Anda di halaman 1dari 25

RMK Audit Forensik

“ Auditor Liability For Detected Fraud”

DISUSUN OLEH :

Nama Kelompok : Kelompok 4

Eliana sitompul (1502110567)


Fitri Rosiana (1502114738)
Riana Novita (1502114853)

Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Riau
Statement of Authorship

Saya/ kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa RMK/ makalah/
tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya/ kami sendiri. Tidak ada pekerjaan
orang lain yang saya/ kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/ belum pernah disajikan/ digunakan sebagai bahan untuk makalah/
tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/ kami menyatakan dengan jelas bahwa
saya/ kami menggunakannya.

Saya/ kami memahami bahwa tugas yang saya/ kami kumpulkan ini dapat
diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata Kuliah : Audit Forensik


Judul RMK/ Makalah/Tugas : Fraud definitions and taxonomy
Tanggal : 06 Maret 2018
Dosen : Dr. M. Rasuli, SE., M.Si., Ak., CA

Nama : Eliana Sitompul (1502110567)

Fitri Rosiana (1502114738)


Riana Novita (1502114853)

(Eliana sitompul) (Fitri rosiana) (Riana novita)


Auditor Liability For Detected Fraud

A. Are Auditors liable for fraud detection ?

Setiap auditor baik itu auditor independen, auditor intern ataupun auditor pemerintah
mempunyai tanggung jawab untuk mendeteksi fraud. Tanggung jawab ini diatur dalam standar
profesinya. Dalam standar Profesional Akuntan Publik diatur tentang tanggung jawab auditor
independen untuk mendeteksi kekeliruan (emor), ketidakberesan (imegularities dan pelanggaran
hukum (llegal Acts). Dalam standar tersebut, tidak ada jaminan penuh bahwa hasil auditor
independen akan dapat mendeteksi kekeliruan, ketidakberesan, dan pelanggaran hukum, tapi
diatur keharusan bagi auditor untuk menentukan risiko bahwa suatu kekeliruan, ketidakberesan
dan pelanggaran hukum yang mungkin menyebabkan laporan keuangan berisi salah satu
material. Oleh karena itu, auditor harus merancang auditnya untuk memberikan keyakinan yang
memadai bahwa pendeteksian kekeliruan, ketidakberesan dan pelanggaran hukum yang material
telah dilakukan.

Tanggung jawab auditor untuk mendeteksi kekeliruan dan ketidakberesan mengharuskan


auditor untuk memahami karakteristik dan kerumitan yang terkait dengan berbagai karakteristik
tersebut, kemudian dirancang prosedur audit yang cocok dan hasilnya akan dievaluasi. Untuk
memenuhi tanggung jawab pendeteksian kekeliruan dan ketidakberesan auditor harus
menerapkan pola kesaksamaan dalam perencanaan dan penilaian hasil prosedur auditnya.
Disamping itu harus menerapkan derajat skeptisme professional yang semestinya untuk memberi
keyakinan yang memadai bahwa kekeliruan dan ketidakberesan akan terdeteksi.

1. Tanggung Jawab Auditor Internal

Tanggungjawab internal auditor dalam pencegahan, pendeteksian dan menginvstigasi


perbuatan kecurangan masih menjadi perdebatan yang berkepanjangan dalam profesi audit,
khususnya pada lembaga audit internal. Namun demikian tidak bisa dibantah bahwa internal
auditor memegang peranan penting dalam mendukung penerapan good corporate
governance. Keterlibatan internal auditor dengan aktivitas operasional sehari-hari termasuk
keterlibatan dalam proses pelaporan transaksi keuangan dan struktur pengendalian intern
memberi kesempatan internal auditor untuk melakukan penilaian secara berkala dan menyeluruh
atas aspek-aspek kegiatan/operasional perusahaan yang memiliki risiko tinggi.
Efektivitas peran internal auditor dalam mencegah dan mendeteksi kecurangan sangat
tergantung pada besar kecilnya status kewenangan yang dimiliki dan mekanisme pelaporan hasil
investigasi kecurangan yang dapat dijalankan, karena belum semua jajaran direksi mau
memberikan kewenangan penuh dalam proses pencegahan, pendeteksian dan investigasi
kecurangan pada internal auditor.
Standar Profesi Audit Internal (1210.2) menyatakan bahwa internal audit harus memiliki
pengetahuan yang memadai untuk dapat mengenali, meneliti, dan menguji adanya indikasi
kecurangan. Sejalan dengan hal tersebut, pernyataan standar internal audit (SIAS) No. 3
menyatakan bahwa internal audit diwajibkan untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya
ketidakwajaran penyajian, kesalahan, penyimpangan, kecurangan, inefficiency, konflik
kepentingan dan ketidakefektifan pada suatu aktivitas perusahaan, pada saat pelaksanaan audit.
Audit internal juga diminta untuk menginformasikan kepada pejabat yang berwenang dalam hal
diduga telah terjadi penyimpangan, dan menindaklanjutinya untuk meyakinkan bahwa tindakan
yang tepat telah dilakukan untuk memperbaiki masalah yang ada.

2. Peran Internal Auditor


Terdapat 4 pilar utama dalam memerangi kecurangan, yaitu :
1. Pencegahan kecurangan (fraud prevention)
2. Pendeteksian dini kecurangan (early fraud detection)
3. Investigasi kecurangan (fraud investigation)
4. Penegakan hukum atau penjatuhan sanksi (follow-up legal action)

Berdasarkan 4 pilar utama dalam rangka memerangi kecurangan tersebut, peran penting
dari internal auditor dalam ikut membantu memerangi perbuatan kecurangan khususnya
mencakup :
 Preventing Fraud (mencegah kecurangan)
 Detecting Fraud (mendeteksi kecurangan)
 Investigating Fraud (melakukan investigasi kecurangan)
Secara garis besar pencegahan dan pendeteksian serta investigasi merupakan tanggung
jawab manajemen, akan tetapi internal auditor diharapkan dapat melakukan tiga hal tersebut di
atas sebagai bagian dari pelaksanaan tugas manajemen. Dalam perkembangannya penugasan
dalam memerangi kecurangan saat ini telah mengarah pada profesi tersendiri, seperti Certified
Fraud Examiners (CFE) ataupun akuntan forensik.
Internal auditor harus bertindak secara proaktif dalam mencegah dan mendeteksi
terjadinya kecurangan, khususnya keterlibatan secara aktif dalam mengevaluasi struktur
pengendalian intern perusahaan dan status organisasi. Efektivitas internal auditor dalam
mencegah dan mendeteksi kecurangan sering kali terkendala oleh waktu dan besarnya biaya
untuk menilai/menguji prosedur, kebijakan manajemen dan pengujian atas pengendalian.
Internal auditor barada dalam posisi yang penting untuk memonitor secara terus menerus
struktur pengendalian intern perusahaan melalui identifikasi dan deteksi atas tanda-tanda (red
flags) yang mengindikasikan adanya suatu kecurangan. Internal auditor berada pada posisi yang
tepat untuk memehami seluruh aspek tentang struktur organisasi, tempat pelatihan yang tepat,
pemahaman mereka tentang sumber daya manusia yang ada, memahami kebijakan dan prosedur
operasi, dan memahami kondisi bisnis dan lingkungan pengendalian intern yang memungkinkan
untuk mengidentifikasi dan menilai tanda-tanda atau gejala (symptom ataupunred flag)
kemungkinan terjadinya kecurangan.
Para internal auditor dalam mencegah dan mendeteksi kecurangan diatur secara jelas
dalam kewenangan pelaporan dan standar profesi. Komisi Treadway (the Treadway Commision,
1987) merekomendasikan bahwa internal auditor harus berperan aktif dalam mencegah dan
mendeteksi kecurangan.
Demikian pula dalam Pernyataan Standar Internal Audit mensyaratkan bahwa internal
auditor harus berperan aktif dalam mencegah dan mendetesi kecurangan dengan
mengidentifikasi tanda-tanda kemungkinan terjadinya kecurangan, menginvestigasi gejala
kecurangan dan melaporkan temuannya pada komite audit atau kepada tingkat manajemen yang
tepat.
Kecurangan biasanya tidak hanya dilakukan oleh karyawan pada tingkat bawah, tetapi
jug dapat dilakukan oleh jajaran direksi (top management) baik secara individual maupun
bersama-sama (fraud management) yang dalam cakupan penugasan audit mungkin di luar
jangkauan kewenangan internal auditor. Pada dasarnya dalam menjalankan tugas audit regular,
internal auditor perlu mewaspadai terjadinya kecurangan yang dapat mempengaruhi kualitas,
integritas dan keandalan pelaporan transaksi keuangan perusahaan. Dalam hal ini, internal
auditor harus menginvestigasi secara menyeluruh kemungkinan terjadinya kecurangan dan
mengkomunikasikan kepada komite audit terhadap adanya indikasi kecurangan. Dengan
demikian, hubungan kerjasama yang erat antara komite audit dengan fungsi audit internal,
khususnya melalui pertemuan-pertemuan antara ketua komite audit dengan kepala Satuan
Pemeriksa Intern (SPI), akan dapat meingkatkan kualitas hasil kerja internal auditor dan
mengurangi keungkinan terjadinya kecurangan.
Hubungan kerjasama antara internal auditor dengan eksternal auditor dapat membawa
keterlibatan internal auditor dalam proses penilaian terhadap (kemungkinan) terjadinya
kecurangan pada area peran internal auditor yang sangat terbatas, misalnya pada level terjadinya
kecurangan melibatkan manajemen lini menengah dan atas (middle/top management). Sehingga
secara tidak langsung internal auditor akan lebih mampu berperan dalam memantau
kemungkinan terjadinya kecurangan pada level pembuat kebijkan. Situasi demikian ini akan
memberikan peluang bagi internal auditor untuk berperan aktif dalam pengujian integritas,
kualitas, dan keandalan proses pembuatan hingga implementasi kebijakan yang dilakukan oleh
top manajemen. Bahkan dalam laporannya pada tahun 1999, COSO (Committee of Sponsoring
Organizations) mendorong agar internal auditor mampu dan dapat berperan secara aktif dalam
menilai kualitas, keandalan dan integritas manajemen puncak dalam pembuatan dan
implementasi kebijakan agar terbebas dari unsur perbuatan kecurangan.
Berkenaan dengan peran dan tanggung jawab sebagaimana diuraikan di atas, Pernyataan
Standar Internal Auditor (SIAS) No.3 menguraikan mengenai tanggungjawab internal auditor
untuk pencegahan kecurangan, yaitu : “memeriksa dan menilai kecukupan dan efektivitas system
pengendalian intern, berkaitan dengan pengungkapan risiko potensial pada berbagai bentuk
kegiatan/operasi organisasi”. Standar ini secara jelasa mengemukakan bahwa pencegahan
kecurangan adalah tanggungjawab manajemen. Meskipun demikian, internal auditor harus
menilai kewajaran dan efektivitas tindakan yang dilakukan oleh manajemen terhadap
kemungkinan penyimpangan atas kewajiban tersebut.
Dapat kita lihat bahwa SIAS N0.3 menjelaskan tanggungjawab internal auditor dalam
mendeteksi kecurangan yang mencakup :
1. Internal auditor harus memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang memadai atas
kecurangan agar dapat mengidentifikasi kondisi yang menunjukkan tanda-
tanda fraud yang mungkin akan terjadi.
2. Internal auditor harus mempelajari dan menilai struktur pengendalian perusahaan untuk
mengidentifikasi timbulnya kesempatan terjadinya kecurangan, seperti kurangnya
perhatian dan efektivitas tehadap system pengendalian intern yang ada.

Dalam kaitannya dengan pendeteksian kecurangan yang efektif, internal auditor harus
mampu melakukan, antara lain hal-hal berikut :
 Mengkaji system pengendalian intern untuk menilai kekuatan dan kelemahannya.
 Mengidentifikasi potensi kecurangan berdasarkan kelemahan yang ada pada sistem
pengendalian intern.
 Mengidentifikasi hal-hal yang menimbulkan tanda tanya dan transaksi-transaksi diluar
kewajaran (non procedural).
 Membedakan faktor kelemahan dan kelalaian manusia dari kesalahan yang bersifat fraud.
 Berhati-hati terhadap prosedur, praktik dan kebijakan manajemen.
 Dapat menetapkan besarnya kerugian dan membuat laporan atas kerugian karena
kecurangan, untuk tujuan penuntutan pengadilan (litigasi), penyelesaian secara perdata,
dan penjauhan sanksi internal (skorsing hingga pemutusan hubungan kerja).
 Mampu melakukan penelusuran dan mengurai arus dokumn yang mendukung transaksi
kecurangan.
 Mencari dokumen pendukung untuk transaksi yang dipertanyakan (dispute).
 Mereview dokumen yang sifatnya aneh/mencurigakan.
 Menguji jalannya implementasi motivasi dan etika organisasi di bidang pencegahan dan
pendeteksian kecurangan.

Sedangkan dalam kaitannya dengan investigasi kecurangan, SIAS No.3


merekomendasikan agar investigasi kecurangan dilaksanakan oleh suatu tim yang terdiri dari
internal auditor, bagian hukum, investigator, petugassecurity dan ahli-ahli lainnya baik dari
dalam maupun dari luar organisasi. Tanggungjawab internal auditor berkaitan dengan investigasi
kecurangan adalah :
 Menetapkan apakah pengendalian yang ada telah cukup memadai dan efektif untuk
mengungkap terjadinya kecurangan.
 Merancang suatu prosedur audit untuk mengungkap dan mencegah terulangnya kembali
terjadinya kecurangan atau penyimpangan.
 Mendapatkan pengetahuan yang cukup untuk menginvestigasi kecurangan yang sering
terjadi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keahlian seorang internal auditor dalam
pengungkapan terjadinya kecurangan, harus memiliki kemampuan mirip dengan yang dimiliki
seorang penyidik criminal dan keberadaan keduanyaadalah untuk mencari kebenaran melalui
pengungkapan bukti pendukung perbutan fraudnya. Dalam pengungkapan kecurangan seorng
internal auditor harus mempunyai rasa ingin tahu dan suka akan tantangan pada hal-hal yang
muncul secara tidak lazim. Dengan kata lain aingin tahu pada hal-hal yang bertentangan dengan
logika atau apa yang diharapkan secara wajar.

3. Tanggung Jawab Akuntan Publik (Auditor Independen)


1. Statement Auditing Standards

Beberapa Statements on Auditing Standards (SAS) yang dikeluarkan oleh Auditing


Standards Board (ASB) di Amerika Serikat yang cukup penting adalah :

a. SAS No. 53 tentang “The Auditor’s Responsibility to Detect and Report Errors and
Irregularities,” yaitu mengatur tanggung jawab auditor untuk mendeteksi dan
melaporkan adanya kesalahan (error) dan ketidakberesan (irregularities).
b. SAS No. 55 tentang “Consideration of Internal Control in a Financial Statement
Audit,” yang merubah tanggung jawab auditor mengenai internal control. Statement yang
baru ini meminta agar auditor untuk merancang pemahaman tentang pengendalian intern
yang memadai (internal control sufficient) dalam merencanakan audit.
SAS No. 55 kemudian diperbaharui dengan diterbitkan SAS No. 78 pada tahun 1997,
dengan mencantumkan definisi ulang pengendalian intern (redefined internal control)
dengan memasukkan dua komponen yaitu lingkungan pengendalian (control
environment) dan penilaian risiko (risk assessment) yang merupakan usulan dari
theTreadway Commission.
c. SAS No. 61 mengatur tentang komunikasi antara auditor dengan komite audit perusahaan
(Communication with Audit Committees). Auditor harus mengkomunikasikan dengan
komite audit atas beberapa temuan audit yang penting, misalnya kebijakan akuntansi
(accounting policy) perusahaan yang signifikan, judgments, estimasi akuntansi
(accounting estimates), dan ketidaksepakatan manajemen dengan auditor.
d. SAS No. 82 “Consideration of Fraud in a Financial Statement
Audit” dikeluarkan ASB pada Februari 1997. SAS no. 82 menyatakan bahwa auditor
harus bertanggung jawab untuk mendeteksi dan melaporkan adanya kecurangan (fraud)
yang terjadi dalam laporan keuangan yang disusun oleh manajemen.
Selain itu, SAS no. 82 juga menyatakan bahwa setiap melakukan audit auditor harus
menilai risiko (assessment of risk) kemungkinan terdapat salah saji material (material
misstatement) pada laporan keuangan yang disebabkan oleh fraud.
e. SAS No. 99 “Consideration of Fraud in a Financial Statement Audit” merupakan revisi
dari SAS No. 82 dan mulai diberlakukan efektif untuk audit laporan keuangan setelah
tanggal 15 Desember 2002, penerapan lebih awal sangat dianjurkan. Auditor
bertanggungjawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna mendapatkan
keyakinan memadai (reasonable assurance) bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji
material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan (error) maupun kecurangan (fraud).

Pengaruh SAS No. 99 terhadap tanggung jawab auditor antara lain :

 Tidak ada perubahan atas tanggung jawab auditor untuk mendeteksi fraud atas audit
laporan keuangan.
 Tidak ada perubahan atas kewajiban auditor untuk mengkomunikasikan temuan atas
fraud.
 Terdapat perubahan penting terhadap prosedur audit (audit procedure) serta dokumentasi
yang harus dilakukan oleh auditor atas audit laporan keuangan.
 Dua tipe salah saji (misstatements) yang relevan dengan tanggung jawab auditor, yaitu
salah saji yang diakibatkan oleh fraudulent financial reporting dan salah saji yang
diakibatkan oleh penyalahgunaan asset (misappropriation of assets). SAS No. 99 juga
menegaskan agar auditor independen memiliki integritas (integrity) serta menggunakan
kemahiran professional (professional skepticism) melalui penilaian secara kritis (critical
assessment) terhadap bukti audit (audit evidence) yang dikumpulkan.
f. SAS No. 110 “Fraud & Error” dinyatakan bahwa auditor harus dapat mendeteksi
terhadap kesalahan material (material mistatement) dalam laporan keuangan yang
ditimbulkan oleh kecurangan atau kesalahan (fraud or error). SAS 110 , paragraf 14 & 18
berbunyi sbb. :

“Rencana Para auditor melakukan dan mengevaluasi pekerjaan audit mereka dalam
rangka untuk mempunyai satu ekspektasi yang layak dari pendeteksian kesalahan
material dalam laporan keuangan. Bagaimanapun, satu audit tidak dapat diharapkan
untuk mendeteksi semua perilaku curang atau tak jujur. Penipuan biasanya disertai
dengan cara tindakan khususnya merancang untuk merahasiakan keberadaan nya…”

2. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP)

Profesi akuntan publik (auditor independen) memiliki tangggung jawab yang sangat besar
dalam mengemban kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat (publik). Terdapat 3
(tiga) tanggung jawab akuntan publik dalam melaksanakan pekerjaannya yaitu :

a. Tanggung jawab moral (moral responsibility).

Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab moral untuk :

1. Memberi informasi secara lengkap dan jujur mengenai perusahaan yang diaudit kepada
pihak yng berwenang atas informasi tersebut, walaupun tidak ada sanksi terhadap
tindakannya.
2. Mengambil keputusan yang bijaksana dan obyektif (objective) dengan kemahiran
profesional (due professional care)

b. Tanggung jawab profesional (professional responsibility).


Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab profesional terhadap asosiasi profesi
yang mewadahinya (rule professional conduct).
c. Tanggung jawab hukum (legal responsibility).
Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab diluar batas standar profesinya yaitu
tanggung jawab terkait dengan hukum yang berlaku.Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP)
yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Standar Auditing Seksi 110,
mengatur tentang “Tanggung Jawab dan Fungsi Auditor Independen”.
Pada paragraf 2 standar tersebut antara lain dinyatakan bahwa auditor bertanggung jawab
untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang
apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan
atau kecurangan.
Oleh karena sifat bukti audit dan karakteristik kecurangan, auditor dapat memperoleh
keyakinan memadai, namun bukan mutlak. Bahwa salah saji material terdeteksi. Auditor tidak
bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna memperoleh keyakinan
bahwa salah saji terdeteksi, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan, yang tidak
material terhadap laporan keuangan.

3. Pendeteksian Fraud

Para pelaku kejahatan cenderung untuk mencari dan memanfaatkan berbagai kelemahan
yang ada dalam prosedur, tata kerja, perangkat hukum, kelemahan para pegawai maupun
pengawasan yang belum sempat dibenahi. Berbagai cara dan usaha telah dilakukan oleh hampir
seluruh perusahaan untuk mencegah terjadinya kecurangan baik dengan cara mempromsikan
integritas, maupun pengenaan sanksi yang sepadan dengan perbuatan yang dilakukannya.
Namun, risiko kecurangan tetap mungkin saja terjadi dalam suatu perusahaan.

Tujuan utama dari pendeteksian kecurangan adalah dalam rangka membantu perusahaan
menciptakan suasana sehat dan menguntungkan di dalam lingkungan perusahaan dengan
mencegah terjadinya kerugian akibat kecurangan.

Kecurangan Pelaporan Keuangan

Fraud financial reporting di suatu perusahaan merupakan hal yang akan berpengaruh
besar terhadap semua pihak yang mendasarkan keputusannya atas informasi dalam laporan
keuangan (financial statement) tersebut. Oleh karena itu akuntan publik harus bisa mencegah dan
mendeteksi lebih dini agar tidak terjadi fraud. Untuk mengetahui adanya fraud, biasanya
ditunjukkan oleh timbulnya gejala-gejala (symptoms) berupa red flag (fraud indicators),
misalnya perilaku tidak etis manajemen. Red flag ini biasanya selalu muncul di setiap kasus
kecurangan (fraud) yang terjadi.

Menurut Wilopo, upaya menghilangkan perilaku tidak etis manajemen dan


kecenderungan kecurangan akuntansi, antara lain :

 Mengefektifkan pengendalian internal, termasuk penegakan hukum.


 Perbaikan sistem pengawasan dan pengendalian.
 Pelaksanaan good governance.
 Memperbaiki moral dari pengelola perusahaan, yang diwujudkan dengan
mengembangkan sikap komitmen terhadap perusahaan, negara dan masyarakat.

The National Commission On Fraudulent Financial Reporting (The Treadway


Commission) merekomendasikan 4 (empat) tindakan untuk mengurangi kemungkinan
terjadinya fraud financial reporting, yaitu :

1. Membentuk lingkungan organisasi yang memberikan kontribusi terhadap integritas


proses pelaporan keuangan (financial reporting).
2. Mengidentifikasi dan memahami faktor- faktor yang mengarah ke fraud financial
reporting.
3. Menilai resiko fraudulent financial reporting di dalam perusahaan.
4. Mendisain dan mengimplementasikan internal control yang memadaiuntuk financial
reporting.

Beberapa atribut yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya risiko terdapat fraud
financial reporting di perusahaan, antara lain :

 Terdapat kelemahan dalam pengendalian intern ( internal control ).


 Perusahaan tidak memiliki komite audit.
 Terdapat hubungan kekeluargaan ( family relationship ) antara manajemen ( Director )
dengan karyawan perusahaan.

Secara umum hal-hal yang menjadi pemicu terjadinya kecurangan baik yang
dilakukan oleh seseorang ataupun sekelompok orang dapat dikategorikan dengan menggunakan
kata GONE ( GONE THEORY ) yang merupakan singkatan dari Greed (Keserakahan),
Opportunity (Kesempatan), Need (Kebutuhan), dan Exposure (Pengungkapan).

Faktor Greed dan Need terutama berhubungan dengan individu ( pelaku kecurangan ),
sedangkan Opportunity dan Exposure berhubungan dengan organisasi ( korban perbuatan
kecurangan ). Faktor-faktor ini dapat digolongkan menjadi faktor generik dan faktor individu.

Faktor Generik

Faktor ini berada dalam pengendalian organisasi (perusahaan) yang mencakup :

 Kesempatan atau adanya peluang bagi pelaku kecurangan ( Opportunity) :


Kesempatan melakukan kecurangan tergantung pada kedudukan pelaku terhadap obyek
kecurangan. Kesempatan untuk melakukan kecurangan tidak dapat dihilangkan secara
keseluruhan atau seratus persen. Usaha untuk menghilangkan kesempatan terjadinya kecurangan
secara keseluruhan menjadi tidak ekonomis dan tidak produktif selama perusahaan tersebut
masih memiliki asset, dimana asset tersebut diperdagangkan, mengalir, dan ada dalam
pengendalian pihak lain seperti karyawan, pembeli, dan penjual.

 Kemungkinan bahwa kecurangan akan dapat diketahui dan diungkapkan (exposure) :


Kondisi saat ini ada kecenderungan makin tipisnya kepekaan seseorang/sekelompok
orang terhadap kecurangan yang terjadi di sekelilingnya. Hal ini mungkin saja dipicu oleh
kekhawatiran mereka khususnya berkaitan dengan perlindungan terhadap pihak-pihak yang
mengungkapkan terjadinya kecurangan tersebut. Apabila kondisi ini terus terjadi, maka secara
logika kecurangan makin merajalela, karena para pelaku kecurangan tersebut merasa bahwa
kecurangan apapun yang mereka lakukan tidak ada pihak lain yang berani mengungkapkannya.
 Sanksi yang dikenakan kepada pelaku jika tertangkap dan perbuatannya terungkap
(exposure) :
Terungkapnya kecurangan belum cukup untuk mencegah terulang kembalinya kejadian
tersebut dimasa yang akan datang. Oleh karena itu harus ada saksi atas perbuatan tersebut yang
jelas, tegas, dan diterapkan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Suatu perusahaan yang ingin
melindungi assetnya harus memiliki kebijakan (policy) yang jelas mengenai sifat dan besarnya
sanksi terhadap pelaku kecurangan.

Factor Individu
Faktor ini melekat pada diri seseorang yang melakukan kecurangan. Secara umum, faktor
ini dapat dikategorikan menjadi dua yaitu :
 Moral yang berhubungan dengan keserakahan (greed).
Keserakahan berhubungan dengan atribut seseorang. Bagaimana dengan atribut lainnya
yang ada dalam diri manusia seperti kejujuran, integritas, loyalitas dan sebagainya, adalah sulit
untuk mengetahui apakah seseorang memiliki atribut serakah ini atau tidak.
 Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan (need).
Salah satu yang menjadi penyebab seseorang atau sekelompok orang melakukan
kecurangan adalah berhubungan dengan kebutuhan ekonomi. Disamping itu juga dapat
disebabkan oleh adanya perasaan ketidakpuasan atas kebijakan yang ditetapkan oleh manajemen,
balas dendam, dan tantangan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendeteksi kecurangan adalah :


1. Jangan mengabaikan hal-hal yang jelas. Hal ini untuk menghilangkan kesan bahwa
penyelidikan terhadap kecurangan selalu merupakan aktivitas kompleks, padahal dalam
prakteknya tidak selalu seperti kesan tersebut di atas. Disamping itu, dalam prekteknya,
kebanyakan perbuatan kecurangan meninggalkan jejak yang jelas.
2. Berikan perhatian pada penyimpangan yang terjadi, jangan selalu mencari penyelesaian yang
kompleks, dan mulailah dengan mencari penyelesaian yang paling sederhana.
3. Lakukan konsentrasi ada titik yang paling lemah dan sederhana di dalam kecurangan.
4. Pendeteksian dan pencegahan kecurangan merupakan aspek rutin, bukan suatu hal yang
hanya dilakukan sekali.
5. Tujuan utama mendeteksi kecurangan adalah mencegah terjadinya, bukan mendeteksi
seluruh kecurangan.
6. Sumber daya dan kemampuan harus dialokasikan secara khusus untuk melakukan tugas
tersebut.
7. Mendeteksi kecurangan berarti kerja keras.
8. Kecurangan dapat lolos dari deteksi disebabkan tidak seorangpun ditugaskan untuk itu.
B. Fraud Discovery
1. Fraud Discovery from Tips and Hotlines
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kira-kira 35 sampai 50 persen kecurangan
terdeteksi di dalam organisasi. Tip seperti itu berasal dari karyawan, pelanggan, vendor, dan
sumber anonim. Jadi, karena tip sangat penting, penting bagi perusahaan untuk memiliki sistem
formal yang mendorongnya. Salah satu sistem tersebut termasuk hotline.

Hotline bisa datang dalam berbagai bentuk. Telepon hotline adalah saluran telepon yang
didedikasikan untuk menerima tip. Hotline khas menerima panggilan secara anonim, dan
beberapa hotline memberi nomor identifikasi rahasia tersebut kepada tukang ketik yang dapat
digunakan untuk tindak lanjut selanjutnya oleh pengetesan. Imbalan tunai dapat ditawarkan
sebagai insentif bagi calon tipsters. Hotline juga bisa ada dalam bentuk situs Web atau bahkan
alamat ep-mail sederhana yang ditujukan untuk menerima tip dan laporan penipuan. Contoh
bagus hotline berbasis Web dapat ditemukan di sektor publik. Misalnya, Kantor Inspektur
Jenderal di Administrasi Sosial Jaminan Sosial A.S. menyelenggarakan situs Web
(http://www.ssa.gov/oig/hotline) yang ditujukan untuk menerima tip terkait dengan kecurangan
jaminan sosial. Situs Web memberi tipsters tiga pilihan yang berkaitan dengan pengungkapan
identitas mereka:

 Kerahasiaan dan Anonimitas Tidak Diminta


Jika perlu, penyidik dapat memberi petunjuk tambahan untuk informasi tambahan, dan
pembuat tip tidak menempatkan restriksi apapun pada pelepasan informasi kontaknya.
 Permintaan Kerahasiaan
Penyelidik dapat menghubungi pembuat informasi tambahan, namun nama pengetelnya
tetap rahasia dan tidak dibagi di luar Kantor Inspektur Jenderal. Kebijakan tersebut
adalah untuk menghormati permintaan kerahasiaan dan tidak melepaskan data yang akan
mengidentifikasi orang tersebut kecuali jika diminta melakukannya berdasarkan undang-
undang (mis., Perintah pengadilan atau surat perintah pengadilan).
 Permintaan anonym
Pemetik tidak menyediakan informasi kontak; Dengan demikian, penyidik tidak akan
dapat menghubungi pemicu jika diperlukan informasi tambahan untuk memproses
keluhan tersebut.
2. Fraud Discovery by Accident
Mengejutkan karena tampaknya, deteksi paling umum kedua dari kecurangan pekerjaan
adalah penemuan kebetulan. Menurut penelitian, penemuan kebetulan menyumbang sekitar 25
sampai 35 persen dari semua kecurangan pekerjaan yang terdeteksi. Insiden ini kemungkinan
jauh lebih tinggi pada perusahaan kecil yang tidak memiliki atau mendapatkan keuntungan dari
hotline atau tindakan deteksi lainnya. Ini adalah fakta yang menyedihkan bahwa penemuan
"kebetulan" dalam bisnis kecil sering kali merupakan hasil dari manajer yang mencoba untuk
mencari tahu mengapa tidak ada cukup uang untuk membayar karyawan dan tagihan.

3. Fraud Discover by Financial Statement Auditors

Penemuan Penipuan oleh Auditor Laporan Keuangan SAS No. 99, Pertimbangan
Penipuan dalam Audit Laporan Keuangan, mengharuskan auditor merancang audit laporan
keuangan sedemikian rupa sehingga memiliki kesempatan yang wajar untuk mendeteksi salah
saji dalam laporan keuangan. Hal ini mengharuskan auditor untuk mengikuti proses tiga langkah:
(1) mengumpulkan informasi yang relevan dengan risiko salah saji dalam laporan keuangan, (2)
menganalisis dan menilai risiko salah saji sehubungan dengan program dan pengendalian entitas,
dan (3) menerapkan informasi yang dikumpulkan ke struktur dan penerapan penerapan SAS No.
99 dalam audit biasanya mencakup sekitar 5 sampai 20 persen kecurangan pekerjaan yang
terdeteksi. Sayangnya, beberapa kasus kecurangan laporan keuangan yang sangat signifikan telah
lolos dari deteksi auditor meskipun SAS No. 99 SAS No. 99 juga mensyaratkan bahwa anggota
tim audit secara formal mendiskusikan di antara mereka sendiri potensi salah saji dalam laporan
keuangan. Diskusi ini harus berlanjut sepanjang proses audit dan harus didokumentasikan secara
formal di dalam kertas kerja audit Bagian penting dari penilaian risiko audit SAS No. 99
melibatkan mempelajari dan menentukan indikator kecurangan yang relevan dengan entitas dan
program dan pengendaliannya. Selain itu, SAS No. 99 mengenakan biaya auditor untuk menilai
dan mendokumentasikan risiko pengelolaan override kontrol internal. Penilaian lain yang
diperlukan termasuk tinjauan retrospeksi mengenai taksiran akuntansi dan pertimbangan bisnis
untuk transaksi yang tidak biasa, Auditor menduga bahwa pengakuan pendapatan yang tidak
tepat mengindikasikan adanya risiko kecurangan. Selain penggunaan indikator kecurangan
spesifik, SAS No. 99 menunjukkan bahwa auditor harus menggunakan segitiga penipuan dalam
menilai risiko. Tiga "sisi" segitiga itu tekanan / insentif, peluang, dan rasionalisasi sikap. Ketiga
unsur ini muncul di hampir semua kasus penipuan. Segitiga penipuan dibahas secara rinci di Bab
9 Pada tingkat karyawan individual, tekanan / insentif biasanya berhubungan dengan situasi di
mana seorang karyawan memiliki kebutuhan finansial yang tidak terpenuhi, seperti hutang
perjudian, hutang medis, gaya hidup yang berlebihan, dan sebagainya. Kesempatan adalah bahan
yang jelas; Tanpa kesempatan, kecurangan bisa menjadi tidak mungkin. Bahan akhir,
rasionalisasi / sikap, biasanya melibatkan pemalsuan karyawan atas alasan moral pribadi atas
kecurangan tersebut. Alasan seperti itu biasanya melibatkan hal-hal seperti "Saya hanya
meminjamnya" atau "Operasi ibu saya yang sakit lebih penting daripada sedikit uang untuk
perusahaan" Rasionalisasi terjadi sebelum kejahatan dilakukan. Pada tingkat organisasi, tekanan
mungkin berhubungan dengan hal-hal yang tidak biasa untuk dilakukan, kesempatan dapat
berhubungan dengan kontrol yang lemah, dan rasionalisasi / sikap mungkin terkait dengan
faktor-faktor seperti contoh buruk yang ditetapkan oleh orang-orang di puncak organisasi.
Akhirnya, SA No. 99 mewajibkan auditor untuk melapor ke tingkat pengelolaan yang sesuai,
setiap bukti menemukan bahwa kecurangan mungkin Di auditor tidak boleh terlalu dekat dengan
klien mereka dan mempertahankan sikap curiga dengan sehat melalui audit.

4. Fraud Discovery by Internal Auditors

Dalam organisasi, auditor internal memiliki tanggung jawab untuk secara aktif memantau
kepatuhan terhadap kebijakan dan perilaku yang berkaitan dengan pengendalian internal.
Menurut Insti- tute Auditor Internal (http://www.theiia.org/), Audit Internal adalah kegiatan
assurance dan konsultasi independen yang bertujuan untuk menambah nilai dan memperbaiki
operasi organisasi. Ini membantu organisasi mencapai tujuannya dengan membawa pendekatan
sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas proses manajemen,
pengendalian, dan tata kelola manajemen. Elemen kunci dari definisi ini meliputi:

1. Kemandirian Independen dicapai oleh auditor internal yang melapor langsung ke dewan
direksi. Auditor internal independen bebas untuk menyelidiki dan melapor kepada CEO tanpa
rasa takut akan pembalasan.

2. Tujuan Manajemen risiko diawali dengan tujuan dan selera organisasi untuk risiko

3. Audit Internal Sistematik adalah proses berkelanjutan yang harus dilakukan secara terencana
dan konsisten. Efektivitas Manajemen Risiko, Pengendalian, dan Tata Kelola

4. Memperbaiki Proses Berkaitan dengan deteksi kecurangan, istilah ini berarti internal hanya
mendeteksi dan melaporkan kecurangan namun juga mengawasi perancangan dan pengoperasian
proses yang mencegah, mendeteksi, dan melakukan kecurangan.

5. Fraud Discovery by Security Departments

Penipuan yang dilakukan terhadap entitas oleh pelanggan, vendor, dan masyarakat
biasanya dideteksi oleh departemen keamanan fungsional khusus. Posisi departemen keamanan
semacam itu dalam bagan organisasi cenderung bervariasi menurut industri. Misalnya, di industri
asuransi, departemen yang mencegah, mendeteksi, dan menyelidiki klaim asuransi di sisi lain,
dalam penipuan mungkin merupakan cabang dari divisi klaim perusahaan asuransi. Pada
kecurangan aplikasi industri jasa keuangan, departemen yang menangani kredit mungkin berada
di divisi peminjaman. Selain departemen area fungsional yang didedikasikan untuk manajemen
kecurangan, c juga memiliki departemen keamanan informasi terpisah yang juga melakukan
fungsi penuntutan penipuan yang tumpang tindih dengan departemen keamanan area fungsional.

6. Fraud Discovery by Inspestors General


Banyak instansi pemerintah memiliki seorang inspektur jenderal yang tugasnya
mencakup penyelidikan kemungkinan kecurangan. Inspektur Jenderal sering bekerja sama
dengan auditor internal dalam menangani isu-isu terkait kecurangan. Di pemerintah federal A.S.,
muatan utama lembaga pengawas adalah mengaudit berbagai agen dan program federal dengan
mata terhadap kemungkinan kecurangan penipuan; dan pelanggaran hukum, kebijakan keagenan,
dan peraturan. Inspektur umumnya beroperasi secara independen satu sama lain. Banyak
inspektur federal berbagi informasi secara umum melalui Dana Presiden mengenai Integritas dan
Efisiensi (PCIE) dan Dewan Eksekutif Integritas dan Efisiensi (ECIE). Agen PCIE khusus diberi
wewenang untuk membawa senjata api dan melakukan penangkapan.

C. Fraud Detection and Disclosure


1. Critical Point Auditing (CPA)
Setiap perusahaan pasti memiliki titik rawan yang sering digunakan sebagai tempat
terjadinya kecurangan. Apabila kecurangan terjadi pada titik tersebut, akan dengan mudah
diketahui. Namun, dalam banyak hal keberhasilan suatau kecurangan lebih banyak disebabkan
kepandaian pelaku dalam menyembunyikan kegiatannya diantara transaksi-transaksi yang ada.
CPA merupakan suatu teknik dimana melalui pemeriksaan atas catatan pembukuan,
gejala suatu manipulasi dapat diidentifikasi. Hasilnya berupa gejala atau kemungkinan terjadinya
kecurangan yang pada gilirannya mengarah kepada penyelidikan yang lebih rinci. Metode ini
dapat digunakan pada setiap perusahaan. Semakin akurat dan komprehensif suatu catatan, maka
semakin efektif teknik ini dalam mengetahui gejala kecurangan. Critical Point Auditing ini
adalah :
1) Analisis Tren
Pengujian ini terutama dilakukan atas kewajaran pembukuan pada rekening buku besar
dan menyangkut pula pembandingannya dengan data sejenis untuk periode sebelumnya maupun
dengan sejenis dari cabang-cabang perusahaan. Data-data yang digunakan biasanya berupa :
Rekening Buku Besar, Neraca, dan Anggaran. Pembandingan dengan periode sebelumnya dapat
diarahkan untuk :
 Mendapatkan gejala manipulasi yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan yang
melakukan kecurangan.
 Mendeteksi kemungkinan adanya kerugian kecurangan.
Dampak atas kecurangan yang didasarkan atas analisis rasio dan kinerja adalah hal yang
penting untuk diamati lebih lanjut. Seorang pelaku kecurangan tidak dapat menjamin bahwa
tindakannya dapat dilakukan erus menerus secara teratur. Pelaku tersebut mungkin cukup
agresif, namun jika pengawasan ditingkatkan atau jika prosedur ataupun pengendalian yang
efektif diterapkan, kecurangan akan dapat dideteksi. Para pelaku kecurangan tersebut
membutuhkan waktu dan usaha untuk menciptakan kesempatan yang baru. Dengan adanya
ketidakteraturan dalam kesempatan untuk melakukan kecurangan, maka memberi dampak
tehadap ketidakkonsistenan pelaku kecurangan dalam melakukan kecurangan tersebut akan
nampak dalam pembukuan perusahaan.

2) Pengujian Khusus
Pengujian khusus dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan yang memiliki risiko tinggi untuk
terjadinya kecurangan. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti:
 Pembelian
Kecurangan pembelian umumnya dilakukan dengan cara meninggikan nilai yang terdapat
dalam faktur. Dalam setiap kecurangan pembelian, hamper selalu terdapat pengkreditan yang
salah pada rekening kreditur. Cara lain yang dilakukan adalah dengan melakukan pembelian
fiktif. Hutang yang timbul kemudian dilunasi oleh perusahaan, bukan kepada pemasok, namun
kepada pelaku kecurangan. Walaupun rekening dapat dibukukan, namun pelaku kecurangan
tidak mampu menyiapkan bukti pendukung yang lengkap. Oleh karena itu, pengujian pertama
yang sangat penting adalah untuk meyakinkan keabsahan pemasok. Langkah-langkah yang dapat
digunakan untuk meyakinkan keabsahan tersebut adalah :
 Membandingkan data pemasok dengan data karyawan perusahaan, tentang alamat dan nomor
teleponnya. Pengujian ini berguna untuk mengetahui apabila karyawan menciptakan pemasok
fiktif dengan menggunakan alamat karyawan tersebut atau alamat kerabatnya untuk menerima
pengiriman uang dari perusahaan.
 Teliti nama perusahaan tempat karyawan bekerja sebelumnya. Bandingkan data perusahaan
tersebut denagan data rekanan perusahaan. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
kemungkinana karyawan melakukan kolusi dengan karyawan tempat dia bekerja sebelumnya.
 Periksa beberapa rekanan yang mengajukan penawaran kepada perusahaan, dan teiti
hubungan antara satu dengan yang lainnya. Pngujian ini dimaksudkan untuk mengetahui
adanya tender yang hanya diikuti rekanan yang mempunyai keterkaitan satu sama lain.
 Teliti faktur pembelian, apabila memenuhi unsur berikut, perlu diteliti lebih lanjut :
o Tidak terdapat nomor telepon
o Faktur pembeliannya bukan faktur asli
o Faktur tidak dikirim melalui pos
o Tidak terdapat rincian barang-barang yang dibeli (selain kode barang)
 Verifikasi buku besar
o Perhatikan rekening hutang yang muncul setelah penunjukan pejabat perusahaan yang
baru, khususnya yang menangani pembelian. Tidak jarang, pejabat memilih pemasok
yang telah dikenalnya (kemungkinan karena ada hubungan istimewa)
 Bandingkan buku pembelian tahun berjalan dengan tahun sebelumnya, perhatikan hal-hal
berikut ini :
o Rekening-rekening yang dihapuskan
o Rekening yang baru
o Kecenderungan (trend) yang tidak wajar atas suatu rekening
o Pengkreditan atas suatu rekening selain dari barang yang diterima dan pendebetan selain
kas
 Periksa tingkat kewenangan pejabat dalam melakukan pambelian dan menyetjui faktur.
Perhatian harus diarahkan pada kemungkinan memecah pembelian menjadi beberapa pesanan.
 Lakukan uji-petik terhadap beberapa kontrak, terutama dari pemasok yang barang-barangnya
dibeli tanpa ada harga resminya. Perhatikan hal-hal berikut ini :
o Barang dibeli dari pemasok yang bukan merupakan kegiatan bisnisnya
o Pembelian tanpa melalui penawaran yang kompetitif
o Mutu barang dibawah standar
o Adanya perubahan harga dan/atau perpanjangan waktu
o Harga kontrak sedikit dibatas ataas (plafon anggaran).
Apabila dari hasil pengujian terdapat indikasi adanya kecurangan, langkah berikut harus
dilakukan :
o Teliti kepemilikan perusahaan yang memenagkan tender
o Teliti kepemilikan perusahaan yang kalah dalam tender
 Penjualan dan Pemasaran
Kecurangan dalam aktivitas ini biasanya dilakukan dengan seolah-olah terjadi penjualan
yang diikuti dengan pengiriman barang namun tanpa pendebetan pada rekening debitur.
Kebalikan dengan pembelian, verifikasi atas penjualan dilakukan melalui penelitian atas sumber
dokumen. Selanjutnya yakinkan bahwa transaksi tersebut dibukukan dalam rekening yang tepat.
Uraian lengkap pengujian yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
 Lakukan pengujian terhadap pembeli yang memperoleh harga terendah/memperoleh
potongan harga (discount) paling besar
 Teliti saldo piutang yang melampaui plafon kredit
 Teliti pembayaran/pelunasan piutang yang melampaui batas waktu tertentu
 Lakukan analisis atas pesanan penjualan, catatan gudang dan faktur, selanjutnya
bandingkan antara ketiganya
 Teliti pngiriman barang contoh ke gudang/cabang atau pengiriman barang kepada pihak
ketiga tersebut. Prosedur ini dimaksudkan untuk mendeteksi kemungkinan penyalahgunaan
pengiriman barang sampel
 Teliti nota kredit untuk barang-barang yang dikembalikan (diretur) dan bandingkan dengan
penerimaan barangnya (di gudang)
 Teliti surat menyurat berkaitan dengan transaksi pembelian. Perhatikan keluhan konsumen,
seperti kesalahan dalam faktur dan sebagainya. Trasir keluhan-keluhan tersebut kepada
barang yang dipesan, pengiriman barang, dan faktur penjualan
 Teliti catatan pelunasan piutang ke rekening yang bersangkutan. Trasir ke buku kasnya dan
slip pembayaran. Perhatikan perbedaan tanggal, nama pembayar. Prosedur ini dilakukan
dalam rangka mendeteksi kemungkinan terjadinya lapping. Dalam lappin, pembayaran dari
debitur tertentu dibukukan dalam rekening debitur lainnya seolah-olah salah pembukuan
untuk menutupi kecurangan yang telah dilakukan.

 Persediaan
Teliti secara detail catatan-catatan persediaan berkaitan dengan hal-hal berikut ini :
 Produk yang mempunyai perputaran (turnover) paling tinggi
 Produk yang ada dalam persediaan, padahal tidak terdapat dalam persediaan tahun
sebelumnya
 Produk yang ada dalam persediaan tahun-tahun lalu, namun tidak tersedia tahun ini
 Semua koreksi atas catatan persediaan yang disebsbkanadanya perbedaan pada saat
dilakukan stock opname. Periksa jadual pelaksanaan stock opname tahun lalu dengan cara :
o Meneliti setiap jenis barang dan kaitkan dengan kewajaran persediaan, perputaran dan
ruang penyimpanan yang tersedia
o Meneliti catatan kerja pengemudi perusahaan pada saat dilakukan inventarisasi
o Meneliti apakah terdapat pembayaran biaya pengangkutan untuk pihak ketiga pda saat
inventarisasi
o Verifikasi kebenaran barang dalam perjalanan
2. Job Sensitivity Analysis (JSA)
Setiap pekerjaan dalam suatu perusahaan memiliki berbagai peluang/kesempatan untuk
terjadinya kecurangan. Hal ini tergantung dari beberapa faktor seperti : akses, kemampuan, dan
waktu yang tersedia untuk merencanakan dan melaksanakannya.
Teknik analisis kepekaan pekerjaan (job sensitivity analysis) ini didasarkan pada suatu
asumsi, yakni bila seseorang/sekelompok karyawan bekerja pada posisi tertentu,
peluang/tindakan negatif (kecurangan) apa saja yang dapat dilakukan. Dengan kata lain, teknik
ini merupakan analisis dengan risiko kecurangan dari sudut “pelaku potensial”, sehingga
penegahan terhadap kemungkinan terjadinya kecurangan dapat dilakukan mesalnya dengan
memperketat pengendalian intern pada posisi-posisi yang rawan kecurangan.
1) Metode Pendekatan
Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasikan semua posisi pekerjaan
di dalam perusahaan yang menjadi obyek pemeriksaan. Oleh karena itu, hal-hal yang perlu
diamati dan dipelajari adalah ;
 Struktur organisasi
 Uraian tugas masing-masing pejabat yang ada dalam perusahaan
 Manual akuntansi dan formulir-formulir yang digunakan
 Pendelegasian wewenang
Langkah berikutnya adalah menyiapkan analisis setiap pejabat. Simpulan yang diperoleh
dari langkah ini harus dapat menunjukkan spesifikasi setiap pekerjaan dan mencatat perbedaan
antara akses yang diperbolehkan dengan akses yang direncanakan. Sebagai contoh, petugas
bagian pesanan penjualan tidak tidak diperkenankan memiliki akses terhadap catatan pembelian.
Namun kita juga harus mempertimbangkan kondisi nyata dari ruangan yang tersedia dalam
paerusahaan yang bersangkutan, artinya apabila ruangan petugas bagian penjualan bersama-sama
dengan karyawan bagian pembelian, adalah suatu hal yang tidak realistis menganggap petugas
penjualan tersebut tidak mungkin membaca, merubah, atau menyembunyikan catatan.

2) Pengawasan Rutin
Suatu hal yang mudah bagi pelaku kejahatan dalm suatu perusahaan untuk beroperasi,
bila mana manajer sibuk dengan tanggung jawab lain. Dalam melakukan pengendalian juga
harus diperhatikan hal-hal seperti bawahan lebih pandai dari atasannya, atau bila atasan memiliki
bawahan yang mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda.

3) Karakter Pribadi
Karakter pribadi karyawan harus dipertimbangkan. Hal-hal yang harus diperhatikan
seperti :
 Kekayaan yang tidak bisa dijelaskan
 Pola hidup mewah
 Pegawai yang sering merasa kecewa/tidak puas atas keputusan manajemen/tidak naik-naik
pangkat
 Sifat egois dari karyawan (mementingkan diri sendiri)
 Karyawan yang sering mengabaikan instruksi/prosedur
 Karyawan yang merasa dianggap paling penting

4) Tindak Lanjut
Hasil analisis akan memberikan gambaran tentang jenis pekerjaan mana yang mengandung risiko
tinggi dan metode fraud yang bagaimana yang sebaiknya diterapkan. Pengujian secara detail
harus dilakukan guna menentukan apakah kesempatan yang ada telah digunakan.

Terdapat hubungan kekeluargaan ( family relationship ) antara manajemen ( Director )


dengan karyawan perusahaan atau antara klien dengan auditor dapat berpotensi menimbulkan
fraud yang diakibatkan dari adanya kolusi. Salah satu cara untuk mencegah timbulnya fraud yang
diakibatkan kolusi antara manajemen perusahaan dengan akuntan publik adalah pengaturan
rotasi auditor (akuntan publik). Sesuai Keputusan Menkeu (KMK) No. 359/KMK. 06/2003
tentang perubahan KMK No. 423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik tertanggal 21
Agustus 2003, telah diatur tentang pembatasan dan rotasi terhadap akuntan publik. Pasal 6 ayat 4
Kepmenkeu tersebut dinyatakan bahwa pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari
suatu entitas dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) paling lama untuk lima tahun
buku berturut-turut dan oleh seorang akuntan publik paling lama tiga tahun berturut-turut.
DAFTAR PUSTAKA

Hopwood, et al (2012). “Forensic Accounting and Fraud Examination”. Mc Graw Hill :


Singapore

http://heni-wulandari26.blogspot.com/2009/12/tugas-tanggung-jawab-akuntan-publik.html

http://alpinistaelly.blogspot.com/2013/04/mendeteksi-kecurangan-fraud-auditing.html