pada arteri spinalis
3. Terjadinya endarteritis tuberkulosa setinggi blokade spinalnya
4. Penyempitan kanalis spinalis akibat angulasi korpus vertebra yang rusak

Kumar membagi perjalanan penyakit ini dalam 5 stadium yaitu :


1. Stadium Implantasi.
Setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh penderita
menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung
selama 6-8 minggu. Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus dan
pada anak-anak umumnya pada daerah sentral vertebra.

2. Stadium Destruksi Awal.


Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra serta
penyempitan yang ringan pada discus. Proses ini berlangsung selama 3-6
minggu.

3. Stadium Destruksi Lanjut.


Pada stadium ini terjadi destruksi yang massif, kolaps vertebra dan terbentuk
massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin), yang terjadi

16
2-3 bulan setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat terbentuk
sekuestrum serta kerusakan diskus intervertebralis. Pada saat ini terbentuk
tulang baji terutama di sebelah depan (wedging anterior) akibat kerusakan
korpus vertebra, yang menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus.

4. Stadium Gangguan Neurologis.


Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi,
tetapi terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Gangguan ini
ditemukan 10% dari seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosis. Vertebra
torakalis mempunyai kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga gangguan
neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini. Bila terjadi gangguan
neurologis, maka perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia, yaitu :
a. Derajat I : kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah
melakukan
aktivitas atau setelah berjalan jauh. Pada tahap ini belum terjadi
gangguan saraf sensoris.
b. Derajat II : terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi penderita
masih dapat melakukan pekerjaannya.
c. Derajat III : terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang
membatasi gerak/aktivitas penderita serta hipoestesia/anesthesia.
d. Derajat IV : terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai gangguan
defekasi dan miksi.
Tuberkulosis paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi secara dini atau
lambat tergantung dari keadaan penyakitnya. Pada penyakit yang masih aktif,
paraplegia terjadi oleh karena tekanan ekstradural dari abses paravertebral atau
akibat kerusakan langsung sumsum tulang belakang oleh adanya granulasi
jaringan. Paraplegia pada penyakit yang sudah tidak aktif/sembuh terjadi oleh
karena tekanan pada jembatan tulang kanalis spinalis atau oleh pembentukan
jaringan fibrosis yang progresif dari jaringan granulasi tuberkulosis.
Tuberkulosis paraplegia terjadi secara perlahan dan dapat terjadi destruksi
tulang disertai angulasi dan gangguan vaskuler vertebra.

17
5. Stadium Deformitas Residual.
Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah timbulnya stadium
implantasi. Kifosis atau gibbus bersifat permanen oleh karena kerusakan
vertebra yang massif di sebelah depan.

3.5. Manifestasi Klinis


Gambaran Spondilitis Tuberkulosis antara lain :

1. Badan lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat badan menurun,


2. Suhu subfebril terutama pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada
anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari.
3. Pada awal dapat dijumpai nyeri interkostal yaitu nyeri yang menjalar dari
tulang belakang ke garis tengah keatas dada melalui ruang intercosta, hal
ini karena tertekannya radiks dorsalis ditingkat torakal
4. Nyeri spinal yang menetap, terbatasnya pergerakan spinal.

Kelainan neurologis terjadi pada sekitar 50% kasus karena proses


destruksi lanjut berupa :

1. Paraplegia, paraparesis, ataupun nyeri radiks saraf, akibat penekanan


medulla spinalis yang menyebabkan kekakuan pada gerakan berjalan dan
nyeri
2. Gambaran paraplegia inferior kedua tungkai bersifat UMN dan adanya
batas defisit sensorik setinggi tempat gibus/lokalisasi nyeri interkostal

Spondilitis korpus vertebra dibagi menjadi tiga bentuk :

1. Bentuk Sentral.
Detruksi awal terletak di sentral korpus vertebra, bentuk ini sering
ditemukan pada anak.

18
2. Bentuk Paradikus.
Terletak di bagian korpus vertebra yang bersebelahan dengan diskus
intervertebral, bentuk ini sering ditemukan pada orang dewasa.

3. Bentuk Anterior.
Dengan lokus awal di korpus vertebra bagian anterior, merupakan
penjalaran per kontinuitatum dari vertebra di atasnya.

Secara klinis gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan


dengan gejala tuberkulosis pada umumnya, yaitu badan lemah/lesu, nafsu makan
berkurang, berat badan menurun, suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama
pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada anak-anak sering disertai
dengan menangis pada malam hari (night cries). Akan tetapi gejala sistemik
seperti ini biasanya tidak nyata. Pada bayi dan anak yang sedang dalam masa
pertumbuhan, epifisis tulang merupakan daerah dengan vaskularisasi yang tinggi
yang disukai oleh kuman TB. Oleh karena itu TB skeletal lebih sering terjadi pada
anak dibandingkan orang dewasa.
Pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah
belakang kepala, gangguan menelan dan gangguan pernapasan akibat adanya
abses retrofiring. Kadangkala penderita datang dengan gejala abses pada daerah
paravertebral, abdominal, inguinal, popliteal atau bokong, adanya sinus pada
daerah paravertebral atau penderita datang dengan gejala-gejala paraparesis,
gejala paraplegia, keluhan gangguan pergerakan tulang belakang akibat spasme
atau gibbus. Manifestasi klinis dapat muncul pascatrauma, yang berperan sebagai
pencetus. Tidak jarang pasien datang pada tahap lanjut dengan kelainan tulang
yang sudah lanjut dan irreversible. Gejalanya dapat berupa pembengkakan sendi,
gibbus, pincang, lumpuh dan sulit membungkuk.

Manifestasi klinis yang ditimbulkan bersifat lambat dan tidak khas,


sehingga umumnya didiagnosis sudah dalam keadaan lanjut. Selain dijumpai
gejala umum TB pada anak, dapat pula dijumpai gejala spesifik berupa bengkak,
kaku, kemerahan dan nyeri pada pergerakan. Tidak jarang hanaya gejala

19
pembengkakan sendi saja yang dikeluhkan. Manisfetasi klinis TB tulang
seringkali ditemukan atau disadari setelah terjadi trauma, jangan lupa untuk
mengeksplorasi kemungkingan TB tulang.

Gejala atau tanda pada TB sistem skeletal bergantung pada lokasi


kelainan. Kelainan pada tulang belakang disebut gibbus, menampakan gejala
benjolan pada tulang belakang yang umumnya seperti abses tetapi tidak
menunjukkan tanda-tanda peradangan. Warna benjolan sama dengan sekitarnya,
tidak nyeri tekan, dan menimbulkan asbes dingin. Apabila dijumpai kelainan pada
sendi panggul biasanya pasien berjalan pincang dan kesulitan berdiri. Kelainan
pada sendi lutut dapat berupa pembengkakan di daerah lutut, anak sulit berdiri
dan berjalan, dan kadang-kadang ditemukan atrofi otot paha dan betis.

3.6. Klasifikasi
Klasifikasi spondilitis TB telah dilakukan beberapa pihak dengan tujuan
untuk menentukan deskripsi keparahan penyakit, prognosis dan tatalaksana.
Klasifikasi Pott’s paraplegia disusun untuk mempermudah komunikasi antar
klinisi dan mempermudah deskripsi keparahan gejala klinis pasien spondilitis TB.

Klasifikasi klinikoradiologis untuk memperkirakan durasi perjalan


penyakit berdasarkan temuan klinisdan temuan radiologis pasien.

20
Klasifikasi menurut Gulhane Askeri Tip Akademisi (GATA) baru-baru ini
telah disusun untuk menentukan terapi yang dianggap paling baik untuk pasien
yang bersangkutan. Sistem klasifikasi ini dibuat berdasarkan criteria klinis dan
radiologis, antara lain: formasi abses, degenerasi diskus, kolaps vertebra, kifosis,
angulasi sagital, instabilitas vertebra dan gejala neurologis; membagi spondilitis
TB menjadi tiga tipe (I, II, dan III).

21
Untuk menilai derajat keparahan, memantau perbaikan klinis, dan
memprediksi prognosis pasien spondilitis TB dengan cedera medulla spinalis,
dapat digunakan klasifikasi American Spinal Injury Association (ASIA)
impairment scale. Sistem ini adalah pembaruan dari system klasifikasi Frankel
dan telah diterima secara luas. ASIA impairment scale membagi cedera medula
spinalis menjadi 5 tipe (A, cedera medula spinalis komplit, B – D, cedera medula
spinalis inkomplit, E, normal).

3.7. Diagnosis
Diagnosis dini spondilitis TB sulit ditegakkan dan sering disalahartikan
sebagai neoplasma spinal atau spondilitis piogenik lainnya. Ironisnya, diagnosis
biasanya baru dapat ditegakkan pada stadium lanjut, saat sudah terjadi deformitas
tulang belakang dan defisit neurologis.
Penegakan diagnosis seperti pada penyakit – penyakit pada umumnya melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik, diikuti dengan pemeriksaan penunjang.
Keberhasilan melakukan diagnosis dini menjanjikan prognosis yang lebih baik.

1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik


Nyeri punggung belakang adalah keluhan yang paling awal, sering tidak
spesifik dan membuat diagnosis yang dini menjadi sulit. Maka dari itu, setiap

22
pasien TB paru dengan keluhan nyeri punggung harus dicurigai mengidap
spondilitis TB sebelum terbukti sebaliknya. Selain itu, dari anamnesis bisa
didapatkan adanya riwayat TB paru, atau riwayat gejala-gejala klasik (demam
lama, diaforesis nokturnal, batuk lama, penurunan berat badan) jika TB paru
belum ditegakkan sebelumnya. Demam lama merupakan keluhan yang paling
sering ditemukan namun cepat menghilang (satu hingga empat hari) jika diobati
secara adekuat. Paraparesis adalah gejala yang biasanya menjadi keluhan utama
yang membawa pasien datang mencari pengobatan. Gejala neurologis lainnya
yang mungkin: rasa kebas, baal, gangguan defekasi dan miksi.
Pemeriksaan fisik umum dapat menunjukkan adanya fokus infeksi TB di paru
atau di tempat lain, meskipun pernah dilaporkan banyak spondilitis TB yang tidak
menunjukkan tanda-tanda infeksi TB ekstraspinal. Pernapasan cepat dapat
diakibatkan oleh hambatan kemungkinan abses terbentuk di anterior rongga dada
atau abdomen. Terjadinya gangguan neurologis menandakan bahwa penyakit
telah lanjut, meski masih dapat ditangani. Pemeriksaan fisik neurologis yang teliti
sangat penting untuk menunjang diagnosis dini spondilitis TB. Pada pemeriksaan
neurologis bisa didapatkan gangguan fungsi motorik, sensorik, dan autonom.
Kelumpuhan berupa kelumpuhan upper motor neuron (UMN), namun pada
presentasi awal akan didapatkan paralisis fl aksid, baru setelahnya akan muncul
spastisitas dan refleks patologis yang positif. Kelumpuhan lower motor neuron
(LMN) mononeuropati mungkin saja terjadi jika radiks spinalis anterior ikut
terkompresi. Jika kelumpuhan sudah lama, otot akan atrofi , yang biasanya
bilateral. Sensibilitas dapat diperiksa pada tiap dermatom untuk protopatis (raba,
nyeri, suhu), dibandingkan ekstremitas atas dan bawah untuk proprioseptif (gerak,
arah, rasa getar, diskriminasi 2 titik). Evaluasi sekresi keringat rutin dikerjakan
untuk menilai fungsi saraf autonom.
Diagnosis dari penyakit ini dapat kita ambil melalui beberapa tanda khas
dibawah ini. Penyakit ini berkembang lambat, tanda dan gejalanya dapat berupa :

a. Nyeri punggung yang terlokalisir


b. Bengkak pada daerah paravertebral

23
c. Tanda dan gejala sistemik dari TB
d. Tanda defisit neurologis, terutama paraplegia

1. Pemeriksaan Laboratorium:
a. Peningkatan LED dan mungkin disertai leukositosis, tetapi hal ini tidak
dapat digunakan untuk uji tapis. Al-marri melaporkan 144 anak dengan
spondilitis tuberkulosis didapatkan 33 % anak dengan laju endap darah
yang normal.
b. Uji Mantoux positif
c. Pada pewarnaan Tahan Asam dan pemeriksaan biakan kuman mungkin
ditemukan mikobakterium
d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional.
e. Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel
f. Pungsi lumbal, harus dilakukan dengan hati-hati, karena jarum dapat
menembus masuk abses dingin yang merambat ke daerah lumbal. Akan
didapati tekanan cairan serebrospinalis rendah, test Queckenstedt
menunjukkan adanya blokade sehingga menimbulkan sindrom Froin
yaitu kadar protein likuor serebrospinalis amat tinggi hingga likuor
dapat secara spontan membeku.
g. Peningkatan CRP ( C-Reaktif Protein ) pada 66 % dari 35 pasien
spondilitis tuberkulosis yang berhubungan dengan pembentukan abses.
h. Pemeriksaan serologi didasarkan pada deteksi antibodi spesifik dalam
sirkulasi.
i. Pemeriksaan dengan ELISA (Enzyme-Linked Immunoadsorbent Assay)
dilaporkan memiliki sensitivitas 60-80 %, tetapi pemeriksaan ini
menghasilkan negatif palsu pada pasien dengan alergi. Pada populasi
dengan endemis tuberkulosis, titer antibodi cenderung tinggi sehingga
sulit mendeteksi kasus tuberkulosis aktif.
j. Identifikasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) masih terus
dikembangkan. Prosedur tersebut meliputi denaturasi DNA kuman
tuberkulosis melekatkan nucleotida tertentu pada fragmen DNA ,

24
amplifikasi menggunakan DNA polymerase sampai terbentuk rantai
DNA utuh yang dapat diidentifikasi dengan gel.

Pada pemeriksaan mikroskopik dengan pulasan Ziehl Nielsen


membutuhkan 10 basil permililiter spesimen, sedangkan kultur
membutuhkan 10 basil permililiter spesimen. Kesulitan lain dalam
menerapkan pemeriksaan bakteriologik adalah lamanya waktu yang
diperlukan. Hasil biakan diperoleh setelah 4-6 minggu dan hasil resistensi
baru diperoleh 2-4 minggu sesudahnya.Saat ini mulai dipergunakan
system BATEC (Becton Dickinson Diagnostic Instrument System).
Dengan sistem ini identifikasi dapat dilakukan dalam 7-10 hari. Kendala
yang sering timbul adalah kontaminasi oleh kuman lain, masih tingginya
harga alat dan juga karena sistem ini memakai zat radioaktif maka harus
dipikirkan bagaimana membuang sisa-sisa radioaktifnya.

2. Pemeriksaan Radiologis:
a. Pemeriksaan foto toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru. Hal ini
sangat diperlukan untuk menyingkirkan diagnosis banding penyakit
yang lain.
b. Foto polos vertebra, ditemukan osteoporosis, osteolitik dan destruksi
korpus vertebra, disertai penyempitan discus intervertebralis yang
berada di antara korpus tersebut dan mungkin dapat ditemukan adanya
massa abses paravertebral. Pada foto AP, abses paravertebral di daerah
servikal berbentuk sarang burung (bird’s net), di daerah torakal
berbentuk bulbus dan pada daerah lumbal abses terlihat berbentuk
fusiform. Pada stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang hebat
sehingga timbul kifosis. Dekalsifikasi suatu korpus vertebra (pada
tomogram dari korpus tersebut mungkin terdapat suatu kaverne dalam
korpus tersebut) oleh karena itu maka mudah sekali pada tempat

25
tersebut suatu fraktur patologis. Dengan demikian terjadi suatu fraktur
kompresi, sehingga bagian depan dari korpus vertebra itu adalah
menjadi lebih tipis daripada bagian belakangnya (korpus vertebra jadi
berbentuk baji) dan tampaklah suatu Gibbus pada tulang belakang itu.
“Dekplate” korpus vertebra itu akan tampak kabur (tidak tajam) dan
tidak teratur. Diskus intervertebralis akan tampak menyempit.
c. Abses dingin.
Foto Rontgen, abses dingin itu akan tampak sebagai suatu bayangan
yang berbentuk kumparan (“Spindle”). Spondilitis ini paling sering
ditemukan pada vertebra T8-L3 dan paling jarang pada vertebra C1-2.

d. Pemeriksaan CT scan
 CT scan dapat memberi gambaran tulang secara lebih detail dari lesi
ireguler, sklerosis, kolaps diskus dan gangguan sirkumferensi
tulang.
 Mendeteksi lebih awal serta lebih efektif umtuk menegaskan bentuk
dan kalsifikasi dari abses jaringan lunak. Terlihat destruksi litik pada
vertebra (panah hitam) dengan abses soft-tissue (panah putih)
e. Pemeriksaan MRI
 Mengevaluasi infeksi diskus intervertebra dan osteomielitis tulang
belakang.
 Menunjukkan adanya penekanan saraf.

Dilaporkan 25 % dari pasien mereka memperlihatkan gambaran


proses infeksi pada CT-Scan dan MRI yang lebih luas dibandingkan
dengan yang terlihat dengan foto polos. CT-Scan efektif mendeteksi
kalsifikasi pada abses jaringan lunak. Selain itu CT-Scan dapat digunakan
untuk memandu prosedur biopsi.

26
3.8. Tatalaksana
Penatalaksanaan spondilitis tuberkulosis ditujukan untuk eradikasi infeksi,
memberikan stabilitas pada tulang belakang dan menghentikan atau memperbaiki
kifosis. Kriteria kesembuhan sebagian besar ditekankan pada tercapainya
favourable status yang didefenisikan sebagai pasien dapat beraktifitas penuh
tanpa membutuhkan kemoterapi atau tindakan bedah lanjutan, tidak adanya
keterlibatan system saraf pusat, fokus infeksi yang tenang secara klinis maupun
secara radiologis.
Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan
sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah
paraplegia.

Prinsip pengobatan paraplegia Pott sebagai berikut :


1. Pemberian obat antituberkulosis
2. Dekompresi medulla spinalis
3. Menghilangkan/ menyingkirkan produk infeksi
4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft)

Pengobatan terdiri atas :


1. Terapi Konservatif berupa:
a. Tirah baring (bed rest)
b. Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra /membatasi gerak
vertebra
c. Memperbaiki keadaan umum penderita
d. Pengobatan antituberkulosis

Standar pengobatan di Indonesia berdasarkan program P2TB paru adalah


:
Kategori 1
Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA(-)/rontgen (+), diberikan dalam 2
tahap :

27
Tahap 1 : Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300 mg dan
Pirazinamid 1.500 mg. Obat ini diberikan setiap hari selama 2 bulan pertama (60
kali).
Tahap 2: Rifampisin 450 mg, INH 600 mg, diberikan 3 kali seminggu
(intermitten) selama 4 bulan (54 kali).
Kategori 2
Untuk penderita BTA(+) yang sudah pernah minum obat selama sebulan,
termasuk penderita dengan BTA (+) yang kambuh/gagal yang diberikan dalam 2
tahap yaitu :
Tahap 1 diberikan Streptomisin 750 mg , INH 300 mg, Rifampisin 450 mg,
Pirazinamid 1500mg dan Etambutol 750 mg. Obat ini diberikan setiap hari.
Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan obat lainnya selama 3
bulan (90 kali).
Tahap 2 diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg dan Etambutol 1250
mg. Obat diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 5 bulan (66 kali).
Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita
bertambah baik, laju endap darah menurun dan menetap, gejala-gejala klinis
berupa nyeri dan spasme berkurang serta gambaran radiologik ditemukan adanya
union pada vertebra.

2. Terapi Operatif
Bedah Kostotransversektomi yang dilakukan berupa debrideman dan
penggantian korpus vertebra yang rusak dengan tulang spongiosa/kortiko –
spongiosa.

Indikasi operasi yaitu:

1) Bila dengan terapi konservatif setelah pengobatan kemoterapi 3-6 bulan tidak
terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin berat. Biasanya tiga minggu
sebelum tindakan operasi dilakukan, setiap spondilitis tuberkulosa diberikan
obat tuberkulostatik.

28
2) Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka
dan sekaligus debrideman serta bone graft.
3) Abses besar segmen servikal pada pasien dengan obstruksi saluran respirasi.
4) Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi ataupun
pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan langsung pada
medulla spinalis.
Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi penderita
tuberkulosis tulang belakang, namun tindakan operatif masih memegang peranan
penting dalam beberapa hal, yaitu bila terdapat cold abses (abses dingin), lesi
tuberkulosis, paraplegia dan kifosis progresif atau hernasi tulang atau diskus pada
kanalis neuralis.

a. Abses Dingin (Cold Abscess)


Cold abcsess yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh karena
dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberian tuberkulostatik. Pada abses yang
besar dilakukan drainase bedah. Ada tiga cara menghilangkan lesi tuberkulosis,
yaitu:

 Debrideman fokal
 Kosto-transveresektomi
 Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan.

b. Paraplegia
Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia, yaitu:

 Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata


 Laminektomi
 Kosto-transveresektomi
 Operasi radikal
 Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang

29
c. Operasi Kifosis
Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat,. Kifosis
mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada anak-anak. Tindakan
operatif dapat berupa fusi posterior atau melalui operasi radikal.

3.9 Prognosis
Prognosis dari penyakit ini bergantung dari cepatnya dilakukan terapi dan
ada tidaknya komplikasi neurologik, untuk paraplegia awal, prognosis untuk
kesembuhan sarafnya lebih baik, sedangkan spondilitis dengan paraplegia akhir,
prognosisnya biasanya kurang baik. Bila paraplegia disebabkan oleh mielitis
tuberkulosis prognosisnya ad functionam juga buruk.

30