Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN POLIFENOL DAN TANIN


(Ekstrak Psidium guajava)

FARMASI B
KELOMPOK 4
ANGGOTA KELOMPOK:
1. LINDA NOVITA PUTRI (201510410311064)
2. MEGA AYU W (201510410311076)
3. MUTIA RAKHMI (201510410311077)
4. M. RAIHAN AROZAK (201510410311087)
5. LEFI NIAMITA ANINDA (201510410311094)

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2018

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena
berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan laporan praktikum fitokimia ini.
Laporan ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah fitokimia yang berjudul
“Identifikasi senyawa golongan polifenol dan tanin (ekstrak Psidium guajava.)”.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah


membantu sehingga laporan praktikum ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran
yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan informasi bagi mahasiswa/i dan


bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan
bagi kita semua.

Malang, 29 Maret 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................................2
TUJUAN..................................................................................................................3
IDENTIFIKASI TANAMAN...................................................................................3
GOLONGAN SENYAWA.......................................................................................5
CARA MELAKUKAN IDENTIFIKASI...............................................................10
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS..........................................................................11
PROSEDUR KERJA.............................................................................................15
SKEMA KERJA.....................................................................................................16
HASIL PENGAMATAN........................................................................................20
PEMBAHASAN....................................................................................................25
KESIMPULAN......................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................28
DOKUMENTASI...................................................................................................33

3
I. TUJUAN

Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa olongan polifenol dan tanin


dalam tanaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA

a. Klasifikasi Tanaman
Dalam taksonomi tumbuhan, kedudukan tanaman jambu biji
diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
Genus : Psidium
Spesies : Psidium guajava L.

b. Deskripsi Tanaman
Tumbuhan ini berbentuk pohon, Batang jelas terlihat, berkayu
(lignosus), silindris, permukaanya licin dan terlihat lepasnya kerak
(bagian kulit yang mati), batang berwarna coklat muda, percabangan
dikotom. Arah tumbuh cabang condong keatas dan ada pula yang
mendatar. Jambu biji memiliki cabang sirung pendek (virgula atau
virgula sucre scens) yaitu cabang-cabang kecil dengan ruas-ruas yang
pendek.
Daun jambu biji tergolong daun tidak lengkap karena hanya terdiri
dari tangkai (petiolus) dan helaian (lamina) saja disebut daun
bertangkai. Dilihat dari letak bagian terlebarnya jambu biji bagian
terlebar daunya berada ditengah-tengah dan memiliki bangun jorong
karena perbandingan panjang : lebarnya adalah 1½ - 2 : 1 (13-15 : 5,6-
6cm).
Daun jambu biji memiliki tulang daun yang menyirip (penninervis)
yang mana daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari
pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun dari ibu tulang
kesamping, keluar tulang-tulang cabang, sehingga susunannya

4
mengingatkan kita kepada susunan sirip-sirip pada ikan. Jambu biji
memiliki ujung daun yang tumpul. Pangkal daun membulat
(rotundatus), ujung daun tumpul (obtusus). Jambu biji memiliki tepi
daun yang rata (integer), daging daun (intervinium) seperti perkamen
(perkamenteus). Pada umumnya warna daun pada sisi atas tampak
lebih hijau licin jika di bandingkan dengan sisi bawah karena lapisan
atas lebih hijau, jambu biji memiliki permukaan daun yang berkerut
(rogosus). Tangkai daun berbentuk silindris dan tidak menebal pada
bagian pangkalnya.

c. Ciri Morfologi
1. Akar
Perakaran jambu biji tunggang yang bercabang berbentuk kerucup
atau meruncing panjang, tumbuh lurus kedalam tanah, bercabang
banyak, dan berwarna kecoklatan muda hingga tua. Akar tanaman
jambu biji ini bermanfaat untuk menyokong tanaman agar lebih kuat
dan juga membantu menyerap unsur air dan zat makanan didalam
tanah.
2. Batang
Batang tanaman jambu biji keras, memanjang dan juga memiliki
permukaan halus dan licin. Perbatangan tanaman ini berbentuk bulat
dengan diameter mencapai 10-20 cm bahkan lebih, bukan hanya itu
batang tanaman ini kuat dengan panjang mencapai 10-20 meter bahkan
lebih tergantung dengan jenis dan varietesnya. batang tanaman ini juga
memiliki ruas pendek dilengkapi dengan adanya perabangan banyak
yang ada di batang tanaman jambu biji.
3. Daun
Daun tanaman jambu biji ini berbentuk bulat oval dengan warna
kehijauan mudah hingga tua, dengan bagian tepi merata yang
berdiameter 2-3 cm. Daun ini dilengkapi dengan adanya pertulangan
daun berkisar 5-10 dalam satu daun. Daun tanaman ini bermanfaat
untuk melakukan proses fotosintesis yang terjadi diklorofil.
4. Bunga
Bunga jambu biji ini berwarna putih, kemerahan dan juha terdiri
dari dua mahkota yang terdiri dari 4-5 daun berkelopak dengan jumlah
mahkota yang sama. Daun mahkota saling berhadapan dilengkapi

5
dengan tangkai sari dengan warna yang cerah. Bunga jambu ini dapat
berbunga dan menjadi bakal buah dengan penyerbukan yang dibantu
dengan angin maupun dengan hewan atau serangga sekitar.
5. Buah dan biji
Buah jambu biji ini berbentuk bulat memanjang dan sedikit oval
dengan warna hijau hingga kekuningan, buah ini termasuk buah
tunggal dalam satu bunga menghasilkan hanya satu buah saja. Buah ini
berdaging tebal dengan warna putih, dan dilegkapi dengan biji
berwarna putih bersih, dalam satu buah terdapat biji yang sangat
banyak sekitar 50 – 100 biji.
d. Manfaat
Selain dimanfaatkan sebagai buah meja, jambu biji juga
mempunyai beberapa khasiat bagi kesehatan, terutama pada buah dan
daunnya. Daun, rasanya manis, sifatnya netral, berkhasiat astrigen
(pengelat), antidiare, antiradang, penghentian perdarahan (hemostatis),
dan peluruh haid. Buah, berkhasiat antioksidan karena kandungan
betakaroten dan vitamin C yang tinggi sehingga dapat meningkatkan
daya tahan tubuh.
Daun jambu biji dikenal sebagai bahan obat tradisional untuk batuk
dan diare. Jus jambu biji "bangkok" juga dianggap berkasiat untuk
membantu penyembuhan penderita demam berdarah dengue.
Banyak bagian dari tumbuhan yang satu ini sangat berguna bagi
pengobatan berbagai penyakit. Bagian yang paling sering digunakan
adalah daun dan buahnya, terkadang ranting muda dan akarnya juga
bisa dimanfaatkan.
Daun digunakan untuk pengobatan;
 Diare akut dan kronis;
 Perut kembung pada bayi dan anak;
 Kadar kolesterol darah meninggi;
 Haid tidak lancar;
 Sering buang air kecil (anyang anyangan)
 Luka dan luka berdarah dan
 Sariawan
Buah digunakan untuk pengobatan;
 Kencing manis (Diabetes mellitus)',
 Kadar kolesterol darah tinggi (hiperkolesterolemia);
 Sembelit.
e. Kandungan Senyawa

6
Jambu biji kaya akan kandungan kimia, terutama pada daun dan
buah bahkan pada akarnya. Daun mengandung tanin, minyak asiri
(eugenol), minyak lemak, damar, zat samak, triterpenoid, asam malat,
dan asam apfel.
Sementara, buahnya mengandung asam amino (triptofan, lisin),
pektin, kalsium, fosfor, besi, mangan, magnesium, belerang, dan
vitamin (A, BI dan C). Saat menjelang matang, kandungan vitamin C
dapat mencapai 3-6 kali lipat lebih tinggi dari jeruk. Jambu biji, kaya
dengan serat yang larut dalam air, terutama di bagian kulitnya sehingga
dapat mengganggu penyerapan glukosa dan lemak yang berasal dari
makanan dan membuangnya ke luar tubuh.
Selain berbagai kegunaan di atas daun jambu biji diduga memiliki
zat aktif golongan steroid yang mempunyai daya spermicide. Bahan
kimia yang terkandung dalam daun jambu biji diantaranya adalah
Beta-sitosterol, alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, eugenol, minyak
atsiri dan berbagai senyawa lainya (Albana dkk, 1999).

f. Golongan Senyawa
1. Polifenol
Polifenol (polyphenol) adalah kelompok bahan kimia dengan lebih dari
satu unit fenol per molekul.Polifenol ditemukan secara alami pada tumbuhan.
Jenis polifenol yang paling sering ditemukan pada tanaman adalah flavonoid,
asam fenolat, catechin, anthocyanin, isoflavon, quercetin, dan resveratrol.Banyak
studi ilmiah telah dilakukan untuk mengevaluasi efek polifenol pada tubuh
manusia.
Makanan Sumber Polifenol
Buah-buahan dan sayuran bersama dengan teh, khususnya teh hijau adalah
beberapa sumber makanan yang kaya akan polifenol. Selain itu, berbagai macam
buah-buahan seperti stroberi, blueberry, blackberry, cranberry, acai berry,
raspberry, apel, delima, ceri, anggur, pir, dan plum juga memiliki kandungan
polifenol tinggi.Kubis, brokoli, bawang, peterseli dan seledri adalah beberapa
sayuran yang memiliki kandungan polifenol. Selain itu, Anda dapat menemukan

7
sejumlah besar polifenol dalam anggur merah, kopi, teh, cokelat, minyak zaitun,
kacang-kacangan, kenari, almond, hazelnut, pistachio, pecan, dan kacang tanah.
Manfaat Polifenol
Beberapa polifenol penting seperti flavon, flavonoid, resveratrol, dan
isoflavon diketahui memiliki sifat antioksidan. Adanya antioksidan diyakini
memiliki khasiat meningkatkan kemampuan anti-inflamasi dan kekebalan tubuh.
Berikut adalah beberapa manfaat polifenol bagi kesehatan:
1. Sebagian besar polifenol adalah antioksidan sehingga mampu menetralkan
radikal bebas yang memiliki efek merusak terhadap sel-sel dan jaringan
tubuh.
2. Radikal bebas sering dikaitkan sebagai penyebab kerusakan sel yang
berhubungan dengan penuaan. Sebagai antioksidan kuat, polifenol mampu
memperlambat proses penuaan.
3. Polifenol efektif memperkuat sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan
tubuh yang kuat merupakan suatu keharusan untuk menjaga kesehatan dan
mencegah timbulnya penyakit.
4. Polifenol dapat meningkatkan sirkulasi darah dan meningkatkan kesehatan
jantung sehingga menurunkan risiko penyakit jantung dan penyakit
kardiovaskular.
5. Polifenol tertentu seperti resveratrol menunjukkan sifat anti-tumor
sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan kanker.
6. Beberapa polifenol yang ditemukan dalam raspberry dipercaya efektif
memperlambat keropos pada tulang. Keropos tulang adalah faktor utama
yang menyebabkan osteoporosis.
7. Catechin, salah satu jenis polifenol yang ditemukan dalam teh hijau efektif
membantu menurunkan berat badan. Senyawa ini merangsang tubuh untuk
membakar lebih banyak lemak dan kalori.
8. Isoflavon, jenis lain dari polifenol, ditemukan sebagian besar dalam
produk kedelai dan dapat membantu wanita mengatasi gejala-gejala
menopause terutama hot flashes dan keropos tulang.
Efek Samping Penggunaan PolifenoL

Polifenol diklasifikasikan sebagai antioksidan, yang berarti mereka dapat


melindungi tubuh dari efek radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul tidak
stabil dalam tubuh kita yang dapat merusak sel-sel sehat. Molekul-molekul ini

8
menyebabkan kerusakan progresif pada organ-organ seperti mata dan jantung.
Berkurangnya penglihatan, mengurangi efisiensi jantung dan sistem kekebalan
tubuh lemah adalah beberapa masalah kesehatan yang terjadi terutama pada usia
lanjut. Semua masalah kesehatan tersebut adalah hasil dari kerusakan radikal
bebas. Cara mudah untuk secara substansial mengurangi efek merusak dari radikal
bebas adalah mengkonsumsi makanan tinggi polifenol.

Namun, sisi lain adalah zai ini mungkin ada beberapa efek samping, yang
belum terbukti. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh American Society
for Clinical Nutrition, polifenol berpotensi mengganggu penyerapan zat besi, dan
dengan demikian dapat menyebabkan kekurangan zat besi sehingga menyebabkan
anemia tertentu.

Selain itu, suplemen yang memberikan dosis sangat tinggi dari polifenol
mungkin tidak aman untuk dikonsumsi. Dalam hal ini juga, efek samping yang
dihasilkan dari overdosis hanya hipotesis.

Polifenol sudah tersedia dalam berbagai bahan makanan seperti bawang,


buah, apel, kedelai, teh hijau, anggur, dan dalam beberapa suplemen gizi.
Sementara memilih sumber makanan yang kaya polifenol, itu dianjurkan untuk
mengkonsumsi makanan yang tidak manis. Alasannya adalah - properti
antioksidan polifenol seharusnya tidak sebanding dengan kalori yang diinduksi.

Peringatan

Meskipun efek samping yang belum terjadi, konsumsi dalam dosis besar
dalam bentuk suplemen pasti berbahaya. Bahkan, penggunaan suplemen tidak
diperlukan jika polifenol yang berasal dari sumber alami sudah kita konsumsi.
Apa pun terlalu banyak tidak baik bagi kesehaan dan ini tentu berlaku untuk
polifenol. Penelitian telah membuktikan bahwa terlalu banyak dosis melalui
suplemen tidak dapat ditoleransi oleh tubuh. Juga orang-orang yang memiliki
masalah jantung dan ginjal harus menghindari suplemen yang mengandung
polifenol.

2. Tannin

9
Tannin merupakan salah satu contoh senyawa polifenol. Tannin terdapat
luas dalam tumbuhan berpembuluh dan terdapat khsus dalam jaringan kayu pada
angiospermae. Secara kimia terdapat dua jenis tannin, yaitu tannin-terkondensasi
atau flavolan dan tannin terhidrolisiskan.

Struktur proanthocyanidin (golongan tannin)

Tannin-terkondensasi terdapat dalam paku-pakuan, gymnospermae, dan


angiospermae. Sedangkan tannin terhidrolisiskan penyebarannya terbatas pada
tumbuhan berkeping dua (Harborne, 1987). Tannin seringkali dilaporkan sebagai
mikromolekul yang mengganggu bioassay dan seringkali berikatan tidak spesifik
pada berbagai protein termasuk beragai jenis reseptor sehingga menjadi sukar
larut air. Namun, beberapa aktivitas cukup penting juga dilaporkan pada tannin,
yaitu dapat menghambat, menghentikan pedarahan dan mengobatai luka bakar.

Tannin mampu membuat lapisan pelindung luka dan ginjal. Kemampuan


mengikat ion besi dengan menghasilkan warna larutan biru kehitaman atau hijau
kehitaman menjadi dasar analisis kualitatif tannin terhidrolisis atau tannin galat
(Saifudin dkk., 2011). Tannin dapat pula dideteksi dengan sinar UV pendek
berupa bercak lembayung yang bereaksi positif dengan setiap pereaksi fenol baku
(Harborne, 1987).

Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam


angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasannya,
tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kepolumer mantap yang tidak
larut dalam air. Dalam industri, tanin adalah senyawa yang berasal dari
tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit
siap pakai karena kemampuanya menyambung silang protein.

10
Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma,
tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakanya, maka reaksi
penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar
dicapai oleh cairan pencernaan hewan. Pada kenyataanya, sebagian besar
tubuhan yang banyak bertanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan
karena rasanya yang sepat. Kita menganggap salah satu fungsi utama tanin
dalam tumbuhan ialah sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan.

Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin yang tersebar tidak
merata dalam dunia tumbuhan. Tanin –terkondensasi hampir terdapat semesta
di dalam paku-pakuan dan gimnospermae, serta tersebar luas dalam
angiospermae, terutama pada jenis tumbuhan berkayu. Sebaliknya, tanin yang
terhidrolisiskan penyebaranya terbatas pada tumbuhan berkeping dua.
(Harbrone.J.B,1987)

Secara kimia terdapat dua jenis tanin, yaitu: (1) tanin terkondensasi atau
flavolan dan (2) tanin yang terhidrolisis.

1. Tanin terkondensasi atau flavolan

Tersebar luas dalam tumbuhan angiospermae, terutama pada tumbuhan-


tumbuhan berkayu. Nama lainnya adalah proantosianidin karena bila direaksikan
dengan asam panas, beberapa ikatan karbon-karbon penghubung satuan terputus
dan dibebaskanlah monomer antosianidin. Kebanyakan proantosianidin adalah
prosianidin karena bila direaksikan dengan asam akan menghasilkan sianidin.
Proantosianidin dapat dideteksi langsung dengan mencelupkan jaringan
tumbuhan ke dalam HCl 2M mendidih selama setengah jam yang akan
menghasilkan warna merah yang dapat diekstraksi dengan amil atau butil alkohol.
Bila digunakan jaringan kering, hasil tanin agak berkurang karena terjadinya
pelekatan tanin pada tempatnya didalam sel.

2. Tanin yang terhidrolisis

Terbatas pada tumbuhan berkeping dua. Terutama terdiri atas dua kelas,
yang paling sederhana adalah depsida galoiglukosa. Pada senyawa ini glukosa
dikelilingi oleh lima gugus ester galoil atau lebih. Jenis kedua, inti molekul berupa
senyawa dimer asam galat, yaitu asam heksahidroksidifenat yang berikatan
dengan glukosa. Bila dihidrolisis menghasilkan asam angelat. Cara deteksi tanin

11
terhidrolisis adalah dengan mengidentifikasi asam galat/asam elagat dalam ekstrak
eter atau etil asetat yang dipekatkan (Harborne,1987).

IDENTIFIKASI SENYAWA POLIFENOL DAN TANIN

A. Uji Identifikasi Umum

Sebelum dilakukan uji-uji lanjutan terhadap tanin, kita perlu mengatahui


terlebih dahulu karakteristik fisik maupun kimia dari senyawa tanin itu sendiri.
Tanin larut dalam air, alkali encer, alkohol, gliserol, dan aseton, tetapi hanya
sedikit larut dalam pelarut organik. Dalam bentuk larutan tanin mengendapkan
logam berat, alkaloid, glikosida, dan gelatin. Selain itu tanin merupakan senyawa
polifenol, maka dari itu dapat diterapkan beberapa uji indentifikasi fenol untuk
mengetahui adanya senyawa tanin dalam suatu simplisia.

B. Uji Larutan Gelatin

Seperti yang telah dibahas dalam uji indentifikasi tanin sebelumnnya, tanin
dalam bentuk larutan akan mengendapkan gelatin. Oleh karenanya dapat
dilakukan pengujian tanin dalam suatu sampel simplisia dengan memanfaatkan
gelatin. Berikut prosedur pengujiannya; disiapkan sejumlah 1% (w/v) larutan
gelatin dalam dalam air yang mengandung 10% NaCl. Ambil sedikit larutan, lalu
ditambahkan ke dalam filtrat larutan uji. Jika endapan putih diperoleh, maka
larutan uji mengandung tanin.

C. Identifikasi Breamer’s atau Identifikasi fenol dengan FeCl3

Seperti senyawa fenol lainnya tanin akan bereaksi dengan garam Besi (III).
Larutan sampel akan memberikan warna intesif merah, biru, unggu atau hijau,
dari kompleks triaryloksi yang menandakan adanya senyawa fenol dalam sampel
tersebut. Berikut mekanisme reaksinnya:

Uji breamer’s dilakukan dengan mekanisme berikut: sejumlah sampel


dilarutkan dalam aquadest, etanol, atau campurannya keduannya. Jika tidak larut
dalam air dapat dilarutkan dalam kloroform atau diklorometan dengan sejumlah
kecil piridin. Teteskan sejumlah FeCl31% lalu amati perubahan warna yang
terjadi. Pada tanin terhidrolisa seperti Gallotanin dan Ellagitanin memberikan

12
endapan berwarna Biru Kehitaman. Sedangkan pada tanin terkondensasi seperti
Phlobatanin atau Katekol tanin, dengan FeCl3 akan memberikan endapan
berwarna hijau kecoklatan.

D. Uji Goldbeater’s Skin

Goldbeater’s skin diperoleh dari usus bagian luar dari sapi muda. Adanya
noda coklat atau kehitaman pada goldbeater’s skin menujukkan adanya tanin
dalam zat uji. Goldbeater’s skin dilakukan dengan prosedur berikut ini.

Uji Goldbeater’s skin ini memberikan hasil positif untuk senyawa tanin
sebenarnya dan memberikan hasil negatif untuk pseudotanin. Oleh karenanya uji
ini seringkali digunakan untuk mendeferensialkan tanin sebenernya dari
pseudotanin.

E. Uji Warna dan Pengendapan

Indentifikasi dengan pengamatan terhadap warna atau endapan yang


terbentuk pada larutan simplisia uji dengan penambahan reagen ke dalamnnya.

13
Berikut merupakan ringkasan uji sederhana dengan bebebagai reagen yang
dirangkum dalam tabel 1, berikut Uji Vanilin Hidroklorida terhadap tanin.

F. Uji dengan Reagen Bromin (Bromine Water)

Bromin akan bereaksi dengan Fenol, mengisi posisi orto dan para meghasilkan
2,4,6-tribromofenol yang tidak larut dan mengendap. Endapan yang timbul
mengindikasikan bahwa senyawa yang diuji mengandung tanin. Berikut reaksi
substitusi elektrofilik yang terjadi:

Identifikasi dengan reagen bromin ini tidak dapat diterapkkan pada golongan tanin
terhidrolisa seperti gallotanin dan ellagitanin. Pada senyawa gallotanin dan
ellagitanin tidak ada posisi yang tersedia untuk terjadinya substitusi elektrofilik
bromin terhadap gugus fenol, sehingga tidak terbentuk endapan 2,4,6-
tribromofenol.

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan tertentu dengan


menggunakan dua fasa yaitu, fasa dia dan fasa gerak. Pemisahan tergantung dari

14
gerakan relative dari dua fasa ini. Cara – cara kromatografi dapat digolongkan
sesuai dengan sifat – sifat dari fase gerak yang dapat berupa zat padat atau zat
cair,jika fase tetap berupa zat padat maka cara tersebut dikenal sebagai
kromatografi serapan dan jika zat cair maka cara tersebut dikenal sebagai
kromatografi partisi. Kromatografi mencakup berbagai proses berdasarkan
distribusi dari penyusunan cuplikan antara dua fasa. Satu fasa tetap tinggal pada
sistem (fasa diam) dan fasa lainnya dinamakan fasa gerak, memperkolasi melalui
celah – celah fasa diam. Gerakan fasa menyebabkan perbedaan migrasi dari
penyusunan cuplikan. Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua
fasa yaitu fasa satu fasa tetap (stationary) dan fasa gerak (mobile). Pemisahan
tergantung dari gerakan relative dua fasa ini (Sastrohamidjojo,1985).

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adakah suatu teknik yang sederhana yang
banyak digunakan, metode ini menggunakan lempeng kaca atau lembaran plastik
yang ditutupi penyerap atau lapisan tipis dan kering. Untuk menotolkan karutan
cuplikan pada kempeng kaca, pada dasarya menggunakan mikropipet atau pipa
kapiler. Setelah itu, bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan pengulsi di
dalam wadah yang tertutup ( Barseoni, 2005)

Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan


Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar, selain
kromatografi kertas dan elektroforesis. Berbeda dengan kromatografi kolom yang
mana fase diamnya diisikan atau dikemas di dalamnya, pada kromatografi lapis
tipis, fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan
bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat aluminium atau pelat
plastik. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai
bentuk terbuka dari kromatografi kolom (Gholib Gandjar, 2007).
Kromatografi lapis tipis digunakan untuk pemisahan senyawa secara cepat,
dengan menggunakan zat penyerap berupa serbuk halus yang dipaliskan serta rata
pada lempeng kaca. Lempeng yang dilapis, dapat dianggap sebagai “kolom
kromatografi terbuka” dan pemisahan dapat didasarkan pada penyerapan,
pembagian atau gabungannya, tergantung dari jenis zat penyerap dan cara
pembuatan lapisan zat penyerap dan jenis pelarut. Kromatografi lapis tipis dengan

15
penyerap penukar ion dapat digunakan untuk pemisahan senyawa polar. Harga Rf
yang diperoleh pada kromatografi lapis tipis tidak tetap, jika dibandingkan dengan
yang diperoleh pada kromatografi kertas. Oleh karena itu pada lempeng yang
sama di samping kromatogram zat yang di uji perlu dibuat kromatogram zat
pembanding kimia, lebih baik dengan kadar yang berbeda-beda (Dirjen POM,
1979, hal. 782).
I. PELAKSANAAN KLT
1. Fase Diam
Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap berukuran
kecil dengan diameter partikel antara 10-30 µm. Semakin kecil ukuran ratarata
partikel fase diam dan

semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT
dalam hal efisiensi dan resolusinya. Penjerap yang paling sering digunakan adalah
silica dan serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi yang utama pada KLT
adalah adsorpsi dan partisi. Berikut ini adalah beberapa penjerap fase diam yang
digunkanan pada KLT

2. Fase Gerak

16
Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering dengan
mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar. Sistem yang paling
sederhana ialah campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua
pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi
secara optimal. Berikut adalah beberapa petunjuk dalam memilih dan
mengoptimasi fase gerak :

 Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena KLT
merupakan teknik yang sensitif.
 Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf
terletak antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan.
 Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silica gel,
polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solute yang
berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut yang bersifat sedikit
polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non polar seperti metil benzene
akan meningkatkan harga Rf secara signifikan.
 Solut-solut ionik dan solute-solut polar lebih baik digunakan campuran
pelarut sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan methanol dengan
perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam etanoat atau ammonia
masing-masing akan meningkatkan solute-solut yang bersifat basa dan
asam.

3. Aplikasi (Penotolan) Sampel

Untuk memperoleh roprodusibilitas, volume sampel yang ditotolkan


paling sedikit 0,5 µl. Jika volume sampel yang ditotolkan lebih besar dari 2-10 µl,
maka penotolan harus dilakukan secara bertahap dengan dilakukan pengeringan
antar totolan.

4. Pengembangan

Bila sampel telah ditotolkan maka tahap selanjutnya adalah


mengembangkan sampel dalam bejana kromatografi yang sebelumnya telah
dijenuhi dengan uap fase gerak. Tepi bagian bawah lempeng tipis yang telah
ditotoli sampel dicelupkan kedalam fase gerak kurang lebih 0,5-1 cm. Tinggi fase
gerak dalam bejana harus dibawah lempeng yang telah berisi totolan sampel.

17
Bejana kromatografi harus tertutup rapat dan sedapat mungkin volume fase gerak
sedikit mungkin (akan tetapi harus mampu mengelusi lempeng sampai ketinggian
lempeng yang telah ditentukan. Untuk melakukan penjenuhan fase gerak,
biasanya bejana dilapisi dengan kertas saring . Jika fase gerak telah mencapai
ujung dari kertas saring, maka dapat dikatakan bahwa fase gerak telah jenuh.
Created by Rahma G.

5. Deteksi Bercak

Deteksi bercak pada KLt dapat dilakukan secara kimia dan fisika. Cara
kimia yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan bercak dengan suatu
pereaksi melalui cara penyemprotan sehingga bercak menjadi jelas. Cara fisika
yang dapat digunakan untuk menampakkan bercak adalah dengan denagan cara
pencacahan radioaktif dan fluorosensi sinar ultraviolet. Fluorosensi sinar
ultraviolet terutama untuk senyawa yang dapat berfluorosensi, membuat bercak
akan terlihat jelas. Berikut adalah cara-cara kimiawi untuk mendeteksi bercak :

 Menyemprot lempeng KLT dengan reagen kromogenik yang akan bereaksi


secara kimia dengan solute yang mengandung gugus fungsional tertentu
sehingga bercak menjadi berwarna. Kadang-kadang dipanaskan terlebih
dahulu untuk mempercepat reaksi pembentukan warna dan intensitas
warna bercak.
 Mengamati lempeng dibawah lampu ultraviolet yang dipasang panjang
gelombang emisi 254 atau 366 untuk menampakkan solute sebagai bercak
yang gelap atau bercak yang berfluorosensi terang pada dasar yang
berfluorosensi seragam. Lempeng yag diperdagangkan dapat dibeli dalam
bentuk lempeng yang sudah diberi dengan senyawa fliorosen yang tidak
larut yang dimasukkan ke dalam fase diam untuk memberikan dasar
fluorosensi atau dapat pula dengan menyemprot lempeng dengan reagen
fluorosensi setelah dilakukan pengembangan.
 Menyemprot lempeng dengan asam sulfat pekat atau asam nitrat pekat lalu
dipanaskan untuk mengoksidasi solute-solut organic yang akan Nampak
sebagai bercak hitam sampai kecoklat-coklatan.
 Memaparkan lempeng dengan uap iodium dalam chamber tertutup.

18
 Melakukan scanning pada permukaan lempeng dengan densitometer, suatu
instrument yang dapat mengukur intensitas radiasi yang direfleksikan dari
permukaan lempeng ketika disinari dengan lampu UV atau lampu sinar
tampak. Solut-solut yang mampu menyerap sinar akan dicatat sebagai
puncak (peak) dalam pencatatan (recorder)

ELUEN

Eluen adalah pelarut yang dipakai dalam proses migrasi/pergerakan dalam


membawa komponen-komponen zat sampel atau fasa yang bergerak melalui fasa
diam dan membawa komponen-komponen senyawa yang akan dipisahkan.

Fase gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat
bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi. Daya
elusi dan resolusi ini ditentukan oleh polaritas keseluruhan pelarut, polaritas fase
diam, dan sifat komponen-komponen sampel (Johnson, 1991).

Dalam kromatografi cair komposisi pelarut atau fase gerak adalah satu
variabel yang mempengaruhi pemisahan. Terdapat keragaman yang luas dari fase
gerak yang digunakan dalam semua mode KCKT, tetapi ada beberapa sifat-sifat
yang diinginkan yang mana umumnya harus dipenuhi oleh semua fase gerak.

Fase gerak harus:

• Murni; tidak ada pencemar/kontaminan

• Tidak bereaksi dengan pengemas

• Sesuai dengan detektor

• Melarutkan cuplikan

• Mempunyai viskositas rendah

• Mudah rekoveri cuplikan, bila diinginkan

• Tersedia diperdagangan dengan harga yang pantas

19
Umumnya, pelarut-pelarut dibuang setelah digunakan karena prosedur
pemurnian kembali membosankan dan mahal. Dari semua persyaratan di atas, 4
persyaratan pertama adalah yang paling penting. Gelembung udara (degassing)
yang ada harus dihilangkan dari pelarut, karena udara yang terlarut keluar
melewati detektor dapat menghasilkan banyak noise sehingga data tidak dapat
digunakan (Johnson, 1991)

20
PELARUT INDEK Tetrahidrofuran 4,0
POLARITAS
Kloroform 4,1
Pentana 0
Metal isobutyl keton 4,2
1,1,2-Triklorotrifluoroetana 0
Etil asetat 4,4
Siklopentana 0,1
Metal n-propil ketone 4,5
Heptana 0,1
Metal etil ketone 4,7
Heksana 0,1
1,4- dioxana 4,8
Iso oktana 0,1
Aseton 5,1
Petroleum eter 0,1
Methanol 5,1
Sikloheksana 0,2
Piridin 5,3
N-butiklorida 1,0
2-metoksiatenol 5,5
Toluena 2,4
Asetonitrit 5,8
Metal t-butil eter 2,5

o-xylene 2,5

Klorobenzena 2,7

O-diklorobenzena 2,7

Etil eter 2,8

Dikolrometana 3,1

Etilen diklorida 3,5

n-butil alcohol 3,9

Isopropil alcohol 3,9

n-butil asetat 4,0

Isobutyl alkohol 4,0

Metal isoamil keton 4,0

n-propil alkohol 4,0

21
Etil asetat adalahsenyawa organik dengan rumusCH3CH2OC(O)CH3.
Senyawa ini merupakan ester darietanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud
cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Senyawa ini sering disingkat EtOAc,
dengan Et mewakili gugus etil dan OAc mewakili asetat. Etil asetat diproduksi
dalam skala besar sebagai pelarut. Etil asetat adalah pelarut polar menengah yang
volatil (mudah menguap), tidak beracun, dantidakhigroskopis. Etil asetat
merupakan penerima ikatan hidrogen yang lemah, dan bukan suatu donor ikatan
hydrogen karena tidak adanya proton yang bersifat asam (yaitu hidrogen yang
terikat pada atom elektronegatif seperti flor, oksigen, dan nitrogen. Etil asetat
dapat melarutkan air hingga 3%, dan larut dalam air hingga kelarutan 8% pada
suhu kamar. Kelarutannya meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Namun
demikian, senyawa ini tidak stabil dalam air yang mengandung basa atau
asam(Anonim,2013).

Nilai Rf didefinisikan sebagi perbandingan jarak yang ditempuh oleh


senyawa pada permukaan fase diam dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh
pelarut sebagai fase gerak. Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin
besar pula jarak bergeraknya senyawa tersebut pada plat kromatografi lapis tipis.
Saat membandingkan dua sampel yang berbeda di bawah kondisi kromatografi
yang sama, nilai Rf akan besar bila senyawa tersebut kurang polar dan
berinteraksi dengan adsorbent polar dari plat kromatografi lapis tipis ( Handayani,
2008).

Nilai Rf sangat karakterisitik untuk senyawa tertentu pada eluen tertentu.


Hal tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya perbedaan senyawa
dalam sampel. Senyawa yang mempunyai Rf lebih besar berarti mempunyai
kepolaran yang rendah, begitu juga sebaliknya. Hal tersebut dikarenakan fasa
diam bersifat polar. Senyawa yang lebih polar akan tertahan kuat pada fasa diam,
sehingga menghasilkan nilai Rf yang rendah. Rf KLT yang bagus berkisar antara
0,2 - 0,8. Jika Rf terlalu tinggi, yang harus dilakukan adalah mengurangi
kepolaran eluen, dan sebaliknya (Ewing Galen Wood, 1985).

Pada identifikasi noda atau penampakan noda, jika noda sudah bewarna
dapat langsung diperiksa dan ditentukan harga Rf. Rf merupakan nilai dari Jarak
relatif f pada pelarut. Harga Rf dihitung sebagai jarak yang ditempuh oleh
komponen dibagi dengan jarak tempuh oleh eluen (fase gerak).
Faktor yang mempengaruhi gerak dan harga Rf :
 Sifat dari penyerap dan derajat aktivitas.
 Struktur kimia dari senyawa dipisahkan.
 Kerapan dari satu pasang penyerap.
 Pelarut (derajat kemurnian) fase bergerak.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa polaritas sampel dan laju pergerakan
berbanding terbalik. Semakin tinggi polaritas senyawa, semakin ikatannya dengan
fase diam yang berupa plat silica gel yang bersifat polar sehingga mempunyai
nilai Rf yang semakin kecil, dan sebaliknya . Sedangakan jika dilihat dari
pengaruh eluen yang digunakan, semakin tinggi polaritas eluen maka nilai Rf nya
juga semakin tinggi. (Serma and Bernard, 2003).
III. ALAT DAN BAHAN

ALAT

NO. NAMA ALAT JUMLAH


1. Tabung reaksi 5 buah
2. Batang pengaduk 1 buah
3. Cawan porselin 1 buah
4. Pipa kapiler 1 buah
5. Plat KLT 1 buah
6. Bejana KLT 1 buah
7. Kertas Sarimg 1 lembar

BAHAN

NO. NAMA BAHAN JUMLAH


1. Ekstrak Psidium guajava 0.3 gram
2. Nacl 10% 6 ml
3. HCL pekat 1 ml
4. Larutan gelatin secukupnya
5. FeCl3 secukupnya
6. Aquadest panas 10 ml
7. Fase gerak (kloroform: etil asetat:asam 0.5;9; 1 tetes
formiat)
8. Penampak noda (pereaksi Fecl3) secukupnya
IV. PROSEDUR KERJA

A. Preparasi Sampel
0,3 gram ekstrak ditambah 10ml aquadest panas, diaduk dan dibiarkan
sampai temperatur kamar, lalu tambahkan 3-4 tetes 10% NaCl, diaduk dan
disaring.

Filtrat dibagi menjadi tiga bagian maing-masing ±3 ml dan disebut sebagai


IVA, IVB, dan IVC

B. Uji Gelatin
Larutan IV B ditambah sedikit larutan gelatin dan 5 ml larutan NaCl 10%

Endapan putih menunjukkan adanya tannin

C. Uji Ferri Klorida


Larutan IV C ditambah beberapa tetes larutan FeCl3, diamati perubahan
warna yang terjadi

Warna hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin


Jika pada penambahan gelatin dan NaCl tidak timbul endapan putih

Ditambah larutan FeCl3

Warna hijau biru hingga hitam menunjukkan adanya polifenol


Maka :
FeCl3 positif, uji gelatin positif → tanin (+)
FeCl3 positif, uji gelatin negatif → polifenol (+)
FeCl3 negatif → polifenol (-), tannin (-)

D. Kromatografi Lapis Tipis


Sebagai larutan IVC digunakan untuk pemeriksaan dengan KLT.

Uji kromatografi lapis tipis menggunakan :


Fase diam : Kiesel gel GF 254
Fase gerak : CHCL3 : Etil Asetat : Asam Formiat
(0.5 :9,5 :2)
Penampak noda : pereaksi FeCl3
Jika timbul warna hitam menunjukkan adanya polifenol dalam
sampel.
IV. SKEMA KERJA

A. Preparasi Sampel

10 ml aquadest 0,3 g ekstrak Diaduk dan dibiarkan


panas sampai temperatur kamar

+ 3-4 etes 10% NaCl, Bagi menjadi 3


aduk homogen, bagian, ±3ml. Beri
kemudian saring label IVA, IVB, IVC

B. Uji Gelatin

Larutan IVA
digunakan sebagai
blanko

+ →

Larutan IVB Sedikit larutan Endapan putih


gelatin dan 5 ml menunjukkan
larutan NaCl 10% adanya tanin
C. Uji Ferri klorida

+ →

Larutan IV C Beberapa tetes Warna hijau kehitaman


larutan FeCl3 menunjukkan adanya tanin

+ →

Jika pada penambahan Larutan FeCl3 Jika terjadi perubahan


gelatin dan NaCl tidak warna larutan menjadi hijau
timbul endapan putih biru hingga hitam,
menunjukkan adanya
senyawa polifenol
D. Kromatografi Lapis Tipis

Sebagian larutan IVC Fase diam : kiesel gel 254


Totolkan larutan Fase gerak : kloroform-etil-
diambil untuk pada plat KLT asetat-as.formiat (0,5:9:1)
pemeriksaan KLT Penmapak noda : pereaksi FeCl3

Jika timbul warna hitam menunjukkan adanya polifenol dalam sampel


V. HASIL

UJI GELATIN
BLANKO PENAMBAHAN PENAMBAHAN HASIL
LARUTAN LARUTAN
GELATIN GELATIN DAN
NACL 10%

Kuning jernih Kuning keruh Kuning keruh dan Perubahan yang


muncul endapan terjadi
putih dibandingkan
dengan banko
Kesimpulan : pada uji gelatin ini ekstrak sampel daun jambu biji positif
mengandung tanin yang dibuktikan dengan adanya endapan putih.

BLANKO PENAMBAHAN FERRI KLORIDA 1 TETES

Kuning jernih Hijau kehitaman


Kesimpulan: pada uji Ferri Klorida ini ekstrak sampel daun jambu biji positif mengandung
polifenol yang dibuktikan dengan adanya perubahan warna menjadi hijau kehitaman.
UJI FERRI KLORIDA

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS


Setelah sampel ditotolkan pada silica gel, dilakukan pengamatan sebagai berikut:

Sebelum eluasi Setelah eluasi Pemberian


visual Sinar UV Sinar UV Sinar UV penampak noda
254nm 254nm 365nm

Totolan sampel Totolan sampel Nampak 1 noda Nampak 1 noda Nampak 2 noda
berbentuk bulat terlihat hitam hitam yang hitam yang hitam yang
kurang rapi dan bulat kurang memanjang dan memanjang dan memanjang dan
rapi hitam. hitam. hitam.

Kesimpulan: pada kromatografi lapis tipis ini ekstrak sampel daun jambu biji positif
mengandung polifenol yang dibuktikan dengan adanya noda berwarna hitam.

PERHITUNGAN NILAI Rf

Rf= jarak yang ditempuh noda/ jarak yang ditempuh eluen

Noda I

Diketahui : jarak tempuh noda dengan titik penotolan = 3,4 cm


Rf = 3,4/8 = 0.425cm
VI. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk melakukan identifikasi senyawa


golongan polifenol dan tanin dalam ekstrak Psidium guajava. Tanin merupakan
campuran polifenol yang terdapat dalam tumbuhan dalam bentuk glikosida yang
jika trhidrolisis akan menghasilkan glikon dan aglikon. Kegunaan Tanin adalah
sebagai pelindung pada tumbuhan pada saat massa pertumbuhan bagian tertentu
pada tanaman, sebagai anti hama bagi tanaman shingga mencegah serangga dan
fungi, Pada industri farmasi tanin digunakan sebagai anti septik pada jaringan
luka, misalnya luka bakar yaitu dengan cara mengendapkan protein dan masih
banyak lagi. Untuk mendeteksi Polifenol mudah larut dalam air karena berikatan
dengan gula sebagai glikosida dan biasanya terdapat dalam vakuola sel.
Sedangkan polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan paa tumbuhan
yang memiliki tanda khas yaitu memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya.
Fenol sendiri merupakan struktur yang terbentuk dari benzena tersubstitusi
dengan gugus-OH. Gugus OH yang terkandung merupakan aktivator yang kuat
dalam reaksi substitusi aromatik elektrofilik. Oleh sebab itu dilakukan praktikum
ini untuk membuktikan adanya senyawa golongan plifenol dan tanin yang terdapat
dalam ekstrak daun jambu dengan menggunakan 3 metode pengujian yaitu uji
gelatin, uji Ferri klorida dan metode kromatografi lapis tipis.

Dilakukan preparasi sampel dengan cara melarutkan ekstrak dengan


aquades panas yang bertujuan untuk mempercepat kelarutan ekstrak yang
selanjutnya dibiarkan dingin dan kemudian ditambahkan NaCl 10% sebanyak 4
tetes dan disaring. Filtrat dibagi menjadi tiga bagian. Sampel IVA digunakan
sebagai blanko dan diambil sedikit untuk kromatografi lapis tipis, sampel IVB
digunakan untuk uji gelatin dan sampel IVC digunakan untuk uji Ferri Klorida.

Uji gelatin dilakukan dengan mencampurkan sampel dengan larutan


gelatin sebanyak 2 tetes dan juga NaCl 10% sebanyak 5 ml setelah diamati
beberapa saat terjadi endapan putih yang berarti bahwa dalam ekstrak tersebut
positif mengandung senyawa tanin.
Dilanjutkan dengan uji Ferri Klorida yang digunakan untuk menentukan
adanya senyawa polifenol dan tanin dalam ekstrak jambu biji. Sampel IVC mula-
mula diberikan FeCL sebanyak 1 tetes kemudian diamati warnanya dan terbentuk
perubahan warna menjadi hijau kehitaman yang menunjukkan bahwa dalam
ekstrak sampel terdapat senyawa golongan polifenol. Karena pada kedua uji
sampel menunjukkan adanya endapan pada uji gelatin dan perubahan warna
menjadi hijau kehitaman pada uji Ferri Klorida dapat ditarik kesimpulan bahwa
dalam ekstrak sampel daun jambu biji terdapat senyawa golongan polifenol dan
tanin.

Sebagian dari sampel IVC dilakukan pengamatan dengan menggunakan


uji Kromatografi Lapis tipis. Dengan menggunakan fase diam kiesel Gel 254,
sampel ditotolkan sampai sempurna dan dilihat pada sinar UV 254nm. Karena
sampel dilarutkan dalam fase air maka memerlukan waktu yang sedikit lebih lama
untuk kering setelah penotolon, oleh sebab itu dibantu dengan pengeringan
menggunakan hairdryer dan dihasilkan warna noda hitam dan bulat dengan
totolan berbentuk bulat. Jika totolan sudah dirasa cukup, selanjutnya fase diam
dieluasi dalam chamber yang berisi fase gerak methanol : Etil asetat: Asam
formiat 0,5:9,5:2 , ditunggu hingga fase diam tereluasi sempurna. Kemudian
dilihat hasil eluasi dengan sinar UV 254nm dan 365nm dan diperoleh 2 noda
berwarna gelap dan memanjang. selanjutnya diberikan penampak noda yaitu
pereaksi FeCl3 dan akan tampak lebih jelas adanya 2 noda brwarna hitam, namun
noda tersebut tidak berupa titik noda yang utuh melainkan terbentuk noda
berwarna hitam yang membentuk bulatan yang kurang rapi. Hal ini dikarenakan
kesalahan pada saat penotolan sampel, dikarenakan pada saat penotolan dengan
pipa kapiler tidak tepat pada titik yang sama, tetapi noda tersebut berwarna hitam
sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam ekstak daun jambu biji positif
mengandung golongan senyawa polifenol dengan nilai Rf adalah o,425 cm .
VII. KESIMPULAN

1. Pada uji gelatin, terbentuk endapan berwarna putih yang berarti bahwa
sampel dari ekstrak Psidium gajava positif mengandung senyawa
golongan tanin.
2. Pada uji Ferri klorida, terjadi perubahan warna menjadi hijau keitaman
yang berarti bahwa sampel dari ekstrak Psidium gajava positif
mengandung senyawa golongan polifenol.
3. Pada kedua uji sampel menunjukkan adanya endapan pada uji gelatin dan
perubahan warna menjadi hijau kehitaman pada uji Ferri Klorida dapat
ditarik kesimpulan bahwa dalam ekstrak sampel daun jambu biji terdapat
senyawa golongan polifenol dan tanin.
4. Pada KLT terlihat noda berwarna hitam sebanyak 2 noda dengan nilai Rf
adalah 0,425 yang berarti bahwa sampel mengandung senyawa golongan
polifenol.
DAFTAR PUSTAKA

Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. ITB : Bandung

Sastrohamidjojo, Harjoko. 1996. Sintesis Bahan Alam. Gadja Mada University


Press :

Yogyakarta.

Depkes RI,1995. Materia Medika Indonesia, Depkes RI : Jakarta.

Harbrone.J.B.,1987.Metode Fitokimia : Penuntun Cara Moderen Menaganalisis


Tumbuhan,Terbitan Kedua,ITB : Bandung Kim Nio,
Ocy.,1989. Zat-zat toksik yang secara alamiah ada pada
tumbuhan nabati. Cermin Dunia Kedokteran, No.58.

Sindu,Aditya.2015.identifikasiTanin.http://adityasindu13.blogspot.co.id/2015/09/i
dentifikasi-tanin.html. Diakss pada tanggal 25 maret 2018

Pradeep A, Dinesh M, Govindaraj A, Vinothkumar D, dan Ramesh Babu NG,


PHYTOCHEMICAL ANALYSIS OF SOME IMPORTANT
MEDICINAL PLANTS. International Journal of Biological &
Pharmaceutical Research, Vol 5. 2014. p48-50.
DOKUMENTASI

Ekstrak disaring setelah Sampel dibagi menjadi Sampel IV diberi larutan


dilarutkan dengan air tiga bagian. IVA, IVB dan gelatin.
panas. IVC

Sampel IVC berubah Perbandingan blanko


Sampel IVC diberi 1 tetes
warna menjadi hijau dengan sampel yang
ferri klorida
kehitaman sudah diberi perlakuan.

Fase diam dieluasi dalam Hasil penotolan dilihat


Hasil penotolan sampel
chamber pada sinar UV 254nm
Noda dilihat pada sinar UV Noda dilihat pada sinar UV Noda yang terlihat setelah
254nm 365nm diberi penampak noda.