Anda di halaman 1dari 20

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Benign Prostatic Hyperplasia atau yang biasa disebut BPH adalah bentuk
neoplasma terbanyak pada pria dan secara signifikan merupakan penyebab
gejala urinari pada pria dewasa. BPH adalah diagnosis klinis yang
menunjukkan gejala-gejala urinaria akibat obstruksi kelenjar prostat.

Gejala yang menyertai BPH adalah frekuensi urinari meningkat, urgensi,


intermiten, pancaran lemah, dan/atau nokturia. Gejala-gejala ini tidak
spesifik dan dapat disebabkan oleh infeksi, striktur uretra, atau disfungsi
neurologi dari diabetes, penyakit parkinson, multipel sklerosis, stroke, atau
cidera tulang belakang. Disamping gejala berkemih, BPH menyebabkan
gross hematuria, infeksi akibat pengosongan yang tidak lengkap, batu
kandung kemih, dan retensi urin. Seiring berjalannya waktu, pengosongan
yang tidak lengkap dapat menyebabkan overdistensi vesika urinari yang
dapat berlanjut menjadi disfungsi vesika urinari.

BPH adalah salah satu kondisi yang membuat pasien sering mencari
pertolongan medis. Dari seluruh pria, BPH terjadi lebih dari 50% pada usia
60 tahun dan hampir 90% di usia 85 tahun. Diestimasikan separuh dari
jumlah ini akan memiliki pembesaran kelenjar prostat yang dapat
terdeteksi dan separuh dari jumlah ini akan mencari pertolongan medis
karena mengalami gejala traktus urinari bagian bawah (LUTS). Agency for
Health Care Policy and Research Diagnostic and Treatment Guidelines for
BPH pada tahun 1994 mengestimasikan bahwa sekitar 25% pria berkulit
putih di Amerika Serikat pada tahun 1990 sekurang-kurangnya memiliki
skor AUA (American Urology Association) terendah 8 (tingkat gejala BPH
sedang hingga berat).

AN ATOMI DAN FISIOLOG I SINGKAT


ANATOMI
Prostat adalah kelanjar berbentuk walnut yang merupakan bagian dari
sistem reproduksi pria. Kelenjar ini mengelilingi uretra pada leher vesika
urinari, tempat dimana uretra bergabung dengan vesika urinari.

Fungsi utama dari prostat adalah memroduksi cairan yang merupakan


unsur pembentuk semen. Prostat membentuk sekitar sepertiga dari jumlah
seluruh cairan yang diejakulasikan dari penis saat orgasme. Cairan prostat
ini sangat penting untuk fertilitas pada pria. Peran penting produksi
kelenjar prostat dalam menjaga fertilitas pria ialah dengan memberikan
perlindungan dan asupan bagi sperma.
Embriologi dan perkembangan
kelenjar prostat
Selama bulan ketiga masa kehamilan, kelenjar prostat dibentuk dari
invaginasi epithelial dari sinus urogenitalis posterior oleh mesenkim.
Pembentukan normal kelenjar prostat membutuhkan kehadiran 5α-
dihidrotestosteron, yang disentesis dari testosterone fetus oleh pengaruh
5α-reduktase. Enzim ini terletak di dalam sinus urogenital dan genitalia
eksterna manusia. Defisiensi 5α-reduktase ini akan menyebabkan tidak
sempurnanya pembentukan prostat selain juga abnormalitas genitalia
eksterna yang berat, meski epididimis vas deferen, dan vesikula seminalis
tetap normal.

Selama masa prepubertal, rata-rata bentuk prostat manusia masih


memiliki kemiripan dan mulai mengalami perubahan morfologi pada
bentuk fenotip dewasa saat mulai pubertas. Kelenjar secara terus-menerus
mengalami pembesaran ukuran mencapai berat dewasa yaitu sekitar 20
gram saat usia 25-30 tahun.

Ukuran prostat bertumbuh dengan pengaruh dari hormon seks testosteron.


Prostat terus bertumbuh seiring bertambahnya usia seorang pria. Saat
pubertas, jumlah testosteron anak laki-laki mulai meningkat dan prostat
mulai bertambah besar sekitar delapan kali ukurannya. Prostat terus
bertumbuh, prostat menjadi dua kali ukurannya di antara usia 21 dan 50
tahun, dan menggandakan ukurannya lagi di antara usia 50 dan 80 tahun.
Sebagian besar pertumbuhan terjadi di bagian tengah prostat.
Anatomi dan Histologi Normal

Prostat
Bagian basal prostat ada pada leher vesika urinari dan bagian apeks ada
pada diafragma urogenital. Vasia denonvillier, lapisan jaringan ikat tipis,
memisahkan posterior prostat dan vesikula seminalis dari rektum. Serat
otot skeletal dari diafragma urogenital meluas ke prostat pada apeks dan
naik ke anterior midprostat.

Terletak inferior terhadap vesika urinari, prostat diperdarahi oleh arteri


vesika inferior yang adalah percabangan dari bagian anterior arteri iliaka
interna. Kumpulan vena yang disebut pleksus vena prostatika mengalirkan
darah kembali dari prostat melalui pleksus vena vesika ke vena pudenda
interna menuju vena iliaka interna yang meneruskan perjalanannya ke
vena cava inferior melalui vena iliaka komunis.

Di abad keduapuluh, beberapa penyelidikan menetapkan kelenjar prostat


manusia dibentuk dari beberapa lobus seperti halnya pada hewan-hewan
coba. Konsep yang menjadi terkenal ini tidak begitu dapat diterima karena
pada prostat manusia antar lobus tidak ada perbedaan yang jelas seperti
yang terlihat pada hewan-hewan coba. Karena itu, McNeal menetapkan
konsep yang saat ini paling banyak diterima yaitu pembagian berdasarkan
zona dari pada penggunaan lobus.

Dengan itu maka prostat dibagi ke dalam zona perifer, zona sentral, zona
transisi dan struma fibromuscular anterior pada permukaan eksternal
anterior prostat. Zona perifer terdiri dari semua jaringan kelenjar prostat
pada apeks juga semua jaringan yang terletak di posterior dekat kapsul.
Dalam zona ini, karsinoma, prostatitis kronis, dan atrofi postinflamasi
relatif sering terjadi dari pada zona-zona lain. Zona sentral adalah area
berbentuk kerucut pada kelenjar dewasa, dengan apeks dari kerucut
tersebut pada pertemuan dari duktus ejakulatorius dan uretra pars
prostatika pada verumontanum. Zona transisi terdiri dari dua bagian yang
sama dari jaringan kelenjar lateral terhadap uretra pada midgland. Bagian
prostat ini termasuk dalam perkembangan BPH pada usia lanjut dan,
jarang, adenokarsinoma.

Struma fibromuskular anterior (AFMS) membentuk konveksitas dari


permukaan eksternal anterior. Setengah apeks dari area ini kaya akan otot
lurik, yang terdapat dalam kelenjar dan otot dari diafragma pelvis. Menuju
ke dasar, sel dari otot halus menjadi yang paling mendominasi dalam
serabut dari leher vesika urinari. Bagian distal dari AFMS penting dalam
kerja volunter otot spinkter, sedang bagian proksimalnya memainkan
peran utama dalam fungsi spinkter involunter.

Arsitektur histologis dari prostat menyangkut percabangan dari duktus


kelenjar. Dua lapisan sel, satu lapisan sel kolumnar sekretori dengan
lapisan sel basal yang mendasarinya. Bagian lumen dari duktus kelenjar
prostat sering kali berisikan konsentrasi multilaminal eosinofilik, ini
disebut korpora amilasea, yang sering ditemukan pada pria usia lanjut.
Kalkulus lebih besar dari korpora ini dengan predileksi pada duktus yang
melintas sepanjang surgical capsule [Istilah surgical capsule diterapan pada
jaringan fibromuscular yang membungkus lobus (/zona) yang hipertrofi dari
BPH], memisahkan zona transisi dan perifer.
Kapsul prostat merupakan jaringan fibrosa yang mengelilingi kelenjar.
Meskipun istilah “kapsul” ini tertanam dan digunakan secara umum,
bahkan dalam literatur-literatur resmi, tidak ada konsensus yang
menunjukkan adanya kapsul sejati (true capsule) pada prostat.

Uretra
Uretra adalah saluran yang menghubungkan vesika urinari dengan
lingkungan luar, yang mana urin dikeluarkan. Panjang uretra pria ialah
sekitar 17,5 cm sampai 20 cm dan memiliki bagian anterior dan posterior.

Uretra posterior dibagi ke dalam uretra pars prostatika dan pars


membranasea. Panjang uretra pars prostatika ialah sekitar 3,5 cm mulai
dari spinkter uretra internum sampai ujung akhir verumontanum, panjang
uretra pars membranasea ialah sekitar 1 sampai 1,5 cm dari ujung akhir
verumontanum ke spinkter uretra eksternum pada diafragma urogenital.
Ini adalah bagian tersempit dari uretra.

Uretra anterior dibagi kedalam pars bulbosa, atau bulbar, dan penil, atau
pars pendulous. Uretra pars bulbosa dimulai dari spinkter uretra eksterna
hingga penoscrotal junction, dimana uretra sedikit menukik karena adanya
ligamen suspensorium dari penis. Bagian proksimal dari uretra pars
bulbosa berdilatasi sehingga memberikan bentuk kerucut
pada bulbomembranous junction. Kontraksi dari muskulus konstriktor nudae
dapat menyebabkan lekukan pada bagian proksimal dari uretra pars
bulbosa.

FISIOLOGI
Prostat distimulasi untuk dapat bertumbuh dan dapat memertahankan
ukuran dan fungsinya dengan adanya serum testosterone. Selain itu
termasuk faktor lain yang menstimulasi pertumbuhan prostat ialah
androgen adrenal. Estrogen tidak menghambat kerja androgen pada
prostat. Sedangkan, kerja dari prolaktin dalam pertumbuhan prostat belum
sepenuhnya diketahui.

Sekresi Kelenjar Prostat


Testosteron dari plasma yang berdifusi masuk ke dalam sel prostat
kemudian dimetabolisme menjadi steroid lain dengan bantuan sejumlah
enzim. Lebih dari 95% testosteron dikonversi menjadi dihidrotestosteron
(DHT). Perubahan ini dibantu oleh pengaruh 5α-reduktase. DHT kemudian
mengikat reseptor androgen yang aktif. Hormone-reseptor kompleks ini
kemudian mengalami transformasi dan translokasi ke dalam nukleus.
Dalam nukleus, RNA polimerase diaktivasi, diikuti dengan pembentukan
mRNA yang kemudian ditransport ke dalam kompartemen sitoplasma dan
ditranslasi menjadi protein sekretori. Protein ini disekresi ke dalam lumen
saat mendapatkan signal neurologik pada proses ejakulasi.

Faktor Lain yang Memengaruhi


Efek Testosteron pada Prostat
Esterogen tidak menghambat androgen-induced growth pada sel prostat,
namun malah mensinergikan efek dari androgen. Pada hewan uji, anjing,
yang menerima esterogen dan DHT mendapatkan penambahan ukuran
prostat yang signifikan (estradiol melipatgandakan androgen-induced
growth). Efek kesinergisan ini tidak terjadi pada tikus. Memang tikus tidak
dapat mengidap BPH seperti pada anjing, sehingga hal ini masih terus
didiskusikan.

Ada beberapa growth factor yang dihasilkan di prostat. Salah satunya ialah
urogastron (family yang sama dengan epidermal growth factor pada tikus)
dan yang lainnya ialah prostatropin yang merupakan epithelial growth
factor prostat. Ada sedikit keraguan bahwa sebagian besar jaringan dapat
distimulasi oleh growth factor dan diinhibisi oleh jaringan chalone.

PATOLOGI BPH
BPH merujuk pada keadaan pertumbuhan prostat nonmalignant yang
terjadi terutama pada pria usia lanjut. Perkembangan BPH berhubungan
sangat erat dengan usia pada hampir semua pria, dimulai pada usia kira-
kira 40 tahun. Prevalensi histologi BPH, yang diperiksa dalam beberapa
studi autopsi diseluruh dunia menunjukkan, sekitar 10% pria pada umur
30 tahunan, 20% pria pada umur 40 tahunan, mencapai 50-60% pria
pada umur 60 tahunan, dan 80% hingga 90% pria pada umur 70 sampai
80 tahunan. Tidak diragukan lagi, bahwa bila usia seorang pria cukup
panjang, kemungkinan mengalami BPH semakin besar.

Beberapa mekanisme yang saat ini dipercaya berpengaruh penting dalam


perkembangan dan progresifitas BPH : (1) remodeling jaringan, (2)
perubahan hormon, (3) inflamasi, dan (4) sindroma metabolik.
Pembesaran kelenjar prostat pada BPH menyebabkan obstruksi aliran urin
yang menyebabkan timbulnya gejala traktus urniari bagian bawah (Lower
Urinary Tracy Symptoms [LUTS]). Karena itu, secara logis penanganannya
ialah prostatektomi atau obat-obatan yang dapat menurunkan tahanan
aliran urin sehingga dapat memperbaiki LUTS. Namun, telah diketahui
sekarang bahwa patofisiologi dari BPH jauh lebih rumit.

Hyperplasia prostat meningkatkan tahanan uretra, menyebabkan


perubahan kompensasi vesika urinari. Obstruksi yang terjadi menyebabkan
perubahan fungsi muskulus detrusor, diperparah dengan perubahan pada
fungsi vesika urinari dan sistem saraf yang terjadi pada perubahan usia,
menyebabkan terjadinya frekuensi urinari meningkat, urgensi dan
nokturia, yang biasanya paling mengganggu pada LUTS.

Setengah dari struma yang hiperplasia adalah elemen otot halus dan
dipercaya bahwa selain mekanisme statis, mekanisme dinamik turut
menyumbang obstruksi akibat pembesaran prostat. Mekanisme statis yang
dimaksudkan ialah obstruksi yang diakibatkan oleh adanya pembesaran
prostat yang mentupi aliran urin, sedangkan mekanisme dinamis akibat
obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia otot halus dan kontraksi yang
dimediasi oleh subtipe alpha 1 adrenoceptor.

Seperti pada banyak penyakit kronis lainnya adalah progresif, demikian


pula BPH: dibutuhkan periode waktu yang panjang untuk sampai pada
perubahan jaringan yang memberi onset gambaran LUTS atau bila tidak
ditangani, dapat berkomplikasi menjadi disfungsi vesika urinari dan
kemungkinan retensi urin akut (AUR) akibat hipertrofi.

GAMBAR AN KLINIS
GEJALA
Telah dikatakan sebelumnya bahwa pada BPH, gejala-gejala yang timbul
adalah LUTS. Untuk itu perlu diketahui apa saja LUTS yang dapat
mengarah pada kejadian BPH.

LUTS yang terjadi pada BPH diantaranya :

 Frekuensi miksi
 Urgensi miksi
 Masalah memulai miksi
 Pancaran yang lemah atau terganggu
 Miksi akhir yang menetes
 Nokturia
 Retensi urin
 Inkontinensia urin
 Nyeri saat ejakulasi atau saat miksi

Gejala-gejala ini disebabkan oleh BPH karena :

Uretra tersumbatKerja berlebihan dari vesika urinari untuk menekan urin


melawati sumbatan

Ukuran prostat tidak selalu menentukan keparahan dari sumbatan atau


gejala-gejala yang timbul. Sebagian pria dengan pembesaran prostat yang
berarti hanya menimbulkan sumbatan yang kecil dan sedikit gejala, sedang
sebagian lainnya dengan pembesaran prostat yang minimal memiliki
sumbatan yang besar dengan lebih banyak gejala. Pria yang memiliki LUTS
akibat BPH berujumlah kurang dari separuh seluruh pria dengan BPH.

KOMPLIKASI
Komplikasi dari BPH dapat mencakup:

 Retensi urin akut


 Retensi urin kronik
 Hematuria
 Infeksi saluran kemih
 Karusakan vesika urinari
 Kerusakan ginjal
 Batu vesika urinari

Sebagian besar pria dengan BPH tidak berlanjut komplikasi-komplikasi di


atas. Namun, kerusakan ginjal bila terjadi adalah masalah serius yang
dapat mengancam kesehatan.

PENEGAKKAN DI AGNOSIS DAN DIAGNOSIS


BANDING
REKOMENDASI DIAGNOSIS PASIEN BPH

DIAGNOSIS BPH
Diagnosis pasien BPH ditegakkan berdasarkan pemeriksaan-
pemeriksaan yang sistematis mulai dari pemeriksaan awal yaitu
pemeriksaan yang harus dikerjakan pada semua pasien dan pemeriksaan
tambahan yang hanya dikerjakan pada pasien-pasien tertentu.
Pemeriksaan awal bisa dilakukan oleh semua petugas kesehatan dengan
berbagai ragam kemampuan dan ketersediaan sarana. Pemeriksaan ini
dibedakan menjadi pemeriksaan yang harus dikerjakan pada setiap pasien
(mandatory) dan pemeriksaan yang harus dikerjakan jika fasilitas untuk
pemeriksaan itu tersedia (recommended). Pemeriksaan tambahan yang
bersifat optional dikerjakan pada kasus-kasus tertentu dan terutama
dikerjakan oleh spesialis urologi. Berbagai pemeriksaan itu adalah:

Pemeriksaan Awal
. Harus diperiksa oleh setiap dokter/tenaga kesehatan
(bersifat mandatory) meliputi:

1. Anamnesis/wawancara tentang riwayat penyakit untuk menyingkirkan


penyebab lain dari gangguan miksi, atau untuk mengungkap
kemungkinan adanya penyakit lain yang memengaruhi hasil terapi yang
akan diberikan.
2. Pemeriksaan fisik termasuk disini adalah colok dubur dan pemeriksaan
neurologis
3. Urinalisis untuk mencari kemungkinan adanya hematuria dan
leukosituria

Diperiksa jika fasilitas tersedia (bersifat Recommended):

1. PSA guna menyingkirkan kemungkinan adanya karsinoma prostat


stadium awal. Pemeriksaan ini terutama ditawarkan kepada pasien yang
mempunyai usia harapan hidup lebih dari 10 tahun atau usianya belum
mencapai 70 tahun.
2. Test faal ginjal (kreatinin serum) untuk menilai kemungkinan adanya
penyulit BPH pada saluran kemih bagian atas. Peningkatan harga
kreatinin dalam serum merupakan indikasi untuk melaukan evaluasi
terhadap sistem urinaria bagian atas
3. International Prostate Symptoms Score (IPSS) dan Quality of Life (QoL)
untuk menentukan derajat keluhan miksi dan kualitas hidup, kecuali
jika pasien yang sebelumnya sudah memakai kateterisasi karena retensi
urine.
4. Catatan harian miksi
Dari pemeriksaan awal tersebut didapatkan pasien dengan kategori:

1. Pasien yang hanya mengeluh LUTS dan dalam hal ini dapat
dikelompokkan dalam:
 pasien dengan tingkat gangguan ringan (IPSS ≤ 7)
 pasien dengan tingkat gangguan sedang (IPSS 8-19) dan berat (IPSS
20-35)
2. Pasien-pasien yang pada saat pemeriksaan awal diketemukan adanya:
(a) kecurigaan adanya keganasan prostat pada colok dubur, (b) PSA
abnormal, (c) hematuria, (d) nyeri pada suprasimfisis, (e) kelainan
neurologis, (f) buli-buli teraba penuh, dan (g) faal ginjal abnormal, (h)
riwayat adanya infeksi saluran kemih berulang, pernah operasi urologi,
pernah menderita tumor saluran kemih, atau pernah menderita batu
saluran kemih. Pada pasien-pasien ini diperlukan
pemeriksaanpemeriksaan tam-bahan yang bersifat spesialistik sehingga
harus dirujuk ke spesialis urologi untuk mencari kemungkinan adanya
penyakit akibat komplikasi BPH atau penyakit lain. Penyakit-penyakit
tersebut adalah:
 Komplikasi yang terjadi akibat BPH diantaranya adalah: retensi urine,
hematuria, batu buli-buli, dan insufisiensi ginjal
 Penyakit lain yang memberikan keluhan mirip BPH atau yang
bersamaan dengan / BPH adalah: karsinoma prostat, karsinoma buli-
buli, buli-buli neurogenik, atau striktura uretra.

Pemeriksaan Tambahan
Pasien-pasien yang termasuk kategori Aa, tidak memerlukan pemeriksaan
tambahan dan tidak mendapatkan terapi apapun (watchful waiting),
sedangkan pada pasien-pasien yang termasuk golongan Ab, jika diperlukan
informasi yang lebih lanjut dan lebih objektif tentang keluhan yang
dinyatakan pasien, mungkin perlu mendapatkan pemeriksaan tambahan
yang bersifat optional. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut di antaranya
adalah:

1. Ultrasonografi (USG) transabdominal atau transrektal. Dari USG ini


dapat diketahui ukuran maupun morfologi kelenjar prostat, batu pada
buli-buli, atau divertikel buli-buli. Besarnya prostat perlu diketahui jika
dipilih terapi inhibitor 5-α reduktase.
2. Pancaran urine dengan uroflometer
3. Volume residual urine sehabis miksi diukur secara tidak langsung
dengan memakai ultrasonografi transabdominal.
Dari hasil pemeriksaan tersebut selanjutnya didiskusikan dengan pasien
kemungkinan terapi yang dipilihnya. Mungkin pasien tetap memilih tanpa
obat, dengan obat, atau terapi intervensi. Jika terapi intervensi sebagai
pilhannya, selanjutnya pasien dirujuk ke spesialis urologi. Namun jika
pasien memilih terapi medikamentosa, obat yang dipilih sebagai lini
pertama adalah penghambat alfa adrenergik alfa, dan pilihan kedua adalah
inhibitor 5-alfa reduktase.

PERTIMBANGAN DIAGNOSIS
Gejala yang sering menyertai BPH dapat disebabkan juga oleh kondisi-
kondisi berikut:

1. Sistitis
2. Prostatitis
3. Prostatodinia
4. Abses prostat
5. Overactive bladder (OAB)
6. Karsainoma vesika urinari
7. Benda asing pada vesika urinari (seperti : batu)
8. Striktur uretra akibat trauma atau infeksi menular seksual
9. Kanker prostat
10.Neurogenic bladder
11. Disfungsi lantai pelvis

DIAGNOSIS BANDING
Beberapa diagnosis banding BPH:

1. Karsinoma vesika urinari


2. Batu vesika urinari
3. Trauma vesika urinari
4. Interstitial cystitis
5. Neurogenik vesika urinari
6. Prostatitis
7. Radiation cystitis
8. Striktur uretra pria
9. Infeksi saluran kemih pria

PENAT AL AKSANAAN
Tujuan terapi pada pasien BPH adalah memperbaiki kualitas hidup pasien.
Terapi yang didiskusikan dengan pasien tergantung pada derajat keluhan,
keadaan pasien, serta ketersediaan fasilitas setempat. Pilihannya adalah:
(1) konservatif (watchful waiting), (2) medikamentosa, (3) pembedahan
(Tabel 1), dan (4) lain‐lain (kondisi khusus).

KONSERVATIF
Terapi konservatif pada BPH dapat berupa watchful waiting yaitu pasien
tidak mendapatkan terapi apapun tetapi perkembangan penyakitnya tetap
diawasi oleh dokter. Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH
dengan skor IPSS dibawah 7, yaitu keluhan ringan yang tidak mengganggu
aktivitas sehari‐hari. Pada watchful waiting ini, pasien diberi penjelasan
mengenai segala sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk
keluhannya, misalnya:

1. jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah


makan malam,
2. kurangi konsumsi makanan atau minuman yang menyebabkan iritasi
pada kandung kemih (kopi atau cokelat),
3. batasi penggunaan obat‐obat influenza yang mengandung
fenilpropanolamin,
4. jangan menahan kencing terlalu lama.
5. penanganan konstipasi.

Pasien diminta untuk datang kontrol berkala (3–‐6 bulan) untuk menilai
perubahan keluhan yang dirasakan, IPSS, uroflowmetry, maupun volume
residu urine.1 Jika keluhan berkemih bertambah buruk, perlu dipikirkan
untuk memilih terapi yang lain.

MEDIKAMENTOSA
Terapi medikamentosa diberikan pada pasien dengan skor IPSS >7. Jenis
obat yang digunakan adalah:

α1-blocker
Pengobatan dengan α1‐blocker bertujuan menghambat kontraksi otot polos
prostat sehingga mengurangi resistensi tonus leher kandung kemih dan
uretra. Beberapa obat α1‐blocker yang tersedia, yaitu terazosin, doksazosin,
alfuzosin, dan tamsulosin yang cukup diberikan sekali sehari.

Obat golongan ini dapat mengurangi keluhan storage symptom dan voiding
symptom dan mampu memperbaiki skor gejala berkemih hingga 30-45%
atau penurunan 4-6 skor IPSS dan Qmax hingga 15-30%. Tetapi obat α1–
blocker tidak mengurangi volume prostat maupun risiko retensi urine
dalam jangka panjang.

Masing-masing α1‐blocker mempunyai tolerabilitas dan efek terhadap


sistem kardiovaskuler yang berbeda (hipotensi postural, dizzines, dan
asthenia) yang seringkali menyebabkan pasien menghentikan pengobatan.
Penyulit lain yang dapat terjadi adalah ejakulasi retrograd. Salah satu
komplikasi yang harus diperhatikan adalah intraoperative floppy iris
syndrome (IFIS) pada operasi katarak dan hal ini harus diinformasikan
kepada pasien.

5α‐reductase inhibitor
5α‐reductase inhibitor bekerja dengan menginduksi proses apoptosis sel
epitel prostat yang kemudian mengecilkan volume prostat hingga 20 –
30%. 5α‐reductase inhibitor juga dapat menurunkan kadar PSA sampai 50%
dari nilai yang semestinya sehingga perlu diperhitungkan pada deteksi dini
kanker prostat. Saat ini, terdapat 2 jenis obat 5α‐reductase inhibitor yang
dipakai untuk mengobati BPH, yaitu finasteride dan dutasteride. Efek
klinis finasteride atau dutasteride baru dapat terlihat setelah 6 bulan.

Finasteride digunakan bila volume prostat >40 ml dan dutasteride


digunakan bila volume prostat >30 ml. Efek samping yang terjadi pada
pemberian finasteride atau dutasteride ini minimal, di antaranya dapat
terjadi disfungsi ereksi, penurunan libido, ginekomastia, atau timbul
bercak-bercak kemerahan di kulit.

Antagonis Reseptor Muskarinik


Pengobatan dengan menggunakan obat-obatan antagonis reseptor
muskarinik bertujuan untuk menghambat atau mengurangi stimulasi
reseptor muskarinik sehingga akan mengurangi kontraksi sel otot polos
kandung kemih. Beberapa obat antagonis reseptor muskarinik yang
terdapat di Indonesia adalah fesoterodine fumarate, propiverine HCL,
solifenacin succinate, dan tolterodine l-tartrate.

Penggunaan antimuskarinik terutama untuk memperbaiki gejala storage


LUTS. Analisis pada kelompok pasien dengan nilai PSA <1,3 ng/ml
(≈volume prostat kecil) menunjukkan pemberian antimuskarinik
bermanfaat. Sampai saat ini, penggunaan antimuskarinik pada pasien
dengan BOO masih terdapat kontroversi, khususnya yang berhubungan
dengan risiko terjadinya retensi urine akut. Oleh karena itu, perlu
dilakukan evaluasi rutin keluhan dengan IPSS dan sisa urine pasca
berkemih. Sebaiknya, penggunaan antimuskarinik dipertimbangkan jika
penggunaan α-blocker tidak mengurangi gejala storage.

Penggunaan antimuskarinik dapat menimbulkan efek samping, seperti


mulut kering (sampai dengan 16%), konstipasi (sampai dengan 4%),
kesulitan berkemih (sampai dengan 2%), nasopharyngitis (sampai dengan
3%), dan pusing (sampai dengan 5%).

Phospodiesterase 5 inhibitor
Phospodiesterase 5 inhibitor (PDE 5 inhibitor) meningkatkan konsentrasi dan
memperpanjang aktivitas dari cyclic guanosine monophosphate (cGMP)
intraseluler, sehingga dapat mengurangi tonus otot polos detrusor, prostat,
dan uretra. Di Indonesia, saat ini ada 3 jenis PDE5 Inhibitor yang tersedia,
yaitu sildenafil, vardenafil, dan tadalafil. Sampai saat ini, hanya tadalafil
dengan dosis 5 mg per hari yang direkomendasikan untuk pengobatan
LUTS.
Tadalafil 5 mg per hari dapat menurunkan nilai IPSS sebesar 22-37%.
Penurunan yang bermakna ini dirasakan setelah pemakaian 1 minggu. Pada
penelitian uji klinis acak tanpa meta-analisis, peningkatan Qmax
dibandingkan plasebo adalah 2,4 ml/s dan tidak didapatkan perbedaan
yang bermakna pada residu urine.1 Data meta‐analisis menunjukkan PDE 5
inhibitor memberikan efek lebih baik pada pria usia lebih muda dengan
indeks massa tubuh yang rendah dengan keluhan LUTS berat.

Terapi Kombinasi
α1-blocker + 5α‐reductase inhibitor
Terapi kombinasi α1‐blocker (alfuzosin, doksazosin, tamsulosin) dan 5α-
reductase inhibitor(dutasteride atau finasteride) bertujuan untuk
mendapatkan efek sinergis dengan menggabungkan manfaat yang berbeda
dari kedua golongan obat tersebut, sehingga meningkatkan efektivitas
dalam memperbaiki gejala dan mencegah perkembangan penyakit.

Waktu yang diperlukan oleh α1‐blocker untuk memberikan efek klinis


adalah beberapa hari, sedangkan 5α-reductase inhibitor membutuhkan
beberapa bulan untuk menunjukkan perubahan klinis yang signifikan. Data
saat ini menunjukkan terapi kombinasi memberikan hasil yang lebih baik
dibandingkan monoterapi dalam risiko terjadinya retensi urine akut dan
kemungkinan diperlukan terapi bedah. Akan tetapi, terapi kombinasi juga
dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping.

Terapi kombinasi ini diberikan kepada orang dengan keluhan LUTS


sedang-berat dan mempunyai risiko progresi (volume prostat besar, PSA
yang tinggi (>1,3 ng/dL), dan usia lanjut). Kombinasi ini hanya
direkomendasikan apabila direncanakan pengobatan jangka panjang (>1
tahun).

α1-blocker + antagonis reseptor


muskarinik
Terapi kombinasi α1‐blocker dengan antagonis reseptor muskarinik
bertujuan untuk memblok α1-adrenoceptor dan cholinoreceptors muskarinik
(M2 dan M3) pada saluran kemih bawah. Terapi kombinasi ini dapat
mengurangi frekuensi berkemih, nokturia, urgensi, episode inkontinensia,
skor IPSS dan memperbaiki kualitas hidup dibandingkan dengan α1-
blocker atau plasebo saja. Pada pasien yang tetap mengalami LUTS setelah
pemberian monoterapi α1‐blocker akan mengalami penurunan keluhan
LUTS secara bermakna dengan pemberian anti muskarinik, terutama bila
ditemui overaktivitas detrusor (detrusor overactivity).

Efek samping dari kedua golongan obat kombinasi, yaitu α1-blocker dan
antagonis reseptor muskarinik telah dilaporkan lebih tinggi dibandingkan
monoterapi. Pemeriksaan residu urine harus dilakukan selama pemberian
terapi ini.

PEMBEDAHAN
Indikasi tindakan pembedahan, yaitu pada BPH yang sudah menimbulkan
komplikasi, seperti:

 retensi urine akut;


 gagal Trial Without Catheter (TwoC);
 infeksi saluran kemih berulang;
 hematuria makroskopik berulang;
 batu kandung kemih;
 penurunan fungsi ginjal yang disebabkan oleh obstruksi akibat BPH;
 perubahan patologis pada kandung kemih dan saluran kemih bagian
atas.

4 Indikasi relatif lain untuk terapi pembedahan adalah keluhan sedang


hingga berat, tidak menunjukkan perbaikan setelah pemberian terapi non
bedah, dan pasien yang menolak pemberian terapi medikamentosa.

Invasive Minimal
– Transurethral Resection of the
Prostate (TURP)
TURP merupakan tindakan baku emas pembedahan pada pasien BPH
dengan volume prostat 30‐80 ml. Akan tetapi, tidak ada batas maksimal
volume prostat untuk tindakan ini di kepustakaan, hal ini tergantung dari
pengalaman spesialis urologi, kecepatan reseksi, dan alat yang digunakan.
Secara umum, TURP dapat memperbaiki gejala BPH hingga 90% dan
meningkatkan laju pancaran urine hingga 100%.
Penyulit dini yang dapat terjadi pada saat TURP bisa berupa perdarahan
yang memerlukan transfusi ( 0-9%), sindrom TUR (0-5%), AUR (0‐13,3%),
retensi bekuan darah (0-39%), dan infeksi saluran kemih (0‐22%).
Sementara itu, angka mortalitas perioperatif (30 hari pertama) adalah 0,1.
Selain itu, komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi meliputi
inkontinensia urin (2,2%), stenosis leher kandung kemih (4,7%), striktur
urethra (3,8%), ejakulasi retrograde (65,4%), disfungsi ereksi (6,5-‐14%),
dan retensi urin dan UTI.

– Laser Prostatektomi
Terdapat 5 jenis energi yang dipakai untuk terapi invasif BPH, yaitu:
Nd:YAG, Holmium:YAG, KTP:YAG, Green Light Laser, Thulium:YAG
(Tm:YAG), dan diode. Kelenjar prostat akan mengalami koagulasi pada
suhu 60-‐650C dan mengalami vaporisasi pada suhu yang lebih dari
1000C.

Penggunaan laser pada terapi pembesaran prostat jinak dianjurkan


khususnya pada pasien yang terapi antikoagulannya tidak dapat
dihentikan.

– Lain-lain
Transurethral Incision of the Prostate (TUIP) atau insisi leher kandung
kemih (bladder neck insicion) direkomendasikan pada prostat yang
ukurannya kecil (kurang dari 30 ml) dan tidak terdapat pembesaran lobus
medius prostat. TUIP mampu memperbaiki keluhan akibat BPH dan
meningkatkan Qmax meskipun tidak sebaik TURP.

Thermoterapi kelenjar prostat adalah pemanasan >45oC sehingga meni


mbulkan nekrosis koagulasi jaringan prostat. Gelombang panas dihasilkan
dari berbagai cara, antara lain adalah Transurethral Microwave
Thermotherapy (TUMT), Transurethral Needle Ablation (TUNA), dan High
Intensity Focused Ultrasound (HIFU). Semakin tinggi suhu di dalam jaringan
prostat, semakin baik hasil klinik yang didapatkan, tetapi semakin banyak
juga efek samping yang ditimbulkan. Teknik thermoterapi ini seringkali
tidak memerlukan perawatan di rumah sakit, tetapi masih harus memakai
kateter dalam jangka waktu lama. Angka terapi ulang TUMT (84,4% dalam
5 tahun) dan TUNA (2050% dalam 20 bulan).

Stent dipasang intraluminal di antara leher kandung kemih dan di


proksimal verumontanum, sehingga urine dapat melewati lumen uretra
prostatika. Stent dapat dipasang secara temporer atau permanen. Stent
yang telah terpasang bisa mengalami enkrustasi, obstruksi, menyebabkan
nyeri perineal, dan disuria.

Operasi Terbuka
Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui transvesikal (Hryntschack
atau Freyer) dan retropubik (Millin). Pembedahan terbuka dianjurkan pada
prostat yang volumenya lebih dari 80 ml.

Prostatektomi terbuka adalah cara operasi yang paling invasif dengan


morbiditas yang lebih besar. Penyulit dini yang terjadi pada saat operasi
dilaporkan sebanyak 7-14% berupa perdarahan yang memerlukan transfusi.
Sementara itu, angka mortalitas perioperatif (30 hari pertama) adalah di
bawah 0,25%. Komplikasi jangka panjang dapat berupa kontraktur leher
kandung kemih dan striktur uretra (6%) dan inkontinensia urine (10%).

LAIN-LAIN

Trial Without Catheterization (TwoC)


TwoC adalah cara untuk mengevaluasi apakah pasien dapat berkemih
secara spontan setelah terjadi retensi. Setelah kateter dilepaskan, pasien
kemudian diminta dilakukan pemeriksaan pancaran urin dan sisa urin.
TwoC baru dapat dilakukan bersamaan dengan pemberian α1-blocker
selama minimal 3-7 hari. TwoC umumnya dilakukan pada pasien yang
mengalami retensi urine akut yang pertama kali dan belum ditegakkan
diagnosis pasti.

Clean Intermittent Catheterization


(CIC)
CIC adalah cara untuk mengosongkan kandung kemih secara intermiten
baik mandiri maupun dengan bantuan. CIC dipilih sebelum kateter
menetap dipasang pada pasien-pasien yang mengalami retensi urine kronik
dan mengalami gangguan fungsi ginjal ataupun hidronefrosis. CIC
dikerjakan dalam lingkungan bersih ketika kandung kemih pasien sudah
terasa penuh atau secara periodik.
Sistostomi
Pada keadaan retensi urine dan kateterisasi transuretra tidak dapat
dilakukan, sistostomi dapat menjadi pilihan. Sistostomi dilakukan dengan
cara pemasangan kateter khusus melalui dinding abdomen (supravesika)
untuk mengalirkan urine.

Kateter menetap
Kateterisasi menetap merupakan cara yang paling mudah dan sering
digunakan untuk menangani retensi urine kronik dengan keadaan medis
yang tidak dapat menjalani tidakan operasi.