Anda di halaman 1dari 14

DEFINISI

Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau
khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH)
yang berikatan dengan cincin fenil. Kata fenol juga merujuk pada beberapa zat yang memiliki
cincin aromatik yang berikatan dengan gugus hidroksil.

Mempunyai sebuah cincin aromatic dengan satu atau lebih gugus hidroksil ,sering bergabung
dengan glukosida dan biasanya terdapat dalm rongga sel. Beberapa golongan polimer penting
seperti lignin, melanin, dan tannin, adalah polfenol.
Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram/100 ml. Fenol memiliki sifat
yang cenderung asam, artinya ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya.
Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O− yang dapat dilarutkan dalam
air.
Dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Hal ini dibuktikan
dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, di mana fenol dapat melepaskan H+. Pada keadaan
yang sama, alkohol alifatik lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Pelepasan ini diakibatkan
pelengkapan orbital antara satu-satunya pasangan oksigen dan sistem aromatik, yang
mendelokalisasi beban negatif melalui cincin tersebut dan menstabilkan anionnya.
Fenol didapatkan melalui oksidasi sebagian pada benzena atau asam benzoat dengan proses
Raschig, Fenol juga dapat diperoleh sebagai hasil dari oksidasi batu bara. Fenol dapat
digunakan sebagai antiseptik seperti yang digunakan Sir Joseph Lister saat mempraktikkan
pembedahan antiseptik. Fenol merupakan komponen utama pada anstiseptik dagang,
triklorofenol atau dikenal sebagai TCP (trichlorophenol). Fenol juga merupakan bagian
komposisi beberapa anestitika oral, misalnya semprotan kloraseptik.
Fenol berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian dari produksi aspirin, pembasmi
rumput liar, dan lainnya.
Fenol yang terkonsentrasi dapat mengakibatkan pembakaran kimiawi pada kulit yang
terbuka.Penyuntikan fenol juga pernah digunakan pada eksekusi mati. Penyuntikan ini sering
digunakan pada masa Nazi, Perang Dunia II. Suntikan fenol diberikan pada ribuan orang di
kemah-kemah, terutama di Auschwitz-Birkenau. Penyuntikan ini dilakukan oleh dokter
secara penyuntikan kevena (intravena) di lengan dan jantung. Penyuntikan ke jantung dapat
mengakibatkan kematian langsung.

SIFAT KIMIA
• Fenol tidak dapat dioksidasi menjadi aldehid atau keton yang jumlah atom C-nya sama ,
karena gugus OH-nya terikat pada suatu atom C yang tidak mengikat atom H lagi. Jadi fenol
dapat dipersamakan dengan alkanol tersier.
• Jika direaksikan dengan H2SO4 pekat tidak membentuk ester melainkan membentuk asam
fenolsulfonat ( o atau p).
• Dengan HNO3 pekat dihasilkan nitrofenol dan pada nitrasi selanjutnya terbentuk 2,4,6
trinitrofenol atau asam pikrat.
• Larutan fenol dalam air bersifat sebagai asam lemah jadi mengion sbb :
Karena itu fenol dapat bereaksi dengan basa dan membentuk garam fenolat

SIFAT FISIKA
• Fenol murni berbentuk Kristal yang tak berwarna, sangat berbau dan mempunyai sifat-sifat
antiseptic
• Agak larut dalam air dan sebaliknya sedikit air dapat juga larut dalam fenol cair. Karena
bobot molekul air itu rendah dan turun titik beku molal dari fenol itu tinggi, yaitu 7,5 maka
campuran fenol dengan 5-6% air telah terbentuk cair pada temperature biasa. Larutan fenol
dalam air disebut air karbol atau asam karbol.

JENIS SENYAWA FENOL


Senyawa fenol dibedakan atas dua jenis utama yaitu :
 berdasarkan jalur penbuatannya :
1. Senywa fenol yang berasal dari asam shikimat atau jalur shikimat
2. Senywa fenol yang berasal dari aseta malonat
3. Ada juga senyawa fenol yang berasal dari kombinasi antara kedua jalur biosintesa ini yaitu
senyawa-senyawa flavonoid.

Contoh –contoh senyawa fenol


1. Senyawa fenol sederhana
2. Lignan, Neolignan, Lignin
3. Stilbena
4. Naftokinon
5. Antrakinon
6. Flavonoid
7. Antosian
8. Tanin
9. Kumarin
10.Kromon & Xanton

PERANAN SENYAWA FENOL


Beberapa peranan senyawa fenol
1. Lignin merupakan bahan dinding sel.
2. Antosianin sebagai pigmen bunga
3. Peranan yang masih merupakan dugaan
• Flavonol tampaknya penting dalam pengaturan pertambahan makanan kapri.
• Kehadirannya dalam kloroplas bayam menimbulkan dugaan bahwa flavonol berperan dalam
fotosintesis.
4. Fenol tumbuhan mendapat perhatian karena kemampuannya untuk membentuk kompleks
dengan protein dengan ikatan hydrogen.
5. Ekstraksi senyawa fenol dari tumbuhan dengan menggunakan alcohol yang mendidih
biasanya mencegah terjadinya oksidasi enzimatik.
6. Senyawa fenol merupakan senyawa aromatic karena itu menyerap cahaya pada daerah UV.

PEMERIKSAAN KANDUNGAN FENOL


Pemeriksaan kandungan kimia meliputi pemeriksaan pendahuluan terhadap berbagai ekstrak
dengan reaksi warna dan pengendapan guna mengetahui golongan senyawa polifenol,
selanjutnya dilakukan pemeriksaan senyawa-senyawa turunan fenol dengan kromatografi
kertas dan spektrofotometer UV.
Hasil pemeriksaan pendahuluan ditunjukkan adanya tanin, flavanoid, antosianin, dan
leukoantosianin. Pemeriksaan lebih lanjut menggunakan kromatografi kertas didapat tannin
galat dan siduga adanya asam protokatekuat, sedangkan kromatografi kertas preparatif yang
dikarakteristik dengan spektrofotometer UV diduga adanya flavon atau flavonol.

 ANALISIS SENYAWA FENOL


Cara klasik untuk mennjukan senywa fenol sederhana adalah dengan menggunakan larutan
besi III klorida 1 % dalam air atau dalam alcohol yang kadang dimodifikasi dengan
penambahan nlarutan besi III sianida 1 %. Larutan tersebut akan menghasilkan warna hijau,
ungu, biru, atau hitam dengan senyawa fenol.

Fenol dan asam fenolat bebas biasa diidentifikasi dengan anlisis tanaman
• Hidrolisis asam dari suatu jaringan tumbuhan membebaskan sejumlah asam fenolat yang
larut dalm eter.
• Asam-asam tersebut bergabung dengan lignin sebagai gugus ester atau terdapat sebagai
fraksi yang tidak larut dalam alcohol dari daun.
• Kemungkinan lain asam tersebut terikat sebagai glikosida sederhana yang larut dalam
alcohol.
 Fenol bebas relative jarang terdapat dalam tumbuhan
 Hidrokuinon paling banyak terdapat.
 Lainnya seperti katekol, orsinol, floroglusinol, dan pirogalol hanya terdapat sedikit dalam
tumbuhan.

Fenol dan asam fenolat


Fenol dapat dipisahkan dari asam karboksilat berdasarkan kelarutannya dalam natrium
bikarbonat ( NaHCO3).
Umumnya tidak larut dalam NaHCO3 seangkan dalam asam karboksilat larut. Fenol dapat
diubah menjadi eter dengan proses sintesis Wiliamson. Karena fenol lebih asam daripada
alkohgol maka fenol apat diubah menjadi Natrioum foroksida dengan menggunakan Natrium
Hidroksida sebagai contoh adalah pembentukan anisol dari fenol. Senyawa fenol juga dapat
mengalami reaksi brominasi, nitrasi dan sulfonasi
 BIOSINTESIS
• Senyawa fenol dapat dihasilkan melalui beberapa jalur yaitu :
1. Jalur asetat malonat
2. Jalur sikimat
3. Kombinasi dari jalur-jalur tersebut.
• Asam 6-metil salisilat misalnya dibentuk melalui jalur asetat malonat.
• Asam gensiat dapat melalui jalur asetat malonat dan pada kasus tertentu melalui jalur
sikimat.

 METODE ANALISIS FENOL DENGAN KLT


Metode terbaik untuk pemisahan dan identifikasi senyawa fenol sederhana dengan KLT.
Senywa tersebut umunya dideteksi seelah hidrolisis asam atau basa dari jaringan tumbuhan
dari ekstrak alcohol
• Hidrolisis asam dilakukan dengan HCL 2 M selama setengah jam atau hidrolisis basa
dengan NaOH 2 M selam 4 jam, atau ekstraksi dengan alcohol.
• Fenol yang terbentuk diekstraksi dengan eter.
• Ekstraksnya diuapkan sampai kering.
• Residu dilarutkan dalam eter dan dikromatografi dua arah ( KLT)

 METODE ANALISIS FENOL DENGAN KCKT


Penelitian berbagai metoda penentuan fenol dan turunannya (disebut senyawa fenol) dalam
air dengan kromatografi cairan kinerja tinggi (KCKT) telah banyak dilakukan baik secara
langsung maupun melalui derivatisasi. Penentuan secara langsung masih kurang peka dengan
tingkat pemisahan yang rendah, terutama untuk senyawa fenol dengan kepolaran yang hampir
sama. Untuk memperbaiki tingkat pemisahan dapat dilakukan dengan mengganti fasa diam,
baik jenis maupun ukuran, serta mengubah komposisi dan jenis fasa gerak. Kepekaan dapat
dinaikkan dengan mengubah detektor atau melakukan pemekatan, baik dengan ekstraksi cair-
cair maupun padat-cair. Denvatisasi biasanya digabung dengan ekstraksi, sehingga dapat
memperbaiki tingkat pernisahan dan menaikkan kepekaan. Beberapa pereaksi telah
digunakan untuk keperluan derivatisasi senyawa fenol pada analisis secara KCKT. Pereaksi
iod manobror.n:ida. (IBr), te1a12 digurrakan pada penentuan fenol total seeara
spektrofotometri. Pereaksi tersebut lebih baik dari pada 4-amino antipirin. Pereaksi 4-amino
antipirin tidak dapat bereaksi dengan senyawa fenol yang tersubtitusi para. Berdasarkan
penelitian tersebut, pada penelitian ini telah dikaji lebih lanjut penggunaan IBr pada
penentuan campuran senyawa fenol dalam air, secara KCKT. Senyawa fenol dalam air
diekstraksi menggunakan pereaksi IBr claim fasa organik, kemudian ditentukan seem. KCKi.
Hasil reaksi senyawa fenol dengan IBr disebut derivat senyawa fenol. Pada tahap ekstraksi,
telah dipelajari mekanisme ekstraksi derivatisasi, pengaruh variabel tetap dan variabel
eksperimen terhadap angka banding distribusi (D).

 REAKSI WARNA
1. Fenol dengan asam nitrat pekat membentuk asam pikrat

+ 3HONO2p

Fenol 2,4,6-trinitro fenol


2. Reaksi Millon
Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila
pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat
berubah menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol,
karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna.
3. Besi(III) klorida bereaksi dengan gugus fenol membentuk kompleks ungu.
4. Asam salisilat + FeCl3 berwarna ungu, terbukti bahwa asam salisilat mengandung fenol
5. Reaksi fenol dengan air brom: Melarutkan 0,1 gr Fenol ke dalam 3 ml air. Menambahkan
sedikit air brom dan mengguncang-guncangnya sampai warna kuning tidak berubah lagi,
catat hasilnya
PENENTUAN KANDUNGAN TOTAL PHENOL DARI DAUN PEPAYA (Carica
papaya) , DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata), DAUN KAYU SUSU
(Alstonia scholaris)
I. ABSTRACT

Done degree determination phenol by using method follinciocalteu from leaf extract papaya
leaf, sambiloto leaf, and pule leaf. measurement is done by using error sour standard
(pirogallol). Standard graph that made has correlation value r=0,99 and the linear line
similarity y= 767.4x - 42.53. from that similarity us can get degree phenol from sample that is
leaf sambiloto as big as -13.3688 ppm, papaya leaf 74.88 ppm, and pule leaf that is 112.4848
ppm.

II. PENDAHULUAN

Phenol merupakan salah satu komponen kimia tumbuhan yang memiliki manfaat
sangat besar baik bagi tumbuhan itu sendiri maupun bagi manusia. Senyawa phenol memiliki
ciri cincin aromatic dan adanya satu atau dua penyulih hidroksil. Senyawa phenol lebih
cenderung larut dalam air, karena senyawa ini biasanya berikatan dengan gula. Senyawa
phenol mencakup beberapa golongan senyawa bahan alam. Mulai dari flavanoid, phenil
propanoid, kuinon phenolik, lignin, melanin, dan tannin merupakan golongan senyawa
phenol.
Pepaya merupakan tumbuhan yang sangat akrab dengan masyarakat. Buahnya yang
enak dan juga daun serta bunganya yang biasa dimanfaatkan sebagai sayur, membuat
tumbuhan ini sangat popular dikalangan masyarakat. Selain itu, dibalik rasanya yang pahit,
ternyata daun papaya dipercaya sebagai salah satu tumbuhan pencegah malaria. Pemanfaatan
daun papaya sebagai antimalaria telah lama dikenal oleh masyarakat. Sebagai insane saintis,
tentunya kita memiliki rasa ingin tahu rahasia apa yang tersembunyi dibalik rasanya yang
pahit itu. Secara biologi klasifikasi dari tumbuhan pepaya yaitu :
Kerajaan : Plantae
Ordo : Brassicales
Famili : Caricaceae
Genus : Carica
Spesies : Carica Papaya
Berdasaekan hasil skrining fitokimia yang dilakukan oleh ferderika mughuri (2010)
kandungan kimia daun papaya yang utama yaitu alkaloid. Yang mana rasa pahit ini member
kita satu isyarat keberadaannya senyawa alkaloid tersebut. Selain itu berdasarkan informasi
dari sentra informasi iptek, Daun pepaya juga mengandung berbagai macam zat, antara lain :
- Vitamin A 18250 SI - Vitamin B1 0,15 mg - Vitamin C 140 mg - Kalori 79 kal - Protein 8,0
gram - Lemak 2 gram - Hidrat Arang 11,9 gram - Kalsium 353 mg - Fosfor 63 mg - Besi 0,8
mg - Air 75,4 gram Kandungan carposide pada daun pepaya berkhasiat sebagai obat cacing.
Daun sambiloto merupakan salah satu tumbuhan obat yang tidak kalah pahitnya
dibanding daun papaya. Sambiloto memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Kerajaan : Plantae
Ordo : Lamiales
Famili : Achanthaceae
Genus : Andrographis
Spesies : Andrographis paniculata
Daun sambiloto telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tanaman obat
yang berkhasiat tinggi. Beberapa khasiat dari daun sambiloto yaitu : sebagai obat kencing
manis, tifoid, disentri,influenza, sakit kepala, demam, batuk rejan, darah tinggi, radang mulut,
kudis, luka bakar, digigit ular, kanker, asam urat, tiphus.
Daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari deoksiandrografolid,
andrografolid (zat pahit), neoandrgrafolid, 14-deoksi-11-12-didehidroandrografolid,dan
homoandrografolid, flavoid, alkene, keton, aldehid, mineral (kalium,kalsium, natrium). Asam
kersik, dammar.
Kayu susu yang biasa dikenal sebagai kayu pulai, hingga saat ini pemanfaatanya
masih relative minim. Biasanya kay pulai ini hanya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.
Akan tetapi kualitas kayunya yang kurang begitu bagus biasanya hanya dimanfaatkan sebagai
bahan baku pembuatan maianan anak-anak.
Akan tetapi, kayu pulai yang selama ini hanya dipandang sebelah mata, ternyata juga
memiliki beberapa khasiat dalam pengobatan yaitu sebagai obat Demam, malaria, limfa
membesar, batuk berdahak, diare, disentri, ; Kurang napsu makan, perut kembung, sakit
perut, kolik, anemia, ; Kencing manis (diabetes melitus), wasir, gangguan haid, bisul,;
Tekanan darah tinggi (Hipertensi), rematik akut, borok (ulcer), ; Beri-beri, masa nifas,
payudara bengkak karena ASI.
Kandungan kimia dari kayu pulai yaitu : kulit kayu mengandung alkaloida ditain,
ekitamin (ditamin), ekitenin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin, dan
triterpen (alfa-amyrin dan lupeol). Daun mengandung pikrinin. Sedangkan bunga pulai
mengandung asam ursolat dan lupeol. Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian : 1. Zat aktif
triterpenoid dari kulit kayu pulai dapat menurunkan kadar glukosa darah kelinci (Setyarini,
Fak. Farmasi Unair, 1987). 2. Ekstrak air kulit kayu pulai secara in vivo dapat menekan daya
infeksi telur cacing gelang babi (Ascaris suum) pada dosis 130 mg/ml dan secara invitro
menekan perkembang telur berembrio menjadi larva an pada dosis 65 mg/ml (Thresia Ranti,
jurusan Farmasi FMIPA ITB, 1 99 1). 3. Pemberian infus 10% kulit kayu pulai dengan dosis
0,7; 1,5 dan 39/kg bb kelinci mempunyai efek hipoglikernik (Sulina, Jurusan Farmasi FMIPA
ITB, 1978).
Nama local dari kayu ini yaitu : Lame (Sunda), pule (Jawa), polay (Madura). kayu
gabus,; pulai (Sumatera).hanjalutung (Kalimantan).kaliti, reareangou,; bariangow, rariangow,
wariangow, mariangan, deadeangow,; kita (Minahasa), rite (Ambon), tewer (Banda), Aliag
(Irian),; hange (Ternate). devil's tree, ditta bark tree (Inggris).; Chatian, saitan-ka-jhad,
saptaparna (India, Pakistan).; Co tin pat, phayasattaban (Thailand).
Klasifikasi botani dari kayu pulai yaitu:
Kerajaan : Plantae
Famili : Apoeynaccae
Genus : Alstonia
Spesies : Alstonia scholaris

Tujuan praktikum ini yaitu untuk mengetahui kandungan total phenol yang ada pada daun
papaya, daun kayu susu, dan daun sambiloto. Yang mana ketiga jenis tumbuhan tersebut
memiliki sumbangsih yang sangat besar dalam dunia pengobatan, maka perlu adanya
pengetahuan lebih lanjut mengenai kandungan kimia terutama kandungan senyawa
fenoliknya.

III. METODE

3.1. WAKTU DAN TEMPAT


3.1.1 Waktu:
Praktikum ini dilakukan pada hari Kamis, 29 April, 6 dan 20 Mei 2010. Jam 10.20 – 12.50
WIT.
3.1.2 Tempat :
Pelaksanaan praktikum ini yaitu di Laboratorium Jurusan Kimia Universitas Negeri Papua
Manokwari.

3.2. ALAT DAN BAHAN


3.2.1. ALAT
Alat-alat yang digunakan yaitu :
Mortar, gelas piala, tabung reaksi, labu Erlenmeyer, pipet tetes, gelas ukur, Pemanas, corong,
kertas saring, pisau, gunting, spectrometer, kuvet.
3.2.2. BAHAN
Bahan yang digunakan yaitu:
Sampel Segar, asam galat, reagen follin ciocalteu, methanol, larutan Na2CO3, aquades.

3.3. PROSEDUR KERJA


3.1.1 PREPARASI SAMPEL
Tumbuk sampel segar dan timbang 5 g sampel segar kemudian dimaserasi dengan 250
ml metanol selama 15 menit, sambil dikocok kemudian saring dengan menggunakan
kertas saring whatman no 1, sehingga diperoleh ekstrak dari sampel.

3.1.2 PEMBUATAN LARUTAN STANDAR ASAM GALAT


Pembuatan larutan induk asam galat (5 mg/ml)
Timbang 5 g asam galat tambahkan aquadest sampai 500 ml, sehingga diperoleh
konsentrasi 1000 mg/ml.
Dari larutan induk dipipet 5,10,20,30,40,50,60 ml dan diencerkan dengan aquadest
sampai volume 100 ml. sehingga dihasilkan larutan dengan konsentrasi 300, 400, 500,
600, dan 700 mg/L asam galat.
Dari masing-masing konsentrasi diatas dipipet 0,2 ml tambah 15,8 ml aquabidest ditambah
1 ml Reagen Folin Ciocalteu kocok. Diamkan selama 8 menit tambah 3 ml larutan
Na2CO3 kocok homogen. Diamkan selama 2 jam pada suhu kamar. Ukur serapan pada
panjang gelombang serapan maksimum 765 nm, lalu buat kurva kalibrasinya hubungan
antara konsentrasi asam galat (mg/L) dengan absorban.

3.1.3 PENGUKURAN ABSORBANSI EKSTRAK SAMPEL


Ditimbang 0,3 gram ekstrak kemudian dilarutkan sampai 10 ml dengan metanol : air (1
: 1). Dipipet 0,2 ml larutan ekstrak dan tambahkan 15,8 ml aquadest tambahkan 1 ml
reagen Folin – Ciocalteu kocok. Diamkan selama 8 menit kemudian tambahkan 3 ml
Na2CO3 20 % kedalam campuran, diamkan larutan selama 2 jam pada suhu kamar.
Ukur serapannya dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang serapan
maksimum 765 nm yang akan memberikan komplek biru. Kemudian tentukan kadar fenol
dalam mg/L.
IV. HASIL PENGAMATAN
Pengukuran absorbance standar asam galat dan sampel pada panjang gelombang 765
nm.
No Konsentrasi (ppm) Absorbance
1 50 0.130
2 100 0.266
3 200 0.308
4 300 0.442
5 500 0.702
6 600 0.845
7 Ekstrak daun pepaya 0.153
8 Ekstrak daun sambiloto 0.038
9 Ekstrak daun kayu susu 0.202

4.1 KURVA STANDAR ASAM GALAT

4.2 PERHITUNGAN KONSENTRASI PHENOL


Dari persamaan kurva standar diperoleh persamaan :
Y= 767.4x – 42.53
Persamaan tersebut yang akan digunakan dalam menentukan konsentrasi dari ekstrak sampel,
dengan menggunakan data absorbance yang telah didapatkan.

4.2.1 Konsentrasi phenol dari ekstrak daun Pepaya


Absoebance = 0.153
Konsentrasi phenol = 767.4x – 42.53
= 767.4 (0.153) – 42.53
= 74.88 ppm
4.2.2 Konsentrasi phenol dari ekstrak daun Sambiloto
Absoebance = 0.038
Konsentrasi phenol = 767.4x – 42.53
= 767.4(0.038) – 42.53
= -13.3688 ppm
4.2.3 Konsentrasi phenol dari ekstrak daun kayu Susu (pulai)
Absoebance = 0.202
Konsentrasi phenol = 767.4x – 42.53
= 767.4(0.202) – 42.53
= 112.4848 ppm
4.3 PEMBAHASAN

Penentuan konsentrasi phenol dari suatu tumbuhan dilakukan dengan menggunakan


metode follincioucalteu. Yang mana pada metode ini digunakan reagen folinciocalteu untuk
dapat menghitung kadar total phenolnya.

Pada penentuan kadar phenol perlu dibuat suatu kurva standar yang meggunakan
standar asam galat. Dari kurva standar yang memberikan hubungan antara konsentrasi asam
galat dengan absorbansinya, maka kita dapat menentukan konsentrasi dari sampel dengan
menggunakan analisis regresi linier.

Asam galat digunakan sebagai larutan standar karena asam galat merupakan salah satu
jenis golongan senyawa phenolik. Yang mana asam galat ini memiliki nama lain pyrogalol.
Contoh dari senyawa phenolik yang termasuk golongan pyrogalol adalah gallocatechins (
EGCG ), tanin , myricetin , alkohol sinapyl berasal lignins.
Dalam pembuatan kurva standar, minimal kita harus menggunakan tiga atau empat
data absorbansi dari larutan standar yang telah diketahui. Nilai R merupakan bilangan yang
menunjukan tingkat keakuratan dan ketelitian dari larutan standar yang kita buat. Apabila
nilai R semakin mendekati 1 maka kurva standar tersebut semakin bagus. R memiliki nilai
maksimum 1 tidak pernah lebih dari 1.

Pada percobaan ini, kita memperoleh data absorbansi dan konsentrasi larutan standar
yang digunakan yaitu sebanyak enam data. Dimulai dari 50 ppm, 100, 200, 300, 400, 500 dan
600 ppm. Pada pembuatan kurva standar ini, ketika semua data tersebut kita masukan,
ternyata terdapat sedikit penyelewengan pada konsentrasi 100 ppm akibatnya nilai R
menurun menjadi 0.987. untuk mengatasi masalah ini kita modifikasi kurva yang kita
dapatkan, yaitu dengan menghilangkan satu data (data 100 ppm). Dengan hilangnya data 100
ppm ternyata berhasil memberikan hasil yang lebih baik dan nilai R naik menjadi 0.99.
sehingga kurva yang kita gunakan yaitu yang hanya menggunakan 5 data tanpa
mengikutsertakan data 100 ppm.

Dari kurva standar yang dibuat diperoleh persamaan garis linier Y= 767.4x – 42.53.
dari persamaan ini kita bias merubah variable x dengan data absorbansi dari masing-masing
sampel sehingga kita bisa mendapatkan data konsentrasi dari masing-masing sampel. Hasil
perhitungan ini yaitu 74.88 ppm untuk ekstrak daun pepaya, kemudian -13.6688 ppm untuk
ekstrak daun sambiloto serta 112,4848 ppm untuk ekstrak daun kayu susu. Pada ekstrak daun
pepaya menunjukan hasil yang negative itu berarti bahwa pada ekstrak daun pepaya tidak
mengandung kadar phenol.

Kandungan total phenol yang terbesar dari ketiga ekstrak tersebut adalah pada daun
sambiloto kemudian pada daun kayu susu serta terakhir daun papaya. Tingginya kadar phenol
ini memungkinkan tumbuhan tersebut dimanfaatkan sebagai antioksidan. Sebagaimana kita
ketahui bahwa senyawa phenolik ketika diserang oleh radikal akan mampu meresonansikan
electron tidak berpasangan tersebut sehingga senyawa phenolik bisa stabil kembali. Karena
itulah, senyawa phenolic tersebut tidak menjadi reaktif dan bisa dimanfaatkan sebagai
antioksidan.
V. PENUTUP

5.1. KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum ini maka dapat disimpulkan bahwa:


 Asam galat (pirogallol) digunakan sebagai standard dalam penentuan kadar phenolik, karena
asam galat merupakan salah satu contoh senyawa golongan phenol.
 Kurva kalibrasi yang diperoleh memberikan nilai regresi 0,99 dan persamaan garis linearnya
adalah Y= 767.4x – 42.53
 Pengukuran absorbance dari ekstrak daun papaya, daun sambiloto dan daun kayu susu
berturut-turut adalah 0,153. 0,038. 0,202. Dari data absorbance itu kita dapat menentukan
kadar phenolnya yaitu 74,88 ppm, -13,3688 ppm, 112,48 ppm.
DAFTAR PUSTAKA
Andayani, regina dkk. 2008. Penentuan Aktivitas Antioksidan, Kadar Fenolat Total Dan Likopen Pada
Buah Tomat (Solanum ycopersicum L).Jurnal sains dan teknologi.
Anonym. 2005. Pepaya. http://www.iptek.net.id/ind/pepaya/ download at : 19 Mei 2010, 07:24
Anonym. 2005. sambiloto. http://www.iptek.net.id/ind/sambiloto/ download at : 19 Mei 2010, 07:30
Anonym. 2005. Kayu Pulai. http://www.iptek.net.id/ind/kayupule/ download at : 19 Mei 2010, 07:45
Harbon J.B. 1987. Metode Fitokimia : Penentuan cara modern menganlisis tumbuhan. Terbitan ke dua.
Terjemahan Kosasih Padmawinata dan iwang soediro. Bandung. ITB Press.
Santoso, Bimo B. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Bahan Alam. Jurusan Kimia. Manokwari.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN ALAM
PENENTUAN KANDUNGAN TOTAL PHENOL DARI DAUN PEPAYA (Carica
papaya) , DAUN KAYU SUSU (Alstonia scholaris), DAUN SAMBILOTO
(Andrographis paniculata)

OLEH
MUHAMMAD DAILAMI
200739010

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS NEGERI PAPUA
MANOKWARI
2010