Anda di halaman 1dari 7

Tugas Analisis Bank Syariah Bukopin

Nama : Maulida Yasmin (10090115092)

Novita Sari Ningrum (10090115105)

1. Profil Bank Syariah Bukopin

PT BANK SYARIAH BUKOPIN (selanjutnya disebut Perseroan) sebagai bank yang


beroperasi dengan prinsip syariah yang bermula masuknya konsorsium PT Bank Bukopin, Tbk
diakuisisinya PT Bank Persyarikatan Indonesia (sebuah bank konvensional) oleh PT Bank
Bukopin, Tbk., proses akuisisi tersebut berlangsung secara bertahap sejak 2005 hingga 2008,
dimana PT Bank Persyarikatan Indonesia yang sebelumnya bernama PT Bank Swansarindo
Internasional didirikan di Samarinda, Kalimantan Timur berdasarkan Akta Nomor 102 tanggal 29
Juli 1990 merupakan bank umum yang memperolah Surat Keputusan Menteri Keuangan nomor
1.659/ KMK.013/1990 tanggal 31 Desember 1990 tentang Pemberian Izin Peleburan Usaha 2
(dua) Bank Pasar dan Peningkatan Status Menjadi Bank Umum dengan nama PT Bank
Swansarindo Internasional yang memperoleh kegiatan operasi berdasarkan surat Bank Indonesia
(BI) nomor 24/1/UPBD/PBD2/Smr tanggal 1 Mei 1991 tentang Pemberian Izin Usaha Bank
Umum dan Pemindahan Kantor Bank.

Pada tahun 2001 sampai akhir 2002 proses akuisisi oleh Organisasi Muhammadiyah dan
sekaligus perubahan nama PT Bank Swansarindo Internasional menjadi PT Bank Persyarikatan
Indonesia yang memperoleh persetujuan dari (BI) nomor 5/4/KEP. DGS/2003 tanggal 24 Januari
2003 yang dituangkan ke dalam akta nomor 109 Tanggal 31 Januari 2003. Dalam
perkembangannya kemudian PT Bank Persyarikatan Indonesia melalui tambahan modal dan
asistensi oleh PT Bank Bukopin, Tbk., maka pada tahun 2008 setelah memperolah izin kegiatan
usaha bank umum yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah melalui Surat Keputusan Gubernur
Bank Indonesia nomor 10/69/KEP.GBI/DpG/2008 tanggal 27 Oktober 2008 tentang Pemberian
Izin Perubahan Kegiatan Usaha Bank Konvensional Menjadi Bank Syariah, dan Perubahan Nama
PT Bank Persyarikatan Indonesia Menjadi PT Bank Syariah Bukopin dimana secara resmi mulai
efektif beroperasi tanggal 9 Desember 2008, kegiatan operasional Perseroan secara resmi dibuka
oleh Bapak M. Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2004 -2009. Sampai
dengan akhir Desember 2014 Perseroan memiliki jaringan kantor yaitu 1 (satu) Kantor Pusat dan
Operasional, 11 (sebelas) Kantor Cabang, 7 (tujuh) Kantor Cabang Pembantu, 4 (empat) Kantor
Kas, 1 (satu) unit mobil kas keliling, dan 76 (tujuh puluh enam) Kantor Layanan Syariah, serta 27
(dua puluh tujuh) mesin ATM BSB dengan jaringan Prima dan ATM Bank Bukopin.

2. Visi, Misi dan Nilai Perusahaan

Visi

 “Menjadi Bank Syariah Pilihan dengan Pelayanan Terbaik”

Misi

 Memberikan pelayanan terbaik pada nasabah


 Membentuk sumber daya insani yang profesional dan amanah
 Memfokuskan pengembangan usaha pada sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil &
Menengah)
 Meningkatkan nilai tambah kepada stakeholder

Nilai-nilai Perusahaan

 Amanah
 Integritas
 Peduli
 Kerjasama
 Kualitas

3. Analisis SWOT Bank Bukopin Syariah

( Kelebihan, Kekurangan, Peluang, Ancaman )

Kelebihan Bank Bukopin Syariah :


1. Daya tawar pemasok tiggi
2. Daya tawar nasabah/pembeli tinggi
3. Pengawasan ketat
4. Teknologi Multi Protocol Label Switch (MPLS) dan kondisi keuangan dan modal yang kuat
5. Tabungan berjangka dengan potensi bagi hasil yang kompetitif
6. Sistem akad yang membuat konsumen merasa nyaman

Kekurangan Bank Bukopin Syariah :


1. SDM masih rendah
2. Pemasaran kurang agresif dan kantor cabang masih kurang
3. Kasus korupsi yang membuat masyarakat menjadi khawatir apabila menyimpan dana mereka di
bank Bukopin Syariah
4. Biaya administrasi yang masih tergolong tinggi
5. Anggapan negatif masyarakat bahwa kata syariah hanya lipstik perbankan syariah

Peluang Bank Bukopin Syariah :


1. Regulasi yang jelas
2. Tumbuhnya teknologi jaringan dan daya beli masyarakat meningkat
3. Masyarakat mulai paham tentang keuntungan akan adanya bank syariah
4. Meningkatnya peminat bank syariah di Indonesia
5. Makin banyak investor bentuk bank syariah

Ancaman Bank Bukopin Syariah :


1. Ancaman pendatang baru yang tinggi
2. Ancaman produk pengganti yang tinggi
3. Tingginya kompetitor dalam mempromosikan produknya
4. Intensitas persaingan
5. SDM masih kurang dan munculnya undang-undang perbankan syariah yang memungkinkan
asing berinvestasi.

4. Strategi yang digunakan oleh Bank Bukopin Syariah :

1) Pengelolaan Produk KPR syariah


Oleh karena masih tergolong barunya jenis pembiayaan ini peniliti juga melakukan kajian
literatur terhadap Produk KPR Syariah tersebut. Penelitian ini merupakan studi kasus pada Bank
Bukopin Syariah dalam mengelola KPR Syariah yakni periode sejak berdirinya tahun 2001 hingga
posisi Desember 2005. Penilitian meliputi juga penilaian terhadap faktor kekuatan, faktor
keiemahan pada Bank Bukopin syariah serta peluang dan ancaman yang dihadapi untuk
pengembangan KPR Syariah di masa yang akan datang.
Untuk menganalisis faktor-faktor tersebut dan untuk menetapkan strategi yang tepat digunakan
analisis SWOT dengan pendekatan Kualita1if Matriks SWOT Kearns dan pendekatan Kuantitatif
Kuadran SWOT Pearce dan Robinson. Hasil penilitian diperoleh pembiayaan KPR Syariah yang
dilakukan olch Bank Bukopin Syariah masih kecil jika dibanding dengan potensi dan peluang
pasar yang ada, dari hash analisis diatas diperoleh kesimpulan strategi yang diusulkan diterapkan
oleh Bank Bukopin Syariah dalam mengelola KPR Syariah adalah Strategi Pertumbuhan Internal
dan Aliansi strategis, sehingga Bank Bukopin Syariah dapat lebih memanfaatkan potensi dan
faktor kekuatan dan peluang yang dimilikinya sehingga perkembangan produk KPR Syariah akan
lebih baik dan dapat memaksimalkan performance usaha.

2) Menaikkan pertumbuhan kredit dan DPK sebesar 30 %


PT Bank Syariah Bukopin (BSB) menargetkan pertumbuhan kredit dan perolehan Dana Pihak
Ketiga (DPK) di 2010 sebesar 30%."Tahun 2010 kita menargetkan kredit dan DPK tumbuh hingga
30%. Saat ini penyaluran kredit sudah mencapai Rp 1,3 triliun dengan DPK sebesar Rp 1,19
triliun." ujar Direktur Utama BSB Riyanto di sela acara perayaan Milad (ulang tahun) ke I BSB di
Gedung Bank Syariah Bukopin, Salemba, Jakarta, Rabu (09/12/2009).
Riyanto mengatakan, pada tahun 2010 fokus utama pemberian kredit BSB tetap di sektor Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),"Kami optimistis kredit tahun depan akan tumbuh karena
didukung permodalan dari bank induk kita yaitu Bank Bukopin yang rencananya di tahun 2010
akanmenambah permodalan BSB," tambahnya.
Permodalan BSB saat ini, lanjut Riyanto, tercatat sebesar Rp 350 miliar. Namun dirinya belum
mengetahui berapa besaran dana yang akan dikucurkan Bank Bukopin untuk ekspansi bisnisnya
di tahun 2010.
Untuk meningkatkan pertumbuhan DPK, BSB akan menggenjot tabungan dan giro. Sedangkan
dana deposito bukan menjadi fokus BSB. "Jenis tabungan di BSB sendiri sudah ada tiga jenis yaitu
Tabungan iB Rencana, Tabungan iB Siaga Bisnis dan Tabungan iB Siaga. Untuk jenis Giro ada
Giro iB dan untuk dana mahal yaitu Deposito iB," jelasnya.

3) Evaluasi secara berkala


PT. Bank Syariah Bukopin merupakan bank ke 5 yang hadir di Indonesia, sampai dengan
tahun 2009 Bank Syariah Bukopin telah membukukan keuntungan sebesar Rp. 2,7 milyar ,total
asset sebesar Rp. 1,9 trilyun, perolehan dana pihak ketiga sebesar Rp. 1,3 trilyun dan penyaluran
pembiayaan sebesar Rp. 1.3 trilyun. Pokok permasalahan yang dihadapi saat ini adalah
bagaimana untuk tahun-tahun mendatang Bank Syariah Bukopin dapat terus tumbuh dengan
baik, kuncinya adalah terus melakukan evaluasi strategi secara berkala? Untuk mengetahui
jawabannya terlebih dahulu akan dianalisis lingkungan eksternal yang terdiri dari analisis five
forces, Driving forces, key succses factor, SWOT dan strategi umum. Selanjutnya lingkungan
internal perusahaan menggunakan analisis aspek keuangan, aspek sumber daya manusia dan
aspek pemasaran. Dari analisis eksternal menunjukkan bahwa bank syariah sangat tergantung
kepada penyusunan strategi oleh karena faktor – faktor yang menjadi pendorong memiliki
pengaruh besar dalam industri sehingga mampu mengubah struktur industri secara keseluruhan
karena membantu kesesuaian strategi perusahaan dengan kondisi yang ada. Dari analisis
internal bank syariah bukopin harus terus mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki demi
tercapainya tujuan perusahaan.
4) Peluncuran Program Tabungan Syariah
Peluang besar kini teronggok di depan mata. Dan, manajemen PT Bank BukopinTbk
mengendusnya dengan tajam. Mereka pun meluncurkan program tabungan bernuansa
syariah. Program baru Bank Bukopin itu bernama Tabungan iB Rencana. Lewat Tabungan
Rencana Bukopin Syariah itu, selain untuk mengembangkan usaha, mereka juga ingin
memberikan manfaat lebih bagi nasabahnya. "Produk baru ini adalah jenis tabungan berjangka
dengan potensi bagi hasil yang kompetitif. Kami berupaya memenuhi kebutuhan nasabah di
masa datang sekaligus memberikan manfaat proteksi asuransi jiwa secara gratis," papar
Direktur Utama Bank Bukopin Glen Glenardi di sela Peluncuran Tabungan iB Rencana di
Jakarta, Selasa (24/6). Produk baru ini diharapkan membantu perseroan mencapai target usaha.
Produk ini untuk memenuhi kebutuhan nasabah dalam merencanakan masa depan dan
memberikan bagi hasil yang menguntungkan. Bukopin mentargetkan pengumpulan dana pihak
ketiga (DPK) hingga Rp 50 miliar tahun ini.Direktur Komersial Bank Bukopin Mikrowa Kirana
mengatakan, tabungan ini menggunakan prinsip mudharabah mutlaqah. Artinya, bank bisa
mengelola dana nasabah untuk investasi dan keuntungannya akan dibagihasilkan sesuai porsi
(nisbah) yang disepakati bersama.
Tabungan ini memiliki sejumlah kelebihan, di antaranya memberi manfaat asuransi gratis
jika nasabah terkena risiko meninggal karena kecelakaan atau non-kecelakaan. Nasabah
dilindungi asuransi hingga Rp 500 juta dengan premi asuransi ditanggung bank."Manfaat
lainnya bagi nasabah terkait kelangsungan pendidikan dan multiguna, ibadah, wisata,
pernikahan, dan pensiun. Setoran tabungannya pun ringan. Minimal Rp 100.000," urai
Mikrowa.Peluncuran produk baru ini juga menjadi bagian dari upaya menggenjot bisnis syariah
Bukopin. Strategi lainnya adalah melakukan office channeling dan menjalankan fungsi
marketing secara optimal serta penambahan cabang-cabang baru di wilayah potensial. "Dalam
hal lending, misalnya, kami akan coba sistem target di masing-masing unit untuk mengejar
pertumbuhan. Kami berharap bisa tumbuh 30% untuk satu tahun ini," papar Mikrowa. Untuk
penambahan cabang, Bukopin syariah siap melebarkan sayapnya di Solo. "Solo punya banyak
lembaga pendidikan, rumah sakit, dan pengusaha lokal. Itu sasaran kami. Selain bagi kalangan
muslim, kami pun membuka diri kepada siapa saja yang tertarik dengan sistem syariah ini,"
ungkap Mikrowa.Bukopin unit syariah sudah masuk di Jawa Timur, Jawa Barat, dan DKI
Jakarta. Rencananya, di Jawa Tengah akan dimulai dari Kota Solo.

5) Sistem Akad
Simpanan yang berprinsip wadi’ah yad dhamanah, yang berarti mustawda (Bank) dapat
memanfaatkan dana dan menyalurkan dana yang disimpan serta menjamin bahwa dana tersebut
dapat ditarik setiap saat oleh muwwadi (Nasabah).

5. Likuiditas Bank Syariah Bukopin

Pengetatan likuiditas ikut menerpa Bank Syariah Bukopin (BSB) pada tahun buku 2014
lalu. Direktur Utama BSB Riyanto mengemukakan hal itu usai Rapat Umum Pemegang Saham
Tahunan (RUPST) sebagaimana siaran pers yang diterima Kompas.com, tekanan likuiditas yang
dialami perbankan lebih kepada mahalnya biaya dana dari ketersediaan likuiditas di pasar.

Laporan kinerja tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2014 itu menunjukkan adanya
pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 22,09 persen ketimbang periode 2013. Pada 2014,
DPK BSB mencapai Rp 3,99 triliun.

Selanjutnya, total aset BSB tumbuh 18,84 persen dari Rp 4,34 triliun pada 2013 menjadi
Rp 5,16 triliun pada 2014. Pembiayaan tahun 2014 meningkat sebesar Rp 429 miliar, atau naik
13,07 persen dari Rp 3,282 triliun pada 2013 menjadi Rp 3,711 triliun pada 2014.

6. Kegagalan Bank Syariah Bukopin dalam Menghimpun Dana Haji

PT Bank Syariah Bukopin (BSB) kelihatannya harus menelan pil pahit setelah Kementerian
Agama menolak bank ini menjadi Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS-
BPIH). BSB sudah 7 tahun menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan haji. Itu artinya,
dana yang berhasil dihimpun perseroan sejak masih berstatus unit usaha PT Bank Bukopin Tbk
terpaksa dilempar ke bank syariah atau bank dengan unit usaha syariah lain. Kementerian Agama me

mberi kriteria modal minimum harus Rp 500 miliar, itu belum terpenuhi oleh Bank Syariah Bukopin
yang hanya memiliki modal sebesar Rp 355 miliar atau kurang Rp 155 miliar dari yang diisyaratkan
Kementerian Agama.