Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PLANKTONOLOGI

EUGLENOPHYTA

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Planktonologi

Disusun Oleh :
( KELOMPOK 8 - PERIKANAN A )
Nabila Mayangsari (230110170001)
Fikry Ingdrya (230110170026)
Dika Devina (230110170027)
Seldatia Syifani (230110170033)
Andre Wijaya (230110170045)
Hagi Nuansa F (230110170053)

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur semoga tetap tercurah kehadirat Tuhan atas rahmat dan
hidayah yang telah diberikan-Nya kepada penyusun sehingga karya ilmiah ini
dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Sebagai tuntutan akademis untuk
mengajukan tugas mata kuliah Planktonologi, maka penyusun berusaha
membuat karya ilmiah dengan judul “EUGLENOPHYTA”

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun sendiri dan
umumnya bagi pembaca. Penyusun juga berharap, pembaca dapat
menyampaikan kritik dan saran kepada penulis demi kemajuan penulisan
makalah di masa yang akan datang.

Jatinangor, Maret 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

BAB Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................... i
DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 1
1.3 Tujuan Masalah ............................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................... 3
2.1 Pengertian Euglenophyta ................................................................ 3
2.2 Klasifikasi Euglenophyta ............................................................... 3
2.3 Struktur Euglenophyta .................................................................... 5
2.4 Ciri-Ciri Euglenophyta .................................................................... 9
2.5 Cara Perkembangbiakan Euglenophyta.............................................. 9
2.6 Habitat Euglenophyta......................................................................... 10
2.7 Peranan Euglenophyta..................................................................... 11
BAB III PENUTUP .................................................................................. 12
3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 12
3.2 Saran ............................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Planktonologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan dan
sistematika plankton. Dalam dunia perikanan yang disebut plankton adalah jasad
renik yang melayang dalam air tidak bergerak atau bergerak sedikit dan selalu
mengikuti arus. Terdapat dua jenis plankton, yaitu zooplankton dan fitoplankton.
Euglenophyta selnya berflagela dan merupakan sel tunggal yang
berklorofil, tetapi dapat mengalami kehilangan klorofil dan kemampuan untuk
berfotosintesa. Semua spesies Euglenophyta yang mampu hidup pada nutrien
komplek tanpa adanya cahaya, beberapa ilmuan memasukkannya ke dalam filum
protozoa.
Secara umum Euglenophyta mempunyai cara hidup yang lengkap, yaitu
dapat bersifat saprofit, holozoik, dan fototrofik. Oleh karena itu, Euglenophyta
dapat hidup secara heterotrof dan autotrof. Tetapi lebih sering dilakukan adalah
secara heterotrof, autotrof dilakukan apabila linkungan kurang terdapat bahan
organik. Oleh karena itu, Euglenophyta sering disebut bersifat miksotrof.

1.2 Rumusan Masalah


1 Apa pengertian Euglenophyta?
2 Bagaiman klasifikasi Euglenophyta?
3 Bagaimana ciri-ciri Euglenophyta?
4 Bagaimana struktur sel yang dimiliki oleh Euglenophyta?
5 Bagaimana cara perkembangbiakan Euglenophyta?
6 Bagaimana sebaran dan habitat Euglenophyta?
7 Apa peranan Euglenophyta?

3.1 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian Euglenophyta

1
2. Untuk mengetahui klasifikasi Euglenophyta
3. Untuk mengetahui ciri-ciri dari Euglenophyta
4. Untuk mengetahui struktur sel yang dimiliki oleh Euglenophyta
5. Untuk mengetahui cara perkembangbiakan yang dilakukan oleh
Euglenophyta
6. Untuk mengetahui habitat Euglenophyta
7. Untuk mengetahui peranan Euglenophyta

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Euglenophyta


Euglenophyta merupakan mikoorganisme bersel satu yang mirip hewan (
Holozoik ) karena tidak memiliki dinding sel dan memiliki alat gerak berupa
flagel. Mirip tumbuhan ( Holofitik ) karena mempunya klorofil dan mampu
berfotosintesis. Euglenophyta atau Euglenoid berasal dari bahasa Yunani,
yaitu eu yang artinya sejati dan gleen yang artinya mata. Dinamakan
Euglenophyta karena organisme yang termasuk dalam kelompok ini memiliki
bintik mata yang dapat menangkap cahaya.

2.2 Klasifikasi Cyanophyta


Terdapat tiga ordo dari Euglenophyta yatu ordo Eutreptiales, ordo Euglenales,
dan ordo Heterohematales.

1 Ordo Eutreptiales

Eutreptiales berbeda dari Euglenales, memiliki dua flagel yang penting


dengan panjang yang sama dan termasuk dalam Euglenoid yang sangat aktif
berpindah. Eutreptia merupakan angguta tunggal dari ordo ini merupakan
anggota dari famili Eutreptiaceae, Eutreptia sering ditemui di lautan dan air
payau.

Eutreptia sp

3
2 Ordo Euglenales

Dari kedua flagel di anterior sel merupakan anggota dari Euglenales.


Hanya satu yang muncul dari tempat penyimpanan dan dari lubang (Fig. 5.2).
marga dari Euglenales memiliki satu famili Euglenaceae.

Euglena Ehrenbeg genus dari Euglena ( Gr. Eu, baik + Gr. Glene,
bolamata) (Fig. 5.2-5.4) sangat familiar dan salah satu yang besar mendekati
152 takson. Mastigonemes adalah contoh euglena dari E. gracilis (Bouck at
al,.1978).

Pebelahan sel didahului oleh mitosis dari tipe Euglenoid. Sitokenesis


membujur, dimuali dari ujung anterior. Boasson dan Gibbs (1973)
melaporkajn hal yang sinkron pembelahan dari cloroplas di sitokenesis di
dalalma Euglena.

Euglena grasilis

3 Ordo Heterohematales

Anggota dari Heterohematales berwarna dan phagotropic. Mereka memilki


bintik mata yang berkurang dan flagel. Meskipun mereka memilki
karasteristik dari euglena lainnya mereka dibagi tersendiri dari genus

4
Clorophylouse di dalam nutrisis dan mempunyai oragenl special untuk
menelan partikel dan oragansisme lainnya .

Peranema Dujardin sel berwarna dari Peranema (Gr.pera, luar + Gr.


Nema, benang) (Fig, 5,12) merupakan Euglena seperti masuk didalamnya dan
mempunyai paramylon yang melimpah. Peranema trichophorum (Ehrenb)
Steinadalah memepunyai dua flagel seperti Eutreptia.

Gomphonema truncatum

2.3 Struktur Euglenophyta

Euglenophyta merupakan mikroalgae bersel satu, mempunyai bintik mata


tang berada di dekat mulut sel yang berfungsi untuk membedakan antara
gelap dan terang

5
1. Dinding Sel
Dinding sel bukan terdiri dari selulosa melainkan suatu membran tipis
tersusun atas lapisan – lapisan protein berbentuk spiral, yang disebut
“pellicle” yang dapat mengikuti gerakan sel euglenoid yang sewaktu-waktu
dapat berubah bentuk.
2. Kloroplas
Kloroplas pada Euglenophyta tersusun dari klorofil a dan b, Beta karoten
dan beberapa xanthofil yaitu astaxanthin (pigmen merah yang menyerupai
bintik mata)
3. Vakuola Kontraktil
Vakuola kontraktil berupa suatu kantung, dan dua flagella muncul dari
dinding tersebut. Sebuah pigmen berupa suatu bintik atau berupa stigma dan
bertempat di area dasar flagella yang panjang yang berfungsi untuk
fotoreseptif. Pada Peranema yang tidak berwarna, kedua flagella panjang
yang muncul dari suatu alur berupa jalan kecil ke arah belakang. Tubuh
tertutup oleh pelicle dan bersifat fleksibel dan punggung yang longitudinal
akan tampak dengan mikroskop elektron. Vakuola kontraktil yanng terdapat
pada alga yanng berflagel fungsinya sebagai osmoregulator.
4. Badan Golgi
Badan golgi terletak diantara inti dan vakoula kontraktil. Strukturnya
terdiri dari tumpukan vesikel berbentuk cakram atau kantung..

6
a. Dinding sel
Dinding sel tersusun atas 2 lapisan, lapisan dalam yang tersusun atas
selulosa dan lapisan luar tersusun atas pektin tetapi beberapa bangsa
Volvocales dindingnya tidak mengandung selulosa, melainkan tersusun oleh
glikoprotein. Banyak jenis chlorophyceae mempunyai tipe ornamentasi dinding
yang berguna dalam klasifikasi.
b. Kloroplas
Kloroplas terbungkus oleh sistem membran rangkap. Pigmen yang terdapat
dalam kloroplas yaitu klorofil a dan klorofil b, beda karoten serta berbagai
macam xantifil (lutein, violaxanthin, zeaxanthin) kloroplas dalam sel letaknya
mengikuti bentuk dinding sel ( parietal,ex: ulotrix atau ditengah lumen sel (
axial,ex:muogotia). Pada umumnya satu kloroplas setiap sel tetapi pada
siponoles zygnemales terdapat lebih dari satu kloroplas setiap sel. Bentuk
kloroplas sangat bervariasi. Variasi bentuk kloroplas adalah sebagai berikut:
1. Bentuk mangkuk, contoh : Chlamydomonas
2. Bentuk sabuk (girdle), contoh : Ulothrix
3. Bentuk cakram, contoh : Chara
4. Bentuk anyaman, contoh: Oedogonium
5. Bentuk spiral, contoh : Spirogyra
6. Bentuk bintang, contoh : Zygnema
Amilum dari chlorophceae seperti pada tumbuhan tingkat tinggi, tersusun
sebagai rantai glukosa tak bercabang yaitu amilose dan rantai yang bercabang
amilopektin. Sering kali amilum tersebut terbentuk dalam granula bersama
dengan badan protein dalam plastida disebut pirenoid. Tetapi beberapa jenis
tidak mempunyai pirenoid merupakan golongan chlorophyceae yang tinggi
tingkatan nya. Jumlah pirenoid umumnya dalam tiap sel tertentu dapat
digunakan sebagai bukti taksonomi.
c. Inti
Chlorophyceae mempunyai inti seperti pada tumbuhan tingkat tinggi yaitu
diselubungi oleh membran inti dan terdapat nukleus serta kromstin. Inti

7
umumya tunggal, tetapi jenis anggota yang tergolong dalam bangsa shiponales
memiliki inti lebih dari satu.
d. Cadangan makanan
Cadangan makanan pada chlorophyta seperti pada tumbuhan tingkat tinggi
yaitu berupa amilum, tersusun oleh amilosa (rantai glukosa tidak bercabang)
dan amilopektin (rantai glukosa yang bercabang). Sering sekali amilum
ditemukan dalam granula bersama dengan protein dalam plastida disebut
pirenoid. Tetapi beberapa jenis tidak memiliki pirenoid yaitu pada golongan
chlorophyceae yang telah tinggi tingkatannya, tirenoid dapat digunakan
sebagai bukti taksonomi.
e. Fototaksis dan bentuk mata
Pada chlorophyta terdapat dua tipe pergerakan fototaksis, yaitu
1. Pergerakan dengan flagella
Pada umunya sel alga hijau baik sel vegetatif maupun sel generatif
ditemukan adanya alat gerak. Flagella pada kelas chlorophyceae selalu
bertipe whiplash (akronomatik) dan sama panjang (isokon) kecuali pada
bangsa oedogoniales memiliki tipe stefanokon. Flagella dihubungkan
dengan struktur yang sangat halus disebut aparatus neuromotor, merupakan
granula pada pangkal dari tiap flagella disebut blepharoplas. Tiap flagella
terdiri dari axonema yang tersusun oleh 9 dupklet mikrotubula mengelilingi
bagian tengah terdapat dua singlet mikrotubula. Flagella tersebut dikelilingi
oleh selubung plasma.
2. Pergerakan dengan sekresi lender
Dalam monografi tentang desmid, ditunjukkan terjadi pergerakan pada
desmid di permukaan lumpur dalam laboratorium. Pergerakan tersebut
disebabkan oleh adanya stimulus cahaya yang diduga oleh adanya sekresi
lendir melalui porus dinding sel pada bagian apikal dari sel. Selama
pergerakan kedepan bagian kutub berayun dari satu sisi ke sisi lain sehingga
lendir bagian belakang seperti berkelok-kelok.

8
f. Flagella
Pada umumnya sel alga hijau baik sel vegetatif maupun sel generatif
dijumpai adanya alatgerak. Flagella pada kelas chorophyceae selalu bertipe
whiplash (akronomatik) dan sama panjang (isokon), kecuali pada bangsa
Oedogoniales memiliki type stefanokon. Flagella dihubungkan dengan struktur
sel yang sangat halus disebut aparatus neuromotor, merupakan granula pada
pangkal dari tiap flagella disebut blephoroplas. Granula tersebut masing-
masing dihubungkan oleh benang yang letaknya melintang disebut
paradesmosa. Risoplas merupakan benang tegak dan lurus menghubungkan
salah satu dari granula (blepharoplas) dengan struktur intranuklear dari inti
disebut sentrosom.

2.4 Ciri-Ciri Euglenophyta


 Bersel Tunggal
 Sel Eukariotik
 memiliki tipe klorofil a, b, dan karoten
 memiliki satu flagella yang panjang
 tidak memiliki dinding sel, namun mereka memiliki lapisan luar yang keras
yang tersusun dari protein yaitu pellicle, yang memiliki fungsi yang sama
seperti dinding sel
 mempunyai bintik mata yang terletak di dekat mulut yang berfungsi untuk
membedakan antara gelap dan terang

2.5 Cara Perkembangbiakan Euglenophyta


a). Aseksual
Euglena berkembang biak dengn membelah diri yaitu pembelahan biner.
Mula-mula intinya membelah, kemudian diikiuti pembelahan plasmanya
secara memanjang. Kemudian terbentuklah dua sel anak. Setiap sel anak
memiliki membran sel, sitoplasma, dan inti. Padas el yang bergerak aktif,
pembelahan sel memenjang dimulai dari ujung anterior. Pada genera yang

9
mempunyai satu flagella, mula-mula blepharoplast membelah menjadi dua,
satu membawa flagellanya dan satu lagi menghasilkan flegella yang baru.
Pada yang mempunyai dua flagella dapat terjadi salah satu sel anakan yang
membawa dua flagella lamanya dan sel anakan yang lain akan menghasilkan
dua flagella baru atau dapat terjadi masing-masing sel anakan memabawa satu
flagel dan kemudian masing-masing menghasilkan satu flagel lagi.
Pembelahan sel pada yang tidak bergerak aktif dapat beralangsung dalam
keadaan dibungkus oleh selaput lendir. Kadang-kadang protoplast tidak keluar
dari selaput pembungkusnya sebelum membelah lagi. Dalam kasus seperti ini
akan terbentuk koloni yang tidak permanen, yang pada waktu tertentu selnya
akan bergerak aktif kembali.
b). Seksual
Adanya kunjugasi/ penggabungan sel vegetatif pada euglenoid yang pernah
dijumpai. Kemudian ada juga yang autogamy (penggabungan dua inti anakan
dalam sel) yang pernah dijumpai pada phacus. Pada umumnya euglena sp.
membelah diri sera memanjang (longitudinal) selama hidup sebagai plankton
yang dapat membelah diri waktu berada dalam kista.

2.6 Habitat Euglenophyta


Habitat Euglenophyta biasanya berada di perairan tawar dan laut,
Euglenophyta memiliki habitat di air tawar, misalnya air kolam, sawah,danau,
dan banyak ditemukan di parit-parit peternakan yang banyak
mengandungkotoran hewan. Euglenophyta dapat tumbuh dengan baik dengan
bantuan sinar matahari, air, karbondioksida dan pupuk. Euglenophyta dapat
bertahan dan tetap tumbuh pada konsentrasi karbondioksida yang tinnggi,
bahkan dalam konsentrasi 1000 kali dari udara normal.

2.7 Peranan Euglenophyta


a. Kegunaan

10
 Bidang perikanan, ganggang merupakan fitoplankton yang berfungsi
sebagai makanan ikan.
 Ekonomi perairan dalam ekosistem perairan, ganggang merupakan
produsen primer, yaitu sebagai penyedia bahan organik dan oksigen bagi
bagi hewan-hewan air, seperti ikan, udang, dan serangga air.
 Dalam dunia sains, Euglena sering dijadikan sebagai objek, karena
ganggang ini mudah didapat dan dibiakkan dan sebagai sebagai
pencernaan organik.
b. Kerugian
 Penimbun endapan tanah pada kolom atau laut
 Mencemari sumber air

11
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Euglenophyta atau Euglenoid berasal dari bahasa Yunani, yaitu eu yang
artinya sejati dan gleen yang artinya mata. Dinamakan Euglenophyta karena
organisme yang termasuk dalam kelompok ini memiliki bintik mata yang
dapat menangkap cahaya. Euglenophyta merupakan mikoorganisme bersel
satu yang mirip hewan ( Holozoik ) karena tidak memiliki dinding sel dan
memiliki alat gerak berupa flagel. Mirip tumbuhan ( Holofitik ) karena
mempunya klorofil dan mampu berfotosintesis. Terdapat tiga ordo dari
Euglenophyta yatu ordo Eutreptiales, ordo Euglenales, dan ordo
Heterohematales. Euglenophyta dapat tumbuh dengan baik dengan bantuan
sinar matahari, air, karbondioksida dan pupuk. Euglenophyta dapat bertahan
dan tetap tumbuh pada konsentrasi karbondioksida yang tinnggi, bahkan
dalam konsentrasi 1000 kali dari udara normal.

3.2 Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, hal ini disebabkan
karena keterbatasan pengetahuan, kemampuan serta pengalaman yang
penulis miliki. Untuk itu penulis menunggu saran atau koreksi dari semua
pihak, untuk perbaikan di masa yang akan datang.

12
DAFTAR PUSTAKA

Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas


Diponegoro. Semarang.

Luthfi, M. H. (2011). Euglenophyta-Ppt. Retrieved Februari 24, 2018, from


https://www.scribd.com/doc/94190930/Euglenophyta-Ppt:
https://www.scribd.com

SupevisorMIPA. (2014). www.biologijk.com/2017/11/pengertian-ciri-reproduksi-


klasifikasi-struktur-tubuh-contoh-dan-peranan-euglenophyta.html

Kasrina, Sri Irawati dan Wahyu E Jayanti.2012. Ragam Jenis Mikroalga di Air
Rawa Kelurahan Bentiring Permai Kota Bengkulu sebagai Alternatif
Sumber Belajar Biologi SMA. Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan
Pendidikan MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Bengkulu. Jurnal Exacta, Vol. X No. 1.

http://eprints.polsri.ac.id/4116/3/03.BAB%20II%20TIINJAUAN%20PUSTAKA.
pdf.(diakses pada tanggal 31 Maret 2018, pukul : 11.28)

Estiati B, Hidayat. 1995.Taksonomi tumbuhan (Cryptogamae). Bandung: ITB


Bandung

Hala,Yusminah. Daras Biologi Umum II. Makassar: Alauddin Press. 2007.

13