Anda di halaman 1dari 5

Menemukan proyek yang menguntungkan

Tanpa perlu dipertanyakan lagi, merupakan hal yang lebih mudah untuk mengevaluasi
proyek-proyek yang menguntungkan dari pada menemukannya. Pada pasar yang kompetitif,
menghasilkan gagasan untuk proyek-proyek yang menguntungkan amat sangat sulit.
Persaingan itu berlangsung cepat untuk mendapatkan proyek-proyek baru yang
menguntungkan, dan begitu ditemukan para pesaing segera masuk, menurunkan harga dan
keuntungan. Karena alasan inilah, suatu perusahaan harus mempunyai suatu strategi yang
sistematis untuk menghasilkan proyek penganggaran modal. Tanpa adanya proyek-proyek
dan gagasan baru, perusahaan tidak dapat tumbuh atau bahkan bertahan hidup untuk waktu
yang lama, perusahaan terpaksa mendatangkan laba dari proyek yang ada dengan masa
operasional yang terbatas. Jadi, dari mana datangnya ide-ide ini untuk produk yang baru?
Jawabannya berasal dari dalam perusahaan.
Biasanya perusahaan mempunyai suatu departemen Litbang yang mencari cara untuk
memperbaiki produk-produk yang ada atau menemukan produk yang baru. Ide-ide ini bisa
berasal dari departemen tersebut atau berasal dari gagasan para eksekutif, personel penjualan,
siapa saja yang ada di perusahaan, atau bahkan dari konsumen. Sebagai contoh, Ford Motor
Company pada awal 1980-an, mempunyai gagasan untuk perbaikan produk secara khusus
yang telah dihasilkan pada departemen riset dan pengembangan ford. Sayangnya, strategi ini
tidaklah cukup untuk menjaga Ford dari kehilangan pangsa pasarnya yang banyak diambil
alih oleh jepang. Dalam usaha untuk memotong biaya dan perbaikan kualitas produk, Ford
berubah dari ketergantungannya pada departemen Litbang dan mencari masukan ide-ide baru
dari semua tingkatan karyawan. Bonus kini diberikan kepada para pekerja atas usulan mereka
untuk memangkas biaya, dan personel bagian perakitan yang dapat melihat proses produksi
dari sudut pandang baru yang langsung dilibatkan dalam pencarian proyek baru. Bagi Ford
pengaruhnya menjadi positif dan signifikan. Meskipun demikian, tidak semua proyek yang di
usulkan terbukti dapat menguntungkan, tetapi banyak ide-ide baru yang diambil dari dalam
perusahaan menjadi satu hal yang baik.
Ingatlah, bahwa proyek penganggaran modal baru, tidak perlu berarti sampai
mengeluarkan produk baru, mungkin saja mengambil produk yang ada dan menerapkannya
pada pasar yang baru. Inilah yang menjadi acuan bagi McDonalds dalam beberapa tahun
terakhir. Sekarang, McDonalds beroperasi di lebih 118 negara dengan lebih dari 30.000
restoran. Salah satu yang terbesar adalah restoran McDonald di Moscow dengan 700 tempat
duduk. Apakah ini usaha patungan yang mahal? Tentu saja, sesungguhnya, pabrik makanan
yang dibangun McDonald untuk menyediakan burger, roti kismis, gorengan dan produk
lainnya yang dijual disana bernilai lebih dari $60 juta. Selain biaya, ini berbeda dengan
membuka gerai di AS dalam berbagai hal. Pertama, supaya dapat menjaga kualitas dari apa
yang dijual McDonald’s agar sama dengan yang dijual di gerai McDonald’s manapun di
seluruh dunia, McDonald’s menghabiskan waktu 6 tahun untuk menyatukan rantai pasokan
yang akan memberi bahan mentah yang diperlukan dengan tingkat kualitas seperti yang
dituntut McDonald’s. Selain itu, ada berbagai risiko yang terkait dengan ekonomi Rusia dan
mata uangnya yang berada di luar pengalaman di AS. Namun, sejak dibuka terbukti hal ini
sangat sukses. Ini semua menunjukan bahwa tidak semua proyek penganggaran modal harus
berarti produk baru, bisa juga produk yang ada tetapi di pasar yang baru.
Cara lain suatu produk yang ada dapat diterapkan untuk pasar yang baru diilustrasikan
dengan Kimberly-Clark, pabrik popok sekali pakai Huggies. Mereka menggunakan lini
produk yang ada, dengan membuatnya lebih tahan air (Waterproof), dan mulai
memasarkannya sebagai pakaian renang sekali pakai yang disebut Little Swimmers. Sara Lee
Hosiery menaikkan pasarannya dengan memperluas penawarannya untuk menarik konsumen
dan lebih banyak kebutuhan konsumen; misalnya, perusahaan itu memperkenalkan Sheer
Energy Pantyhose untuk pendukung, Just My Size Pantyhose untuk ukuran yang lebih besar,
dan baru saja memperkenalkan Silken Mist pantyhose yang ditujukan untuk para perempuan
Afrika-Amerika yang lebih cocok untuk kulit berwarna gelap

Periode Pengembalian (Period Payback)


Periode pengembalian merupakan banyaknya tahun yang dibutuhkan untuk
mengembalikan pengeluaran kas yang pertama dari proyek penganggaran modal. Kriteria ini
mengukur seberapa cepat proyek itu akan mengembalikan biaya investasi awalnya, ini
berkaitan dengan arus kas bebas, yang mengukur waktu yang sebenarnya dari suatu manfaat,
bukan keuntungan akuntansi. Sayangnya, metode ini juga mengabaikan nilai waktu dan tidak
mendiskonto arus kas bebas ini kembali ke nilai sekarang. Kriteria terima-tolak berpusat pada
apakah periode pengembalian modal lebih kecil atau sama dengan periode pengembalian
maksimum yang dikehendaki perusahaan. Sebagai contoh, jika masa pengembalian
maksimum yang diinginkan perusahaan adalah tiga tahun dan proposal investasi
membutuhkan pengeluaran arus awal sebesar $10.000 dan hasilnya mengikuti serangkaian
arus kas tahunan, berapa masa pengembaliannya? Haruskah proyek tersebut diterima?
ARUS KAS BEBAS SETELAH PAJAK
Tahun 1 $ 2.000
Tahun 2 4.000
Tahun 3 3.000
Tahun 4 3.000
Tahun 5 10.000

Pada kasus ini, setelah tiga tahun perusahaan akan memperoleh sebesar $9.000 dari
investasi awal sebesar $10.000, menyisakan investasi awal $1.000 akan dihasilkan dari
investasi. Selama tahun ke-4, total uang sebanyak $3.000 akan dihasilkan dari investasi ini.
Asumsikan bahwa kas akan mengalir ke perusahaan dengan tingkat yang konstan sepanjang
tahun, ini akan membutuhkan sepertiga tahun ($1.000/$3.000) untuk mendapatkan kembali
sisanya $1.000. Dengan demikian, periode pengembalian untuk proyek ini adalah 3⅓ tahun,
yang melebihi periode pengembalian yang diinginkan. Dengan menggunakan kriteria periode
pengembalian, perusahaan akan menolak proyek ini, tanpa harus mempertimbangkan arus kas
sebesar $10.000 pada arus kas tahun ke-5.
Meskipun periode pengembalian sering digunakan, kriteria ini memiliki beberapa
kelemahan yang nyata, cara terbaik untuk memperlihatkan kelemahan ini adalah dengan
menggunakan surat contoh. Pertimbangkan dua proyek investasi, A dan B, yang melibatkan
pengeluaran kas awal sebesar $10.000 untuk setiap proyek dan arus kas bebas setiap tahun
yang ditunjukan pada tabel 9-1. Kedua proyek ini mempunyai periode pengembalian dua
tahun; oleh karena itu, kriteria periode pengembalian kedua proyek tersebut bisa diterima.
Namun , jika kita mempunyai pilihan, jelas kita akan memilih proyek A dari pada B, karena
sedikitnya ada dua alasan. Pertama, dengan mengabaikan apa yang terjadi setelah periode
pengembalian, proyek A mengembalikan investasi awal kita dengan cepat. Dengan demikian,
karena ada nilai waktu uang, arus kas terjadi dalam masa pengembalian tidak boleh
ditimbang sama, sebagaimana metode ini. Sebagai tambahan seluruh arus kas yang terjadi
setelah periode pengembalian diabaikan. Ini melanggar prinsip bahwa investor menginginkan
keuntungan yang lebih banyak bukannya kerugian, prinsip yang sukar untuk ditentang,
terutama jika kita berbicara tentang uang.
Contoh periode pengembalian
Proyek A B
Pengeluaran kas awal -$10.000 -$10.000
Arus kas bebas tahunan sbb :
Tahun 1 $ 6.000 $ 5.000
Tahun 2 4.000 5.000
Tahun 3 3.000 0
Tahun 4 2.000 0
Tahun 5 1.000 0

Periode pengembalian yang didiskontokan dengan menggunakan tingkat pengembalian yang


diingankan sebesar 17%.
Proyek A

Tahun Arus kas bebas yang 𝑃𝑉𝐼𝐹17%,𝑛 Arus kas bebas yang Kumulatif arus kas
tidak disikontokan didiskontokan bebas yang didiskonto
0 -$ 10.000 1,0 - $ 10.000 - $10.000
1 6.000 0,855 5.130 - 4.870
2 4.000 0,731 2.924 - 1.946
3 3.000 0,624 1.872 - 74
4 2.000 0,534 1.068 994
5 1.000 0,456 456 1.450

Proyek B
Tahun Arus kas bebas yang 𝑃𝑉𝐼𝐹17%,𝑛 Arus kas bebas yang Kumulatif arus kas
tidak disikontokan didiskontokan bebas yang didiskonto
0 - $ 10.000 1,0 - $ 10.000 - $10.000
1 5.000 0,855 4.275 - 5.725
2 5.000 0,731 3.655 - 2.070
3 0 0,624 0 - 2.070
4 0 0,534 0 - 2.070
5 0 0,456 0 - 2.070
Jika Periode Pengembaliandiskonto proyek A kurang dari masa pengembalian diskonto
maksimum yang diinginkan perusahaan, maka proyek A akan diterima. Proyek B pada sisi
lain, tidak mempunyai masa pengembalian diskonto, sebab tidak pernah mengembalikan
secara penuh pengeluaran kas proyek, dan dengan begitu harus ditolak. Masalah utama
dengan periode pengembalian diskonto, menentukan maksimum periode yang didiskontokan
perusahaan.