Anda di halaman 1dari 10

I.

Tujuan
 Dapat menjelaskan prinsip titrasi campuran karbonat-Bicarbonat.
 Dapat menghitung konsentrasi masing-masing didalam campuran.

II. Perincian Kerja


 Menitrasi sejumlah campuran dengan menggunakan indikator yang
berbeda-beda.

III. Alat-alat yang Digunakan


 Erlenmeyer 250 ml 4 buah  Pipet seukuran 25 ml 1 buah
 Buret 50 ml 2 buah  Bola isap 1 buah
 Pengaduk 1 buah  labu semprot 1 buah
 Spatula 1 buah  Selang 1 buah
 Pipet ukur 1 ml 1 buah  Klem buret 1 buah
 Pipet ukur 25 ml 1 buah  Gelas ukur 100 ml 1 buah
 Pipet seukuran 10 ml 1 buah

IV. Bahan kimia


 Larutan dari campuran Carbonat-Bicarbonat
 larutan baku HCl 0,1 N
 Indicator Phenol Pethalin
 Indicator Metil Oranye

V. Dasar Teori
Titrasi adalah salah satu metoda untuk menentukan kadar secara kuantitatif dari zat-
zat yang telah dikenal rumus kimianya. Titrasi dikatakan juga sebagai analisa massa,
karena jumlah larutan yang digunakan untuk menentukan kadar suatu zat, diukur secara
tepat.
Untuk dapat mengerti apa yang terjadi pada suatu titrasi, maka perlu dipahami
terlebih dahulu:
 Persamaan reaksinya
 Mol
 Derajat keasaman dan kebasaan
 Ekivalen
Pada analisa massa, larutan yang akan ditentukan direaksikan dengan sejumlah
tertentu larutan yang telah diketahui kadarnya (larutan baku), sampai titik akhir dari
reaksi tercapai.
Dengan mengukur berapa jumlah larutan yang diketahui kadarnya yang dibutuhkan
untuk bereaksi dengan sejumlah tertentu larutan yang ditentukan, maka dapat dihitung
kadar dari larutan yang ditentukan tersebut.
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk suatu analisa massa adalah:
 Reaksi kimia harus berlangsung dengan cepat, kuantitatif dan sesuai dengan
perbandingan stokiometrinya.
 Reaksi harus memiliki keboleh ulang (reproducibility) dengan perbedaan hasil tidak
lebih dari 0,5 %
 Titik akhir reaksi harus dapat diketahui dengan jelas
 Kadar dari larutan baku harus diketahui dengan tepat
Penentuan kadar dari asam lemah ini dapat dilakukan dengan menggunakan larutan
baku asam. Titrasi dilakukan secara bertahap seperti halnya berikut :
 Sejumlah volume campuran garam karbonat-bikarbonat dititrasi dengan HCl
dengan indikator yang perubahan warnanya sekitar pH pembentukan H 2CO3 dari
CO3= (PP)
Reaksinya :
H+ + CO3= HCO3
Jumlah asam yang digunakan ekivalen dengan separuh jumlah karbonat yang ada
didalam larutan.
 Sejumlah volume yang sama dari garam tersebut dititrasi dengan HCl dengan
indikator yang pH perubahan warnanya meliputi pH pembentukan H2CO3 dari
semua CO3= dan HCO3 yang ada didalam larutan, yaitu MO, Indigo carmen atau
BPB. Jumlah asam yang digunakan ekivalen dengan jumlah HCO 3 dan CO3= yang
ada didalam larutan.
Asam dari basa lemah dapat dititrasi dengan larutan baku basa, proses ini
dinamakan alkalimetri. Basa dan garam dari asam lemah dapat dititrasi dengan larutan
baku asam, proses ini dinamakan asidimetri.
Reaksi penetralan : H3O+ + OH- 2H2O
H3O+ + A- HA + H2O
B+ + OH- BOH
Suatu larutan basa atau larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui
penambahan larutan baku asam atau larutan baku basa yang tepat ekivalen dengan
jumlah basa atau asam yang ada.
Titik dimana saat tersebut tercapai dinamakan titik ekivalen atau titik akhir teoritis.
Jumlah basa atau asam adalah ekivalen dengan jumlah asam atau basa.
Untuk menentukan titik ekuvalen ini dipergunakan indikator asam basa, yaitu suatu
zat yang dapat berubah warnanya tergantung pada pH larutan. Macam indikator yang
dipilih harus sedemikian pula sehingga pH titik ekivalen titrasi terdapat dalam daerah
perubahan warna indikator. Jika pada suatu titrasi dengan indikator tertentu timbul
perubahan warna, maka titik akhir titrasi telah tercapai dan titik tersebut dinamakan titik
akhir titrasi.
Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya
dinamakan kesalahan titrasi. Pemilihan indikator yang tepat dapat memperkecil
kesalahan titrasi ini.
Sebagai ukuran umum dapat dikatakan bahwa suatu reaksi kimia dapat dipakai
untuk suatu titrasi bila terjadi perunahan pH sebesar dua satuan pada/atau dekat titik
stokiometri, setelah ditambahkan sedikit (satu atau dua tetes) titran. Indikator yang
dipilih harus mempunyai daerah pH pada titik ekivalen atau dekat ekivalen.
Untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa diperlukan suatu
larutan baku. Larutan baku yang dibuat melalui pelarutan zat dengan berat yang
diketahui sampai volume tertentu dan secara langsung konsentrasinya diketahui
dinamakn larutan baku primer.
Larutan baku yang konsentrasinya ditentukan melalui titrasi dengan larutan baku
primer dinamakan larutan sekunder. Contohnya adalah larutan NaOH.
 Titrasi pendahuluan
Titrasi pendahuluan biasanya dilakukan untuk memperkirakan secara kasar
konsentrasi suatu zat. Tujuannya adalah untuk mempermudah mempersiapkan larutan
untuk titrasi yang lebih teliti, serta untuk menghemat waktu dan bahan kimia.
Titrasi pendahuluan biasanya dilakukan dalan jumlah zat yang kecil yaitu 1 gram
atau 1 ml zat yang ditentukan.
Walaupin demikian lebih baik bila dihitung dahulu berat teoritis zat yang harus
ditimbang. Setelah konsentrasi zat diketahui secara kasar, maka dilakukan titrasi lebih
lanjut dengan lebih teliti. Terdapat kemungkinan bahwa zat yang akan ditentukan perlu
diencerkan lebih dahulu atau penitrasi perlu diencerkan atau jumlah zat yang harus
ditimbang lebih banyak atau kurang dari 1 gram, agar kesalahan titrasi dapat dihitung
dari ketelitian alat yang digunakan (pipet seukuran, buret, labu ukur, timbangan).

VI. Perincian Kerja


 Standarisasi larutan baku sekunder HCl dengan menggunakan boraks.
Untuk memperkirakan jumlah boraks yang diperlukan, maka lebih dahulu
dilakukan titrasi pendahuluan
 Menimbang 0,2299 gram boraks
 Dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml
 Melarutkan boraks dengan air demineral
 Menambahkan 3 tetes indicator metil merah
 Menitrasi dengan HCl
 Menghitung konsentrasi larutan baku sekunder HCl
 Percobaan dilakukan duplo, berat boraks yang ditimbang sebanyak 0,3001 gr
 Titrasi bertahap
 Dilakukan titrasi pendahuluan untuk mengetahui sekitar berapa
penggunaan larutan penitar HCl dalam titrasi,
 Dimasukkan 1 ml sampel dan ditambahkan sedikit air untuk
mempermudah pengamatan tititrasi,
 Sampel ditambahkan 3 tetes indikator PP, lalu dititrasi dengan
larutan baku HCl sampai terjadi perubahan dari merah muda sampai hampir
tak berwarna (dipergunakan sekitar 0,6 ml HCl untuk menitar 1 Ml alrutan
sampel.)
 Penetapan larutan Karbonat.
 Membilas buret sampai bersih dengan menggunakan larutan baku HCl
sebanyak 3 kali.
 Dipipet 25 ml Larutan Na2CO3-NaHCO3 kedalam erlenmeyer 250 ml.
 Ditambahkan 3 tetes indikator PP lalu dititrasi dengan larutan baku HCl sampai
terjadi perubahan dari merah muda menjadi hampir tak berwarna.
 Kemudian volume dicatat sebagai volume penitrasi (M = 6,1 dan 6,2 ml).
 Percobaan dilakukan duplo.
 Dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml
 Penetapan larutan Bicarbonat.
 Dipipet sejumlah 25 ml larutan sampel kedalam erlenmeyer 250 ml, lalu
ditambahkan 3 tetes indikator Metil oranye,
 Kemudian dititrasi dengan larutan baku HCl, sampai terjadi perubahan warna
dari kuning ke jingga lemah.
 Percobaan dilakukan duplo.
 Volume larutan baku penitar dicatat sebagai m = 17,2 ml.

VII. Data Pengamatan


1. Standarisasi larutan baku sekunder HCl dengan menggunakan Boraks
Percobaan Berat asam benzoat Berat rata -rata Volume HCl
Simplo 0,2299 gr 18,1 ml
0,2650 gr
Duplo 0,3001 gr 18,1 ml

2. Standarisasi larutan sampel dengan HCl menggunakan Indikator PP


Percobaan Volume campuran Volume HCl Vol rata-rata
Simplo 10 ml 6,1 ml 6,15 ml
Duplo 10 ml 6,2 ml

3. Standarisasi larutan sampel dengan HCl menggunakan indikator Metil orange.


Percobaan Volume Campuran V. NaOH Vol rata-rata
Simplo 10 ml 17,2 ml
17,2 ml
Duplo 10 ml 17,2 ml

VIII. Perhitungan
 Untuk standarisasi Boraks ∞ HCl
mol Boraks ∞ mol HCl
Massa
∞ NHCl . V HCl
BM
Massa Boraks
NHCl =
VHCl x Bst Boraks
Massa Boraks
NHCl = 103 L BM
ml . x g / eq
1 ml 2
0 ,2650 gr
N HCl 
10 3 L 381,5
18,1 ml x x g / eg
1 ml 2

= 0,076 Eq/L = 0,076 N

 Untuk Sampel
Natrium Karbonat ( NaHCO3) Mr = 84
V HCl = 2M
= 2 x 6,15 ml
= 12,3 ml
V1 x N1 = V2 x N2
10 ml x N1 = 12,3 ml x 0,076 N
N1 = 0,09348 eq/L
BM
Gr = N x Bst atau N x
V
= 0,09348 eq/L x 84 gr/eq
= 7,854232 Gr

Natrium bicarbonat (Na2CO3) Mr = 106


Vol = m  2M
= 17,2  (2 x 6,15) ml
= 4,9 ml
V1 x N1 = V2 x N2
10 ml x N1 = 4,9 ml x 0,076 N
N1 = 0,03724 N
BM
Gr = N x Bst atau N x
V
106 gr / mol
= 0,03724 eq/L x
2
= 1,9737 Gr
IX. Pembahasan
 Standarisasi larutan HCl kami lakukan untuk mengetahui konsentrasi pasti dari
larutan baku ini apakah betul-betul 0,1 N, akan tetapi yang kami dapatkan setelah
titrasi ternyata konsentrasi HCl tersebut hanya 0,076 N
 Pada percobaan yang telah kami lakukan, terdapat perbedaan hasil dari percobaan
pertama (simplo) dengan hasil percobaan kedua (duplo). Hal ini disebabkan oleh
kurangnya ketelitian dalam melakukan percobaan/penitrasian, juga dapat
disebabkan oleh letak buret yang tidak tegak lurus atau klem yang salah, kesalahan
dalam membaca titk akhir atau titik nol titrasi.
 Pada titrasi dengan memakai PP kami mengambil keputusan untuk melakukan
titrasi sampai hampir tak berwarna adalah untuk mengurangi kesalahan titrasi
karena apabila terjadi kelebihan penitrasi maka hal ini tidak dapat kami ketahui
karena pada saat terdapat kelebihan tidak berwarna.
 Penambahan air pada larutan sampel untuk titrasi pendahuluan tidak akan
mempengaruhi keadaan sampel karena yang bereaksi dalam perhitungan titrasi
adalah jumlah molnya, dan tidak dipengaruhi oleh zat pengencer.
 Reaksi yang terjadi antara larutan campuran dengan HCl jika dipisahkan seperti
berikut :
 HCl baku dengan Boraks
Na2B4O7 + 2 HCl + 5 H2O 2 NaCl + 4 H3BO4
 Titrasi HCl dengan Natrium Carbonat
HCl + NaHCO3 H2CO3 + NaCl
 Titrasi HCl dengan Natrium Carbonat
2 HCl + Na2CO3 H2CO3 + 2 NaCl

X. Kesimpulan
 Berdasarkan atas hasil percobaan, boraks dapat digunakan untuk standarisasi
larutan baku HCl.
 Konsentrasi larutan baku dapat diketahui melalui titrasi.
 Pada jumlah volume penitrasi lebih banyak digunakan untuk bicarbonat (NaHCO 3)
karena memiliki valensi 2 sedangkan untuk karbonat hanya bervalensi satu.

XI. Daftar Pustaka


 Petunjuk Praktikum Titrasi Asam Basa I PEDC, Bandung

Natrium bicarbonat (Na2CO3) Mr = 106


Vol = m  2M
= 17,2  (2 x 6,15) ml
= 4,9 ml
V1 x N1 = V2 x N2
10 ml x N1 = 4,9 ml x 0,09348 N
N1 = 0,046 N
BM
Gr = N x Bst atau N x
V
106 gr / mol
= 0,046 eq/L x
2
= 2,438 Gr

XI. Pembahasan
 Standarisasi larutan HCl kami lakukan untuk mengetahui konsentrasi pasti dari
larutan baku ini apakah betul-betul 0,1 N, akan tetapi yang kami dapatkan setelah
titrasi ternyata konsentrasi HCl tersebut hanya 0,076 N
 Pada percobaan yang telah kami lakukan, terdapat perbedaan hasil dari percobaan
pertama (simplo) dengan hasil percobaan kedua (duplo). Hal ini disebabkan oleh
kurangnya ketelitian dalam melakukan percobaan/penitrasian, juga dapat
disebabkan oleh letak buret yang tidak tegak lurus atau klem yang salah, kesalahan
dalam membaca titk akhir atau titik nol titrasi.
 Pada titrasi dengan memakai PP kami mengambil keputusan untuk melakukan
titrasi sampai hampir tak berwarna adalah untuk mengurangi kesalahan titrasi
karena apabila terjadi kelebihan penitrasi maka hal ini tidak dapat kami ketahui
karena pada saat terdapat kelebihan tidak berwarna.
 Penambahan air pada larutan sampel untuk titrasi pendahuluan tidak akan
mempengaruhi keadaan sampel karena yang bereaksi dalam perhitungan titrasi
adalah jumlah molnya, dan tidak dipengaruhi oleh zat pengencer.