Anda di halaman 1dari 5

Nama : Seldatia Syifani A.

NPM : 230110170033
Kelas – shift : Perikanan A – shift 2

STRATIFIKASI SUHU DAN SALINITAS DI SUATU PERAIRAN

Suhu adalah suatu ukuran dingin atau panasnya keadaan atau sesuatu
lainnya. Satuan ukur dari temperatur yang banyak digunakan di Indonesia adalah
o
C (derajat celcius). Sementara satuan ukur yang banyak digunakan di luar negeri
adalah derajat Fahrenheit. (Ir. Sarsinta. 2008). Suhu air sangat berpengaruh
terhadap proses kimia, fisika dan biologi di dalam perairan, sehingga dengan
perubahan suhu pada suatu perairan akan mengakibatkan berubahnya semua proses
di dalam perairan.
Sedangkan salinitas adalah konsentrasi rata-rata zat garam yang terkandung
dalam air. (Hutabarat. 2006). Salinitas dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
pasang surut, penguapan, curah hujan, topografi perairan, serta presipitasi. Kita
dapat mengukur salinitas dengan menggunakan salinometer atau refraktometer.
Alat ini bekerja berdasarkan prinsip pembiasan cahaya dimana salinitas air
diketahui dari indeks bias cahaya dari sampel yang diukur. Sementara itu
salinometer lebih sering digunakan di dalam laboratorium, alat ini memiliki tingkat
ketelitian yang tinggi dan bekerja dengan cara mengukur kepadatan air dari sampel
yang diukur. Hubungan antara Suhu dan Salinitas adalah semakin rendah suhu dan
juga semakan dalam kedalaman maka salinitas akan semakin meningkat seiring
peningkatan kedalaman air dan penurunan suhu.
Suhu permukaan laut tergantung pada beberapa faktor seperti presipitasi,
evaporasi, kecepatan angin, intensitas cahaya matahari, dan faktor-faktor fisika
yang terjadi didalam kolom perairan. Presipitasi terjadi di laut melalui curah hujan
yang dapat menurunkan suhu permukaan air laut, sedangkan evaporasi dapat
meningkatkan suhu permukaan akibat adanya aliran bahang dari udara ke lapisan
permukaan perairan. Menurut McPhaden dan Hayes (1991) dalam Tubalawony
(2008), evaporasi dapat meningkatkan suhu kira-kira sebesar 0,1 ⁰C pada lapisan
permukaan hingga kedalaman 10 meter dan hanya kira-kira 0,12 ⁰C pada kedalaman
1075 meter. Raharjo dan Sanusi (1983) dalam Idris (2009) menyatakan bahwa suhu
air laut terutama pada lapisan permukaan ditentukan oleh pemanasan matahari yang
intensitasnya berubah-ubah setiap waktu.
Nama : Seldatia Syifani A.
NPM : 230110170033
Kelas – shift : Perikanan A – shift 2

Sebaran suhu air laut di suatu perairan dipengaruhi oleh banyak faktor
antara lain radiasi sinar matahari, letak geografis perairan, sirkulasi arus, kedalaman
laut, angin dan musim Sidjabat dalam Nurhayati (2006). Suhu air permukaan di
perairan Nusantara kita umumnya berkisar antara 28-31⁰C (Nontji, 2007).
Kisaran nilai suhu pada saat pasang yaitu 30⁰C s/d 32⁰C, Dimana rata-rata
nilai suhu pada saat pasang 31,5⁰C. Pada saat surut nilai suhu berkisar antara 30,5⁰C
s/d 31,7⁰C, pada saat surut nilai rata-rata suhu yaitu 31,2⁰C.
Pola sebaran suhu pada waktu surut (Neap Tide) di daerah muara suhunya
lebih rendah dari pada di daerah hulu, hal ini disebabkan oleh topografi perairan
dimana pada saat surut perairan dangkal sehingga sinar matahari dapat menembus
dasar perairan. Menurut Officer dalam Furqon (2007), distribusi suhu di perairan
estuari terutama dipengaruhi oleh penyinaran matahari.

Disini terdapat data persebaran suhu di Teluk Riau yang diambil dari Jurnal
Jumiarti 2014.
Pengukuran suhu yang dilakukan di Perairan Teluk Riau pada waktu
Purnama (Spring Tide) ketika pasang berkisar antara 27,4⁰C s/d 30,2⁰C. Dimana
rata-rata nilai suhu pada saat pasang yaitu 28,8⁰C. Sedangkan nilai suhu pada saat
Nama : Seldatia Syifani A.
NPM : 230110170033
Kelas – shift : Perikanan A – shift 2

surut berkisar antara 28,6⁰C s/d 30,4⁰C, dan rata-rata nilai suhu pada saat surut yaitu
29,5⁰C. Tingginya nilai suhu pada saat surut terjadi karena waktu pengukuran suhu
dilakukan pada subuh hari hingga pagi hari dimana pada waktu ini air laut
menerima panas lebih tinggi dari pada saat pasang. Pola sebaran suhu di Perairan
Teluk Riau pada waktu surut di daerah muara suhu relatif lebih rendah hal ini
disebabkan karena massa air laut yang bersuhu tinggi telah di bawah oleh aktivitas
alam yaitu pasang surut. Sedangkan tingginya nilai suhu pada daerah hulu
disebabkan oleh dangkalnya perairan ini pada waktu surut, sehingga sinar matahari
dapat menembus perairan.
Salinitas permukaan air laut sangat erat kaitannya dengan proses
penguapan dimana garam-garam akan mengendap atau terkonsentrasi. Daerah-
daerah yang mengalami penguapan yang cukup tinggi akan mengakibatkan salinitas
tinggi. Berbeda dengan keadaan suhu yang relatif kecil variasinya, salinitas air
laut dapat berbeda secara geografis akibat pengaruh hujan lokal, banyaknya air
sungai yang masuk kelaut (Presetiahadi, 1994). Penguapan dan edaran massa air
(dalam King, 1963).
Disini terdapat data persebaran salinitas di Teluk Riau yang diambil dari
Jurnal Jumiarti 2014. Menurut Nontji (2007) sebaran salinitas dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan (evaporasi), curah hujan
(Presipitasi), dan aliran sungai (Run off) yang ada disekitarnya.
 Waktu Pasang Surut Purnama (Spring Tide)
Kisaran nilai salinitas pada saat pasang berkisar antara 32,7‰ s/d 36‰. Dimana
rata-rata nilai salinitas pada saat pasang yaitu 34,4‰. Sedangkan pada saat surut
nilai salinitas berkisar antara 32,2‰ s/d 37,6‰ dengan rata-rata nilai salinitas pada
saat surut 34,2‰. Rendahnya nilai salinitas pada daerah ini diduga disebabkan oleh
aktivitas masyarakat seperti Galangan kapal, buangan air limbah dari pasar,
aktivitas kapal-kapal yang membuang air tawar ke dalam laut, dan aliran air dari
sungai-sungai kecil yang berada pada perairan ini. Menurut Nybakken (1992)
Kisaran salinitas air laut adalah 30-35‰, estuari 5-35‰ dan air tawar 0,5-5‰ dan
nilai pada saat pasang lebih besar.
Nama : Seldatia Syifani A.
NPM : 230110170033
Kelas – shift : Perikanan A – shift 2

Peningkatan salinitas di pengaruhi oleh suhu, intensitas cahaya yang masuk,


kedalaman. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi suhu dan
salinitas di perairan adalah penyerapan panas (heat flux), curah hujan
(presipitation), aliran sungai (flux), pola sirkulasi arus. Sehingga Hubungan antara
Suhu dan Salinitas adalah semakin tinggi kedalaman maka suhu akan semakin
menurun dan salinitas akan semakin meningkat seiring peningkatan kedalaman
perairan.
Nama : Seldatia Syifani A.
NPM : 230110170033
Kelas – shift : Perikanan A – shift 2

DAFTAR PUSTAKA

Ir. Sarsinta. 2008. Tersedia di www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-


temperatur/ ( diakses pada Tanggal 16 Maret 2018 pukul 16:55 WIB )

Hutabarat. 2006. Tersedia di http://www.definisimenurutparaahli.com/pengertian-


salinitas/. ( diakses pada Tanggal 16 Maret 2018 pukul 18:15 WIB)

Jumiarti, Pratomo Arief, Apdillah Doni. 2014. POLA SEBARAN SALINITAS


DAN SUHU DI PERAIRAN TELUK RIAU KOTA TANJUNGPINANG
PROVINSI KEPULAUAN RIAU. Kepulauan Riau : FIKP UMRAH.

Gusrina. 2008. Budidaya Ikan, Buku SMK. Jakarta : Direktorat Pembinaan


Sekolah Menegah Kejuruan.